Archive for the ‘> Sehari Di Selatannya Denver’ Category

Sehari Di Selatannya Denver

5 Februari 2008

Pengantar :

Sekedar memanfaatkan waktu luang sehari seusai mengikuti kursus “Mine Evaluation” di Golden, saya melakukan perjalanan singkat ke kawasan di sebelah selatannya kota Denver, Colorado, sebelum kembali ke New Orleans. Hari itu, tanggal 9 Desember 2000 yang bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1421 H dan pertengahan musim dingin. Sekedar berbagi cerita.-

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge
(2).   Turun Ke Dasar Ngarai
(3).   Purnama Di Taman Dewata 

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(1).   Menuju Ke Jembatan Gantung Royal Gorge

Hari Sabtu, 9 Desember 2000, setelah tidur-tidur ayam sehabis makan sahur dan subuhan, sekitar jam 08:00 pagi saya baru menyat (bangkit) dari kasur empuknya sebuah hotel di kota Golden, Colorado. Kebetulan hari itu adalah hari ke-13 bulan Ramadhan 1421 H.

Kebiasaan seperti itu saya lakukan sejak enam hari sebelumnya. Cuma biasanya sebelum jam 08:00 saya sudah berangkat meninggalkann hotel menuju ke tempat kursus di kampus Colorado School of Mines (CSM) yang berjarak hanya 250 m dari hotel, atau kurang dari 10 menit jalan kaki. Saat itu adalah pertengahan musim dingin yang hawa udara paginya seringkali menyebabkan sulit menahan keinginan untuk menarik selimut lebih tinggi.

Kursus “Mine Evaluation” bersama Pak Frank dan John Stermole sudah selesai hari Jum’at kemarinnya, dan hari Sabtu adalah hari bebas saya sebelum hari Minggu besoknya kembali ke New Orleans yang berjarak sekitar empat jam penerbangan. Dalam mengisi hari bebas itu saya merencanakan untuk berjalan-jalan ke tempat-tempat di seputaran kota Denver dan Golden yang belum pernah saya kunjungi. Untuk itu saya telah merencanakan untuk memanfaatkan fasilitas perusahaan dengan memperpanjang sehari menginap di hotel dan menyewa mobil, atas biaya perusahaan.

KKN? Tidak juga. Melainkan sekedar mengambil keuntungan dari win-win situation. Lho, kok bisa?

Sejak sekitar tiga minggu sebelum saya berangkat dari New Orleans, saya sudah mengatur pemesanan pesawat dan hotel melalui agen perjalanan yang ada di kantor. Karena kursus dimulai hari Senin dan selesai Jum’at, maka jadwal yang saya buat, biar tidak membuang waktu, adalah berangkat hari Minggu dan kembali hari Sabtu. Rupanya oleh pihak agen perjalanan, saya dihadapkan dengan pilihan itinerary (rencana perjalanan) yang benar-benar tidak mudah untuk saya pahami, tetapi tidak dapat saya hindari.

Pilihannya adalah : kalau saya berangkat menuju Denver hari Minggu dan kembali ke New Orleans hari Sabtu, maka harga tiket pesawat pulang pergi sekitar US$1,600. Tetapi kalau saya mau berangkat hari Minggu dan kembalinya diperpanjang sehari menjadi hari Minggu depannya, maka harga tiket pesawat pulang-pergi hanya sekitar US$560. Ada perbedaan harga sekitar US$1,040, padahal dengan pesawat yang sama. Dihadapkan dengan pilihan rencana perjalanan yang membuat saya tidak mudeng (paham) ini, saya tidak dapat langsung memutuskan.

Saya inginnya pulang hari Sabtu agar tidak kehilangan kesempatan untuk berpuasa di rumah bersama keluarga dalam dua kali hari Minggu. Pilihan ini sebenarnya bisa saja saya ambil tanpa pusing-pusing soal ongkos pesawat. Namun akhirnya dengan iktikad agar perjalanan dinas saya ini tidak terlalu membebani pengeluaran perusahaan, saya memilih mengorbankan dua kali kesempatan berhari Minggu bersama keluarga.

Akan tetapi, agar hari Sabtunya saya tidak bengong atau krukupan (berkerudung) selimut di kamar hotel saja, dan agar hari bebas saya ini lebih “produktif”, saya akan mengisinya dengan jalan-jalan ke luar kota. Untuk itu saya perlu menyewa kendaraan sehari dan menginap semalam lagi di hotel plus biaya makan dengan total tambahan biaya sekitar US$200. Tambahan makan sebenarnya tidak seberapa, wong saya juga puasa. Kalau dihitung-hitung, pilihan saya ini masih tetap akan menguntungkan perusahaan sekitar US$840. Malah “untungnya” perusahaan masih lebih banyak. Tapi ya, saya anggap saja ini keputusan yang saling menguntungkan.

***

Menjelang jam 09:00 pagi saya tilpun ke perusahaan penyewaan kendaraan. Menyadari bahwa pemesanan saya mendadak, saya sudah membayangkan akan tidak mudah memperoleh kendaraan sewaan. Pertama kali dijawab oleh petugasnya bahwa kendaraan yang saya pesan sudah habis, tinggal ada sebuah truck. Dalam hati saya tertawa sendiri, lha wong mau wisata kok disuruh nyopir truck.

Sebenarnya yang dimaksud dengan truck di sini adalah kendaraan sejenis pick up bak terbuka. Tapi saya sudah terlanjur membayangkan sebutan truck dengan truk yang biasa digunakan untuk ngangkut pasir, sapi, rombongan pengantar haji atau jama’ah NU yang mau menghadiri pengajian kampanye di kampung saya.

Lima belas menit kemudian saya tilpun lagi, dengan harapan akan diterima oleh orang berbeda sehingga ada kemungkinan untuk dilakukan pengecekan ulang. Ternyata benar juga, petugas berbeda yang kedua ini menjawab tinggal ada sebuah truck dan sebuah sedan kelas mid size. Tanpa pikir panjang saya menyetujui untuk menyewa yang jenis sedan. Sekitar sepuluh menit kemudian saya sudah dijemput oleh petugas car rental di hotel untuk mengurus ini-itu soal sewa-menyewa. Baru sekitar jam 10:00 saya berangkat meninggalkan kota Golden.

Tujuan saya adalah menuju ke arah sebelah selatannya kota Denver. Pertimbangannya, kalau ke arah utara dan barat saya akan banyak ketemu dengan kawasan bersalju, padahal seminggu ini sudah kedinginan terus. Sedangkan ke arah timur kurang ada obyek menarik. Maka saya putuskan ke arah selatan saja, meskipun masih juga berhawa dingin (lha wong musim dingin), namun daerahnya relatif lebih rendah dan bukan kawasan yang sering bersalju dibandingkan daerah utara atau barat Denver.

Atas saran mBak Dinu, istrinya rekan Mas Bob Adibrata yang tinggal di Golden, salah satu tempat yang dapat dipertimbangkan untuk dikunjungi adalah Royal Gorge Bridge yang berjarak sekitar 150 mil (240 km) dari Golden dan kira-kira dapat ditempuh dalam 3 jam perjalanan. Setelah saya lihat di peta, kelihatannya rutenya tidak sulit dan di sepanjang rute itu ada banyak obyek menarik lainnya yang dapat saya kunjungi, jika waktunya memungkinkan.

Dari Golden saya mengikuti jalan Highway 6 (Hwy 6) ke arah timur, lalu setiba di kota Denver pindah ke jalan bebas hambatan Interstate 25 (I-25) ke arah selatan menuju kota Colorado Springs. Jarak dari Denver ke Colorado Springs sekitar 110 km. Rute perjalanannya cukup enak, cuaca sangat cerah dan di sebelah-menyebelah beberapa ruas jalan masih tampak sisa hamparan salju yang turun beberapa hari sebelumnya dan menutupi kawasan perbukitan yang terbuka.

Hanya saja lalu lintas cukup padat, maka saya memilih untuk berjalan dengan kecepatan normal saja. Saya memang menghindari mencuri kecepatan, apalagi di bulan puasa, karena saya menyadari bahwa kemampuan saya untuk berkonsentrasi dalam keadaan puasa tentu berbeda dengan ketika sedang tidak puasa.

Selepas kota Colorado Springs saya pindah ke jalan Hwy 115 ke arah barat daya menuju kota kecil Penrose yang berjarak sekitar 60 km. Setiba di Penrose, pindah lagi ke jalan Hwy 50 ke arah barat menuju kota Canon City yang berjarak sekitar 18 km. Canon City adalah sebuah kota yang terletak di dataran tinggi pada elevasi 1.630 m di atas permukaan laut. Kota yang letaknya di keliling kawasan perbukitan ini jumlah penduduknya sekitar 12.700 jiwa. Cukup ramai.

Keluar dari Canon City, sekitar 13 km kemudian saya belok ke selatan masuk ke jalan State Road (SR) 3A. Akhirnya saya tiba di lokasi Royal Gorge Bridge yang berada sekitar 6 km di ujung jalan SR 3A. 

***

Royal Gorge Bridge adalah nama sebuah jembatan gantung yang cukup terkenal karena dianggap yang paling tinggi di dunia. Ukuran tingginya diukur dari bentang jembatannya ke permukaan air sungai Arkansas di bawahnya, yaitu setinggi 321 m. Sebagai pembanding, jembatan gantung Brooklyn di New York dan The Golden Gate di San Fransisco memang lebih besar dan panjang, tapi tidak setinggi Royal Gorge.

Jembatan gantung Royal Gorge sendiri membentang sepanjang 384 m dengan lebar 5,5 m menghubungkan kedua sisi ngarai atau jurang yang dindingnya hampir tegak lurus. Berkonstruksi baja dan kayu pada permukaan jembatannya yang dapat dilalui kendaraan. Adanya profil alam yang demikian, menjadikan bentang jembatan ini tampak menarik dan unik ketika dilihat dari samping agak jauh.

Secara geologis, aliran sungai Arkansas yang kini berada tepat di dasar ngarai telah memotong di puncak perbukitan Freemont yang berupa batuan granite sejak tiga juta tahun yang lalu. Proses erosi sungai Arkansas yang alirannya cukup deras ini memotong membentuk celah yang sangat dalam dan menyisakan ngarai yang curam di kedua dindingnya. Diperkirakan proses pengikisan sungai Arkansas ini berlangsung rata-rata 30 cm setiap 2.500 tahun.

“Turis” pertama yang mengunjungi tempat ini adalah suku Indian pegunungan, Utes, yang kemudian disusul dengan suku-suku Indian lainnya dari dataran rendah, antara lain Sioux, Cheyenne, Kiowas, Blackfeet dan Comanche. Rombongan missionaris Spanyol pertama kali datang ke daerah ini pada tahun 1642. Sejarah mulai mencatat ketika pada bulan Desember 1806 Letnan Zebulon Montgomery Pike mencapai sisi timur ngarai. Pada mulanya orang mengenal lokasi ini dengan sebutan Grand Canyon of Arkansas, tapi sejak tahun 1872 masyarakat kota Canon City menyebutnya dengan Royal Gorge.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(2).   Turun Ke Dasar Ngarai

Sekitar jam 1:00 siang saya masuk pintu gerbang Royal Gorge Bridge setelah membayar karcis seharga US$10. Tempat ini tampak sepi pengunjung. Maklum kalau saat itu memang bukan musim liburan, pas musim dingin lagi. Tapi ya malah menguntungkan karena pada musim liburan harga karcisnya akan lebih mahal. Selain itu saya juga tidak perlu membuang waktu untuk antri beli tiket masuk, naik kereta gantung (aerial tram) menyeberang ngarai, naik kereta miring (incline railway) turun ke dasar ngarai atau nonton film sejarah kawasan Royal Gorge di Plaza Theater, dsb. Harga karcisnya sudah termasuk ongkos untuk menikmati fasilitas-fasilitas tambahan itu.

Setelah masuk pintu gerbang, saya menuju ke terminal kereta gantung (aerial tram). Tidak terlalu lama menunggu, kereta langsung berangkat. Hanya ada beberapa orang saja yang siang itu bersama saya menaiki kereta gantung yang berkapasitas 35 orang. Bagi sebagian orang naik kereta gantung menyeberang ngarai yang terlihat sangat dalam, bisa jadi singunen (merasa takut berada di ketinggian). Untungnya saya sudah terbiasa naik tram setiap kali berangkat dan pulang kerja di tambang Freeport di Irianjaya (Papua).

Gerbong kereta gantung ini terkait pada tali baja (wire rope) yang membentang horizontal sepanjang 670 m menghubungkan sisi timur dan barat ngarai. Bentangan tali bajanya berada pada ketinggian kurang lebih 360 m di atas sungai Arkansas. Fasilitas kereta gantung Royal Gorge ini baru dibangun pada bulan Nopember 1968 dan selesai bulan Juni 1969.

Melihat ke arah utara dari dalam kereta gantung yang bergerak dengan kecepatan rata-rata 18 km/jam ini terlihat jembatan gantung Royal Gorge pada jarak sekitar 200-300 m. Demi melihat profil alam dan jembatan yang tidak biasa ini, serta-merta para turis pun segera jeprat-jepret memainkan kameranya. Kalau pandangan dialihkan ke bawah, tampak dasar ngarai dimana mengalir sungai Arkansas yang berkelok-kelok dan di sisi timurnya terdapat satu lintasan rel kereta api.

Turun dari kereta gantung di sisi barat ngarai, saya berada di kawasan nature trail yaitu kawasan alam terbuka yang diurus dan dikelola dengan baik dan di sana terdapat jalan setapak yang enak untuk dimanfaatkan sebagai sarana berolahraga lintas alam. Di kawasan ini sesekali masih dapat dijumpai hewan jenis-jenis rusa. Saya lalu menyusuri jalan setapak yang sebagian beraspal dan sebagian lagi jalan tanah berbatu, menyusuri pinggir barat ngarai menuju arah utara, hingga kemudian tiba di kawasan Plaza Theater.

Di sekitar Plaza Center terdapat beberapa bangunan tempat peristirahatan, gardu pemandangan, arena piknik dan restoran. Saya sempatkan untuk masuk ke Plaza Theater menyaksikan pemutaran film tentang sejarah pengembangan kawasan Royal Gorge. Meskipun hari itu sedang sepi pengunjung dan hanya tiga orang yang masuk ke Plaza Theater, namun agenda pemutaran film tetap berlangsung seperti yang telah dijadwalkan.

Tidak jauh berjalan dari Plaza Theater, saya tiba di ujung barat jembatan gantung Royal Gorge. Dari sini saya akan menyeberang jembatan dengan berjalan kaki kembali menuju ke ujung timur. Bagi yang malas menjalankan kakinya sepanjang hampir 400 m, ada tersedia kendaraan wisata yang berjalan dari ujung ke ujung. Jembatan itu memang dapat dilalui kendaraan kecil, tapi hanya satu lajur sehingga mesti jalan bergantian kalau berpapasan.

Dengan berjalan kaki rasanya lebih puas menikmati pemandangan, meskipun untuk itu saya harus melawan dinginnya angin musim dingin yang berhembus melintas ngarai. Saya tolah-toleh, waktu itu hanya ada saya dan beberapa orang lain di kejauhan yang berjalan kaki menyeberang jembatan.

Berjalan kaki menyeberang jembatan berlantai kayu yang terkadang agak bergoyang kalau bersamaan ada kendaraan yang juga menyeberang, memang bisa membuat tidak nyaman bagi orang yang takut dengan ketinggian. Pemandangan ke dasar ngarai ke arah kiri dan kanan yang terlihat sangat dalam bagaikan selokan raksasa dengan dinding-dinding ngarainya yang sangat terjal.

Pembangunan jembatan gantung Royal Gorge ini pekerjaan awal konstruksinya dimulai tanggal 5 Juni 1929 dan berhasil diselesaikan pada bulan Nopember tahun yang sama. Sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 6 Desember 1929. Pada akhir tahun 1984 jembatan ini selesai direnovasi dan dibangun kembali setelah pada tahun 1980 diketahui adanya korosi di beberapa bagian tali baja (wire rope). Kini setiap tahun rata-rata 500.000 orang wisatawan mengunjungi Royal Gorge Bridge.

Setiba di ujung timur jembatan, saya menuju ke stasiun kereta miring (incline railway), yaitu kereta yang berjalan di atas rel yang dipasang pada lereng dengan kemiringan 45 derajad. Panjang jalur miringnya 472 m, menghubungkan sisi atas tebing dengan dasar ngarai. Kereta ini bergerak naik dan turun dengan sistem kerekan (hoisting system) menggunakan tali baja (wire rope). Persis seperti sistem kerekan yang digunakan dalam sistem pengangkutan tambang bawah tanah. Bedanya hanya kereta miring Royal Gorge ini berada di lereng terbuka, sedangkan kalau di tambang bawah tanah biasanya berada dalam sumuran miring (incline shaft) yang gelap.

Bagi kebanyakan orang, kemungkinan akan ada perasaan takut untuk menuruni ngarai dengan kereta miring ini, karena serasa seperti sedang berada dalam sebuah kerangkeng (cage) yang diulur dari atas. Kebetulan dari beberapa orang yang akan naik kereta miring ini saya berada di antrian paling belakang. Ternyata kesemua penumpang yang antri di depan saya tidak ada yang memilih tempat di kerangkeng paling ujung depan.

Ya, barangkali berpikir kalau keretanya meluncur jatuh maka akan duluan sampai tanah. Tapi bagi saya malah hal ini yang saya harapkan. Bukan berharap meluncur duluan, tapi dengan berada di posisi paling depan saya memperoleh bidang pemandangan yang terbuka untuk memainkan kamera saya.

Meluncur dengan kecepatan 4 km/jam melalui celah dinding ngarai, tampak bagian bawah ngarai yang semakin dekat hingga akhirnya berhenti di stasiun di dasar ngarai. Sekitar 5,5 menit diperlukan untuk menempuh satu trip perjalanan turun maupun naik dengan kereta miring yang gerbongnya berupa tujuh buah kerangkeng kecil yang digabung bertrap sesuai kemiringan relnya, dengan kapasitas tiap kerangkengnya 3-5 orang. Kereta miring ini diresmikan penggunaannya pada tanggal 14 Juni 1931. Pembangunan kembali fasilitas ini diselesaikan tahun 1973.

Ada satu hal yang mengherankan saya, dan membuat saya was-was, yaitu bahwa mesin ini dijalankan oleh seorang operator yang sudah lanjut usia. Saya beranggapan bahwa ini adalah jenis mesin yang sama dengan yang digunakan dalam industri pertambangan, maka mestinya operator mesin seperti ini adalah mereka yang masih berusia kerja. Untuk menjalankan mesin semacam ini tentu diperlukan seorang operator yang kondisi fisik dan mentalnya benar-benar tidak diragukan.

Saya memang banyak melihat bahwa di tempat-tempat wisata di Amerika banyak di antara petugasnya adalah mereka yang sudah usia pensiun atau malah para remaja. Agaknya menjadi petugas di obyek-obyek wisata memang menjadi lapangan kerja sampingan bagi kebanyakan para orang tua yang sudah usia pensiun atau para remaja yang mengisi waktu liburnya dengan mencari pengalaman baru dan pengasilan tambahan. Dalam banyak hal memang ini sesuatu yang sangat positif. Namun saya tidak habis mengerti kalau itu menyangkut jenis pekerjaan yang beresiko tinggi. Mungkin memang ada kebijaksanaan dan peraturan yang berbeda.

***

Ketika berada di dasar ngarai lalu menengadahkan kepala ke atas maka bentang jembatan gantung terlihat seperti sebuah garis tebal hitam membentang di langit di antara celah tinggi dinding ngarai. Saya berdiri di antara sungai Arkansas dan jalur kereta api di dasar ngarai. Sungai Arkansas yang tidak terlalu lebar dan berarus cukup deras merupakan bagian ekor dari sungai yang panjangnya lebih dari 2.240 km.

Sungai Arkansas ini bermata air di negara bagian Colorado dan bermuara di sungai Mississippi, melintasi negara bagian Kansas, Oklahoma dan Arkansas. Menyusur di tepi timur sungai terdapat jalan kereta api yang panjang seluruhnya 38 km dan kini difungsikan sebagai sarana wisata kereta api mengelilingi perbukitan di seputar Royal Gorge.

Jalan kereta api di dasar ngarai ini lebih dahulu telah dibangun sebelum dibangunnya jembatan gantung. Kebutuhan akan perlunya sarana jalan kereta api ini mulai muncul ketika tambang perak diketemukan di hulu sungai Arkansas pada tahun 1877. Bidang yang tersisa di sisi sungai hanya cukup untuk dibangun satu lintasan jalan kereta api, sementara pada saat itu ada dua raksasa perusahaan kereta api yang berminat membangun jalan kereta api.

Persaingan bisnis antar dua perusahaan angkutan kereta api, Denver & Rio Grande dan Santa Fe, akhirnya tak terhindarkan lagi. Ketegangan sempat terjadi, bahkan perang dalam arti sesungguhnya antara kedua kubu dan kelompoknya pun tak terhindarkan. Kesepakatan baru tercapai pada tahun 1879 setelah korban terlanjur berjatuhan, dengan pemberian hak untuk melanjutkan pembangunan sarana kereta api bagi Denver & Rio Grande. Maka tahun 1880 kemudian menjadi tonggak sejarah perkeretaapian di kawasan yang kaya hasil tambang itu.

***

Akhirnya sekitar jam 03:30 sore saya baru meninggalkan lokasi Royal Gorge Bridge dan langsung saja melaju untuk kembali menuju kota Canon City dan Colorado Springs. Saya berharap akan tiba di kota Colorado Springs saat hari belum terlalu gelap, sehingga ada kesempatan untuk mengunjungi satu obyek wisata lagi, yaitu Garden of the Gods.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Sehari Di Selatannya Denver

2 Februari 2008

(3).   Purnama Di Taman Dewata

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam kembali dari Royal Gorge Bridge, saya memasuki kota Colorado Springs, mengikuti rute yang sama seperti saat berangkatnya. Setiba di kota ini saya lalu keluar dari jalan I-25 dan masuk ke jalan yang bernama Garden of the Gods Road yang menuju ke arah barat. Dalam perjalanan kembali ke Golden sore itu, saya akan mampir dulu ke sebuah obyek wisata yang bernama Garden of the Gods.

Lokasi taman ini masih berada di kawasan kota Colorado Springs di sisi sebelah barat dan karena itu mudah dijangkau. Lalulintas kota itu cukup ramai, sehingga saya mesti berjalan agak pelan, selain sambil memperhatikan rambu-rambu petunjuk jalan di saat hari mulai remang-remang. Hari memang sudah di ambang senja meskipun belum terlalu gelap. Di musim dingin waktu siangnya lebih pendek. Matahari sudah terbenam pada sebelum pukul 5:30 sore.

Menjelang jam 05:00 sore saya sudah tiba di depan taman Garden of the Gods. Saya tidak langsung masuk ke taman, melainkan mampir dulu ke ruang pusat pengunjung (visitor center). Pertama, untuk memastikan bahwa taman masih buka. Petugas di sana mengatakan bahwa taman akan tutup jam 9:00 malam. Tentu ini suatu kebetulan bagi saya yang datangnya terlambat.

Rupanya taman ini memang buka sampai malam. Di luar musim dingin, taman ini bahkan buka hingga jam 11:00 malam. Kedua, untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan taman ini termasuk peta lokasi, mengingat belum banyak yang saya ketahui tentang taman ini. Ketiga, untuk membeli sekedar bekal buat berbuka puasa karena sebentar lagi waktu maghrib tiba.

***

Garden of the Gods yang terletak di kaki sebelah timur pegunungan Rocky Mountain adalah sebuah kawasan yang profil alamnya didominasi oleh adanya formasi batuan berupa batupasir merah yang muncul ke permukaan. Secara geologis kawasan ini terbentuk pada 300 juta tahun yang lalu. Adanya proses erosi terhadap formasi batupasir ini telah menyebabkan dihasilkannya berbagai bentuk batuan seperti yang terlihat sekarang ini.

Suatu bentuk tampilan batuan berwarna kemerahan yang seakan-akan menyembul keluar dari permukaan bumi dengan bentuk ujung-ujungnya yang meruncing, di tengah kawasan perbukitan yang hijau oleh tumbuhan sejenis pinus ponderosa, juniper dan tumbuhan serta bunga-bunga liar.

Pada bulan Agustus 1859, dua orang peneliti melakukan penjelajahan ke wilayah di luar kota Denver dan sampailah mereka ke wilayah baru yang kini disebut sebagai kota Colorado Springs. Ketika mereka tiba di daerah di sekitar wilayah baru itu, mereka menemukan sebuah kawasan yang berpemandangan indah yang dipenuhi dengan tampilan formasi batupasir merah. M.S. Beach, salah seorang peneliti itu, kemudian menamai daerah ini dengan “Beer Garden” ketika kawasan baru ini mulai berkembang. Namun teman yang satunya, bernama Rufus Cable, mengatakan inilah tempat dimana para dewa berkumpul. Karena itu lalu selanjutnya disebutlah tempat itu dengan “Garden of the Gods”, atau saya sebut saja Taman Dewata.

Berbekal peta lokasi, segera saja saya masuk ke Taman Dewata. Taman yang luas seluruhnya mencapai 542 ha ini dapat dijelajahi dengan menggunakan kendaraan dan memang tersedia rute jalan beraspal yang menuju ke tempat-tempat menarik di kawasan taman. Selain jalan beraspal juga tersedia jalan setapak yang memungkinkan wisatawan pejalan kaki untuk menjelajah dengan aman menyusuri kawasan ini. Di saat hari mejelang malam, di dalam taman rupanya masih cukup banyak pengunjung. Kelihatannya memang para wisatawan yang sengaja mengambil waktu kunjungan di malam hari.

Hari mulai gelap saat saya tiba di lokasi yang bernama Kissing Camels, yaitu lokasi dimana terdapat sebentuk batuan yang (katanya) menyerupai dua ekor unta yang sedang berciuman. Waktu sudah menunjukkan jam 05:30 sore, berarti sudah masuk waktu berbuka puasa. Sambil menikmati sebotol air mineral yang baru saya beli, saya berhenti agak lama di ujung barat laut jalur lingkar wisata di dalam taman yang disebut Juniper Way Loop.

Dalam keremangan senja hari, saya tidak dapat menggunakan kamera saya secara maksimal. Saya mencoba mengabadikan pemandangan saat senja hari di Taman Dewata ini dengan menggunakan kecepatan paparan (exposure) rendah. Sebenarnya saya agak diuntungkan dengan munculnya bulan purnama di ujung timur. Namun karena saya tidak membawa kaki tiga (tripod) guna meredam goyangan kamera maka saya mencoba mengakalinya dengan meletakkan kamera saya di atas kayu tiang pagar. Akibatnya tentu sudut pengambilan gambar menjadi terbatas, dan ternyata hasilnya memang tidak maksimal.

Bulan purnama yang masih berada pada sudut rendah di atas cakrawala timur yang seakan-akan baru keluar dari persembunyiannya, dari balik tonjolan-tonjolan batuan dan di pucuk dahan pohon pinus, memang memberi kesan yang romantis. Barangkali ilusi semacam ini yang mengilhami Rufus Cable berkhayal bahwa di sinilah taman bermain para dewa dan dewi dari kayangan.

Dinginnya angin malam musim dingin yang seperti menusuk tulang membuat saya yang sudah mengenakan jaket saja rasanya seperti menggigil ketika mencoba berjalan kaki mendekat ke lokasi formasi batuan. Saya pun jadi berkhayal : apa ya para dewa dan dewi itu “dulu” juga mengenakan jaket ketika musim dingin tiba.

Ada banyak sebutan nama batuan yang masing-masing dinamai antara lain sesuai dengan kemiripan bentuknya atau tampilannya, seperti misalnya Giant Footprints, Pulpit Rock, Cathedral Rock, Tower of Babel, dsb. Di antara bentuk-bentuk batuan yang tampak khas, ada yang disebut dengan nama Balanced Rock yaitu sebongkah besar batuan yang nangkring miring di atas bidang batuan lain. Posisi kesetimbangannya dengan bidang sentuh yang relatif sempit dibanding bongkah batuannya, telah menyebabkan bongkah batuan ini seperti tak tergoyahkan.

Semakin malam, saya semakin tidak mampu bertahan terlalu lama berada di luar kendaraan karena tiupan angin dingin. Barangkali karena saya belum terbiasa, karena saya lihat ada juga beberapa orang lain yang malam-malam begitu malah berwisata jalan kaki.

Sudah lewat jam 06:00 sore ketika akhirnya saya memutuskan untuk meninggalkan Taman Dewata. Saya masih melihat ada beberapa kendaraan lain datang menuju ke lokasi Taman Dewata ketika saya hendak keluar dari jalan di pintu masuk utama. Saya langsung saja melaju menuju ke jalan bebas hambatan I-25 dan mengambil arah utara yang akan kembali menuju Denver. Kota Colorado Spring yang berpopulasi sekitar 281.000 jiwa dan terletak pada elevasi sekitar 1.823 m dia atas permukaan laut, segera saya tinggalkan.

Sekitar dua jam perjalanan saya tempuh dari Colorado Springs melewati sisi barat daya Denver, hingga akhirnya saya tiba di kota Golden. Usai sudah perjalanan sehari menuju ke selatannya Denver. Esoknya pagi-pagi, saat kota Golden dan Denver masih diselimuti kabut tebal musim dingin, dengan kendaraan taksi saya menuju ke Denver International Airport dan selanjutnya terbang kembali ke New Orleans.-

New Orleans, 6 Pebruari 2001.
Yusuf Iskandar