Posts Tagged ‘ultah’

Matur Nuwun Gusti

29 September 2009

Satu-satunya kejadian yang menandai bahwa hari ini hari ulang tahunku adalah sindiran-guyonan anak perempuanku tadi siang. Katanya : “Wah hari ini bakal ada yang nraktir makan, nih….”. Itu saja. Selebihnya live must go on as usual, seperti-hari-hari kemarin, seperti tidak ada yang spesial…

Entah kenapa sejak saya kecil dulu orang tua saya tidak pernah membiasakan mengadakan perayaan ulang tahun. Mungkin karena himpitan ekonomi keluarga, mungkin karena kebiasaan seperti itu tidak jamak di lingkungan masyarakat sekitar kami tinggal, atau mungkin memang dianggap bukan sesuatu yang perlu dirayakan. Boro-boro pesta, bahkan sekedar bancakan selamatan bubur merah bubur putih pun tidak.

Yang kemudian terjadi ketika saya dan adik-adik saya kemudian tumbuh dewasa dan mulai mengenal ada tradisi yang oleh keluarga lain selalu dirayakan, adalah merayakannya sendiri dengan caranya sendiri. Aneh, lucu, tapi juga tidak perduli….

Kebiasaan tidak perduli dengan hari ulang tahun itu terbawa sampai kini, sampai usia saya menyongsong setengah abad, tapi kata teman saya masih ABG (Aku Belum Gocap..). Pernah suatu kali kami sekeluarga lupa sama sekali bahwa hari itu adalah hari ulang tahunku. Baru teringat saat tanggal ulang tahun itu sudah berganti, maka sekedar makan bersama di luar rumah pun baru dilakukan ketika ingat dan ketika sempat. Pernah juga suatu kali justru orang lain yang mengirim tumpeng ulang tahun atau mengadakan tumpengan untukku (akan saya kenang kebaikan orang-orang yang bukan sanak bukan kadang…, bukan siapa-siapa ini…). Maka karena saya tidak pernah paham akan pentingnya merayakan ulang tahun, ketika lupa pun tidak pernah saya sesali apalagi saya pikirkan. Biasa saja….

Sungguh bukan karena balas dendam kalau kemudian di lingkungan keluarga saya sekarang, tradisi itu pun tidak tumbuh. Apakah itu ulang tahunku, istriku atau anak-anakku, tidak pernah menjadi urusan yang harus dipersiapkan apalagi dipikirkan secara khusus, dipikir sambil tidur pun tidak. Kalau ingat dan sempat merayakannya syukur, kalau tidak ingat juga tidak masalah. Paling-paling sekedar makan-makan di luar. Itu pun kalau sempat. Kalau tidak sempat, bisa dijadwalkan ulang kapan sempatnya. Mengucapkan selamat ulang tahun pun tidak selalu saling kami lakukan. Ndeso tenan….

Saya tidak tahu apakah ini sesuatu yang baik atau kurang baik atau biasa-biasa saja. Tapi ada pengalaman buruk, beberapa kali saya gagal mengingat tanggal ulang tahun istriku dan anak lelakiku, sehingga harus buka-buka catatan atau bertanya lebih dahulu. Sedang untuk anak perempuanku tidak pernah salah karena tanggalnya sama dengan tanggal kelahiranku.

Meski demikian, bagaimanapun juga saya ingin memberi pengalaman berbeda bagi kedua anakku. Saat mereka masih balita dulu, untuk pantes-pantes kami orang tuanya juga mengadakan perayaan ulang tahun dengan mengundang teman-teman kecilnya. Itu berlangsung dua-tiga kali saja. Selebihnya, ya itu tadi…. live must go on as usual…., seperti hari-hari biasanya. Soal cara merayakannya juga terserah selera masing-masing. Istriku pernah bikin nasi kuning untuk dirinya sendiri ketika berulang tahun. Pernah juga membikinkan nasi kuning untuk kedua anakku sekaligus. Karena tanggal dan bulan ulang tahun kedua anakku itu berdekaan, maka nasi kuning dibuat pada tanggal kira-kira tengah-tengah antara keduanya. Sesederhana itu.

Pernah juga ketika menjelang ulang tahun kedua anakku. Saya cuma bilang kepada mereka bahwa ini ada anggaran dana sekian rupiah, lalu saya ajukan usulan kepada mereka : Mau dipakai makan-makan bersama teman-temannya silakan, atau datanglah ke panti asuhan dan sedekahkan uang itu kepada anak-anak yatim. Sekali waktu mereka memilih yang pertama dan pada waktu lain mereka memilih yang kedua. Namun ketika memilih yang kedua, sesudah itu tetap saja menagih untuk yang pertama. Dasar, anak-anak…..!

Bagi saya hari ulang tahun adalah bisnis pribadi saya dengan Tuhan. Hal yang sama saya tanamkan kepada anak-anakku, agar melakukan introspeksi diri (bahasa agamanya muhasabah) ketika memasuki hari ulang tahun, kalau kebetulan hari itu mengingatnya. Kalau lupa ya esoknya atau esoknya lagi…

Kini saya tersenyum sendiri…. Sepanjang badan mengandung hayat, hingga usia saya menjelang setengah abad, baru sekali inilah (berkat teknologi Facebook dan SMS) teman-teman dan sahabat-sahabat baik saya bertubi-tubi menyampaikan ucapan selamat ulang tahun. Sumprit…, belum pernah saya menerima perlakuan seperti ini. Saya merasa bak seorang selebriti tanpa wartawan infotainment yang kurang kerjaan…..

Matur nuwun……, matur nuwun Gusti…….

Kabulkanlah doa para sahabat baik saya itu, dan ijabahi pula agar doa yang sama kembali tertuju kepada para sahabat saya itu bersama keluarganya….

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Ampuni hambaMu yang ndeso ini. Jadikanlah hambaMu yang naif ini menjadi orang yang selalu besyukur kepadaMu. Dan jangan Engkau biarkan hambaMu ini berjalan melenceng dari jalan yang Engkau kehendaki.

Matur nuwun….., matur nuwun Gusti…..

Telah Kau ijinkan hambaMu yang lemah ini memasuki usia ke empat puluh sembilan….. Dan beri hambaMu ini kesempatan untuk melanjutkan perjalanan ibadah yang senantiasa memberi manfaat bagi sesama mahlukmu…..

Amin…..

Yogyakarta, 23 September 2009
Yusuf Iskandar

Iklan