Posts Tagged ‘washington’

Hari Bapak

13 November 2008

Sembilan puluh empat tahun yang lalu, di kota Spokane, negara bagian Washington, seorang perempuan sedang mendengarkan wejangan Hari Ibu. Hatinya gundah. Ia enam bersaudara, ibunya meninggal saat melahirkan saudaranya yang keenam. Maka ayahnya, seorang veteran perang sipil bernama William Smart, lalu menjadi orang tua tunggal membesarkan keenam anaknya di kawasan pedesaan di bagian timur negara bagian Washington.

Perempuan itu, Sonora Louise Smart Dodd, ingin menunjukkan rasa terima kasihnya sebagai wujud penghargaan kepada ayahnya yang di mata Sonora telah berjuang bertahun-tahun tanpa kenal lelah membesarkan dan mendidik keenam anak-anaknya. Melebihi perjuangannya di medan perang. Menurut Sonora, ayahnya sangat mencintai anak-anaknya dan tabah dalam membesarkan mereka sebagai seorang bapak tanpa istri atau menjadi single parent selama 21 tahun.

Bagi Sonora dan kelima saudaranya, dengan tidak dimilikinya figur seorang ibu alias piatu, tentu tidak berarti mereka tidak memilik sorga, sebagaimana pepatah mengatakan “sorga terletak di telapak kaki ibu”. Ayahnya, sebagai orang tua tunggal yang ber-dwifungsi dalam menjalankan roda keluarganya, ya sebagai ayah, ya sebagai ibu, perjuangannya tidak dipungkiri bernilai setara sebagai perjuangan layaknya seorang ibu.

***

Pada tahun 1909, Sonora mengusulkan sebuah hari untuk menghormati ayahnya yang lahir pada tanggal 5 Juni. Hari itu dinamakannya sebagai Hari Bapak. Usulan itu memperoleh dukungan dari masyarakat. Namun dengan alasan tidak cukup waktu untuk mempersiapkannya, Hari Bapak yang pertama baru diperingati pada tanggal 19 Juni 1910 di Spokane, Washington.

Salah satu dukungan datang dari Harry C. Meek, Presiden Lion Club Chicago yang memberi andil kuat untuk diadakannya Hari Bapak. Ia berkampanye ke seluruh Amerika, menyampaikan tentang perlunya ada sebuah hari untuk menghormati kaum ayah. Hingga pada tahun 1920, Lion Club Amerika menganugerahkan jam emas kepada Harry sebagai “Originator of Father Day”.

Pada tahun 1924, pada masa pemerintahan Presiden Calvin Coolidge, sebagai presiden Amerika yang ke-30, ia menyatakan dukungannya untuk menjadikan tanggal 19 Juni sebagai Hari Nasional. Namun, baru pada tahun 1966, Presiden Lyndon Johnson sebagai presiden Amerika ke-36, memproklamirkan Hari Bapak sebagai hari nasional yang diperingati pada setiap hari Minggu ketiga bulan Juni. Kini, Hari Bapak diperingati di seluruh Amerika dan Kanada.

Bunga mawar dipilih untuk menandai Hari Bapak. Orang akan menyematkan bunga mawar merah jika ayahnya masih hidup dan akan mengenakan bunga mawar putih jika ayahnya sudah meninggal. Sama halnya ketika Hari Ibu tiba, pada Hari Bapak banyak warga Amerika memberi hadiah kepada suami, kakak laki-laki atau ayah mereka. Beraneka ragam kreasi dasi biasa dipilih sebagai hadiah pada Hari Bapak, selain tentunya juga perlengkapan kantor, barang elektronik, pakaian atau wewangian (meskipun barangkali uangnya juga minta kepada Sang Bapak). Maka tidak heran kalau kemudian toko-toko dan pusat perbelanjaan atau mall dipadati pembeli.

Orang-orang pun biasa memberikan aneka surprise kepada sang ayah tercinta setiap Hari Bapak tiba. Untuk tahun 2003 ini, Hari Bapak di Amerika jatuh pada tanggal 15 Juni 2003, sebagai hari Minggu ketiga di bulan Juni.

Menurut alkisah, jika pada tahun 1909 ide Sonora Dodd tentang Hari Bapak muncul di belahan barat laut daratan Amerika, maka setahun sebelumnya yaitu tahun 1908 Dr. Robert Webb telah meluncurkan acara Hari Bapak dalam suatu kebaktian di gereja Central di kota Fairmont, negara bagian West Virginia, di belahan timur daratan Amerika. Sebagian orang Amerika meyakini, saat itulah sebenarnya kali pertama Hari Bapak dirayakan.

***

Begitulah cerita tentang Hari Bapak di Amerika. Betapa seorang ayah juga sudah semestinya dihargai jasanya sebagaimana orang merayakan Hari Ibu untuk menghargai jasa-jasa seorang ibu. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Apakah tidak perlu diadakan perayaan Hari Bapak? Agar kaum bapak juga senang memperoleh penghargaan sebagaimana penghargaan bagi kaum ibu.

Jawabannya, ngngng…., barangkali memang tidak perlu. Karena para bapak, dan Bapak-bapak, di Indonesia ini sudah cukup neko-neko….., kebanyaken (pakai akhiran ken) acara, dan sudah cukup manggut-manggut menerima perlakuan ABS (Asal Bapak Senang) setiap hari.

Kalaupun, setelah melalui referendum misalnya, terpaksa Hari Bapak itu harus diadakan di Indonesia, lalu tanggal lahir bapaknya siapa yang pantas dipilih?

Tembagapura, 19 Juni 2003.
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(13).    Memandang Monumen Washington Dari Gedung Capitol

Hari ini, Rabu, 5 Juli 2000, kami merencanakan siang harinya akan meninggalkan ibukota Washington DC untuk melanjutkan perjalanan menuju kota New York. Namun sebelum meninggalkan Washington DC, kami masih ingin mengunjungi beberapa tempat lagi, yaitu Monumen Washington dan Gedung Capitol.

Sekitar jam 10:30 pagi, kami berpamitan pada keluarga Mas Supeno untuk melanjutkan perjalanan yang masih akan panjang. Meninggalkan kota Wheaton kami lalu menuju ke Washington DC melalui jalan 16th Street. Sekitar pertengahan jalan sebelum tiba di pusat kota, kami menyempatkan untuk mampir ke Rock Creek Park.

Ini adalah sebuah taman yang masih ditumbuhi banyak pepohonan layaknya sebuah hutan yang berada di tengah kota Washington DC, yang mencakup areal seluas lebih 700 ha. Di dalamnya terdapat banyak fasilitas untuk berolah raga seperti jogging, bersepeda, athletik, golf, tenis, dsb., termasuk fasilitas untuk berpiknik. Sungguh sebuah tempat yang nyaman dan berhawa segar di tengah kesibukan kota Washington DC. 

Dari Rock Creek Park kami langsung menuju ke Monumen Washington yang terletak di sebelah selatan Gedung Putih. Tepatnya di belakang Gedung Putih yang dipisahkan oleh sebuah taman yang berbentuk ellips, karena itu kawasan ini disebut The Ellips. Setiba di dekat lapangan Monumen Washington, ternyata daerah itu sudah sangat ramai, hingga banyak kendaraan parkir sampai ke tepi-tepi jalan. Saya kesulitan mencari lokasi parkir.

Setelah cukup lama hanya berputar-putar dengan berjalan merambat karena padatnya arus lalu lintas, dan tetap juga tidak menemukan tempat parkir, saya lalu memutuskan untuk meninggalkan kawasan itu dan langsung saja menuju ke Gedung Capitol.

Saya duga siang itu sedang ada acara di sekitar lapangan Monumen Washington. Entah apa, tapi pasti berkaitan dengan perayaan hari Kemerdekaan, karena beberapa saat sebelum tiba di daerah itu arus lalu lintas sempat dihentikan karena Presiden Bill Clinton dan rombongannya lewat.

Sebenarnya pada saat itu Monumen Washington sendiri masih belum dibuka untuk umum karena sedang dalam tahap penyelesaian renovasinya sejak delapan bulan terakhir ini. Rencananya monumen ini baru akan mulai dibuka kembali pada tanggal 31 Juli 2000. Menurut informasi, untuk memasuki monumen ini tidak dipungut bayaran dan tiket dapat diperoleh dengan gratis pada saat hari berkunjung di tempat yang telah ditentukan. Pemesanan tiket juga dapat dilakukan sebelumnya, tetapi akan terkena biaya pemesanan sebesar $1.50. Monumen ini setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari 500.000 wisatawan.

Untuk mencapai Gedung Capitol dari lokasi Monumen Washington tidak terlalu sulit, karena saya tinggal menyusuri Jalan Constitution lurus saja ke arah timur melalui kompleks Institut Smithsonian. Kawasan terbuka yang membentang antara Gedung Capitol di ujung timur lalu ke barat melalui kompleks Institut Smithsonian hingga Monumen Washington di ujung barat adalah kawasan yang dikenal dengan sebutan The Mall. Di sepanjang kawasan itu membentang lapangan rumput yang luas.

Tiba di Gedung Capitol sudah menjelang jam 1:00 siang. Saya rencanakan paling lambat jam 2:00 harus sudah meninggalkan kota Washington DC agar tidak terlalu malam tiba di New York.

***

Gedung Capitol atau lengkapnya United States Capitol adalah salah satu lambang kebanggaan rakyat Amerika. Gedung tempat dimana para anggota Congress, The House of Representatives dan Senate, melakukan pertemuan untuk membuat Undang-Undang atau peraturan-peraturan bagi bangsa dan negara Amerika.

Gedung kuno yang tampak megah ini rancangan awalnya dibuat oleh Dr. William Thornton pada tahun 1792, dan selama lebih 200 tahun gedung ini telah mengalami beberapa kali renovasi. Gedung Capitol yang ukuran panjangnya 229 meter dan lebarnya 107 meter ini mempunyai 550 buah ruangan dengan dua bangunan sayap yang berkonstruksi marmer. Di puncak kubahnya terdapat patung Freedom setinggi 6 meter.

Untuk menuju gedung ini, kami melewati halaman depannya yang cukup luas serta banyak ditumbuhi pepohonan, yang merupakan bagian dari kompleks gedung Capitol yang luas seluruhnya mencapai 24 ha. Biasanya pengunjung akan menuju ke teras depan yang letaknya cukup tinggi sehingga harus melalui beberapa tingkat anak tangga. Dari tempat ini pengunjung tidak diperbolehkan masuk ke dalam ruang utama Gedung Capitol, tetapi pengunjung diberi kesempatan untuk berjalan mengelilingi di bagian luarnya.

Dari teras depan ini kami dapat melihat sebagian kota Washington DC dari ketinggian. Ketika berdiri menghadap lurus ke arah barat maka tampak tepat di depan kompleks Gedung Capitol adalah sebuah kolam luas yang disebut Reflecting Pool dan alun-alun yang disebut Union Square. Setelah itu tampak jalur lapangan hijau menghampar hingga sekitar 1,5 km yang disebelah kiri dan kanannya berdiri kompleks Institut Smithsonian. Monumen Washington terlihat menjulang tegak di ujung pandangan.

Kenampakan seperti ini mengingatkan saya pada beberapa film Amerika yang sering mengambil setting dengan visualisasi bidang terbuka menghijau yang membentang di areal The Mall ini. Tapi tentunya dengan pengambilan gambar tidak pada saat siang hari yang terik seperti yang kami alami saat kami berkunjung ke Gedung Capitol.

Kalau siang ini kami tidak berhasil melihat Monumen Washington dari dekat, maka cukuplah kalau bisa memandangnya dari teras atas Gedung Capitol. Kalaupun bisa mendekat, toh tidak dapat memasukinya juga, karena sedang ditutup untuk penyelesaian pekerjaan renovasi.

Monumen Washington sendiri adalah sebuah monumen marmer obelisk setinggi hampir 170 meter yang dibangun sebagai penghormatan bagi presiden pertama Amerike, George Washington yang diberi gelar sebagai “father of his Country“. Disekeliling monumen ini dikibarkan 50 bendera Amerika “The Star Spangled Banner” yang melambangkan 50 negara bagian yang ada. Di sinilah digelar pesta kembang api pada setiap tanggal 4 Juli. 

***

Washington DC bukan sebuah negara bagian dan juga bukan wilayah teritorial, tetapi mempunyai sebuah pemerintahan yang mencakup urusan keduanya. Karena itu ibukota ini mempunyai kedudukan yang unik. Meskipun kepala daerahnya disebut Walikota (Mayor) namun secara bersamaan dia berfungsi sebagai sebuah ibukota, sebuah kabupaten, sebuah negara bagian dan sebagai tempat kedudukan pemerintah federal.

Washington dipilih sebagai ibukota negara Amerika Serikat oleh Congress pada tahun 1790. Sejalan dengan perkembangan kotanya, baru pada tahun 1800 secara resmi kota ini menjadi ibukota federal, dan tahun 1802 pertama kali dibentuk pemerintahan, akhirnya baru pada tahun 1812 pertama kali dipilih seorang Walikota sebagai kepala pemerintahan Washington DC.

Dua hari sudah kami berada di ibukota yang dihuni oleh lebih dari 600.000 jiwa penduduknya. Kami telah berkeliling untuk melihat sebanyak mungkin berbagai tempat menarik, di kota yang setiap tahun dikunjungi oleh lebih 20 juta orang dari seluruh penjuru dunia dan lokasinya berada di sepanjang sungai Potomac. Akhirnya Washington DC akan segera kami tinggalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju New York.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar