Archive for Januari, 2011

Tour d’ Gendol

30 Januari 2011

“Tour d’ Gendol”… Wisata bencana sebagai tujuan wisata alternatif di kawasan yang terkena hempasan awan panas (wedhus gembel) di sepanjang aliran sungai Gendol, wilayah kecamatan Cangkringan, kabupaten Sleman, DIY

Yogyakarta, 27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

Bakso “Pak Bagong” Muntilan

30 Januari 2011

Bakso “Pak Bagong” Plaza Muntilan (Jateng) — Ilmu perbaksoan yang diturunkan kepada si Bagong dari bapaknya yang telah jualan di tempat yang sama tanpa nama sejak 30 tahun yll, kini diteruskan anaknya sejak 7 tahun yll dengan merek Bakso “Pak Bagong”. Campuran mie kuning/putih, bakso, suwiran ayam, irisan tahu goreng dan daun sawi, dihargai Rp 5.000,- per mangkuk.

Yogyakarta, 28 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Kehidupan Terus Berjalan Di Glagaharjo

30 Januari 2011

(1)

Mengunjungi desa Glagaharjo yang hancur oleh hempasan awan panas Nopember tahun yll, kini mulai terlihat ada denyut kehidupan. Sebagian masyarakat mulai membersih-bersihkan kawasan bekas rumah yang hancur.

Adanya wisatawan yang berdatangan saat hari libur kini menjadi peluang usaha bagi warung-warung seadanya yang mulai bermunculan. Warung Mandiri yang pertama dibangun tiga minggu yll, hanyalah langkah kecil untuk memberdayakan ekonomi masyarakat yang sempat lumpuh.

(2)

Keberadaan warung Mandiri (mencari donatur sendiri) desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kini mulai dirasakan hasilnya. Bahkan ada tiga warung lagi kini sudah beroperasi.

Saat hari libur dimana Glagaharjo, seperti halnya desa-desa lain di lereng Merapi menjadi obyek wisata, omset jualannya bisa mencapai Rp 200-300 ribu. Tidak besar, tapi aktifitas ekonomi mulai tumbuh, sementara aktifitas lainnya masih mandek

Tiga petak Warung Mandiri sudah berdiri dan beroperasi melayani para wisatawan bencana Merapi yang kehausan di padang tandus Glagaharjo. Oleh mereka, warung itu disebut warung “Upaya” (upaya untuk melanjutkan kehidupan, maksudnya)

(Note: Saya menyebutnya warung Mandiri – Mencari donatur sendiri – agar kedengaran lebih provokatif untuk ngomporin calon donatur)

(3)

Warung Mandiri yang satu unitnya (termasuk perlengkapan) berbiaya sekitar Rp 1,8 juta itu masih akan dibangun beberapa unit lagi. Lokasinya menyebar, selain desa Glagaharjo, juga Kepuharjo dan Kinahrejo. Bahkan dua anak Mbah Maridjan juga minta dibantu. Namun masih tertunda karena belum ketemu dengan donatur yang akan membiayai atau mensponsori pembuatannya.

Kalau ada yang tanya kenapa tidak minta pemerintah? Sungguh pertanyaan yang tidak mudah dijawab.

(4)

Senang rasanya menyaksikan warung Mandiri di desa Glagaharjo itu sudah beroperasi. Saat saya berkunjung, saya disuguhi teh manis hangat oleh bu Suraji, salah seorang warga yang menempati warung itu. Serasa lebih nikmat dari segelas teh biasanya. Mungkin karena gratis…

Sebenarnya ya nggak tega. Tapi itulah ungkapan terima kasih yang tidak harus dinilai dari wujud pemberiannya, melainkan ketulusannya.

(5)

Desa Glagaharjo yang terpanggang awan panas hampir tiga bulan yll kini mulai nampak menghijau oleh rumput, keladi dan pisang. Aneka bibit tanaman baru juga sudah banyak ditanam dan akan terus ditanam.

Masyarakat yang masih tinggal di pengungsian, sebagian mulai rajin datang ke bekas rumahnya walau sekedar untuk bersih-bersih. Kabar gembira yang beredar adalah bahwa pemerintah Sleman mulai membagikan dana penggantian ternak yang mati.

(6)

Ada yang beda yang dilakukan oleh salah seorang warga bernama Rohmadi. Dengan inisiatifnya sendiri pak Rohmadi memanfaatkan pasir Merapi yang menimbun di rumahnya untuk dibuat batako.

Memang tidak dikerjakan sendiri, melainkan dibantu oleh orang lain yang sudah pengalaman. Niatnya batako itu akan digunakan sendiri untuk membangun kembali rumahnya yang tinggal fondasi. “Tapi kalau ada yang mau beli ya saya jual”, katanya.

Apresiasi untuk pak Rohmadi (beranak satu dan istrinya sedang hamil), dengan kreatifitasnya memanfaatkan timbunan pasir di petak lahannya untuk dibuat batako. Sebuah pemikiran sederhana tapi mletik (cemerlang)…

(7)

Apa yang dilakukan pak Rohmadi dengan membuat batako adalah ide kreatif yang pantas diacungi dua jempol.

Di saat sebagian besar tetangganya masih terpuruk, pak Rohmadi membuka wawasannya. Nalurinya menangkap sebuah potensi sumberdaya. Bahkan sebenarnya dia tidak bisa membuat batako sendiri tapi toh mampu memproduksinya. Minimal untuk membangun kembali rumahnya.

“Kalau bisa, nyuwun (minta) dibantu genting”, katanya.

“Insya Allah”, jawabku.

(8)

Kompas hari ini (29/01/11) menurunkan berita di halaman depan, berjudul “Merapi Mengubah Segalanya”. Itulah kawasan desa Balerante (Klaten, Jateng) dan Glagaharjo (Sleman, DIY) yang akhir-akhir ini sering saya datangi.

Banyak kisah sarat makna kehidupan ada di baliknya. Itu baru dari dua desa di sisi timur kali Gendol. Ada banyak desa di sisi barat kali Gendol yang juga menyimpan cerita yang sama…

‎‎

(9)

Sore itu ada segerombol orang naik mobil bak terbuka turun dari Glagaharjo. Rombongan itu biasanya naik saat pagi. Mereka adalah sekelompok warga dari kota Bantul, selatan Jogja, yang jaraknya lebih 40 km dari Glagaharjo.

Mereka datang lalu ramai-ramai seperti potong padi di sawah, tapi kali ini ramai-ramai membantu warga membenahi desa, rumah, prasarana yang porak-poranda. Kepedulian terhadap derita sesamalah yang mendorong mereka melakukannya.

(10)

Rombongan orang-orang desa itu adalah relawan yang tidak mau disebut relawan. Mereka tidak mewakili lembaga atau bendera tertentu. Mereka datang hanya untuk membantu saudara-saudaranya di lereng Merapi.

Mereka dapat merasakan derita itu. Sebab ketika tahun 2006 wilayah Bantul hancur oleh gempa, warga Glagaharjo melakukan hal yang sama bagi saudara-saudaranya di Bantul. Tidak semua warga dan semua wilayah, tentunya. Tapi apa bedanya? Kearifan lokal itu memang nyata adanya…

(11)

Hari beranjak sore saat saya tinggalkan Glagaharjo, Sleman. Perjalanan sore itu akan saya lanjutkan ke Jumoyo, Magelang, yang sebagian wilayahnya lenyap disapu dan ditimbun banjir lahar dingin.

Sebagian warga Glagaharjo nampak ada yang masih sibuk beres-beres puing rumahnya, sebagian lainnya ada yang mulai kembali ke barak pengungsian. Orang tua, ibu-ibu, anak-anak, semua nampak giat di lahan masing-masing. Tidak setiap hari, tapi kesibukan itu sering mereka lakukan.

(12)

Seorang sahabat dari belahan Indonesia Timur mentransfer sejumlah dana dan berpesan agar dibuatkan dua buah warung Mandiri untuk warga yang benar-benar membutuhkan. Segera saya membantu mempersiapkannya. Betapapun, itu akan sangat membantu memutar roda kehidupan di sana…

Insya Allah, amanah saya tunaikan bekerjasama dengan relawan yang ada di sana (Terima kasih untuk mas Joko Basyuni di Papua).

Yogyakarta, 27-29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

(NB:  Tulisan di atas adalah kumpulan kutipan dari cerita status (cersta) saya di Facebook. Sekedar ingin berbagi dongeng)

Orang-orang Kecil Itu

30 Januari 2011

Ketika terjadi teror bom bunuh diri di bandara internasional Domodedovo, Moskwa, yang menewaskan 35 orang, segera pemerintah Rusia memberi sangsi berat kepada pejabat terkait. Dan.., ketika kecelakaan transportasi di negeri “daripada” Indonesia ini terjadi berulang kali tak terhitung banyaknya, selalu orang-orang kecil itu yang harus disalahkan. Ya, orang-orang kecil itu….

Yogyakarta, 29 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Dusun Gempol Tenggelam Oleh Lahar Dingin

30 Januari 2011

Catatan dari mengunjungi dusun Gempol,desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang Jateng) pada tanggal 24 Januari 2011. Sebagian besar rumah warga dusun Gempol tertimbun bahkan tenggelam oleh endapan pasir banjir lahar dingin Merapi yang meluber dari aliran kali Putih.

Aliran lahar dingin di Kali Putih yang terjadi tadi sore (24/01/11)…, tak sebesar minggu lalu yang menghancurkan desa Jumoyo, kecamatan Salam, Magelang (sosok gunung Merapi yang berjarak sekitar 20 km ada di latar belakang).

(1)

Sebagian warga dusun Gempol, desa Jumoyo, kecamatan Salam, kabupaten Magelang, masih tinggal di pengungsian akibat erupsi Merapi November tahun lalu.

Saat minggu lalu mereka pulang untuk menengok rumahnya, malah rumahnya pada hilang. Bukan oleh letusan Merapi, tapi oleh sapuan lahar dingin yang menggelontor dari lereng barat Merapi, yang mbludak tak tertampung oleh kali Putih di seputar jembatan jalan raya Jogja-Magelang.

(2)

Kini lebih 500 jiwa warga dusun Gempol tinggal di pengungsian di lapangan depan Balai Desa Jumoyo. Nyaris semua rumah mereka hancur, tenggelam, bahkan hilang. Ada juga yang setengah tenggelam oleh endapan pasir lahar, dan masih tersisa sekitar 39 rumah yang hanya kotor saja. Tapi praktis dusun Gempol kini ditinggal warganya. Ancaman banjir lahar dingin belum selesai, dan entah sampai kapan ancaman itu berhenti..

(3)

Tempat pengungsian itu berupa tenda-tenda berbentuk dome warna putih. Tenda-tenda itu pindahan dari lokasi lain yang sebelumnya digunakan oleh pengungsi korban letusan Merapi.

Ada puluhan tenda berdiri di lapangan depan Balai Desa. Selain warga dusun Gempol, ada juga pengungsi dari dusun Kadirogo, Kemburan dan Dowakan, yang berjumlah lebih 800 jiwa semuanya dari desa Jumoyo.

(4)

Tenda dome warna putih… Dari kejauhan terlihat seperti perkemahan di padang Arafah. Hanya saja lokasi itu dikelilingi oleh hijau pepohonan. Entah sampai kapan mereka akan mampu bertahan di tempat itu. Sedang menyediakan shelter bagi warga kecamatan Cangkringan yang rumahnya hancur oleh awan panas saja sampai sekarang Pemkab Sleman masih kesulitan. Kini ditambah warga kecamatan Salam

(5)

Rombongan lebih 40 sepeda motor berkonvoi ke Balai Desa Jumoyo. Dari tampilannya, ini rombongan orang-orang desa. Dari sepeda motornya, ini pedagang keliling. Keranjang yang terpasang di sepeda motor itu penuh berisi sayur-mayur. Ada apa gerangan?

Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu. Mereka datang tiba-tiba untuk mengirim bantuan sayur-sayuran ke dapur umum pengungsian korban lahar dingin.

(6)

Mereka bukan tukang sayur yang sedang berjualan di pasar. Mereka adalah warga Paguyuban Pedagang Keliling Lembah Merbabu, kecamatan Sawangan, kabupaten Magelang. Berkonvoi mereka datang, ingin meringankan beban derita sesama. Rasa empati dan peduli yang kemudian menggerakkan hati dan rasa cinta orang-orang kecil itu terhadap sesama.

Sebuah kepedulian dari orang-orang kecil untuk saudara-saudara yang sama kecilnya. Dari mana datangnya cinta, dari lembah Merbabu turun ke desa Jumoyo…

(7)

Sekian kali saya mengunjungi tempat pengungsian, sekian kali pula saya menyaksikan tumpukan pakaian (bekas, layak pakai, bagus) tertimbun, terhampar, berserakan begitu saja seperti tak terurus. Nampaknya pakaian memang bukan kebutuhan mendesak bagi pengungsi korban bencana, termasuk gunung meletus, banjir lahar, juga gempa.

Pada saat-saat tak berdaya, mereka lebih butuh logistik atau bentuk lain yang lebih nyata bagi keseharian di tempat pengungsian…

(8)

Posko utama pengungsian desa Jumoyo tampak tertangani dengan baik. Bantuan pun berdatangan. Namun fenomena lambatnya penyaluran bantuan oleh “alasan prosedural” sering menghantui. Akibatnya bnyak donatur yang kadang-kadang “skeptis” dengan Posko utama.

Donatur merasa lebih puas kalau dapat langsung menyalurkan bantuan ke lokasi yang biasanya dikelola relawan mandiri. Itu juga alasan saya kemarin sore bersama Kadus Gempol turun langsung ke lokasi.

(9)

Pak Sudiyanto, Kadus (Kepala Dusun) Gempol, desa Jumoyo, galau menyaksikan sebuah rumah warganya tinggal menyisakan daun pintu yang masih berdiri. Selebihnya tertimbun pasir setinggi atap sedang atapnya tersapu aliran lahar dingin. Sebagian rumah lainnya bahkan hilang tak berbekas. Termasuk rumah pak Kadus yang tertimbun pasir setengah tingginya.

(10)

Sore itu langit agak mendung dan gerimis mulai turun. Pak Kadus Sudiyanto begitu semangatnya memboncengkan saya dengan sepeda motornya berkeliling dusun menunjukkan rumah-rumah warganya yang kini hilang.

Ada yang tenggelam oleh endapan lahar dingin menyisakan atapnya, ada juga yang benar-benar tersapu dahsyatnya aliran lahar yang membawa pasir dan batu-batu besar. Dusun yang dulu agak jauh dari kali Putih, kini berubah menjadi jalan baru bagi aliran sungai.

(11)

Rute aliran kali Putih itu membelok sebelum menyeberang jalan raya Jogja-Magelang. Namun rupanya aliran kuat lahar dingin Merapi tidak sabar untuk membelok mengikuti aliran sungai yang sudah ada, melainkan lurus saja menyeberangi sekaligus menggerus badan jalan aspal, menghantam pasar Jumoyo dan dusun Gempol seisinya. Begitu berulang setiap kali banjir lahar dingin datang. Maka jalan raya Jogja-Magelang pun berulang terganggu.

(12)

Sekitar jam empat sore itu tiba-tiba orang-orang yang sedang “berwisata” di sekitar jalan raya desa Jumoyo pada berlarian. Petugas keamanan mengumumkan agar orang-orang menjauh karena lahar dingin segera tiba.

Pak Kadus memberitahu saya bahwa sebentar lagi akan melihat datangnya lahar dingin. Kutanya: “Apa aman?”. Dengan yakin dijawab: “Tidak apa-apa, banjirnya kecil”.

Dengan pesawat HT-nya, pak Kadus dapat memonitor gerakan aliran lahar dari Merapi, seberapa besar dan sudah sampai mana.

(13)

Kami memilih lokasi di tanggul timur, dekat pertigaan antara aliran lama dan baru. Semakin lama para “wisatawan” yang datang semakin banyak. Petugas keamanan tidak melarang karena sudah tahu bahwa banjir sore itu tidak besar.

Ketika banjir lahar akhirnya datang, memang tidak sampai meluber keluar dari aliran sungai yang ada sehingga masih aman bagi masyarakat yang ingin menyaksikan. Walau lalulintas Jogja-Magelang sempat ditutup sebentar sebagai tindakan preventif.

(14)

Menunggu datangnya banjir lahar dingin seperti menunggu datangnya pujaan hati. Kata pak Kadus yang merangkap relawan mandiri: “Kalau sudah dapat info ada banjir lahar di atas (Merapi), terus dimonitor laju kepala banjir sambil deg-degan. Kalau nggak datang-datang seperti ada rasa ‘gelo’ (menyesal), padahal tahu bahwa itu bisa jadi petaka…”.

(15)

Dengan melihat sendiri kondisi dusun Jumoyo yang berantakan dan sebagian lenyap, serta warganya yang ingin pulang tapi tidak ada yang dipulangi.

Maka kesanalah saya berencana menyalurkan bantuan (prioritas sementara logistik/sembako). Setidaknya, langsung ke sasaran, sebagaimana diharapkan pak Kadus Gempol. Seorang warga dusun tetangga (Seloiring) juga berharap bantuan langsung ke lokasi. Uugh, nampak ada nada skeptis jika bantuan dikirim ke Posko utama.

(16)

Dusun Seloiring bertetangga dengan dusun Gempol, masih di desa Jumoyo, hanya terpisah oleh jalan raya Jogja-Magelang. Ketika terjadi banjir besar lahar dingin minggu yll. yang telah melenyapkan sebagian dusun Gempol, warga Seloiring selamat tapi nyaris karena ada di batas limpahan kali Putih.

Namun… (lha ini anehnya masyarakat kita), belum mau disuruh mengungsi karena memang belum terbukti terkena bahaya. Sedang potensi ancaman itu nyata di depan mata. Huuh..!

(17)

Masyarakat Gempol pada umumnya adalah buruh tani dan penambang pasir. Entoch, endapan pasir lahar tidak begitu saja dapat ditambang, walau pasir itu kini menghampar nyaris seperti tak kan habis.

“Wah, jadi rejeki bagi warga”, kataku kepada pak Kadus.

“Paling-paling nanti orang luar yang menikmati, warga ya tetap saja begitu…”, jawab pak Kadus sambil memboncengkan saya menuju mobil.

Terasa ada nada getir di baliknya. Saya pun segera pulang membawa serta kegetiran itu…

Yogyakarta, 25-27 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Ketika Sistem Berjama’ah Tidak Fokus

27 Januari 2011

Imam sholat Isya itu lupa, rakaat ketiga sudah tahiyat akhir. Tapi makmum itu rupanya juga ragu, jangan-jangan imamnya yang benar…

Itulah yang terjadi kalau imam dan makmum saling tidak khusyuk dalam sholat berjama’ah. Mungkin sang imam sibuk dengan pikirannya karena gajinya tidak pernah naik, sedang makmum sibuk dengan pikirannya karena anaknya belum bayar sekolah, sedang sakit atau susunya tak terbeli. Maka sistem berjama’ah itu menjadi tidak fokus kepada visi dan misinya…

Yogyakarta, 26 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Harga-harga Bakal Naik

27 Januari 2011

“Boss” saya memberi bocoran, katanya mulai Pebruari hampir “semua” harga naik serentak, baik food maupun non-food. Info ini valid karena bersumber dari para sales/supplier dalam rangka early warning kepada para pengelola toko yang dapat diterjemahkan sebagai: “Sampeyan siap-siap nambah modal toko” –

Maka bagi yang biasa belanja bulanan dan menimbun stok di rumah, sebaiknya siap-siap sebelum Pebruari… (“Madurejo Swalayan” siap menanti. Hwahaha…)

Yogyakarta, 26 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Menulislah Agar Tetap Waras

27 Januari 2011

Terlambat baca koran hari ini, kutemukan rubrik Kompas Kita mengangkat headline: “Menulis, Satu-satunya Cara agar Tetap Waras” (Clara Ng). Agak bernada provokatif tapi benar esensinya. Maka, menulislah…! Apa saja, dengan gaya apa saja, dengan cara apa saja, untuk tujuan apa saja…

Yogyakarta, 25 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Ketika “Crop Circle” Muncul Di Berbah, Sleman

26 Januari 2011

Fenomena “Crop Circle” di areal persawahan desa Jogotirto, kecamatan Berbah, Sleman, yang terjadi pada hari Minggu (23/01/11). Lukisan alam berupa tanaman padi yang roboh beraturan membentuk lingkaran dan lengkungan. Perlu tanya kepada alam dulu: “What the hell is this?” – (Saya mengambil foto dari puncak bukit Suru, 25/01/11 jam 10:45 WIB).

Masih menunggu penjelasan para ahli tentang seluk wal-beluknya…

(1)

Fenomena “Crop Circle” Berbah, Sleman…
Sementara masyarakat berbondong-bondong datang ke pinggir sawah dan bertanya-tanya kepada para ahli tentang apa gerangan yang terjadi, aku bertanya kepada pak Jumiran pemilik sawah. Jawabnya sambil terkekeh di tengah kerumunan masyarakat yang penasaran: “Nggih pantun kulo sami ambruk niku…(Ya padi saya pada rubuh itu…)”.

(2)

Tidak dipungkiri, fenomena “Crop Circle” memang membuat dahi mengernyit. Kalau dibuat orang pasti ada bekasnya, ditiup angin kok begitu terukur membentuk lukisan indah, bukan patah bukan roboh tapi melengkung rapi, tepat di atasnya ada SUTET (saluran udara tegangan tinggi), di bawahnya ada saluran pipa Pertamina. Hanya Bandung Bondowoso yang dapat melakukan ini selesai sebelum fajar, bahkan lebih cepat dari cinta satu malam.

(Note: Catatan obrolan dengan pak Jumiran sang pemilik sawah dan seorang pengunjung yang penasaran)

(3)

Hujan deras, angin kencang, geluduk, merata melanda Jogja siang ini. Waspada… (siapa tahu “Crop Circle” berubah menjadi “Crop Square” karena semua tanaman padi di seluas sawah pada roboh oleh angin…).

(4)

Banyak pohon tumbang di Jogja, akibat hujan deras dan angin kencang siang ini. Waspada..! Dalam perjalanan menuju Madurejo melalui rute klasik via Berbah, terlihat kawasan dimana ada “Crop Circle” masih ramai. Entah sengaja hujan-hujanan, entah kepalang kehujanan di tengah persawahan.

“Boss” saya penasaran tentang “Crop Circle”. Kujawab: “Ya sannaa... hujan-hujanan kalau mau lihat, aku tak nunggu di mobil…” (Saya belum cerita kalau paginya sudah ke sana).

(5)

Tuhan memang ruarrr biasa untuk urusan membagi rejeki. Ribuan orang berduyun-duyun datang ke lokasi “Crop Circle” di desa Jogotirto, Berbah, Sleman, setiap hari sejak hari Minggu yll.

Mobil dan sepeda motor mbayar parkir harga premium. Pedagang segala macam betebaran bahkan hingga ke puncak bukit Suru dimana lukisan alam terlihat bentuknya. Para petugas dan pejabat negara berdatangan dengan ngantongi SPJ. Maka terbagilah rejeki dari langit.

(6)

Entah malam Minggu, entah Minggu dini hari ketika proses “pembuatan” lukisan “Crop Circle” terjadi. Tahu-tahu pagi harinya, pak Jumiran dilapori tetangganya: “Itu sawah sampeyan pada ambruk”. “Ya sudah…”, pikir pak Jumiran.

Baru sorenya pak Jumiran melongo. Sawah yang padinya hampir menguning itu diributkan orang. Malah dibatasi pita kuning sama pak polisi dan dijaga. Kalau ada orang mau lihat dan lewat garis, disemprit dari jauh.

(7)
Bergaya seperti wartawan infotainmen kehabisan berita kawin-cerai, kutanya pak Jumiran, satu dari tujuh pemilik sawah yang ketiban “sial” itu: “Sebelumnya pernah ada firasat, mimpi aneh atau kode nomor, gitu pak?”.

Mboten wonteeen…(tidak ada)”, jawabnya.

Eh, malah seseorang di sebelahnya tanya saya: “Suka pasang lotre Singapur pak?”. Weleh, lha lotre pasar malam Sekaten yang tinggal jalan kaki saja saya ‘girap-girapen’, boro-boro harus terbang ke Singapur…

(8)

Pak Jumiran jelas tidak paham apa itu “Crop Circle” (bisa terpelintir lidahnya mengucapkan kata itu), apalagi Alien, UFO atau makanan lain sejenis itu. Pak Jumiran hanya menggerutu gusar (dalam bahasa Jawa halus): “Kalau sawah saya rusak, nanti dapat ganti rugi enggak ya?”.

Uuugh, pak Jum, pak Jum…, membumi sekali kegusaran Sampeyan. (Dalam hati saya becanda: Waduh, dananya telanjur dipakai untuk studi banding pak…).

(9)

Berdiri di pinggir sawah untuk melihat “Crop Circle”, memang ya hanya tanaman padi ambruk yang akan terlihat. Selain dengan terbang di atasnya (itu juga kalau tidak kesetrum jaringan listrik tegangan tinggi), satu-satunya cara untuk melihat keanehan padi ambruk itu adalah dengan mendaki bukit Suru yang ada di sebelah baratnya.

Maka ini juga keanehan lain, orang-orang tua, muda, anak, ramai-ramai seperti ikut lomba kebut gunung, mendaki bukit yang sebenarnya cukup terjal dan licin.

(10)

Berjalan di depanku saat mendaki bukit Suru seorang nenek (belum terlalu tua), ndeso, sambil mengangkat kain jaritnya, berjalan pelan. Saya agak miris melihat si nenek, walau bukit Suru ini kecil tapi terjal dan licin (diwartakan hari ini ada seorang yang tewas terjatuh).

Untuk menyalipnya saya perlu menyapa (dengan bahasa Jawa halus). “Mbah, panjenengan ini kok ya nekat ikut mendaki”. “Saya kan juga ingin lihat”, jawab nenek itu tidak mau kalah. Betapa…

(11)

Ini kisah tentang bukit Suru yang tidak ada hubungannya dengan “Crop Circle” –

Hari-hari ini orang ramai mendaki gunung Suru karena ingin melihat lukisan misterius. Hingga sekitar lima tahun yll. bukit Suru dipercaya banyak menyimpan kekayaan. Buktinya dulu banyak orang mendakinya saat malam Jum’at Kliwon dengan membawa sesaji. Tapi sejak sekitar gempa Jogja 2006, kekayaan bukit ini seolah hilang amblas bumi dibawa kabur Ontorejo.

(12)

LAPAN meyakini “Crop Circle” di Berbah, Sleman, itu bikinan manusia. Jika benar demikian, berharap akan terungkap.

Namun siapapun manusianya, dia adalah seorang yang kreatif dan luar biasa (nekatnya, maksudnya). Hasil proses kreatif yang layak diapresiasi untuk diarahkan ke hal yang lebih produktif. Dan bukan dikait-kaitkan dengan politik atau urusan tetek bin bengek yang semakin menguras energi yang sudah banyak diecer-ecer mubazir di Jakarta…

Yogyakarta, 25 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Kemangi Di Halaman Rumahku

26 Januari 2011

Kupetik beberapa pucuk daun kemangi di halaman depan rumah untuk lalapan makan siang tadi. Ada beberapa batang tanaman kemangi yang sengaja kupertahankan hidupnya. Kalau malam saat cuaca cerah suka menebarkan aroma wangi yang khas.

Kalau di kampungku di Kendal, tangkai kemangi biasa digunakan sebagai bunga tabur di kuburan bersama mawar dan kantil. Tapi di rumahku di Jogja, kulalap dia.., berebut sama setan karena rumahku dekat kuburan.

Yogyakarta, 23 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Balada Mbok Watinah

26 Januari 2011

(1)

Minggu pagi ini Mbok Watinah datang ke rumah, mengambil koran dan kertas bekas, juga barang rongsokan lainnya. Istriku menyebutnya Mbok Gletek karena kerjanya keliling kampung ‘gletekan’ mencari-cari barang bekas/rongsokan, kemudian dibelinya.

Ada perbedaan signifikan dengan pemulung yang biasanya cenderung liar dan tak beretika. Mbok Gletek ini lebih profesional dalam berbisnis, walau ada juga yang nakal bin menjengkelkan…

(2)

Setiap hari kerja (kalau week-end biasanya “off”) Mbok Watinah, 52 tahun, anak empat, cucu dua, berkeliling kampung di Jogja naik sepeda onthelnya. Jika dapat barang banyak, pak Sujud suaminya, membantu mengangkutnya. Mbok Watinah kadang-kaang juga menerima panggilan via HP anaknya.

Faktanya adalah, sudah 30 tahun profesi sebagai Mbok Gletek ditekuni Mbok Watinah. Mencoba berdiri di sisi Mbok Watinah, hidup ini kepastian atau pilihan?

Yogyakarta, 23 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Patin Bakar Dalam Bambu RM “Karimata” Sentul City

26 Januari 2011

Menempuh jalan tol Jagorawi tadi malam, keluar tol di Sentul City, ada rumah makan “Karimata”. Pesan menu unggulan bergaya Kalimantan, ikan patin bakar dalam bambu. Patin dibumbu pepes, dibungkus daun pisang, dimasukkan dalam bambu lalu dibakar. Hasilnya adalah patin berdaging lembut yang bumbunya begitu meresap, masih berasap, disajikan sebambu-bambunya di atas meja.

Warung yang masih baru ini suasananya cukup nyaman walau ada di pinggir jalan tol.

Yogyakarta, 22 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Jahe Kayu Manis

26 Januari 2011

Jahe kayu manis… Minuman penghangat campuran antara jahe, kayu manis, susu, gula jawa, disajikan dalam gelas bambu (gelas tapi bambu). Hmmm…, sruputannya nikmat sekali (RM “Karimata”, Sentul City, mBogor)

Yogyakarta, 22 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Sayur Daun Singkong

26 Januari 2011

Sayur daun singkong… Yang paling saya sukai di warung makan padang adalah sayur daun singkong + buncis direbus, digarami sedikit, dimakan dengan sambal hijau (RM Sederhana, Jl. Supomo, Jakarta)

Yogyakarta, 22 Januari 2011
Yusuf Iskandar

“Harga Bersih”

26 Januari 2011

Meninggalkan bandara Cengkareng menuju Jakarta biasanya saya naik taksi Blue Bird yang sudah terpercaya. Pagi tadi pengguna jasa taksi ini membludak sehingga harus antri. Terpaksa pakai taksi merk lain. Dan.., dari dua taksi resmi yang ada, petugasnya selalu mengawali dengan penawaran “harga bersih”, maksudnya borongan…

Aaah, dasar…! Sambil kesal kutinggalkan taksi itu. Apapun alasannya, harga borongan pasti lebih mahal daripada harga argo…

Yogyakarta, 21 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Rada Edan

26 Januari 2011

Menuju bandara Jogja saat jam sibuk orang-orang berangkat kerja dan sekolah. Taksi yang saya naiki melaju cepat menerobos kepadatan lalulintas. Diperlukan sedikit kegilaan untuk menyerobot jalan dan nyusup-nyusup di celah-celahnya… Saya biarkan saja karena saya percaya dengan sopirnya, walau agak miris. Tiba di bandara pun terasa lebih cepat.

So? Catatan status saya kemarin harus ditambahi NB: Jadilah sopir rada edan agar cepat sampai tujuan (Jangan meniru adegan ini!).

Yogyakarta, 21 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Bertengkar Dengan Penumpang

26 Januari 2011

Hujan lebat menghajar bumi sepanjang perjalanan siang ini, melalui jalan pedesaan membelah persawahan. Phil Collin berteriak “Mama”, Freddy Mercury mendendang “Bohemian Rhapsody”. Perjalanan Jogja-Madurejo terasa lebih cepat sampai. Padahal jarak dan kecepatan kendaraan sama seperti biasa. Rupanya di dalam mobil sedang ada pertengkaran kecil, antara sopir dan penumpangnya.

Maka, ketika Anda sedang nyopir dan ingin cepat sampai, cobalah bertengkar dengan penumpang…

Yogyakarta, 20 Januari 2011
Yusuf Iskandar

“Garuda Card”

26 Januari 2011

Tiap kali berangkat terbang dari Terminal F Cengkareng, sering ditawari untuk memiliki “Garuda Card” (entah apa sebutan yang benar, pokoknya itu…). Penjaja kartu itu begitu agresif. Sungguh membuat saya risih.

Kadang tanpa menoleh saya jawab sambil jalan dengan ucapan terima kasih tanpa senyum. Kadang juga saya bohongi bahwa saya sudah punya, tapi penjaja ini suka nekat tanya: “Boleh lihat pak”. Saya jawab: “Tidak boleh!”. Wong saya bohong kok mau dilihat…

Yogyakarta, 19 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Shabu-shabu Restoran “Dae Jang Geum” Jogja

26 Januari 2011

Shabu-shabu…, menu Jepang di restoran “Dae Jang Geum”, Jl. Palagan, Jogja, yang juga menyediakan menu Korea, Cina dan Indonesia. Shabu-shabu ini sebenarnya tidak jauh beda dengan sayur bening ndeso, yang dimodifikasi asesorinya…

Yogyakarta, 19 Januari 2011
Yusuf Iskandar

Tengkleng Iga Sapi “Omah Solo” Jakarta

26 Januari 2011

Makan malam di “Omah Solo” yang menyebut dirinya wisata kuliner khas Solo, Jl. Buncit Raya, Jakarta. Dengan tagline (katanya) “nggak perlu lagi mudik ke Solo”, kucoba menu unggulan tengkleng kuah iga sapi.

Rupanya yang namanya tengkleng iga sapi ini sebenarnya lebih pas disebut sup tulang sapi. Padàhal mestinya beda jauh antara tengkleng dan sup. Tapi ya sudahlah, yang penting tetap hoenak…

Yogyakarta, 18 Januari 2011
Yusuf Iskandar