Posts Tagged ‘warung makan’

Makan Siang Di Warung Bu Gendut

1 Juli 2009

Makan siang di warung makan (yang oleh pemiliknya sendiri disebut) Bu Gendut. Masakan Jawa, ada lalapan dengan sambal terasi-tomatnya… manstap sekale…. Saya baru tahu kalau ada lalapan berupa daun (Bu nDut menyebutnya) poh-pohan, entah apa nama lainnya, rasanya asam manis, baunya seperti daun mangga. Saat hitung-hitungan, Bu nDut suka menghitung dipas-paskan dalam ribuan. Pelanggan pun bisa nawar… Heran, sudah habis dimakannya, nawar lagi…

(Warungnya Bu Gendut yang asal Wonosari Jogja itu berada di lantai dasar gedung Graha Induk KUD, Jl. Buncit Raya, Jakarta).

Jakarta, 1 Juli 2009
Yusuf Iskandar

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Sambal Bawangnya Bu Santi Di Babarsari Jogja

18 April 2008

Usai membereskan SPT pajak yang lumayan menyita waktu dan pikiran. Ya maklum, meskipun sebenarnya mudah (apalagi selama ini tidak pernah mengurus pelaporan pajak sendiri), tapi pengalaman pertama selalu berarti petualangan baru. Sialnya, pengalaman pertama ini selalu terjadi (karena tidak ada manusia lahir kok ujug-ujug sudah berpengalaman).

Lalu muncul ide untuk mencari makan siang yang memberi sensasi beda. Pilihan jatuh ke rumah makan Bu Santi di dekat pertigaan Jl. Babarsari – Seturan, Jogja. Di sana ada menu ikan sederhana dengan sambal bawangnya yang khas dan pedas.

Warungnya kecil dan tidak terlihat jelas dari luar. Lokasinya strategis, nyaris tepat di pojok pertigaan jalan yang selalu padat. Saking strategisnya sehingga terkadang jadi sulit memperoleh tempat parkir untuk mobil. Hanya selembar spanduk bertuliskan “Rumah Makan Sambal Bawang Yang Asli Bu Santi” yang dipasang tepat di depan warung selebar empat meteran, menandai adanya warung ini. Rasanya, setiap orang di kawasan ini pasti tahu dimana lokasi warung makannya Bu Santi.

Membaca tulisan spanduknya saya menyimpulkan bahwa berarti selama ini banyak rumah makan sejenis yang tidak asli, tentu maksudnya adalah menyontek kesuksesan menu sambal bawang bu Santi. Dalam bisnis, sah-sah saja.

Meski dari luar tampak kecil, tapi rupanya di bagian dalamnya meluas. Ruangan berukuran sekitar 15 m x 12 m itu terbagi menjadi ruangan bermeja-kursi, sebagian ruang untuk lesehan dan dapur terbuka dengan lebih 15 kompornya yang non-stop siap melayani para pencari makan. Warung ini menyediakan menu ikan dan ayam sebagai menu utamanya, dilengkapi dengan sayur asam dan tentu saja lalapan plus sambal bawangnya yang terkenal di kalangan mahasiswa yang kampusnya berada di seputar Seturan, Babarsari, Condong Catur, Jogja.

Masuk warung langsung pesan ikan bawal dan udang goreng garing, sayur asam dan ceker ayam bumbu rica-rica. Sepertinya sudah tidak sabar untuk segera melahapnya.

***

Dua macam nasi putih tersedia, tinggal pilih mau nasi putih biasa atau nasi uduk. Boleh mengambil sesukanya dan sekenyangnya karena sudah menjadi satu dengan harga yang dibayar untuk setiap porsi makan. Agaknya ada juga pengunjung yang memanfaatkan “peluang bisnis” dari kebebasan mengambil nasi ini. Indikasinya, saya melihat tulisan besar yang terpasang di dinding yang berbunyi : “1 porsi lauk untuk 1 orang”. Barangkali ada juga pengunjung yang datang untuk romantis-romantisan dengan sepiring berdua. Ngirit maksudnya. Pesan satu porsi lauk lalu mengambil nasi uduk sesukanya bersama temannya.

Pertama yang saya sukai di warung ini adalah konsep cepat saji, maksudnya pelayanan penyajiannya cepat. Pelanggan tidak dibiarkan berlama-lama menelan ludah karena menunggu pesanan. Sementara bau ikan dan ayam goreng plus sambal bawangnya menyebar dari dapur terbukanya.    

Begitu pesanan tersaji, secepat kilat bawal goreng garing yang masih panas segera saya cuwil, saya sobek-sobek….., lalu saya cocolkan ke sambal bawangnya dan …. nyem…nyem…nyem…. Aroma dan rasa bawangnya benar-benar nendang. Menu utama warung ini memang hanya cocok bagi mereka yang menyukai aroma bawang putih. Sebab di warung ini hanya tersedia satu macam sambal saja, yaitu cabe rawit hijau yang ditumbuk halus dengan aroma kuat bawang putih. Satu hal lagi, hanya ada satu ukuran tingkat kepedasannya. Maka bagi orang seperti saya yang tidak tahan pedas, mesti diakali dengan mencocol sambalnya jangan terlalu banyak dan itupun lalu dicampur kecap manis.

Sebagai penggemar rempah bawang putih, menu bu Santi ini benar-benar pas di selera saya. Udang goreng garingnya juga kemriuk kriuk… kriuk…  ketika dimakan habis sekulit-kulitnya, sekepala-kepalnya, sekaki-kakinya. Tentu saja rada megap-megap kepedasan. Namun, citarasa sedap sambal bawangnya seakan mengalahkan rasa pedasnya. Sampai-sampai keringat mulai membuat gatal di kepala….

Untuk menetralisir pedasnya sambal, segera saya sruput kuah sayur asam. Cilakak dua belas, ternyata sayur asamnya juga pedas. Sayur asam yang berasa nano-nano…., asam, manis, asin, dengan komposisinya kacang panjang, jipang (labu siam), terong, jagung dan irisan cabe rawit. Berhubung rasanya pas dan hoenak tenan…, apa boleh buat, terpaksa dihabiskan juga. Cuma mesti agak hati-hati jangan sampai keceplus mengunyah irisan cabenya. Cara memasak kacang panjangnya yang setengah matang rupanya memberi sensasi kemrenyes ketika digigit. Ini ilmu baru ang saya peroleh tentang memasak sayur asam.

Berhubung tersedia dua macam nasi putih, maka keduanya perlu dicoba. Sepiring pertama habis dengan nasi uduk, maka yang kedua nambah dengan nasi putih biasa. Lha wong mengambil nasinya bebas….

Pada bagian akhir, potongan kecil-kecil telapak kaki ceker ayam bumbu rica-rica lumayan menghibur sebagai makanan penutup. Yang saya maksudkan menghibur adalah karena tidak terlalu pedas, melainkan hanya agak repot nithili…. , menggigit dan mengelupas kulit tipis yang menyelimuti ruas-ruas jari kaki ayam.

Warung bu Santi kelihatannya memang didesain untuk memenuhi kebutuhan para mahasiswa yang banyak tinggal di lingkungan Babarsari – Seturan. Harganya relatif murah untuk rasa masakan yang lumayan enak terutama paduan sambal bawangnya.

Meskipun demikian, untuk tujuan berekreasi makan-makan bersama keluarga, lokasi dan suasana warung ini kurang representatif. Tetapi untuk tujuan berpetualang makan-makan, warung ini sekali waktu perlu dicoba. Warung milik bu Santi yang asal Muntilan dan sehari-harinya diawasi oleh putrinya ini, 16 orang awaknya siap melayani para petualang kuliner dari jam 10 pagi hingga dini hari jam 1 atau jam 2. Dua baskom sambal bawang pedas pun menunggu untuk dihabiskan.

Maka, jika tujuannya adalah mencari kenikmatan dari berpetualang makan-makan, kiranya perlu memperhatikan jam-jam padat di rumah makan bu Santi ini, yaitu biasanya pada saat waktu makan malam. Saat para mahasiswa mengisi perut menjelang belajar di kost-nya (tentu saja yang belajar, yang tidak belajar lebih banyak lagi…. ).

Yogyakarta, 29 Maret 2008
Yusuf Iskandar