Posts Tagged ‘berau’

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau

13 April 2011

Pengantar:

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya ketika melakukan kunjungan ke lokasi survey pemboran batubara di wilayah kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 25 -31 Maret 2011.

Penggalan catatan ini saya posting di status Facebook sebagai cersta (cerita status) selama periode tanggal 25 Maret s/d 3 April 2011. Tulisan ini sudah saya edit dari tulisan aslinya agar lebih mudah dibaca dan diikuti alur ceritanya. Sekedar ingin berbagi dongeng.

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb
(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan
(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan
(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”
(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb
(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga
(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari
(8) Berhasil Di Upaya Keempat
(9) Cerita Dari Penghuni Camp
(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal
(11) Bersiap Meninggalkan Hutan
(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga
(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras
(14) Terbang Kembali Ke Jogja

Yogyakarta, 25 Maret – 3 April 2011
Yusuf Iskandar

Kawasan Hutan Kota Di Seputar Berau

27 November 2008

897_0734_r

Kawasan hutan kota di seputaran kota Tanjung Redeb, ibukota Berau, Kaltim, kini nampak lebih memperoleh perhatian dari pemerintah. Setidak-tidaknya, kesan itu saya peroleh ketika saya lihat sudah dipasang papan tulisan yang masih nampak baru. Setahun yang lalu papan tulisan itu belum ada. 

Selama perjalanan saya ke Berau pada tanggl 18 s/d 21 Nopember 2008 yll. saya sempat berhenti dan melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan propinsi yang menuju ke arah barat daya dari kota Tanjung Redep.

pepohonan dan semak-belukar 
menghijau di sepanjang jalan melintas perbukitan
bunga-bunga liar
mewarnai tepian jalan
adalah kekayaan bentang alam 
seringkali mempesonakan
hingga terlewat untuk diabadikan

Yogyakarta, 26 Nopember 2008
Yusuf Iskandar

897_0731_r

897_0733_r1

897_0738_r1

897_0739_r

897_0740_r

897_0745_r

20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

25 Juli 2008
Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Kijang Innova Terpaksa Ditarik

Hari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan bersama teman-teman ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Kijang Innova Tertatih-tatih Melewati Kubangan Lumpur

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova sambil tertatih-tatih berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km dengan berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Makan Malam, Akhirnya Datang Juga…

7 April 2008

Mencari makan malam di Tanjung Redeb sebenarnya mudah. Kalau mau yang lebih merakyat dan murah meriah, datanglah ke kawasan Tepian sungai Segah. Di sana banyak pilihan menu di warung-warung tenda yang berjajar di sepanjang jalan yang menuju ke Tepian dari arah selatan. Atau kalau mau yang agak eksklusif, ada beberapa resto yang dapat dipilih. Meskipun untuk jenis yang terakhir ini plihan belum sebanyak di kota-kota lain.

Salah satu yang menjadi tujuan makan malam kami waktu itu adalah New Family Cafe. Ini adalah nama tempat makan yang menyebut dirinya dengan embel-embel Resto dan Tempat Pemancingan Umum. Lokasinya berada di Jalan Pulau Sambit, Gg. Aren, kira-kira di pertengahan dari arah Tanjung Redeb menuju Teluk Bayur, lalu masuk gang kecil ke kiri kira-kira 25 meter. Lokasinya memang tidak terlalu jelas terlihat dari jalan raya, tapi ada papan nama di pinggir jalan.

Memperhatikan lokasinya, resto ini menempati lahan yang sebenarnya tidak terlalu luas untuk model resto kebun atau terbuka, tapi cukup rimbun dengan pepohonan. Deretan meja-kursi berada di bangunan utama dan di sekeliling kolam ikan. Resto yang dibangun dengan konstruksi kayu ini juga menawarkan kegiatan rekreatif berupa pemancingan dengan disediakannya kolam ikan di bagian tengah, meski tidak terlalu besar ukurannya. Tentunya kegiatan pemancingan hanya kalau siang hari saja. Juga tersedia musik hidup (live), bukan sekedar organ tunggal. Suasananya cukup santai.

Menu ikan-ikanan (maksudnya berbahan dasar ikan) adalah menu unggulannya. Banyak pilihan ikan, terutama ikan laut. Juga banyak pilihan cara memasaknya, dibakar atau digoreng dengan aneka bumbunya. Cah kangkung, jamur, sambal tomat adalah asesori yang menjadi pasangan beraneka menu ikan.

***

Begitu mengambil tempat yang agak mojok, kami segera didatangi oleh seorang pelayan yang siap mencatat order makanan. Karena belum paham karakteristik dari setiap menu dan penyajiannya, maka sudah menjadi kebiasaan saya untuk tanya-tanya dulu kepada mbak pelayan. Antara lain, tentang menu unggulan yang ditawarkan, seperti apa memasaknya, seberapa besar ukurannya, cukup untuk berapa orang, dsb.

Maksudnya agar jangan sampai kurang, tapi jangan juga tersisa berlebihan. Ini karena kami memilih pesan makanan secara rombongan, bukan sendiri-sendiri. Kalau saja sedang di kota sendiri bersama keluarga, sisa makanan (maksudnya makanan yang tidak habis dimakan di resto) bisa dibungkus untuk dibawa pulang. Lha, kalau sedang di kota lain, mau diapakan?

Tapi sayang, agaknya si mbak pelayan kurang terampil dan kurang responsif dalam memahami model pelanggan seperti saya. Ketika ditanya seekor ikan patin goreng dan ikan putih bakar masing-masing cukup untuk berapa orang? Dijawabnya cukup untuk 2-3 orang. Maka yang terlintas di benak saya adalah seekor ikan yang sama ukuran dan penyajiannya dengan kalau kita pesan ikan di resto ikan-ikanan di tempat lain.

Setelah menunggu agak lama (ini yang agak membuat kesal, apalagi sedang lapar-laparnya, sementara resto malam itu sedang tidak terlalu ramai pengunjung), akhirnya datang juga….. Seperti acara televisi dimana seorang pemainnya belum tahu terhadap plot yang akan dimainkan. Dan pemain itu adalah saya dan rombongan.

Nasi sudah dibagikan secara adil dan merata di dalam piring masing-masing pemain, bukan di dalam cething atau tempat nasi. Lha ikannya? Dua ekor ikan berukuran sedang masing-masing sudah berada di piringnya dan sudah dipotong-potong. Kalau dihitung potongannya, memang setiap orang akan kebagian satu atau dua potong ikan. Tapi tentu bukan seperti itu maksud dari pertanyaan saya semula. Melihat gelagatnya bahwa sajian ikan tentu tidak memenuhi yang dibutuhkan, maka pelayan dipanggil dan segera pesan lagi dua porsi tambahan, ikan yang sama.     

Sambil menunggu rombongan ikan kloter kedua mendarat, acara makan malam segera dimulai. Para pemain segera meraih ikan sepotong demi sepotong dari piringnya. Karena pesanan enggak datang-datang, lama-lama nasi di piring masing-masing pemain habis sendiri (maksudnya terpaksa dihabiskan meski hanya dengan cah kangkung, tempe goreng dan dengan jumlah ikan yang terbatas, daripada bengong menunggu pesanan tidak datang-datang…..).

Akhirnya datang juga……, dua piring ikan kloter tambahan segera mendarat di atas meja makan. Tapi nasinya sudah telanjur habis. Terpaksa pesan beberapa piring nasi putih tambahan, dengan maksud untuk teman menghabiskan dua piring ikan susulan tadi. Ee…., judulnya kini ganti, nasi nan tak kunjung tiba……

Sambil menunggu ransum tambahan nasi putih, dua piring ikan pun di-thithili (dimakan sedikit-sedikit) rame-rame seperti potong padi di sawah. Lama-lama ya habis juga itu ikan, tepatnya tinggal sedikit, itu pun bagian ekor dan endhas (kepala). Dan, judulnya masih tetap nasi nan tak kunjung tiba…..

Setelah disusuli oleh seorang rekan ke dapur (jadi tahu seperti apa dapurnya), akhirnya datang juga….. , dan nasi putih kemudian tersaji di atas meja. Terpaksa lagi, nasi putih pun di-thithili dengan sisa potongan ikan yang masih ada, daripada mubazir wong sudah dipesan. Jadi, perlu pesan ikan lagi? Lalu nasi putih lagi?

Maka, acara “akhirnya datang juga” terpaksa distop, sebelum “guyonan” pelayan resto semakin menjadi-jadi…….

***

Perihal menu ikan dan ramuan bumbunya, sejujurnya harus diacungi jempol. Rasanya cocok, hoenak dan pas di indra pencecap. Cah kangkungnya juga lezat, meski agak kematangan memasaknya, tapi tetap memberikan taste yang delicious, kata orang sono. Apalagi sambal tomatnya, wuih…. beberapa kali saya cecap-cecap untuk menyelidiki bagaimana membuatnya. Ya, enggak bisa juga wong bukan ahlinya. Pendeknya, dari sisi cita rasa resto ini layak diunggulkan untuk dicoba dan dinikmati rasanya.

Hanya saja, mesti “hati-hati” sebelum menjatuhkan pilihan pesanan makanan. Jangan sampai diajak “guyonan” sama pelayannya. Sebab betapapun enaknya rasa masakannya, menjadi tidak bisa dinikmati kalau mesti menunggu kelewat lama. Perut yang semula lapar keburu kenyang dengan sendirinya, lalu lapar lagi, lalu kenyang lagi.

Cita rasanya memang pantas untuk dibayar mahal, tapi “guyonan” ala acara televisi “akhirnya datang juga”….., ngngngng….. caaapek, deh! (nunggunya). Mudah-mudahan pengalaman malam itu adalah satu-satunya kejadian di New Family Cafe, agar saya tetap bisa merekomendasikan untuk mencoba berpetualang dengan menu lezatnya New Family Cafe.

Madurejo, 19 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Terjebak Lumpur Di Berau, Kaltim

28 Maret 2008

terjebak lumpur

Hujan semalam telah menyebabkan transportasi di jalan poros antara Samarinda – Tanjung Redeb, Kaltim, terhambat cebakan lumpur. Jalan poros ini adalah satu-satunya sarana transportasi darat bagi masyarakat dari kedua kabupaten, Berau dan Kutai Timur, baik untuk transportasi penumpang, logistik maupun keperluan ekonomi lainnya.

Cebakan terparah terjadi pada lokasi sekitar 535 km utara Balikpapan, atau jam ke-15 perjalanan darat dari Balikpapan, di tengah hutan di dekat perbatasan antara Kabupaten Kutai Timur dengan Berau.

(Foto – Ketika kijang Innova yang saya tumpangi sedang berusaha ditarik keluar dari cebakan lumpur setelah menunggu cukup lama, tanggal 5 Januari 2008, jam 14:00 WITA – Yusuf Iskandar)

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

Pengantar :

Berhubung tidak kebagian tiket pesawat Balikpapan – Tanjung Redeb, maka akhirnya saya dan 4 orang teman nekat menempuh perjalanan darat menyusuri jalan Trans Kalimantan atau juga disebut dengan jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb. Perjalanan ini adalah dalam rangka kunjungan ke lokasi tambang batubara di wilayah Kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 4 sampai 7 Januari 2008. Berikut adalah catatan perjalanan saya, dan masih ada beberapa catatan kuliner yang saya tulis terpisah. Sekedar ingin berbagi cerita.  

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb
(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau
(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb
(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur
(5).   Penumpang Kepagian

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb

Muara WahauHari-hari di minggu pertama awal tahun baru ternyata memang hari-hari sibuk orang bepergian. Semula berencana hendak naik pesawat menuju kota Tanjung Redeb, ibukota kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Rupanya pesawat yang terbang langsung dari Balikpapan sudah penuh dipesan. Mencoba alternatif lewat Tarakan, juga sudah fully booked. Apa boleh buat. Karena rencana perjalanan ini sudah tertunda beberapa kali, terpaksa ditempuh jalan darat dari Balikpapan.

Informasi awal mengatakan bahwa kondisi jalan cukup baik dan lancar, bahwa sebagian besar kondisinya bagus. Okelah. Lalu dicari mobil sewaan. Pilihan jatuh pada kijang Innova warna hitam dengan harga yang disepakati Rp 1.750.000,- sampai Tanjung Redep. Harga sudah termasuk bensin dan sopirnya, tapi tidak bensinnya sopir. Kalau kijang kapsul katanya bisa sekitar 1,5 sampai 1,6 juta rupiah.

Dipilihnya kijang Innova dengan harapan sepanjang perjalanan bisa tidur pulas sementara kijang berlari kencang lenggut-lenggut. Kata pak Sopir yang sebelumnya pernah menjalani rute yang sama, besok pagi sudah sampai Tanjung Redeb. Ah, kalau begitu mau saya tinggal tidur saja sopirnya…..

Sekitar jam 21:30 perjalanan dimulai. Kota Balikpapan pun segera ditinggalkan langsung menuju kota Samarinda melewati jalan raya yang mulai sepi. Sekitar tengah malam melintasi Samarinda yang berjarak sekitar 115 km dari Balikpapan. Sempat berhenti sebentar di pinggiran Samarinda untuk membeli obat anti mabuk dan jamu tolak angin. Seorang teman merasa mual, dan jamu wess-ewess-ewess diperlukan untuk menghangatkan tubuh.

Tiba di pertigaan jalan yang menuju kota minyak Bontang sekitar jam 2:00 dinihari, kira-kira pada jarak 220 km dari Balikpapan. Lalu mengambil jalan yang ke kiri menuju kota tambang Sangatta. Di sepanjang rute Samarinda – Bontang – Sangatta ini masih banyak dijumpai kawasan pemukiman penduduk, meski tentu saja sangat sepi, wong di tengah malam. Kondisi jalan umumnya bagus, tapi di beberapa bagian sering tiba-tiba berlubang atau rusak kondisinya. Sekitar jam 3:30 baru memasuki Sangatta, kira-kira pada jarak 280 km dari Balikpapan.

Setelah melewati Sangatta, pak sopir baru teringat ingin istirahat. Tapi dia tidak ingat bahwa selepas Sangatta tidak ada lagi perkampungan penduduk apalagi kedai. Inginnya istirahat sambil minum kopi. Tapi, ya mana ada kedai buka dini hari. Di jalur selepas kota Sangatta ini benar-benar sepi mamring….., tidak ada kawasan pemukiman, warung, apalagi stasiun BBM. Kalaupun ada warung yaitu pada menjelang pertigaan kecamatan Muara Wahau dan Bengalon, tapi tidak ada warung yang beroperasi malam hari. Memang berbeda dengan situasi di jalan-jalan lintas di Kalimantan bagian yang lain, dimana masih bisa dijumpai warung kopi yang buka 24 jam.

Terpaksa pak sopir bertahan hingga tiba di sebuah warung yang tutup, tapi tersedia balai-balai untuk siapa saja boleh berbaring, ngeluk boyok… (menggeliatkan pinggang), meluruskan sendi-sendi, dan sekedar tidur sak leran…. (sejenak). Saya pun ikut-ikutan berbaring, nguantuk rasanya. Ya maklum, tadinya bermaksud meninggal tidur sopir selama perjalanan. Tapi berhubung pak sopir tidak mau istirahat di tengah jalan yang gelap dan sepi gung lewang-lewung…., sementara kondisi jalan ternyata di banyak titik kondisinya buruk sehingga membuat perjalanan kurang nyaman. Saya terpaksa ikut terjaga. Sambil duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja, mengendarai kijang supaya baik jalannya……

***

Kami pun terlelap sejenak di atas balai-balai kedai yang sedang ditinggal tidur pemiliknya. Saat itu sekitar jam 4:15 pagi. Tapi sial, banyak nyamuk. Tapi rupanya pak sopir sudah sedia lotion anti nyamuk. Agaknya dia sudah tahu kalau bakal berada dalam situasi yang kecapekan, ngantuk dan dikerubuti nyamuk seperti pagi itu.

Sekitar satu setengah jam kami beristirahat, melanjutkan perjalanan hingga sekitar jam 5:45 kami baru menemukan kedai kopi yang sudah mulai buka di sekitar pertigaan jalan Muara Wahau – Bengalon, atau pada jarak sekitar 320 km dari Balikpapan. Di warung kopi ini saya sempatkan juga untuk numpang solat subuh, sekalian cuci muka. Meski sudah pagi, tapi hari memang masih agak gelap.

Usai menenggak secangkir kopi Sangatta yang lumayan mantap sensasi theng-nya….. di kepala, kami melanjutkan perjalanan. Di Kalimantan ini memang agak susah menemukan kopi yang sensasi theng-nya mantap seperti di Sumatera. Sesekali ketemu kopi yang taste-nya cocok, setelah ditanya rupanya bukan kopi asli Kalimantan, melainkan dari Jawa.

Hari mulai terang, cuaca lumayan agak cerah, kondisi jalan masih banyak rusak di sana-sini. Tidak ada rumah penduduk, melainkan semak belukar di sepanjang jalan yang mulai naik-turun menyusuri perbukitan. Sepanjang rute ini tidak banyak berpapasan dengan kendaraan lain. Benar-benar sepi. Baru mejelang tiba di kecamatan Muara Wahau, mulai ada beberapa rumah dan kedai. Cuaca agak redup karena gerimis turun mengguyur. Akhirnya sekitar jam 9:45 pagi, kami berhenti di sebuah rumah makan di Muara Wahau, yang letaknya kira-kira pada jarak 460 dari Balikpapan.

Kami sempat beristirahat sambil menyantap makan pagi merangkap siang dengan menu seadanya di rumah makan “Rizky”, desa Wanasari, kecamatan Muara Wahau. Di tempat ini pula, saya sempatkan untuk membuang hajat besar (hajat kok dibuang….).

Melihat tanda-tandanya, jelas perjalanan masih panjang. Ketika ditanyakan kepada salah seorang pelayan rumah makan, bahwa ke Tanjung Redeb masih berapa jam lagi? Jawabnya bukan jam, melainkan cerita bahwa menurut pengalamannya kira-kira waktu maghrib baru sampai. Weleh… weleh…weleh…. Kami pun tertawa seperti tidak percaya. Mendengar penjelasan mbak pelayan, pak sopir pun balas mengeluh bahwa sekarang kondisi jalannya kok rusak parah sekali, karena dahulu dia merasa bisa melaju kencang. Ketika ditanya kapan terakhir ke Tanjung Redeb? Jawabnya sekitar dua setengah tahun yang lalu. Pantas saja. Saya pun berkelakar, jangankan dua setengah tahun, di Jawa ini terkadang hari ini jalan mulus besok pagi sudah jadi sungai kering….. 

Sekitar jam 10:45 kami melanjutkan perjalanan meninggalkan Muara Wahau. Namanya juga kota kecamatan di tengah pedalaman, jadi suasana kotanya khas pedesaan, meski banyak rumah dan kedai tapi terkesan sepi dan tenang. Berbatasan dengan kecamatan Muara Wahau adalah kecamatan Kongbeng, di pinggir jalan ini ada pasar tradisional, sehingga terlihat lebih ramai dan lebih hidup.

Cuaca mulai panas, hingga tiba di perbatasan antara kabupaten Kutai Timur dengan kabupaten Berau, yaitu pada kira-kira kilometer ke-510 dari Balikpapan. Meski sudah masuk wilayah Berau, tapi ini baru batasnya. Untuk tiba di ibukota Tanjung Redeb masih harus bersabar hingga maghrib nanti, demikian kata mbak pelayan tadi. Berarti masih setengah hari lagi. Ugh…..!

Pemandangan sepanjang perjalanan kini di dominasi oleh semak belukar sisa bekas kebakaran hutan. Entah terbakar, entah dibakar. Pohon-pohon kering, hangus dan mati, menjulang di antara tanaman semak dan bekas ladang yang sepertinya sengaja ditinggalkan. Jalanan pun masih banyak rusak dan semakin agak terjal naik-turunnya, tanda sudah berada di wilayah perbukitan. Hingga akhirnya terhenti ketika menemui antrian panjang kendaraan yang terjebak lumpur, yaitu di sekitar kilometer ke-535 dari Balikpapan. Nah…! Alamat bakal lama tertahan di sini. Target untuk tiba di tujuan saat waktu mangrib pun jadi pesimis bisa dicapai.

Cebakan lumpur agak dalam yang jelas tidak bersahabat dengan kijang Innova. Sedangkan truk saja saling tarik-menarik, bantu-membantu. Hanya kendaraan kecil 4WD yang nampaknya tenang-tenang saja melewati hambatan ini. Setelah menunggu agak lama, akhirnya tiba giliran kijang Innova berhasil ditarik oleh sebuah pick up double gardan melewati cebakan lumpur. Perjalanan pun dapat dilanjutkan. Tidak lama kemudian sampai di wilayah kecamatan Kelay yang berada di punggungan pegunungan, tampak ada sedikit kawasan perkampungan dan kedai yang letaknya saling berjauhan, selebihnya adalah hutan.

Pada sekitar kilometer ke-575 dari Balikpapan, kondisi jalan yang semula berupa aspal rusak, kini berubah menjadi tanah bebatuan. Sebut saja tanah berbatu. Sebab kalau disebut bebatuan kedengarannya terlalu puitis dan berkesan indah…. Padahal yang sebenarnya menjengkelkan. Tanah laterit berwarna merah yang menyelimuti tumpukan batu makadam. Kelihatan halus, tapi sebenarnya rada gronjal-gronjal. Ketika kering debunya minta ampun, dan ketika basah dapat dipastikan gantian yang minta ampun licinnya….

Rupanya jalan poros ini belum menjadi prioritas pembangunan di Berau. Padahal jalan ini menjadi urat nadi perekonomian lintas kabupaten, Berau dan Kutai Timur. Setiap hari puluhan truk, bis dan sarana angkutan darat lainnya melintas dengan segala resikonya. Sayang sebenarnya, potensi pertumbuhan ekonominya tinggi tapi infrastrukturnya belum menunjang.

***

Sekitar jam 17:15 kami pun tiba di perempatan jalan aspal mulus, yaitu pada lokasi yang berjarak sekitar 630 km dari Balikpapan. Kali ini benar-benar mulus karena 20 km lagi akan tiba di ibukota Tanjung Redeb. Pak sopir pun jadi kesenangan memacu kendaraan seperti dikejar setan. Ya dibiarkan saja, wong setannya ya penumpangnya sendiri yang sudah tidak sabar segera sampai di Tanjung Redeb. Dasar sial, tinggal 6 km lagi sampai tujuan, kok ya ban belakang kijang Innova mbledos. Terpaksa mengganti ban dulu.

Akhirnya, kami tiba di hotel kelas backpacker di tengah kota Tanjung Redeb benar-benar selepas maghrib. Benar juga perkiraan waktunya mbak pelayan rumah makan di Muara Wahau tadi. Padahal tadi kami semua sempat mentertawakan, kok lama amat…?

Puji Tuhan wal-hamdulillah, akhirnya perjalanan 20 jam melintasi jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb sepanjang lebih 655 km berhasil kami selesaikan. Capek, deh…! (Sumprit, kalau ini memang benar-benar capek, deh!).

Yogyakarta, 11 Januari 2007.
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau

PerahuSebagai ibukota kabupaten Berau, Tanjung Redeb hanyalah sebuah kota kecil. Tidak perlu waktu lama untuk berkeliling melewati semua jalan yang ada di kota itu. Belum terlalu padat penduduknya. Demikian halnya lalulintas kota Tanjung Redeb relatif masih belum padat. Kalau sesekali tampak kesemrawutan lalulintas kotanya, itu seringkali karena ulah pengendara sepeda motor yang (sepertinya sama di hampir setiap kota) “belum pernah” belajar sopan santun berlalu lintas.

Saya ingin memberi penekanan pada kata “belum pernah”. Coba perhatikan proses seseorang sejak memiliki sepeda motor hingga ber-SIM di jalan raya. Sama sekali tidak ada tahap mempelajari tata tertib atau lebih lazim disebut sopan santun berlalulintas. Meski sebenarnya bukan monopoli pengendara sepeda motor saja, juga sopir-sopir mobil.

Tanpa mempelajari aturan berlalulintas pun siapa saja dapat memiliki SIM. Akibatnya? Rambu-rambu lalulintas ya hanya sekedar hiasan jalan. Piranti lampu sign ya hanya sekedar asesori sepeda motor. Sampai-sampai di Banjarmasin pak polisi perlu memasang spanduk di mana-mana yang mengingatkan agar menghidupkan lampu sign ketika belok. Atau di Jogja banyak sepeda motor tanpa lampu berkeliaran di malam hari. Ngebut lagi! Uedan tenan! (pernah saya singgung, wong sepeda motor tidak ada lampunya kok dibeli……)

***

Meski hanya sebuah kota kecil, kini Tanjung Redeb dan Berau sedang menggeliat. Pasalnya kota ini dipilih menjadi salah satu lokasi untuk ajang Pekan Olahraga Nasional ke-17 pada bulan Juli tahun 2008 ini, dimana provinsi Kaltim menjadi tuan rumah. Hampir di setiap sudut kota, terlebih jalan-jalan protokol, sedang dibenahi. Kondisi jalannya, trotoarnya, saluran airnya, dan berbagai fasilitas kota sedang direnovasi dan ditata agar tampil lebih baik.

Tanjung Redeb khususnya dan kabupaten Berau pada umumnya, memang sudah sepantasnya melakukan itu. Kabupaten ini memiliki pesona wisata yang luar biasa yang belum digarap maksimal oleh penguasa setempat. Keindahan alamnya, baik di darat maupun di laut dengan wisata baharinya. Wisata sejarah dan budaya dari sisa peninggalan kerajaan Berau serta museumnya. Juga masih bisa dijumpai jejak peninggalan jaman Belanda. Semuanya menawarkan pesona wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi.

Tanjung Redeb yang letaknya berada di dekat muara sungai Berau, dari sana mudah untuk menjangkau kawasan pulau Derawan dan Sangalaki yang terkenal memiliki keindahan alam laut dan bawahnya. Sebagian wisatawan menyebutnya sebagai sorga bawah laut terindah di dunia. Tentu ini adalah ekspresi untuk melukiskan betapa keindahan yang ditawarkan oleh pesona alam di daerah ini. Belum lagi kekayaan biota laut dan keindahan ekosistem kelautan yang banyak dikagumi oleh para wisatawan.

Kawasan kepulauan Derawan ini sesungguhnya merupakan kumpulan dari ratusan buah pulau yang berada di delta sungai Berau. Sebagian sudah bernama, sebagian lainnya belum punya nama. Mudah-mudahan saja pemerintah Berau mampu mengurusnya agar tidak dicaplok oleh negeri jiran seperti nasib tetangganya, pulau Sipadan dan Ligitan, hanya karena pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu mengurusnya.     

Hutan yang ada di wilayah kabupaten Berau termasuk yang terbesar yang masih utuh di Indonesia. Salah satu tipe hutan yang istimewa di Berau adalah hutan kapur dataran rendah. Tipe hutan ini hanya ada di Kalimantan Timur, sementara yang ada di tempat lain kondisinya sudah tidak sebaik yang ada di Berau. Keistimewaan lain kabupaten Berau adalah masih dijumpainya populasi orangutan. Bisa jadi kawasan ini kelak akan menjadi benteng pelestarian orangutan alami, agar tidak semakin punah populasinya.

Menilik sejarah pemerintahan di jaman baheula, kerajaan Berau berdiri pada abad 14 dengan rajanya yang memerintah pertama kali adalah Baddit Dipattung yang bergelar Aji Raden Surya Nata Kesuma dan permaisurinya bernama Baddit Kurindan yang bergelar Aji Permaisuri. Dalam perjalanan pemerintahan kerajaan Berau kemudian, hingga pada keturunan ke-13, Kesultanan Berau terpisah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung. Kini masih dapat disaksikan peninggalan bersejarah kesultanan keraton dan museum Sambaliung dengan rajanya yang terakhir Sultan M. Aminuddin (1902-1959).

Kalau saja memiliki waktu agak longgar berada di Tanjung Redeb, rasanya sayang kalau tidak menyempatkan mengunjungi berbagai obyek wisata di sana. Ada pesona wisata yang belum banyak terjamah oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Tinggal pintar-pintar saja bagaimana pemerintah Berau menjualnya.

Di Tanjung Redeb tidak sulit menemukan tempat untuk menginap. Kota ini juga memiliki banyak pilihan penginapan, mulai dari hotel kelas bintang, melati hingga kelas backpakker yang murah-meriah.

Untuk mencapai Tanjung Redeb pun tidak terlalu sulit. Meskipun belum ada pesawat besar yang menyambangi, setidaknya pesawat kecil masih midar-mider baik langsung dari Balikpapan maupun melalui Tarakan lalu disambung dengan kapal ferri. Mau mencoba lewat darat menyusuri jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb juga bisa jadi petualangan yang mengasyikkan. Mudah-mudahan kelak tidak perlu lagi 20 jam lewat darat, untuk menikmati pesona wisata yang luar biasa yang ditawarkan kabupaten Berau.

Yogyakarta, 12 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb

masjidWilayah kabupaten Berau yang luasnya sekitar 34 ribu kilometer persegi dan kini barangkali hanya dihuni oleh sekitar 150 ribu jiwa penduduknya, relatif merupakan kawasan yang masih sangat longgar. Sebagian besar penduduknya terkonsentrasi di wilayah ibukota Tanjung Redeb. Kecepatan pertumbuhan kotanya banyak dipengaruhi oleh karena banyaknya kaum pendatang. Mayoritas masyarakat etnis Bugis dan Jawa berada di kawasan ini, sedangkan sisanya adalah campuran antara penduduk asli suku Banua, etnis Cina dan pendatang lainnya.

Semula saya mengira penduduk asli Berau adalah suku Dayak, tapi rupanya dugaan saya keliru. Penduduk asli Berau adalah suku Banua yang merupakan turunan dari suku bangsa Melayu. Memang di bagian pedalaman wilayah Berau juga dijumpai komunitas suku Dayak, seperti hanya pedalaman Kalimantan di wilayah lainnya.

Pusat kota Tanjung Redep ditandai dengan adanya kawasan perkantoran bupati Berau yang cukup mentereng. Ada taman kota Cendana yang asri di depan kompleks kantor bupati. Juga ada masjid agung Baitul Hikmah yang tergolong megah dengan dominasi warna hijau dan dengan lima buah menaranya. Kemegahan masjid ini mengingatkan saya pada kemiripannya dengan masjid di kota Tanah Grogot ibukota kabupaten Pasir, dan dalam ukuran lebih besar adalah masjid Islamic Center di kota Samarinda.

Salah satu menara masjidnya yang konon tingginya mencapai 70 meter, sebelumnya sering dimanfaatkan masyarakat untuk wisata angkasa (maksudnya melihat pemandangan dari ketinggian). Mbayar, tentu saja…. Tapi gara-gara sekarang menara itu dihuni secara liar oleh ribuan burung walet untuk menyimpan sarangnya, dan konon ada ratusan sarang walet nyangkut di dinding menara yang siap dipanen setiap bulan, maka wisata ketinggian pun bubar. Untung saja pihak pengelola masjid tidak berniat membangun menara lagi agar dapat menampung lebih banyak burung walet……
Kalau kini melihat geliat ekonomi di Tanjung Redeb semakin pesat, itu antara lain berkat naluri bisnis para pendatang yang mengimbangi pertumbuhan sektor industri yang didominasi oleh industri perkayuan dan pertambangan batubara.

Seperti diketahui bahwa wilayah di provinsi Kalimantan Timur ini juga kaya akan sumberdaya alam batubara, selain minyak. Dan kabupaten Berau adalah salah satu kabupaten yang juga menyimpan kekayaan alam batubara. Sebuah perusahaan batubara, PT Berau Coal, kini masih aktif beroperasi di wilayah itu. Untuk alasan yang masih terkait dengan batubara pula saya jauh-jauh menjelajah ke wilayah Berau.

Menjadi harapan semua pihak tentunya agar kekayaan alam yang luar biasa itu mampu dikelola dengan arif dan bijaksana oleh pihak penguasa setempat demi kesejahteraan masyarakat Berau, bukan hanya pejabatnya. Sudah cukup banyak pelajaran serupa yang terjadi di tempat lain. Semoga ada pelajaran yang dapat dipetik oleh pemerintah Berau.  

***

Salah satu sentra keramaian di Tanjung Redeb adalah kawasan yang disebut dengan Tepian. Ini mirip-mirip Tepian di Samarinda, hanya beda luas dan panjang arealnya. Sesuai namanya, kawasan ini memang berada di tepi sungai Segah, atau terkadang disebut sungai Berau yang lebarnya lebih 100 m dan tinggi muka airnya kurang dari satu meter dari daratannya. Makanya di sepanjang tepian ini sekarang sudah dibangun tanggul tembok guna mengatasi air pasang. Sungai Segah atau sungai Berau ini merupakan pertemuan dari dua buah sungai besar yang mengalir di wilayah kabupaten Berau, yaitu sungai Kelay dan Segah.

Kawasan Tepian ini panjang arealnya hanya beberapa ratus meter saja. Tapi setiap sore hingga malam ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati aneka jajanan makanan dan minuman sambil bersantai menikmati pemandangan malam sungai Segah yang sebenarnya remang-remang tapi tampak kerlap-kerlip lampu di kejauhan. Terlebih saat malam Minggu tiba, kawasan ini seperti pasar malam. Ini memang tempat mangkalnya anak-anak muda Berau. Jalan A. Yani yang membentang di sepanjang tepian sungai pun jadi padat.

Di sebelah selatannya adalah kawasan pasar, orang menyebutnya pasar Bugis karena memang banyak pedagangnya yang berasal dari Bugis. Sedangkan pada penggal jalan di sebelah utaranya adalah tempat berkumpulnya puluhan warung tenda yang menyediakan segala macam menu makanan. Warung-warung tenda ini juga buka hanya pada waktu sore hingga malam hari. Menilik tulisan warna-warni yang ada pada setiap kain penutup warung tenda itu mudah ditebak bahwa mereka pasti pedagang pendatang dari luar Berau.

Pada sekitar awal dekade tahun 70-an, diantara para pendatang dari Sulawesi masuk ke Berau dengan becaknya (maksudnya merantau untuk menjadi tukang becak, kalau datangnya ya naik kapal…..). Pendatang dari Jawa pun tidak mau kalah menyemarakkan dunia perbecakan di Tanjung Redeb. Namun belakangan pemerintah Tanjung Redep mulai merasa risih melihat bahwa populasi becak semakin tidak terkendali.

Dan, ketika masyarakat pembecak berinteraksi dengan para penyepedamotor, ditambah kurang sopannya berlalulintas di tengah kota, maka lalulintas kota pun terlihat semakin semrawut. Becak terpaksa dikalahkan. Pemerintah akhirnya memutuskan menghapus becak dari bumi Tanjung Redep. Maka sejak dua-tiga tahun yang lalu, kota Tanjung Redeb yang dijuluki sebagai kota “Sanggam” yang katanya berarti cantik, pun menjadi kota tanpa becak.

Namanya juga becak, jarang ada yang parasnya cantik (apalagi tukang becaknya…..), sehingga bak penampakan dari dunia lain, becak dianggap mengganggu upaya Tanjung Redeb untuk menjelma tampil cantik, atau “sanggam” seperti julukannya. Kalau ada kota di dataran rendah yang tidak ada becaknya, maka Tanjung Redeb adalah salah satunya.

Yogyakarta, 13 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur

perahu3Niatnya mau mencari jalan terobosan dari jalan raya menuju ke tepian sungai Segah. Tapi rupanya sulit. Semak dan rawa menghadang. Terpaksa kudu mencari jalan lain, dan satu-satunya jalan adalah mengambil jalan memutar menyusuri sungai Segah. Berarti harus menyewa ketinting atau perahu motor di pelabuhan Teluk Bayur.

Siang itu panas cukup terik di tengah cuaca yang masih tidak menentu, karena tiba-tiba angkasa bisa berubah menjadi mendung dan turun hujan. Agar perjalanan berikutnya lebih bersemangat, kami istirahat makan siang dulu. Tempat yang kami pilih adalah Taman Hutan Wisata “Sei Tangap”. Di dekat gerbang taman ini kami duduk lesehan di tanah sambil menikmati bekal makan siang yang sudah disiapkan sejak pagi. Hawa sejuk di bawah kerimbunan pepohonan membuat suasana santai dan menyenangkan.

Hutan Wisata “Sei Tangap” adalah kawasan hutan milik Inhutani I yang dulu pernah menjadi kebanggaan masyarakat Berau sebagai taman rakyat. Di sana ada aneka jenis tanaman yang dirawat dan dikelola dengan baik. Konon ada juga koleksi hewan liar yang ada di hutan Berau. Ya, itu dulu pada masa jayanya industri perhutanan. Sebab sekarang taman itu tampak sekali tidak terurus, kotor dan tidak ada menarik-menariknya babar blass…. Kecuali tinggal pintu gerbang masuknya yang masih utuh. Itu pula yang paling pantas difoto.

Kini, hewan-hewan koleksi taman ini tidak jelas kemana perginya, entah dipelihara orang, dijual, mati atau malah kabur menyelamatkan dirinya masing-masing, ya dirinya hewan-hewan itu. Kalau pepohonannya jelas masih ada di sana, lha siapa yang mau ngangkut…., tapi tidak terurus dan tampak rimbun dengan semak belukar. Sayang sekali sebenarnya.

***

Setelah perut terisi, perjalanan dilanjutkan menuju pelabuhan Teluk Bayur. Langsung saja kami menghampiri deretan ketinting yang tertambat di dermaga kayu (maksudnya dermaga yang terbuat dari konstruksi kayu, bukan dermaga untuk mengangkut kayu). Setelah tawar-menawar, lalu disepakati biayanya Rp 150.000,- untuk jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh. Harga itu sudah termasuk sewa perahu, jasa sopirnya dan BBM. Termasuk murah, karena di tempat lain ada yang sampai 2-3 kali lipat biaya sewanya. Tapi ya itulah satu-satunya cara untuk menuju tepian sungai yang menjadi tujuan semula.

Sebuah ketinting berukuran sedang segera meninggalkan pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu sungai. Perahu berjalan santai, terkadang di sisi kiri sungai, terkadang menyeberang di sisi kanan sungai. Padahal lebar sungainya sekitar 75 meteran dengan tanaman bakau mendominasi di sepanjang pinggiran sungai, selain semak belukar. Tidak banyak terlihat pemukiman penduduk kecuali yang ada di seputar pelabuhan Teluk Bayur.

Belum jauh melaju ke hulu, terlihat kawasan pelabuhan batubara dan tongkang-tongkang yang sedang memuat batubara yang diangkut dari tambang. Perjalanan saya menyusuri sungai Segah ini memang masih terkait dengan pelabuhan pemuatan batubara. Ketika tiba di lokasi yang sudah direncanakan yang semula hendak ditembus lewat darat, perahu kami berhenti sebentar sambil sekilas mengamati keadaan sekeliling, memetakan lokasinya dan mendokumentasikannya. Inilah lokasi yang dipandang ideal untuk dibangun infrastruktur pelabuhan pemuatan batubara sebagai bagian dari tahapan proses penambangan batubara. Jaraknya sekitar 45 menit berketinting dari pelabuhan Teluk Bayur ke arah hulu.

Teluk Bayur adalah kota kecamatan yang jaraknya sekitar 6 km dari kota Tanjung Redeb ke arah hulunya. Sama-sama terletak di tepian sungai Segah. Rumah-rumah kayu mendominasi kawasan pemukiman di pelabuhan nelayan Teluk Bayur.

Wilayah kecamatan Teluk Bayur dapat dibilang sebagai kota tua di Tanjung Redeb atau Berau. Di daerah inilah dahulu bangsa Belanda banyak bermukim. Maka tidak heran kalau di wilayah ini masih banyak dijumpai bangunan-bangunan tua sisa peninggalan Belanda. Pasti menjadi rumah para meneer yang berkuasa atas operasi penambangan batubara. Hingga kini aktifitas yang terkait perbatubaraan di kecamatan Teluk Bayur pun masih berlanjut. Bahkan semakin marak dengan munculnya para investor, tak terkecuali para spekulan lahan.

Kalau tentang batubaranya sendiri sebenarnya tidak membuat saya heran. Siapapun yang menggeluti dunia pertambangan pastinya tahu bahwa di daerah itu memang banyak memiliki potensi sumberdaya alam, termasuk batubara. Justru yang membuat saya heran adalah kenapa wilayah kecamatan itu dinamai Teluk Bayur? Tadinya saya menduga barangkali di kawasan itu banyak perantau yang berasal dari ranah Minang atau Sumatera. Rupanya tidak. Justru banyak pendatang dari Sulawesi dan Jawa.

Rasa penasaran saya akhirnya “agak” terjawab setelah mendengar cerita dari pak sopir yang mobilnya saya sewa. Saya katakan “agak”, karena sebenarnya cerita itu masih dapat diperdebatkan dan berbau “plesetan”.

***

Alkisah, pada jaman penjajahan Belanda dulu (jaman Belanda adalah sebuah jaman yang sering dijadikan kambing hitam atas cerita yang tidak jelas ujung-pangkalnya). Ada seorang londo Belanda datang ke Jawa. Rupanya sang Londo kepincut dengan seorang gadis Jawa. Sang perawan Jawa pun tak bertepuk sebelah tangan. Lebih-lebih ketika diiming-iming bahwa kalau menikah nanti bakal diboyong ke Teluk Bayur.

Wow… Dalam bayangan sang perawan Jawa ini, Teluk Bayur adalah sebuah tempat di pinggir pantai barat Sumatera nan indah, elok bin menawan. Pendeknya, tempat yang sangat mengasyikkan. Impian pun membawa gadis Jawa itu bak terbang melayang membayangkan sebuah firdaus yang bernama Teluk Bayur.

Namun apa lacur. Entah kenapa, sang Walondo muda dan tampan itu tidak jadi ke Teluk Bayur di pantai barat Sumatera. Barangkali ada rotasi kerja atau mutasi pindah tugas dinasnya, sehingga sebagai anggota kumpeni pun dia tidak bisa menolak surat tugas dari sesama kumpeni yang pangkatnya lebih tinggi.

Sang Londo ternyata harus menyeberang ke Kalimantan. Sama-sama menyeberang dari Jawa, tapi tidak jadi ke Teluk Bayur, Sumatera Barat, melainkan ke kawasan sungai Segah di Berau, Kalimantan Timur. Demi agar tidak mengecewakan gadis pujaannya, maka sang Londo pun berkata kepada gadisnya bahwa mereka tiba di pelabuhan Teluk Bayur. Sang gadis pun meyakini telah berada di Teluk Bayur hingga akhir hayatnya. Maka sampai sekarang kawasan tempat dimana gadis Jawa itu tertipu, disebut sebagai Teluk Bayur.

Benarkah demikian? Wallahu-a’lam, hanya Pangeran Yang Maha Kuasa yang tahu. Bukan soal kebenaran ceritanya yang menarik perhatian saya. Melainkan, kenapa dari dulu yang namanya penjajah itu kok ya senengnya menipu?. Dan hampir semua bangsa yang terjajah di dunia ini, dulunya adalah korban penipuan. Bangsa Indonesia dijajah tiga setengah abad oleh Belanda dan Jepang adalah juga dalam kerangka ditipu, tertipu dan tidak jauh-jauh dari intrik pu-tippu….

Penjajahan hanyalah sebuah sarana, akar persoalannya adalah ekonomi atau bisnis. Suksesnya bisnis VOC adalah karena suksesnya Belanda menerapkan trik tipu-menipu yang sangat sistematis di jaman itu. Siapa lebih cerdas menipu maka dia akan dengan mudah mengelabuhi korbannya dan meraih keuntungan bisnis yang nyaris tak terbatas boanyaknya. Dan sialnya, kok ya bangsa Indonesia yang menjadi korbannya itu. Salahnya sendiri, kaya kok bodoh…… Eh, maaf, bukan bodoh, hanya belum pintar menyadari kekayaannnya dan belum mempunyai kemampuan mengelolanya. 

Tentu saja ini trik sukses sebuah bisnis raksasa yang mestinya tabu untuk ditiru, hanya perlu diambil pelajaran dan hikmahnya. Kecuali kalau tidak ketahuan. Dan yang tidak ketahuan itu rupanya sampai sekarang pun banyak jumlahnya. Hanya saja caranya lebih santun, halus, terhormat dan invisible.

Tapi, yang lebih menghueranken (pakai akhiran ken) lagi, sampai sekarang pun kita tetap menjadi bangsa yang sering tertipu, kena tipu, bahkan naga-naga-nya justru senang kalau ditipu, diakalin, dibodohin, dikelabuhin……. Apalagi kalau dampaknya bisa memberi keuntungan untuk diri sendiri atau lazim disebut oknum (oknum tapi kok banyak?). Tobaaat…. tobat…… (Saya bertobat mudah-mudahan pikiran saya salah).

Yogyakarta, 18 Januari 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

(5).   Penumpang Kepagian

bandara2Akhirnya saya harus meninggalkan Tanjung Redeb. Tidak seperti ketika berangkatnya perlu 20 jam melewati jalan darat dari Balikpapan. Saat kembali ke Balikpapan saya sudah pesan tempat untuk menggunakan moda angkutan udara dari Tanjung Redeb.

Menurut jam penerbangan yang terulis di tiket, pesawat Trigana Air jurusan Tanjung Redeb – Balikpapan akan tinggal landas jam 6:45 pagi Waktu Indonesia Tengah. Jam 5:30 pagi saya sudah meninggalkan hotel dan berjalan kaki ke persimpangan jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarkan saya ke bandara. Yang disebut taksi di Tanjung Redeb (juga di banyak kota umumnya di luar Jawa) adalah angkutan kota.

Tidak terlalu lama saya berdiri sendiri di pagi hari yang sepi di perempatan jalan terdekat (di pinggirnya tentu saja), hingga kemudian sebuah taksi berlalu dan menawarkan diri untuk ditumpangi. Saya lalu naik dan bergabung dengan beberapa penumpang yang sudah lebih dulu ada di dalamnya. Para penumpang itu rupanya semua menuju ke pasar. Maka selepas pasar, tinggal saya satu-satunya penumpang yang tinggal.

Mengetahui tujuan saya adalah bandara Kalimarau, pak sopir taksi yang ternyata berasal dari Jember itu menawari saya agar taksinya dicarter saja sehingga langsung menuju bandara dan tidak menarik penumpang di jalan. Ongkosnya seperti biasanya Rp 40.000,- katanya. Khawatir terlambat tiba di bandara, saya lalu menyetujuinya.

Di perjalanan pak sopir bertanya : “Ke bandara kok pagi sekali, pak?”. Saya tidak langsung menjawab, melainkan feeling saya mengendus sepertinya ada sesuatu yang tidak biasa. Tapi apa?

Baru kemudian saya menjawab : “Iya, pesawatnya jam 6:45”. Pak sopir hanya bergumam pendek : “Oo…, biasanya kok agak siang”. Saat itu hari memang masih tampak pagi sekali dan masih gelap seperti malam. Mulailah detector pada indra perasaan saya pertajam. Jangan-jangan saya kepagian. Jangan-jangan saya salah melihat tulisan jam di tiket. Jangan-jangan pak sopir benar bahwa biasanya memang penerbangan agak siang. Atau, jangan-jangan jam di handphone saya (saya tidak biasa pakai arloji) masih jamnya WIB. Berbagai jangan-jangan lalu berkecamuk di dalam otak saya. Ah, sebodo teuing, yang penting segera tiba di bandara.

Jarak dari kota Tanjung Redeb ke bandara Kalimarau memang hanya sekitar 7 km, melewati jalan yang menuju ke arah Teluk Bayur, lalu belok ke kiri sekitar satu kilometer. Maka tidak terlalu lama akhirnya saya dan taksi sewaan tiba di bandara Kalimarau.

Lha, rak tenan……! Kekhawatiran saya menjadi kenyataan. Bandara masih sepi mamring….. Rasanya seperti sedang berdiri di depan gerbang rumah suwung dalam film horror. Hari masih pagi umun-umun, ketika saya dan taksi sewaan tiba persis di depan pintu gerbang bandara. Moncong taksi berhenti pada jarak dua meteran dari pintu gerbang bandara yang masih tutup.

Njuk piye iki …(harus bagaimana ini…?). Saya tolah-toleh tidak ada manusia satu pun di seputaran bandara. Untuk meyakinkan, saya tanya pak sopir taksinya, apa benar ini bandaranya. Pak sopir pun menjawab dengan meyakinkan bahwa memang itu bandaranya. Lalu pak sopir taksi saya minta agar menunggu dulu sesaat, sementara saya mencoba melihat-lihat kembali tiket saya di bawah penerangan remang-remang lampu kabin taksi. Pertama, saya pastikan lagi bahwa jam yang tertulis di tiket benar. Kedua, baru saya cari nomor tilpun agen Trigana Air yan tertulis di sana.

Agen Trigana Air Tanjung Redeb saya tilpun tidak ada yang mengangkat. Menilpun agen Balikpapan juga tidak ada yang mengangkat. Lalu agen Yogayakarta tempat saya membeli tiket dan agen Jakarta apalagi, mungkin petugasnya masih pada ngrungkel, menarik selimut. Tujuan saya menilpun sebenarnya hanya ingin memastikan bahwa apakah penerbangan Tanjung Redeb – Balikpapan hari itu ada, atau ditunda, atau malah dibatalkan. Agar saya tahu apa yang harus saya lakukan di pagi yang masih rada gelap dan sepi, sendiri ditemani sopir taksi (sendiri tapi ditemani….).

Setelah lima belas menitan saya tidak berhasil memperoleh informasi apapun. Akhirnya saya persilakan pak sopir taksi untuk meninggalkan saya sendiri (kali ini baru benar-benar sendiri tiada yang menemani…). Kasihan pak sopir taksi yang sebenarnya harus mengejar setoran. Pak sopir pun saya bayar Rp 50.000,- termasuk tip untuk menemani saya yang lagi bingung di depan gerbang bandara. Jadi, ada ongkos menemani orang bingung Rp 10.000,-

Namun sebelum pak sopir pergi, dia membantu saya membuka pintu pagar bandara. Rupanya pintu gerbangnya mudah dibuka, hanya diikat rantai saja tanpa gembok. Saya lalu jalan melenggang menuju teras bandara. Saya geleng-geleng kepala, bandara kok kotor dan seperti tidak terurus dengan baik.

Setelah tengok sana, tengok sini, longok sana dan longok sini, akhirnya saya lihat ada pos penjagaan yang ketika saya intip ternyata petugasnya sedang tidur ditonton oleh pesawat televisinya yang sedang menyiarkan siaran sepak bola. Pura-pura tidak tahu kalau penjaganya sedang tidur, saya ketok pintunya agak keras. Lalu saya tanyakan kepada petugas jaga yang kaget saya bangunkan, jam berapa jadwal pesawat ke Balikpapan. Dijawabnya, biasanya jam 8-an.

Lhadhalah….., berarti saya kepagian tiba di bandara, kecepatan hampir 2 jam. Saya segera menyimpulkan bahwa agen penjual tiket di Yogya pasti salah menuliskan jamnya. Bodohnya saya, kenapa tidak saya cek dulu sebelumnya……

***

Kejadian ini tidak seharusnya saya alami, kalau saja saya mau menyempatkan sebelumnya untuk melakukan rekonfirmasi kepada agen Trigana Air tentang tiket keberangkatan saya ke Balikpapan hari itu. Gara-gara kelewat yakin, karena sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan semacam ini. Ada baiknya, kita melakukan rekonfirmasi tiket pesawat setiap kali sebelum melakukan perjalanan udara. Meski sebelumnya tidak pernah terjadi kesalahan penulisan tiket, tapi menjadi menjengkelkan kalau sekalinya terjadi justru kita yang mengalami.

Siwalan…! Hari itu saya telah melakukan kebodohan yang semestinya bisa dihindari. Pihak penjual tiket di Yogya memang salah telah menuliskan jam penerbangan 2 jam lebih cepat. Tapi ketika kesalahan itu telanjur terjadi dan berakibat menimbulkan ketidaknyamanan diri kita, njuk lalu mau marah sama siapa….?

Klimaks kejengkelan terjadi di saat orang-orang masih pada tidur, di tempat yang jauh jaraknya. Kalau pun bisa marah lewat tilpun, ya menghabis-habiskan pulsa saja alias sia-sia (heran juga saya, marah kok masih bisa mikir untung-rugi). Paling-paling ya marah atas kebodohan diri sendiri. Sambil duduk bersandar di bangku tunggu di depan pintu masuk bandara, sambil kaki dijulurkan ke lantai yang kotor, sambil menulis SMS untuk dikirim ke penjual tiket langganan saya di Yogya.

Isinya maki-maki? Tidak. Terlalu sayang rasanya kalau hari indah saya harus saya awali dengan marah. Kira-kira saya bilang begini : “Hari ini saya kepagian tiba di bandara Tanjng Redeb, malah saya yang membuka gerbang bandaranya. Jam yang tertulis di tiket ternyata kecepatan 2 jam. Mudah-mudahan sekarang sudah punya jadwal yang baru”. Ponsel saya tutup, lalu memejamkan mata sambil dheleg-dheleg…… mengiringi matahari yang semakin terang menyinari bumi…..

(Untungnya kejadian itu menimpa orang yang sudah terbiasa mengalami banyak hal yang tidak mengenakkan dan yang lebih penting….. bisa menikmatinya. Sebab bisa menjadi bahan cerita, meski cerita tentang kebodohan, agar dapat dihikmahi oleh orang lain. Huh! Enak sekali jadi orang lain…..).

Orang pertama yang kemudian tiba di bandara setelah saya adalah pengelola kantin yang berada di sisi sebelah kanan bandara. Segera saya susul ke kantin. Seorang ibu yang sedang menyiapkan perlengkapan kantin sebelum buka, saya mintai tolong untuk mendahulukan menjerang air agar segera bisa disiapkan segelas kopi panas. Ibu itu mau juga. Barangkali saya pembeli pertama yang dianggapnya sebagai penglaris. 

Sekitar jam 8:15 ketika bandara mulai agak ramai, saya tinggalkan kantin dan masuk ke bandara seperti penumpang lainnya. Ada sepenggal kebanggaan, ketika melewati semua proses pemeriksaan di depan petugas security, lalu mengurus chek-in, lalu membayar pajak, lalu membeli asuransi, lalu menyapu pandang kepada segenap penumpang yang sudah lebih dahulu duduk di ruang tunggu, dan terakhir ketemu orang di toilet (sudah kebelet sejak tadi…..)  Kebanggaan? Kalau saja mereka tahu, bahwa hari itu sayalah yang membuka pintu gerbang bandara…..

Yogyakarta, 20 Januari 2008
Yusuf Iskandar