Posts Tagged ‘wirosaban’

Nasi Bakar Wirosaban Jogja

25 Oktober 2010

“Nasi Bakar Wirosaban”, judul warungnya. Berlokasi di selatan RSUD Wirosaban Yogyakarta, berupa gubuk-gubuk sederhana di atas kolam.

Nasi bakar adalah nasi uduk + daun ubi dan kemangi dibungkus daun pisang lalu dibakar. Lauknya ikan nila kremes, juga ada gurami atau lainnya, bisa goreng/bakar. Harganya senada dengan kesederhanaan tampilan gubuk-gubuk dan fasilitasnya, alias murah-meriah-renyah. Rasanya tergolong oenak, buktinya saya habis dua porsi…

Yogyakarta, 19 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Bakmi Jawa Pak Gundul

6 Desember 2009

Akhirnya, malam ini kesampaian untuk mencicipi bakmi jawa Pak Gundul, Wirosaban (wetan bangjo, seberang RSUD), Jogja… Enak sekali sih tidak, tapi lumayan enak lah….

Yogyakarta, 5 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Berharap Gratisan, Bersiap Tidak Punya Pilihan

14 Mei 2008

Ibu mertua saya adalah pemegang kartu Askes. Kalau mau memeriksakan kesehatannya, beliau akan pergi ke RSU dengan menggunakan segala fasilitas pelayanan gratis yang diberikan oleh kartu sakti bernama Askes itu. Bagi beliau ada beda yang nyata antara berobat gratis di RSU dan berobat membayar di RS swasta atau dokter praktek. Meskipun untuk memperoleh pelayanan gratis itu ada konsekuensi yang harus dijalani menyangkut kualitas pelayanan, menunggu antrian yang seringkali lama, atau jenis obat murah tapi bukan murahan.

Bukan nilai uangnya yang terkadang berwarna abu-abu, melainkan nilai kebanggaannya yang jelas beda antara hitam dan putih. Perbedaan yang tidak bisa dibandingkan dengan kata-kata sombong anak atau menantunya yang katanya lebih baik pergi ke dokter ahli swasta berapapun biayanya. Kebanggaan tak terukur bagi seorang janda tua pemegang kartu Askes yang tinggal tidak serumah dengan anak dan menantunya.

***

Ketika menemani mertua ke RSUD Wirosaban Jogja, saya ikut duduk beramai-ramai di ruang tunggu berbaur dengan banyak pasien lainnya. Saya hitung ada lebih 65 orang pasien yang sedang menunggu di sana, hampir semuanya sepuh (sempat-sempatnya mengitung…..). Tentu mereka juga pemegang kartu Askes atau Askeskin bagi masyarakat miskin. Ada dua golongan pasien, masing-masing menunggu di depan poliklinik penyakit dalam dan syaraf yang letaknya bersebelahan. Saya masih harus bersabar sambil klisikan menjelang munculnya rasa bosan.

Beberapa saat kemudian saya lihat pasien yang tadi sudah ditimbali (dipanggil) suster untuk masuk ke ruang periksa di kedua poliklinik, kok pada keluar lagi? Rupanya mereka yang keluar dari poliklinik syaraf diberitahu oleh susternya untuk menunggu di luar dulu karena dokternya mau jagong (kondangan). Dan mereka yang keluar dari poliklinik penyakit dalam diberitahu, juga untuk menunggu di luar dulu karena dokternya ada rapat. Hebatnya para orang-orang tua ini, mereka menceritakan semua itu kepada sesama pasien penunggu dengan ringan, muka cerah, tanpa menampakkan muka kecewa (mungkin ada sedikitlah…). Sedang saya yang mendengarnya saja kesal rasanya. Pasien-pasien tua itu disuruh menunggu karena dokternya mau kondangan dan ada rapat….?

Saya tidak ingin membahas tentang benar atau salah, sebaiknya atau tidak sebaiknya. Saya tidak punya ilmunya tentang etika semacam ini. Saya lebih tertarik mengenangnya sebagai peristiwa pelayanan bisnis. Saya mencoba berandai-andai…

Andai-andai yang pertama, kalau dokter itu adalah penjual singkong goreng, pasti akan ditinggal pergi pelanggannya yang memilih membeli gorengan di warung lain meski mungkin harus mengesampingkan faktor cita rasa. Andai-andai yang kedua, kalau pasien itu bukan pemegang kartu Askes atau Askeskin alias pasien mampu, pasti memilih untuk berobat ke dokter lain meski mungkin harus membayar lebih mahal.

***

Lebih 75 menit berlalu, para pasien tua masih dengan tekun menunggu sambil bercengkerama dengan sesama penunggu lainnya. Mereka tampak enjoy aja….. Heran, saya…..! Sudah saya tinggal sholat dhuhur di musholla, belum juga para dokter itu kembali (saya pikir kalau ditinggal sholat, dan sholatnya agak dipercepat…… lalu kondangan dan rapatnya juga akan cepat selesai, ternyata tidak ada hubungannya….. ugh…).

Untuk mengusir kebosanan, saya mengajak bercakap-cakap (kata ini sekarang jarang digunakan) orang tua laki-laki berusia 68 tahun yang duduk di sebelah saya. Beliau bercerita tentang stroke yang dideritanya sejak lima tahun terakhir. Setiap bulan selalu periksa ke RSUD Wirosaban Jogja, ya karena gratis itu. Darimana saya tahu usianya 68 tahun? Sederhana saja. Saya hanya tanya tentang pekerjaan terakhirnya, maka beliau dengan semangat empat lima bercerita pengalamannya sebagai PNS yang pensiun pada tahun 1995. Maka hitungannya menjadi 55 + (2008-1995) = 68.

Seorang ibu agak tua yang duduk agak di sebelah kiri saya kemudian juga saya ajak ngobrol. Sebagai penderita kolesterol, katanya (padahal kolesterol itu baik untuk tubuh, tapi kok malah menderita……?), beliau setiap bulan juga rajin periksa di tempat yang sama. Juga untuk alasan karena gratis.

Lho yang menghuuerankan saya, meski bapak tua itu kalau jalan sudah thunuk-thunuk dan ibu agak tua itu juga kelihatan kurang lincah, wajah-wajah mereka tetap cerah sumringah. Tidak sedikitpun menampakkan roman muka kesal atau manyun….., padahal pelayanan kesehatan yang mereka harapkan melalui kartu Askes atau Askeskin itu diberi bonus disuruh menunggu dokternya kondangan dan rapat entah sampai jam berapa atau berapa jam. Tampak benar, legowo sekali mereka menerima keadaan yang tanpa punya pilihan.

***

Sial benar orang yang mau gratisan, mereka tidak akan pernah punya pilihan. Barangkali aturannya memang berbunyi kalau mau berharap gratisan ya kudu bersiap tidak punya pilihan. Para pasien tua itu harus nrimo, karena satu-satunya pilihan bagi mereka adalah sabar menanti hingga para dokter itu kembali ke ruang prakteknya.

Kalau kemudian ada orang yang mampu memberi fasilitas gratisan dan sekaligus juga memberi pilihan kepada orang lain, sungguh orang itu mulia dan pantas didoakan agar panjang umur dan banyak rejeki. Sebaliknya kalau ada orang yang suka meminta fasilitas gratisan tapi ngotot menuntut diberi pilihan, sungguh orang yang tidak tahu diri. Cilakaknya, kelompok yang kedua ini sekarang lagi musim di negeri ini (mengalahkan musim durian, rambutan atau penghujan yang hanya berlangsung beberapa bulan saja).

Yogyakarta, 14 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Bukan Saya

13 Mei 2008

Hari ini akan saya ingat sebagai hari yang agak beda dari biasanya. Ada dua peristiwa biasa tapi memberi hikmah yang tidak biasanya.

Jam delapan pagi saya sudah bergegas meluncur ke rumah seorang teman lama untuk melayat ibu mertuanya yang meninggal kemarin. Sudah agak lama saya tidak berkomunikasi dengan teman saya, yang hampir 29 tahun yll pernah sekamar kost di Yogya. Saya sempatkan untuk melayat ke rumah duka dan mengantar jenazahnya hingga ke pemakaman.

Baru saja tiba di rumah sepulang melayat, ada tilpun dari ibu mertua yang minta diantar ke rumah sakit. Segera bergegas lagi bersama istri menjemput ibu mertua dan mengantarnya ke RSUD Wirosaban, Yogyakarta. Setelah mengurus ini-itu di loket, kemudian tiba di ruang tunggu poliklinik penyakit dalam. Namanya juga ruang tunggu, jadi mestinya ya ruang untuk menunggu. Dan yang namanya menunggu dokter di rumah sakit rakyat jelata, tak terprediksi berapa lamanya. Tingkat kelamaannya akan berbanding lurus dengan tingkat kemanyunan pengantar dan penunggu seperti saya.

Sambil melamun manyun, terkadang duduk terkadang berdiri, sambil tersenyum kecut dalam hati seperti ada yang mengingatkan perjalanan saya beberapa jam sebelumnya pagi tadi. Sebenarnya tidak ada yang salah, dua pekerjaan telah dan sedang saya jalani dengan tanpa beban dan ikhlas (meski agak manyun juga kelamaan menunggu), mengantar jenazah mertua teman dan mengantar mertua sakit.

Tiba-tiba saya seperti sedang disadarkan. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar jenazah mertua teman ke pemakaman, bukannya saya yang diantar. Harusnya saya bersyukur telah berkesempatan mengantar mertua ke rumah sakit, bukan saya yang diantar.

Seringkali kita berlindung dan merasa nyaman berada di balik kata “bukan saya”. Bukan saya yang digusur, bukan saya yang jadi korban kecelakaan, bukan saya yang terkena bencana, bukan saya yang kesulitan beli minyak, bukan saya yang terpaksa meminta-minta, bukan saya yang di-PHK, bukan saya yang disia-sia Satpol PP, bukan saya yang gagal ujian, bukan saya yang…… , bukan saya…….

Semua berlalu tanpa makna. Begitu saja. Lalu kita pun lupa. Tapi dua pengalaman pagi tadi yang sebenarnya biasa-biasa saja, entah kenapa tiba-tiba menggetarkan hati saya. Bukan saya….., lalu apakah akan tetap begitu saja sambil menunggu tiba kesempatannya (kesempatan kok ditunggu…..), diantar seperti ibu mertua teman saya dan ibu mertua saya?

Padahal yang namanya kesempatan itu sama sekali tidak berbanding lurus atau berbanding terbalik atau berpersamaan matematika dengan waktu, melainkan adalah eksistensi diri kita sendiri. Bak quiz tapi judi di televisi yang direstui petinggi negeri, berbiaya premium tinggi dan dipandu mahluk cantik merak ati : siapa cepat dia dapat…… Begitu juga kesempatan mengantar atau diantar silih berganti tidak mengenal antri.

Yogyakarta, 13 Mei 2008
Yusuf Iskandar