Posts Tagged ‘pesawat’

Mati Listrik Di Pesawat

16 Juni 2010

Burung ‘Singo’ Boeing 737-400 baru mendarat di Cengkareng, penumpang siap-siap turun. Tapi tiba-tiba ada Mati Listrik (ML) di pesawat. Mesin, lampu, AC, semua mati. Rupanya “bisnis” ML bukan monopoli PLN, penerbangan juga.

Ketika turun, kutanya mbak pramugari: “Kenapa tadi tiba-tiba mati, mbak?”.
Jawabnya sambil cengengesan tapi manis: “Baru coba-coba kok pak”.

Walah, blaiiik..! Lha, ML di pesawat kok coba-coba. Kalau mau coba-coba ML mbok cari yang “mirip” pesawat.

Yogyakarta, 15 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Kenapa Pesawat Tidak Bisa Mundur?

11 Juni 2010

Sambil becanda seorang teman bertanya : “Kenapa pesawat tidak bisa mundur ya?”.

Jawabku asal-asalan : “Agar sopirnya tidak ugal-ugalan”. Maka setiap gerakan majunya harus selalu tepat dan akurat karena tidak ada kesempatan mundur selangkah pun kecuali saat menjelang terbang, itupun dimundurkan…

(Barangkali, seperti itulah ketika seseorang memutuskan untuk banting setir berwirausaha. Maju terus pantang mundur, dengan gerakan dan resiko yang terukur).

Yogyakarta, 2 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Jujur Tapi Khilaf, Atau Malu?

2 Agustus 2008

Panggilan boarding untuk penumpang pesawat dengan nomor penerbangan Garuda Wiro Sableng (GA 212) jurusan Jakarta-Jogja dikumandangkan di Terminal F bandara Soekarno-Hatta. Penumpang segera bergegas menuju pintu keberangkatan. Kali ini penumpang tidak langsung diarahkan memasuki lorong belalai gajah menuju kabin pesawat, melainkan turun untuk naik bis pengantaran dulu. Wah, sopir pesawatnya tadi parkir kejauhan, pikir saya.

Satu per satu penumpang menaiki tangga pesawat melalui pintu depan. Nampaknya saya harus agak bersabar, sebab saya kebagian nomor tempat duduk 19 yang berarti jauh berada di belakang. Ketika sudah berada di dalam pesawat, saya lihat ada sekelompok penumpang berdiri bergerombol di ujung belakang. Agak riuh. Ada demo? Pasti bukan, karena terlihat pada cengengesan.

Setelah tiba di belakang barulah saya tahu, rupanya pesawat Garuda yang narik trayek ke Jogja sore itu baris tempat duduknya hanya sampai nomor 18. Sementara penumpang yang berdiri bergerombol adalah pemegang karcis bernomor tempat duduk 19 sampai 21, termasuk saya. Hanya karena penumpang percaya bahwa Garuda akan mampu mengatasinya, artinya tidak bakalan tidak dapat tempat duduk, maka penumpang tetap bersabar sambil ketawa-ketiwi.

Akhirnya seorang petugas datang sambil membawa daftar penumpang yang sudah diperbaiki rupanya. Lalu satu-persatu penumpang yang masih berdiri dibelakang itu dibacakan namanya dan diberitahu nomor tempat duduk yang benar. Legalah, semua penumpang. Setidak-tidaknya tidak harus berdiri bergelantungan atau duduk di bangku yang disisipkan di lorong pesawat.

Entah kenapa pesawat Boeing 737-300 yang jumlah baris tempat duduknya sampai nomor 21 yang biasa narik trayek Jakarta-Jogja, kali itu diganti dengan Boeing 737-500 yang lebih kecil. Tapi rupanya penggantian pesawat ini mendadak sehingga tidak nyambung ke petugas check-in, walhasil pengaturan tempat duduk sewatu check-in belum disesuaikan.

Penghargaan pantas diberikan untuk petugas Garuda yang cukup lincah dan dengan sigap mengatasi kesemrawutan di ujung belakang kabin pesawat, sehingga urat kesabaran penumpang belum sempat menegang, melainkan masih bersuasana goyonan plesetan ala Jogja (“sambil menunggu disediakan bangku yang akan dipasang di lorong seperti naik bisa antar kota saat mudik lebaran”).

Akhirnya pesawat pun siap tinggal landas dengan tanpa kehilangan banyak waktu penundaan. Saya pikir, masalah dan hambatan senantiasa ada dalam pengelolaan sistem angkutan udara. Cuma yang membedakan antara maskapai yang satu dan lainnya adalah keterampilan petugasnya untuk menyelesaikan masalah dengan cepat, lincah dan ramah. Ora klelat-klelet…… (tidak ogah-ogahan atau asal-asalan). Sayangnya keterampilan seperti ini tidak ada sekolahnya, melainkan bisa dilatih sebagai bagian dari tanggungjawab profesional, apapun profesinya.

Awalnya saya melihat dan merasakan peristiwa ini sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Tidak menarik untuk saya ingat-ingat. Sampai kemudian ada halo-halo dari ujung depan sana yang menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan keberangkatan. Dan ini yang berbeda : “karena alasan kurangnya profesional petugas……….”. Pada bagian titik-titik dari halo-halo awak kabin ini tidak terlalu jelas saya dengar. Tapi kedengarannya mirip-mirip ucapan garuda.., gadura.., garadu.. atau gadaru….., gitu…

Tapi okelah. Dalam banyak hal kita sering menganggap bahwa “Siapa” tidaklah terlalu penting, karena biasanya cenderung untuk subyektif. Jauh lebih penting mengetahui “Kenapa” atau “Bagaimana”, sebab dari sana biasanya akan lebih obyektif dan ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan itu sudah terjawab, yaitu “kurangnya profesional petugas…..”, seperti pengakuan jujur awak pesawat.

Ini sesuatu yang baru bagi saya. Selama ini, ilmu permintaan maaf ini sudah saya hafal di luar kepala. Kalau bukan “karena alasan teknis”, ya “karena alasan operasional”. Tapi rupanya perbendaharaan alasan di kepala saya harus ditambah. Masih ada alasan yang lain, yaitu “karena alasan kurangnya profesional”. Sebuah pengakuan yang kedengaran begitu jujur dan menyentuh (bukan hati, melainkan rasa tangungjawab).

Pengakuan jujur yang rasanya pantas diapresiasi. Hanya sedikit saja sayangnya, yaitu kedengaran agak malu-malu burung…… Pasalnya seingat saya, baru kali itulah saya mendengar pengumuman yang diperdengarkan di dalam pesawat dengan tanpa disertai terjemahan bahasa Inggrisnya……

Moga-moga prasangka saya salah. Bukan karena malu menerjemahkan di hadapan penumpang asing, melainkan hanya karena khilaf saja. Tapi khilaf bisa jadi adalah bagian dari profesionalisme kalau keseringan, alias bolak-balik khilaf….

Yogyakarta, 2 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Gratis Makanannya, Bayar Minumannya

31 Juli 2008

Coba bayangkan : Anda sedang bertamu. Kemudian tuan rumah berbaik hati menyuguhi Anda dengan kue donat yang dari tampilannya saja sudah membuat rasa tidak sabar menunggu dipersilakan menikmatinya. Akhirnya sebuah donat pun langsung membuat mak sek…., di tenggorokan hingga tembolok.

Lalu Anda menunggu lima menit, lima belas menit, setengah jam, hingga sejam, ternyata setetes air pun tidak disuguhkan kepada Anda. Sementara air liur di tenggorokan dan tembolok sudah terserap habis oleh donat yang barusan lewat dan semakin membuat Anda sesak napas. Mau minta minum takut dikatakan tidak sopan.

Cara terbaik untuk keluar dari situasi serba tidak enak ini adalah segera mohon diri, lalu mampir ke warung terdekat membeli minuman. Apapun makanannya, minumnya ya air…

***

Itulah yang terjadi dalam perjalanan udara dengan burung Singa dari Jakarta menuju Makasar pada suatu tengah malam. Kalau sebelumnya tak setetes air pun mengalir di pesawat, kini tetap juga tidak mengalir tapi diberi bonus ransum kue donat cap Dunkin’ Donuts dalam kantong kertas yang tampilan luarnya cukup menggairahkan. Sepotong donat gemuk yang di atasnya ditaburi gula pasir halus sungguh merangsang untuk segera dilahap.

Untung saya agak ngantuk, jadi ransum donat saya sisipkan dulu di kantong kursi. Sementara penumpang di sebelah saya yang nampaknya seorang dari Ambon langsung menyikatnya hingga habis. Sesaat kemudian, si Abang dari Ambon itu nampak tolah-toleh. Saya menduga pasti kehausan cari minum. Agak lama, barulah muncul mbak pramugari cantik di tengah malam di atas pesawat mendorong gerobak dagangannya menawarkan minuman. Kali ini tentu bukan pembagian gratis, melainkan siapa mau minum harus membelinya. Dan, laku keras………

Sebuah trik bisnis. Ya, trik bisnis….. Dalih, alasan, atau malah mau ngeyel seperti apapun, pokoknya itu pasti trik bisnis (Cuma, gimana ya…. rasanya kok enggak seberapa cerdas, gitu…). Makanannya disediakan gratis, tapi minumannya harus mbayar. Si burung Singa boleh berkilah. Toh, maskapai sudah berbaik hati menyuguhkan makanan gratis kepada penumpangnya. Perkara penumpangnya lalu mau beli minuman apa tidak, ya terserah saja…. Maka, penumpang pun ter-fait-a-compli pada situasi tidak ada pilihan, di atas ketinggian lebih 10 km.

Memang tidak ada yang salah dengan trik bisnis semacam ini. Dalam banyak kasus, banyak bentuk, banyak cara, banyak situasi, trik bisnis seperti ini banyak digunakan oleh para penjual atau pedagang dalam rangka meningkatkan omset penjualan dan keuntungannya. Sah-sah saja.

Gratiskan ikannya, kail dan umpannya mbayar. Gratiskan software-nya, jasa pelatihan dan purna jual-nya mbayar. Jual rugi mobilnya, suku cadang dan perawatannya dijual mahal. All you can eat, karcis masuk untuk bisa eat-nya mahal. Gratis biaya perawatan setahun, gratis ikut seminar, gratis nambah nasi, tapi biaya awalnya dinaikkan. Sepertinya lumrah-lumrah saja.

Ada yang bisa dipelajari dan dihikmahi dari trik bisnis semacam ini, baik oleh penjual maupun pembeli. Agaknya, ajakan teliti sebelum menjual dan membeli, atau jeli sebelum bernegosiasi dan bertransaksi, masih layak dikiblati. Agar tidak merasa dikibuli di belakang hari, melainkan tahu dan paham dengan apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah jual-beli (oleh kedua belah pihak) tetap tidak menyalahi kaidah bisnis yang saling menguntungkan dan saling ikhlas dalam berserah-terima jasa maupun barang.

Jadi? Sebaiknya Anda waspada kalau sedang dalam perjalanan dengan pesawat tiba-tiba disuguhi makanan gratis. Sabar dulu untuk menikmatinya. Atau malah tanyakan dulu ada pembagian minumannya atau tidak, kecuali Anda siap untuk membeli atau setidak-tidaknya Anda telah siap lahir-batin untuk kehausan atau keseredan (apa bahasa Indonesianya, ya…).

Juga kalau kebetulan Anda sedang bertamu, lalu tidak biasanya suguhan kue keluar lebih dahulu. Segera aktifkan piranti deteksi dini dan lakukan quick assessment. Jika kesimpulannya menunjukkan bahwa tuan rumahnya adalah penganut fanatik aliran burung Singa, segera tanyakan warung terdekat, lalu Anda pamit sebentar untuk beli minuman………..

Yogyakarta, 30 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Pengalaman Pertama

4 Mei 2008

Selalu ada yang menarik dengan yang namanya pengalaman pertama. Misalnya bekerja dan gaji pertama, mengemudi dengan SIM pertama, mendaki gunung pertama kali, termasuk malam pertama (di tempat baru, misalnya). Begitu juga pengalaman pertama saya naik pesawat Sriwijaya Air yang lagi narik trayek Surabaya – Semarang, beberapa hari yll.

Ketika maskapai murah-meriah-resah yang lain sudah ogah repot-repot ngurusi konsumsi penumpang pesawat, alias cukup air putih saja, Sriwijaya Air masih berbaik hati membagi konsumsi. Cuma konsumsinya tidak disajikan ketika di atas pesawat, melainkan dibagikan satu-satu ketika penumpang sedang boarding siap menuju ke pesawat.

Sebungkus kue plus akua gelas (apapaun merek air putihnya, sebut saja akua) sudah disiapkan di dalam kantong plastik berkualitas lumayan bagus (setidaknya bukan tas kresek hitam-tipis). Maka ketika tiba waktunya penumpang menaiki tangga pesawat, terlihat serombongan orang-orang yang masing-masing menenteng kantong ransum konsumsi cap Sriwijaya Air. Ada yang tampak santai menentengnya, tapi ada juga yang terlihat kerepotan karena bawaan tas kabinnya sudah cukup banyak.

Rupanya pesawat Boeing 737 seri 200 yang sore itu saya tumpangi, memiliki ukuran tempat bagasi kabin yang tidak terlalu besar. Terpaksa sebagian tas kabin penumpang ada yang harus diminta keikhlasannya untuk dibagasikan alias dipindah ke bagasi di luar kabin. Tentu saja ada yang ikhlas dan ada pula yang tidak.

Seorang bule yang fasih berbahaa Indonesia rupanya keberatan dan bertahan salah satu tasnya yang berukuran agak besar tidak mau dipindah untuk dibagasikan. Setelah adu argumentasi dengan seorang awak kabin yang jamaknya berparas ayu (ya ada juga yang tidak jamak…), si bule tampak kesal. Lalu tangan kirinya menyampakkan tentengan ransum kantong kue begitu saja sekenanya, sambil tangan kanan mendorongkan salah satu tas kabinnya untuk dibagasikan. Kok ya kebetulan ransum kue itu mengenai dua awak kabin lainnya yang sedang sibuk dengan daftar manifest. Kedua awak itu pun melongo terkejut dengan apa yang barusan menimpanya.

Melihat perilaku si bule yang kurang sopan itu, sempat juga hati ini ikut meradang. Dalam hati saya mendukung kebijakan mbak pramugari yang sepertinya adalah pimpinan awak kabin, mengingat keterbatasan tempat bagasi di dalam kabin. Perihal pindah-memindah barang bawaan kabin penumpang semacam ini sebenarnya sudah lumrah terjadi dan umumnya berlangsung tanpa masalah, nyaris bisa saling memahami.

Namun ketika saya sudah duduk di bangku pesawat, tiba-tiba saya dikejutkan dengan adu argumentasi antara mbak pramugari yang tadi dengan seorang penumpang di depan saya. Pokok soalnya hal yang sama yaitu masalah pembagasian. Saat itu juga saya cabut dan batalkan dukungan saya tadi kepada mbak pramugari, demi melihat cara mbak pramugari berdialog dengan penumpang di depan saya untuk menyelesaikan masalah bagasi-membagasi.

Cara bicara mbak pimpinan awak kabin itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang seharusnya menjaga citra merek dagang maskapai yang sedang diembannya. Bukannya berdialog dengan ramah dan menyejukkan, melainkan malah ngelok-ke (mencela) penumpang di depan saya sambil memamerkan paras ketus dan bersungut-sungut (ekspresi wajah yang sulit saya lukiskan). Kata-kata dan nada suaranya sama sekali tidak seindah dan semesra ketika dia mendesah : “have a nice flight….”.

Untungnya penumpang yang menjadi korban perilaku tidak simpatik dari mbak pimpinan awak kabin itu tergolong jenis mahluk yang sabar, sehingga tidak memilih untuk membalas dengan cara pethenthengan (marah), melainkan tenang dan santai saja. Padahal saya sendiri dalam hati justru gethem-gethem….., berempati turut merasa jengkel.

Saya yakin penumpang itu adalah seorang yang suka menjaga hati ala Aa’ Gym. Ee…, barangkali saja mbak pramugari yang mengenakan blazer merah hati cerah tadi barusan diputus sama pacarnya. Atau, waktu berangkat kerja tadi sepatunya menginjak tembelek lencung (tahi ayam kental berwarna kuning kecoklatan yang aromanya tidak satu pun parfum Perancis mampu menyamainya). Atau, sakit giginya kambuh lalu kesenggol pintu.

Apapun alasannya, apa yang saya saksikan itu sama sekali tidak pantas dilakukan oleh seorang pramugari terhadap penumpangnya. Pengalaman pertama saya naik pesawat berlambang benang ruwet dan berwarna body putih-merah-biru-putih telah memberikan pelajaran berharga tentang artinya pelayanan kepada pelanggan, yang oleh oknum awak Sriwijaya Air berhasil didemonstrasikan dengan sangat mengecewakan.

Entah mata pelajaran tentang pelayanan seperti apa yang pernah diajarkan kepada mbak pimpinan awak kabin itu sehingga tidak bisa membedakan antara pelanggan adalah raja dan pelanggan adalah obyek penderita (meskipun ada juga raja yang menderita…..).

Semarang, 30 April 2008
Yusuf Iskandar

Maskapai ”Pokoke Mabur”, Oedan Tenan…

4 Mei 2008

Pada mulanya saya membaca olokan maskapai “Pokoke Mabur” (yang penting terbang) saya tafsirkan hanyalah sekedar gaya bahasa sebagai ekspresi ketidakpuasan dan keprihatinan terhadap perilaku maskapai Adam Air dalam menjalankan bisnisnya. Saya setuju dengan olokan itu karena kedengaran enak di telinga.

Ee… lha kok kenyataan yang sebenarnya malah jauh lebih parah dari sekedar julukan itu. Coba bayangkan, naik pesawat terbang tinggi lebih 9 km di atas permukaan bumi, dengan kondisi pesawat yang asal terbang. Kata Departemen Perhubungan, ada baut-baut dan paku pesawat yang tidak lengkap. “Ini, kan berbahaya sekali”, kata Budhi Mulyawan Suyitno, Dirjen Perhubungan Udara (Eee…alah, Pak De… Pak De…., kok baru sekarang Sampeyan ngasih tahu saya, telanjur 3 tahun ini saya midar-mider dengan pesawat “Pokoke Mabur”, jangan-jangan pesawat yang menghunjam di laut dekat Sulawesi karena ada bagian yang coplok di udara….).

Bukan itu saja, menurut koran “Kontan” hari ini, Adam Air ternyata tidak mengoperasikan pesawatnya sesuai aturan. Proficiency check alias kecakapan pilotnya tidak dilakukan oleh instruktur yang sudah ditunjuk, pelatihan sumber daya manusia tidak sesuai program (sesuatu yang tidak ikut aturan, oleh orang Jawa disebut sak geleme dhewe…). Malah koran “Kompas” hari ini juga menyebut bahwa perawatan pesawat udara tidak sesuai company maintenance manual, dan ketidakmampuan teknis memperbaiki kerusakan (jadi kalau ada kerusakan pesawat jangan-jangan malah menjadi semakin rusak, lha wong ora biso ndandani… tidak bisa memperbaiki…).      

Maka mulai hari ini ijin terbang (operational specification) maskapai “Pokoke Mabur” milik PT. Adam Air Sky Connection itu pun dicabut.

***

Terlepas dari konflik internal dari para pemegang sahamnya, entah itu karena perkara mismanagement atau ketidakpuasan pribadi, yang jelas konsumen pengguna jasa angkutan udara telah menjadi taruhannya selama ini.

Entah itu kebodohan, kekonyolan atau kekejaman, setiap kali pesawat Adam Air mengudara, maka para penumpang dan awaknya ibarat sedang bermain trapeze, sirkus bergelantungan di udara tanpa jaring pengaman. Tinggal tunggu waktu siapa dari pemain sirkus udara itu yang kebagian sial gagal melakukan akrobatiknya dengan mulus dan selamat, meloncat dari satu gantungan ke gantungan lainnya sambil bermanuver di udara. Benar-benar “pokoke mabur”, oedan tenan……

Mengingat kembali bagaimana awak kabinnya terlihat asal-asalan memperagakan prosedur dan tatacara dalam keadaan darurat dan juga bagaimana sopir-sopirnya mendaratkan pesawat hingga sering mak jegluk…., bisa jadi semua itu adalah ekspresi di luar kesadarannya dari sikap ora urus, tidak perduli dan …., ya “pokoke mabur” itu tadi.

Huh…! Miris rasanya kalau ingat bahwa yang disampaikan oleh Dirjen Perhubungan Udara itu benar adanya. Dan, mestinya ya benar. Masak sih, ngarang-ngarang…..

Kini pemerintah masih memberi kesempatan Adam Air untuk memperbaiki kinerja buruknya dalam waktu tiga bulan. Maka pertanyaannya adalah, apakah pihak manajemen Adam Air mampu “menyulap” semua kegagalan dan ketidakmampuan itu menjadi lebih baik dan sesuai prosedur keselamatan yang benar dalam waktu tiga bulan ke depan? Menurut kalendar di rumah saya, tiga bulan ke depan jatuh pada tanggal 18 Juni 2008 (dengan empat tanggal merah di dalamnya), pas peak season musim liburan sekolah.

Have a safe and nice flight…..!

Yogyakarta, 19 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Naik Air Asia? Pilih Rebutan Atau Ngalah

4 Mei 2008

Terbang menuju Balikpapan dari Jakarta bersamaan arus balik usai lebaran. Tidak banyak pilihan pesawat, kecuali kalau sudah booking jauh hari sebelumnya. Maka dapatlah tiket pesawat Air Asia (dulu AWAIR). Maskapai yang diakui bertarip murah dan cukup nyaman, dengan semboyannya “Now everyone can fly”. Banyak penghargaan internasional telah berhasil diraih. Salah satunya untuk tahun 2007, maskapai ini juga meraih predikat World Airline Awards – Best Low Cost Airline in Asia by SkyTrax. Meski Air Asia sudah cukup lama mengangkasa di Indonesia, tapi siang itu adalah pengalaman pertama bagi saya.

Pada karcis boarding tidak tertulis nomor kursi. Ketika saya tanyakan, jawabannya adalah bahwa berlaku rejim tempat duduk bebas (bukan bebas tempat duduk, nanti dikira lesehan). Saya manggut-manggut saja. Ketika tiba di ruang tunggu dan tampak penumpangnya berjubel, langsung terbayang apa yang akan terjadi ketika nanti panggilan boarding dikumandangkan.

Jam keberangkatan tergolong on-time, telat-telat beberapa menit masih okelah…. Konon, ketepatan waktunya berada pada level 90%-an. Begitu panggilan boarding menggema, spontan semua penumpang berdiri dan mak grudug…. mendekat ke pintu lorong yang menuju ke pesawat. Tapi ada kebijaksanaan tambahan. Bagi yang membeli karcis Xpress Boarding (akan dipanggil namanya) dipersilakan untuk masuk pesawat duluan. Barulah kemudian para penumpang “penggembira” alias peserta antrian umum sisanya berebut menuju pintu lorong.

Fasilitas Xpress Boarding dijual kepada penumpang siapa saja. Untuk penerbangan domestik harganya Rp 25.000,- (dewasa) dan Rp 12.500,- (anak-anak dan usia lanjut). Untuk penerbangan internasional sekitar dua kalinya. Cukup murah. Tapi tampaknya tidak banyak yang memanfaatkan fasilitas ini. Padahal dengan fasilitas ini dijanjikan bisa masuk pesawat duluan yang berarti dapat memilih tempat duduk. Fasilitas ini diberikan gratis hanya kepada mereka yang sudah udzur, usia di atas 65 tahun. Saya bayangkan kalau suatu saat nanti banyak penumpang yang membeli fasilitas Xpress Boarding, akan berebutan juga jadinya.

Serunya justru ketika giliran penumpang “penggembira” dipersilakan mulai masuk pesawat. Seperti mau antri beli karcis kereta api mudik atau nonon sepak bola. Para penumpang berebut untuk duluan, agak dorong-dorongan, meski lebih sopan dan tidak separah antrian pembagian zakat. Tapi tetap saja kudu siap agak himpit-himpitan karena didorong antrian yang di belakangnya.

Tidak itu saja. Selepas lorong terminal rupanya pesawatnya parkir agak jauh. Jadi harus naik bis pengantaran penumpang menuju ke pesawat. Penumpang pun pada memilih untuk berdiri di dekat pintu dan rela bergelantungan agar nanti bisa duluan naik tangga pesawat. Sampai-sampai sopir bis dan petugasnya harus berteriak-teriak agar tempat duduk yang telah tersedia berada di bagian depan dan belakang bis supaya diisi terlebih dahulu.

Ketika bis tiba di dekat pesawat dan pintu otomatis terbuka, para “penggembira” ini berhamburan menuju tangga pesawat. Barulah setelah sampai di dalam pesawat, longak-longok dan tolah-toleh mencari tempat duduk dan memilih kalau masih ada. Kalau kebetulan berada di urutan belakang saat memasuki pesawat, terpaksa harus menerima tempat duduk mana saja yang masih kosong tersisa.

Karena saya baru pertama kali menggunakan jasa maskapai Air Asia, saya membayangkan apa iya setiap hari kejadiannya seperti itu. Padahal setiap hari ada banyak penerbangan Air Asia. Saya tidak tahu persisnya, apakah mengatur nomor tempat duduk ada kaitannya dengan harga tiket yang murah. Saya tidak paham hubungan-hubungan efisiensi ekonomisnya.

Yang saya tahu bahwa untuk naik pesawat Air Asia diperlukan bekal kesiapan tambahan, yaitu siap rebutan untuk masuk ke pesawat lebih dahulu atau siap (me)ngalah yang penting tetap bisa duduk di dalam pesawat.

Kalau ada pepatah Jawa, “wong ngalah gede wekasane” (orang yang mau mengalah akan meraih kebaikan di belakang hari). Mestinya juga ada pepatah “wong rebutan gede rekasane” (orang yang mau berebut memerlukan energi ekstra). Bedanya, kalau yang pertama tanpa modal, dan “imbalan”-nya entah apa dan kapan. Kalau yang kedua bermodal tenaga dulu baru kemudian dapat hasil sesaat, ya milih tempat duduk itu. Tinggal pilih yang mana, mau rebutan atau ngalah…..   

Yogyakarta, 31 Oktober 2007.
Yusuf Iskandar

Pake HP Rame-rame

4 Mei 2008

Tulisan ini terinspirasi oleh posting di beberapa milis tentang bahaya sinyal HP atau telepon genggam bagi aktifitas penerbangan. Bahkan yang lebih mengerikan, diceriterakan juga tentang beberapa peristiwa kecelakaan angkutan udara yang diduga akibat dari sinyak HP yang mengganggu lalulintas komunikasi dan navigasi pesawat terbang.

Mudah-mudahan para pemilik dan pengguna HP mulai lebih memahami bahaya serius dari gangguan sinyal ini, bukannya nggugu karepe dhewe (semaunya sendiri)…, wong HP, HP-nya sendiri….!

***

Setelah tertunda agak lama, akhirnya sore itu pesawat Mandara Air jurusan Balikpapan – Yogyakarta sudah melayang-layang di angkasa kota Yogyakarta. Sebentar lagi akan mendarat. Ikat pinggang sudah dikencangkan, sandaran kursi sudah ditegakkan, meja di depan tempat duduk sudah dilipat. Sampai kemudian berkumandang pengumuman dari pramugari bahwa cuaca buruk dan awan tebal masih bergelayut di atas kota Yogyakarta membuat jarak pandang tidak aman bagi pesawat untuk mendarat. Maka penerbangan dialihkan dan dijadwalkan mendarat di bandara Juanda Surabaya 30 menit kemudian.

Semua penumpang diam, manut saja. Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang protes, tidak ada yang berani bersorak : “Huuuuuu…..”. Agaknya semua mafhum, lebih baik diberi bonus mampir Surabaya ketimbang dipaksakan mendarat dengan mengambil resiko menanggung bayang-bayang ancaman kecelakaan.

Kira-kira tiga puluh menit kemudian, pesawat pun mendarat dengan agak mulus di landasan bandara Juanda. Begitu pesawat berhenti, mandeg greg….., spontan terdengar aneka nada suara telepon genggam dinyalakan. Sangking penasarannya saya berdiri, dan menjadi satu-satunya penumpang yang langsung berdiri selain pramugari, lalu saya sempatkan melempar pandangan ke sekeliling penumpang pesawat.

Sumprit…., hampir semua penumpang asyik dengan telepon genggamnya. Kalau bisa saya kelompokkan, saat itu ada tiga golongan penumpang. Golongan pertama, adalah penumpang yang langsung berteriak : “Halooo…..”, lalu diikuti pembicaraan bahwa pesawatnya mendarat di Surabaya….., tiba di Yogya terlambat embuh kapan….., tidak usah dijemput saja….., nanti dikabari lagi….., tunggu ya……, dan kalimat-kalimat pembuka yang semacam itu. Ada yang bicaranya pelan, ada juga yang volumenya seperti bakul pasar sehingga membuat sebagian penumpang lainnya senyam-senyum.

Golongan kedua, adalah penumpang yang nggethuk… keasyikan memainkan jari-jarinya  di atas tuts sedang menulis SMS. Saya yakin bunyi SMS-nya tidak jauh-jauh dari kata-kata yang saya ceritakan di atas.

Golongan ketiga, adalah penumpang yang duduk tidak perduli, entah karena tidak membawa HP, atau memang tidak merasa perlu melakukan apapaun, atau yang HP-nya kurang ramah sinyal seperti HP saya (sebab waktu membeli HP dulu lupa membeli sinyalnya sekalian…..).

Inilah kemajuan teknologi. Salah satu keuntungan dari HP adalah sebagai alat komunikasi jika terjadi keadaan yang di luar rencana. Ya, seperti ketika perjalanan Balikpapan – Yogyakarta sore itu. Maka terjadilah peristiwa pake HP rame-rame seperti potong padi di sawah…. Belum sempat mesin pesawat mereda gemuruhnya, seisi pesawat sudah riuh dengan hola-halo dan tat-tit-tut….. Untung saja tidak nekat ketika pesawat masih di udara.

Untung ada HP, bisa menjadi hiburan di kala (sebenarnya) hati sedang kesal karena akhirnya mesti menunggu pesawat diterbangkan kembali ke Yogyakarta saat hari mulai gelap.

Yogyakarta, 6 Juni 2007
Yusuf Iskandar

Yang Terpaksa Dan Yang Ingin

4 Mei 2008

Jam sudah menunjukkan lebih jam sepuluh malam di Yogya, ketika HP milik seorang teman tiba-tiba berdering memanggil-manggil. Di seberang sana terdengar suara seseorang meminta agar besok bertemu di Jakarta. Karena sisa waktu yang sangat sempit dan mendadak, maka satu-satunya cara untuk mencapai Jakarta dengan cepat adalah pagi-pagi besoknya pergi ke bandara lalu terbang.

Hanya masalahnya, teman yang mau ke Jakarta ini adalah seseorang yang agak-agak mengidap aviophobia (takut terbang). Tentu saja ini adalah situasi yang sangat tidak disukainya, karena berarti dia tidak punya alternatif untuk nyepur.

Semalaman sengaja dia tidak segera berangkat tidur, melainkan justru berusaha mengurangi jam tidurnya. Bagaimana agar sisa waktu tidur malamnya tinggal sesedikit mungkin, sebelum besok paginya naik pesawat ke Jakarta. Hal ini memang disengaja dan bukan karena didera rasa gelisah.

Hasilnya ternyata cukup mujarab untuk menyiasati atau menaklukkan rasa takut terbang. Begitu pantat menempel tempat duduk di dalam pesawat ketika masih di bandara Adisutjipto, tidak lama kemudian teman saya tertidur pulas. Hal yang sama terulang kembali sebelum pesawat mendarat di Cengkareng.

Maka, ketika teman saya ini terpaksa harus naik pesawat terbang juga, dia pun rela kehilangan detik-detik take-off dan landing……

***

Barangkali kita masih ingat ketika dulu pernah punya keinginan : bagaimana ya rasanya naik pesawat terbang?. Akhirnya kesampaian juga. Itupun karena naik pesawat kemudian menjadi bagian dari tuntutan pekerjaan. Terutama bagi mereka yang menjadi orang lapangan (maksudnya, bukan pekerja kantoran), sehingga harus mibar-miber kesana-kemari naik pesawat terbang.

Namun lain halnya kalau yang kepingin merasakan naik pesawat terbang itu adalah para kepala sekolah di sebuah kecamatan di lereng gunung Merbabu, tetangganya gunung Merapi yang mau njeblug itu. Boro-boro tuntutan pekerjaan, menuntut pun belum tentu kesampaian.

Maka beramai-ramailah para kepala sekolah beserta keluargnya urunan untuk melakukan darmawisata ke Jakarta dan Bandung tiga hari dua malam. Jangan dilupakan bahwa selain menjadi kepala sekolah, mereka umumnya adalah juga petani di desanya. Itinerary pun disusun, pokoknya berangkat naik pesawat terbang, pulangnya naik kereta api. Entah selama di Jakarta mau berdarma dan berwisata kemana tidak penting, asal ada acara naik pesawat dan naik kereta api. Pasalnya, dari 47 orang anggota rombongan itu hanya tiga orang.diantaranya yang pernah merasakan naik pesawat terbang dan hanya sepuluh orang diantaranya yang pernah merasakan naik kereta api.

Maka pada Jum’at pagi umun-umun kemarin berkumpullah serombongan kepala sekolah dan keluarganya turun gunung lalu berduyun-duyun menuju bandara Adisutjipto. Belum jam enam pagi mereka sudah bergerombol di depan terminal keberangkatan. Tidak ketinggalan masing-masing sudah membawa sekotak kardus berisi kue resoles, arem-arem dan klethikan untuk bekal sarapan pagi.

Lalu tiba saatnya sang pimpinan rombongan memberi komando kepada 47 orang berseragam kaos putih untuk memasuki terminal keberangkatan. Tidak lama lagi mereka bakal menikmati bagaimana rasanya naik pesawat terbang….. ngueng…ngueng…ngueeeeeng….., lalu lusa naik kereta api….. tut…tut…tuuuut……

Sayang, saya tidak berada dalam satu pesawat dengan rombongan itu. Terbayang betapa sang pimpinan rombongan harus pandai mengontrol urat sabarnya melayani anggota rombongannya. Pasti seru bin heboh di dalam kabin sana, atau sebaliknya malah sama sekali sunyi-senyap, tegang….. “Have a nice flight pak dan bu guru…..!”.

Cengkareng, 13 Mei 2006.
Yusuf Iskandar

Nenek-nenek Amerika

2 Maret 2008

Minggu yang lalu saya melakukan perjalanan ke kota Phoenix (ibukota negara bagian Arizona). Wilayah Arizona ini berada di sebelah selatan agak ke barat daratan Amerika dan di sebelah selatannya berbatasan dengan negara Mexico. Perjalanannya sendiri sebenarnya hal yang biasa-biasa saja, dalam arti saya berangkat dan pulang naik pesawat, siang hari kerja dan malam tidur di hotel. Namun justru dalam hal yang biasa itu saya menjumpai dan mengalami beberapa kejadian menarik yang berkaitan dengan perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.

Seperti biasanya ketika hendak berangkat menuju bandara saya menilpun taksi. Pagi itu, Rabu, 7 Juni 2000, ternyata taksi yang menjemput saya disopiri oleh seorang wanita, yang lebih tepat saya sebut seorang nenek. Meskipun saya lupa menanyakan umurnya, tapi dia mengaku mempunyai dua orang anak sebaya saya dan mempunyai dua orang cucu yang sebaya anak saya. Maka saya taksir usianya sekitar 60-an. Tapi jangan heran, pagi itu dia masih mampu melaju dengan cermat pada kecepatan lebih 50 mil/jam (lebih 80 km/jam), malah memberi bonus dengan dua kali menyerobot lampu kuning yang sudah menjelang merah, saat melalui perempatan jalan.

Tahun ini adalah tahun ke-13 dia menyopiri taksi miliknya sendiri. Dia bergabung dengan perusahaan jasa angkutan yang bertindak sebagai dispatcher (pengatur perjalanan) dengan membayar sejumlah biaya per bulannya. Dia mengaku menarik taksi hanya pada siang hari dari Senin hingga Jum’at saja. Selebihnya hari Sabtu dan Minggu adalah hari-hari milik cucu-cucunya dan milik hari tuanya sendiri (yang menurut pikiran saya malah sebenarnya jadi tidak punya hari tua). Apa yang membanggakannya? Dia merasa menjadi juragan bagi usahanya sendiri, berkehidupan mandiri tanpa bergantung pada orang lain.

Ketika transit di bandara internasional Houston (Texas), karena menunggu pesawat lanjutan yang masih cukup lama, saya duduk-duduk di kafe menghadap ke lorong di dalam bandara sambil makan pizza sebagai makan siang. Di depan saya lewat seorang ibu agak gemuk yang juga lebih tepat saya sebut nenek kalau melihat raut muka dan penampilannya. Sambil berjalan lambat dia mendorong trolly atau kereta dorong untuk barang bawaan menuju ke ruang tunggu.

Entah kenapa, barangkali menyusun barangnya kurang rapi, sebuah tasnya yang ternyata belum rapat ditutup tiba-tiba merosot ke belakang dan jatuh tepat di depan langkah kakinya. Hal yang tiba-tiba ini tentu saja membuat sang nenek lambat untuk bereaksi menghindar, dan diapun tersandung tasnya sendiri yang lalu berantakan. Gerak refleksnya membuat dia lalu berpegang erat pada kereta dorongnya, yang kemudian berakibat keretanya mendongak ke atas karena terbebani di bagian belakangnya. Akhirnya kereta dorong itu rubuh bersama-sama dengan badan gemuk sang nenek yang masih memeganginya. Minuman coke-nya pun tumpah bersama es batu yang menyebar di lantai berkarpet.

Tidak ada orang lain yang berada lebih dekat dari saya saat itu, maka spontan saya hampiri sang nenek, saya bantu merapikan barang bawaannya, sambil tidak lupa mengajukan pertanyaan “standard” : “Are you OK?”. Setelah yakin sang nenek memang OK punya, sayapun kembali ke tempat duduk saya di kafe. Sang nenek kemudian berjalan menepi membuang gelas kertas tempat coke-nya yang sudah kosong itu ke tempat sampah, sambil kedua tangannya memegangi pinggangnya. Kemudian dia mendorong keretanya pelan dan menjauh. Barangkali mau mencari tempat duduk yang agak longgar agar bisa beristirahat sambil mengelus-elus boyoknya (pinggangnya) yang sakit, pikir saya.

Sampai di sini saya menduga episode nenek jatuh sudah selesai. Ternyata dugaan saya keliru. Sesaat kemudian nenek itu kembali lagi dengan membawa benda warna jingga berbentuk corongan plastik, persis sama seperti yang biasa dipergunakan oleh pekerja yang sedang memperbaiki jalan raya atau yang dipakai Pak Polisi untuk mengalihkan lajur jalan. Corongan itu lalu diletakkannya di depan tempat tumpahan minumannya tadi. Saya hanya bisa berkesimpulan, rupanya sekalipun sang nenek sudah kepayahan akibat jatuh tadi, dia masih sempat berupaya agar orang lain tidak terganggu oleh bekas tumpahan es batu yang berserakan di lantai yang basah oleh coke-nya itu.

***

Agak lama saya menunggu pesawat lanjutan menuju Phoenix, yang nantinya ternyata memang batal terbang, saya pindah duduk di dekat dinding kaca yang menghadap ke landas pacu pesawat. Di depan sebelah kanan saya ada seorang nenek duduk bersama dengan cucu perempuannya yang agak cerewet khas anak-anak. Terjadi dialog antara mereka berdua yang membuat saya tersenyum dalam hati.

Sang cucu rupanya mengajak main tebak-tebakan dengan neneknya. Bandar udara Houston memang cukup ramai lalu lintas penerbangannya, sehingga setiap kali ada pesawat lewat dan tampak di depannya, sang cucu berkata : “Pesawat itu mau naik”. Sang nenek yang lagi asyik merenda benang yang agaknya memang sengaja dibawa dari rumah, lalu menengok ke depan dan menjawab : “Bukan, itu baru saja mendarat dan mau berhenti menurunkan penumpangnya”.

Ada lagi pesawat lewat, sang cucu berkata lagi :
“Nah, itu juga mau terbang”.
“Itu juga mau berhenti”, kata neneknya membenarkan omongan sang cucu.

Ada lagi pesawat lewat :
“Nah, itu mau berhenti”, kata sang cucu.
“Kalau yang itu mau terbang”, kata sang nenek sambil menolehkan kepalanya ke depan lagi.

Ada lagi pesawat lewat :
“Itu berangkat lagi”, kata sang cucu.
“Itu mau berhenti”, kata sang nenek.
“Itu ada lagi”, kata cucunya lagi. Rupanya lama-lama sang nenek yang lagi asyik merenda benang merasa kesal juga dengan laku cerewet sang cucu. Lalu dengan cuek sang nenekpun nyeletuk yang kira-kira begini : “Embuh, ah…..”.

Sesayang-sayangnya seorang nenek terhadap cucunya, suatu saat ternyata bisa juga dia kehilangan kesabarannya, saat dia sendiri sedang asyik dengan kesukaannya. Manusiawi sekali.

***

Dalam perjalanan saya kembali ke New Orleans sembilan hari kemudian, Jum’at, 16 Juni 2000, lagi-lagi pesawat dari Phoenix dibatalkan, sehingga rute penerbangan saya dialihkan dari semestinya transit di Houston (Texas) menjadi transit via Denver (Colorado).

Di bandara Denver, sambil menunggu pesawat sambungan menuju New Orleans, saat itu sekitar jam 7:00 malam, saya mampir ke sebuah kafe untuk mencari sekedar pengganti makan malam. Ketika antri di depan kasir, di depan saya ada seorang nenek. Kali ini benar-benar seorang nenek kalau melihat raut mukanya yang sudah keriput dan berjalannya yang thunuk-thunuk (sangat pelan dengan badan agak membungkuk), kira-kira kalau berjalan dengan langkah saya satu banding tiga. Pendengarannyapun sudah berkurang, terbukti kasir kafe dicuekin saja ketika mengajak bicara saat membayar.

Setelah memperoleh apa yang dipesannya, dengan santai diapun berdiri menambahkan gula dan creamer ke dalam kopinya (memang sudah biasanya hanya akan diberikan kopi tanpa gula kalau kita pesan kopi). Sang nenek lalu berdiri di pojok menikmati makanannya. Kebetulan saat itu kafe sedang penuh orang-orang muda yang sambil makan menyaksikan siaran langsung di layar TV lebar final kejuaraan basket NBA putaran kelima antara Pacers (Indiana) melawan Lakers (Los Angeles), yang akhirnya dimenangi oleh Pacers dengan skor 120-87 dan membuka peluangnya untuk menyelesaikan the best-seven.

Barangkali inilah cermin kemandirian (dan individualis?) manusia Amerika. Tanpa perduli laki-laki atau perempuan, tua atau muda, setiap orang dianggap mesti mandiri dengan keberadaannya. Maka yang lalu terjadi adalah, seorang nenek setua itu masih sanggup bepergian seorang diri (meskipun naik pesawat) dan makan sambil berdiri di pojok kafe yang penuh orang, sementara puluhan orang muda tanpa perlu merasa sungkan atau tidak sopan bersorak di tempat duduknya di sebelah sang nenek ketika seorang pemain Lakers berhasil membuat nilai.

Malam harinya, di dalam pesawat menuju New Orleans, di samping kiri saya duduk seorang nenek dan di sampingnya lagi duduk seorang ibu yang kira-kira berusia sedikit di atas saya yang ternyata adalah anak dari nenek di sebelah saya. Sejak duduk di pesawat nenek tadi mulai membuka-buka majalah wanita (saya lupa memperhatikan nama majalahnya), hingga seperempat perjalanan sang nenek ini asyik saja membaca. Hingga saya tertidur dia masih membaca.

Saat saya terbangun dia juga masih saja membaca. Kelihatannya sang nenek di sebelah saya ini punya kebiasaan yang bagi saya tidak umumnya dilakukan oleh seorang nenek ketika sedang dalam perjalanan, yaitu membaca dan membaca. Saya jadi ingat, boro-boro membaca, nenek saya di kampung sana pasti memilih tidur kalau sedang dalam perjalanan, atau (katakanlah) sedang menghabiskan waktu.

Ketika tiba di New Orleans tengah malam, sang nenek sempat nyeletuk kepada saya “Tadi enak sekali tidurnya”. Saya paham itu pertanyaan basa-basi, lalu sayapun menjawab juga sebagai basa-basi :”Iya, terima kasih”. Entah kata-katanya itu pujian atau sindiran (karena malam itu memang saya merasa sangat capek hingga tertidur lelap), saya tetap perlu berterima kasih sebagai basa-basi gaya Amerika.

***

Ada tingkah laku, pola hidup dan kebiasaan yang bagi saya berbeda dari yang biasanya saya jumpai dengan nenek-nenek di kampung saya di Jawa sana. Barangkali saja semua peristiwa yang saya jumpai dan alami tadi adalah kebetulan belaka, atau tidak berlaku umum bagi setiap nenek di Amerika. Akan tetapi, paling tidak saya telah menemukan kesan bahwa ada kebiasaan (yang tentunya tumbuh akibat didikan sejak kecil) dalam diri nenek-nenek itu yang bernilai positif : mandiri dan percaya diri. Nilai-nilai itulah yang justru seringkali membuat kita terpuruk di belantara pergaulan masyarakat global.

Barangkali kesan saya keliru, tapi yang jelas saya merasa senang dan terhibur bisa belajar dari melihat perilaku dan pola hidup nenek-nenek Amerika.-

New Orleans, 20 Juni 2000.-
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar