Posts Tagged ‘vermont’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (3)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 17:30 CST (8 Nopember 2000 – 06:30 WIB)

Negara bagian Kentucky dan Indiana adalah dua negara bagian yang pertama kali menutup TPS-TPS-nya pada jam 06:00 sore waktu setempat atau jam 05:00 sore waktu New Orleans (Rabu, 06:00 WIB). Maka hasil pemilu pun sudah dapat diketahui dan George Bush ternyata unggul tipis atas Al Gore.

Dengan cara perhitungan winner-take-all, maka George Bush berhak mengantongi jatah suara (electoral vote) dari kedua negara bagian ini. Dengan demikian sementara George Bush sudah memperoleh 20 jatah suara (electoral vote) masing-masing 8 dan 12 dari negara bagian Kentucky dan Indiana, sedangkan Al Gore belum memperolehnya. Diperlukan minimal 270 jatah suara (electoral vote) untuk memenangi pemilihan presiden Amerika.

Ada hal yang menarik di kalangan analis politik Amerika, yaitu bahwa sejak tahun 1964 siapapun yang menang di Kentucky yang menjadi negara bagian yang pertama kali menutup TPS-nya dan menghitung suaranya, biasanya berhasil menjadi presiden terpilih. Apakah demikian yang akan terjadi dengan George Bush? Kita lihat saja nanti.

Negara bagian berikutnya yang akan menutup TPS-nya dan menghitung hasilnya pada Selasa sore jam 06:00 waktu New Orleans nanti (Rabu, 07:00 WIB) adalah Florida, Georgia, New Hampshire, South Carolina, Vermont dan Virginia.

Yusuf Iskandar

Iklan

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(25).    Mencicipi Sirup Maple Di Vermont

Minggu pagi, 9 Juli 2000 di West Lebanon, cuacanya cukup cerah. Segar sekali rasanya udara pagi itu. Kendaraan kami pun dapat melenggang dengan santai tanpa perlu merasa terburu-buru karena arus lalu lintas di kota kecil ini masih terasa sangat sepi. Barangkali penghuninya masih pada malas-malasan keluar rumah. Maklum hari libur.

Segera kami akan masuk ke wilayah negara bagian Vermont. Vermont adalah negara bagian terakhir di wilayah New England yang saya kunjungi, setelah sebelumnya ke New Hampshire, Maine, Massachusetts, Rhode Island dan Connecticut.

Vermont yang mempunyai nama julukan sebagai “Green Mountain State” dan beribukota di Montpelier merupakan negara bagian ke-21 yang kami kunjungi di hari kesembilan perjalanan kami. Vermont ini dapat dikatakan sebagai negara bagian paling ndeso di Amerika. Maksudnya, wilayah ini umumnya berupa alam pegunungan dan kebanyakan kota-kotanya bersuasana pedesaan jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Amerika. Kota terbesarnya adalah Burlington yang hanya berpenghuni sekitar 50.000 jiwa. Selebihnya tidak banyak kota-kota di Vermont yang komunitasnya padat.

Pertanian dan peternakan adalah kehidupan utama masayarakat Vermont. Lebih seperempat wilayah Vermont memang berupa areal perkebunan dan pertanian. Karena itu tidak heran jika PAD (Pendapatan Asli Daerah) Vermont sebagian besar berasal dari pajak tanah dan hasil pertanian. Pohon pinus, maple, apel, buah-buahan lain serta sayur-sayuran adalah diantara hasil utama Vermont, selain hasil peternakan sapi, kambing, babi, kalkun serta jenis unggas lainnya.  

Belum jauh kami berjalan, kami melihat ada toko cenderamata yang sudah buka, padahal biasanya toko-toko di Amerika kalau hari Minggu jam bukanya agak siang. Langsung saja kami menepi dan masuk ke toko itu. Saya lihat tidak ada mobil lain yang parkir di sana, berarti kami adalah pengunjung pertama. Siapa tahu dianggap penglaris.

Toko ini ternyata cukup luas dan lengkap, segala macam barang cenderamata ada di sana, sehingga malah bingung milih-milihnya. Spontan kami berempat lalu berpencar ke penjuru toko mencari kesukaan masing-masing. Tiba-tiba saya ingat, ada yang khas dari daerah Vermont, yaitu sirup maple. Ini adalah sejenis sirup yang bahannya berasal dari getah pohon maple. Satu jenis pohon yang umumnya tumbuh di daerah timur laut daratan benua Amerika, termasuk Canada.

Selain di wilayah New England, hasil sirup maple juga ada di wilayah yang agak ke tengah seperti New York, Pennsylvania, Wisconsin, Michigan, Minnesota dan Ohio. Tapi memang Vermont adalah penghasil sirup maple terbesar di antara negara-negara bagian yang lain. Meskipun sebenarnya masih kalah dibanding Canada sebagai negara produsen sirup maple yang utama di dunia, tepatnya dari wilayah Quebec. Barangkali karena itu maka daun pohon maple yang berbentuk tiga jari daun diabadikan sebagai lambang bendera negara Canada.

***

Tidak diketahui dengan pasti siapa yang pertama kali menemukan cara menampung dan mengolah getah maple sehingga menjadi sirup. Tetapi ketika mula-mula bangsa Eropa mendarat di Amerika utara dan ketemu dengan penduduk asli Amerika, diceriterakan bahwa suku-suku Indian itu sudah mengkonsumsi getah maple. Umumnya mereka memakan getah maple layaknya makan permen atau gula-gula.

Biasanya terjadi saat musim semi (spring) atau sekitar bulan-bulan Pebruari – Maret, dimana suhu malam hari masih di bawah titik beku sedang di siang hari lebih hangat. Getah maple yang menetes dari ranting-ranting pohonnya akan membeku di malam hari, lalu di siang harinya terjadi penguapan hingga tinggal endapan yang mengandung gula tertinggal seperti gumpalan-gumpalan gula.

Kini produksi sirup maple dilakukan dengan menampung getahnya sebagaimana cara yang dilakukan untuk menyadap getah karet. Mula-mula melubangi batang pohon yang sudah dewasa lalu ditusukkan semacam pipa dan mengalirkannya ke wadah yang dipasangkan di batang pohonnya. Penyadapan ini mulai dilakukan pada pohon maple yang batangnya sudah berdiameter 25-30 cm. Diperlukan waktu sekitar 30-40 tahun bagi pohon maple untuk mencapai ukuran itu.

Dalam periode penyadapan di musim semi yang berlangsung hanya sekitar 4-6 minggu, dari setiap lubang penyadapan dapat dihasilkan sekitar 40 gallon (sekitar 151 liter) getah maple. Setelah dimasak di tempat pemasakan yang disebut dengan sugarhouse nantinya hanya akan dihasilkan sekitar satu gallon (sekitar 3.8 liter) sirup maple murni. Hasil dari pengolahan sirup maple ini dibedakan berdasarkan warna dan rasanya.

Ada pedoman standard untuk menentukan kualitas atau grade dari sirup ini. Grade A, yang berwarna kuning kecoklatan adalah kualitas terbaik yang dibedakan dalam light, medium dan dark. Grade B, berwarna lebih pekat dan rasa manisnya lebih tajam. Grade C, berwarna sangat pekat dan biasanya tidak dijual untuk konsumsi umum. 

Menilik proses produksinya, maka wajar jika harga jual sirup maple ini relatif mahal. Untuk satu pint (kira-kira hampir setengah liter) sirup murni, dijual dengan harga sekitar US$6.50 untuk grade A – medium. Selain dalam bentuk sirup, getah maple juga diproduksi menjadi gula-gula, krim serta butiran gula.

Meskipun bentuknya sirup, namun sirup maple tidak umum diperlakukan sebagai biang sirup yang tinggal mengencerkannya lalu dicampur es batu. Umumnya orang Amerika membeli sirup maple untuk pemanis pancake. Namun sebenarnya sirup ini cocok juga untuk penyedap makan es krim, puding, serta bahan pengganti gula untuk membuat kue.

Ada juga cara tradisional makan sirup maple di saat musim semi, yaitu setelah dimasak hingga mendidih lalu dituangkan di atas salju yang bersih (saat musim semi di belahan utara Amerika biasanya masih banyak timbunan salju), maka sirup akan menggumpal menjadi seperti lilin dan lalu dimakan sebagai gula-gula.

***

Agak lama saya membolak-balik beberapa macam botolan sirup maple yang dipajang di toko. Saya sempatkan juga untuk banyak bertanya kepada seorang ibu agak tua yang jaga toko. Eh …, lha kok malah si ibu tadi kemudian mengambil satu botol lalu dibukanya, lalu dituangkan ke dalam sloki kecil dan disuruhnya saya mencicipi sirup maple.

Weh…., huuuenak tenan (enak benar). Yang saya maksud enak adalah aromanya khas, rasanya manis, kental seperti madu. Rasanya ya seperti minum madu. Jadi, kategori enak ini adalah karena saya belum pernah mencicipi sirup ini sebelumnya. Kalau kemudian saya memutuskan membeli sebotol sirup maple sebenarnya bukan saja karena rasa enaknya, tapi juga karena saya suka dengan bentuk botol atau wadahnya yang menarik.

Botolnya yang sebenarnya terbuat dari bahan plastik tetapi didesain seperti botol antik dengan warna seperti keramik. Kok enak dilihat dan saya amat-amati kok tampak berkesan seperti benda seni.  

Ingatan saya lalu melayang ke Yogya, di sana ada gudeg kendil. Kalau seandainya kendilnya dibuat desain khusus yang lebih artistik dan menarik, rasanya akan lebih memikat calon pembeli gudeg karena ada nilai tambah berupa kendil yang nyeni (artistik). Bukan sekedar kendil sebagai wadah yang alih-alih mau dipajang, wong mau digunakan untuk memasak saja sepertinya “enggak janji”. Kalaupun gudegnya kurang enak, paling tidak pembeli yang datang dari jauh tidak terlalu kecewa mempunyai kendil yang khas dan bernilai seni dari Ngayogyakarta.

Di Kediri, saya pernah membeli bubuk kopi jahe yang juga dikemas dalam wadah seperti cepuk (tempat perhiasan) yang khas dan menarik. Di Kudus, dulu ada jenang yang kemasannya berupa anyaman daun yang berbentuk seperti slepi (dompet kecil). Tapi sayang desainnya kurang menarik dan terkesan asal bisa untuk wadah menyelipkan jenang.

Memang tidak ada yang salah dengan kendil, cepuk atau slepi. Mungkin karena masyarakat kita belum rela membeli nilai tambah, sehingga belum dianggap perlu pernik-pernik yang hanya akan menambah biaya produksi. Yang penting ya asal ada wadahnya. Orang toh kepingin membeli gudegnya, bukan kendilnya.

Jika demikian halnya, mestinya boleh kalau saya berniat membeli gudeg kendil lalu bilang : “tidak usah pakai kendilnya karena saya membawa wadah sendiri”. Apa ya kira-kira harga gudegnya akan lebih murah? Atau malah akan dijawab : “mbok Sampeyan ndamel gudeg piyambak mawon” (bagaimana kalau Anda membuat gudeg sendiri saja). Malah lebih murah lagi ……., tapi ya “embuh rasane” (entah rasanya seperti apa).

Padahal dalam masayarakat kita ada kalangan tertentu yang sudah siap dan rela membeli nilai tambah. Rasanya sayang kalau potensi ekonomi itu tidak ditangkap. Atau, belum ada yang menunjukkan caranya menangkap?- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(26).    Hujan Di Sepanjang Pegunungan Adirondack

Memasuki Vermont pagi itu kami langsung berada di jalan Interstate 89. Setelah berjalan sejauh 6 km, lalu mengambil exit berpindah ke jalan Highway 4. Lalu lintas masih belum ramai dan kami pun berjalan agak santai dengan kecepatan sedang-sedang saja. Saya akan terus mengikuti Highway 4 ini hingga kota Rutland dan selanjutnya nanti akan kembali memasuki wilayah negara bagian New York bagian utara.

Hari itu, Minggu, 9 Juli 2000, saya merencanakan akan menempuh perjalanan cukup panjang menuju kota Niagara Falls di ujung barat laut negara bagian New York. Jarak yang akan saya tempuh adalah 482 mil (sekitar 771 km) dengan melalui rute jalan yang membelah pegunungan Adirondack. 

Belum jauh menyusuri Highway 4, kami sampai di Taman Nasional Quechee di dekat kota kecil yang juga bernama Quechee. Kami melewati sebuah jembatan yang membentang di atas ngarai yang curam di ketinggian 50 m di atas sungai Ottauquechee. Dari jembatan ini tampak pemandangan alam terbuka yang cukup menawan di areal perbukitan dan pedesaan Vermont. Melintasi jalan beraspal mulus dua lajur dua arah yang membelah hutan Quechee ini memang terasa sejuk dan berkesan teduh, meskipun sebenarnya hari masih agak pagi dan belum terlalu panas. 

Kami terus saja melaju di Highway 4 karena memang tidak ada rencana untuk mengeksplorasi lebih jauh daerah ini. Kemudian kami tiba di kota kecil Woodstock yang berelevasi sekitar 215 m di atas permukaan laut. Kota yang hanya berpopulasi sekitar 1.000 orang ini memang tergolong kota tua yang tenang dan banyak menyimpan bangunan bersejarah.

Saat musim dingin, kota peristirahatan ini banyak dikunjungi orang sebagai lokasi berolahraga ski. Selanjutnya kami melewati jalur pegunungan yang enak dilalui, jalur yang sepi dengan pemandangan alam yang tidak membosankan.

Akhirnya kami sampai di kota Rutland yang terkenal dengan industri pertambangan (quarry) maupun pengolahan marmer, sehingga kota ini dikenal juga sebagai “Marble City” atau kota marmer. Kota yang berpenghuni sekitar 18.200 jiwa dan terletak di ketinggian 170 m di atas permukaan laut ini memang terletak di wilayah yang dikelilingi pegunungan. Sehingga menciptakan suasana kota yang berkesan damai dan nyaman khas pegunungan.

Menjelang keluar dari kota Rutland, anak laki-laki saya mengeluh kepalanya pusing. Wah, saya mulai khawatir jangan-jangan mabuk kendaraan karena tadi melewati rute pegunungan yang cukup berkelok-kelok. Tapi ngomongnya kok sambil cengengesan. Barulah saya paham. Ini memang trick anak saya.

Terbukti kemudian keluhannya dilanjutkan : “baru bisa sembuh kalau diobati es krim …..”. Weleh….. weleh….., terpaksa mampir dulu di stasiun pompa bensin mengantarkan anak membeli es krim, obat yang dimauin itu tadi, sambil sekalian menambah BBM.

Dalam hal-hal semacam ini, terkadang kami orangtuanya perlu mengalah. Ya, inilah salah satu langkah kompromis yang sudah kami antisipasi sebelumnya dalam menghadapi tingkah anak-anak. Kami sepakat, hal semacam ini jangan ditolak, karena akan sangat membantu menetralisir rasa bosan yang mulai muncul akibat berkendaraan terus-menerus beberapa hari ini. Guyon tapi seriusnya anak-anak ini sangat lebih baik daripada kalau tiba-tiba uring-uringan tidak jelas apa maunya. Lha wong namanya anak-anak ……

Sekitar setengah jam meninggalkan kota Rutland, akhirnya kami masuk ke wilayah negara bagian New York. Wilayah New York sebelah utara ini umumnya berupa pegunungan yang tidak padat penduduknya. Kami masih terus mengikuti jalan Highway 4 yang selanjutnya menyambung ke Highway 22 dan 149 hingga tiba di kota Glenns Falls. Sekitar 5 km di utara Glenns Falls ada kota Lake George, sebuah kota kecil yang terletak tepat di ujung selatan Danau George. Sesuai rencana, dari sini kami akan menyusuri pegunungan Adirondack.

***

Melalui Highway 28 yang melengkung ke utara, kami mulai mendaki mengikuti rute panjang jalur pegunungan Adirondack hingga nantinya turun di kota Rome. Jalur yang kami pilih ini berjarak sekitar 225 km, melewati beberapa kota kecil di puncak-puncak pegunungan serta menerobos beberapa jalan kecil agar tidak terlalu membuang waktu.

Saat itu waktu menunjukkan sekitar jam 1:00 siang. Rupanya cuaca sedang kurang bersahabat. Belum lama meninggalkan kota Lake George, hujan mulai turun dan membuat saya harus mengendalikan kecepatan laju kendaraan. Hari Minggu siang itu ternyata lalu lintas cukup ramai. Kelihatannya rute ini banyak menjadi pilihan orang-orang untuk berwisata pegunungan. Namun untungnya arus lalu lintas cukup lancar, sehingga saya tidak khawatir akan kehilangan waktu.

Pegunungan Adirondack merupakan sebuah gugusan pegunungan di wilayah New York bagian utara dan membentang di areal seluas lebih dari 2,4 juta ha yang sekitar setengahnya masih merupakan hutan liar. Gunung Marcy (1.6230 m) merupakan yang tertinggi di antara 42 gugusan pegunungan yang rata-rata tingginya di atas 1.200 m. Lebih dari 2.800 danau dan kolam, 1.900 km sungai-sungai dan 48.000 km aliran-aliran air, dijumpai menyebar di seluas bentang alam pegunungan yang sangat luas ini. Di areal yang sama kini terdapat 1.760 km jalan raya dan 190 km jalan kereta api.

Nama Adirondack sendiri pertama kali digunakan oleh suku Indian Iroquois yang menyebut suku Indian pendahulunya yaitu Algonquin yang suka makan sejenis pohon bark. Karena itu suku Indian Iroquois menyebutnya dengan “ha-de-ron-dah” yang artinya pemakan pohon bark. Pegunungan Adirondack kini menjadi wilayah yang dilindungi dan menjadi tempat rekreasi alam sepanjang tahun. Di beberapa lokasi masih terlihat bekas kebakaran hutan yang pernah terjadi beberapa kali sejak tahun 1899, lalu 1903 dan kemudian 1908, serta pernah dilanda angin topan pada tahun 1950.

Taman Pegunungan Adirondack yang pertama kali dibentuk tahun 1882 ini kira-kira berdiameter 200 km dan mempunyai struktur geologi yang sangat kompleks. Hampir semua batuan di daerah ini berupa batuan metamorf dengan tiga tipe batuan : metasedimen, metavulkanik dan metaplutonik. New York State Geological Survey menyebut bahwa pegunungan Adirondack ini sebenarnya pegunungan muda tetapi terbentuk dari batuan-batuan tua, yang terjadi pada jaman Proterozoikum Tengah dan Akhir. Meski demikian, masih banyak hal dari geologi daerah ini yang belum terungkap.

***

Cuaca masih saja hujan saat kami tiba di kota-kota kecil di jalur pegunungan ini. Ada beberapa kota kecil yang terlihat banyak dikunjungi orang di antaranya kota North Creek, Indian Lake, Blue Mountain Lake, Raquette Lake, Eagle Bay dan Old Forge. Ketika berada di penggal jalan antara kota Blue Mountain Lake dan Raquette Lake kami sempat berhenti sejenak ketika rute yang kami lalui menyusuri beberapa pinggiran danau, diantaranya danau Blue Mountain, Eagle, Utowana dan Raquette.

Di saat hujan seperti itu ternyata masih banyak warga yang berwisata perahu dan memancing. Di sepanjang rute ini kami memang banyak bertemu dengan kendaraan yang menggandeng trailer kecil bermuatan perahu.

Kalau saja tidak turun hujan, saat itu kami sebenarnya sedang berada di daerah yang berpemandangan cukup indah, berada di tepian beberapa danau dengan latar belakang pegunungan Adirondack. Di daerah inilah semula kami merencanakan untuk beristirahat dan menikmati alam pegunungan berdanau yang tentu saja agak berbeda dengan daerah pegunungan di tempat-tempat lain yang pernah kami kunjungi. Namun karena hujan tidak juga reda akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Kalaupun berhenti, paling-paling hanya dapat berdiam di dalam mobil saja.

Akhirnya sekitar jam 4:00 sore kami tiba di kota Rome. Hujan sudah mereda sejak sebelum tiba di kota Rome tadi. Kami lalu masuk ke jalan bebas hambatan Interstate 90 yang juga merupakan jalan toll New York State Thruway yang membentang arah timur-barat. Kurang dari satu jam kemudian kami tiba di kota Syracuse.

Sejak sebelum melakukan perjalanan panjang ini, sebenarnya saya merencanakan setelah tiba di Syracuse akan berbelok ke selatan menuju kota Ithaca di dekat ujung selatan danau Cayuga. Di sana tinggal mbak Rinta Gillert (alumni Geologi) dan keluarganya. Di sana pula saya ingin melihat lebih dekat kampus Cornell University yang terkenal itu. Namun sayangnya, di saat yang sama mbak Rinta akan berlibur ke Indonesia dan ke beberapa negara Asia bersama keluarganya.

Rencana untuk singgah di kota pelajar Ithaca lalu saya ubah. Sebagai gantinya saya akan mampir mengunjungi keluarga bekas teman kerja di Tembagapura yang kini kembali ke kampungnya di kota Baldwinsville, sekitar 15 km barat laut Syracuse. Kami diterima dengan sangat ramah oleh istri teman saya yang asal Manado, sedangkan teman saya sendiri sedang berada di luar kota. Bahkan keluarga dari adik teman saya itu juga turut menyambut kedatangan kami.

Seperti sudah paham tentang kultur Indonesia, di tengah keluarga adik teman saya itu saya justru tidak menemukan keramahan Amerika. Silaturrahmi itu terasa lebih bersuasana ke-indonesia-indonesia-an. Warna keramah-tamahan yang jelas berbeda dari warna budaya Amerika. Anak-anak saya pun dapat cepat beradaptasi dengan anak-anak dari adik teman saya yang kebetulan sebaya. Saya berprasangka, jangan-jangan keluarga adik teman saya ini sebelumnya sudah di-briefing tentang kultur Indonesia oleh keluarga teman saya yang bernama Bob dan Ika Golden.

Menjelang jam 8:00 malam yang sebenarnya matahari belum tenggelam sehingga hari masih cukup terang, kami melanjutkan perjalanan ke barat menuju ke kota Buffalo lalu ke Niagara Falls. Niagara Falls adalah kota tujuan kami hari itu. Menjelang jam 10:00 malam kami sampai di kota Niagara Falls yang malam itu masih tampak basah oleh bekas hujan, sebagaimana hujan turun di sepanjang perjalanan kami selepas dari Baldwinsville tadi. Kami langsung menuju ke hotel yang sudah kami pesan sebelumnya dan kami rencanakan dua malam akan berada di kota ini.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Tentang Konser Musik Woodstock

2 Februari 2008

(1).  Tentang Konser Musik Woodstock (Bagian 1)

Kota Woodstock yang saya lewati dalam perjalanan keliling setengah Amerika berada di negara bagian Vermont, sedangkan kota Woodstock yang berkaitan dengan festival musik (yang disebut Mas Mimbar) itu berada di negara bagian New York. Ya ….., masih dekat-dekat Manhattan, sekitar 160 km di utaranya.

Saya sebut berkaitan dengan festival musik, karena sebenarnya konser musik “Woodstock” yang pertama kali diadakan pada bulan Agustus 1969 bertempat di kota kecil Bethel, di sebelah barat daya kota Woodstock, New York. Sedangkan nama “Woodstock” terlanjur diabadikan karena memang di kota itulah rencana mula-mula konser “Woodstock69” akan diselenggarakan, sebelum kemudian dipindah ke Bethel.

Inilah konser musik rock terbesar, terheboh dan terkisruh yang pernah diselenggarakan, sehingga kemudian mengilhami Pemda negara bagian New York untuk mengeluarkan beberapa peraturan menghindari hal serupa terulang kembali. Padahal pesta musik ini menyandang motto “three days in peace and music“.

Sekitar 500.000 penonton membanjiri kota kecil Bethel. Kemacetan terjadi dimana-mana di jalan yang menyambung ke Bethel. Ratusan polisi terpaksa kerja lembur. Tindak pencurian, pengrusakan, pemerkosaan, dan beraneka ria kejahatan terjadi, termasuk korban yang meninggal dunia di lokasi konser yang berlangsung tiga hari tiga malam non-stop.

Di “Woodstock69” inilah pemusik-pemusik terkenal turut ambil bagian, seperti : Janis Joplin, Jimi Hendrix, Bob Dylan, Roger Daltrey, Jerry Garcia, dsb. Sedangkan kota Woodstock sendiri (yang namanya diabadikan sebagai judul konser musik) kini menjadi kota terbesar keempat di Amerika dalam urusan studio rekaman, setelah New York, Los Angeles dan Nashville. 

Konser musik berikutnya, “Woodstock94”, digelar bulan Agustus 1994 di kota kecil Saugerties, dalam rangka memperingati 25 tahun “Woodstock69” yang melegenda. Kali ini lokasinya memang berdekatan dengan kota Woodstock.

Kemudian digelar lagi “Woodstock99” pada bulan Juli 1999 di kota Rome, dalam rangka merayakan 30 tahun “Woodstock69”. Kebetulan kota ini sempat saya lewati ketika turun dari pegunungan Adirondack dalam perjalanan keliling setengah Amerika. Lokasinya agak menjauh ke utara dari kota Woodstock.

“Woodstock94” dan “Woodstock99” berlangsung lebih tertib. Ratusan ribu pengunjung membanjiri arena pesta musik yang juga digelar selama tiga hari. Kali ini pihak Pemda setempat sudah lebih siap, termasuk bagaimana menjaring sebanyak-banyaknya dollar para pengunjung yang datang dari penjuru Amerika.

Yang kemudian terlintas di pikiran saya bukan pesta musiknya, melainkan tempat penyelenggaraannya yang kiranya dapat menjadi cermin bagi kita. Bahwa hajat-hajat besar (maksud saya, acara-acara berskala besar) semacam ini tidak harus diselenggarkan di Jakarta atau Bandung atau Surabaya. Melainkan dapat juga digelar di Cikopo atau Alas Roban atau Pacitan. Agar, rupiahnya para orang kota itu juga ngepyur (tertabur) ke pelosok-pelosok desa melalui penginapan, rumah makan, angkutan atau oleh-oleh (termasuk kendil, cepuk, slepi dan sejenisnya).

Pertanyaan bernada “curiga” dan “waswas” yang kemudian muncul di Jakarta adalah : Apakah masyarakat dan daerah setempat sudah siap?

Kapakno-kapak (biar bagaimanapun juga) kalau tidak pernah direncanakan dan dipersiapkan dengan baik (wong kita ini tidak kekurangan orang-orang pinter) dan lalu dicoba diterapkan, ya daerah tidak akan pernah siap mengurus apa yang menjadi urusannya …….-

New Orleans, 3 Januari 2001.
Yusuf Iskandar