Archive for the ‘> Ke Sirahan Kami Kembali’ Category

Ke Sirahan Kami Kembali

9 Maret 2011

Kami kembali ke Sirahan setelah kunjungan awal beberapa waktu sebelumnya. Pada tanggal 25 Pebruari dan 5 Maret 2011 saya dan beberapa rekan mengunjungi desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang, dalam rangka mendistribusikan bantuan kepada dua buah sekolah TK dan sebuah SD. Bantuan ini merupakan titipan amanah dari para sahabat yang peduli dengan beban kesulitan yang dihadapi anak-anak di desa Sirahan.

Seperti biasa, selalu ada nuansa berbeda dalam setiap perjalanan saya yang ingin saya “dongengkan”. Tulisan ini adalah kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Semoga menjadi inspirasi…

***

Berbagi Dengan Anak-anak TK

(1)

Akhirnya kesampaian juga untuk membantu dua sekolah TK yang gedungnya satu hancur satunya lagi lenyap tak berbekas diangkut lahar dingin di desa Sirahan, kecamatan Salam, Magelang.

Alat tulis, mainan edukatif dsb. Jum’at yll (25/02/11) diserahkan ke TK Pertiwi dan TK Ibnu Hajjar. Kami disambut suka cita oleh para ibu guru TK (entah kenapa kok tidak pernah dengar ada pak guru TK, mungkin khawatir murid-muridnya diajari mbetulin genteng).

(2)

TK Pertiwi (25 murid) saat ini menumpang di salah satu rumah warga yang ditinggal mengungsi karena ancaman banjir lahar dingin kali Putih belum usai. Sekolahnya model lesehan seperti makan gudeg Malioboro.

Menurut Bu Atun sang kepala sekolah, pemilik rumah sudah memberitahu akan pulang menempati rumahnya. Jadi mereka harus pindah. “Tapi ya belum tahu mau pindah kemana?”, tutur bu Atun nglangut (menerawang jauh)…

(3)

Dari TK Pertiwi kami menuju TK Ibnu Hajjar (119 murid) yang kini terbagi di tiga lokasi sekolah darurat. Salah satunya menempati sebuah bangunan kosong milik warga di dusun Gudang Gedolon (warga suka menyebutnya nDolon saja), desa Sirahan. Model sekolahnya sama, lesehan.

Sama seperti TK Pertiwi, TK ini pun kini juga sedang menghimpun bantuan dari mana saja berupa apa saja, asal anak-anak tetap bisa tertangani pendidikannya.

(4)

Sempat menyaksikan sebuah kelas yang anak-anaknya belajar sambil duduk lesehan. Senang rasanya melihat anak-anak itu. Ceria sekali, seperti tidak peduli dengan serba daruratnya sarana belajar yang ada.

Tapi jangan salah. Kata bu guru Suryati: “Ketika cuaca berubah mendung gelap, anak-anak itu gelisah minta segera pulang…”. Rupanya trauma banjir lahar dingin yang telah menggondol sekolah mereka begitu membekas dalam pikiran anak-anak itu.

***

Kue nDeso Bolu Kelapa

(5)

Ada sembilan ibu guru TK Ibnu Hajjar (tidak ada pak guru) siang itu berseragam baju kaus warna biru-putih dan berkerudung menyambut kedatangan kami yang membawa bantuan untuk sekolah TK mereka.

Kami disuguh dengan penganan bolu kelapa. Tapi kok masih panas dan aromanya membuat tdk sabar ingin sgr mencicipi. Rupanya di belakang bangunan yg sementara digunakan untuk TK itu juga digunakan untuk usaha membuat penganan.

(6)

Bolu kelapa adalah penganan berbahan terigu seperti kue bolu kukus. Bedanya bolu kelapa ini terigunya dicampur dengn parutan kelapa yang sebelumnya sudah di-oven sehingga aroma kelapanya tajam merangsang, seperti kelapa yang dibakar untuk umpan tikus.

Itu baru aromanya. Rasanya? Hmmm, empat bolu bablass… “Usaha ini baru setahun”, kata ibu Bambang sang pengusaha yang juga tinggal di bangunan yang ditempati TK itu. Kini omsetnya terus meningkat.

(7)

Bolu kelapa… Kue bolu berbahan terigu bercampur parutan kelapa yang di-oven. Kue ndeso sederhana, dibuat dengan cara sederhana (siapapun mudah membuatnya, kalau mau), dijual dengan harga sederhana.

Tapi ribuan bolu kelapa berhamburan ke pasar-pasar dan warung-warung di sekitar Muntilan yang dapat dibeli dengan harga @Rp 500,- dengan merek DR (Doa Restu). Harga di pabriknya @Rp 400,- per biji.

***

Jum’atan Di Dusun nDolon

(8)

Menjelang tiba waktu dzuhur. TK Ibnu Hajjar, guru dan muridnya harus ditinggalkan sejenak untuk sholat Jum’at. Seorang bu guru menunjukkan jalan menuju masjid terdekat karena letaknya agak tersembunyi.

“Nurul Burhan”, nama masjidnya. Terlihat pak haji Furqon, takmir dan imam masjid, sedang duduk leyeh-leyeh seorang diri di selasar masjid. Waktu dzuhur sudah masuk, tapi masjid kecil itu kok sepi. “Jangan-jangan jum’atan di sini libur”, pikirku.

(9)

Kusalami pak haji Furqon. “Biasanya baru pada datang setelah bedug ditabuh”, kata pak haji tersenyum. Benar juga. Sesaat kemudian datang beberapa orang muda. Bedug ditabuh. 1-2 jama’ah mulai datang. Lalu adzan berkumandang.

Nuansa Islam tradisional kental terasa. Jum’atan dengan dua adzan, sang bilal banyak melagukan salawat, pak haji sebagai khatib sekaligus imam mencengkeram tongkat “komando” sebesar alu (alat tumbuk padi).

(10)

Khotbah Jum’at yang seluruhnya disampaikan dalam bahasa Jawa halus telah diselesaikan pak haji Furqon selaku khatib. Sholat Jum’at segera dimulai, pak haji Furqon pun siap di mimbar imam.

Tiba-tiba beliau membalikkan badan dan berkata: “Gus, Gus Yusuf, monggo…”, sambil tangannya mempersilakan. Aku menoleh ke kiri-kanan ingin tahu siapa yang diajak bicara. Astaghfirullah, rupanya ucapan itu ditujukan kepadaku.

(11)

Pak haji Furqon mempersilakanku menjadi imam. Aku memang agak kaget, tidak menyangka tiba-tiba dipersilakan seperti itu. “Monggo pak…”, jawabku balas mempersilakan sambil mengarahkan jempolku.

Bukan aku tidak mau atau tidak bisa, kalau aku menolak. Bukan juga karena aku hanya mengenakan celana blue-jeans belel dan T-shirt. Melainkan karena beliaulah sebenarnya orang yang paling pantas untuk mengemban tugas menjadi imam pada Jum’at siang itu.

(12)

Alasanku terbukti benar. Di usianya yang sudah lebih 70 tahun, pak haji Furqon ternyata masih mampu melantunkan surat Al-Fatihan dan Al-A’laa dengan makhroj dan tajwid yang jelas dan bersih.

Aku dibuatnya terkagum. Tidak banyak orang tua seusia beliau mampu melakukannya. Namun lebih dari semua itu, adalah kerendahan hatinya sehingga merasa perlu mempersilakan jamaah “barunya” di masjid yang memang jarang kedatangan “tamu” itu.

(13)

Usai jum’atan, kupamiti pak haji Furqon yang wajahnya tampak selalu tersenyum ramah dan kusalami dengan hangat. Subhanallah.., sungguh sepenggal pengalaman yang seharusnya dapat kupetik hikmahnya.

Pak haji Furqon mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah kami berikan. Aku tertegun sejenak. Apa “urusan” haji Furqon berterima kasih untuk bantuan kepada sekolah TK yang hanya numpang di situ… Sebuah kearifan yang sulit dijelaskan.

***

“Lahardi”

(14)

Sebelum kembali ke Jogja, kami sempatkan menengok seorg guru TK Pertiwi yang malam sebelumnya melahirkan anak pertamanya di RSIA Muntilan. Sekedar ingin memberi surprise kepada bu guru yang ketika hamil tua sempat menyaksikan detik-detik menegangkan bagaimana TK-nya dilabrak banjir lahar lalu lenyap.

Seorang teman usul agar bayi laki-laki bu guyu (sengaja pakai ‘y‘) Watik ini diberi nama “Lahardi” (agar selalu ingat dengan lahar dingin).

***

Entok Goreng “Pondok Rahayu” Muntilan

(15)

Agenda terakhir Jum’at siang itu adalah makan siang (ini juga bagian penting). Bagaimanapun juga harus makan, maka dipilihlah “Pondok Rahayu” di pojok Jl. KH A. Dahlan, Muntilan, Magelang.

Menu unggulannya bebek dan ayam kampong, tapi juga ada entok dan kalkun. Bakar atau goreng dengan sambal goreng atau sambal kosek. Dan, pilihanku adalah…entok goreng, yang dagingnya empuk, tekstur seratnya nyaman dikunyah, dan hmmm…

(16)

Tahun 1992 bu Rahayu memulai membuka usaha jualan menu ayam kampung dan bebek. Warungnya kecil dan bertahan di tempatnya yang sekarang dengan judul “Pondok Rahayu”.

Taste-nya tidak diragukan lagi. Terbukti bertahan hingga dua dekade, malah semakin kondang dan diburu pelanggannya. Bahkan sekarang bu Rahayu memiliki armada untuk melayani pesan-antar. Sampai sekarang belum buka cabang, walau niat itu ada.

(17)

Daging entok dan bebek dimasak sedemikian ahlinya sehingga tidak terasa amis (anyir), melainkan pas benar taste-nya. Tadinya mau nyoba kalkun, tapi rupanya harus pesan lebih dahulu mengingat besarnya (seperti kalkun yang disusupi kepalanya Mr. Bean yang dagingnya cukup untuk 25 porsi normal, kecuali yang makannya tidak normal…).

Rahasianya? “Nggih namung sabar…” (ya cuma sabar saja), katanya. Maksudnya, sabar memproses sesuai kebutuhan.

***

Anak-anak, Seragam Dan Semangatnya

(18)

Pak Katam, Kepsek SDN Sirahan 1 itu sudah menunggu kedatanganku di teras “sekolah”, bersama para ibu guru dan muridnya. Saya datang mengantar bantuan berupa pakaian seragam pramuka untuk 84 muridnya (sumbangan dari seorang rekan di Jogja yang tidak mau disebut namanya).

Seragam (tepatnya baju sekolah) itu mereka butuhkan, apalagi bagi mereka yang rumah seisinya telah diangkut banjir lahar.

(19)

SDN Sirahan 1, di kecamatan Salam, Magelang, bagian depannya tertutup pasir lahar Merapi, ruang kantornya morat-marit diacak-acak banjir lahar luapan dari kali Putih. Warga yang kebanyakan wali murid, belum mengijinkan sekolah beroperasi mengingat ancaman bahaya banjir lahar masih belum sirna.

Sementara “sekolah” yang ditempati sekarang sebenarnya adalah beberapa rumah warga dusun Purwosari, desa Sirahan, yang ditinggal mengungsi pemiliknya.

(20)

Kabarnya pemilik rumah yang sekarang difungsikan untuk sekolah itu kini bersiap pulang karena jenuh tinggal di pengungsian. Karuan saja para gurunya harus berpikir keras. Ketika kutanya: “Terus belajarnya nanti gimana pak?”. “Ya gimana nanti saja…”, jawab pak Katam pasrah sambil tersenyum (susah lho, pasrah tapi tersenyum…).

Nanti gimana atau gimana nanti? Tergantung pilihannya, kekhawatiran atau ketenangan perasaan..

(21)

Namanya juga anak-anak… Tiap hari hanya bermain di pengungsian membuat ortu dan gurunya bingung. Terpaksa diusahakan angkutan antar-jemput siswa ke/dari “sekolah” barunya.

Setiap minggu sekolah harus menyediakan biaya Rp 240 ribu untuk sewa kendaraan. Entah sampai kapan. Bukan jumlah yang sedikit dalam situasi darurat. Tapi anak-anak gembira berdesakan naik mobil bak terbuka setiap hari. Dan, semangat anak-anak itu masih ada, juga gurunya…

Yogyakarta, 27-28 Pebruari dan 5 Maret 2011
Yusuf Iskandar