Posts Tagged ‘wahana tata nugraha’

Pantas Iri Dengan Kota Samarinda

19 Maret 2008

Orang akan mengatakan bahwa kota Balikpapan adalah pintu gerbang propinsi Kalimantan Timur, meskipun kota Samarinda adalah ibukotanya. Balikpapan memang telah beranjak menjadi kota besar, padat, ramai, dan berkembang pesat. Kelebihannya kota ini tergolong kota yang enak dikunjungi, rapi dan suasana kotanya relatif tertib.

Namun coba agak menjauh ke utara sejauh 115 kilometeran menuju kota Samarinda. Sungguh sayang, ibukota propinsi yang tahun depan akan menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional ini memang juga tergolong padat dan ramai, tapi suasana lalu lintas kotanya sungguh bertolak belakang. Cenderung semrawut.

Bagi mereka yang baru pertama kali mengemudikan kendaraan di kota ini rasanya mesti ekstra hati-hati. Dibandingkan dengan kota-kota besar ibukota propinsi lainnya di Indonesia, suasana berlalulintas di kota Samarinda terasa sekali sangat berbeda. Terutama dengan sopan-santun pengemudi kendaraan sepeda motor. Betapa begitu membahayakannya.

Kita akan dikejutkan dengan sliwar-sliwer-nya sepeda motor yang memaksa menyalip mak srunthul dari kiri dan dari kanan dengan kecepatan tinggi, mak jegagik memotong di depan, mak kluwer dari samping, dan pokoknya…… ampun deh…..! Sangat jarang saya jumpai pak polisi menjaga di persimpangan jalan, meki tentunya ketidakberadaan pak polisi bukanlah menjadi sebab.

Pendeknya, lalu lintas sepeda motor di Jakarta dan di Jogja yang konon sudah dianggap semrawut, maka itu masih kalah dibandingkan dengan di Samarinda. Ternyata pengalaman yang saya ceritakan ini memang dibenarkan oleh banyak teman, baik yang sering berkunjung ke Samarinda maupun yang sudah bertahun-tahun menetap di sana.

Puluhan kali saya jumpai di persimpangan jalan berlampu-lalulintas. Yang hampir selalu terjadi adalah, ekornya lajur jalan yang baru berubah menjadi merah akan tempuk dan bundhet dengan kepalanya lajur yang baru berubah menjadi hijau. Maka jangan hueran kalau meskipun lampu sudah berubah menjadi merah, tapi pengguna jalan dengan tenang saja masih nyelonong memaksa masuk ke persimpangan. Uh…!

***

Kendati demikian, agaknya kita pantas iri dengan kota Samarinda. Bagaimana tidak? Bulan lalu kota ini meraih penghargaan dari pemerintah berupa anugerah tropi Wahana Tata Nugraha, sebagai lambang ketertiban lalu lintas. Tidak tanggung-tanggung, anugerah ini adalah untuk yang kesembilan kalinya.

Luar biasa. Bagi saya ini adalah hal luar biasa. Luar biasa sulit dipahami. Bisa jadi pandangan saya sangat subyektif. Tapi melihat pengalaman selama ini, rasanya kok hil yang mustahal kalau bisa sembilan tahun berturut-turut meraih anugerah lambang ketertiban lalu lintas kota……

Rupanya warga kota Samarinda sendiri kelihatannya “risih” dengan penghargaan itu. Setiap kali tropi diraih, setiap kali pula diarak keliling kota, dan setiap kali pula warganya “cuek”, lebih memilih sibuk di warung kopi memperbincangkan kontroversi penghargaan yang diraih kota itu. Ini kata pak Walikotanya sendiri, yang saya baca di koran lokal.

Dan, pak Walikota pun bertekad untuk mempertahankan prestasi ini agar tahun depan berhasil menyabet penghargaan Wahana Tata Nugraha untuk digenapkan menjadi kesepuluh kali.

Dalam hati saya (mungkin juga sebagian warga kota Samarinda) bertanya-tanya, apanya yang sebenarnya hendak dipertahankan…… tropinya atau semrawutnya?

Yogyakarta, 27 Mei 2007
Yusuf Iskandar

Iklan