Posts Tagged ‘warung’

Angkringan Pendopo

5 April 2010

Nama restonya ‘Angkringan Pendopo’ — Angkringan tapi pendopo, yaitu warung angkringan di pendopo atau pendopo yang dipakai untuk warung angkringan, timur pasar Ngasem, Jogja. Di sini saya makan malam dengan nasi liwet, sayur brongkos (khas Jogja) dan sate brutu ayam. Ada juga jajan pasar. Lebih untuk tujuan ‘membeli’ suasana…

Yogyakarta, 3 April 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Nasi (Porsinya) Kucing

9 Maret 2010

Tatkala nunggu ‘boss’ nguthek-uthek tokonya lama sekali, hingga sore berganti malam. Akhirnya saya tinggal pergi ke warung angkringan terdekat. Beli nasi kucing 2 bungkus masing-masing dengan lauk oseng-oseng tempe dan teri puedasnya full + 1 gelas teh jahe panas, total Rp 3000,-. Eee…, malah pulangnya langsung mblandang tergopoh-gopoh ke belakang….. …(mau makan lagi maksudnya, soalnya tadi itu baru porsinya kucing…)

Yogyakarta, 8 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Berimprovisasi Di Warung Soto Pak Marto Jogja

21 November 2009

Dalam perjalanan mengantar istri ke tokonya, tiba-tiba beliau mengajak berhenti mampir ke Warung Soto Pak Marto di Jl. Janti Jogja. “Lapar”, katanya singkat. “Sama”, jawab saya juga singkat. Sebelumnya memang sudah beberapa kali kami mampir ke warung soto ini. Lokasinya di jalan utama masuk Jogja dari sisi tenggara, tepatnya di seberang agak ke barat dari balai Jogja Expo Center (JEC), memang cukup strategis. Mudah dicari dan dihampiri.

Siang itu suasana warung agak ramai karena ada rombongan bis besar yang juga berhenti makan siang. Meski bernama warung, tapi tampilannya sebenarnya cukup megah. Barangkali sebutan warung dimaksudkan untuk mengenang masa-masa almarhum Pak Marto merintis usahanya sebagai tukang soto lebih 25 tahun yll. di lokasi itu. Ketika itu penggal ke barat jalan Janti masih menjadi kawasan jin buang anak (hasil hubungan gelap barangkali…) alias ndeso, sepi dan masih berupa jalan desa.

Seputaran tahun 1983 Pak Marto memulai bisnis sotonya. Semakin hari sotonya semakin dikenal dan menjadi jujukan para penyoto (penggemar soto) dari kawasan sekitarnya. Namun sayang, Pak Marto tidak sempat lama menikmati sukses dari hasil kerja kerasnya. Tahun 1995 Pak Marto berpulang, lalu disusul Bu Marto sekitar dua tahun kemudian. Kini bisnis sotonya masih terus berkibar dan dilanjutkan oleh generasi kedua dan ketiganya. Seperti warung soto yang di Jl. Janti itu kini dikelola oleh salah seorang cucunya. Sementara Warung Soto Pak Marto pun semakin merambah membuka cabangnya di berbagai kota.

Rasa sotonya sebenarnya biasa saja. Kalau kategori rasa itu boleh diskala jadi tiga: pertama enak, kedua enak banget, dan ketiga hoenak tenan….., maka soto Pak Marto termasuk enak. Jenis sotonya adalah soto daging sapi, cuma dagingnya kurang full, masih setengah-setengah…… Saya dapat memakluminya kalau alasannya karena harga jualnya yang semangkuk Rp 7.000,-disesuaikan dengan harga beli daging sapi di pasar.

Seperti umumnya warung makan di Jogja, maka selalu ada asesori kecap manis disediakan. Rupanya di warung ini tidak memilih kecap terkenal yang katanya dibuat dari kedelai hitam, melainkan kecap lokal cap Ayam yang kecapnya kental dan lebih terasa manis gulanya ketimbang kedelainya. Meski demikian, kalau lagi berada di sisi tenggara Jogja, warung soto Pak Marto ini bisa jadi pilihan untuk petualangan kuliner soto-menyoto. Nama besar Pak Marto seolah menjadi jaminan para penggemar soto.

***

Di warung itu kami mengambil tempat duduk yang dekat jalan masuk, karena kebetulan tempat itu yang kosong. Sambil menikmati hangatnya sruputan kuah soto yang bening menyegarkan, lalu datang seorang pengamen memainkan alat musiknya yang sangat sederhana. “Icik-icik” namanya. Sejenis alat musik seadanya terbuat dari kayu yang dilengkapi entah apa, sehingga kalau digoyang-goyang berbunyi “icik-icik”…. Pengamen itu adalah seorang bapak tua yang jalannya sudah agak membungkuk berbaju warna hijau pupus lusuh. Jelas bukan memainkan lagu. Tanpa intro, tanpa reffrain dan bukan juga lupa syairnya, melainkan sekedar irama musik monoton yang baru bisa berhenti setelah disodori uang.

Satu menit, dua menit…. Musik itu masih berbunyi. Sementara tidak seorangpun pelayan warung yang perduli, saking sibuknya mondar-mandir melayani pengunjung warung yang lagi ramai. Padahal yang diharapkan oleh pengamen itu barangkali hanya sekedar uang cepek-nopek. Kalau sesekali ada yang memberi koin gopek, sudah sangat berterima kasih.

Tiga menit, empat menit….. Belum juga ada orang warung yang memperdulikannya. Mulailah pikiran kreatif saya yang sedang kelebihan energi positif menangkap peluang. Ya, peluang untuk sedikit berimprovisasi spontan mengambil alih kepedulian terhadap bapak tua pengamen “icik-icik” itu. Lalu saya hampiri pengamen tua itu sambil saya sodorkan selembar ribuan. Benar juga, musik langsung berhenti dan pengamen tua itu ngeloyor pergi sambil berterima kasih. Mission accomplished. Saya pun duduk kembali, melanjutkan nyruput soto, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang pengamen tua melainkan melanjutkan ngobrol dengan istri yang tadi terputus sebentar.

Usai nyoto, becanda sebentar dengan cucunya Pak Marto, lalu beranjak meninggalkan tempat parkir. Entah datang energi positif dari mana, tahu-tahu terpikir untuk melakukan improvisasi tahap kedua. Membuka kaca mobil sebelah kanan (kalau sebelah kiri terlalu jauh…..), lalu menyodorkan uang parkir dalam satuan agak besar. Ketika tukang parkir separuh baya itu hendak mengambil kembaliannya, segera saya berbisik : “Tulung turahane diwenehke anake njenengan….(tolong sisanya diberikan kepada anak Bapak)”.

Segera tancap gas, tanpa sepatah kata pun pembicaraan tentang tukang parkir itu melainkan ngobrol lain dengan istri. And another mission accomplished. Begitu saja. Lalu perjalanan pun dilanjutkan menuju toko di Madurejo, kecamatan Prambanan, Jogja.

Just a simple improvisation in my life. Saya sedang membicarakan nominal uang yang relatif tidak seberapa dibanding harga soto yang barusan saya santap dan rokok yang saya hisap. Tapi dipastikan manfaatnya sangat besar bagi orang-orang yang sedang membutuhkan. Saya sendiri heran, kenapa sangat jarang saya melakukan hal-hal kecil seperti ini. Tepatnya, jarang terpikir untuk lebih sering melakukannya. Padahal jumlah uang yang saya libatkan dalam improvisasi kecil semacam itu sama sekali tidak akan mengganggu roda ekonomi dan kehidupan saya maupun keluarga saya. Tapi berat rasanya untuk sering-sering melakukannya. Butuh dorongan kuat untuk merangsang bangkitnya energi positif yang nilai manfaatnya luar biasa, tanpa saya sadari wujudnya.

Yogyakarta, 22 Nopember 2009
Yusuf Iskandar