Posts Tagged ‘sopir taksi’

Sopir Taksi Dan HP-nya

20 Desember 2010

Taksi di lajur kiri agak di depan saya itu mak jegagik…tiba-tiba sopirnya berbuat serong kanan. Tentu saja membuat kaget. Setelah diklakson keras (kalau pelan berarti klaksonnya rusak), alhamdulillah…sopir taksi itu banting setir kembali ke jalan yang benar.

Penasaran, lalu kujejerkan kendaraanku. Eee lhadhalah…, rupanya pak sopir taksi sedang ber-haha-hihi dengan hapenya. Pantesan…, ya gimana mau dapat tarikan.

Yogyakarta, 3 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

“Hati-hati Ya…”

29 September 2010

Dalam perjalanan naik taksi menuju bandara Juanda, Surabaya. Datang SMS simpatik: “Hati-hati ya…”. Kubalas: “Pesannya sudah kusampaikan ke sopir taksi…”. Lha yang seharusnya berhati-hati kan sopir taksinya. Kalau saya kan tinggal numpang, melamun dan mbayar…

Surabaya, 25 September 2010
Yusuf Iskandar

Akibat Nonton Bola

21 Juni 2010

Jam 10 lebih, jalan tol dari arah bandara Soeta menuju Jakarta padat-merayap-tersendat, padahal biasanya jam-jam segitu sudah mulai lancar. “Orang Jakarta ramai-ramai keluar rumahnya agak siang karena semalam nonton bola, pak…”, kata sopir taksi datar bernada menghibur diri. Woooo……

(Soeta : Soekarno – Hatta)

Yogyakarta, 16 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Separator Jalan

24 Mei 2010

Di penggal Jl Solo/Adisutjipto Jogja, setiap pagi ada puluhan Polantas bertugas menjadi pagar separator jalan, memisahkan lajur mobil dan sepeda motor. Kepada sopir taksi kubilang: “Kenapa tidak dipasang corongan oranye saja ya?”. Jawab sopir taksi rada sinis: “Biar polisinya ada kerjaan pak”. Saya sendiri tidak perduli dengan sinisnya sopir taksi, hanya…: “Jangan-jangan harga corongan oranye (traffic cones) lebih mahal dibanding gaji puluhan polisi itu…”

Yogyakarta, 19 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang Rodo Edan

18 Desember 2009

Sopir (taksi) Bluebird yang membawa saya dari Pondok Indah ke Cengkareng siang ini kelihatannya memang rodo edan… Sering memaksakan nyusup-nyusup di tengah kepadatan Jakarta dengan kecepatan tinggi. Doa saya bukan mudah-mudahanan tidak tabrakan, melainkan kalau terpaksa nabrak juga, mudah-mudahan kami selamat…

(Sengaja saya tidak menegurnya karena adrenalin saya meningkat ingin tahu “hasil akhirnya”…. Dasar podo edane….)

Yogyakarta, 17 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Itu Bernama Ibrahim

15 November 2009

Kalau memperhatikan cara bicaranya, susunan kalimat dan pilihan kata yang digunakannya, saya yakin sopir taksi yang sore itu mengantar saya ke Cengkareng, pasti bukan sopir biasa. Mengesankan sebagai seorang yang terpelajar. Hal seperti ini seringkali merangsang rasa keingintahuan saya.

Mulailah saya membuka pembicaraan sebagai penjajakan bahwa dugaan saya benar. Percakapan tentang lalulintas Jakarta yang padat dan tersendat, tentang rute yang dipilih menuju bandara dan tentang taksi berwarna biru muda yang dikemudikannya. Semuanya dijawab dan dijelaskan dengan susunan kalimat dan tutur kata yang enak dan runtut.

Rupanya pak sopir taksi itu pernah kuliah di universitas negeri ternama di Jakarta, karena tidak lulus lalu pindah ke sebuah universitas swasta dan akhirnya berhasil meraih gelar sarjana ekonomi. Karir pekerjaannya dijalani dengan mulus dan lancar. Pernah bekerja di beberapa perusahaan, sampai yang terakhir berwiraswasta menjalankan usahanya di bidang kontraktor sipil dan konstruksi. Pendeknya, dari sisi materi untuk ukuran hidup bersama keluarganya di Jakarta nyaris tidak kurang suatu apapun, bahkan lebih dari cukup.

Hingga akhirnya musibah menimpa usahanya, seorang rekanannya membawa kabur uang proyek. Jadilah dia menjadi satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab. Semua asetnya terpaksa dijual dan hidup harus dimulai dari awal lagi. Cerita yang sebenarnya klasik, tapi tetap saja membangkitkan empati.

Sejak itu hidupnya tidak menentu. Jiwanya stress berat harus menanggung beban hidup yang tak pernah terbayangkan selama lebih 20 tahun karir pekerjaannya. Sejak musibah di-kemplang rekan sendiri menimpanya, kegiatan sehari-harinya tidak karuan. Seringkali ia terbengong-bengong di masjid Istiqlal saat orang-orang lain sibuk bekerja di siang hari. Keluarganya yang tinggal di Bekasi tentu saja menjadi kalang kabut dibuatnya.

Lelakon seperti ini sempat dijalaninya selama tiga bulan, hingga akhirnya ada seorang sahabatnya menyarankan untuk bekerja menjadi sopir taksi di salah satu kelompok perusahaan taksi paling terkenal berlambang burung biru.

Hal yang kemudian menarik perhatian saya adalah bahwa kini pak sopir itu sangat menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi, lebih dari yang pernah dia jalani selama karir pekerjaannya. Demikian pengakuannya di balik wajah cerianya. Cara bercerita, ekspresi yang ditunjukkan, alasan-alasan yang dikemukakan dan semua latar belakang yang diceritakannya, meyakinkan saya bahwa pengakuannya jujur.

***

Lama-lama mengasyikkan juga ngobrol dengan sopir taksi itu. Hingga tak terasa waktu satu jam terlewati hingga saya tiba di Terminal B Cengkareng. Pak sopir taksi yang rupanya doyan ngobrol ini akhirnya justru yang memberi saya banyak pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Setidak-tidaknya dari pengalamannya bagaimana ia terpuruk dari usahanya yang pernah membawanya membumbung ke angkasa dan bagaimana ia kini harus bangkit dari awal lagi.

Apa yang menarik dari pilihannya bekerja menjadi sopir taksi? Ada beberapa hal yang sempat saya ingat yang barangkali tak pernah terpikir di benak orang “normal” yang selama ini ketawa-ketiwi menaiki taksinya.

Pertama, menjadi sopir taksi burung biru ternyata membuatnya mempunyai kebebasan finansial (maksudnya bukan bebas secara finansial, melainkan bebas menentukan perfinansialannya). Meski dengan sistem kerja 2-1 (dua hari “on”, sehari “off”), tapi dia bebas menentukan mau bekerja berapa jam sehari dan berapa penghasilan perhari yang dianggapnya cukup. Semakin dia rajin dan tekun, semakin tinggi komisi dan bonus yang boleh diharapkannya. Ketekunannya dalam lima bulan ini telah membuatnya dipercaya oleh perusahaannya. Begitu pengakuannya.

Kedua, di group taksi burung biru ini dia menemukan banyak teman-teman senasib (maksudnya banyak sesama sopir yang juga bergelar sarjana dan banyak sesama sopir yang sebelumnya adalah pengusaha yang kemudian bangkrut karena menjadi korban tipu-tipu dan bukan sebab lain –  kalau tidak salah dulu juga ada mantan Direktur Bank Duta yang akhirnya memilih profesi ini). Sehingga pak sopir taksi ini merasa berada di “frekuensi” yang sama dengan banyak rekannya sesama sopir taksi.

Ketiga, pak sopir taksi yang grapyak-semanak (cepat akrab bagai saudara) dan pandai bicara ini akhirnya banyak berinteraksi dengan masyarakat yang menjadi penumpangnya, dari beragam pekerjaan, latar belakang, dan permasalahannya masing-masing. Ini yang kemudian membuatnya merasa tidak sendiri dan lebih bisa menikmati pekerjaannya sebagai sopir taksi. Belum lagi seringkali ada juga penumpang yang memberi wejangan-wejangan keagamaan tentang kehidupan. Hal yang selama ini tidak pernah didengarnya.

Keempat, dan ini yang paling membuatnya merasa bersyukur, ikhlas dan lebih arif menyikapi lelakon hidupnya, yaitu bahwa rejeki itu memang sudah ada yang mendistribusikannya dari langit bagi setiap mahluk, dan ada hak orang lain yang menempel dalam rejeki itu. Selama ini dia merasa banyak berbuat salah dalam cara memperoleh kupon antrian pembagian rejeki dan cara mengelola rejeki yang diperolehnya.

Pak sopir taksi yang lancar mengutip ayat-ayat Qur’an ini merasa sangat beruntung. Ya, beruntung karena dia merasa memperoleh hidayah (petunjuk) untuk menyadari kesalahannya selama ini, dibandingkan dengan banyak orang lain yang kekeuh tidak mau menyadari kekeliruannya dalam menjalani sisa kehidupan.

Dari tanda pengenal di taksinya, akhirnya saya tahu bahwa pak sopir taksi yang arif itu bernama Ibrahim. Pak Ibrahim ini rupanya berasal dari Solo (Solowesi maksudnya…., tepatnya Makassar) dan sudah menikmai manis, asam, asin, pahit dan getirnya Jakarta sejak 27 tahun yang lalu saat lulus dari SMA di Makassar.

“Terima kasih pak Ibrahim, Sampeyan telah bersedia berbagi sehingga saya juga bisa ikut belajar dari pengalaman hidup yang Sampeyan jalani…”.

Yogyakarta, 10 April 2008
Yusuf Iskandar

Buah Apa Gerangan Namanya?

1 Juli 2009

Menggantung satu-satu (tidak bergerombol) di pohon-pohon kecil yang sedang berbuah di tepi jalan keluar dari bandara Cengkareng (Soekarno-Hatta, Jakarta), seperti mangga, berwarna hijau, seukuran jambu kluthuk atau bola tenis kecil sedikit. Kata sopir taksi, buah itu tidak enak dimakan…. Pantesan, aman tak terusik di sana…

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Sopir Taksi Yang (Maksudnya) Baik

22 Maret 2008

Pagi itu, kira-kira sebulan yang lalu, saya mesti buru-buru menuju bandara Cengkareng. Menurut tiket pesawat yang sudah di tangan, saya akan kembali ke Yogya dengan pesawat Mandala penerbangan pagi. Sebenarnya saya rada ogah-ogahan naik pesawat ini. Waktu berangkat ke Jakarta kemarinnya naik Garuda, tapi kembali ke Yogya terpaksa menggunakan jasa pesawat Mandala karena kehabisan tiket Garuda.

Akhir-akhir ini pesawat Garuda banyak dipilih penumpang udara. Termasuk saya yang semula juga ngotot kudu naik pesawat Garuda pergi-pulang Yogya-Jakarta, sampai terbukti bahwa untuk hari itu dan jam itu tiket Garuda sudah tandas tak bersisa. Memang, sejak Adam Air ditengarai amblas laut bak Werkudoro yang slulup ke laut dalam sekali, menancapkan kukunya ke dasar samudra dan tidak njumbul lagi, banyak calon penumpang beralih ke Garuda. Tanya kenapa… Tanya kenapa… Sehingga maskapai non-Garuda seperti ditinggal pelanggannya, kecuali terpaksa. Dan, pagi itu saya termasuk yang terpaksa.

Cerita tentang raibnya pesawat Adam Air pun masih merebak menjadi buah bibir. Menghiasi halaman koran dan layar televisi, hampir setiap hari. Juga di pagi itu. Tak luput saya pun ngobrol sama sopir taksi tentang tragedi awal tahun yang menimpa Adam Air. Kebetulan rute yang kami lalui menuju Cengkareng cukup lancar membelah Jakarta, atau tepatnya belum padat, sehingga oborolan pun ikut lancar mengisi waktu.

Taksi yang saya naiki disopiri oleh seorang muda. Dari logatnya saya menebak kalau dia pasti setanah tumpah darah dengan Wapres negeri tetangganya Republik Mimpi, yaitu dari Solo….. Solowesi, maksudnya. Cara bicaranya ramah, bersahabat dan rasanya jarang-jarang saya ketemu sopir taksi seperti yang nyopiri saya pagi itu. Suasana dalam taksi sepanjang perjalanan menuju bandara serasa jadi nyaman.

Menjelang memasuki bandara, sang sopir menanyakan saya naik pesawat apa. Ketika saya jawab Mandala, dia sudah tahu mesti menuju ke terminal sebelah mana. Hingga sampailah taksi yang saya tumpangi, berhenti di depan terminal keberangkatan yang tampak sudah mulai ramai.

Setelah membayar ongkosnya, plus sekedar tip atas keramah-tamahannya, saya lalu membuka pintu taksi sebelah kiri hendak keluar. Baru sesisih kaki melangkah keluar, mas sopir taksi tiba-tiba memanggil (untung saya tidak meloncat gedrug bumi seperti presiden Bush waktu di Bogor), sehingga saya sempat mendengar suara mas sopir taksi.

Lalu kata mas sopir taksi : “Hati-hati, Pak. Jangan lupa berdoa…..”.

Spontan saya pun menjawab : “Ya, terima kasih….”.

Setiba di teras bandara, sejenak saya tercenung. Pertama, saya teringat kebaikan mas sopir yang berbaik hati mengingatkan saya. Kedua, pikiran saya tiba-tiba melayang jauh, memunculkan flash-back penggal-penggal berita tragedi Adam Air. Apa kalau berdoa, lalu akan selamat……., dan kalau tidak berdoa, tidak selamat…….. Begitu pokok soal lamunan saya.

Pesan yang disampaikan oleh mas sopir taksi sebenarnya sangat simpatik. Tapi entah kenapa kesan yang melintas di pikiran saya jadi sepertinya sedang menakut-nakuti……

Kalau sebelum berangkat ada yang wanti-wanti agar berdoa, tentu enak didengar. Tapi justru ketika hendak naik pesawat yang semula mau saya hindari, lalu ada yang mengingatkan agar jangan lupa berdoa, rasanya kok hati ini malah jadi deg-degan.

Dalam hati saya nggrundel, sopir taksi yang (mungkin bermaksud) baik, tapi siwalan (pakai “w” di tengah)…! Wong, berniat baik kok tidak lihat waktu dan tempat…….

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Sapa Suru Datang Jakarta

22 Maret 2008

Hari sudah gelap di Kemang Timur. Akhirnya dapat taksi juga setelah agak lama menunggu di tepi jalan, gerimis lagi. Begitu duduk di jok belakang kiri, segera terasa bahwa kondisi kendaraan masih agak baru. Meski rada remang-remang, interior dalamnya terlihat bersih, tidak kusam, tidak terkesan jorok, tidak bau apek.  Pendeknya, sudah lama tidak ketemu taksi yang kondisinya seperti yang saya tumpangi pada petang menjelang malam itu.

Terasa nyaman dan enak ditumpangi (tentu saja mbayar…!). Pengemudinya terlihat masih sangat muda. Saya duga usianya setengah usia saya atau lebihnya sedikit, mungkin 24-an tahun. Bicaranya lembut dan sopan, malah terkesan pemalu.

Tiba giliran menyebut alamat tempat tujuan, dengan sopan sang sopir memohon. Kira-kira beginilah bunyinya : “Tolong bapak yang menunjukkan arah jalannya ya, pak…..”. Lho!?

Lha, salah satu alasan saya naik taksi petang itu adalah karena saya tidak tahu jalan dan agar diantar sampai alamat je…. Ini kok sopir taksi malah minta ditunjukkan jalannya. Karena itu saya lalu menjawab : “Ya, kalau begitu yuk kita sama-sama mencari jalannya, mas…..”.

Ini Jakarta, petang menjelang malam hari. Pertama-tama saya merasa tidak bersalah untuk berprasangka buruk.  Jangan-jangan ini adalah awal dari sebuah fragmen “goro-goro”. Meski arah jalan utamanya kami sepakat, tapi kami berdua tidak tahu persis mesti belok kemana di sebelah mana.

Sambil nyopir perlahan-lahan (sopir taksinya, bukan saya…) di tengah kepadatan lalulintas, sambil saya meng-interview sang sopir dan mengamati responnya, sambil tetap waspada jangan-jangan ada sesuatu yang mencurigakan. Sang sopir pun selalu menjawab pertanyaan saya dengan sopan dan rangkaian jawabannya pun logis. Di tengah jalan saya sempat berhenti dua kali untuk tanya kepada orang di pinggir jalan. Saya yang menentukan tempat berhentinya.

Hal lain yang saya perhatikan, sang sopir ini kelewat hati-hati dan terlihat tidak santai. Tidak sebagaimana biasanya sopir taksi yang selalu terlihat terburu-buru dan gesit menyerobot jalan, berbuat serong ke kanan dan ke kiri. Sedikit nyerempet pun jadi.

Hampir sepanjang perjalanan saya berbicara dengan sopir, dengan membolak-balik pertanyaan layaknya petugas screening untuk memperoleh surat keterangan bersih diri dan lingkungan di jaman Orba dulu. Hingga sampailah pada kesimpulan, bahwa sopir taksi itu tidak sedang berbohong dan tidak mengandung unsur tipu-tipu.

Rupanya, orang muda sopir taksi warna kuning nyeter yang ngakunya berasal dari Wonogiri itu adalah sopir anyar gress….., baru mengantongi 8 jam terbang. Dia benar-benar baru pertama kali jadi sopir sejak dilepas dari pool pada jam 11 siangnya, setelah selesai menjalani test dan training. Saya adalah penumpangnya yang keenam di hari pertama itu. Dan sebagai sopir taksi, malam itu adalah malam pertamanya. Pantesan aksi dan gayanya masih rada kaku.

Belum setahun dia lulus sarjana jurusan keperawatan di Solo. Lalu mengadu nasib ke Jakarta dengan menjadi perawat kontrak selama enam bulan di kawasan Depok.  Namanya Tri Wahyudi (seperti tertulis di kartu identitasnya).

Tanggal 6 Januari nanti mas Tri ini mau nikah di Cirebon. Calon istrinya sesama perawat di tempat kerjanya. Karena mau nikah, maka kontrak kerja mas Tri tidak diperpanjang sebab salah satu harus keluar. Mas Tri memilih mengalah keluar dan mencari pekerjaan lain. Hingga akhirnya banting setir menjadi seorang sopir taksi.

Dasar perawat, nyopirnya pun halus sekali (meski tidak semua perawat berperilaku halus, ada juga perawat yang seperti mantan sopir taksi…). Tampak masih takut-takut main serobot dan belum luwes menerobos di tengah kemacetan Jakarta malam itu.

***

Baiklah, lupakan saja dulu perihal pengalaman jadi navigator dadakan sopir taksi. Melainkan saya melihat lebih jauh lagi. Seorang sarjana yang akhirnya jadi sopir taksi karena kehabisan pilihan jenis pekerjaan yang sesuai. Dan, haqqun-yakil mas Tri ini bukan satu-satunya sarjana di Indonesia yang kehabisan pekerjaan. Masih lebih baik tidak menempuh jalan pintas.

Meski ini bukanlah hal yang luar biasa di era reformasi dan keterbukaan ini (termasuk keterbukaan aurat untuk diabadikan dengan ponsel). Cerita semacam inipun sudah berulang kali saya dengar. Tapi malam itu kok tiba-tiba mak gregel….. di hatiku. Setidak-tidaknya sepenggal pengalaman kecil ini mengingatkan saya, bahwa rasanya tidak lama lagi anak-anak saya (juga anak-anak teman sebaya saya) akan berada menjadi bagian dari dunia yang sama. Dunia persilatan rebutan sepotong kue lapangan kerja yang sempit dan tidak lapang (padahal yang namanya lapangan itu mestinya ya luas).

Bagaimanapun saya merasa perlu untuk memberi apresiasi terhadap semangat kerja dan kejujuran mas Tri (termasuk jujur ngajak mencari jalan bareng-bareng malam itu). Maka kalau akhirnya saya memberi ongkos lebih, itu saya niatkan untuk nyumbang rencana pernikahannya dan menyertainya dengan doa.

Bagaimana sebaiknya melihat hal ini? Padahal sebagai seorang sarjana mestinya mas Tri ini punya skill keperawatan. Tapi kenapa mesti keukeuh harus di Jakarta yang sudah umplek-umplekan…… Sapa suru datang Jakarta….!

Apakah memang tempat yang lebih layak sebagai seorang sarjana sudah tertutup bagi mas Tri ini? Mudah-mudahan menjadi sopir taksi hanyalah batu loncatan sebelum terjun ke dunia persilatan entrepreneurship yang tentunya akan bisa membuka lapangan kerja bagi teman-temannya yang lain. Mudah-mudahan tidak kedarung keenakan membanting setir taksi yang dikemudikannya.

Itu kalau tidak keburu keterusan berada dalam comfort zone yang tidak comfortable babar blasss….. hingga tahun 2026. Yang pasti pada saat itu gaya nyopirnya sudah semakin lincah dan gesit srobat-srobot wal serang-serong.

Yogyakarta, 15 Desember 2006
Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal

Waktu sudah menunjukkan lewat jam 21:00 dibawah cuaca yang masih sangat cerah ketika akhirnya kami tiba di stasiun Amsterdam Centraal. Di negeri Belanda soal komunikasi masih lebih enak. Setidaknya setiap orang yang saya temui ternyata paham bahasa Inggris, termasuk sopir taksi, porter stasiun, juga pegawai toko dan restoran. Demikian ketika naik taksi dari stasiun menuju hotel, pak sopirnya cukup mengenal tentang Indonesia. Malah dia cerita tentang Gus Dur yang dulu sebelum jadi presiden sering singgah ke Amsterdam.

Pak Sopir pun membawa kami agak berkeliling melewati beberapa tempat terkenal sambil menyisipkan sedikit penjelasan kepada kami, layaknya pemandu wisata saja. Termasuk ketika kami lewat di depan istana Royal Palace sebagai simbol kebesaran kerajaan Belanda dimana ratu Beatrix biasanya menyelenggarakan acara-acara kenegaraan.

Untuk maksud berbelanja, maka pusat perbelanjaan Magna Plaza agaknya dapat menjadi salah satu pilihan, setidak-tidaknya bentuk dan konstruksi bangunan tua pusat perbelanjaan ini memang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya di kota Paris, di Amsterdam juga masih banyak dijumpai bangunan-bangunan berkonstruksi tinggi dan berarsitektur kuno yang masih berfungsi serta terawat dengan baik.    

Ketika tiba di kawasan Red Light District, pak sopir membenarkan ini memang tempat yang sangat terkenal sebagai kawasan entertainment. Tapi buru-buru pak sopir taksi menambahkan : “….. tapi tidak untuk keluarga”. Ya, saya tahu itu. Entah kenapa satu kawasan di pusat kota Amsterdam ini begitu terkenal. Keberadaannya sama terkenalnya dengan obyek-obyek wisata lainnya di Amsterdam.

Saya memang tidak berniat mengeksplorasi lebih jauh kawasan ini. Namun dapat saya ilustrasikan bahwa kawasan lampu merah ini kira-kira sama dengan Bourbon Street di New Orleans atau The Strip di Las Vegas atau Pat Pong di Bangkok yang semuanya memang sengaja dijual sebagai komoditi pariwisata. Di Jakarta malah tidak ada yang dapat disebut karena entertainment jenis ini termasuk komoditi yang resminya tidak halal untuk dijual. Atau jangan-jangan susah disebut karena saking banyak dan menyebarnya lokasi semacam itu yang keberadaannya sembunyi-sembunyi?    

Sekitar pukul 22:00 kami tiba di hotel. Matahari sedang beranjak tenggelam dan masih menyisakan cahaya merahnya. Beruntung cuaca Amsterdam senja itu cukup cerah.  Setiba di hotel dan setelah sedikit berbenah, kami langsung keluar dari hotel dan lalu mencari restoran untuk makan malam. Menurut sopir taksi yang membawa kami dari stasiun Amsterdam Centraal, di Amsterdam dan sekitarnya ini ternyata ada sangat banyak restoran Indonesia.

Dari daftar restoran di Amsterdam yang dimiliki oleh pak sopir taksi, ada puluhan restoran masakan Indonesia. Pak sopir taksi pun lalu merekomendasi sebuah restoran Indonesia lengkap dengan alamatnya yang menurutnya cukup terkenal. Namanya restoran “Raden Mas”. Ke restoran itulah malam itu kami menikmati santap malam atau mungkin lebih tepat disebut santap larut malam. Restoran di Amsterdam saat musim panas ini buka hingga jam 23:00. Menu sate dan nasi putih lalu menjadi pilihan kami, mengingat sejak beberapa hari terakhir ini tidak ketemu nasi.

***

Memperhatikan lalu lintas di Amsterdam nampaknya tidak terlalu sibuk dan padat, tidak sebagaimana di Paris. Hanya saja yang barangkali agak merepotkan bagi mereka yang memilih mengemudikan kendaraan sendiri dalam menjelajahi kota Amsterdam atau Belanda pada umumnya adalah perlunya waspada terhadap banyaknya jalur tram atau kereta api listrik yang menjadi satu dengan jalur kendaraan.

Kereta api memang menjadi sarana transportasi umum yang sangat populer di Belanda, bahkan juga untuk sarana berwisata. Seperti halnya di Paris, informasi tentang jalur-jalur kereta api serta tata cara penggunaannya terutama bagi pendatang baru di Amsterdam juga sangat mudah diperoleh. Jika mempunyai waktu yang agak longgar, berwisata dengan kereta api akan sangat menghemat biaya, tetapi pasti pergerakannya tidak secepat mobil.

Di Amsterdam banyak dijumpai adanya kanal-kanal atau sungai-sungai buatan yang berada paralel mengeliling setengah lingkaran kota Amsterdam yang memang terletak di ujung teluk. Sarana transportasi sungai atau kanal pun dapat menjadi pilihan untuk berwisata mengelilingi kota Amsterdam.    

Hanya ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan untuk cepat mengenali wilayah Amsterdam sekalipun sudah berpedoman pada peta, yaitu susahnya mengingat nama-nama tempat atau jalan yang tentunya tertulis dalam ejaan bahasa Belanda. Kata-kata bahasa Belanda ternyata lebih sulit saya ingat dibanding kata-kata bahasa Perancis. Meskipun di beberapa tempat sesekali saya temukan nama-nama yang sama dengan bahasa Indonesia, seperti misalnya kata kantor, halte, stanplat (standplaats), dsb. yang memang telah menjadi kata serapan dalam kosakata bahasa Indonesia.- 

Yusuf Iskandar

Nenek-nenek Amerika

2 Maret 2008

Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke kota Phoenix (ibukota negara bagian Arizona). Wilayah Arizona ini berada di sebelah selatan agak ke barat daratan Amerika dan di sebelah selatannya berbatasan dengan negara Mexico. Perjalanannya sendiri sebenarnya hal yang biasa-biasa saja, dalam arti saya berangkat dan pulang naik pesawat, siang hari kerja dan malam tidur di hotel. Namun justru dalam hal yang biasa itu saya menjumpai dan mengalami beberapa kejadian menarik yang berkaitan dengan perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.

Seperti biasanya ketika hendak berangkat menuju bandara saya menilpun taksi. Pagi itu, Rabu, 7 Juni 2000, ternyata taksi yang menjemput saya disopiri oleh seorang wanita, yang lebih tepat saya sebut seorang nenek. Meskipun saya lupa menanyakan umurnya, tapi dia mengaku mempunyai dua orang anak sebaya saya dan mempunyai dua orang cucu yang sebaya anak saya. Maka saya taksir usianya sekitar 60-an. Tapi jangan heran, pagi itu dia masih mampu melaju dengan cermat pada kecepatan lebih 50 mil/jam (lebih 80 km/jam), malah memberi bonus dengan dua kali menyerobot lampu kuning yang sudah menjelang merah, saat melalui perempatan jalan.

Tahun ini adalah tahun ke-13 dia menyopiri taksi miliknya sendiri. Dia bergabung dengan perusahaan jasa angkutan yang bertindak sebagai dispatcher (pengatur perjalanan) dengan membayar sejumlah biaya per bulannya. Dia mengaku menarik taksi hanya pada siang hari dari Senin hingga Jum’at saja. Selebihnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hari milik cucu-cucunya dan milik hari tuanya sendiri (yang menurut pikiran saya malah sebenarnya jadi tidak punya hari tua). Apa yang membanggakannya? Dia merasa menjadi juragan bagi usahanya sendiri, berkehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketika transit di bandara internasional Houston (Texas), karena menunggu pesawat lanjutan yang masih cukup lama, saya duduk-duduk di kafe menghadap ke lorong di dalam bandara sambil makan pizza sebagai makan siang. Di depan saya lewat seorang ibu agak gemuk yang juga lebih tepat saya sebut nenek kalau melihat raut muka dan penampilannya. Sambil berjalan lambat dia mendorong trolly atau kereta dorong untuk barang bawaan menuju ke ruang tunggu.

Entah kenapa, barangkali menyusun barangnya kurang rapi, sebuah tasnya yang ternyata belum rapat ditutup tiba-tiba merosot ke belakang dan jatuh tepat di depan langkah kakinya. Hal yang tiba-tiba ini tentu saja membuat sang nenek lambat untuk bereaksi menghindar, dan diapun tersandung tasnya sendiri yang lalu berantakan. Gerak refleksnya membuat dia lalu berpegang erat pada kereta dorongnya, yang kemudian berakibat keretanya mendongak ke atas karena terbebani di bagian belakangnya. Akhirnya kereta dorong itu rubuh bersama-sama dengan badan gemuk sang nenek yang masih memeganginya. Minuman coke-nya pun tumpah bersama es batu yang menyebar di lantai berkarpet.

Tidak ada orang lain yang berada lebih dekat dari saya saat itu, maka spontan saya hampiri sang nenek, saya bantu merapikan barang bawaannya, sambil tidak lupa mengajukan pertanyaan “standard” : “Are you OK?”. Setelah yakin sang nenek memang OK punya, sayapun kembali ke tempat duduk saya di kafe. Sang nenek kemudian berjalan menepi membuang gelas kertas tempat coke-nya yang sudah kosong itu ke tempat sampah, sambil kedua tangannya memegangi pinggangnya. Kemudian dia mendorong keretanya pelan dan menjauh. Barangkali mau mencari tempat duduk yang agak longgar agar bisa beristirahat sambil mengelus-elus boyoknya (pinggangnya) yang sakit, pikir saya.

Sampai di sini saya menduga episode nenek jatuh sudah selesai. Ternyata dugaan saya keliru. Sesaat kemudian nenek itu kembali lagi dengan membawa benda warna jingga berbentuk corongan plastik, persis sama seperti yang biasa dipergunakan oleh pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya atau yang dipakai Pak Polisi untuk mengalihkan lajur jalan. Corongan itu lalu diletakkannya di depan tempat tumpahan minumannya tadi. Saya hanya bisa berkesimpulan, rupanya sekalipun sang nenek sudah kepayahan akibat jatuh tadi, dia masih sempat berupaya agar orang lain tidak terganggu oleh bekas tumpahan es batu yang berserakan di lantai yang basah oleh coke-nya itu.

***

Agak lama saya menunggu pesawat lanjutan menuju Phoenix, yang nantinya ternyata memang batal terbang, saya pindah duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke landas pacu pesawat. Di depan sebelah kanan saya ada seorang nenek duduk bersama dengan cucu perempuannya yang agak cerewet khas anak-anak. Terjadi dialog antara mereka berdua yang membuat saya tersenyum dalam hati.

Sang cucu rupanya mengajak main tebak-tebakan dengan neneknya. Bandar udara Houston memang cukup ramai lalu lintas penerbangannya, sehingga setiap kali ada pesawat lewat dan tampak di depannya, sang cucu berkata : “Pesawat itu mau naik”. Sang nenek yang lagi asyik merenda benang yang agaknya memang sengaja dibawa dari rumah, lalu menengok ke depan dan menjawab : “Bukan, itu baru saja mendarat dan mau berhenti menurunkan penumpangnya”.

Ada lagi pesawat lewat, sang cucu berkata lagi :
“Nah, itu juga mau terbang”.
“Itu juga mau berhenti”, kata neneknya membenarkan omongan sang cucu.

Ada lagi pesawat lewat :
“Nah, itu mau berhenti”, kata sang cucu.
“Kalau yang itu mau terbang”, kata sang nenek sambil menolehkan kepalanya ke depan lagi.

Ada lagi pesawat lewat :
“Itu berangkat lagi”, kata sang cucu.
“Itu mau berhenti”, kata sang nenek.
“Itu ada lagi”, kata cucunya lagi. Rupanya lama-lama sang nenek yang lagi asyik merenda benang merasa kesal juga dengan laku cerewet sang cucu. Lalu dengan cuek sang nenekpun nyeletuk yang kira-kira begini : “Embuh, ah…..”.

Sesayang-sayangnya seorang nenek terhadap cucunya, suatu saat ternyata bisa juga dia kehilangan kesabarannya, saat dia sendiri sedang asyik dengan kesukaannya. Manusiawi sekali.

***

Dalam perjalanan saya kembali ke New Orleans sembilan hari kemudian, Jum’at, 16 Juni 2000, lagi-lagi pesawat dari Phoenix dibatalkan, sehingga rute penerbangan saya dialihkan dari semestinya transit di Houston (Texas) menjadi transit via Denver (Colorado).

Di bandara Denver, sambil menunggu pesawat sambungan menuju New Orleans, saat itu sekitar jam 7:00 malam, saya mampir ke sebuah kafe untuk mencari sekedar pengganti makan malam. Ketika antri di depan kasir, di depan saya ada seorang nenek. Kali ini benar-benar seorang nenek kalau melihat raut mukanya yang sudah keriput dan berjalannya yang thunuk-thunuk (sangat pelan dengan badan agak membungkuk), kira-kira kalau berjalan dengan langkah saya satu banding tiga. Pendengarannyapun sudah berkurang, terbukti kasir kafe dicuekin saja ketika mengajak bicara saat membayar.

Setelah memperoleh apa yang dipesannya, dengan santai diapun berdiri menambahkan gula dan creamer ke dalam kopinya (memang sudah biasanya hanya akan diberikan kopi tanpa gula kalau kita pesan kopi). Sang nenek lalu berdiri di pojok menikmati makanannya. Kebetulan saat itu kafe sedang penuh orang-orang muda yang sambil makan menyaksikan siaran langsung di layar TV lebar final kejuaraan basket NBA putaran kelima antara Pacers (Indiana) melawan Lakers (Los Angeles), yang akhirnya dimenangi oleh Pacers dengan skor 120-87 dan membuka peluangnya untuk menyelesaikan the best-seven.

Barangkali inilah cermin kemandirian (dan individualis?) manusia Amerika. Tanpa perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, setiap orang dianggap mesti mandiri dengan keberadaannya. Maka yang lalu terjadi adalah, seorang nenek setua itu masih sanggup bepergian seorang diri (meskipun naik pesawat) dan makan sambil berdiri di pojok kafe yang penuh orang, sementara puluhan orang muda tanpa perlu merasa sungkan atau tidak sopan bersorak di tempat duduknya di sebelah sang nenek ketika seorang pemain Lakers berhasil membuat nilai.

Malam harinya, di dalam pesawat menuju New Orleans, di samping kiri saya duduk seorang nenek dan di sampingnya lagi duduk seorang ibu yang kira-kira berusia sedikit di atas saya yang ternyata adalah anak dari nenek di sebelah saya. Sejak duduk di pesawat nenek tadi mulai membuka-buka majalah wanita (saya lupa memperhatikan nama majalahnya), hingga seperempat perjalanan sang nenek ini asyik saja membaca. Hingga saya tertidur dia masih membaca.

Saat saya terbangun dia juga masih saja membaca. Kelihatannya sang nenek di sebelah saya ini punya kebiasaan yang bagi saya tidak umumnya dilakukan oleh seorang nenek ketika sedang dalam perjalanan, yaitu membaca dan membaca. Saya jadi ingat, boro-boro membaca, nenek saya di kampung sana pasti memilih tidur kalau sedang dalam perjalanan, atau (katakanlah) sedang menghabiskan waktu.

Ketika tiba di New Orleans tengah malam, sang nenek sempat nyeletuk kepada saya “Tadi enak sekali tidurnya”. Saya paham itu pertanyaan basa-basi, lalu sayapun menjawab juga sebagai basa-basi :”Iya, terima kasih”. Entah kata-katanya itu pujian atau sindiran (karena malam itu memang saya merasa sangat capek hingga tertidur lelap), saya tetap perlu berterima kasih sebagai basa-basi gaya Amerika.

***

Ada tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan yang bagi saya berbeda dari yang biasanya saya jumpai dengan nenek-nenek di kampung saya di Jawa sana. Barangkali saja semua peristiwa yang saya jumpai dan alami tadi adalah kebetulan belaka, atau tidak berlaku umum bagi setiap nenek di Amerika. Akan tetapi, paling tidak saya telah menemukan kesan bahwa ada kebiasaan (yang tentunya tumbuh akibat didikan sejak kecil) dalam diri nenek-nenek itu yang bernilai positif : mandiri dan percaya diri. Nilai-nilai itulah yang justru seringkali membuat kita terpuruk di belantara pergaulan masyarakat global.

Barangkali kesan saya keliru, tapi yang jelas saya merasa senang dan terhibur bisa belajar dari melihat perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.-

New Orleans, 20 Juni 2000.-
Yusuf Iskandar

Pensiun Ketika Mati

28 Februari 2008

Hari Minggu, 29 April 2001, sekitar jam 9:00 pagi saya tiba kembali di New Orleans, Louisiana, setelah menempuh perjalanan lumayan panjang sekitar 14 jam dari Juneau, Alaska. Dari bandara New Orleans saya lalu menggunakan taksi untuk pulang ke apartemen. Kali ini saya menjumpai taksi yang tampil beda dari biasanya.

Sejak pertama kali memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi belakang taksi, saya sudah mencium sesuatu yang lain dari biasanya. Di bagian lantai bagasinya tergelar kain tebal seperti selimut bergaris-garis merah muda seakan-akan difungsikan sebagai karpet. Begitu masuk dan duduk di jok belakang taksi, serta-merta tercium bau wangi-wangian yang jelas aromanya terasa sumegrak (bukan semerbak tapi berbau tajam), aroma yang aneh untuk selera indra penciuman orang Indonesia.

Sedan Lincoln tahun 1988 yang berbadan panjang dan lebar yang “dipekerjakan” sebagai taksi itu di dalamnya didekorasi layaknya sebuah ruang tamu. Di seputar kaca depan dan dashboard-nya dihiasi dengan bunga-bunga plastik dan patung-patung kecil Yesus Kristus. Di sela-selanya ditempelkan banyak jam tangan berbagai merek tidak terkenal, sepertinya ditempel dengan lem sehingga susah dilepas. Di bagian atas joknya ditempel hiasan plastik berbentuk udang, crawfish, dsb., yang agaknya juga direkatkan dengan lem.

Di seputar jendela samping ada hiasan-hiasan lain, termasuk kutipan-kutipan kitab Injil serta foto-foto hitam-putih. Dari foto-foto itulah akhirnya saya tahu bahwa pak sopirnya adalah seorang veteran Angkatan Laut. Diam-diam saya cocokkan postur tubuh gagah dan kekar serta wajah tampan yang ada di foto dengan wajah pak sopir. Meskipun tidak tampak serupa benar, namun saya melihat garis-garis wajah yang memang membuktikan bahwa wajah yang ada di foto adalah wajah pak sopir.

***

Untuk meyakinkan dugaan saya, maka akhirnya saya mulai membuka percakapan dengan pak sopir. Pak sopir yang bernama Billy itu memang dulu pernah bekerja di Angkatan Laut Amerika dan pernah tugas ke berbagai negara termasuk Asia Tenggara. Pak Billy pun mengiyakan dengan tersenyum bangga ketika saya tanya apakah orang yang ada di dalam foto itu adalah dirinya.

Pada bulan Agustus nanti Pak Billy akan genap berusia 75 tahun! Ya, sopir taksi itu adalah Pak Billy yang usianya hampir 75 tahun. Sudah 30 tahun ini Pak Billy menjadi sopir taksi miliknya sendiri. Berjalannya sudah tidak lagi tegap, melainkan pelan dan hati-hati. Bicaranya juga pelan, tidak jelas dan serak-serak kering. Setiap kali mendengarkan pembicaraannya saya mesti mendekatkan telinga saya ke sela-sela antara dua jok depan.

Namun jangan salah, tampil dengan berkacamata plastik hitam (bukan plus atau minus) Pak Billy masih cukup gesit mengemudikan taksinya dan tidak keteter mengikuti laju kecepatan lalulintas New Orleans pagi itu.

Pak Billy mengaku hanya bekerja 4-5 jam saja per hari, itupun terkadang banyak waktu terbuang hanya untuk menunggu dapat penumpang. Dia memang bekerja tidak ngoyo (memaksakan diri). Namun tentu adalah sebuah jenis pekerjaan yang luar biasa di usianya saat ini kalau mengingat bahwa dia mengaku berkerja 7 hari per minggu. Artinya, tanpa mengenal hari libur.

***

Menurut Pak Billy, ada dua hal yang membuatnya bangga, yaitu : bangga dapat menghidupi dan mengatur hidupnya sendiri dan bangga dapat menikmati hari tuanya. Lho? Sungguh tak pernah saya bayangkan sebelumnya bahwa menjadi sopir taksi ternyata juga merupakan salah satu bentuk kenikmatan di hari tua seseorang. Setidak-tidaknya bagi Pak Billy, dan itulah cara Pak Billy menikmati hari tuanya. Sebuah cara yang tentu saja kedengaran aneh di telinga kita pada umumnya.

Kalau dapat diambil benang merahnya, maka barangkali esensinya adalah hidup yang bermanfaat bagi orang lain. Adakah sesuatu yang dapat ditiru dari penggalan kehidupan seorang sopir taksi bernama Pak Billy ini? Sesuatu yang kiranya dapat disemangati (bukan mengganti) untuk disisipkan ke dalam budaya masyarakat kita yang pada umumnya selalu merencanakan ingin menikmati hari tuanya setelah pensiun nanti, tapi pasti bukan menjadi sopir taksi.

Jika demikian, lalu kapan Pak Billy akan pensiun? Jawabnya ringan saja, dengan suaranya yang lemah dan serak dia berkata : “I will retire when I die ……”, sambil tertawa terkekeh.

Setelah membayar ongkos taksi US$16 plus tip US$2 setiba di apartemen, saya berkata : “Good Luck, Pak Billy…..”

New Orleans, 30 April 2001
Yusuf Iskandar