Posts Tagged ‘wheaton’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(7).     Jalur Lintas Angkasa Di Pegunungan Blue Ridge

Usai istirahat di pinggir kota Beckley, perjalanan hari Senin siang itu kami lanjutkan dengan menyusuri jalan Interstate 64 (I-64), lalu pindah ke I-81 dan menyambung kembali ke I-64 menuju arah timur. Sekitar dua setengah jam kami melewati jalan bebas hambatan sehingga bisa melaju lebih cepat sambil sesekali mencuri batas kecepatan maksimum. Akhirnya tiba di kota kecil Waynesboro dan kembali kami berada di wilayah negara bagian Virginia.

Dari kota Waynesboro ini selanjutnya saya masuk ke jalur pegunungan Blue Ridge melalui pintu selatan dari penggal jalur jalan yang disebut dengan skyline drive (jalur lintas angkasa). Disebut demikian barangkali karena jalur sepanjang 105 mil (sekitar 168 km) ini menyusuri gigir puncak pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) yang membentang utara – selatan, yang beberapa puncaknya berada pada ketinggian lebih 1.800 m di atas permukaan air laut.

Di kota Staunton, sekitar 10 km sebelum tiba di Waynesboro saya sempat berhenti istirahat sebentar, sambil mencoba menghubungi Mas Prapto Supeno via tilpun. Sekedar ingin mengkonfirmasi bahwa saya sudah dalam perjalanan menuju ke kotanya, dan secara hitung-hitungan sekitar jam 8:30 malam baru akan tiba di Wheaton.

***

Rute panjang pegunungan Blue Ridge (Blue Ridge Parkway) sendiri tepatnya berada membentang antara Taman Nasional Senandoah di sebelah utara hingga Taman Nasional Great Smoky Mountain di sebelah selatan, dengan panjang keseluruhan sekitar 469 mil (sekitar 750 km). Karena itu memasuki jalur skyline drive dari Waynesboro berarti saya berada di pintu masuk Taman Nasional Shenandoah sebelah selatan yang disebut dengan Rockfish (South) Entrance Station.

Sebagai pemegang kartu National Park Pass, saya bisa langsung memasuki Taman Nasional Shenandoah dengan tanpa perlu membayar uang masuk yang besarnya US$10 per kendaraan.

Wilayah hutan liar Shenandoah yang secara resmi ditetapkan sebagai salah satu Taman Nasional pada tanggal 26 Desember 1935 mempunyai luas areal sekitar 794 km2. Di wilayah hutan liar ini masih banyak dijumpai jenis-jenis binatang seperti beruang hitam, rusa dan kalkun liar, yang hidup di antara hutan tanaman oak-hickory. Pada musim-musim tertentu wilayah hutan ini menjadi tempat berburu, terutama untuk berburu kalkun liar.

Setiap tahun Taman Nasional Shenandoah dikunjungi oleh tidak kurang dari dua juta wisatawan yang umumnya memilih jalur skyline drive. Jalur lintas angkasa ini menjadi sangat ramai terutama pada liburan musim panas (sekitar bulan Juni – Juli) dan pada musim gugur (sekitar pertengahan bulan Oktober) saat daun-daun berubah warna menjadi kuning kemerah-merahan. Di saat musim dingin jalur skyline drive ini biasnya tertutup salju, oleh karena itu ditutup untuk umum. 

Jalan dua lajur dua arah ini cukup mulus, berkelak-kelok tidak terlalu tajam, dan dapat dilalui dengan kecepatan maksimum 35 mil/jam (sekitar 55 km/jam). Di sepanjang jalur skyline drive ini, di beberapa tempat terdapat lokasi-lokasi untuk menikmati pemandangan (overlook). Bentang alam berupa lembah, ngarai serta pegunungan berada di seberangnya, tampak di sebelah menyebelah jalan.

Saat itu cuaca cukup cerah dan matahari sore masih enak dinikmati. Beberapa kali kami berhenti untuk sekedar turut menikmati suasana alam berbeda di daerah ini. Namun tidak berarti selamanya akan demikian, karena di sebelah timur laut sudah tampak awan gelap yang sewaktu-waktu siap bergerak turun membawa hujan.

Benar juga, setelah sekitar satu jam bergerak santai menyusuri jalur lintas angkasa di pegunungan Blue Ridge ini, hujan mulai turun rintik-rintik dan angin dingin berhembus agak kencang. Akhirnya hujan deras mengguyur disertai angin kencang ketika kami sedang beristirahat di ruang pusat pengunjung (visitor center) sambil melihat-lihat toko cendera mata di daerah yang disebut Big Meadows. Tempat ini berada kira-kira di pertengahan jalur skyline drive yang berada pada elevasi  sekitar 1.060 m di atas permukaan laut.

Setelah beberapa saat ditunggu ternyata hujan tidak juga mereda, sementara hari mulai menjelang gelap, akhirnya saya nekad berlari menuju tempat parkir menerobos hujan untuk mengambil payung hitam yang kebetulan kami bawa. Satu per satu pun anak-anak dan ibunya saya bawa menerobos hujan deras menuju ke dalam kendaraan, agar bisa secepatnya melanjutkan perjalanan. Tak terhindarkan lagi, baju di badan pun basah oleh air hujan.

Segera perjalanan kami lanjutkan untuk keluar dari Taman Nasional Shenandoah melalui pintu utara yang disebut dengan Front Royal (North) Entrance Station. Terpaksa tidak bisa membawa kendaraan melaju lebih cepat, khawatir akan kondisi jalan yang licin dan pandangan ke depan yang agak terhalang oleh kabut dan hujan deras.   

***

Sekitar jam 19:00 kami baru keluar dari Taman Nasional ini. Sebenarnya hari belum gelap kalau saja tidak turun hujan. Perjalanan terus kami lanjutkan menuju timur ke arah kota Washington DC sejauh sekitar 125 km melalui Highway 211 dan 29 yang kemudian masuk ke Interstate 66. Melihat hujan masih saja belum mereda meskipun tidak lagi terlalu deras, saya tidak berani melaju dengan kecepatan maksimum. Saya mulai memperhitungkan bahwa pasti akan terlambat tiba di kota Wheaton. Ya, apa boleh buat, lebih baik agak berhati-hati.

Menjelang pukul 22:00 malam, saya baru tiba di jalan lingkar barat kota Washington DC. Di Intersate 495 ini saya langsung saja menyusur ke utara, lalu melingkar ke timur di sisi utara Washington DC, dan akhirnya exit menuju ke arah kota Wheaton yang berada di wilayah negara bagian Maryland. Maryland yang mempunyai nama julukan sebagai “Old Line State” dengan ibukotanya di kota Annapolis adalah negara bagian kesebelas yang saya lintasi hingga hari ketiga ini, setelah sebelumnya melintasi negara bagian West Virginia.

Kota Wheaton yang berpopulasi sekitar 50.000 jiwa ini berjarak hanya sekitar 15 km dari pusat kota Washington DC. Daerah Wheaton menjadi semacam daerah penyangga bagi ibukota Washington DC, yang barangkali bisa saya andaikan seperti halnya Depok, Bekasi atau Tangerang terhadap Jakarta.

Lebih pukul sepuluh malam, kami baru tiba di rumah Mas Prapto Supeno. Gerimis masih membasahi kota Wheaton yang malam itu sudah tidak terlalu ramai. Rupanya Mas Supeno dan kedua putra-putrinya sudah menunggu-nunggu sejak tadi. Ya maklum, akibat hujan deras sejak di Taman Nasional Shenandoah sore harinya kami jadi tidak berani bergerak lebih cepat.

Malam ini kami menginap di rumah Mas Supeno yang adalah teman lama di Yogya karena pernah sama-sama sebangku kuliah di jurusan Tambang. Hanya saja Mas Supeno memilih meninggalkan bangku kuliah sebelum selesai untuk mengadu nasib di sebuah negeri besar yang bernama Amerika ini. Dan kelihatannya aduannya berhasil, tentu menurut ukuran orang yang harus merangkak dari awal berjuang hidup di negeri orang, di sektor non-formal yang tidak ada kaitannya dengan dunia pertambangan.

Segera saja kedua anak saya berbaur dengan kedua anak Mas Supeno yang ternyata sebaya. Belakangan saya baru melihat sendiri bahwa ternyata kawan lama saya ini tidak saja berjuang mencari hidup di negeri orang tetapi juga menjadi single parent (orang tua tunggal) untuk kedua orang putri dan putranya, sejak istrinya tercinta mendahului menghadap kepada Yang Maha Kuasa tahun lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sungguh saya sangat menghargai perjuangan kerasnya. Sebuah sisi lain dari kehidupan manusia yang selama ini tidak pernah saya bayangkan.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar

Iklan

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(8).     Antri Memasuki Gedung Putih

Hari ini, Selasa 4 Juli 2000, adalah hari ulang tahun Amerika (Independence Day) ke 224. Kami merencanakan untuk mengunjungi Gedung Putih (The White House) pagi itu bersama-sama dengan keluarga Mas Supeno. Lalu siangnya jalan-jalan di ibukota Washington DC, yang biasanya cukup disebut DC saja (singkatan dari District of Columbia), barangkali untuk membedakannya dengan negara bagian Washington yang ada di ujung barat laut Amerika.

Dari informasi yang telah saya kumpulkan sebelumnya, hari ini Gedung Putih akan buka sebagaimana biasanya. Hanya saja khusus hari ini tidak diperlukan pengambilan tanda masuk terlebih dahulu, melainkan diterapkan sistem first come, first serve (dulu-duluan datang), langsung ke pintu samping timur Gedung Putih.

Sepanjang tahun Gedung Putih memang terbuka untuk umum dan boleh dikunjungi oleh siapa saja, dari hari Selasa hingga Sabtu, sedang hari Minggu dan Senin tutup. Benar-benar untuk umum karena tanda masuk dapat diperoleh dengan gratis. Tentu ada tata tertib yang harus dipatuhi. Biasanya pengambilan tanda masuk dibuka antara jam 10:00 hingga jam 12:00 siang.

Menjelang jam 10:00 pagi kami berangkat dari Wheaton menuju jantung kota Washington DC yang hanya memerlukan waktu sekitar 15 menit. Barangkali karena Selasa ini hari libur nasional, sehingga lalulintas relatif cukup lancar. Akan tetapi justru di sekitar Gedung Putih menjadi ramai karena ternyata sudah banyak wisatawan yang lebih dahulu berada di sana.

Setelah putar-putar kesulitan mencari tempat parkir di dekat Gedung Putih, akhirnya memperoleh tempat parkir yang agak jauh. Perlu 15 menit lagi untuk berjalan kaki menuju Gedung Putih. Itupun dengan berjalan kaki agak cepat karena khawatir keburu pintu masuk Gedung Putih tutup lebih awal mengingat banyaknya pengunjung.

Tiba di Jalan Pennsylvania Avenue 1600 dimana Gedung Putih berada , ternyata antrian panjang sudah melingkar di sana. Kepalang sudah datang jauh-jauh dan memang salah satu tujuannya adalah untuk mengunjungi sebuah gedung sangat terkenal yang memang bercat putih ini, maka kami pun menyambung di ekor antrian. Saya perkirakan panjang antrian di depannya sudah lebih lima ratus meter. Saat itu sudah menjelang jam 11:00 siang. Dugaan saya sebelumnya benar, sekitar jam 11:30 antrian sudah di putus oleh petugas. Pengunjung sudah tidak diperkenankan lagi menyambung di ekor antrian.

Antrian bergerak cukup cepat, hingga hanya sekitar setengah jam kami sudah sampai di pintu gerbang pemeriksaan seperti kalau mau masuk ke bandara. Seperti biasa, perlengkapan fotografi tidak diperkenankan untuk digunakan selama berada di dalam gedung, tapi tetap boleh dibawa masuk. Hampir di setiap sudut bangunan berdiri petugas penjaga yang berpenampilan cukup bersahabat dan bahkan siap menjawab dengan ramah setiap pertanyaan pengunjung (saya tidak menyebutnya petugas keamanan karena biasanya yang saya sebut terakhir ini cenderung berpenampilan angker dan digalak-galakkan).

Meskipun demikian toh petugas penjaga ini tetap berlaku tegas. Ini tampak ketika ada seorang pengunjung yang entah sengaja entah tidak, duduk di sebuah kursi di ruang pertemuan kenegaraan yang disebut Red Room (karena memang warna merah mendominasi dekorasi ruangan tersebut) yang jelas-jelas ada tertulis larangan untuk mendudukinya.

Ketika ditegur, ternyata sang pengunjung yang kelihatannya pendatang dari Asia ini malah cengengesan bersama teman-teman rombongannya dan tidak sedikitpun menunjukkan sikapnya bahwa dia telah melakukan hal yang salah. Merasa tegurannya tidak diindahkan, maka langsung saja pengunjung nekad ini digandeng dengan cara yang sopan (baca : tidak kasar) oleh sang petugas penjaga dan dibawa keluar. Tidak diapa-apakan, cuma diperingatkan dan setelah itu disuruh menunggu di luar.

***

Sejak lebih 200 tahun yang lalu, Gedung Putih (the White House) berdiri sebagai simbol kepresidenan, simbol pemerintah Amerika Serikat dan simbol bagi rakyat Amerika. Peletakan batu pertama pembangunan gedung ini dilakukan oleh presiden pertama Amerika, George Washington, pada bulan Oktober 1792. Tetapi justru George Washington sendiri tidak pernah menempati gedung ini.

Baru pada tahun 1800, presiden kedua, John Adams menempati gedung baru ini untuk yang pertama kali. Gedung baru ini selanjutnya menjadi tempat kediaman resmi presiden Amerika, dan sejak itu pula setiap Presiden Amerika melakukan perubahan dan penambahan atas Gedung Putih sesuai dengan selera, kebutuhan dan tuntutan perkembangan bangsa Amerika.

Gedung Putih yang bertingkat tiga ini ternyata mempunyai sejarah yang unik. Berhasil dibangun kembali pada tahun 1817 setelah dibakar bangsa Inggris tahun 1814. Kebakaran terjadi lagi di Sayap Barat tahun 1929 setelah sebelumnya dilakukan pelebaran Ruang Santap Malam dan penambahan ruangan untuk staff kepresidenan. Setiap presiden bebas mengekspresikan sentuhan pribadinya dalam mendekorasi ruangan-ruangan Gedung Putih, dan juga dalam cara mereka menerima kehadiran masyarakatnya yang ingin sowan ke Gedung Putih.

Thomas Jefferson (presiden ketiga) mengadakan open house pertama kali tahun 1805. Setiap warga yang hadir dapat dengan bebas memasuki tempat kediamannya hingga ke Ruang Biru (Blue Room), dan sejak saat itu Gedung Putih terbuka untuk dikunjungi masyarakat umum. Hingga pada setiap acara resepsi tahunan Tahun Baru dan Ulang Tahun Kemerdekaan 4 Juli, gedung ini sangat ramai dipadati pengunjung. Andrew Jackson (presiden ke-7) pernah kabur demi alasan keamanan akibat membludaknya pengunjung acara inagurasi di Gedung Putih.

Saat inagurasi Abraham Lincoln (presiden ke-16), Gedung Putih semakin tidak mampu menampung pengunjung. Baru sejak open house yang digelar Bill Clinton (presiden ke-42) pada 21 Januari 1993, tradisi inagurasi Gedung Putih diubah. Hanya dua ribu warga yang diterima di Ruang Resepsi melalui sebuah undian.  

Memasuki Gedung Putih melalui pintu timur yang disebut East Executive Avenue, setelah melewati ruang pemeriksaan, maka akan langsung menuju ke koridor lantai paling bawah. Tampak dari lorong ini halaman dan taman yang tentunya mempunyai kisahnya sendiri, diantaranya tanaman magnolia yang ditanam Andrew Jackson, lalu Taman Jacqueline Kennedy di sebelah timur dan Taman Rose di sebelah barat.

Halaman Gedung Putih ini ternyata dirawat mengikuti tradisi klasik yang dibuat oleh sebuah biro jasa arsitektur lanskap tahun 1935. Di sepanjang koridor ini bergantung foto-foto para presiden dan ibu negara. Juga dapat disaksikan berbagai contoh piring dan perlengkapan makan yang pernah digunakan oleh presiden sebelumnya dalam menjamu para tamu.

Kemudian kami sampai ke Ruang Perpustakaan sebelum naik ke tingkat yang pertama yang disebut State Floor. Di seberang tangga nampak beberapa ruang khusus yang hanya boleh dilihat melalui pintu, yaitu Vermeil Room dan China Room, juga Diplomatic Reception Room. Ruang pertama di lantai satu adalah East Room yang merupakan ruangan terbesar di Gedung Putih yang biasanya digunakan untuk resepsi, acara perayaan, konferensi pers, dsb.

Selanjutnya memasuki Green Room yang furniturnya dibuat di New York tahun 1810, dindingnya ditutup kain sutera hijau, meja makannya dilapisi marmer Italia yang dibeli tahun 1818. Ruangan ini digunakan oleh Thomas Jefferson sebagai ruang santap malam. Ceret kopi milik John Adams ada di sini, juga tempat lilin dari Perancis milik James Madison (presiden ke-4).

Kemudian kami memasuki ke Blue Room yang berbentuk oval yang sering digunakan untuk menerima tamu. James Monroe (presiden ke-5) melengkapi ruangan ini setelah kebakaran tahun 1814, termasuk tujuh kursi dan satu sofa buatan Perancis. Di tempat ini tergantung foto-foto dari John Adams, Thomas Jefferson, James Monroe dan John Tyler (presiden ke-10). Warna biru pertama kali digunakan selama pemerintahan Martin Van Buren (presiden ke-8) tahun 1837.

Dari Blue Room lalu melewati Red Room yang merupakan ruangan favorit para ibu negara mengadakan resepsi-resepsi kecil, sebelum masuk ke ruangan besar State Dining Room di ujung paling barat. Ruangan khusus untuk acara makan malam dan makan siang yang terakhir direnovasi tahun 1902 ini mampu menampung 130 orang tamu. Dari ruangan ini selanjutnya pengunjung keluar melalui pintu sebelah timur laut.

Tingkat dua dan tiga adalah tempat kediaman presiden dan keluarganya, serta ruang kerja tempat para presiden Amerika mengendalikan pemerintahannya. Sudah barang tentu tidak boleh dilongok oleh para pengunjung, apalagi dimasuki. Selain menyaksikan ruang-ruang utama yang secara umum mengekspresikan kesan klasik, artistik dan anggun, juga dapat dijumpai berbagai dekorasi karya seni dan benda-benda kenangan lainnya.

Sekitar satu jam diperlukan untuk menikmati salah satu kebanggaan rakyat Amerika ini. Kebanggaan yang sama dirasakan oleh setiap pengunjung yang sempat menyaksikan secara langsung seperti apa Gedung Putih itu. Masyarakat Amerika juga bangga, karena Gedung Putih yang memiliki 132 ruangan, 32 kamar mandi, 412 pintu, 147 jendela dan setiap hari dikunjungi oleh sekiat 6.000 orang pengunjung, kini menjadi satu-satunya tempat kediaman presiden yang terbuka untuk dikunjungi oleh masyarakat umum dengan tanpa dipungut bayaran. 

Pertanyaan yang kemudian melintas dipikiran saya adalah, apakah masyarakat Gunung Kidul sana juga pernah merasakan kebanggaan yang sama terhadap Istana Merdeka di jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta? Ah, yo embuh…, wong ndak setiap orang boleh masuk kesana……..- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(10).    Menikmati Ikan Bakar, Lalapan Dan Sayur Asam

Matahari sudah lengser ke barat, dan sekitar jam 4 sore kami segera bergegas meninggalkan kompleks Musium Smithsonian dengan tujuan untuk kembali menuju kota Wheaton. Kembali kami menyusuri pinggir utara lapangan rumput yang lumayan tidak terlalu panas dengan banyaknya ditumbuhi pepohonan. Dari kejauhan terdengar bunyi musik dari berbagai konser musik yang sedang digelar di beberapa panggung yang ada di lapangan.

Pertunjukan musik sepanjang hari itu memang bagian dari perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika. Maka tidak heran kalau arena di sekitar lapangan hijau itu banyak dipadati pengunjung. Tidak ketinggalan pedagang kaki lima (tapi pakai mobil) yang turut meramaikan suasana di sepanjang pinggiran jalan.

Siang hari tadi sebenarnya juga ada berbagai atraksi lain, diantaranya karnaval atau parade hari kemerdekaan, parade militer, pembacaan naskah “Declaration of Independence”, dsb. Sore dan malam harinya juga akan digelar berbagai atraksi antara lain konser musik oleh National Symphony Orchestra dan pesta kembang api di Monumen Washington yang baru direnovasi.

Hanya yang agak mengherankan saya, dari daftar agenda acara dalam rangka perayaan kemerdekaan Amerika ini saya tidak menemukan ada upacara pengibaran bendera secara nasional yang kalau di Indonesia justru menjadi acara inti. Di Amerika, acara semacam upacara bendera ini biasanya hanya dilakukan di lingkungan tertentu dan terbatas, karena itu tidak pernah dijumpai arak-arakan anak sekolah, pramuka, hansip, pegawai negeri, tentara, kelompok pemuda ini-itu, pam swakarsa, dsb. yang memenuhi jalanan umum menuju lapangan upacara. Memang, lain ladang lain belalang. Beda negara tentu beda sejarah perjuangannya, karena itu juga beda tradisi dan tata caranya.

***

Cuaca siang itu cukup panas, maka kamipun cepat-cepat saja berjalan menuju ke lokasi parkir kendaraan yang jaraknya agak jauh dari lokasi musium yang baru kami kunjungi. Lama-lama terasa capek juga, apalagi anak-anak. Baru ingat kalau kami belum makan siang. Sesuai rencana, kami akan makan siang di Wheaton. Kata Mas Supeno, di sana ada restoran Indonesia.

Wah, memang ini yang dicari-cari. Serasa tidak sabar segera ingin mencapainya. Sebenarnya rencana semula begitu tiba di Wheaton tadi malam akan langsung makan di restoran Indonesia. Sayangnya saat tiba di Wheaton sudah kemalaman, sehingga restoran sudah tutup.

Mendengar kata restoran Indonesia, rasanya sudah tidak perlu lagi ditanyakan masakannya enak apa tidak. Setidak enak – tidak enaknya masakan di restoran Indonesia, kalau sudah lebih setahun tidak menjumpainya ya pasti akan terasa enak juga. Terbayang sudah, berbagai menu kampung yang sudah luuuamaaa….. tidak ketemu.

Meninggalkan jantung kota Washington DC melalui jalan 16th Street seperti waktu berangkatnya, melaju lurus ke utara hingga menyatu ke jalan Georgia Avenue, memotong jalan lingkar utara Interstate 495 hingga tiba kembali di Wheaton. Sepanjang jalan 16th Street banyak dijumpai rumah-rumah yang berupa bangunan-bangunan kuno yang tampak masih sangat terpelihara dengan baik. Tentu ini memberikan pemandangan yang khas berkesan kota kuno.

Hal yang sama juga kami jumpai di jantung kota Washington DC dimana banyak bangunan-bangunan kuno berkonstruksi menjulang tinggi yang masih difungsikan dan terpelihara dengan baik. Daerah di sekitar pusat kota ini terkesan tidak terlalu sibuk dan relatif enak dijelajahi. Berbeda sekali dengan suasana di sekitarnya yang padat dan ramai sama halnya dengan umumnya kota-kota besar di Amerika.

Setiba di Wheaton, kami langsung saja menuju ke pusat kota, lalu masuk ke jalan 2504 Ennalls Avenue. Di situlah kami akan menyantap makan siang menjelang sore di restoran Indonesia. Restoran “Sabang” namanya. Kebetulan seorang teman Mas Supeno bekerja di restoran ini, sehingga acara membuka-buka daftar menu pun menjadi lebih bersuasana kekeluargaan.

Restoran Sabang sedang tidak ramai, hanya ada satu dua tamu. Ya, karena memang kami datang tidak pada jam makan. Tapi malah kebetulan, kami jadi bisa agak lebih leluasa untuk mengesampingkan tata krama makan di restoran. Terutama dalam hal “cengengesan bersama” menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Hal yang tidak etis untuk dilakukan kalau saja restoran sedang banyak tamu.

Tanpa pikir panjang, langsung saja memesan ikan bakar, lalapan lengkap dengan sambal terasinya, sayur asam dan tentu nasi putih. Anak-anak pun ikut nimbrung : “saya mau sate”. Tidak perlu ditanya-tanya lagi, anak-anak dan ibunya langsung teriak : “es dawet…, es teler…”. Seperti tahu kalau sedang tidak sabar menunggu pesanan makanannya disajikan, musik klenengan gendhing Jawa lalu mengalun. Kedengarannya kok jadi merdu dan bersuasana nglaras (santai seperti tanpa beban pikiran), padahal kalau sedang di Yogya dengar bunyi-bunyian musik gamelan itu di radio biasanya langsung diganti gelombangnya

Pemilik restoran ini bernama Pak Victor yang berdarah Menado. Lho, kok musiknya gendhing Jawa? Tidak penting lagi dipersoalkan. Bagi Pak Victor yang penting adalah tamu-tamunya senang dan berharap akan kembali lagi makan di restorannya. Siang menjelang sore itu Pak Victor tampil rapi, turut menyapa tamu-tamunya. Restoran “Sabang”-nya beroperasi dari jam 11 siang hingga jam 9 atau 10 malam.

Pak Victor yang sudah duapuluh tahunan melanglang Amerika ini paham dengan peluang bisnis di daerah ini. Maka sekitar separuh dari pengembaraannya di Amerika sudah dihabiskannya untuk menekuni bisnis restoran. Dan tampaknya cukup berhasil. Kalau tidak tentu restorannya sudah tutup sejak dulu.

Kabarnya restoran ini menjadi langganan para pejabat Indonesia yang sedang berkunjung ke Washington DC. Disamping lokasinya yang memang tidak terlalu jauh dari kota Washington DC, tentu juga karena menu dan masakan yang disajikannya pas dengan umumnya lidah orang Indonesia. Dengan kata lain saya berkesimpulan, berarti masakannya cukup enak.

Tidak terlalu lama kami menunggu, pesanan pun segera disajikan. Ini dia, masakan yang masih mengepul asapnya segera memenuhi meja. Tanpa tolah-toleh kiri-kanan, jurus tradisional segera dimainkan. Untuk menyelesaikan makanan yang sudah tersaji di meja, saya merasa perlu untuk “turun tangan”, maksudnya membebaskan tangan dari sendok, garpu, pisau dan sejenisnya sehingga bebas berkeliaran dari piring ke piring.

Seperti orang sedang kemaruk (bernafsu makan tinggi setelah sembuh dari sakit). Lalu ….., ikan bakar pun bablas tinggal tulangnya. Lalapan dan sambal terasi ludes, entah daun apa saja yang tadi disajikan. Tinggal menyeruput kuah sayur asam. Anak-anak pun suka dengan satenya. Perut jadi terasa kemlakaren (penuh terisi seperti tidak tersisa lagi rongga yang kosong).

Saya ingat-ingat, sekitar satu setengah tahun tinggal di Amerika, ya baru kali inilah makan sampai keringatan. Alhamdulillah, sebuah kenikmatan yang sudah lama tidak saya alami. Sejenak keluar restoran, merokok di luar karena restoran ini bebas asap rokok, lalu masuk lagi. Ya ini untungnya makan saat bukan jam makan, sehingga tata krama makan di restoran bisa dikesampingkan untuk sejenak berlaku ndeso. Nampaknya Pak Victor juga maklum.

Keluar dari Restoran “Sabang” seusai makan, kami pulang menuju ke rumah Mas Supeno. Istirahat sejenak karena malamnya akan dilanjutkan dengan rencana yang lain. Rupanya kami benar-benar kecapekan, barangkali tadi makannya kebanyakan, yang jelas istirahatnya menjadi berjenak-jenak dan ketiduran agak lama. 

Menikmati ikan bakar, lalapan dan sayur asam, nampaknya memberi kesan tersendiri bagi kami sekeluarga yang sudah cukup lama tidak menjumpai menu makanan semacam itu di Amerika. Bukannya tidak bisa memasak sendiri, tetapi barangkali sama seperti kalau kita di kampung sana, makan gudegnya simbok yang pagi-pagi jualan di ujung gang seringkali terasa lebih enak daripada makan gudeg bikinan sendiri.

Padahal tangannya simbok itu ya njumput gudeg (mengambil gudeg dengan menggunakan ujung-ujung jari), ya nyuwil ayam (mengambil sebagian daging ayam dengan jari tangan), ya nyusuki (memberi uang kembalian setelah menerima pembayaran), ya terkadang garuk-garuk.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(12).    Naik Kereta Bawah Tanah Menjelang Tengah Malam

Dalam perjalanan pulang dari menyaksikan pesta kembang api, kami lalu menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh, masih mudah dicapai dengan berjalan kaki. Tiba di stasiun, hari sudah menunjukkan lebih jam 10 malam. Stasiun sedang tidak terlalu ramai, sehingga kami dapat langsung menuju ke mesin penjual karcis. Dengan menyelipkan uang ke dalam slot mesin, pencet tombol untuk memilih jenis karcis, lalu karcis pun keluar. Uang kembalian juga akan diberikan oleh mesin itu, jika memang ada sisa.

Sangat praktis dan mudah. Hanya tentunya bagi yang baru pertama kali menggunakan jasa metro ini, perlu terlebih dahulu membaca tata caranya sebelum berurusan dengan mesin penjual karcis. Untung kami pergi bersama Mas Supeno yang tentunya sudah paham betul. Jadi sementara menunggu Mas Supeno membeli karcis, saya membaca-baca tata caranya, sekedar ingin tahu.

Ada beberapa macam jenis karcis dan yang paling umum digunakan adalah yang disebut dengan Metrorail farecard, yaitu semacam kartu yang dilengkapi garis magnetik seperti kartu kredit. Selain itu ada Metrocheck card, SmarTrip card dan Metrorail pass. Selain membelinya melalui mesin di stasiun-stasiun, kartu ini juga dijual di tempat-tempat umum seperti halnya kartu tilpun, dan juga dapat dipesan secara on-line melalui media internet.

Harga karcisnya ada beberapa macam mulai yang $1.10 hingga yang maksimum $3.25 tergantung dari jarak tempuhnya. Ada karcis dengan tarip biasa (regular fare) yang berlaku di saat-saat jam sibuk pagi dan sore, dan ada tarip hemat (reduced fare) yang berlaku di luar jam-jam sibuk. Harganya sama, tetapi tarip hemat dapat digunakan untuk menjalani jarak tempuh yang lebih panjang.

Selain menggunakan uang tunai, pembelian juga dapat dilakukan menggunakan kartu kredit. Bahkan bagi pemegang SmarTrip card yang nilai karcisnya sudah habis, mesin ini juga melayani pengisian atau penambahan nilai karcis agar dapat digunakan lebih lama.   

Setelah kami masing-masing memegang karcis, kami lalu menuju ke pintu gerbang untuk masuk peron stasiun. Karcis tinggal diselipkan ke slot-nya, lalu diambil lagi dan palang pintu membuka. Kemudian kami turun melalui tangga berjalan yang panjangnya sekitar 70 meter menuju peron stasiun yang (tentu saja) menuju ke lokasi di bawah tanah. Stasiun Wheaton ini mempunyai tangga berjalan yang paling panjang dibandingkan dengan stasiun-stasiun lainnya. Kini tinggal menunggu kereta datang dan lalu naik ke jurusan yang hendak dituju.

Aturan penggunaan karcis yang sama ada pada saat hendak keluar dari stasiun. Selipkan kartu dan lalu akan tercetak angka yang menunjukkan nilai sisa karcis tersebut, tergantung pada penggunaan jarak tempuhnya. Jika ternyata nilai karcisnya kurang, maka palang pintu tidak akan membuka, dan penumpang tersebut dipersilakan menuju ke mesin penjual karcis untuk keluar (exitfare machine) guna menambahkan kekurangannya.

Saya tidak tahu, apa yang harus dilakukan kalau seandainya sang penumpang benar-benar tidak punya uang lagi. Saya tidak mau menanyakannya, karena takut kalau jawabannya adalah : “Ya jangan naik kereta bawah tanah”. Pertanyaan menggelitik yang sama : bagaimana jika ada penumpang yang uangnya kurang lalu nekad menerobos palang pintu dan lari? Ya, paling-paling dikejar petugas. Lha tapi nyatanya tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Artinya kemungkinan pelanggaran semacam itu relatif tidak banyak terjadi.

Jadi, agaknya memang kemoderenan hanya cocok diterapkan bagi masyarakat yang sudah memiliki kesadaran tinggi bahwa semua kemudahan akibat kemajuan teknologi itu disediakan sebagai bagian dari milik masyarakat sendiri. Bukan semata-mata milik pemerintah, dan yang lebih penting adalah masyarakatnya percaya bahwa itu juga bukan semata-mata untuk kepentingan PT ini atau PT itu.   

Malam itu, karena tujuannya hanya sekedar ingin merasakan naik metro, maka begitu datang kereta pertama yang menuju utara dari stasiun Wheaton, kami langsung naik saja. Hanya beberapa menit metrorail yang berjalan dengan kecepatan rata-rata 20 km/jam segera tiba di stasiun Glenmont. Kami lalu turun dan pindah ke jalur yang kembali ke selatan. Naik kereta lagi menuju Wheaton tapi tidak langsung turun, melainkan dilebihkan hingga tiba di stasiun berikutnya yang agak ke selatan, yaitu Forest Glen.

Forest Glen adalah stasiun yang lokasinya paling dalam, yaitu 60 meter di bawah permukaan tanah. Dari Forest Glen kami pindah kereta lagi menuju utara untuk kembali ke stasiun Wheaton. Cukup kira-kira setengah jam untuk menjawab rasa ingin tahu anak-anak naik kereta bawah tanah. Barulah anak-anak merasa lega, dan kami pun lalu pulang berjalan kaki.

***

Jasa layanan angkutan umum kereta bawah tanah (yang juga mencakup sistem transportasi bis) ini dikelola oleh The Washington Metropolitan Area Transit Authority (WMATA). Pekerjaan konstruksi pertamanya dilakukan pada tahun 1969, dan secara resmi kereta bawah tanah mulai beroperasi tahun 1976.

Sistem trasportasi rel bawah tanah ini menghubungkan 78 stasiun, melayani rute sepanjang 154 km menjangkau wilayah Washington DC dan beberapa wilayah penyangga di sekitarnya yang berada di negara bagian Maryland dan Virginia. Diperkirakan jasa layanan metrorail maupun metrobus ini melayani sekitar 3,4 juta masyarakat pengguna jasa transportasi umum, baik karyawan, siswa sekolah maupun masyarakat umum lainnya.

Seperti halnya untuk kereta bawah tanah, karcis farecard juga disediakan untuk transportasi bis maupun gabungan atau sambungan antara kereta dan bis. Karena itu, berwisata di kota Washington DC menggunakan jasa kereta bawah tanah dapat menjadi daya tarik tersendiri. Selain bebas dari kemacetan, relatif murah, juga mudah jika harus menggunakan bis untuk berpindah (transfer) dari satu lokasi ke lokasi lainnya. 

Sejak pertama kali masuk stasiun hingga naik-turun kereta dan keluar dari stasiun lagi, tidak terlihat banyak petugas stasiun di sana. Hanya tampak beberapa orang saja, itupun hanya sekedar mengawasi dan membantu kalau-kalau ada penumpang yang perlu bantuan. Sepanjang dapat dan sempat membaca tulisan rambu-rambu petunjuk, rasanya tidak akan kesulitan. Serba mudah, praktis dan tertib. Lalu….., kapan ya kira-kira kita akan memilikinya. (Bersambung)

Yusuf Iskandar