Archive for Agustus, 2010

Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji

29 Agustus 2010

Suatu ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung dan berencana naik kereta api Malabar yang berangkat dari Stasiun Hall Bandung jam 15:30. Rupanya hari itu saya keasyikan melewatkan waktu siang ditambah dengan lalu lintas kota yang cukup padat, sehingga terlambat tiba di stasiun. Sebagai gantinya saya mencari karcis kereta jam-jam sesudahnya, karena sebelumnya saya sempat menilpun call centre katanya tiket masih banyak. Ternyata sore itu semua tiket kereta menuju arah timur untuk hari itu sudah habis. Mencoba menghubungi agen travel sebagai alternatif ternyata juga sudah tidak tersedia perjalanan hari itu.

Saya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung dan pulang ke Jogja dengan kereta besok paginya. Sementara saya dheleg-dheleg (terbengong-bengong) karena harus menunda kepulangan ke Jogja, mampirlah saya ke mushola yang ada di ujung kiri stasiun, untuk sholat Dzuhur wal-Ashar, sambil berdoa agar pikiran tidak kemrungsung dan semoga ada pencerahan. (Jadi kalau lain kali Anda dheleg-dheleg, dimanapun Anda berada, mampirlah ke mushola atau masjid terdekat. Insya Allah akan menemukan hikmahnya. Tapi ya sholat, jangan hanya pindah dheleg-dheleg).

Usai sholat saya sempatkan mengobrol dengan penjaga mushola yang ternyata orangnya beda dengan yang pernah saya jumpai beberapa bulan sebelumnya. Dari obrolan dengan penjaga mushola yang belakangan saya ketahui bernama pak Syahroni itu saya ditanya : “Tadi tidak ada orang yang nawarin tiket?”. Saya langsung paham apa yang dimaksud, pasti beli tiket ke calo. Sejenak kemudian saya pamit kepada pak Syahroni sambil menitipkan tas. Saya hendak melihat-lihat ke bagian penjualan tiket di stasiun siapa tahu dapat inspirasi.

Benar juga. Saya dihampiri seorang bapak tua yang katanya bisa mengusahakan tiket ke Jogja malam itu. Tapi harga tiketnya Rp 100.000,- lebih mahal di atas harga loket. Tanpa pikir panjang langsung saya setujui, ketimbang harus menginap semalam di Bandung. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket KA Lodaya keberangkatan jam 8 malam, dengan harga calo tentu saja.

Menunggu waktu keberangkatan malam harinya, sore itu saya memiliki banyak waktu luang yang kemudian saya habiskan untuk mengobrol dengan pak Syahroni sang penjaga mushola. Rupanya pembicaraan semakin mengasyikkan dan akrab. Bahkan pak Syahroni yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengurusi mushola stasiun itu menawari saya untuk dipesankan minuman ke kedai di dekat situ, juga menawari akan dibelikan rokok. Tentu saja, yang pertama saya setujui tapi yang kedua saya tolak. Tak terasa obrolan terus berlanjut hingga masuk waktu maghrib bahkan isya, sampai akhirnya saya berpamitan sesaat menjelang keberangkatan kereta Lodaya yang akan meninggalkan Bandung.

***

Pak Syahroni yang kini bertempat tinggal di daerah Soreang, Bandung, bersama seorang istri dan ketiga anaknya itu rupanya seorang yang sederhana tapi berwawasan cukup luas. Meski sehari-harinya bertugas mengurusi dan menjaga mushola, namun beliau sering diminta untuk mengisi pengajian agama di lingkungan pegawai stasiun Bandung. Di kampungnya pun beliau membantu memberi pengajaran agama kepada sekitar 40 orang anak-anak di lingkungan rumah tinggalnya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk tujuan ibadah tanpa berharap imbalan, alias dilakukannya dengan gratis. Di kampungnya pula pak Syahroni sering terlibat dan dipercaya mengisi kegiatan keagamaan.

Sudah 18 tahun pak Syahroni (kini berusia 45 tahun) menekuni pekerjaannya sebagai penjaga mushola stasiun tanpa pernah mengeluh. Tanpa gaji, tanpa honor, dan satu-satunya sumber penghasilannya adalah dari pemasukan kotak infak mushola stasiun yang dibagi dua dengan seorang teman kerjanya sesama penjaga mushola (yang juga pernah saya kenal, bernama pak Nanang). Hasil infak itu pun masih dipakai sebagiannya untuk biaya operasi mushola antara lain untuk perbaikan-perbaikan kecil, kebersihan, dsb. Bisa saya bayangkan, pasti tidak seberapa nilai “take home pay” yang bisa diperolehnya untuk menghidupi keluarganya.

Di balik semangatnya untuk terus ingin mengurus mushola dan menekuni pengabdian ibadahnya mengajarkan agama kepada siapapun tanpa berharap imbalan lebih, pak Syahroni memimpikan ingin pada suatu saat nanti bisa pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Pak Syahroni menceritakan impiannya itu sambil tertawa, seolah menyadari bahwa impiannya itu memang sekedar impian yang nyaris tak mungkin bakal terwujud. Namun beliau sangat yakin bahwa jika Allah menghendaki maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan saking kepinginnya untuk dapat pergi ke Mekkah, tanpa ragu-ragu setiap kali membicarakan tentang ibadah haji, dengan percaya diri pak Syahroni mengatakan kepada siapapun: “Insya Allah tahun depan saya akan pergi ke tanah suci”. Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkannya. Tapi doanya tak pernah putus.

Tentu saja, saya harus memberi dorongan semangat kepada beliau. Bak seorang “tukang kompor” (motivator, maksudnya), saya katakan : “Benar pak, jangan berhenti berharap dan berdoa. Insya Allah impian bapak akan terwujud. Dan, Insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan bapak benar-benar berangkat ke tanah suci pada suatu saat nanti”.

***

Pengalaman sejenak bersama pak Syahroni itu saya tuliskan sebagai cersta (cerita status) di Facebook, sekedar ingin berbagi pengalaman kepada sahabat-sahabat saya di Facebook. Bunyi status saya begini:

Sdh 18 th ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji ato honor, mlainkn hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kpingin skali naik haji. Stiap thn mngatakn: “insya Allah thn depan ke tnh suci”. Kini entah sdh thn ke brp kalimat itu diwiridkan. Tp doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur sy panjang, sy ingin mnyaksikan Bpk benar2 brngkat ke tanah suci…”. (02/08/2010)

Setelah saya mem-posting status di Facebook itu, ternyata beberapa sahabat memberi respon yang di luar dugaan saya yang membuat saya merinding dan membangkitkan semangat. Beberapa sahabat malah berniat ingin menyumbangkan sejumlah dana untuk pak Syahroni. Maka kutulis cerita status berikutnya:

Awalnya hnya ingin sharing pngalaman ‘3 jam brsama sang penjaga mushola’ di stasun Bandung. Pak Syahroni, pnjaga mushola itu ingin skali naik haji, tp satu2nya smber pnghasilan adlh kotak infak. Sy lalu mnjelma mnjd “tukang kompor”. Sy yakinkan: “Insya Allah, niat Bpk akn terwujud. Jngn brhenti berdoa”. Respon rekan2 sungguh mmbuat sy merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (03/08/2010)

Sebenarnya saya sendiri tidak pernah berencana membantu pak Syahroni dari sisi materi, melainkan dalam hati saya berniat membantunya dengan doa. Maka saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Msh ttg impian pak Syahroni (18 th mjd pnjaga, muadzin & imam mushola stasiun Bandung) utk naik haji, sdg pnghsilannya hnya dr kotak infak. Sy tdk prnah brencana mmbantu kcuali dg doa, tdk jg prnh brniat mnggalang dana apalg jd Panitia. Tp mmbaca respon para sahabat, sy jd brgairah spt ktika mlm Jum’at tiba (utk lbh bnyak tadarus, maksudnya) & adrenalin sy mningkat spt ktika mndaki gunung. (03/08/2010)

Siang tadi sy bicara via telp dg pak Syahroni. Trdengar dr bicaranya beliau terkejut, dgn terbata2 mngucap syukur & ‘hatur nuhun’. Sgr akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, shg siapapun yg berniat sedekah utk pak Syahroni, tinggal transfer ke rek tsb (boleh jg via sy). Ini akan mnjd bukti ksungguhan seorg hamba utk mmnuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yg mnggenapi.  (03/08/2010)

Pak Syahroni ini memang bukan apa-apa saya, selain sekedar seseorang yang baru saya kenal di stasiun Bandung. Namun semangatnya untuk bisa menunaikan ibadah haji sungguh sangat menginspirasi, bahkan di mata sahabat-sahabat saya yang tersentuh hatinya untuk berempati kepada pak Syahroni. Kemudian saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Prlu dketahui bhw pak Syahroni ini bkn apa2 sy. Ttangga bkn, famili apalg, teman jg br kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan & ketulusan niatnya utk pergi haji benar2 mnginspirasi sy. Klo ada yg tanya knapa mau repot2 mmbantunya? Sy tdk tahu. Smua trjd bgitu sj tnpa prnah sy rencana. Brngkali itulah jln rejeki bg pak Syahroni.. “min khoitsu laa yahtasiib (dr sumber yg tak trduga)”. (04/08/2010)

Hingga akhirnya atas bantuan seorang teman di Bandung, pak Syahroni telah membuka rekening Tabungan Haji. Saya tuliskan dalam cerita status saya:

Mmfasilitasi semangat brsedekah rekan2 FB utk pak Syahroni, pnjaga mushola stasiun Bdg (lihat status2 sy sblmnya). Hr ini telah dibuka rekening Tabungan Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8, dg setoran awal Rp 8,5 jt. Sy pesankan kpd beliau: “Jaga niat seolah2 bpk akn sgr brngkt ke tanah suci…. Tabunglah brppun rejeki yg bpk ada & tdk usah dipikir kurangnya, biar Allah swt yg menggenapi…”. (09/08/2010)

Alhamdulillah, hingga saat ini telah terkumpul saldo sejumlah Rp 9,5 juta di rekening Tabungan Haji pak Syahroni. Memang masih jauh dari jumlah minimal yang diperlukan untuk memperoleh nomor urut daftar tunggu.

Ucapan terima kasih ingin saya sampaikan kepada segenap sahabat yang dengan niat tulus ikhlasnya mentransfer sejumlah dana untuk pak Syahroni. Bukan soal jumlah rupiahnya, melainkan berapapun nilai sedekah itu, insya Allah akan menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya mimpi pak Syahroni untuk berkunjung ke tanah suci, entah kapan hal itu akan menjadi kenyataan. Semoga semua kebaikan para sahabat itu akan memperoleh balasan yang jauh lebih baik dari Allah swt. Amin.

NB : Jika masih ada sahabat yang ingin bersedekah untuk pak Syahroni, silakan mentransfer dananya, bisa melalui saya atau langsung ke no. rekening yang tertulis di atas dan tolong kesediannya untuk mengkonfirmasi kepada saya agar saya dapat membantu memonitornya.

Yogyakarta, 29 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Bajigur Tenan…!!

29 Agustus 2010

Warung tiban…”Wedang Bajigur Tenan”, Jl. Babaran, Jogja

(Note: “Bajigur” adalah kata makian yang diperhalus dari aslinya “bajingan”, umumnya di wilayah Jateng-DIY)

Yogyakarta, 28 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Masjidnya Dikunci

29 Agustus 2010

Seorang ibu celingukan di masjid. Mau sholat dzuhur tapi tidak ada mukena, sedang pintu masjid sudah terkunci. Ibu itu pun tidak jadi sholat –

Mengelola masjid jaman sekarang ini memang serba salah. Si takmir punya kesibukan lain, si penjaga tidak selalu stand by di masjid, kalau tidak dikunci khawatir ada jamaah yang merangkap pemulung isi masjid, kalau dikunci nanti ada jamaah yang terlambat lalu tidak bisa masuk masjid, ya seperti ibu itu…

Yogyakarta, 28 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Tertidur Di Masjid

29 Agustus 2010

Usai dzuhur di masjid langgananku. Lalu berbaring di terasnya, yang sejuk lantainya, semilir anginnya, tapi berisik karena ada di pinggir jalan raya. Terlena juga akhirnya, lumayan bisa terlelap sebentar, cukup beberapa puluh menit saja (90 menitan kale…).

Kuingat-ingat kapan ya terakhir aku tidur di masjid saat siang puasa Ramadhan yang terik seperti ini…. Ya, sepertinya itu kualami puluhan tahun yll, saat masa kecil di Kendal, pantura Jateng.

Yogyakarta, 28 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Masjidnya “Libur”?

29 Agustus 2010

Habis berbuka, berwudlu, lalu ke masjid terdekat. Niat ingsun mau berjamaah maghrib. Tapi…, lho kok sepi? Tidak ada orang blasss…. Pada kemana orang-orang ini? Jangan-jangan masjidnya “libur”… Kalau “libur” kok tidak ada pengumuman?

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Bandrek Susu

29 Agustus 2010

Kebiasaan berpuasa orang-orang daripada Indonesia ini memang aneh. Di belahan tanah air beta manapun, kalau berbuka sedikit-sedikit makan kolak, sedikit-sedikit makan kolak… (makan kolak kok cuma sedikit?). Kali ini kucoba berbuka dengan minum ‘bansus’ alias bandrek susu (bingkisan Ramadhan kiriman teman). Mak nyosss…, lha wong fanas….

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iman DanTujuan

29 Agustus 2010

Di kaca belakang bis antar kota Jogja – Wonosari, kubaca tulisan: “Jejeg Imane, Cetho Tujuane” (lurus imannya, jelas tujuannya). Sambil agak mengernyitkan kening kucoba-coba melempar manggis (dasar nggak punya kerjaan…), menerka “Oppoo mangsude… (apa maksudnya)?” –

Sebuah universalitas…, bahwa antara iman dan tujuan itu harus kompak bersinergi, setidak-tidaknya sama-sama menuju ke Wonosari…

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

SMS Tipu-tipu Model Baru

29 Agustus 2010

Datang SMS memelas dari no: 083139014904, isinya: “Beliin dulu mama Pulsa AS/50rb di Nomor baru Mama, Ini Nomor nya 085210981344. Secepat nya penting Sekali, Nanti mama Ganti uang’nya Sekarang mama Tunggu ya?”

Sempat tercenung lama. Salah kirimkah? Tapi sensor “prasangka buruk” di hidungku mencium aroma tipu-tipu model baru. Akhirnya kubalas: “Sampeyan ini simboknya siapa dan sedang kleleran dimana?”. Sayang, tak berbalas…

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Menggapai Lailatul-qadar

29 Agustus 2010

Dalam kesempatan ngultum (memberi kultum), kusampaikan tip dan trik menggapai lailatul-qadar. Sangat mudah, yaitu: “jaring saja seperti ikan di kolam”. Tingkatkan mutu ibadah selama malam-malam paruh kedua Ramadhan, insya Allah ketangkap.

Masalahnya, kita ini suka diiming-iming jurus instan jadi kaya. Akhirnya malam qadar yang sudah pasti datang pun diotak-atik njlimet hitung-hitungan kapan datangnya. Sehingga mau untung jadi buntung karena kehilangan visi ikhlasnya…

Yogyakarta, 27 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Setengah Perjalanan Ramadhan

29 Agustus 2010

Setengah perjalanan Ramadhan terlampaui sudah. Yang sering diucapkan orang: “Ora keroso…(tidak terasa)”. Maka bersiaplah untuk menempuh setengah perjalanan “ora keroso” berikutnya. Jangan sampai nanti kita terkejut tahu-tahu sudah di penghujung Ramadhan, dan baru ngeh : “Wah, belum banyak yang kita lakukan”.

Malam qadar pun berlalu tanpa kesan. Dia pasti pergi untuk kembali, tapi kita? Dan peluang bisnis dahsyat pun terlewati…

Yogyakarta, 26 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Nikmatnya Sebuah Penantian

29 Agustus 2010

“Libur tidak shaum itu nggak enak, tidak ada yang dinanti…”, kata seorang teman (pasti wanita, wong punya “hak” libur puasa).

Menanti antrian dokter, makanan disajikan, teman yang meleseti janji, sungguh menjengkelkan. Tapi menanti untuk bertemu dengan waktu berbuka bagi orang yang sedang berpuasa… Masya Allah, luar biasa nikmatnya. Padahal masih ada satu nikmat lagi yang dijanjikan, dan pasti tidak meleset, yaitu menanti saat berjumpa dengan Allah…

Yogyakarta, 26 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Hikmah Sholat Cara Rasulullah

27 Agustus 2010

Jika suatu kali Anda memilih untuk tarawih 20+3 rakaat, cobalah untuk melakukan dengan cara sholat yang benar gerakannya (mengikuti cara Rasulullah). Maka insya Allah segala macam rasa sakit di kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki.., termasuk pinggang dan punggung akan reda dan terasa nyaman.

Tidak terbukti? Sholat kembali (Opsinya: kembali sholat esoknya atau disholati.., jangan khawatir kalaupun Anda koruptor juga tetap akan disholati kok…).

(NB — Agar tidak diartikan bahwa sholat tarawih itu keharusan, maka benang merahnya adalah : kalau kita sholat tapi kok tidak meraih nilai tambahnya, maka patut dipertanyakan eksistensi penghambaan kita…)

Yogyakarta, 25 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Menuliskan Testimoni

27 Agustus 2010

Tiba-tiba datang permintaan untuk menuliskan sebuah testimoni (untuk endorsement) sebuah buku baru, yaitu buku terjemahan tentang “Bisnis Ritel” yang akan diterbitkan Tiga Serangkai Group; direncananya akan diluncurkan pada Oktober 2010. Teriring doa (mumpung lagi puasa Ramadhan), semoga buku itu nantinya laris manis tanjung kimpul, terjual habis rejekinya ngumpul, yang berkahnya mengalir juga ke Madurejo Swalayan…

Yogyakarta, 25 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Tabungan Haji Pak Syahroni

27 Agustus 2010

Seorang teman mengkonfirmasi telah mentransfer uang untuk Tabungan Haji Pak Syahroni (Cersta dua minggu yll: Penjaga mushola yang ingin naik haji). Kini Tabungan Haji milik Pak Syahroni sebagai bukti kesungguhannya kepada Sang Maha Pemanggil, telah terkumpul Rp 9,5 juta yang semuanya bersumber dari niat tulus sahabat-sahabat FB. Pak Syahroni berucap syukur via SMS: “Jazakumullahu Khairul Jaza.smg Allah melimpah kan Rhmt Nya kpd Bpk dan rekan”.

(cersta : cerita status; FB : facebook)

Yogyakarta, 25 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Dinding Keikhlasan

27 Agustus 2010

Menjelang berbuka sore tadi Jogja hujan. Di perjalanan pulang di satu penggal jalan terlihat lebih sepi. Padahal pada hari-hari sebelumnya selalu padat penjual ransum berbuka, terutama penjual es-esan, seperti es buah, dawet, cendol, kelapa muda, dsb. Es yang mereka siapkan mungkin telah mencair bersama hujan. Pada kemana mereka?

Tentu alam tidak sedang mempurukkan bisnis mereka, melainkan mungkin me-reschedule-nya. Dan di antara dua kemungkinan itu terdapat dinding keikhlasan…

Yogyakarta, 24 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

“Kutunggu Jandamu”

27 Agustus 2010

Ketika sedang ngabuburit berhenti di persimpangan saat lampu lalulintas menyala merah, aku berhenti tepat di belakang bis kota. Di bagian bawah belakang bis kota itu kubaca sebuah tulisan: “Kutunggu Jandamu”. Yo wis kuniati saja. Berapapun lamanya insya Allah akan kutunggu…., lampu merah berganti hijau maksudnya…

Yogyakarta, 24 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Korban SMS “Tipu-tipu”

27 Agustus 2010

Seorang pembaca blog mengeluh, ortunya di kampung telanjur jadi korban SMS “Tipu-tipu”, setelah melakukan ketik REG. Walaupun sudah melakukan UNREG, tetap saja tiap hari ada yang menguras pulsanya secara otomatis (koruptor saja tidak otomatis). “Mohon bantuan”, katanya.

Saya tidak punya nasehat, tapi mungkin baiknya biarkan saja sampai pulsa kita habis, nanti akan berhenti sendiri karena Panitianya tidak punya program untuk ngisi ulang pulsa kita secara otomatis…

Yogyakarta, 24 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Harga Diskon

27 Agustus 2010

Tiga hari yll. saya membeli lampu neon + travo dalam jumlah agak banyak, minta diskon benar-benar tidak dikasih. “Harganya sudah pas”, katanya. Hari ini membeli lagi tambahan lampu dan asesorinya di toko yang sama, dengan orang yang sama, tapi dihargai lebih murah, bahkan minta diskon pun diberi. Jadi?

Dalam banyak kasus, diskon itu bukan soal harga atau untung-rugi, melainkan soal feeling atau rasa, seperti cinta (walaupun cinta tidak sama dengan harga diskon).

Yogyakarta, 24 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Pilihan Sulit

27 Agustus 2010

Ngupy sudah, makan nasi sudah, makan buah sudah, kenyang pasti… Tapi masih ada semangkuk kolak pemberian tetangga. Penghuni rumah sudah nyerah. Untuk sahur pasti nggak kemakan, untuk berbuka besok nggak layak, dibuang mubazir. Jadi? Pilih makan sesudah kenyang atau berlaku mubazir?

Ternyata hidup berkecukupan pun sulit membuat pilihan, maka bersyukurlah ketika kekurangan karena tidak harus membuat pilihan sulit…

Yogyakarta, 23 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

“Sopirnya Ngebut”

27 Agustus 2010

Ada 3 masjid/mushola dalam radius jarak 50 m dari rumah kami tinggal. Tapi anak lanang lebih suka tarawih di masjid lain yang jaraknya dari rumah 100 m lebih sedikit. Katanya: “Sopirnya ngebut…” (mungkin maksudnya agar cepat sampai kembali ke rumah…).

Yogyakarta, 23 Agustus 2010
Yusuf Iskandar