Posts Tagged ‘yogyakata’

Uluk Salam

4 Mei 2008

Selama ini kalau saya bisa memilih untuk terbang di dalam negeri, maka saya akan menggunakan pesawat cap Garuda. Menurut pendapat para penerbang (orang yang suka bepergian dengan pesawat terbang), pesawat Garuda kalau landing masih lebih enak dan mulus dibandingkan pesawat lainnya. Sebab (masih katanya) di banyak pengalaman, pesawat cap lainnya kalau landing suka njumbul-njumbul dan tidak terasa mulus. Belum lagi terkadang diberi bonus berhenti di luar lapangan alias terpeleset kebablasan.

Meski saya tahu bahwa ini adalah kesimpulan yang digeneralisir, toh (diam-diam) saya sepakat. Lha iya, mana ada hubungannya antara mendaratnya pesawat dengan perusahaan penerbangannya, apalagi dengan keterampilan pilotnya. Tapi, ya gitu lah…

Maka ketika saya hendak terbang ke Jakarta dari Yogyakarta pada tanggal 26 Desember 2006 beberapa waktu yang lalu, pertama yang terlintas dalam pikiran adalah pesan tiket dengan penerbangan pertama di pagi hari dengan pesawat Garuda. Tapi begitu tahu harga tiketnya, saya jadi berpikir dua tiga kali. Pasalnya ketika pesan tiket dua hari sebelum tanggal keberangkatan, harga tiket Garuda untuk penerbangan Jogja – Jakarta pulang pergi adalah Rp 1,25 juta lebih. Sementara harga tiket pesawat Adam Air untuk jurusan dan waktu yang sama hanya Rp 550 ribu lebih sedikit. Wah, kok njeglek sekali bedanya….?

Ya jelas, akhirnya saya memilih terbang dengan pesawat Adam Air yang warna body-nya dominan kuning keoranye-oranyean (wah, angel tenan…..). Mau landing njumbul-njumbul ya biarin sudah! Lha harga yang harus dibayar untuk tiket Garuda bisa saya pakai ke Jakarta dua kali bolak-balik, atau mengajak tetangga saya ke Jakarta naik Adam Air. Bahkan masih sisa. (Tapi kalau ingat kejadian terbaru pesawat Adam Air jurusan Surabaya – Manado kehilangan kontak dan entah mampir kemana, rasanya jadi bergidik bulu romaku…..).

Memang terkadang harga tiket pesawat dan penentuan harganya suka membingungkan. Konon tergantung waktu dan tempat yang dipersilakan. Konon lainnya tergantung biro travel dimana kita pesan. Terkadang dengan Garuda bisa diperoleh dengan harga lebih rendah dibanding perusahaan penerbangan lainnya. Tapi kalau lagi apes, malah dapat harga jauh lebih mahal.

***

Ada yang agak berbeda dengan pesawat Adam Air yang saya tumpangi pagi itu. Biasanya sang pramugari berhalo-halo menyambut penumpangnya dengan awalan salam Selamat Pagi, Selamat Siang atau Selamat Malam kepada para penumpang yang terhormat. Ucapan salam semacam ini, atau dalam istilah Jawa suka disebut dengan uluk salam, memang menjadi prosedur wajib bagi setiap perusahaan penerbangan.

Namun pagi itu uluk salamnya berbeda. Bukan Selamat Pagi, melainkan Assalamualaikum dan Salam Sejahtera kepada para penumpang yang terhormat. Rasa-rasanya saya belum pernah mendengar uluk salam seperti ini sepanjang pengalaman saya terbang domestik. Seperti kebiasaan saya, saya mereka-reka…….. Apa memang prosedur uluk salamnya Adam Air sudah ganti? Atau karena kebetulan hari itu berada di antara hari Natal dan hari Idul Adha? Namun yang pasti, saya merasakan nuansa batin yang agak berbeda.

Ketika keesokan malamnya saya masuk ke dalam pesawat guna menempuh perjalanan kembali ke Jogja, juga dengan Adam Air, diam-diam saya menanti-nanti uluk salam seperti apa yang akan disampaikan oleh sang pramugari.

Eh, rupanya si embak pramugari kembali beruluk salam dengan ucapan Selamat Malam dan Good Evening. Jadi rupanya kemarin pagi itu hanya sekedar improvisasi atas inisiatif sang pembaca naskah saja, saya pikir. Ya sudah. Namun setidak-tidaknya kemarin saya telah menemukan suasana batin yang agak berbeda.

Good Morning Selamat Pagi.
Pesawat kuning uluk salamnya ganti, tapi hanya sekali…..  

Yogyakarta, 2 Januari 2007.
Yusuf Iskandar