Posts Tagged ‘ulang tahun’

Kepada Siapapun Yang Berulang Tahun

22 Oktober 2010

Tengah malam setelah hari berganti ketika saya atau siapapun yang berulang tahun, ingin kukatakan: Bersyukurlah kepada Tuhan atas semua nikmat dan anugerah yang telah tercurah. Bersujudlah kepada Tuhan atas semua ketakberdayaan yang telah melenakan. Semoga Tuhan selalu menyertai perjalanan ibadah di sisa waktu yang masih ada. Selamat mengawali sisa waktu yang dikaruniakan Tuhan, bersama nyanyian burung, bersama tetes embun pagi yang sebentar sirna oleh matahari…

Yogyakarta, 17 Oktober 2010
Yusuf Iskandar

Hadiah Terindah, Berharap Bukan Ciuman Terakhir

15 Februari 2010

“Ah, tradisi ndeso keluargaku masih saja begitu….”, kataku dalam hati. Ketika salah satu dari anggota keluarga saya berulang tahun, tak seorang pun bahkan dirinya sendiri perduli untuk sekedar mengingat, mengenang atau mengatakan sesuatu. Hari ulang tahun hanyalah satu hari sebagai awal dari tahun yang berulang. Jadi, biarkan saja hari itu datang, dijalani dan pergi sebagaimana hari-hari kemarin atau dulu. Yang tidak boleh dibiarkan adalah bagaimana mengisinya dengan kegiatan bernilai kebaikan, apapun kegiatan itu, dari bangun tidur hingga pergi tidur, lalu bangun lagi dan tidur lagi, seperti nyanyiannya Mbah Surip.

Ketika salah satu anggota keluarga saya ada yang ingat bahwa ada yang akan atau sedang berulang tahun, atau bahkan baru ingat saat harinya sudah terlewati, maka dibuatlah nasi kuning. Itu juga kalau sempat. Kalau tidak, ya pergi makan bersama di luar. Tapi itu dulu, ketika anak-anak saya yang hanya dua orang itu masih kecil. Sekarang ketika mereka mulai beranjak remaja, bukan hal mudah mempertemukan segenap anggota keluarga duduk bersama di meja makan. Ada saja kegiatan masing-masing yang menjadi alasan gagalnya sebuah perjamuan makan bersama. Padahal anggotanya hanya empat orang.

Saling memberi ucapan dan hadiah ulang tahun juga merupakan hal “aneh” yang tidak biasa ada dalam tradisi keluarga saya. Seingat saya, sepertinya saya belum pernah memberi sesuatu sebagai hadiah ulang tahun kepada istri dan anak-anak, kecuali membelikan mainan ketika anak-anak saya masih balita. Saya terkadang cemburu kepada teman-teman dan orang lain yang setiap kali istri atau anak-anaknya berulang tahun, bisa menyempatkan membelikan sekedar sesuatu sebagai hadiah ulang tahun.

Hari ini mestinya hari yang istimewa bagi istriku, sebab hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi saya heran pada diri sendiri, hingga tadi malam saya merasa tidak perlu ada sesuatu yang istimewa untuk saya lakukan. Hingga menjelang tidur, dengan sekuat perasaan saya mencoba untuk berbuat sesuatu yang beda sekedar sebagai tanda bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Tapi tetap saja saya tidak tahu mau melakukan apa. Wah, jannnn…ndeso tenan…..

Sebagai suami, saya merasa tidak perlu meminta maaf, karena memang faktanya tidak ada yang saya salahi. Meminta maaf itu kalau biasanya ada sesuatu kemudian tiba-tiba tidak ada sehingga ada kebiasaan yang berubah. Atau saya menjanjikan sesuatu kemudian tidak saya penuhi sehingga membuat ketidaknyamanan. Lha, ini memang biasanya tidak ada apa-apa, maka kalau saya tidak melakukan apa-apa, ya mestinya tidak apa-apa. Pokoknya, lurus-lurus saja cara berpikir saya dan “celakanya” itu yang saya ajarkan kepada keluarga saya. Tapi justru karena keseharian yang lurus-lurus saja itu, maka ketika sekali waktu terjadi perubahan sedikit saja, betapapun sederhananya, kesan dan maknanya menjadi luar biasa indahnya.

Satu-satunya hal yang menandai bahwa suaminya tahu kala istrinya ulang tahun adalah sepenggal kalimat yang saya ucapkan menjelang tidur tadi malam : “Besok kamu ulang tahun. Coba malam ini sempatkan sholat tahajud bermunajat kepada Allah…”. Itu saja. Ketika dini hari menjelang subuh saya melakukan sholat tahajud, saya selipkan banyak doa bagi istriku. Itu pun tidak perlu saya beritahukan kepadanya. Sehingga saya juga tidak tahu apakah dia tahu kalau suaminya memanjatkan doa sepesial untuknya di hari ulang tahunnya.

Rencana semula hari ini mau makan bersama di luar, tapi naga-naganya bakal tidak kesampaian karena ternyata kedua anak saya ada kegiatan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Yo wis, embuh mengko….. Kalau tidak, ya terpaksa perayaan makan bersamanya dilakukan nanti lain hari atau kapan-kapan.

***

Masjidil Haram, 15 Pebruari 2003. Hari itu adalah hari terakhir kami berada di Mekkah karena siang harinya harus bertolak menuju Jeddah. Kami berdua, saya dan istri, pagi hingga siang itu menunaikan tawaf wada’ atau tawaf perpisahan dengan ka’bah sebelum kembali ke tanah air. Pelataran masjidil haram, di seputaran ka’bah sungguh luar biasa padatnya. Ratusan ribu manusia semua bergerak berlawanan arah putaran jarum jam memutari ka’bah. Alunan kalimat tasbih-tahmid-takbir-tahlil tak hentinya mengumandang seakan memusat ke ka’bah lalu mengangkasa menuju singgasana Sang Maha Pemangku Dunia.

Kami memulai tawaf di bagian arus terluar pelataran masjidil haram, saking penuhnya dan berdesakannya jamaah yang juga sedang menunaikan tawaf. Sambil istriku memeluk lenganku, kami berjalan perlahan memutari ka’bah. Sambil setengah guyon (guyon kok cuma setengah…) saya berbisik : “Saya ingat kamu berulang tahun hari ini. Mau enggak saya beri hadiah istimewa hari ini?”, Istriku pun balik bertanya acuh tak acuh sambil setengah bercanda (lagi-lagi, bercanda tapi setengah….) : “Hadiah oppo….”.

“Saya antarkan kamu ke tengah menuju ka’bah untuk menciumnya sebelum kita pulang ke Indonesia”, kataku kemudian. Istriku hanya nyengenges saja tidak berkata apa-apa. Pagi itu pelataran masjidil haram nampak luar biasa padatnya. Untuk bergerak semakin ke tengah menuju ka’bah saja sepertinya perlu perjuangan berat karena saking padat dan berdesak-desakannya orang tawaf mengelilingi ka’bah. Jarak lurus menuju ka’bah waktu itu, yang berarti jari-jari putaran tawaf, barangkali lebih dari 30 meter, atau mungkin malah 50 meter. Saya lupa mengingatnya.

Sambil tetap berjalan memutari ka’bah di sisi terluar saya berkata : “Ikuti saya, kita akan berjalan memutar perlahan-lahan semakin ke tengah hingga sampai ke ka’bah, setelah kita menciumnya lalu kembali berjalan memutar perlahan-lahan semakin keluar”. Untuk mendekat ke ka’bah saja susahnya setengah mati, apalagi mendekati hajar aswad (batu hitam). Dalam hati aku berkata : “Jangankan tujuh kali putaran, bila perlu 70 kali pun akan saya lakukan”. Namun cepat-cepat saya istighfar dengan sepenuh hati. Seketika saya tersadar bahwa itu adalah salah satu kesombongan yang tidak boleh sekali-kali dilakukan meski hanya dalam hati.

Akhirnya….., “Subhanallah wal-hamdulillah wa-laa-ilaaha-illallah wallahu akbar”. Kalimat itu tak henti-hentinya kami alunkan sambil mencium ka’bah dengan mata berkaca-kaca dan tanpa disadari sesekali air mata pun menetes. Ya, aku berhasil mengantarkan istriku mencium ka’bah sebagai hadiah istimewa di hari ulang tahunnya.

Tanpa pernah aku katakan kepada istriku, tapi itulah hadiah terindah yang pernah aku berikan di sepanjang usia perkawinan kami. Saya tidak tahu apakah dia merasakannya atau tidak. Tidak penting bagiku. Lebih penting kalau aku telah melakukannya, membimbing istriku mencium ka’bah di tengah padat berdesakannya masjidil haram sebelum kami kembali ke tanah air. Kami berharap semoga itu bukan ciuman terakhir. Kami berdoa dan sangat berharap masih ada ciuman berikutnya yang ingin kami berikan.

“Selamat ulang tahun istriku. Kamu tidak perlu tahu apa yang aku rasakan dan pikirkan. Tapi ketahuilah bahwa ibadah kita Insya Allah akan terus berlanjut…”.

Yogyakarta, 15 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(11).    “Selamat Ulang Tahun, Amerika”

Sebenarnya agak ogah-ogahan juga untuk jalan-jalan keluar saat hari menjelang malam. Akan tetapi mengingat hari ini Selasa tanggal 4 Juli 2000 adalah Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Amerika yang ke-224, maka kami pun segera siap-siap untuk turut menikmati suasana perayaan kemerdekaan Amerika. Malam itu dijadwalkan akan ada pesta kembang api yang digelar di berbagai tempat.

Pesta kembang api, seperti sudah menjadi tradisi di Amerika selalu menjadi bagian dari setiap acara-acara perayaan. Maka di Hari Kemerdekaan Amerika ke-224 inipun setiap kota menggelar pesta kembang api. Dalam perjalanan hari sebelumnya saya banyak menjumpai pedagang kembang api yang membuka kios-kios tiban di pinggir-pinggir jalan. Seperti yang saya jumpai saat melewati beberapa kota di negara bagian North Carolina dan Kentucky. Ini mengingatkan saya pada penjual mercon (petasan) yang biasanya menjamur di pinggiran jalan saat menjelang Lebaran di kota-kota di Indonesia.

Nampaknya setiap pemerintahan negara bagian mempunyai aturan sendiri-sendiri. Ada negara bagian yang memperbolehkan penjualan kembang api secara umum ada juga yang melarangnya. Kelak kalau otonomi daerah di Indonesia sudah melangkah lebih maju, bisa jadi hal yang kurang lebih sama juga akan terjadi. Setiap propinsi akan membuat aturan yang berbeda untuk setiap urusan yang ada di wilayahnya. Sepanjang untuk maksud kemakmuran dan kesejahteraan rakyat di masing-masing propinsi, rasanya akan menjadi hal yang baik.

***

Rencana semula, malam ini kami akan menyaksikan pesta kembang api di Monumen Washington, karena di sana akan digelar pesta kembang api besar-besaran dalam rangka malam perayaan Hari Kemerdekaan di awal millenium baru dan sekaligus menandai akan segera selesainya renovasi Monumen Washington. Anak-anak pun sudah sangat antusias untuk pergi kesana naik kereta bawah tanah. Sudah pasti, kegembiraan anak-anak sebenarnya bukan lantaran melihat kembang apinya, melainkan karena tahu akan naik kereta bawah tanah.

Dapat dimaklumi bagaimana rasa ingin tahu mereka mendengar kata kereta bawah tanah. Wong kereta kok jalannya di bawah tanah. Kalau hanya pesta kembang api mereka sudah sering melihatnya di New Orleans, bahkan seringkali dapat disaksikan cukup dengan melongok dari jendela apartemen saja. Kebetulan tidak jauh dari apartemen kami ada lapangan baseball dimana di sana sering digelar pesta kembang api.

Rupanya saya dan Mas Supeno kemudian berubah pikiran. Ke Washington DC bawa kendaraan sendiri pada saat malam pesta Hari Kemerdekaan menurut pengalaman Mas Supeno akan beresiko kesulitan mencari tempat parkir yang dekat dan menghadapi kemacetan yang luar biasa pada saat pulangnya. Masyarakat kota Washington DC malam ini tentu akan tumplek blek (tumpah ruah) di lapangan Monumen Washington bergabung dengan masyarakat Virginia dan Maryland yang tinggal di kawasan daerah penyangga.

Naik kereta bawah tanah juga sama, akan bertemu dengan padatnya arus penumpang dari luar kota, apalagi membawa anak-anak. Kalau mau mesti berangkat lebih awal dan pulang sebelum selesai. Setelah ditimbang-timbang, akhirnya kami sepakat untuk menyaksikan pesta kembang api perayaan Hari Kemerdekaan Amerika di kota Wheaton saja. Jaraknya tidak terlalu jauh, cukup dengan berjalan kaki dari rumah Mas Supeno.

Sekitar jam 9 malam lebih sedikit, tanpa halo-halo, tanpa sambutan, tanpa formalitas macam-macam, langsung “byaaaaarrrrrr….“, kembang api pertama mengangkasa dari atap sebuah gedung parkir di kompleks pertokoan pusat kota Wheaton. Rupanya memang tempat itu dipilih karena strategis dan berlokasi agak tinggi. Sehingga masyarakat yang berada di lokasi agak jauh pun dapat turut menyaksikan pesta kembang api.

Kami sengaja mencari tempat paling dekat sambil duduk-duduk di jalur hijau yang benar-benar hijau karena ditumbuhi rumput. Di samping kiri-kanan maupun di belakang kami sudah penuh masyarakat Wheaton yang sama-sama sejak tadi menunggu saat pesta kembang api dimulai.

Sorakan gembira mengiringi kembang api pertama yang memancarkan cahaya berwarna-warni di angkasa. Hampir 30 menit, pesta kembang api berlangsung. Bunyi “dar-der-dor” dan gebyar cahaya warna-warni di langit kota Wheaton yang malam itu cukup cerah berakhir diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai masyarakat kota Wheaton, yang seakan menyeru : “Selamat Ulang Tahun, Amerika”.

Kami pun segera beranjak pulang, berbaur di tengah masyarakat Wheaton. Anak-anak juga gembira dan saling menceriterakan pengalaman yang baru saja disaksikannya. Namun rupanya masih ada yang mengganjal di hati mereka. “Naik kereta bawah tanahnya kapan?”. Wah, lha karena rencananya berubah ya tidak jadi naik kereta bawah tanah. Dasar anak-anak, ya tidak mau tahu. Ya karena memang sebenarnya bukan kembang apinya yang lebih menarik khususnya bagi kedua anak saya, melainkan naik kereta bawah tanah.

Saya lalu berunding dengan Mas Supeno, bagaimana agar sebelum pulang dapat membawa anak-anak naik kereta bawah tanah dulu. Naik dari mana, mau kemana, turun di mana tidak jadi soal. Pokoknya beli karcis dan lalu naik kereta bawah tanah. Kami lalu berjalan kaki membelok menuju ke stasiun kereta bawah tanah kota Wheaton.

Kereta bawah tanah yang melayani berbagai rute di wilayah kota Washington DC dan sekitarnya ini disebut dengan metrorail, seringkali hanya disebut metro saja. Selain jasa layanan kereta juga ada layanan transportasi umum dengan bis yang disebut dengan metrobus. (Bersambung)

Yusuf Iskandar