Posts Tagged ‘woodstock’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(26).    Hujan Di Sepanjang Pegunungan Adirondack

Memasuki Vermont pagi itu kami langsung berada di jalan Interstate 89. Setelah berjalan sejauh 6 km, lalu mengambil exit berpindah ke jalan Highway 4. Lalu lintas masih belum ramai dan kami pun berjalan agak santai dengan kecepatan sedang-sedang saja. Saya akan terus mengikuti Highway 4 ini hingga kota Rutland dan selanjutnya nanti akan kembali memasuki wilayah negara bagian New York bagian utara.

Hari itu, Minggu, 9 Juli 2000, saya merencanakan akan menempuh perjalanan cukup panjang menuju kota Niagara Falls di ujung barat laut negara bagian New York. Jarak yang akan saya tempuh adalah 482 mil (sekitar 771 km) dengan melalui rute jalan yang membelah pegunungan Adirondack. 

Belum jauh menyusuri Highway 4, kami sampai di Taman Nasional Quechee di dekat kota kecil yang juga bernama Quechee. Kami melewati sebuah jembatan yang membentang di atas ngarai yang curam di ketinggian 50 m di atas sungai Ottauquechee. Dari jembatan ini tampak pemandangan alam terbuka yang cukup menawan di areal perbukitan dan pedesaan Vermont. Melintasi jalan beraspal mulus dua lajur dua arah yang membelah hutan Quechee ini memang terasa sejuk dan berkesan teduh, meskipun sebenarnya hari masih agak pagi dan belum terlalu panas. 

Kami terus saja melaju di Highway 4 karena memang tidak ada rencana untuk mengeksplorasi lebih jauh daerah ini. Kemudian kami tiba di kota kecil Woodstock yang berelevasi sekitar 215 m di atas permukaan laut. Kota yang hanya berpopulasi sekitar 1.000 orang ini memang tergolong kota tua yang tenang dan banyak menyimpan bangunan bersejarah.

Saat musim dingin, kota peristirahatan ini banyak dikunjungi orang sebagai lokasi berolahraga ski. Selanjutnya kami melewati jalur pegunungan yang enak dilalui, jalur yang sepi dengan pemandangan alam yang tidak membosankan.

Akhirnya kami sampai di kota Rutland yang terkenal dengan industri pertambangan (quarry) maupun pengolahan marmer, sehingga kota ini dikenal juga sebagai “Marble City” atau kota marmer. Kota yang berpenghuni sekitar 18.200 jiwa dan terletak di ketinggian 170 m di atas permukaan laut ini memang terletak di wilayah yang dikelilingi pegunungan. Sehingga menciptakan suasana kota yang berkesan damai dan nyaman khas pegunungan.

Menjelang keluar dari kota Rutland, anak laki-laki saya mengeluh kepalanya pusing. Wah, saya mulai khawatir jangan-jangan mabuk kendaraan karena tadi melewati rute pegunungan yang cukup berkelok-kelok. Tapi ngomongnya kok sambil cengengesan. Barulah saya paham. Ini memang trick anak saya.

Terbukti kemudian keluhannya dilanjutkan : “baru bisa sembuh kalau diobati es krim …..”. Weleh….. weleh….., terpaksa mampir dulu di stasiun pompa bensin mengantarkan anak membeli es krim, obat yang dimauin itu tadi, sambil sekalian menambah BBM.

Dalam hal-hal semacam ini, terkadang kami orangtuanya perlu mengalah. Ya, inilah salah satu langkah kompromis yang sudah kami antisipasi sebelumnya dalam menghadapi tingkah anak-anak. Kami sepakat, hal semacam ini jangan ditolak, karena akan sangat membantu menetralisir rasa bosan yang mulai muncul akibat berkendaraan terus-menerus beberapa hari ini. Guyon tapi seriusnya anak-anak ini sangat lebih baik daripada kalau tiba-tiba uring-uringan tidak jelas apa maunya. Lha wong namanya anak-anak ……

Sekitar setengah jam meninggalkan kota Rutland, akhirnya kami masuk ke wilayah negara bagian New York. Wilayah New York sebelah utara ini umumnya berupa pegunungan yang tidak padat penduduknya. Kami masih terus mengikuti jalan Highway 4 yang selanjutnya menyambung ke Highway 22 dan 149 hingga tiba di kota Glenns Falls. Sekitar 5 km di utara Glenns Falls ada kota Lake George, sebuah kota kecil yang terletak tepat di ujung selatan Danau George. Sesuai rencana, dari sini kami akan menyusuri pegunungan Adirondack.

***

Melalui Highway 28 yang melengkung ke utara, kami mulai mendaki mengikuti rute panjang jalur pegunungan Adirondack hingga nantinya turun di kota Rome. Jalur yang kami pilih ini berjarak sekitar 225 km, melewati beberapa kota kecil di puncak-puncak pegunungan serta menerobos beberapa jalan kecil agar tidak terlalu membuang waktu.

Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 1:00 siang. Rupanya cuaca sedang kurang bersahabat. Belum lama meninggalkan kota Lake George, hujan mulai turun dan membuat saya harus mengendalikan kecepatan laju kendaraan. Hari Minggu siang itu ternyata lalu lintas cukup ramai. Kelihatannya rute ini banyak menjadi pilihan orang-orang untuk berwisata pegunungan. Namun untungnya arus lalu lintas cukup lancar, sehingga saya tidak khawatir akan kehilangan waktu.

Pegunungan Adirondack merupakan sebuah gugusan pegunungan di wilayah New York bagian utara dan membentang di areal seluas lebih dari 2,4 juta ha yang sekitar setengahnya masih merupakan hutan liar. Gunung Marcy (1.6230 m) merupakan yang tertinggi di antara 42 gugusan pegunungan yang rata-rata tingginya di atas 1.200 m. Lebih dari 2.800 danau dan kolam, 1.900 km sungai-sungai dan 48.000 km aliran-aliran air, dijumpai menyebar di seluas bentang alam pegunungan yang sangat luas ini. Di areal yang sama kini terdapat 1.760 km jalan raya dan 190 km jalan kereta api.

Nama Adirondack sendiri pertama kali digunakan oleh suku Indian Iroquois yang menyebut suku Indian pendahulunya yaitu Algonquin yang suka makan sejenis pohon bark. Karena itu suku Indian Iroquois menyebutnya dengan “ha-de-ron-dah” yang artinya pemakan pohon bark. Pegunungan Adirondack kini menjadi wilayah yang dilindungi dan menjadi tempat rekreasi alam sepanjang tahun. Di beberapa lokasi masih terlihat bekas kebakaran hutan yang pernah terjadi beberapa kali sejak tahun 1899, lalu 1903 dan kemudian 1908, serta pernah dilanda angin topan pada tahun 1950.

Taman Pegunungan Adirondack yang pertama kali dibentuk tahun 1882 ini kira-kira berdiameter 200 km dan mempunyai struktur geologi yang sangat kompleks. Hampir semua batuan di daerah ini berupa batuan metamorf dengan tiga tipe batuan : metasedimen, metavulkanik dan metaplutonik. New York State Geological Survey menyebut bahwa pegunungan Adirondack ini sebenarnya pegunungan muda tetapi terbentuk dari batuan-batuan tua, yang terjadi pada jaman Proterozoikum Tengah dan Akhir. Meski demikian, masih banyak hal dari geologi daerah ini yang belum terungkap.

***

Cuaca masih saja hujan saat kami tiba di kota-kota kecil di jalur pegunungan ini. Ada beberapa kota kecil yang terlihat banyak dikunjungi orang di antaranya kota North Creek, Indian Lake, Blue Mountain Lake, Raquette Lake, Eagle Bay dan Old Forge. Ketika berada di penggal jalan antara kota Blue Mountain Lake dan Raquette Lake kami sempat berhenti sejenak ketika rute yang kami lalui menyusuri beberapa pinggiran danau, diantaranya danau Blue Mountain, Eagle, Utowana dan Raquette.

Di saat hujan seperti itu ternyata masih banyak warga yang berwisata perahu dan memancing. Di sepanjang rute ini kami memang banyak bertemu dengan kendaraan yang menggandeng trailer kecil bermuatan perahu.

Kalau saja tidak turun hujan, saat itu kami sebenarnya sedang berada di daerah yang berpemandangan cukup indah, berada di tepian beberapa danau dengan latar belakang pegunungan Adirondack. Di daerah inilah semula kami merencanakan untuk beristirahat dan menikmati alam pegunungan berdanau yang tentu saja agak berbeda dengan daerah pegunungan di tempat-tempat lain yang pernah kami kunjungi. Namun karena hujan tidak juga reda akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kalaupun berhenti, paling-paling hanya dapat berdiam di dalam mobil saja.

Akhirnya sekitar jam 4:00 sore kami tiba di kota Rome. Hujan sudah mereda sejak sebelum tiba di kota Rome tadi. Kami lalu masuk ke jalan bebas hambatan Interstate 90 yang juga merupakan jalan toll New York State Thruway yang membentang arah timur-barat. Kurang dari satu jam kemudian kami tiba di kota Syracuse.

Sejak sebelum melakukan perjalanan panjang ini, sebenarnya saya merencanakan setelah tiba di Syracuse akan berbelok ke selatan menuju kota Ithaca di dekat ujung selatan danau Cayuga. Di sana tinggal mbak Rinta Gillert (alumni Geologi) dan keluarganya. Di sana pula saya ingin melihat lebih dekat kampus Cornell University yang terkenal itu. Namun sayangnya, di saat yang sama mbak Rinta akan berlibur ke Indonesia dan ke beberapa negara Asia bersama keluarganya.

Rencana untuk singgah di kota pelajar Ithaca lalu saya ubah. Sebagai gantinya saya akan mampir mengunjungi keluarga bekas teman kerja di Tembagapura yang kini kembali ke kampungnya di kota Baldwinsville, sekitar 15 km barat laut Syracuse. Kami diterima dengan sangat ramah oleh istri teman saya yang asal Manado, sedangkan teman saya sendiri sedang berada di luar kota. Bahkan keluarga dari adik teman saya itu juga turut menyambut kedatangan kami.

Seperti sudah paham tentang kultur Indonesia, di tengah keluarga adik teman saya itu saya justru tidak menemukan keramahan Amerika. Silaturrahmi itu terasa lebih bersuasana ke-indonesia-indonesia-an. Warna keramah-tamahan yang jelas berbeda dari warna budaya Amerika. Anak-anak saya pun dapat cepat beradaptasi dengan anak-anak dari adik teman saya yang kebetulan sebaya. Saya berprasangka, jangan-jangan keluarga adik teman saya ini sebelumnya sudah di-briefing tentang kultur Indonesia oleh keluarga teman saya yang bernama Bob dan Ika Golden.

Menjelang jam 8:00 malam yang sebenarnya matahari belum tenggelam sehingga hari masih cukup terang, kami melanjutkan perjalanan ke barat menuju ke kota Buffalo lalu ke Niagara Falls. Niagara Falls adalah kota tujuan kami hari itu. Menjelang jam 10:00 malam kami sampai di kota Niagara Falls yang malam itu masih tampak basah oleh bekas hujan, sebagaimana hujan turun di sepanjang perjalanan kami selepas dari Baldwinsville tadi. Kami langsung menuju ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya dan kami rencanakan dua malam akan berada di kota ini.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

5 Februari 2008

Pengantar :

Catatan ini saya buat untuk menjawab pertanyaan rekan saya Mas Mimbar Seputra : “Apakah kota Woodstock yang saya maksud dalam perjalanan Keliling Setengah Amerika itu adalah kota Woodstock yang sering digelar pesta musik kaliber dunia?”. Pertanyaan ini justru mengingatkan saya tentang konser musik Woodstock dan masa kecil saya. Karena itu, catatan berikut ini sekaligus merupakan catatan perjalanan dan nostalgia saya.

(1).     Konser Musik Woodstock (Bagian 1)
(2).     Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(1).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 1)

Kota Woodstock yang saya lewati dalam perjalanan keliling setengah Amerika berada di negara bagian Vermont, sedangkan kota Woodstock yang berkaitan dengan festival musik (yang disebut Mas Mimbar) itu berada di negara bagian New York. Ya ….., masih dekat-dekat Manhattan, sekitar 160 km di utaranya.

Saya sebut berkaitan dengan festival musik, karena sebenarnya konser musik “Woodstock” yang pertama kali diadakan pada bulan Agustus 1969 bertempat di kota kecil Bethel, di sebelah barat daya kota Woodstock, New York. Sedangkan nama “Woodstock” terlanjur diabadikan karena memang di kota itulah rencana mula-mula konser “Woodstock69” akan diselenggarakan, sebelum kemudian dipindah ke Bethel.

Inilah konser musik rock terbesar, terheboh dan terkisruh yang pernah diselenggarakan, sehingga kemudian mengilhami Pemda negara bagian New York untuk mengeluarkan beberapa peraturan menghindari hal serupa terulang kembali. Padahal pesta musik ini menyandang motto “three days in peace and music“.

Sekitar 500.000 penonton membanjiri kota kecil Bethel. Kemacetan terjadi dimana-mana di jalan yang menyambung ke Bethel. Ratusan polisi terpaksa kerja lembur. Tindak pencurian, pengrusakan, pemerkosaan, dan beraneka ria kejahatan terjadi, termasuk korban yang meninggal dunia di lokasi konser yang berlangsung tiga hari tiga malam non-stop.

Di “Woodstock69” inilah pemusik-pemusik terkenal turut ambil bagian, seperti : Janis Joplin, Jimi Hendrix, Bob Dylan, Roger Daltrey, Jerry Garcia, dsb. Sedangkan kota Woodstock sendiri (yang namanya diabadikan sebagai judul konser musik) kini menjadi kota terbesar keempat di Amerika dalam urusan studio rekaman, setelah New York, Los Angeles dan Nashville. 

Konser musik berikutnya, “Woodstock94”, digelar bulan Agustus 1994 di kota kecil Saugerties, dalam rangka memperingati 25 tahun “Woodstock69” yang melegenda. Kali ini lokasinya memang berdekatan dengan kota Woodstock.

Kemudian digelar lagi “Woodstock99” pada bulan Juli 1999 di kota Rome, dalam rangka merayakan 30 tahun “Woodstock69”. Kebetulan kota ini sempat saya lewati ketika turun dari pegunungan Adirondack dalam perjalanan keliling setengah Amerika. Lokasinya agak menjauh ke utara dari kota Woodstock.

“Woodstock94” dan “Woodstock99” berlangsung lebih tertib. Ratusan ribu pengunjung membanjiri arena pesta musik yang juga digelar selama tiga hari. Kali ini pihak Pemda setempat sudah lebih siap, termasuk bagaimana menjaring sebanyak-banyaknya dollar para pengunjung yang datang dari penjuru Amerika.

Yang kemudian terlintas di pikiran saya bukan pesta musiknya, melainkan tempat penyelenggaraannya yang kiranya dapat menjadi cermin bagi kita. Bahwa hajat-hajat besar (maksud saya, acara-acara berskala besar) semacam ini tidak harus diselenggarkan di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Melainkan dapat juga digelar di Cikopo atau Alas Roban atau Pacitan. Agar, rupiahnya para orang kota itu juga ngepyur (tertabur) ke pelosok-pelosok desa melalui penginapan, rumah makan, angkutan atau oleh-oleh (termasuk kendil, cepuk, slepi dan sejenisnya).

Pertanyaan bernada “curiga” dan “waswas” yang kemudian muncul di Jakarta adalah : Apakah masyarakat dan daerah setempat sudah siap?

Kapakno-kapak (biar bagaimanapun juga) kalau tidak pernah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik (wong kita ini tidak kekurangan orang-orang pinter) dan lalu dicoba diterapkan, ya daerah tidak akan pernah siap mengurus apa yang menjadi urusannya …….-

New Orleans, 3 Januari 2001.
Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(2).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 2)

Barangkali diilhami oleh konser musik “Woodstock69”, maka para pemusik dan penyandang dana Indonesia menggelar acara yang mirip-mirip “Woodstock69” di TIM (Taman Ismail Marzuki) tahun 1973. Konser musik itu diberi nama “Summer28” singkatan dari Suasana Malam Hari Kemerdekaan Ke 28, yang dilangsungkan pada malam hari tanggal 16 Agustus 1973.

Turut memeriahkan pagelaran musik (terutama yang berirama rock) pertama dan terbesar pada masa itu, antara lain God Bless (Ahmad Albar, dkk. dari Jakarta), AKA (Ucok Harahap, dkk dari Surabaya), Giant Step (Benny Subardja, dkk dari Bandung), Minstreals (Jelly Tobing dkk dari Medan), dan banyak lagi group-group musik yang lagi jaya-jayanya pada masa itu.

“Summer28” memang sempat kisruh, namun tidak separah “Woodstock69”. Sayangnya kini tidak ada lagi impressario yang berminat menggelar konser musik besar yang sejenis itu. Barangkali khawatir, pertunjukan musiknya akan kalah seru dan kalah heboh dengan “pertunjukan tawuran antar penontonnya”.

***

Itu tahun 1973, saya yang masih sekolah di kelas 1 SMP di kampung saya di Kendal, memandang kota Jakarta tampak seperti jauuuuuuuh ……. sekali. Apalagi datang ke Jakarta, nyaris seperti sebuah mimpi. Namun di tahun yang sama dan tahun-tahun sesudah itu, saya berkali-kali menyaksikan penampilan group-group musik itu di Semarang yang jaraknya hanya 30 km dari Kendal.

Di Semarang, mereka biasanya tampil di THD (Taman Hiburan Diponegoro) dan GOR Simpang Lima. Kedua tempat dan bangunan itu sekarang sudah bablasss…sak angin-anginnya, entah dimakan butho (raksasa) dari mana. Padahal THD waktu itu termasuk Taman Hiburan yang murah-meriah.

Meskipun itu adalah pengalaman masa kecil saya lebih 25 tahun yll. Namun saya masih ingat persis karena saya lakukan berkali-kali. Setiap kali ada pementasan di THD (biasanya sebulan atau dua bulan sekali), hari Sabtu sore saya minta uang kepada almarhum ibu saya Rp 500,- (lima ratus rupiah). Perinciannya : Rp 300,- untuk ongkos naik Colt angkutan Kendal – Semarang pp. Setiba di terminal Pasar Johar lalu berjalan kaki sekitar 750 meter menuju THD di Bubakan. Sisanya untuk bayar tiket masuk THD yang besarnya Rp 200,-

Saat pertunjukan musik di mulai, saya biasanya langsung menyusup ke depan panggung di dekat loud speaker, meskipun bunyinya memekakkan telinga tapi saya dapat nonton dengan bebas dan jelas. Sebab kalau saya tidak melakukan itu, saya akan kalah bersaing dan terhalang oleh penonton-penonton lain yang umumnya lebih dewasa dan lebih besar dari saya. Maklum, wong namanya panggung terbuka murah-meriah, jadi tempat duduknya terkadang jadi tempat berdiri. Apalagi kalau habis hujan, dapat dipastikan menjadi basah.

Berangkat dari Kendal jam 19:00 malam, jam 20:00 tiba di Semarang, jam 20:30 acara dimulai, jam 22:30 acara selesai dan lalu berjalan kaki kembali ke terminal Pasar Johar menunggu angkutan, jam 00:00 tengah malam tiba kembali di rumah di Kendal. Saat menunggu Colt di Pasar Johar, biasanya sambil duduk nongkrong di pagar tempat parkir di halaman sangat luas antara Pasar Johar dengan Masjid Besar dan gedung bioskop “Rahayu”, bersamaan dengan bubaran pasar Ya’ik yang digelar sore hingga malam (sebelum ada bangunan permanen Pertokoan Ya’ik Permai).

Catatan ini memang saya maksudkan untuk sekedar bernostalgia. Namun ada sedikit terselip sebuah kebanggaan, karena pengalaman semacam ini umumnya tidak dialami oleh anak-anak kecil sebaya saya pada jaman itu. Buktinya? Kalau sehabis nonton pertunjukan musik lalu keesokan harinya saya berceritera kepada teman-teman main saya, ternyata tidak nyambung. Kedengaran seperti sebuah “dongeng yang aneh”. Kalau begitu, ya cukup untuk saya nikmati sendiri saja.

New Orleans, 4 Januari 2001.
Yusuf Iskandar