Archive for the ‘> Seputar New Orleans – LA’ Category

Pak Gubernur Akan Mogok Bersama Para Guru

12 November 2008

Di Jakarta – 18 April 2000, unjuk rasa besar-besaran para guru yang berdatangan ke pusat pemerintahan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan nasib. Para wakil rakyat (DPR) dan para pejabat Depdikbud pada intinya mendukung keluhan para bapak dan ibu guru itu. Bahkan Presiden Gus Dur juga menjanjikan akan memperhatikan dan memperbaiki nasib para guru yang kini merasa “tersinggung” disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Di New Orleans – 19 April 2000, beberapa kelas sekolah negeri meliburkan muridnya. Ada apa gerangan? Rupanya para gurunya berbondong-bondong menuju Baton Rouge (ibukota negara bagian Louisiana) guna berunjuk rasa besar-besaran menghadap Gubernur menuntut kenaikan upah.

Apakah mereka sudah semayanan (janjian) hingga peristiwa unjuk rasa itu terjadi berturut-turut di tempat berbeda? Tentu tidak……! Tapi pasti mereka telah sama-sama merasakan bahwa nasib mereka perlu perbaikan.

Hingga kemarin saya masih menganggap kedua peristiwa itu adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Ada pihak yang merasa kurang diperhatikan. Lalu karena mengeluh dengan cara yang baik dan enak tidak mempan, ya ditempuhlah cara yang tidak baik dan tidak enak. Itu saja.

Baru ketika saya membaca koran lokal “The Times-Picayune” hari ini, saya merasakan ada hal yang aneh. Di Jakarta, Presiden Gus Dur (yang adalah orang upahan, kata Emha Ainun Nadjib) telah mengabulkan tuntutan para guru, meskipun tentu saja belum memuaskan. Di Louisiana, sudah sebulan ini belum ada tanda-tanda akan dipenuhinya tuntutan para guru. Sampai-sampai keluar tekad Pak Gubernur Mike Foster yang kira-kira jawa-nya berkata demikian : “Kalau DPRD tidak melakukan apa-apa, dan Anda (para guru) merasa harus mogok, maka saya akan ada di sana bersama Anda”. Lho…, Pak Gubernur akan ikut mogok bersama para guru ?

Kejadian itu terasa aneh bagi saya (yang sudah terbiasa hidup dalam berdemokrasi Pancasila). Trias politika murni agaknya memang diterapkan di Amerika. Jika perlu eksekutif akan bertarung dengan legislatif atau yudikatif (tidak ada konspirasi tilpun-tilpunan). Ya, seperti tekadnya Pak Gubernur itu. Ternyata Pak Gubernur memang ngiras-ngirus (sekaligus) sedang berupaya untuk menggolkan usulan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui usulan kenaikan pajak usaha yang hingga kini belum juga disetujui pihak legislatif. Sebagian dari penambahan pemasukan dari pajak itu rencananya akan dialokasikan untuk menaikkan gaji guru.

Perasaan aneh saya semakin menjadi-jadi, ketika saya mencoba menganalogikan (meskipun ini analogi yang tidak tepat), peristiwa di Louisiana dengan di Jakarta. Seandainya, Pak Presiden Gus Dur ikut berunjuk rasa bersama para guru di gedung DPR/MPR ……-

New Orleans, 18 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Mantan Gubernur Itu Kini Sedang Terpuruk

12 November 2008

Namanya Edwin Washington Edwards. Tahun 1964 dia terpilih menjadi anggota Senat dan tahun 1965 dia menjadi anggota Congress. Lalu tahun 1972 dia terpilih menjadi Gubernur negara bagian Louisiana yang ke-56. Karir politiknya cukup mengesankan, terbukti dia berhasil menjadi Gubernur Louisiana hingga empat kali masa jabatan, meskipun tidak secara berturut-turut, dalam periode 1972 hingga meninggalkan kantor gubernuran awal 1996.

Namun sayang, menjelang kelengserannya sebagai Gubernur keempat kalinya, dia tersandung dengan urusan yang saat itu “dikiranya” wajar-wajar saja, tetapi kini oleh pengadilan Federal dinyatakan sebagai perbuatan yang sangat salah. Hari Selasa yang lalu (9 Mei 2000) dia dinyatakan bersalah atas 17 dari 26 perkara yang dituduhkan. Dia tidak sendirian, ada 4 terdakwa lainnya yang juga dinyatakan bersalah oleh juri, dan satu diantaranya adalah putranya sendiri. Mereka terbukti telah bersekongkol melakukan pemerasan atas beberapa perusahaan yang mengajukan ijin pengoperasian usaha perjudian, senilai lebih US$ 3 juta. Tentunya cara pemerasan yang dilakukan oleh mereka tidak sama dengan cara yang dilakukan para preman jalanan, meskipun kejadiannya serupa. Kita semua tentu paham itu.

Banyaknya jumlah perkara yang dituduhkan karena cara pembuktiannya tidak dilakukan secara bongkokan menjadi satu gepok perkara : “pokoknya Sampeyan korupsi 3 juta dollar”. Melainkan setumpuk perkara berbau korupsi itu diurai kasus per kasus, lalu masing-masing dibuktikan benar atau salah. Perlu waktu 18 bulan bagi pengadilan Federal untuk menuntaskan kasus itu hingga amar putusan dijatuhkan.

Hari-hari ini mantan Gubernur itu sedang terpuruk. Pak Edwin kini berusia 72 tahun (kurang lebihnya sebaya dengan mantan Presiden kita, Pak Harto; bedanya Pak Edwin masih bersedia menghadiri pemeriksaan dan sidang pengadilan dengan gagah dan jiwa besarnya, dan Pak Edwin punya istri cantik berusia 35 tahun bernama Candy Edwards), dan dia sedang diancam untuk menjalani hukuman 255 (dua ratus lima puluh lima) tahun penjara. Artinya kalau hukuman itu dijalani, tahun 2255 dia “baru” akan bebas, dan saat itu usianya “sudah” mencapai 327 tahun. Selain hukuman penjara, dia juga harus mengembalikan uang sebesar US$ 2,5 juta (sebuah koran lokal menulis : apakah dia saat ini punya uang sebanyak itu?). Dalam keterpurukannya hari-hari ini, dia dan pengacaranya sedang memikirkan upaya banding. Kalau ternyata tidak berhasil, maka segera dia harus masuk penjara untuk menjalani hukumannya.

Itulah hasil kerja keras FBI selama lebih 3 tahun terakhir, mengumpulkan bukti-bukti guna menjerat sang mantan Gubernur. Ternyata Edwin Edwards ini memang sudah sejak lama, bahkan sejak masa jabatannya yang kedua, sudah diincar FBI untuk dijerat dengan hukum atas perkara yang berbau-bau korupsi. Tetapi setiap kali sang Gubernur berhasil menang di pengadilan.

***

Melihat kenyataan bahwa Edwin Edwards telah empat kali terpilih menjadi Gubernur, tentu bukan prestasi politik yang biasa-biasa saja. Kalau tidak, tentunya sebagian besar rakyat Louisiana tidak bodoh mempercayai Edwin sebagai pemimpinnya. Sebab kita tahu bahwa sistem pemilihan dilakukan secara langsung. Rakyat langsung mencoblos namanya saat pemilihan, bukan tanda gambar yang akan memilih perwakilan mereka. Artinya, jasanya bagi masyarakat Louisiana pada masa itu memang diakui, hingga empat kali periode kepemimpinannya.

Namun, barangkali inilah tradisi demokrasi masyarakat Amerika. Pada saat dia layak dipercaya, maka dia akan dipercaya sepenuhnya. Saat sebagian besar rakyatnya memilihnya sebagai pemimpin (meskipun sebagian sisanya barangkali menolaknya), maka diangkatlah dia sebagai pemimpin. Saat dia menunjukkan performance-nya yang baik dan melakukan hal yang benar, ya dihargailah keberhasilannya itu. Akan tetapi juga, saat dia melakukan kesalahan, ya diberilah hukuman atas kesalahannya itu.

Jasa-jasanya di masa yang lalu ternyata tidak harus menjadi pertimbangan untuk memaafkan kesalahannya, meskipun jasa-jasanya itu diakui. Sampai-sampai Edwin ngayem-ayemi (menenangkan perasaan) dirinya sendiri saat menghadapi wartawan dengan mengatakan : “Barangkali ini adalah bab terakhir dalam hidup saya, tetapi ada banyak bab-bab sebelum ini. Banyak hal telah terjadi di bawah kepemimpinan saya selama saya menjabat sebagai Gubernur negara bagian ini dan sebagai anggota Congress”. Maksudnya tentu agar rakyat atau masyarakat Louisiana tidak begitu saja melupakan jasa-jasanya sebagai Gubernur dan anggota Congress.

***

Melihat episode tragis seorang mantan Gubernur itu, yang kemudian terlintas dalam pikiran saya adalah pertanyaan : Mungkinkan esensi keadilan yang demikian itu terjadi di negara kita Indonesia?. Tanpa harus bersembunyi di balik jargon klasik : beda kultur, beda tradisi, beda sistem, dan beda-beda lainnya yang hanya akan melegalisir faktor sungkan dan ewuh-pakewuh….  Ah, yo embuh…….!

New Orleans, 14 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Info Korupsi

12 November 2008

Seorang teman di Indonesia mengirimi saya majalah Tempo layak baca. Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, berjudul : “Koruptor Mati, Hiduplah Korupsi”, yang diturunkan dalam edisi 13-19 Maret 2000 yang lalu. Pertama, karena di jaman reformasi ini ternyata kasus-kasus beraroma korupsi yang dulu sepertinya tertutup-tutupi, sekarang ini menjadi lebih transparan dan terbuka untuk umum (meskipun ujung-ujungnya ya balik tertutup lagi). Kedua, semakin mudah terbukanya kasus-kasus korupsi itu, semakin terbuka pula demikian mudahnya untuk tertutup lagi. Ketiga, kelihatannya sudah tidak perlu lagi bisik-bisik untuk menuding kasus korupsi, lha wong memang sudah jelas-jelas terjadi (setidak-tidaknya demikian menurut berita media massa).

Ada cerita lain dengan apa yang saya jumpai di sini, setidak-tidaknya di New Orleans. Sejak setahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh kali saya jumpai iklan berhadiah di harian “The Times-Picayune”, yang menjanjikan hadiah sampai US$ 100,000 (kira-kira senilai dengan Rp 750 juta) jika Anda punya info tentang perbuatan ilegal, antara lain korupsi, atau perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah.  Iklan dua kolom itu dipasang oleh The Metropolitan Crime Commission (MCC), yaitu sebuah kelompok LSM yang sangat gencar mengkampanyekan tentang kehidupan pemerintahan yang bersih.

Menurut informasinya, selama lima dekade terakhir ini sebenarnya MCC seperti tidak punya gigi, tidak punya popularitas, dan dianggap enggak ada apa-apanya. Namun tahun-tahun terakhir ini telah berkembang menjadi institusi di luar pemerintahan yang menanjak popularitasnya, cukup bikin kesal (baca : disegani) oleh terutama kalangan hakim dan sheriff, karena memang banyak menyisir polah tingkah dunia peradilan dan kepolisian. Tidak mengherankan kalau keberadaan MCC sempat mengundang cemoohan dari kedua kalangan itu. Keadaan ini mengingatkan saya dengan apa yang sedang menjadi isu hangat di Indonesia, yang juga kedua kalangan itulah yang kini sedang gerah karena sering menjadi sorotan.

Tentang info yang berhadiah besar ini, kalau Anda punya informasi apapun yang ingin disampaikan (tentang tindakan ilegal dan tidak etis), maka Anda tinggal angkat tilpun ke nomor tertentu yang disebut dengan “Watch Dog Corruption Hotline” dan sangat dijamin kerahasiaannya. Setelah itu, info itu akan dikaji lebih jauh oleh MCC, eh siapa tahu, layak untuk diberi imbalan yang sangat menggiurkan untuk hanya sebuah info.

Di bagian akhir dari iklan itu tertulis sebuah ajakan yang sangat menarik : bergabunglah dengan kami untuk menciptakan agar komunitas kita menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja dan membina keluarga. Sebuah ajakan yang sangat membangkitkan simpati dan menjadi idaman masyarakat manapun.

Sesungguhnya bukan soal tawaran imbalannya yang menarik perhatian saya, melainkan di balik itu ada mencerminkan betapa perbuatan ilegal dan tidak etis di kalangan pemerintahan, setidaknya di New Orleans, sedemikian menjadi kepedulian umum dalam sistem bermasyarakatnya. (Atau justru sebaliknya, makanya dipasang iklan?. Entahlah). Namun yang patut digaris-bawahi, saya menangkap kesan bahwa hal itu bukan sekedar pemanis wacana politik masyarakatnya.

Dalam hati saya berkhayal : kalau saja itu terjadi di sebuah kumpulan kampung nun jauh di katulistiwa sana yang bernama (saya bangga menyebutnya) Indonesia. Rasanya kita masih boleh berharap banyak kelak di kemudian hari, dengan langkah-langkah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan antara lain oleh Indonesian Corruption Watch. Dan juga mudah-mudahan oleh anak-anak bangsa lainnya yang tidak terbutakan hatinya.

New Orleans, 9 April 2000.-
Yusuf Iskandar

Nonton Festival Jazz Di New Orleans

12 November 2008

Kota New Orleans punya gawe, yang diberi judul “New Orleans Jazz & Heritage Festival 2000”. Ini adalah pesta musik jazz tahunan terbesar (karena masih ada beberapa pesta musik lainnya yang berskala lebih kecil), yang orang biasa menyebutnya dengan “Jazz Fest 2000” saja, dan tahun ini adalah tahun penyelenggaraan yang ke-31.

Ukuran besarnya pesta memang tidak tanggung-tanggung. Selama periode tujuh hari dalam dua akhir pekan yll (28-30 April dan 4-7 Mei 2000), digelar 10 panggung utama yang setiap harinya di setiap panggung tampil 5-6 kelompok musik mulai sekitar jam 11:00 pagi hingga jam 19:00 sore (saat ini jam 19:00 di Amerika masih terang benderang). Sampai-sampai saya sendiri kesulitan menghitung jumlah kelompok musik yang tampil, yang pasti lebih dari 400 kelompok. Ya benar, lebih 400 kelompok telah tampil. Mulai dari kelompok universitas, sekolah musik, kelompok gereja, kelompok kampung maupun profesional. Ada yang main solo, duet, trio, kuartet, group, hingga rombongan orkestra.

Ada banyak jenis musik, khususnya jazz serta berbagai kembangannya yang juga divariasi dengan musik apa saja. Maka pilihan musik menjadi banyak, ada jazz rock, tradisional maupun kontemporer, ada blues, dixie, rap, R&B, reggae, funk, brass dan country, ada irama latin, brazil, karibia, afrika dan indian, ada musik gospel, musik cajun (tradisional New Orleans), dan ada yang baru bagi saya yaitu musik tradisional zydeco.

Saking banyaknya pilihan musik, sehingga perlu waktu tersendiri sebelum memutuskan untuk datang ke arena pertunjukan, yaitu untuk mencermati jadwal acara guna memilih mau nonton group yang mana, di panggung sebelah mana, hari apa dan jam berapa. Bagi saya yang membawa keluarga tentu mesti mempertimbangkan juga, nanti anak-anak disuruh ngapain, karena pasti mereka belum bisa menikmati suasana seperti ini. Perencanaan semacam ini memang akan sangat berguna dalam hal effisiensi waktu, mengingat arena cukup luas dan padat pengunjung, sementara waktu kita terbatas.

Diantara pemusik terkenal yang tampil diantaranya Chick Corea, Gary Burton, Diana Krall, Sting, Lenny Kravitz (sebagaimana juga dilansir Astaga.com), juga beberapa penampil yang memperoleh sambutan meriah penonton seperti Temptations, Marva Wright, Neville Brothers, serta musik-musik khas tradisional. Maka wajar kalau pesta ini menjadi salah satu kebanggaan New Orleanian (sebutan untuk orang New Orleans). Selain tampil di panggung-panggung terbuka di siang hari, beberapa kelompok juga tampil di malam hari di gedung, hotel maupun tempat pertunjukan lain yang lebih selektif penontonnya. Maka selama tujuh hari pertunjukan, tidak kurang dari 500.000 pengunjung tumplek-bleg (tumpah ruah) di arena terbuka.

Tentu harus mbayar untuk bisa masuk ke arena, dewasa $20.00 dan anak-anak $2.00. Belum lagi jajanan dan minuman, yang tidak bisa tidak pasti dibeli. Lha wong tidak diperkenankan membawa bekal dari luar, sementara cuaca cukup panas, sekitar 90-an. Ini kebiasaan orang Amerika untuk menyebut temperatur, yang maksudnya sekitar 90 derajat Fahrenheit (atau setara dengan 32-33 derajad Celcius). Suhu udara yang cukup panas bagi orang Amerika.

***

Mengajak keluarga untuk hadir di tengah pertunjukan semacam ini memang tidak mudah, sekalipun Panitia juga menyediakan kegiatan khusus bagi anak-anak, serta ada puluhan parade (karnaval) yang berjalan mengelilingi arena. Jelas suasananya sangat riuh, padat dan panas menjadi satu, belum lagi sesekali angin yang bertiup membawa debu. Anak-anak tentu tidak jenak (nyaman, bisa menikmati) dalam suasana seperti ini, sementara kedatangan saya adalah untuk menikmati musik.

Jalan keluarnya? Anak-anak dibelikan makanan dan minuman, lalu disuruh main di bawah tenda raksasa yang digunakan untuk pameran mobil mewah (sehingga tidak kepanasan), dan ibunya diminta dengan hormat untuk mengawasinya, sementara bapaknya ngeluyur dari panggung ke panggung, berdesakan di sela-sela penonton lain.

Maka ada dua tontonan yang ternikmati (awalan ter, artinya tidak sengaja), pertama tentu pertunjukan musiknya, kedua adalah kaum perempuan Amerika yang dalam cuaca panas itu memilih untuk mengenakan (atau tidak mengenakan?) pakaian atasnya hanya ber-kutang ria. Pemandangan ini menjadi biasa, dan (ini yang enggak enak) juga bagi anak-anak. Tapi, itulah yang memang tidak terhindarkan. Anak laki-laki saya yang TK Besar berkomentar : “kok tidak malu, ya”. Karena saya kesulitan menimpali komentarnya, sayapun nyeletuk sekenanya (menirukan gaya orang Medan) : “Ini Amerika, Le…” (Le : panggilan ala kampung untuk menyebut anak laki-laki).-

Minggu siang itu lebih 3 jam saya berada di arena pertunjukan menikmati musik di bawah terik matahari, dan sempat berjalan dari panggung ke panggung. Setiap kelompok mempunyai durasi tampil yang berbeda-beda. Kelompok-kelompok lokal dan amatir biasanya hanya 30 menit, sedang kelompok profesional yang lebih punya nama bisa sampai 2 jam. Sesekali saya tidak bertahan lama berdiri di satu tempat, karena terganggu oleh bau bir dari botol atau gelas yang dibawa penonton di sebelah saya, atau bau sejenis mariyuana yang (sebenarnya khas dan enak) tapi mengganggu.

Setiap kali berdiri ditengah penonton, saya sempat memperhatikan sekeliling. Nampaknya cara saya menikmati musik berbeda dengan orang Amerika. Saya  cukup menikmatinya dengan diam dan dengan perasaan nglaras, tapi orang Amerika menikmatinya dengan gerakan. Maka begitu alat musik bunyi, tangan, kepala, badan dan pantat mereka langsung megal-megol, lenggak-lenggok, goyang-goyang. Wah …, satu tontonan lagi ternikmati.

Itulah “Jazz Fest”, dan itulah New Orleans. Bagi penggemar dan pecinta musik, maka New Orleans adalah tempatnya, terutama musik jazz dengan berbagai varian serta derivatifnya. Masyarakatnya yang heterogen, yang datang dari berbagai etnis lokal maupun dunia, turut mewarnai jenis musik yang berkembang, dan tentunya enak dinikmati.

New Orleans, 9 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Berakhir Pekan Di Festival Strawberry Ponchatoula

12 November 2008

Selama dua hari di akhir pekan ini, Sabtu-Minggu, 7-8 April 2001, di sebuah kota kecil bernama Ponchatoula digelar acara tahunan yang disebut “Ponchatoula Strawberry Festival”. Tahun ini adalah tahun ke-30 sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1972. Menilik sebutan acaranya, memang keramaian ini berkaitan dengan buah strawberry.

Ponchatoula memang terkenal sebagai penghasil utama buah strawberry, khususnya untuk wilayah negara bagian Louisiana. Bahkan para Ponchatolian (sebutan untuk penduduk Ponchatoula) sangat bangga menyebut kotanya sebagai “Strawberry Capital of the World!”. Sebutan yang kedengarannya berlebihan. Namun karena saya tidak menjumpai fakta statistiknya, maka begitulah saya juga menyebut kota Ponchatoula. Setidak-tidaknya sebutan itu sah karena tertuang dalam Perda (ordinance) kota Ponchatoula.

Selain terkenal dengan hasil pertanian buah strawberry, Ponchatoula juga dikenal dengan sebutan sebagai “Antique City of Ponchatoula”. Bukan karena ini kota tua dan antik, melainkan karena di kota ini banyak dijumpai toko-toko yang memperdagangkan barang-barang antik dan kerajinan.

Ponchatoula hanyalah sebuah kota kecil yang terletak di barat laut New Orleans. Untuk mencapai kota yang berjarak sekitar 50 mil (80 km) dari New Orleans ini diperlukan waktu sekitar 1,5 jam perjalanan. Ke kota inilah kami sekeluarga berakhir pekan di hari Minggu ini, menikmati acara festival strawberry. Berangkat dari New Orleans sekitar jam 10:30 pagi langsung menuju ke jalan bebas hambatan I-10 ke arah barat, lalu berpindah ke I-55 menuju utara mengitari sisi selatan dan barat danau Ponchartrain.

Sekitar jam 12:00 siang kami sudah berada di kepadatan lalu lintas kota kecil Ponchatoula. Berjalan merambat di jalan Highway 51 sambil mencari tempat parkir. Terlihat di sisi kanan-kiri jalan sudah penuh dengan kendaraan parkir, hingga akhirnya saya masuk ke sebuah lapangan luas yang berfungsi sebagai tempat parkir umum dan gratis.

Keluar dari tempat parkir, kami masih harus berjalan kaki agak jauh menuju arena keramaian. Namun terasa enak saja karena banyak pengunjung lain yang juga melakukan hal yang sama. Semakin mendekat ke arena festival, barulah saya tahu bahwa beberapa pemilik lahan di pinggiran jalan memanfaatkan halamannya untuk tempat parkir dengan membayar US$5. Semakin dekat lagi menuju pusat kota ongkos parkirnya menjadi US$10. Jadi, ya pantes kalau tadi saya parkir gratis, wong lokasinya agak jauh.

***

Festival ini sendiri digelar di sebuah blok di kota Ponchatoula. Selain karena kekhasan acaranya dimana buah strawberry menjadi tema sentralnya, maka selebihnya adalah acara keramaian biasa. Puluhan anjungan (booth) ketangkasan digelar di seputaran arena festival. Anjungan ketangkasan yang kalau di Indonesia sudah diteriaki berbau judi, tapi rupanya “penciuman” masyarakat Amerika memang berselera beda. Jadi, ya anjungan sejenis itulah yang juga banyak diminati.

Sudah umum bahwa arena ketangkasan seperti ini di Amerika biasanya menjanjikan hadiah berupa jenis-jenis mainan anak dan boneka kain (yang kalau di Indonesia sering diidentikan dengan nama boneka “panda”, meskipun bentuknya ada kucing, anjing, beruang, kura-kura, buaya, monyet, tokoh cerita anak-anak, dsb.). Nyaris tidak dijumpai yang menjanjikan hadiah barang menggiurkan atau uang.

Maka dapat ditebak, kalau banyak orang dewasa atau orang tua beradu ketangkasan dengan membayar US$1-5 per permainan, maka pasti mengangankan hadiah buat anak, cucu, keponakan atau adiknya. Itulah sebabnya barangkali bau judi dari permainan ini seakan-akan termanipulasi. Kalau mau berjudi ya datang ke casino, demikian kira-kira kalau ada yang berkilah.

Para pedagang makanan juga mremo (mengambil kesempatan dengan menjajakan jualannya). Lebih-lebih pedagang minuman dingin yang laku keras, mengingat saat ini cuaca sudah mulai panas. Berbagai sarana bermain juga banyak diminati anak-anak maupun orang dewasa. Beberapa panggung untuk pementasan musik pun didirikan. Yang membedakan pentas musik di sini dengan di beberapa pentas musik yang pernah saya lihat sebelumnya adalah dipasangnya tulisan besar berbunyi “No Dancing”.

Buah strawberry, sebagai identitas utama festival ini, banyak dijajakan oleh para pedagang. Sebagian diantaranya dengan menyebutkan nama pemilik kebunnya. Tentu sebagai lambang kebanggaan bagi pemilik kebun yang menghasilkan strawberry. Selain dalam bentuk buah segar, juga ditawarkan produk olahannya seperti jam, jelly, kue, anggur, dsb. Jika dibandingkan dengan membeli buah strawberry di supermarket, maka membeli di arena ini akan diperoleh buah strawberry segar dengan harga lebih murah.

Acara festival strawberry ini sebenarnya lebih meriah di hari pertama kemarin. Menurut agendanya, kemarin ada karnaval keliling kota yang diikuti oleh puluhan kendaraan, parade mobil antik, lomba makan strawberry, serta penampilan “King and Queen Strawberry”. Jadilah selama dua hari ini kota Ponchatoula dipadati para pendatang. Menurut catatan yang ada, tidak kurang dari 225.000 pengunjung memadati festival ini setiap tahunnya. Entah bagaimana cara mencatatnya, wong untuk masuk ke arena tidak dipungut biaya.

Festival strawberry ini dengan bangga setiap tahunnya digelar oleh Pemda Ponchatoula karena akan menjadi media promosi pariwisata yang efektif bagi kota itu yang pasti terkait dengan beredarnya dollar ke Ponchatoula dan tambahan pemasukan melalui pajak bagi Pemda Ponchatoula.

***

Di balik penyelenggaraan festival ini, ada latar belakang sejarah yang menarik. Pada tahun 1968, seorang anggota Dewan Kota bernama Dr. Charles H. Gideon merasa prihatin akan kehidupan ekonomi kota Ponchatoula yang kurang bergairah. Dia melihat kota Hammond, yaitu kota tetangga Ponchatoula yang memang lebih besar, ternyata lebih dikenal orang dengan sebutan sebagai “Strawberry Capital of Louisiana”.

Pikiran “usil dan kreatif” Dr. Charles menggelitiknya untuk mencari tahu kenapa bukan kota Ponchatoula yang lebih terkenal, padahal produksi strawberry dari wilayah Ponchatoula jauh lebih besar dibandingkan yang dihasilkan kota Hammond. Mulailah dikumpulkannya data-data statistik tentang produksi strawberry dari kedua kota itu yang ternyata memang membuktikan kebenaran anggapannya. Tapi sejauh itu kurang ada warga Ponchatoula yang perduli.

Berbekal data-data statistik itu, Dr. Charles lalu menemui Walikota dan para pejabat kota tetangganya, Hammond. Intinya adalah bahwa Dr. Charles meminta pengakuan bahwa sebenarnya kota Ponchatoula yang lebih layak menyandang sebutan sebagai “Strawberry Capital”. Sekalipun para pejabat Hammond mengakui kebenaran data statistik, namun tetap bergeming, apalagi untuk menyerahkan sebutan kebanggaan yang sudah terlanjur disandang oleh Hammond.

Nekatlah Dr. Charles, dilobinya Walikota Ponchatoula dan para anggota Dewan Kota lainnya untuk mendukung diundangkannya Perda tentang sebutan Ponchatoula sebagai “Strawberry Capital”. Setelah itu, disuratinya Walikota Hammond dan “diancam” agar dalam tempo 30 hari melepaskan semua atribut, tanda-tanda, dan segala macam sebutan tentang “Strawberry Capital” bagi kota Hammond yang disandangnya selama ini.

Maka, setelah itu resmilah Ponchatoula menyandang sebutan yang tidak tanggung-tanggung sebagai “Strawberry Capital of the World”. Kehidupan kota menjadi seperti hidup kembali dengan ditemukannya kebanggaan baru. Para petani strawberry pun semakin menggairahkan kehidupan ekonomi. Berkat pikiran “usil dan kreatif” (plus sedikit kenekatan) Dr. Charles, selanjutnya pada tahun 1972 diproklamirkan tentang tradisi tahunan “Ponchatoula Strawberry Festival”.

Memang hanya sebuah sebutan, tak bedanya dengan “Kota Kembang” untuk Bandung atau “Kota Apel” untuk Malang. Namun dampaknya secara ekonomi terbukti cukup meyakinkan.

***

Sekitar jam 03:00 sore kami baru meninggalkan arena festival. Kami kembali ke New Orleans melalui rute yang berbeda dari berangkatnya, yaitu dengan menyusuri jalan State Road 22 ke arah timur hingga tiba di kota Mendeville di sisi utara danau Ponchartrain. Dari Mendeville lalu ke selatan menyeberangi jembatan tol Lake Ponchartrain Causeway menuju New Orleans. Jembatan Lake Ponchartrain Causeway adalah jembatan suuuangat panjang yang membelah danau Ponchartrain sepanjang 28 mil (sekitar 45 km).

New Orleans, 8 April 2001.
Yusuf Iskandar

Lafayette : Gumbo, Crawfish dan Alligator

12 November 2008

Sekedar tambahan informasi tentang makanan khas daerah Lafayette dan Louisiana selatan umumnya :

gumbo3bg_122499_rGumbo : adalah masakan khas masyarakat Cajun yang tinggal di daerah Lafayette dan sekitarnya, atau umumnya kawasan Louisiana bagian selatan. Orang Louisiana bilang, ini sayur sup tapi merupakan campuran ada sayurnya, ada daging atau seafood-nya, ada tepungnya, ada pedas-pedasnya, sehingga menjadi kental dan nglentrek-nglentrek. Lidah Indonesia akan bilang enak kalau sedikit, kalau banyak jadi nuuuek….

crayfish
Crawfish : adalah jenis seafood yang banyak dijumpai di daerah Louisiana bagian selatan. Sebenarnya juga ada di daerah lain, tetapi Louisiana adalah penghasil terbesarnya baik dari hasil budidaya maupun yang liar di rawa-rawa. Binatang laut
ini berbentuk seperti udang tetapi di kepalanya mempunyai capit seperti kepiting atau rajungan atau karakah. Bagi yang suka seafood, pasti akan menyukainya. Rasanya ya seperti campuran antara udang dan kepiting. Bagi yang belum pernah mencicipinya, bisa dicoba sendiri di rumah : makan udang dan kepiting bersama-sama ….(sebaiknya dimasak dulu, agar tidak terjadi pertempuran di dalam perut).

800px-two_american_alligators_r

Selain itu ada alligator : adalah sejenis buaya yang umum dijadikan bahan makanan dan banyak dijual di restoran. Hewan ini banyak dijumpai di rawa-rawa Amerika sebelah selatan. Selain Louisiana, juga di Texas hingga ke ujung timur Florida. Bentuk binatang ini sepintas sama persis seperti buaya (crocodile). Sama-sama menakutkan. Bedanya : buaya umumnya bisa tumbuh lebih besar dan lebih agresif (apalagi yang jenis buaya darat). Sedangkan alligator relatif tidak sebesar buaya dan (katanya) agak kurang agresif. Meskipun demikian, kalau Anda ketemu binatang sejenis ini di jalan, lebih baik tidak usah mendeskripsi ini buaya atau alligator. Cepat-cepat saja kabur….

Musik tradisonalnya disebut zydeco, semacam jenis musik campuran antara irama jazz, dixie dan country, dengan instrumen terompet (bukan saxofon) dan akordion mendominasi.

zydeco_players

Adalah Pak Suseno (sering dijuluki lurahnya orang Indonesia di Lafayette), beliau orang Malang yang sudah malang-melintang di sektor non-formal di Louisiana sejak lebih 20 tahun yll. Beliau pernah bekerja di Tembagapura sewaktu tambang Freeport masih tahap konstruksi. Lalu kecantol dengan cewek bule yang kebetulan anak seorang expatriate yang juga bekerja di Freeport. Akhirnya menikah dan pindah ke Amerika hingga kini. Pak Seno ini sesekali hadir dalam pertemuan perhimpunan masyarakat Indonesia-Amerika, New Orleans.

Adalah Ibu Erlie Boerhan yang pernah tampil mengisi acara hiburan dalam rangka perayaan HUT kemerdekaan RI tahun 2000 yll di New Orleans. Waktu itu masyarakat Indonesia-Amerika mengadakan perayaan 17-an dan beliau bersama kelompok tarinya menyajikan tari Bali.

Silahkan bernostalgia, bagi mereka yang pernah tinggal di Lafayette atau di daerah sekitar-sekitar Louisiana.

Salam,

New Orleans, 7 Maret 2001
Yusuf iskandar

Mengunjungi Teman Seperguruan di Lafayette

12 November 2008

Berawal dari rencana untuk menghadiri acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (Indonesian-American Community Association – IACA) di sebuah desa di luar kota New Orleans. Desa itu terletak di bilangan kota kecil Thibodaux, kira-kira berjarak 60 mil (sekitar 96 km) arah barat daya dari New Orleans. Mengingat acaranya akan diselenggarakan pada sore hari (tepatnya hari Sabtu malam Minggu) di lokasi yang agak jauh, maka sekalian saja kami menyusun rencana melakukan perjalanan keluar kota menjelajahi belahan lain dari wilayah negara bagian Louisiana yang belum pernah kami kunjungi.

Sekalian saya merencanakan untuk mengunjungi keluarga seorang teman seperguruan yang sekian tahun lalu pernah sama-sama berguru di sebuah perguruan tinggi di Yogya, UPN “Veteran” Yogyakarta. Mas Anton Maladi (TM-1977) yang sekarang bergabung dengan sebuah perusahaan minyak Unocal, bersama keluarganya saat ini sedang bertugas di kota Lafayette. Rute jalan yang menuju Lafayette ini kira-kira searah atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh menyimpang dari rute menuju ke Thibodaux.

Hari Kamis malam sebelumnya, Mas Anton saya hubungi dan lalu direnacanakanlah acara silaturrahmi atau gathering kecil-kecilan antar kedua keluarga kami, bertempat di rumah Mas Anton di Lafayette pada hari Sabtu siang.

***

Sabtu pagi, 3 Maret 2001, cuaca New Orleans rada kurang bersahabat. Bukan tidak memperhatikan ramalan cuaca, namun saya berharap ramalannya agak meleset. Ternyata saya terlalu berprasangka buruk kepada peramalnya. Ya maklum, sewaktu di Indonesia saya terbiasa berprasangka buruk kepada sang peramal cuaca. Sejak pagi awan hitam sudah menggantung di langit New Orleans, hujan deras pun menyusul disertai petir menyambar-nyambar.

Rencana berangkat agak pagi jadi tertunda. Malahan sudah siap-siap angkat tilpun untuk memberitahu Mas Anton bahwa rencana silaturrahmi tidak dapat terpenuhi. Namun syukurlah, sekitar jam 10:30 cuaca buruk agak mereda. Langit masih hitam, namun hujan dan petir tidak lagi semenakutkan sebelumnya. Maka sekitar jam 11:00, kami lalu memutuskan untuk segera berangkat menuju Lafayette yang berjarak sekitar 135 mil (216 km) di arah barat New Orleans.

Belum lama meninggalkan New Orleans, hujan deras kembali mengguyur, meskipun tidak lagi disertai petir. Sebenarnya jarak New Orleans – Lafayette tidak terlalu jauh, normalnya dapat saya tempuh paling lama 2,5 jam perjalanan melalui jalan bebas hambatan Interstate 10 (I-10). Namun karena sekitar tiga-perempat perjalanan siang itu kami lalui dalam hujan, maka saya perlu agak mengendalikan kecepatan kendaraan, di bawah batas maksimum yang diperbolehkan (speed limit). Sesekali mencuri batas kecepatan ketika sedang berada di jalanan yang agak kering

Menjelang tiba di kota Lafayette, saya keasyikan melaju di jalan Highway 90 (Hwy 90), sehingga kurang memperhatikan rambu petunjuk arah membelok ke barat. Akibatnya saya kebablasan di rute yang salah. Terpaksa kemudian mencari jalan tembus untuk memutar kembali ke Lafayette, melalui kota kecil Iberville. Baru sekitar jam 2:30 siang kami tiba di rumah Mas Anton.

Kami pun disambut dengan hangat oleh Mas Anton, istri dan kedua putra-putrinya, meskipun terlambat tiba dari waktu yang direncanakan semula. Sambutan hangat layaknya seperti bertemunya teman lama yang tidak pernah ketemu. Dan, memang sebenarnya kami belum pernah ketemu sebelumnya. Hanya ikatan almamaterlah yang membuat pertemuan kami siang itu serasa akrab. Apalagi sama-sama merasa berada di tempat yang jauh dari kampung halaman di Yogya sana.

Siang itupun kami terlibat dalam obrolan mengasyikkan tentang masa sekolah dulu. Lengkap dengan “saat-saat tidak menguntungkan” ketika harus bertahan bertahun-tahun untuk dapat menyelesaikan sekolah di perguruan tinggi tidak negeri (sementara teman-teman lain yang lebih beruntung dapat bersekolah di perguruan tinggi negeri hanya perlu beberapa tahun saja). Ceritera tentang teman-teman lama yang sudah pada bertebaran di mana-mana, juga menjadi bagian dari reuni kecil-kecilan kami siang itu. Saya jadi tahu kalau Mas Heru Pramono yang sekarang ada di Balikpapan sebenarnya juga suka tulis-menulis.

Perbincangan tentang traveling di Amerika tidak kami lewatkan, karena rupanya Mas Anton dan keluarganya sudah punya rencana untuk “keliling setengah Amerika”. Lalu saya jadi ingat Mas Wahyu Suharyo (TM-1988) yang sekarang bergabung dengan perusahaan Halliburton dan tinggal di kota Hobbs, negara bagian New Mexico. Di tengah kesibukannya menyelesaikan program Doktor, Mas Wahyu juga menyimpan rencana untuk “keliling setengah Amerika”, mungkin malah akan lebih dari setengah.

Ujung-ujungnya, sajian makan siang (menjelang sore) dengan menu Indonesia yang ….. uuuenak sekali, hasil masakan istri Mas Anton, melengkapi acara silaturrahmi kami siang itu. Tidak terasa, waktu telah menjelang jam 05:00 sore. Teriring ucapan terima kasih, kami lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanan dan meninggalkan kota Lafayette.

***

Kota Lafayette yang terletak pada elevasi sekitar 12 m di atas permukaan laut dan berpopulasi sekitar 95,000 jiwa, siang itu tampak cukup padat. Ini memang kota kecil yang pernah berjaya, antara lain karena berkembang pesatnya industri perminyakan. Dapat dikatakan kota ini dahulu pernah menjadi pusat industri minyak dan gas di kawasan lepas pantai Teluk Mexico. Banyak perusahaan yang bergerak di bidang industri perminyakan yang membuka kantornya di kota ini, meskipun belakangan ini mulai berkurang.

Kota Lafayette dulunya bernama Vermillionville. Mulai berkembang sejak dibangunnya jaringan kereta api yang menghubungkan kota New Orleans (Louisiana) dan Houston (Texas) pada tahun 1881. Tiga tahun kemudian kota ini berganti nama menjadi Lafayette sebagai penghargaan kepada seorang jendral berkebangsaan Perancis, bernama Marquis de Lafayette, di jaman Revolusi Amerika.

Penduduk asli Lafayette adalah para petani asal Perancis yang pernah terdampar di daratan Nova Scotia, di ujung tenggara Canada dekat dengan ujung timur negara bagian Maine. Ketika datang bangsa Inggris pada tahun 1700-an, para pendatang dari Perancis yang kemudian disebut French Acadian ini terusir dari Nova Scotia dan lalu menempuh perjalanan sangat panjang menuju ke wilayah baru di sisi barat daya Louisiana.

Keturunan dari masyarakat French Acadian ini kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Cajun yang hingga kini masih banyak mempraktekkan dialek bahasa Perancis dan masih mengembangkan tradisi budaya leluhurnya. Oleh karena itu tidak heran kalau di kawasan Lafayette dan umumnya wilayah barat daya Louisiana kini banyak ditemui nama-nama atau sebutan yang berbau Perancis.

***

Dari Lafayette, kami langsung menuju ke jalan Hwy 90 menuju ke arah tenggara. Saya dapat memacu kendaraan pada kecepatan maksimum karena lalu lintas sore yang cukup cerah saat itu tidak terlalu padat. Untuk mencapai kota Thibodaux saya perkirakan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam melalui jalan Hwy 90 yang melintas di sisi selatan kota-kota New Iberia, Franklin dan Morgan City, sebelum akhirnya saya berpindah ke Hwy 20 yang menuju ke utara.

Hari sudah gelap sebelum saya mencapai kota Thibodaux. Kondisi ini membuat saya kurang tajam memperhatikan tulisan nama-nama jalan. Maka …, kebabalasan lagi! Akhirnya kami terlambat tiba di tempat acara social gathering keluarga masyarakat Indonesia-Amerika (IACA). IACA adalah wadah berhimpunnya segenap warga masyarakat Indonesia-Amerika maupun para simpatisan, khususnya yang tinggal di kawasan New Orleans dan sekitarnya. Arisan adalah salah satu kegiatan yang dipandang menarik. Menarik, karena tidak cukup dengan satu-dua kalimat untuk menjelaskan arti sebuah kata ini dalam bahasa Inggris.

Akhirnya, menjelang tengah malam kami baru tiba kembali di New Orleans setelah menempuh perjalanan santai lebih satu jam dari sebuah desa di sebelah utara Thibodaux.-

New Orleans, 6 Maret 2001
Yusuf Iskandar.