Posts Tagged ‘facebook’

Perjalanan Tidak Mudah Ke Pedalaman Berau

13 April 2011

Pengantar:

Berikut ini adalah catatan perjalanan saya ketika melakukan kunjungan ke lokasi survey pemboran batubara di wilayah kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 25 -31 Maret 2011.

Penggalan catatan ini saya posting di status Facebook sebagai cersta (cerita status) selama periode tanggal 25 Maret s/d 3 April 2011. Tulisan ini sudah saya edit dari tulisan aslinya agar lebih mudah dibaca dan diikuti alur ceritanya. Sekedar ingin berbagi dongeng.

(1) Terbang Ke Tanjung Redeb
(2) Terjebak Kubangan Lumpur, Bermalam Di Jalan Hutan
(3) Menikmati Pagi Sunyi Di Jalan Hutan
(4) Keluar Dari Hutan Dengan Bantuan Bulldozer “Curian”
(5) Bermalam Lagi Di Tanjung Redeb
(6) Mencoba Tidak Menyerah Dengan Upaya Kedua Dan Ketiga
(7) Merenung Untuk Mencoba Sekali Lagi Esok Hari
(8) Berhasil Di Upaya Keempat
(9) Cerita Dari Penghuni Camp
(10) Blusukan Ke Hutan Dan Menemukan Gunung Sinyal
(11) Bersiap Meninggalkan Hutan
(12) Terpaksa Bermalam Di Bedeng Dekat Dermaga
(13) Antara Petuah, Doa Dan Kerja Keras
(14) Terbang Kembali Ke Jogja

Yogyakarta, 25 Maret – 3 April 2011
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan

7 Januari 2011

Catatan Perjalanan:

Saya berkesempatan melakukan perjalanan singkat mengunjungi desa Binai, kecamatan Tanjung Palas Timur, kabupaten Bulungan dari tanggal 1-4 Desember 2010 dalam rangka kunjungan lapangan ke lokasi potensi batubara di salah satu wilayah kabupaten Bulungan (Kaltim).

Saya membuat catatan-catatan pendek tentang pikiran, renungan, inspirasi dan apa saja yang ringan, mengusik dan melintas di pikiran termasuk guyonan, selama perjalanan saya dan lalu menuliskannya di Facebook. Catatan-catatan pendek itu saya kumpulkan dan saya susun kembali sebagai penggalan catatan perjalanan (setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca).

Catatan Harian Untuk Merapi

28 Desember 2010

Pengantar :

Tidak seperti ketika kota Yogyakarta dilanda bencana gempa tahun 2006, waktu itu saya sempat menuliskan catatan bersambung dan saya kirimkan ke teman-teman melalui milis/email. Kali ini saya tidak sempat membuat catatan khusus secara bersambung tentang bencana meletusnya gunung Merapi. Kebetulan saya sedang berada di luar daerah ketika Merapi pertama kali meletus tanggal 26 Oktober 2010, sehingga saya hanya sempat membuat catatan-catatan kecil di handphone.

Selain itu, sejak ada fasilitas media jejaring sosial bernama Facebook, saya merasa lebih enjoy dengan menuliskan penggalan-penggalan catatan berupa status di Facebook. Alasan utamanya, lebih mudah dan praktis untuk saya lakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Akan tetapi menyadari bahwa tidak semua teman saya memiliki akun di Facebook, maka terpikir untuk mengumpulkan catatan status Facebook saya, untuk saya share melalui milis/email. Catatan-catatan pendek yang lebih menyerupai catatan harian tentang aktifitas, pikiran, renungan, termasuk guyonan saya terkait bencana meletusnya Merapi ini sepertinya dibuang sayang. Lalu kemudian saya susun dalam beberapa seri setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca. Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur, syukur-syukur membangkitkan empati.

Menyusuri Setengah Trans Sulawesi Dari Makassar Ke Palu

28 Desember 2010

Catatan Perjalanan:

Catatan berikut ini merupakan kumpulan dari penggalan catatan perjalanan yang sudah saya posting sebagai status di Facebook langsung pada saat saya masih berada di perjalanan. Hal ini karena lebih mudah dan praktis untuk dilakukan kapan saja, dimana saja dan sambil apa saja, tanpa saya harus membuka laptop.

Perjalanan menyusuri setengah jalan lintas Trans-Sulawesi dari Makassar sampai ke Palu, saya lakukan dari tanggal 26 sampai 30 Oktober 2010. Perjalanan ini melintasi tiga provinsi Sulsel, Sulbar dan Sulteng, dalam rangka survey batu besi di wilayah kabupaten Mamuju.

Karena tidak semua teman saya ada di Facebook, maka catatan-catatan pendek itu saya kumpulkan dan susun kembali dalam beberapa seri sebagai penggalan catatan perjalanan (setelah saya edit penulisan ejaannya agar lebih enak dibaca). Semoga dapat menjadi bacaan selingan yang menghibur.

Sumpah Pemuda

28 November 2010

Jauh sebelum ada Twitter & Facebook, para pemuda Indonesia sudah nyumpah-nyumpah dengan kurang dari 140 karakter :

Kami putra-putri indonesia
Bertanah air satu, tanah air Indonesia
Berbangsa satu, bangsa Indonesia
Berbahasa satu, bahasa indonesia.

Dan, survey membuktikan…..

Karossa, 28 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Bulan Ramadhan

2 September 2010

Pagi itu saya sengaja tidak tidur setelah makan sahur dan sholat subuh, karena ada agenda pagi yang harus saya penuhi. Padahal biasanya tidur setelah subuhan itu, wow… luar biasa nikmatnya hingga terkadang terasa malas untuk bangun, seolah-olah ingin terus tidur sampai tiba waktu berbuka. Seolah-olah…..

Belum jam delapan pagi, matahari sedang beranjak untuk memulai tugasnya hari itu. Datang seseorang bersepeda lalu duduk di luar pagar halaman rumah. Melihat istri saya keluar, seseorang itu berkata terbata-bata : “Saya temannya Yusuf, temannya Yusuf…”. Seperti kesulitan untuk berkata-kata lebih banyak. Tinggal istri saya kebingungan yang lalu memanggil saya keluar.

Masya Allah, ternyata seseorang itu adalah teman kuliahku dulu. Pagi itu adalah untuk kedua kali saya bertemu sejak terpisah lebih dua puluh tahun yll. Saat pertemuan pertama beberapa bulan sebelumnya, sengaja saya yang mencari rumahnya untuk menemuinya. Teman saya ini tinggal di sebuah rumah sangat sederhana di sudut sebuah perkampungan di kawasan Kotagede, Yogyakarta.

Waktu itu saya sengaja mencarinya setelah memperoleh informasi bahwa teman saya ini sekarang sedang mengalami kesulitan. Tubuhnya yang dulu waktu kuliah tinggi gagah kini terlihat kurus dan loyo digerogoti penyakit stroke dan paru-paru. Tidak lagi mempunyai penghasilan tetap karena pekerjaan terakhirnya sudah ditinggalkannya akibat sakit tak tersembuhkan. Saya sempat menuliskan cerita status di Facebook :

“B2S (Bike to Silaturrahim). Bersepeda.., mencari rumah teman kuliah yang lebih 20 tahun tidak bertemu. Kabar terakhir dia di Jogja menderita stroke. Divonis dokter 10 tahun yll, bakal selamanya di atas tempat tidur, syaraf halusnya sudah mati, tubuh mati separoh, mulut perot, tidak bisa bicara, jalan juga makan. Namun semngat hidupnya memang luar biasa dan didukung kesabaran istrinya yang sama luar biasanya, temanku itu kini mampu jalan, ‘mencuri-curi’ bersepeda…”. (17/04/2010)

Setelah saya sambut kedatangannya pagi itu, kemudian saya bimbing dan saya ajak duduk santai di teras depan rumah. Badannya terlihat kurus dan rapuh. Berjalannya tak lagi tegak. Bicaranya nampak sangat kesulitan. Hanya senyum ramahnya yang masih tersisa menandakan masih ada gairah dan semangat hidup dalam dirinya. Tapi dia sanggup bersepeda dari rumahnya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah saya.

Setelah menanyakan kabarnya, pertanyaan berikutnya adalah : “Apa istrimu tahu kamu bersepeda ke sini?”. Dijawabnya : “Ya dia tahu. Aku tadi pamit”. Agak lega saya mendengar jawabannya. Sebab ketika sebelumnya saya bertemu dengan istrinya, teman saya ini suka mencuri-curi bersepeda kemana-mana padahal kondisi fisiknya sebenarnya tidak memungkinkan. Demi menyambut tamu istimewa saya itu, terpaksa saya menunda keberangkatan ke acara yang seharusnya saya hadiri jam delapan.

Setelah mengobrol kesana-kemari. Akhirnya saya mendengar pengakuannya bahwa dia perlu bantuan keuangan. Dengan menunjukkan sebundel kertas lusuh dari dompetnya yang ternyata adalah bukti pembayaran pembelian obat bertanggal beberapa bulan sebelumnya dari sebuah Rumah Sakit di Jogja. Pendek cerita dia sudah telambat membeli obat karena kesulitan biaya. Mak deg atiku…! Tidak ada yang sempat terpikir di otakku kecuali bahwa teman saya itu sedang berkata yang sebenarnya dan bahwa saya perlu membantunya.

Bukan soal pemberian bantuan yang ingin saya ceritakan. Kalau soal itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik daripada yang saya lakukan. Melainkan perasaan betapa bersyukurnya saya. Bersyukur yang pertama karena pagi itu saya masih dianugerahi keadaan yang lebih baik ketimbang yang sedang dialami oleh teman saya itu. Bersyukur yang kedua karena pagi-pagi saya sudah memperoleh peluang untuk berbagi kebaikan kepada orang lain yang orang lain itu sedang sangat membutuhkannya. Tuhan begitu luar biasa menawarkan sebuah “peluang bisnis” kepada saya pagi itu, di saat saya sedang terburu-buru hendak berangkat memenuhi sebuah komitmen di tempat lain.

Namun tampaknya Tuhan sedang mengajarkan sesuatu. Melalui utusan-Nya pernah disabdakan: “Pergunakan sebaik-baiknya masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa mudamu sebelum masa tuamu…”. Astaghfirullah… Sepuluh tahun yll. teman saya itu karirnya sedang melejit dan bersiap hendak menerima promosi jabatan di sebuah perusahaan BUMN. Namun apa hendak dikata, semuanya seolah lenyap dalam sekejap akibat dirinya tidak sanggup lagi menanggung derita atas serangan stroke yang dialaminya dan hingga kini praktis tak tersembuhkan secara total. Bahkan untuk melakukan pekerjaan sederhana pun dia tak lagi mampu walau semangatnya masih menggebu-gebu.

Jika demikian, tahulah saya bahwa nikmat Tuhan yang pernah dianugerahkan kepada seorang manusia itu tidak ada yang dapat menggaransi akan langgeng selamanya. Ketika Sang Pemberi Nikmat menganggapnya cukup, maka benar-benar cukuplah sampai di situ. Kita sering salah kaprah dalam merespon setiap nikmat yang diberikan Tuhan kepada kita. Ternyata mengucap doa syukur saja belum cukup, melainkan perlu ditambah dengan doa agar kiranya nikmat itu tidak dibreidel sama Tuhan dan agar nikmat itu minimal bertahan tidak dicabut atau dibatalkan.

***

Sempat terpikir, pagi-pagi bukannya saya menerima rejeki tapi malah harus memberi rejeki kepada orang lain. Padahal doa yang sering saya panjatkan adalah agar diberi rejeki yang buanyak, seperti halnya yang saya lakukan saat usai sholat Dhuha sebelum saya menemui teman saya pagi itu. Dan doa itu pun spontan dikabulkan tapi dalam wujud yang sebaliknya, bukan menerima rejeki tapi justru memberi rejeki kepada orang lain.

Nampaknya formula yang harus saya hafalkan adalah bahwa menerima rejeki itu berbanding lurus dengan memberi rejeki kepada orang lain. Sedangkan nominalnya, rejeki yang diterima minimal akan sama besar dengan rejeki yang diberikan kepada orang lain dan bahkan seringkali jauh lebih besar. Maka kalau menurut pernyataan dalam kitab sucinya orang Islam bahwa rejeki itu akan datang dari sumber yang tak terduga (min khaitsu la yahtasib), itu berarti hal yang sama berlaku baik bagi rejeki yang diterima  maupun diberikan, si penerima maupun pemberi.

Oleh karena itu, jika pagi itu saya memperoleh peluang untuk memberi rejeki kepada orang lain berarti harus saya terjemahkan bahwa sesungguhnya saya juga sedang memperoleh portofolio rejeki yang minimal sama nilainya. Kapan cairnya saya tidak tahu, akan tetapi kitab suci yang sama menjanjikan bahwa investasi itu pada saat yang tepat nanti pasti akan diterimakan dan seringkali nilainya jauh lebih besar dari yang pernah diberikan kepada orang lain.

Jika demikian, maka ketika nikmat berupa kemampuan untuk menerima atau memberi itu datang, jangan pernah disia-siakan. Sebab kebaikan yang tersirat di dalam kemampuan untuk memberi maupun menerima hakekatnya adalah sama. Dan tidak ada balasan atas kebaikan itu kecuali kebaikan pula. “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. 55:60-61). Dan ketika Tuhan mengulang-ulang kalimat itu hingga 31 kali, maka mudah-mudahan bukan kepada kita sindiran itu ditujukan. Kalaupun benar demikian, maka pasti terkandung maksud yang lebih baik. Wallahu a’lam…

Yogyakarta, 2 September 2010 (23 Ramadhan 1431H)
Yusuf Iskandar

Pesan Spam Via Facebook

28 Juli 2010

Sebuah pesan masuk ke Inbox Facebook. Alkisah saya menang hadiah yang nilainya bisa untuk nutup dana talangan bank Century, tertanda Dewan Admin Facebook. Lha, ketemu pirang perkoro (apa urusannya), tidak ada hujan tidak ada angin kok ujuk-ujuk saya menjadi pemenang dan berhak atas uang sak hohah (buanyak sekale).

(Biasanya spam seperti ini masuk via email, kalau tidak hadiah, ya hibah. Kini via Inbox Facebook agar terkesan lebih personal).

Yogyakarta, 23 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Ibu Guru Yang Kecopetan

4 Juli 2010

Setelah tugas nyopir dan mengantar istri saya ke tokonya di Madurejo, Sleman, Yogyakarta, saya segera menuju ke masjid terdekat untuk sholat dhuhur. Cuaca siang di seputaran Jogja sedang panas-panasnya. Maka duduk-duduk sambil agak melamun (melamun tapi agak) dan leyeh-leyeh di teras masjid usai sholat dhuhur, sepertinya menjadi selingan aktifitas yang menyejukkan. Selain menyejukkan suasana fisik di tengah teriknya matahari musim kemarau, juga menyejukkan hati dan pikiran usai menunaikan salah satu kewajiban.

Sambil mengisi waktu dengan berbalas SMS (jaman sekarang ini berbalas SMS rupanya sudah menjadi salah satu pilihan cabang aktifitas mengisi waktu), tiba-tiba datang seorang ibu muda naik Mio lalu memarkir sepeda motornya di pelataran masjid. Ibu muda berjilbab itu lalu turun membawa tas cangklong terbuat dari kain dan duduk tidak jauh dari saya duduk bersandar di tiang teras masjid. Sambil melepas sepatu dan kaos kakinya, pandangannya ke lurus depan seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya mencoba mencuri pandang karena saya merasa ada yang aneh. Mau menatap langsung saya merasa tidak enak dan mungkin juga kurang etis (terkadang pikiran saya masih bisa membedakan mana yang etis dan kurang etis, tapi seringkali lupa…).

Sejurus kemudian, tanpa basa-basi atau senyum sapaan, ibu itu bertanya : ”Kantor polisi terdekat dimana ya pak?”. Sepertinya ini pertanyaan yang agak janggal. Saya tidak langsung menjawab, melainkan secepat kilat saya mencoba menyelidik profil kenampakan ibu itu hingga ke plat nomor kendaraan yang dinaikinya. Secepat kilat pula kesimpulan sementara saya bahwa kelihatannya ibu itu bukan orang yang biasa berada di seputaran kawasan situ.

Baru kemudian saya menunjukkan dan memberi ancar-ancar dimana kantor pilisi terdekat berada. Tak ayal rasa penasaran saya belum terjawab. Ada apa dengan ibu itu? Dialog pun berlanjut.

”Lho ada apa bu?”, saya mencoba bertanya menyelidik.

”Saya mau melapor kecopetan”, jawabnya.

”Kecopetan dimana?”, tanya saya lagi.

”Di pom bensin tadi sebelum Prambanan”, jawab ibu itu sambil kemudian menjelaskan ihwal terjadinya aksi pencopetan, setelah saya menanyakan kronologi kejadiannya.

”Sebenarnya tadi ibu sudah melewati kantor polisi sebelum sampai ke sini”.

”Saya tidak tahu pak”.

”Ibu ini dari mana mau kemana?”, tanyaku kemudian.

”Saya dari Sragen mau ke Gombong”.

”Wah, ibu ini nekat sekali. Itu kan jauh kalau naik sepeda motor. Apalagi sendirian”, kataku tidak habis pikir.

”Iya memang, sekitar enam jam perjalanan. Biasanya saya naik bis. Ini soalnya saya buru-buru mau layatan sekalian memulangkan motor ke Gombong”, jawaban itu membuat saya semakin penasaran. Bukan soal kenekatannya, melainkan duduk persoalannya.

Setelah panjang-lebar berdialog karena saya mencoba menelisik dan memastikan bahwa ceritanya benar dan agar saya tidak perlu berprasangka buruk terhadap ibu itu, barulah akhirnya saya percaya bahwa ibu itu tidak sedang mengada-ada dalam rangka mencari keuntungan diri sendiri dengan memperdaya orang lain, alias bukan sedang berupaya pu-tippu

Menurut ceritanya, ibu itu asli Gombong dan hal itu dengan mudah dapat terdeteksi dari logat bicaranya dengan bahasa Indonesia yang ngapak-ngapak, maupun juga dari plat nomor sepeda motor yang dinaikinya. Setelah ibu itu menyadari HP dan dompet seisinya dicuri orang ketika sedang berhenti sholat dhuha di sebuah pom bensin sebelum sampai Prambanan dari arah Solo, dia belok ke selatan berniat mampir ke rumah temannya di Wonosari untuk minta bantuan. Agaknya dia tidak tahu kalau jarak Prambanan – Wonosari itu cukup jauh. Bahkan sialnya lagi ternyata temannya itu sudah lebih dulu berangkat melayat ke Gombong. Itulah sebabnya maka di tengah kebingungannya akhirnya ibu itu mampir ke masjid dimana kebetulan bertemu dengan seorang sopir yang sedang duduk melamun dan leyeh-leyeh di teras masjid.

Baru tiga bulan yang lalu diangkat menjadi guru di Sragen, daerah asal suaminya yang sekarang kerja di Jakarta. Sebenarnya selama ini biasanya kalau pulang ke Gombong naik bis. Tapi karena katanya sekalian mau mengembalikan sepeda motornya dan buru-buru mau melayat, kemudian diputuskan pulang ke Gombong naik sepeda motor, sendirian dengan perkiraan waktu tempuh enam jam! Itulah yang kemudian sempat kulontarkan kata-kata : ”Sampeyan kok nekat banget”.

Niatnya mau sholat dhuhur dulu kok ndilalah di masjid itu tidak tersedia mukena untuk sholat bagi ibu-ibu. Maka ibu itu pun segera hendak pergi lagi, setelah sekali lagi saya memberi ancar-ancar dimana kantor polisi berada. Sambil bersiap melanjutkan perjalanan, ibu itu berkata : ”Saya mau melapor dan mungkin mau pinjam uang ke polisi biar nanti sepeda motornya mau saya titipkan di sana. Saya mau naik bis saja…”.

Ucapan dari ibu guru itu membuat otak saya berpikir cepat. Apakah memang seharusnya ibu itu menempuh cara itu? Tidak adakah solusi yang lebih baik baginya? Apa yang bisa saya lakukan?

Hingga akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepadanya, sambil saya berkata : ”Bu, ini untuk membeli bensin. Ikhlaskan saja dompet ibu yang hilang dan doakan pencurinya, insya Allah ibu akan memperoleh gantinya yang lebih baik”, kataku sok tahu (dan memang dalam situasi tertentu, berperilaku ’sok tahu’ itu adalah sebuah keterampilan yang sangat diperlukan). Semula ibu itu menolak pemberian saya. Namun saya yakinkan bahwa dia lebih membutuhkannya. Tidak lupa kemudian saya wanti-wanti : ”Hati-hati di jalan, bu…!”. Ucapan ”normatif” tapi saya tahu pasti itu cukup membantu menenangkan pikirannya.

***

Bagian terakhir itulah sebenarnya yang menjadi inti dari cerita saya ini. Bukan soal uang yang saya berikan. Kalau itu saya percaya orang lain mampu melakukannya lebih baik dengan jumlah yang lebih banyak. Dalam agama saya, dan juga siapapun (lebih-lebih para pemilk KTP Islam) pasti tahu, perbuatan ”pamer kebaikan” adalah tergolong riya yang dilarang oleh agama. Namun, ternyata tidak setiap pemilik uang sempat dan mampu membuat keputusan cepat untuk melakukan sebuah kebaikan di detk-detik yang boleh dikatakan ”kritikal”. Sebab kalau saja saya kelamaan berpikir, ibu itu pasti sudah telanjur berangkat tanpa saya melakukan tindakan apapun.

Intinya adalah bagaimana kita menangkap sebuah peluang di detik-detik yang dalam istilah persepakbolaan disebut dengan injury time. Juga dikenal ada istilah suddent dead. Siapa duluan membuat gol, atau action langkah kemenangan, dialah yang akan meraih hasilnya. Dalam pengalaman cerita di atas, saya lebih dahulu membuat keputusan untuk berbuat sesuatu di detik-detik terakhir sebelum ibu itu pergi. Bukan tidak mungkin, saya terlambat membuat keputusan sehingga ibu itu lebih dahulu melaju pergi meninggalkan saya yang sesaat setelah itu baru ngeh….. Sesal kemudian tak berguna….

Satu hal lagi, bahwa kesempatan memperoleh peluang seperti itu tidak datang setiap saat. Sekedar ilustrasi, barangkali kita pernah mengalami berangkat dari rumah membawa segepok uang receh dengan harapan kalau nanti ketemu peminta-minta di jalan akan dibagikan. Tapi setelah berjalan melewati banyak perempatan jalan malah tidak satu pun peminta-minta yang kita jumpai. Atau sekali waktu kita pergi hendak bersedekah kepada seseorang dan ternyata setelah dicari-cari, seseorang itu tidak berhasil ditemui. Bahkan dalam kisah di atas, seorang teman yang kebetulan membaca status yang saya tulis di Facebook segera mengontak saya dan berniat menyumbangkan sejumlah uang. Namun sayang sekali, sudah dicari-cari hingga ke kantor polisi Prambanan, ibu itu tidak berhasil dijumpai. Entah sedang singgah kemana ibu itu. Betapa sering kita berniat melakukan kebaikan tapi kesempatannya tidak datang-datang. Tapi ketika kemudian kesempatan itu datang, sepertinya banyak hal membuat ragu dan menghalangi sehingga kita malah tidak melakukan apapun.

Ya, tentang menangkap sebuah peluang, itulah sebenarnya yang saya ingin berbagi melalui cerita ini. Menangkap sebuah peluang ”bisnis” yang dalam pemahaman saya di baliknya terkandung nilai yang tak terukur dan digaransi akan memperoleh return yang tak terhingga nilainya. Hanya sebuah langkah kecil yang relatif tidak berarti banyak. Namun saya ingin meyakinkan bahwa improvisasi keseharian semacam itu terkadang perlu dilakukan, minimal agar irama kehidupan ini tidak membosankan begita-begitu saja…, karena langgam improvisasi yang secara kasat mata tidak seberapa itu akan terasa besar manfaatnya baik bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Namun sekali lagi, tidak banyak orang yang sempat menangkap peluang ”bisnis” semacam ini. Padahal bukan soal ”berapa banyak” yang menjadi esensinya.

Yogyakarta, 28 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Menulis Cerita Status

11 Juni 2010

Sejak menulis status di FB menjadi kebiasaan, saya jadi malas membuat tulisan-tulisan rada panjang. Sepertinya ‘cersta’ (cerita status) alias snapshot fragmen-fragmen pendek via FB menjadi lebih mudah dan praktis ditulis (meski panjangnya terbatas, sehingga sering saya gunakan singkatan-singkatan). Tapi sebenarnya masih tersimpan obsesi, jika diperlukan, status-status saya di FB dapat saya ubah menjadi tulisan lebih panjang agar ‘greget’ dan nuansa emosionalnya lebih terasa…

(Note : FB = Media jejaring sosial Facebook)

Yogyakarta, 4 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Libur Menulis Status

24 Mei 2010

Setelah seminggu libur menulis status, ternyata statusku tidak berubah. Masih tetap: Menikah + 1 istri + 2 anak kandung (Lha mau berubah keburu ada yg marah, malah pakai ngancam. “Ora sudi”, katanya). Padahal maksudnya cuma kepingin ditambahi + 99 anak asuh. Yo wis, ditunda dulu menunggu masa reses berikutnya (seperti anggota Dewan Yth) untuk melakukan lobi, konspirasi, kolusi, cari dukungan dan bekal tambahan, tapi bukan korupsi….

(Yang dimaksud menulis status adalah menulis update cerita atau aktifitas di halaman Facebook)

Yogyakarta, 17 Mei 2010
Yusuf Iskandar

Tentang Cinta Sejati

7 April 2010

Pengantar:

Berikut ini adalah kutipan dari status saya di Facebook tentang cinta sejati (sebagai respon atas status beberapa teman tentang topik yang sama), yang saya ungkapkan dari sudut pandang berbeda melalui penggalan-penggalan cerita puuendek. Sengaja tidak sekaligus saya tuliskan rangkuman penafsiran di balik cerita-cerita ini. Silakan Anda membuat penafsiran menurut pemahaman Anda.

***

(1)

Istri saya lagi nonton acara ‘Take Me Out Indonesia’. Tiba-tiba bertanya:

Cinta sejati kuwi sing piye to?“. Pertanyaan tak terduga membuat saya diam agak lama.
Jawabku kemudian:
Wah, yo embuh..! Yang saya tahu adalah bahwa kita sedang berada di tengah perjalanan, di tahun ke-20, untuk menjawab dan membuktikan tentang cinta sejati itu”.

Jika hari ini ada 1 milyar orang di dunia sedang berkoalisi cinta, maka 20, 30, 40, 50 tahun yang akan datang akan ada 1 milyar pemahaman berbeda tentang cinta sejati.

(2)

Menerima dan menyanjung kelebihan seseorang seringkali lebih mudah dilakukan. Bahkan saking lebihnya malah diecer-ecer ‘disedekahkan’ sepanjang jalan. Tapi tidak demikian dengan kekurangannya, tidak setiap orang siap ‘berkorban’ nombok untuk menutupnya. Salah-salah malah nggrundel sepanjang hayat, bukan berjuang menutup kekurangnnya, melainkan justru memperbesarnya. Maka proses pembuktian cinta sejati pun makin terseok separti mobil Jazz mendaki sungai kering…

Yogyakarta, 10 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(3)

Tahun 1980 saya pernah nonton film di bioskop Rahayu Jogja (sekarang sudah almarhum). Judulnya, kalau nggak salah: ‘Window of the Sky’. Ada sepenggal dialog indah, bunyinya: “True love is beautiful, so if you feel touched, don’t be ashame to cry” (cinta sejati itu indah, jika kamu merasa terharu, jangan malu untuk menangis). Cuma saya heran sendiri, bukan tentang true love-nya, tapi kata-kata itu kok masih teringat, sedang hafalan P4 saja sudah bubar dari kepala..

(P4 adalah pelajaran tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, di jaman Orde Baru)

Yogyakarta, 11 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(4)

Lebih baik aku kau bunuh dengan pedangmu
Asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu
kata penyanyi gambus di televisi sambil jingkrak-jingkrak…

Yen tak pikir-pikir (mumpung pikiran lagi waras..), cinta yang dapat membunuhku itu rupanya datang dari penunggang kuda yang asapnya tak gendong ke mana-mana, yang untuk mendapatkan cinta itu aku harus ber-‘transaksi’ membelinya…

(5)

Padahal di mana-mana cinta hasil ‘transaksi’ itu dijamin pasti luntur, bukan cinta sejati, tidak tulus, rentan terhadap kepentingan, dan… dapat membunuh itu tadi. Termasuk cinta yang tumbuh karena ‘rasa’… (sampai-sampai perlu minta kepada Tuhan hidup satu kali lagi…), ya… rasa asap tembakau maksudnya (Ugh-uk, ugh-uk, terdengar seperti burung hantu, suaranya merdu…)

Yogyakarta, 12 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(6)

Sering kudengar: “Habis sudah, batas kesabaranku!”. Lha memang garis batas kesabaran itu ada dimana? Yang saya tahu jelas batasnya itu ya garis finish, garis polisi, atau mall GVJ (Garis van Java). Tapi kata Thukul: “Sabar itu nggak ada batasnya…” (ini Thukul yang bilang lho!), ketika merespon Anang (mantannya KD) yang sedang penasaran karena merasa habis batas kesabarannya, saat sedang di tengah jalan membuktikan cinta sejati-nya..

(KD : penyanyi Krisdayanti)

Yogyakarta, 13 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(7)

Ketika hendak pergi maghrib-an ke masjid, kupamiti istriku dan kutanya:

“Minta didoain, nggak?“.
Istriku menjawab: “Jelas no…”.
Lalu kataku: “Sini ongkosnya!”.
Jawab istriku: “Ya nanti malam…”.

Inilah jenis ‘transaksi’ perkecualian dari cinta yang dapat membunuh, melainkan rangkaian bunga yang akan menghiasi dan mengharumi lintasan perjalanan panjang yang sedang kami arungi… (Apakah malamnya ongkos jadi dibayarkan? Itu soal lain)

Yogyakarta, 14 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(8)

Seseorang kirim email kepadaku. Dengan nada nelangsa bercerita yang intinya bahwa kekasihnya sekarang ada di US dan ingin sekali dia menyusulnya kesana pada suatu saat, sementara sekarang baru bisa berharap, bermimpi… Bagaimana ya caranya untuk bisa kesana?

Kali ini saya menghindar menjawab dengan nada canda, tapi saya ingin memotivasinya dengan mengatakan: “Bersungguh-sungguhlah dengan harapan dan mimpimu, pada saatnya kelak cinta sejati kalian akan membuktikan selebihnya…”

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(9)

Seorang kenalan yang sudah belasan tahun mengarungi bahtera rumah tangganya, bercerita: “Kalau di rumah sedang tidak ada kesibukan, mending saya pergi keluar. Karena di rumah kalau saya ada salah sedikit saja istriku suka bernyanyi dan suaranya keras sekali. Nggak enak sama tetangga”.

Saya membenarkan, karena bagiku kedengaran seperti sebuah perjuangan untuk mempertahankan bahtera cintanya. Hanya dalam hati saya berharap, semoga perginya itu bukan untuk mengaudisi penyanyi baru…

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(10)

Sebagai penganut Islam, saya mempelajari bahwa sesama muslim itu bersaudara, satu sakit yang lain turut merasakan… Saya juga memplajari bahwa sebagai bukti cinta pada Tuhan (dan RasulNya), maka selalu menyebut namaNya seperti melantunkan ‘nothing compare to You’… Saya juga memplajari bahwa doa dan pujian selalu tertuju padaNya (dan RasulNya) tanpa diminta……

So, bukankah yang demikian itu adalah referensi dan refleksi dalam membangun cinta sejati di dunia?

Yogyakarta, 17 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(11)

Sedih hatiku, mulai hari ini aku di-PHK dari jabatan ‘sopirintendant’ gara-gara ‘boss’ dan putrinya sudah bisa nyopir sendiri. Pangkatku turun jadi sopir tembak, diminta nyopir hanya kalau sedang dibutuhkan saja… Yo wis, disyukuri saja.

Tapi sumprit.., jangan ada yang menyarankan cari ‘boss’ baru. Telanjur sudah tujuh samudra kusebrangi, tujuh gunung kudaki, tujuh gua kutelusuri, insya Allah ku tak ingin pindah ke lain ‘boss’…

Yogyakarta, 20 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(12)

I LIKE MONDAY…karena pada saat fajar menyingsing saya suka membuat keputusan STI (strategis tapi indah) dimana ruh penghambaan saya bermetamorfosis untuk membatalkan diri sebagai manusia ‘sunnah’ (ibadah personal puasa Senin) berubah memjadi manusia ‘wajib’ (ibadah kolektif bersama ‘boss’ saya…). So, setiap kali keputusan metamorfosis itu harus dibuat, maka pertimbangannya harus dalam rangka mengutamakan yang ‘wajib’ ketimbang yang ‘sunnah’…

Yogyakarta, 22 Maret 2010
Yusuf Iskandar

***

(13)

Ketika karakter fisik dan materi tidak lagi menjadi ciri bagi modus eksistensi untuk MEMILIKI (to have), melainkan berganti untuk MENJADI (to be), maka di sanalah cinta sejati tumbuh subur. Masing-masing akan berjuang untuk menyatu saling MENJADI, sebab kalau hanya saling MEMILIKI maka yang dimilikinya itu sangat rentan untuk diganti, ditukar, diubah, dimodifikasi, direkayasa, diakalin, diplekotho…(terinspirasi oleh Eric Fomm).

Yogyakarta, 23 Maret 2010
Yusuf Iskandar

(Note : Yang saya maksud dengan ‘boss’ adalah ibunya anak-anak alias mantan pacar alias istriku tercinta)

Tentang Facebook

26 Maret 2010

Tentang FB (1) — Khotbah Jum’at di masjid dekat rumahku menyinggung soal Facebook. Ini persis seperti orang tidak pernah main bola lalu bicara tentang teknik sepakbola, atau orang tidak pernah puasa bicara tentang kelaparan.

Lha biar Qur’an itu dibolak-balik sampai shobek-shobek…, ya nggak bakalan ketemu kalimat fa-sa-ba, yaf-sa-bu, fesbuk… Maka tinggal bagaimana cara pandang pengguna internet terhadap hewan klangenan bernama fesbook itu…

***

Tentang FB (2) — Kalau yang dilihat oleh pengguna internet di fesbuk itu adalah “wajah” Tuhan, maka kebaikanlah hasilnya. Kalau yang dilihat itu wajah setan, maka kemaksiatan hasilnya. Sedangkan kalau yang dilihat adalah wajah wanita cantik, maka ya di antara keduanyalah (antara kebaikan vs. kemaksiatan, maksudnya). Kesimpulan: kalau anak Sampeyan naik sepeda nyrempet pagar, ya jangan lalu bikin fatwa bahwa mbangun pagar itu haram…

Yogyakarta, 26 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Status Di Facebook

17 Maret 2010

Facebook membatasi penulisan status hingga 420 karakter. Maka kebiasaanku menulis ‘status’ berupa cerpuuen (cerita puuendek) menggunakan fasilitas facebook mobile, sering memaksaku untuk bergulat dengan singkatan-singkatan tapi diusahakan tetap mudah dibaca. Alternatif menulis dalam ‘notes’ berarti harus buka laptop, tidak praktis. Karena itu: “Harap menjadikan maklum adanya” (adanya ya memang seperti itu…)

Yogyakarta, 16 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Mendoakan vs Menduakan

9 Maret 2010

Status saya di Facebook dua hari yll saya pindahkan ke Blog, dan (maksud hati) hendak memberinya judul “Mendoakan Istri”. Selesai saya upload, lalu iseng-iseng saya cek tampilan Blog saya. Oops…! Rupanya judul yang saya tulis adalah “Menduakan Istri”. Meski antara huruf ‘o’ dan ‘u’ hanya beda sedikit (kecuali itu, di keyboard mereka duduknya juga berdekatan sih…), secepat orang sakit perut yang sedang menuju jumbleng, Blog segera saya edit…

Yogyakarta, 7 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Dibawa Kemana-mana

3 Maret 2010

Beberapa kali saya benar-benar lupa menjalankan pesan istriku. Saking kesalnya istriku bilang begini: “Yang diingat-ingat itu ya apaaa…, paling cuma yang dibawa kemana-mana ituuu…” (emangnya mbah Surip). Mungkin maksudnya, SIM, KTP dan dompet kalau pas lagi ada isinya…

(Beberapa teman berkomentar di Facebook dengan menebak-nebak maksudnya. Tapi komentar terakhir saya adalah : “Hoa ha ha…, justru diperlukan pikiran bersih untuk dapat tertawa… Maaf”. Just joking…)

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Antara Sholat Dan Olahraga

3 Maret 2010

Seorang teman bertanya, di usia nyaris gocap kok masih mampu (+ nekat) mendaki gunung: “Olahraganya apa pak?”. Jawabku: “Sholat”.

Maka bagi orang muslim pemalas olahraga dan belum punya alasan untuk apa sholat, coba lakukan sholat dan niatkan untuk olahraga. Setelah bisa menikmati setiap gerakan jungkar-jungkir dari ‘olahraga’ itu, ubahlah niatnya menjadi beribadah kepada Allah. Itulah jalur alternatif mudik ketika jalur utama macet.

Beberapa komentar di Facebook :

Slamet Abu Farros – Yogyakarta:
Sholat sama olahraga dalilnya beda lho om

Catatan saya:
Kang Slamet: Sampeyan 100% benar. Ini memang bahasanya ‘tukang kompor’. Jangn lalu disimpulkan “aku sudah sholat jadi nggak perlu olahraga”, atau “aku mau olahraga dulu sajalah, sholatnya nanti saja”…
Untuk mendaki gunung saya pun perlu persiapan fisik yang luar biasa, meski sudah sholat

***

‘Olahraga’ sholat..? Yang wajib 17 rakaat. Yang sunnah (katakanlah) 23 rakaat (rawatib/tahajud/witir/dhuha) & asumsikan hanya bisa 35%-nya. Bulatkan total rata-ata 25 rakaat/hari.

Bayangkan, ‘jungkar-jungkir-gedebug’ 25 kali tiap hari, pagi-siang-sore-malam. Rasakan dan nikmati sensasi tiap gerakan persendian dan posisinya, bernafas dengan santai. Wow, …garansi! Tidak terbukti, sholatlah kembali. Atau kalau mau, boleh juga minta disholati…

Beberapa komentar di Facebook :

Rita Punto – Jakarta:
Nggak bisa dibayangkan pak.. Buktinya banyak kok yang bela-belain mangkir dari keasyikkan ini..

Lelly Iriantho – Bandung:
Jangankan yang sunnat yang wajib aja sering ditinggal pa ?

Bambang Sidharta – Riau:
Saatnya beranjak ke pemahaman lebih tinggi, tidak hanya ibadah dengan gerakan fisik/ritual belaka (maklum banyak dugaan nabi yang shalat dan puasa yang didapat hanya letih dan lelah saja).. Beranjak ke ibadah dengan menggunakan hati, kesadaran jiwa, kesadaran ruh dan terus meningkat.. Shalat sebagaimana Nabi shalat bisa ditiru, namun kondisi hati dan bathin nabi dalam ibadahnya yang belum bisa ditiru ummat..

Catatan saya:
Very good discussion. Tentu saja status saya ini jangan lalu diterjemahkn secara harafiah, melainkan “sholatlah, maka kalian akan sehat (jasmani-wal-rohani)”. Hayuuuk…

Yogyakarta, 2 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Foto Pendakian Ke Rinjani (1 Jan 2010)

9 Januari 2010

Dokumentasi foto-foto Pendakian Ke Puncak Rinjani (30 Desember 2009 – 2 Januari 2010) sudah saya upload di Facebook. Bagi mereka yang tidak memiliki akun di Facebook dapat melihatnya di Flickr. Silakan klik di sini.

Menggapai Matahari Baru 2010 Di Puncak Rinjani

7 Januari 2010

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan Sekalian Alam, bahwa akhirnya saya dan sahabat kecilku (Noval, 15 th) berhasil mencapai puncak gunung Rinjani (3726 mdpl) di Lombok, NTB, menggapai matahari baru pada pagi hari tanggal 1 Januari 2010.

Rencana awal kami memang akan melakukan duet pendakian ke puncak Rinjani, namun akhirnya pada hari terakhir sebelum berangkat menuju titik awal pendakian di Sembalun, Lombok Timur, bertambah dengan bergabungnya tiga pendaki dari Jakarta, yaitu : Insan (28 th), Angga Triangga (26 th) dan Ari Permana (19 th), yang masing-masing tiba di Mataram dalam waktu terpisah. Maka jadilah kami sebuah tim 5 pendaki yang masing-masing baru saling ketemu dan kenal.

Pendakian menuju puncak Rinjani sungguh merupakan perjalanan panjang yang sangat melelahkan dan menguras energi, bahkan sahabat kecilku sempat merasa putus asa ketika harus melalui penggal terakhir menuju puncak. Menempuh lintasan panjang dari Plawangan Sembalun mulai jam 3 pagi, menuju puncak adalah tahap paling berat. Melalui gigir gunung yang berlereng curam, di atas tanah kerikil dan batu vulkanik yang selalu merosot ketika diinjak membuat langkah semakin terasa berat. Angin gunung yang menerpa sangat kuat berlawanan arah juga menghambat gerak maju langkah kami. Udara yang sangat dingin dan oksigen yang menipis semakin menghambat pergerakan kami, sehingga untuk berbicara pun terasa berat. Bekal air yang kami bawa pun nyaris habis sebelum mencapai puncak.

Akhirnya, sekitar jam 6 pagi Noval lebih dahulu mencapai puncak lalu tidak lama kemudian disusul Angga. Saya baru berhasil mencapai puncak sekitar jam 7 pagi, lalu disusul Insan dan Ari. Cuaca pagi itu benar-benar sedang kurang bersahabat. Mestinya kami sudah menyadari hal itu, bahwa pendakian di bulan-bulan sekitar Desember dan Januari memang beresiko terhadap datangnya cuaca buruk yang tak terduga. Matahari baru 2010 tidak secara jelas dapat kami saksikan, sebab kabut dan awan datang dan pergi menyelimuti kawasan puncak Rinjani. Kami tidak mampu bertahan terlalu lama berada di puncak akibat hawa dingin yang begitu menusuk tulang dan terpaan angin yang sangat kuat. Bahkan Noval harus bersembunyi di balik batu demi menunggu saya yang tertinggal dan menyusulnya ke puncak.

Target awal untuk mengumandangkan adzan Subuh di puncak tidak berhasil kami penuhi, melainkan sholat subuh harus kami tunaikan sebelum mencapai puncak mengingat semakin habisnya waktu menjelang matahari terbit. Ini adalah pengulangan seperti yang pernah kami alami 18 tahun yll. ketika itu saya berduet dengan sahabat saya Riyadi Bakri juga terlambat mencapai puncak Rinjani pada tahun 1991.

“Allahu Akbar” (Allah Maha Besar) adalah kata pertama yang saya ucapkan ketika akhirnya saya berhasil mencapai puncak bersama Noval yang kembali saya bawa naik setelah bersembunyi menunggu saya. Saya bersyukur telah berhasil mengantarkan Noval, anakku dan sahabat pendaki kecilku, ke puncak Rinjani sesuai dengan janji saya sebelumnya kepadanya.

Subhanallah (maha suci Allah), hanya semangat dan kemauan keras saja yang dapat membawaku ke sana. Semangat dan kemauan keras yang sama yang ingin saya tanamkan kepada Noval bahwa seberapa tinggi pun cita-cita yang dia miliki, tidak ada alasan untuk gagal sepanjang terus tertanam semangat dan kemauan keras untuk mencapainya. Berhenti, menyusun strategi, mengevaluasi, menghimpun kekuatan, adalah bagian dari tahapan untuk mencapai tujuan. Tapi tidak menyerah di tengah jalan. Noval bercerita bahwa sebelum mencapai puncak dia sempat merasa putus asa, “kok enggak sampai-sampai dan rasanya semakin berat, padahal puncak sudah kelihatan…”, Namun kemudian dia bisa melawan rasa putus asanya dengan semangat pantang menyerahnya.

Akhirnya, kepada segenap teman dan sahabat yang senantiasa mendukung, memberi semangat, bahkan memonitor situasi Rinjani, serta turut mendoakan perjalanan pedakian kami ke puncak Rinjani, yang namanya tidak dapat saya sebutkan satu persatu, baik disampaikan melalui media Facebook, SMS, email, blog, dsb, dengan segala kerendahan hati kami menghaturkan beribu terima kasih atas segenap ketulusan dan kebaikannya yang tak ternilai bagi pendorong semangat kami.

Sepanjang perjalanan kami terus berusaha meng-update status kami di Facebook, namun ternyata tidak semua lokasi dapat dijangkau sinyal tilpun seluler. Demikian halnya kami mohon maaf tidak dapat secara langsung menampilkan foto mengingat kami harus menghemat penggunaan battery Blackberry yang kami gunakan  (bahkan kami sudah menyiapkan sebuah battery cadangan) untuk meng-update status di Facebook. Insya Allah, dokumentasi foto-foto akan kami upload di Facebook secara bertahap, demikian pula akan kami usahakan menuliskan catatan perjalanan pendakian ini.

Terima kasih secara khusus saya sampakan kepada mas Insan, mas Angga dan mas Ari, yang telah membuktikan berhasil menjadi teman seperjalanan yang luar biasa dalam pendakian ke puncak Rinjani menyongsong matahari baru tahun 2010, meski sebenarnya kami baru saling bertemu dan mengenal sesaat sebelum memulai pendakian.

Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati kita semua, dan bahwa keagungan dan kebesaran-Nya tak kan pernah dapat kita ingkari.

Yogyakarta, 4 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Salah Kaprah (Tentang Warisan Batik)

3 Oktober 2009

Salah Kaprah : Yang dimangsud Yu Nesko (UNESCO) bukan BATIK-nya, melainkan mBATIK…. Bukan produknya, melainkan kreatifitas karyanya… Kalau kain BATIK, itu Yu Narti, Yu Narto dan Yu Jum di pasar mBringharjo banyak jualan murah-murah. Tapi kalau mBATIK, lha ini yg perlu dilestarikan…..

(Intermezzo…… Ini posting-an saya di Facebook. Meski saya posting dengan guyonan, tapi esensinya benar bahwa yang diakui oleh UNESCO adalah perihal karya mBATIK atau membatik, seperti halnya tradisi pembuatan batik tulis).

Yogyakarta, 3 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Matur Nuwun Gusti

29 September 2009

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini hari ulang tahunku adalah sindiran-guyonan anak perempuanku tadi siang. Katanya : “Wah hari ini bakal ada yang nraktir makan, nih….”. Itu saja. Selebihnya live must go on as usual, seperti-hari-hari kemarin, seperti tidak ada yang spesial…

Entah kenapa sejak saya kecil dulu orang tua saya tidak pernah membiasakan mengadakan perayaan ulang tahun. Mungkin karena himpitan ekonomi keluarga, mungkin karena kebiasaan seperti itu tidak jamak di lingkungan masyarakat sekitar kami tinggal, atau mungkin memang dianggap bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Boro-boro pesta, bahkan sekedar bancakan selamatan bubur merah bubur putih pun tidak.

Yang kemudian terjadi ketika saya dan adik-adik saya kemudian tumbuh dewasa dan mulai mengenal ada tradisi yang oleh keluarga lain selalu dirayakan, adalah merayakannya sendiri dengan caranya sendiri. Aneh, lucu, tapi juga tidak perduli….

Kebiasaan tidak perduli dengan hari ulang tahun itu terbawa sampai kini, sampai usia saya menyongsong setengah abad, tapi kata teman saya masih ABG (Aku Belum Gocap..). Pernah suatu kali kami sekeluarga lupa sama sekali bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Baru teringat saat tanggal ulang tahun itu sudah berganti, maka sekedar makan bersama di luar rumah pun baru dilakukan ketika ingat dan ketika sempat. Pernah juga suatu kali justru orang lain yang mengirim tumpeng ulang tahun atau mengadakan tumpengan untukku (akan saya kenang kebaikan orang-orang yang bukan sanak bukan kadang…, bukan siapa-siapa ini…). Maka karena saya tidak pernah paham akan pentingnya merayakan ulang tahun, ketika lupa pun tidak pernah saya sesali apalagi saya pikirkan. Biasa saja….

Sungguh bukan karena balas dendam kalau kemudian di lingkungan keluarga saya sekarang, tradisi itu pun tidak tumbuh. Apakah itu ulang tahunku, istriku atau anak-anakku, tidak pernah menjadi urusan yang harus dipersiapkan apalagi dipikirkan secara khusus, dipikir sambil tidur pun tidak. Kalau ingat dan sempat merayakannya syukur, kalau tidak ingat juga tidak masalah. Paling-paling sekedar makan-makan di luar. Itu pun kalau sempat. Kalau tidak sempat, bisa dijadwalkan ulang kapan sempatnya. Mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak selalu saling kami lakukan. Ndeso tenan….

Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang baik atau kurang baik atau biasa-biasa saja. Tapi ada pengalaman buruk, beberapa kali saya gagal mengingat tanggal ulang tahun istriku dan anak lelakiku, sehingga harus buka-buka catatan atau bertanya lebih dahulu. Sedang untuk anak perempuanku tidak pernah salah karena tanggalnya sama dengan tanggal kelahiranku.

Meski demikian, bagaimanapun juga saya ingin memberi pengalaman berbeda bagi kedua anakku. Saat mereka masih balita dulu, untuk pantes-pantes kami orang tuanya juga mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang teman-teman kecilnya. Itu berlangsung dua-tiga kali saja. Selebihnya, ya itu tadi…. live must go on as usual…., seperti hari-hari biasanya. Soal cara merayakannya juga terserah selera masing-masing. Istriku pernah bikin nasi kuning untuk dirinya sendiri ketika berulang tahun. Pernah juga membikinkan nasi kuning untuk kedua anakku sekaligus. Karena tanggal dan bulan ulang tahun kedua anakku itu berdekaan, maka nasi kuning dibuat pada tanggal kira-kira tengah-tengah antara keduanya. Sesederhana itu.

Pernah juga ketika menjelang ulang tahun kedua anakku. Saya cuma bilang kepada mereka bahwa ini ada anggaran dana sekian rupiah, lalu saya ajukan usulan kepada mereka : Mau dipakai makan-makan bersama teman-temannya silakan, atau datanglah ke panti asuhan dan sedekahkan uang itu kepada anak-anak yatim. Sekali waktu mereka memilih yang pertama dan pada waktu lain mereka memilih yang kedua. Namun ketika memilih yang kedua, sesudah itu tetap saja menagih untuk yang pertama. Dasar, anak-anak…..!

Bagi saya hari ulang tahun adalah bisnis pribadi saya dengan Tuhan. Hal yang sama saya tanamkan kepada anak-anakku, agar melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya muhasabah) ketika memasuki hari ulang tahun, kalau kebetulan hari itu mengingatnya. Kalau lupa ya esoknya atau esoknya lagi…

Kini saya tersenyum sendiri…. Sepanjang badan mengandung hayat, hingga usia saya menjelang setengah abad, baru sekali inilah (berkat teknologi Facebook dan SMS) teman-teman dan sahabat-sahabat baik saya bertubi-tubi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Sumprit…, belum pernah saya menerima perlakuan seperti ini. Saya merasa bak seorang selebriti tanpa wartawan infotainment yang kurang kerjaan…..

Matur nuwun……, matur nuwun Gusti…….

Kabulkanlah doa para sahabat baik saya itu, dan ijabahi pula agar doa yang sama kembali tertuju kepada para sahabat saya itu bersama keluarganya….

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Ampuni hambaMu yang ndeso ini. Jadikanlah hambaMu yang naif ini menjadi orang yang selalu besyukur kepadaMu. Dan jangan Engkau biarkan hambaMu ini berjalan melenceng dari jalan yang Engkau kehendaki.

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Telah Kau ijinkan hambaMu yang lemah ini memasuki usia ke empat puluh sembilan….. Dan beri hambaMu ini kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ibadah yang senantiasa memberi manfaat bagi sesama mahlukmu…..

Amin…..

Yogyakarta, 23 September 2009
Yusuf Iskandar