Archive for the ‘> Berkunjung Ke Bumi Raflesia, BENGKULU’ Category

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

Pengantar :

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya sewaktu berkesempatan mengunjungi kota Bengkulu dan sekitarnya pada bulan Juni 2006. Perjalanan ini adalah kunjungan saya yang pertama ke Bengkulu, sejak saya meninggalkannya tahun 1995. Sebelumnya saya pernah bekerja sebagai buruh tambang di desa Lebong Tandai, pedalaman Bengkulu Utara, yaitu dari tahun 1988 hingga tahun 1995. Anggap saja perjalanan saya kali ini sebagai kunjungan nostalgia.

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno
(2).  Ladang Emas Hitam Di Taba Penanjung
(3).  Mbelah Duren Di Waung Pak Leman
(4).  Danau Dendam Tak Sudah
(5).  Fort Marlborough Dan Kawasan Pantai Di Sekitarnya
(6).  Membeli Kopi Bengkulu Di Pasar Panorama

Iklan

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(1).  Tiba Di Bandara Fatmawati Soekarno

Ada yang berbeda dengan Adam Air yang saya tumpangi hari Minggu kemarin. Sejak dari Yogyakarta menuju Jakarta, lalu dilanjutkan menuju Bengkulu, semua pramugari Adam Air tidak mengenakan seragam seperti biasanya. Para pramugarinya tampil santai. Mereka hanya mengenakan kaos yang warnanya tidak seragam dipadu dengan celana denim biru berbagai merek. Kaos yang dikenakan ada yang berwarna dasar oranye, kuning, dan ada pula yang putih.

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya tanyakan juga kepada salah dua dari mereka. Kenapa tidak memakai seragam? Jawabnya, memperingati World Cup. Piala Dunia kok diperingati. Tentu yang dimaksudkan adalah turut berpartisipasi merayakan pesta akbar pertandingan sepak bola dunia yang sedang digelar di Jerman. Makanya kaos yang dikenakan pun menyamai seragam kesebelasan sepak bola berbagai negara peserta putaran final, antara lain ya regu Belanda dengan warna dasar oranye dan regu Brasil dengan warna dasar kuning. Sayangnya (atau bagusnya) tidak mengenakan celana pendek kombor dan sepatu bola, melainkan blujin biru ketat berbagai merek dan sepatu olah raga putih.

Kesannya memang nanggung, bukan seragam pramugarinya yang nanggung melainkan ide dasarnya Adam Air ini. Kalau maksudnya berpartisipasi merayakan pesta Piala Dunia, kenapa hanya seragam peladen (pelayan) pesawat saja yang tampil beda. Sementara tak satupun ada atribut lain yang menandakan sedang turut merayakan hajatan sepak bola dunia. Tidak juga ada poster atau brosur atau atribut lainnya, sejak saat keberangkatan hingga kedatangan. Tapi, yo wis-lah….. Wong namanya turut berpartisipasi, ya sesukanya dan seikhlasnya…..

Kalau ada yang sedikit “berbeda” adalah ketika pesawat yang dari Jakarta hendak berangkat menuju Bengkulu, pintunya susah ditutup. Engselnya ngadat. Sekali, dua kali, tiga kali, sampai enam kali dicoba ditarik-tarik untuk ditutup, tetap tidak mau nutup juga. Mau tersenyum melihatnya, bagaimana seorang pramugara bersusah-payah menarik-narik pintu sambil sesekali memukul-mukul engselnya, didampingi oleh seorang pramugarinya, tetap tidak mau nutup juga. Tapi juga deg-degan, lha bagaimana nanti kalau tiba-tiba malah membuka sendiri sewaktu sedang di awang-awang? Setelah usaha yang kesekian kalinya, akhirnya semua lega ketika akhirnya pintu pesawat berhasil ditutup. Tidak perlu ada tepuk tangan untuk “kebodohan” semacam ini….. Kebodohan yang menakutkan…..

***

Sekitar jam 14:30 siang saya mendarat di Bengkulu, yang juga menyebut dirinya dengan bumi Raflesia. Entah mana tulisan yang benar, di bandara ada yang menulis besar-besar dengan Rafflesia (double “f”) dan ada yang menulis Raflessia (double “s”). Saya baru tahu kalau nama bandara Bengkulu yang dulu bernama bandara Padang Kemiling ini rupanya sejak direnovasi tahun 2001 telah berubah nama menjadi Fatmawati Soekarno Airport. Begitu nama resmi yang tertulis di sana.

Sebelas tahun lebih sedikit yang lalu, saya meninggalkan kota ini setelah enam setengah tahun sebelumnya midar-mider melalui kota ini saat masih bekerja di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara. Lebong Tandai, nama tempatnya.

Tahun 1995 terpaksa saya dan teman-teman lainnya eksodus dari perusahaan tambang yang mulai salah urus. Operasi tambang yang sebenarnya masih berprospek bagus itu ternyata pengelolaannya amburadul. Maka sebagian besar pegawainya, tidak staff tidak non-staff, akhirnya merelakan untuk melupakan satu-dua bulan gaji terakhirnya dan memilih eksodus meninggalkan lokasi kerja.

Pihak pemerintah daerah dan departemen teknis terkait yang sesungguhnya sangat diharapkan untuk turun tangan mencarikan jalan keluar, ternyata turun kaki pun tidak. Maka sekitar seribu lima ratus sisa pegawainya akhirnya bagai anak-anak ayam kehilangan induknya. Bubar mencari selamat masing-masing nyaris tanpa bekal. Patut bersyukur bagi mereka yang akhirnya bisa tiba di kampung halaman dengan selamat dengan sisa bekal yang ada.

Kota Bengkulu yang saya jumpai siang itu tampak damai dan sepertinya tidak banyak perubahan. Kota ini memang tidak terlalu ramai dan padat. Jalan-jalan kotanya lebar dan lalu lintas sangat lancar, hingga terasa enak sekali berkeliling kota ini. Sebagai sebuah ibukota propinsi, maka Bengkulu tergolong kota propinsi yang relatif sepi. Barangkali karena letak geografisnya kurang strategis. Bukan kota dagang, bukan juga menjadi kota perlintasan dagang. Belum banyak industri, selain beberapa perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan dan perkebunan.

***

Hari pertama di Bengkulu saya sempatkan untuk napak tilas jalan-jalan dan tempat-tempat yang sebagian masih saya ingat arah, rute, lokasi dan namanya. Diantaranya kawasan simpang lima, pasar Minggu, daerah Kampung (tapi ada di pusat kota), daerah pantai dengan benteng Fort Marlborough dan Tapak Padri, pantai Panjang (karena memang pantainya puanjang), bekas rumah ibu Fatmawati dan rumah Bung Karno sewaktu dalam pengasingannya di Bengkulu.

Tidak lupa, tentu saja menikmati makan malam (untuk urusan yang satu ini wajib hukumnya…..). Pilihan jatuh pada menu pindang tulang, di rumah makan “Tanjung Karang”, Jl. Mayjen Sutoyo. Pokoknya ya mampir saja. Entah lagi lapar entah memang enak, pokoknya huenak tenan… Sehingga masuk kembali ke kamar hotel pun dapat nggeblak dengan nyaman.

Ee….., lha kok pas enak-enaknya mulai menyaksikan Piala Dunia babak enam belas besar, tiba-tiba bumi seperti digoyang-goyang. Meskipun goyangannya tidak keras, melainkan goyangan lembut dan mesra, feeling saya dengan cepat dapat mengidentifiksi bahwa sedang terjadi gempa bumi. Tentu saja, mak deg….. terbayang gempa Jogja. Untung hanya sekali saja dan tidak ada gempa-gempa susulan, sehingga tidak menimbulkan keresahan.

Esok hari baru saya memperoleh kepastian setelah melihat televisi, bahwa memang telah terjadi gempa di Bengkulu dengan kekuatan 5,2 skala Richter. Darimana lagi kalau bukan dari gerakan palung Jawa, masih segaris keturunan dengan gempa Aceh, Nias, Jogja, Padang dan terakhir Lampung. Barangkali karena efek getarannya sangat halus dan tidak mengagetkan, maka masyarakat Bengkulu sepertinya tidak terganggu, karena memang gempa-gempa lembut semacam ini sering dirasakan.

Saya hanya kepikiran, bahwa gempa yang sama dengan intensitas lebih lemah atau lebih kuat sepetinya tinggal menunggu tanggal mainnya saja bagi kawasan-kawasan lain yang berdekatan dengan palung Jawa. Tidak ada salahnya untuk waspada.

Bengkulu – 26 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(2).  Ladang Emas Hitam Di Taba Penanjung

Di tengah teriknya siang, kami (saya dan beberapa teman) pergi meninggalkan kota Bengkulu menuju ke arah timur. Mengikuti jalan raya yang menuju kota Curup dan Lubuklinggau. Kira-kira tiba di kilometer 20, di desa Taba Lagan lalu nyempal membelok menuju arah tenggara. Masih melalui jalan aspal beberapa kilometer sampai ke desa Lagan Bungin, lalu disambung dengan jalan desa. Lebih tepat disebut jalan tambang yang berupa tanah dan batu yang dipadatkan di tengah perkampungan. Disebut jalan tambang, karena jalan yang cukup lebar untuk dua buah truk bersimpangan ini sebenarnya dibuat sebagai sarana pengangkutan hasil tambang batubara dari lokasi penambangan menuju pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Perjalanan masih dilanjutkan menyusuri jalan tambang hingga sejauh kira-kira 18 km menuju ke arah perbukitan. Lha wong namanya jalan perbukitan, ya tentu saja naik-turun dan belak-belok membelah kawasan pinggiran hutan yang tampak sudah terbuka dirambah orang dan di sana-sini masih dijumpai kawasan rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk yang tampak sangat sederhana, sekedar berbentuk rumah panggung dari bahan kayu. Akhirnya sampai ke lokasi dimana banyak diusahakan penambangan batubara, terkadang suka disebut dengan si emas hitam. Di siang yang terik dan berdebu itu akhirnya saya tiba di ladang emas hitam di pinggiran sebelah barat Bukit Barisan, tepatnya di daerah Taba Penanjung, Bengkulu.

Batubara atau si emas hitam ini memang banyak diketemukan di Sumatera. Di sepanjang lereng barat dan timur Bukit Barisan yang membentang selatan-utara membelah pulau Sumatera, banyak memiliki potensi cadangan endapan batubara. Kecamatan Taba Penanjung hanyalah satu dari sekian banyak daerah di Sumatera yang kaya akan batubara. Di sana ada banyak perusahaan tambang yang kini terus menggali batubara untuk diangkut keluar pulau, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mupun luar negeri, tergantung kecocokan spesifikasinya antara persediaan dan permintaan.

Untuk sekedar menyebut contoh, kalau kita ingat pelajaran Ilmu Bumi sewaktu sekolah dulu. Pak guru akan bertanya : “Batubara banyak dihasilkan di…..?”. Pak guru pun menjawab sendiri : “Ombilin”, karena murid-muridnya susah mengingat nama tempat yang berada di propinsi Sumatera Barat itu. Sejarah panjang tentang industri tambang batubara di Indonesia memang tidak bisa lepas dari nama itu.

Potensi batubara di Sumatera memang sangat besar, tidak kalah dari yang ada di Kalimantan yang akhir-akhir ini lebih populer namanya sebagai penghasil batubara. Namun karena ketersediaan sarana pengangkutan di Sumatera umumnya sangat terbatas, sehingga para investor masih pikir-pikir kalau mau mengusahakan penambangan batubara di Sumatera. Hitung-hitungan njelimet mesti dilakukan dengan teliti menyangkut pengangkutan batubara dari lokasinya yang jauh di pedalaman menuju pelabuhan terdekat yang mempunyai fasilitas pengisian ke tongkang atau kapal.

Di Sumatera Selatan sarana pengangkutannya menggunakan sepur Babaranjang (batubara rangkaian panjang). Sedang di lokasi lain umumnya masih memanfaatkan sarana jalan darat sebagai jalan angkut. Tentu saja kapasitas produksinya tidak bisa maksimal karena terkait dengan pertimbangan kepadatan lalulintas umum akibat truk pengangkut batubara yang midar-mider melalui jalan umum. Sementara di Kalimantan meskipun sarana jalan umum masih terbatas, tetapi lebih diuntungkan dengan banyaknya sungai-sungai yang layak dimanfaatkan sebagai sarana pengangkutan.

***

Rasanya belum lama saya mendengar tentang agenda besar pemerintah untuk menjadikan batubara sebagai sumber energi alternatif. Maksudnya alternatif selain minyak. Sejak jamannya bapak presiden HMS hingga pak SBY, semangat untuk memasyarakatkan batubara (atau boleh juga kalau mau dipelesetkan menjadi membatukan dan membarakan masyarakat) sepertinya gebu-menggebu. Harap maklum, potensi cadangan batubara di bumi Indonesia ini memang tergolong buesar. Selama ini belum didayagunakan secara optimal.

Istilah briket batubara digaung-gaungkan sampai ke pelosok desa, bahkan sampai ke masyarakat yang tidak tahu apa itu batubara. Pelaku bisnis pun serta-merta berlomba menangkap peluang. Tapi kini, entah kenapa semangat itu sepertinya memudar. Briket batubara dan anglonya telanjur diproduksi. Tapi semua orang keburu lupa hal-ihwal batubara, dan akhirnya kembali mencari kayu bakar dan mengantri minyak tanah meski harganya selangit.

Kalau soal polusi, tentu bukan monopoli batubara. Minyak dan gas pun menimbulkan polusi yang membahayakan kesehatan manusia. Malah bisa menyebabkan kematian ketika terhirup hidung…….., kalau menghirupnya seperti kucing ngembus-embus ikan asin. Asal penanganan dan pengelolaannya benar menurut kaidah ilmu dan teknologi, tentunya dampak apapun akan dapat direduksi atau dikendalikan.

Sejauh ini baru sektor industri besar yang banyak memanfaatkan sumber alam ini, belum memasyarakat ke sektor rumah tangga. Perlu “aba-aba” pemerintah lagi……. Kalau ternyata “aba-aba” itu tidak pernah muncul lagi, ladang emas hitam akan tetap dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri.

***

Salah satu dapurnya perusahaan tambang yang sempat saya kunjungi ternyata memanfaatkan batubara untuk memasak. Tentu bukan karena “aba-aba” yang pernah digembar dan digemborkan pemerintah, melainkan karena disana batubara pating tlecek (berserakan) tidak dimanfaatkan. Lha wong namanya juga lokasi tambang batubara…..

Apa keunggulan benda ini? Antara lain, lebih panas sehingga waktu untuk memasaknya lebih cepat, dan akibatnya ya tentu lebih hemat. Kalaupun untuk memperoleh batubaranya harus membeli, maka harganya masih relatif lebih murah dibandingkan dengan harga minyak dan gas untuk digunakan dengan tujuan yang sama. Lha kalau demikian, kenapa pemerintah setengah hati mengkampanyekan penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif? Wah, yo embuh……..

Bengkulu, 28 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(3).  Mbelah Duren Di Waung Pak Leman

Sejak saya datang menjelang maghrib, Pak Leman yang nama lengkapnya Soleman (konon kalau di Jerman ejaannya menjadi Lehmann…..), tak habis-habisnya bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi pekerja tambang. Mengaku sebagai penduduk asli dusun Siring, sejak tahun 1983 Pak Leman dan keluarganya menempati sepetak rumah merangkap warung di pinggir jalan tambang. Jalan kampung yang biasa dilalui truk-truk pengangkut batubara. Di warung kecil-kecilan itu pula Bu Leman berjualan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.

Hari-hari ini musim durian sudah menjelang tiba. Pak Leman pun nyambi jualan durian, seperti sudah bertahun-tahun dilakoninya. Musim durian di Bengkulu memang baru awal-awalnya. Karena pohon durian milik Pak Leman belum mulai menghasilkan, maka Pak Leman kulakan durian dari tetangganya yang mempunyai pohon durian di hutan yang sudah mulai matang.

Saat petang mulai meremang itulah, dalam perjalanan pulang ke kota Bengkulu dari sebuah lokasi tambang, kami berhenti sejenak di warung Pak Leman itu. Ya buat apa lagi kalau bukan mau menikmati buah durian. Kebetulan pas ada tetangga Pak Leman yang baru keluar dari hutan membawa durian. Meski untuk itu tetangga Pak Leman itu rela berjalan kaki berkilo-kilometer memikul beberapa butir durian dari kebunnya untuk dijual.

Acara tunggal petang itu adalah mbelah duren….. Mula-mula jenis durian biasa, cukup manis dan enak rasanya. Lalu Pak Leman menyodorkan jenis durian tembaga. Dagingnya agak lembek, berwarna kekuningan, tapi rasanya …..boo……, huenak tenan….. Belum pernah saya temukan durian jenis ini di Jawa.

Di Sumangtrah memang terkenal kalau yang namanya durian tembaga itu tiada yang melawan rasanya. Bagi orang yang sudah lama tinggal di Sumatera barangkali tidak asing lagi dengan jenis durian ini. Tapi bagi mereka yang belum pernah mencicipi durian ini, sepertinya perlu dicatat di buku agenda untuk suatu saat nanti mencobanya. Selain karena kekuatan rasa dan aromanya, terutama sensasi kliyeng-kliyeng di kepala kalau kebanyakan (namanya juga kebanyakan…..).

Entah kenapa durian yang dagingnya berwarna kekuning-kuningan ini disebut durian tembaga. Saya tidak paham muasal-asalnya kenapa bukan durian kuningan atau durian emas, disebutnya.

Selain durian biasa dan durian tembaga, masih ada satu jenis durian lagi yang saya coba petang itu, yaitu durian roti. Dagingnya kesat dan berwarna keputih-putihan (sengaja kata ‘putih’ saya tulis berulang). Ketika dimakan terasa taste seperti roti tawar. Barangkali itu, makanya disebut durian roti. Kalau umumnya orang bikin roti rasa durian, maka ini durian rasa roti. Memang tidak semanis durian tembaga, tapi tetap saja hoenak tenan……  Tidak ada salahnya juga, suatu saat nanti diagendakan untuk dicoba, bagi yang kepingin.

Sambil menikmati durian, sambil menyeruput kopi Bengkulu yang katanya hasil olahan dari kebun Pak Leman sendiri. Masih sambil mendengarkan cerita-cerita seru pengalaman hidup Pak Leman…. tan soyo dalu tan soyo gayeng….. , dan semakin malam semakin berbau mistis.

Ketika akhirnya kami berpamitan, tidak lupa Pak Leman memberi tips. Kalau habis makan durian, ambil sebilah kulitnya, tuangkan sedikit air putih ke ceruk kulitnya, lalu diminum. Katanya selain dapat menetralisir baunya, juga dapat menetralisir hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin berkecamuk di dalam perut. Khusus untuk durian tembaga, ada tips tambahan. Jangan buru-buru minum air es karena akan berakibat perut kembung. Dan jangan dulu minum bir atau minuman beralkohol, kecuali bagi yang memang merencanakan untuk teler……..

***

Malam seperti semakin menuju larut, padahal sebenarnya belum. Itu karena kampung di sekitarnya sudah sepi bin senyap. Sesekali sopir truk angkutan batubara lewat menyapa Pak Leman. Langit pun tampak bersih dengan bulan sabit menggantung di dinding timur. Pak Leman pun semakin sulit dipenggal cerita-ceritanya.

Warung Pak Leman menjadi satu-satunya tempat yang masih terlihat terang-benderang, sementara rumah-rumah tetangganya sudah pada tutup, dengan kerlip lampu-lampu kecil di sana-sini, khas suasana desa. Waktu maghrib sudah lama terlewati. Saya memilih untuk memanfaatkan “fasilitas” untuk men-jamak (menggabung) sholat maghrib dengan isya, sebagai seorang musafir yang sedang lapar duren di kawasan ladang batubara……

Akhirnya, Pak Leman hanya minta duriannya dihargai Rp 5.000,- sebutirnya, sedangkan kopinya gratis. Sebagai sapaan selamat datang, katanya. Padahal dua hari sebelumnya kami membeli durian di kota Bengkulu harganya Rp 12.500,- per butir. Katanya kalau lagi musim-musimnya durian, harga sebutir durian hanya sekitar dua-tiga rebuan per butir. Eee…, lha kok di jalan Kusuma Negara Jogja tetap saja dua puluh lima ribuan per butir, tidak perduli lagi musim apa……

Bengkulu, 30 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(4).  Danau Dendam Tak Sudah

Konon (pantesnya lalu disambung dengan, kabarnya…), menurut sohibul-dongeng, ada penguasa sebuah kawasan subur makmur yang kecewa berat kepada masyarakat sekitarnya gara-gara tidak pernah disetori kambing setiap tahunnya. Sang penguasa lalu menaruh dendam kesumat kepada siapa saja, semua keturunan masyarakat penikmat kawasan subur makmur itu.

Orang menyebut sang penguasa itu sebagai Sapu Jagat (saya pikir sebutan sapu jagat ini monopoli masyarakat Jawa, rupanya ada juga di Bengkulu). Sedang kawasan yang subur makmur itu disebut sekedi, yaitu semacam mbelik, cerukan tempat munculnya sumber air. Sekedi itu kini menjelma menjadi sebuah danau bernama Dendam Tak Sudah (Melayu banget…..!),

Orang-orang di sekitar kawasan danau itu mempercayai kalau setahun tidak ada setoran korban kambing kepada sang Sapu Jagat, maka siapa saja yang mengunjungi danau itu perlu waspada jangan-jangan menjadi tumbal pengganti kambing. Ih…! Dan itu selalu terjadi setiap tahun.

Kalau ditelisik lebih “teknis”, terbentuknya danau ini sebenarnya hasil karya bangsa Belanda dulu. Tahun 1936 Belanda membendung sungai Muara Kuning untuk tujuan intensifikasi pertanian untuk kawasan di sekitarnya. Orang Belanda memang jagonya untuk urusan ndung-benndung. Danau yang terbentuk oleh bendungan ini disebut danau Dusun Besar. Proyek bendung-membendung ini oleh londo Belanda disebut dengan de dam. Namun sayang, ketika pecah perag Pacific proyek ini terbengkelai. Maka orang sekitarnya menyebut proyek yang tidak selesai ini dengan de dam yang tidak selesai, yang kemudian oleh lidah Melayu “terpeleset” menjadi dendam tak sudah. 

Nah, kalau urusan mencari-cari cerita yang pas buat danau ini, maka orang Indonesia memang jagonya. Jangankan membuat cerita fiktif, merekayasa kisah nyata saja bisa “dipesan” mau bagaimana ending-nya. Dan sialnya, orang percaya juga!

Baru pada tahun 50-an pemerintah Indonesia menyudahkan proyek de dam yang belum sudah ini. Hingga kini tempat yang subur makmur indah permai ini lebih dikenal orang sebagai danau Dendam Tak Sudah. Kalau kemudian setiap tahun kok ada yang meninggal disana, ya salahnya sendiri kenapa kurang hati-hati main-main di danau.

***

Lokasi danau ini tidak terlalu jauh, hanya sekitar tujuh kilometeran ke arah tenggara dari pusat kota Bengkulu. Tepat di tepian sisi baratnya terdapat jalan aspal yang diberi nama jalan Danau. Jadi kalaupun tidak ingin berhenti menikmati alam panorama danau, cukup dengan jalan perlahan melalui tepiannya.

Dimana-mana yang namanya danau selalu identik dengan keindahan alamnya. Demikian halnya dengan danau Dendam Tak Sudah yang menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat Bengkulu dan sekitarnya. Memandng danau ke arah timur, tampak pemandangan indah berlatar belakang pegunungan Bukit Barisan dengan kawasan hijau lambang kesuburan. Tempat di sekitar kawasan danau yang luasnya hanya sekitar 11,5 hektar ini layak menjadi tempat peristirahatan terakhir (maksudnya kalau hari itu rasa penat sudah memuncak dan lalu berisitirahat sebelum pulang ke rumah), agar mata dan pikiran kembali relaks.

Di sepanjang tepian danau yang berbatasan dengan jalan raya itu penuh dengan gubuk-gubuk kayu dan bambu yang dibangun menghadap danau dan membelakangi jalan raya. Pengunjung pun dapat duduk-duduk santai sambil memandang lepas ke arah danau. Jagung bakar dan kelapa muda menjadi menu unggulan para pemilik gubuk dan kedainya yang berada di seberang jalan. Terlebih jika hari-hari libur, tempat itu penuh dengan pengunjung, begitu kata salah seorang penjual jagung bakar di sana.

Cuma tidak enaknya, lama-lama para pemilik gubuk itu semakin kreatif menangkap peluang bisnis berdasarkan teori “demand and supply”. Mula-mula sandaran tempat duduk di gubuk ditinggikan sehingga agak menghalangi pandangan orang-orang yang lewat di jalan tepian danau. Lalu meningkat dengan memasang dinding atau tabir, sehingga orang-orang di jalan semakin terhalang pandangannya. Akhirnya, jadilah gubuk-gubuk itu lalu disebut oleh masyarakat sebagai “gubuk bercinta”. Sore hingga malam adalah waktu-waktu yang tepat bagi para konsumen untuk berjama’ah memanfaatkan gubuk-gubuk itu.

Maka pada suatu sore, kepingin juga saya mampir mencoba menikmati gubuk-gubuk di tepian danau Dendam Tak Sudah. Ya, untuk sekedar melepas lelah sambil nggayemi jagung bakar dan menikmati panorama indah danau itu. Gubuk-gubuk di sana sudah tampil lebih sopan karena pagi harinya habis ditertibkan oleh petugas Pemda Bengkulu. Ternyata lama-lama masyarakat dan pemerintah tentu saja menjadi gerah menyaksikan perkembangan aktifitas “wisata” di tepian danau di pinggiran jalan itu. Kini gubuk-gubuk itu dipaksa ditertibkan. Tabir-tabir penghalang dibuka. Tinggi sandaran tempat duduk pun diatur maksimal tingginya 30 cm.

Ketika akhirnya sore itu saya tinggalkan danau Dendam Tak Sudah, tampak di kejauhan sebuah sampan kecil dikayuh oleh seorang penumpangnya sedang menyeberangi danau. Sekedar pertanda bahwa ada kehidupan di seberang sana. Kehidupan nan damai tak sudah, maksudnya langgeng….. 

Yogyakarta, 3 Juli 2006

Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(5).  Fort Marlborough Dan Kawasan Pantai Di Sekitarnya

Menjelang senja, saya tinggalkan danau Dendam Tak Sudah beserta keelokan panoramanya. Sebelum kembali ke hotel, ada baiknya berkeliling melihat kota Bengkulu. Kawasan pantai menjadi pilihan. Di sana ada benteng Fort Marlborough (tapi  tidak ada jalan Malioboro di Bengkulu), tempat bersejarah peninggalan bangsa Inggris yang dibangun tahun 1714. Bukan semata untuk tujuan pertahanan militer benteng ini dibangun, tapi juga sebagai kantor perdagangan dan pemerintahan Inggris. 

Bangunan benteng ini terbukti sangat kokoh. Ketika pada tahun 2000 ribuan rumah dan bangunan di kota Bengkulu luluh-lantak oleh gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter, benteng ini ternyata tetap mbegegeg tanpa kerusakan berarti. Padahal benteng ini tanpa menggunakan konstruksi beton bertulang. Konstruksi bangunannya berupa batu dan bata yang disusun dan direkatkan dengan campuran kapur, pasir dan semen merah. Mirip-mirip konstruksi bangunan di sebagian kawasan Jogja yang belakangan ini roboh oleh gempa berkekuatan 5,9 Skala Richter.

Daerah pantai di sekitar benteng Marlborough ini ternyata setiap sore ramai dikunjungi orang, terutama para kaum muda dan mudi yang ingin menyaksikan detik-detik matahari terbenam, hari mulai malam, tapi tidak terdengar burung hantu yang suaranya merdu….. nguk-nguk…..nguk-nguk…..

***

Di kawasan pantai di belakang benteng Marlborough itu kini sedang sibuk dengan aktifitas pembangunan. Pemda Bengkulu dengan bangga mengatakan bahwa Bengkulu sebentar lagi akan memiliki fasilitas rekreasi pantai yang disebut Marina Bengkulu. Entah jadinya akan seperti apa, yang terlihat sekarang ini baru kesibukan penggalian dan pengurukan pantai oleh beberapa alat-alat berat. Asal saja tidak malah menjadi dam yang salah-salah menjadi penyebab petaka banjir tak sudah di kota Bengkulu ketika musim hujan datang menjelang. Sudah banyak contoh “gagalnya” perencanaan pembangunan kawasan pantai semacam ini yang solusinya (biasanya) tambal-sulam.

Tidak jauh dari pantai ini adalah kawasan kota kuno yang terkenal dengan sebutan Kampung, kependekan dari Kampung Pecinan. Masih tampak berdiri kokoh, rapi dan terawat, bangunan-bangunan kuno khas rukonya etnis Cina. Saya melihatnya sebagai sebuah aset peninggalan budaya yang perlu dilestarikan. Kalau tidak keburu konangan ditangkap investor dengan jaring rupiahnya untuk disulap menjadi mal.

Tidak jauh dari Kampung adalah gubernuran yang berada di sebuah kompleks kawasan yang luas dan anggun. Mudah-mudahan gubernurnya bukan seorang pecinta alam. Khawatirnya kalau dengan alasan back to nature  agar bisa tinggal di gubernuran sambil menikmati pemandangan alam pantai dan lautnya, lalu bangunan-bangunan kuno yang menghalanginya perlu dibongkar, termasuk kawasan Kampung Pecinan itu.

Masih di seputaran tidak jauh dari pantai, ada tugu Robert Hamilton, dan monumen Thomas Parr yang terletak tepat di depan pasar Barukoto. Kedua tugu itu dibangun untuk mengenang dua orang bekas residen Inggris di Bengkulu yang tidak terlalu populer di jamannya. Jaman ketika Bengkulu masih dikuasai oleh Inggris antara tahun 1685-1825.

*** 

Bengkulu pertama kali ditemukan oleh bangsa londo Inggris pada tahun 1685, disebut dengan Bencoolen. Tahun 1825 gantian londo Belanda menguasai wilayah ini dan menyebutnya Benkoelen. Tahun 1942 londo Jepang sempat numpang sebentar, lalu dikuasai londo Belanda lagi, tempat dimana Soekarno pernah diasingkan dan kecanthol gadis setempat bernama Fatmawati, sebelum akhirnya Bengkulu kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Rumah Soekarno dan Fatmawati sampai kini masih dirawat dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata sejarah.

Kota dan propinsi ini sesungguh-sungguhnya kaya dengan sumber alam, termasuk potensi pariwisatanya. Yang paling khas tentunya adanya bunga rafflesia arnoldi. Bunga raksasa ini muncul berpindah-pindah di sekitar kawasan hutan lereng pegunungan Bukit Barisan. Kini bunga rafflesia diabadikan menjadi lambang propinsi termuda, sebelum Timor Timur (yang akhirnya lepas lagi).

Pantai, danau, pegunungan, peninggalan sejarah, adalah sebagian obyek wisata yang cukup menarik untuk dikunjungi. Sayangnya kota Bengkulu ini tergolong lambat perkembangannya. Masih miskin industri, bukan jalur strategis lalu lintas perdagangan (meski sebenarnya dulu Inggris pernah menjadikannya sebagai kantor pusat bisnis lada dan rempah-rempah). Potensi pertambangan dan potensi perkebunannya belum mampu mengangkat pertumbuhan ekonominya.

Maka ibarat kota “pensiun”, tidak sibuk oleh hiruknya dan pikuknya aktifitas bisnis sebagaimana kota-kota besar lainnya di pulau Sumatera. Tapi justru karena itu suasana kota ini cukup tenang dan adem ayem. Kini Bengkulu sedang bertekad untuk maju dan berkembang. Setidak-tidaknya kini kota yang suka menyebut dirinya dengan Bengkulu kota Semarak ini mencanangkan dirinya untuk menjadi kota pelajar. Weleh…, sebagai penduduk Jogja, saya merasa kota saya akan mempunyai pesaing baru…

Semoga orang tua-orang tua pelajar di Bengkulu tidak dipusingkan dengan biaya sekolah yang membubung tinggi seperti asap panasnya Merapi atau wedhus gembel. Lepas wedhus-nya, tinggal gembel-nya…..

Yogyakarta, 3 Juli 2006.
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(6).  Membeli Kopi Bengkulu Di Pasar Panorama

Pesan paling pas bagi penggemar kopi kalau kebetulan berkesempatan datang ke Bengkulu adalah : jangan lupa membeli kopi Bengkulu. Pesan itu kini saya amalkan. Bahkan sudah saya amalkan dengan tertib ketika lebih sebelas tahun yang lalu saya masih bekerja di Bengkulu. Setiap kali cuti ke Jogja, pasti saya sempatkan untuk mampir pasar dan membeli kopi Bengkulu. Selain sebagai oleh-oleh juga untuk dikonsumsi sendiri.

Dulu, kalau membeli kopi di pasar Minggu (ini nama sebuah pasar di Bengkulu), langsung digoreng dan digiling di tempat, sehingga aromanya sangat menggairahkan dan lalu dibungkus masih dalam kondisi hangat.

Tentang kopi Bengkulu ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kopi-kopi dari daerah lain yang pernah saya coba rasanya, seperti (saya urutkan dari barat saja) : kopi Medan (meski persisnya tentu bukan dari kota Medan), Jambi, Palembang, Lampung, Jawa, Bali, Toraja, Kupang, Timor, dan masih banyak yang lainnya. Setiap kopi dari setiap daerah masing-masing memiliki kekhasan taste-nya. Dan kopi Bengkulu hanyalah satu dari kekhasan aroma dan taste di antara aneka ria jenis kopi itu. Tapi jelas beda dengan kopi bikinan pabrik yang biasa saya beli di toko, atau bahkan yang dijual di warung saya “Madurejo Swalayan” di Prambanan.

*** 

Untuk memperoleh kopi Bengkulu sebenarnya tidak sulit. Banyak kopi asli Bengkulu yang merupakan hasil industri rumahan. Maka kalau hanya ingin membeli kopi saja sebenarnya tidak terlalu merepotkan. Namun saya akhirnya memilih untuk membeli kopi Bengkulu di pasar Panorama. Pasar Panorama adalah sebuah pasar tradisional yang masih ada di tengah kota Bengkulu.

Saya tergoda untuk pergi ke pasar ini. Karena memang bukan semata-mata mau membeli kopinya, melainkan sambil cuci mata blusukan di pasar tradisional. Suasana khas yang rasanya sudah langka bagi mereka yang hidup penuh kesibukan di kota, dan terlalu sayang untuk dilewatkan ketika berada di tempat yang baru. Selain berharap sensasi thengng… dari kopinya, saya juga berharap sensasi hiruk-pikuk di pasar tradisional.

Di pasar, umumnya dijual ada dua macam kopi, yaitu kopi asli dan tidak asli (kurang tepat kalau disebut tiruan). Beda antara keduanya hanya pada masalah kandungannya, yang satu 100% kopi-pi, yang lainnya ada campurannya (beras, jagung atau entah apa lagi). Karena itu harganya berbeda, warnanya berbeda dan sensasi thengng...-nya juga berbeda. Kopi yang asli dijual dengan harga berkisar Rp 20.000,- per kilogramnya, terkadang lebih sedikit, terkadang kurang sedikit. Sedang kopi yang tidak asli tentu lebih murah dan bervariasi. Kopi yang asli berwarna lebih gelap kehitaman dibanding yang tidak asli. Merek dagangnya juga beraneka merek, dan setiap penjual pun menjadi pemegang mereknya masing-masing.

Tidak perlu pusing untuk memilih kopi yang merek apa, sepanjang masih kopi asli dan tidak campuran, dijamin tidak akan keblondrok (salah pilih). Cara penggorengan, penggilingan, pembungkusannya pun sama. Hanya, tentu saja setiap kopi ditangani oleh tangan berbeda. Oleh karena itu, setiap merek kopi di pasar sudah memiliki penggemar dan pelanggannya masing-masing.

***

Di pasar Panorama, meski yang dijual adalah kopi Bengkulu dan penjualnya pun fasih bercakap Bengkulu. Namun banyak di antara mereka yang aslinya (bukan tiruan) adalah pendatang dari luar Bengkulu. Kata orang sana, kebanyakan kalau bukan dari mBatak, ya Jawa. Jadi ya jangan hueran kalau di pasar tradisional Bengkulu ini di sana-sini ter-celemong dialek Jawa.

Lengkap sudah, ketika saya kembali ke Yogyakarta dengan membawa beberapa bungkus kopi asli Bengkulu yang biasanya dikemas per 250 graman, buat oleh-oleh. Minimal tetangga di kampung saya di Jogja yang gemar minum kopi, bisa turut kecipratan dleweran kopi Bengkulu dan menikmati sensasi thengng…-nya. Selain ada juga oleh-oleh lempuk atau lempok durian kalau suka makanan dodol-dodolan. Hanya perlu diingat satu hal, jangan pernah minta oleh-oleh ketupat bengkulen….., bisa merepotkan.

Yogyakarta, 4 Juli 2006
Yusuf Iskandar