Posts Tagged ‘tv one’

Nyaris Jotos-jotosan Di Depan Layar Televisi

2 November 2009

OC Kaligis dan Gayus Lumbuun nyaris jotos-jotosan tinju di depan kamera TV One tadi pagi…. Maka pantaslah kalau 15 abad yll. Tuhan wanti-wanti : hanya akan menyertai orang-orang yang sabar. Lha yang tidak sabar? Pasti bukan Tuhan yang akan menyertai…..

(Miris sekali rasanya, menyaksikan tokoh masyarakat yang saling tidak bisa mengendalikan emosi dan kesabarannya di depan layar kaca yang pastinya ditonton oleh jutaan pirsawan televisi Indonesia… Weleh, piye to iki….)

Yogyakarta, 2 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Ramadhan Dan Para Pekerja Borongan

13 September 2009

Hari sudah bergeser lewat tengah malam, memasuki hari ke 21 bulan Ramadhan atau disebut juga malam selikuran. Baru saja kitab lusuh itu saya tutup setelah menyelesaikan membaca surat As-Sajadah. Enaknya langsung nggeblak saja di atas kasur empuk, ingin segera beristirahat untuk nanti bangun lagi saat makan sahur.

Tiba-tiba terdengar nada suara jangkerik, tanda ada SMS masuk. Sembari malas-malasan membuka mata, saya lihat rupanya SMS dari istriku di Jogja. “Kok tumben-tumbenan kirim SMS malam-malam”, kata saya dalam hati. Agaknya dia lupa kalau suaminya sedang berada di wilayah yang waktunya dua jam lebih cepat.

Ketika saya baca SMS-nya berbunyi (ditulis dalam bahasa Jawa) : “Mas, coba lihat Mario Teguh di TV One”.

Saya tersenyum sendiri. Sambil agak kurang bergairah saya balas SMS-nya : “Waduh, lha di kamarku ndak ada TV, je…”. Boro-boro…., TV rusak saja tidak ada, apalagi TV One.

Lalu HP saya letakkan di samping tempat tidur. Maksudnya agar saya bisa mendengar dengan keras, ketika alarm yang saya setel jam setengah empat nanti berbunyi. Itupun sekali waktu pernah kebablasan tidak bangun dan akhirnya tidak makan sahur (lebih tepatnya, ketika alarm berbunyi lalu terbangun sejenak, mematikan alarm, tidak langsung bangun, dan akhirnya tertidur lagi kebablasan hingga terdengar adzan Subuh).

Rupanya SMS berbunyi lagi, kata istriku : “Mengenai lebaran, banyak orang menonjolkan diri padahal banyak utang, berarti sebenarnya tidak bahagia…”, pasti menirukan tuturan Mario Teguh.

Sejenak kemudian menyusul lagi SMS : “Wah, apik tenan…”. Istriku memang penggemar Mario. Sebenarnya saya juga, hanya bedanya kalau istriku penggemar Mario Teguh, kalau saya Mario yang suka cat warna kuning temannya Maria.

Akhirnya saya jadi terjaga dan terpancing memberi komentar : “Kata lainnya : Orang-orang itu menjadikan lebaran sebagai tujuan. Padahal mestinya lebaran itu hasil, sedang tujuannya adalah sempurnanya puasa Ramadhan”.

Tidak lama kemudian datang SMS sambungan : “Kesimpulannya, lihatlah diri sendiri sebagaimana apa adanya, jangan……. Terusnya lupa…..he..he..”, tulis istriku.

“Terusnya : Jangan menjadikan orang lain sebagai ukuran. Lalu perhatikan apa yang terjadi…”, balasku kemudian.
“Ngarang!”, balas istriku dengan cepat.
Lha, coba saja diingat-ingat….., kalau enggak percaya”, balas saya lagi.
Yo wis, nanti tak ingat-ingatnya sambil tidur”, balasan cepat dari seberang sana.
“Ya, betul itu”, kataku. Berbalas SMS akhirnya selesai dengan SMS penutup dari saya : “Ini malam selikuran, tambahi tahajudnya”.

Dan, hilang sudah kantuk saya. Kini malah jadi tidak bisa tidur. Berganti dengan rasa lapar yang ditandai dengan munculnya suara kruyuk-kruyuk dari dalam perut. Tolah-toleh di kamar tidak ada yang bisa dimakan, kecuali ada sedikit sisa kacang kulit yang katanya baik untuk jantung. Maksudnya kalau dimakan secukupnya, sebab untuk jenis perut tertentu kalau makan kacang kebanyakan esoknya mencret.

***

Malam selikuran adalah tradisi yang ada di kalangan sebagian masyarakat Jawa yang maksudnya malam tanggal duapuluh satu Ramadhan yang biasanya diwarnai dengan peningkatan aktifitas beribadah di malam hari. Ya tadarus baca Qur’an, dzikir, sholat malam, i’tikaf, sedekah, kajian di masjid, mushola atau surau, dsb. Disebut tradisi karena tidak ada dasarnya. Namun maksudnya adalah…., eh siapa tahu lailatul-qodar (malam kemuliaan yang nilainya lebih baik dari seribu bulan) turun di malam itu, maka banyak orang sudah siap menyongsong kedatangannya dengan ibadah yang lebih giat dari malam-malam lainnya.

Masalahnya, adalah kalau giat beribadah hanya pada malam selikuran saja dengan harapan berjumpa dengan lailatul-qodar, maka itu sama artinya dengan pasang nomor lotere. Berharap ibadah borongannya pada malam itu dapat bernilai lebih dari seribu bulan, sementara pada malam-malam lainnya acuh tak acuh. Berharap mendapatkan kemuliaan pada malam itu, sementara pada malam-malam lainnya tidak mulia tidak apa-apa. Masih lebih baik kalau disertai harap-harap cemas, artinya ada niat kesungguhan di balik ikhtiarnya. Lha kalau berharap thok, berarti dapat ya syukur, tidak dapat yo wis….

Ibadah borongan ini tentu bukan yang dikehendaki Tuhan bagi hambanya yang sedang berbisnis dengan Ramadhan. Salah satu rahasia kenapa Allah swt. tidak memberitahu kapan lailatul-qodar tiba adalah agar hambanya menjaga kontinyuitas ibadah malamnya. Dan bukan diborong dalam satu malam saja seperti Bandung Bondowoso mborong seribu candi dalam semalam dan terakhir mbangun candi Mendut yang nilainya lebih baik dari seribu candi.

Jika demikian, taruhlah lailatul-qodar benar-benar turun pada malam itu. Rasanya cukup fair kalau kemudian para pekerja borongan itu hanya memperoleh lail-nya (malamnya) saja. Sementara qodar-nya (kemuliaannya) numpang lewat untuk melanjutkan perjalanan mencari dan menemui orang lain yang setiap malamnya bersujud penuh rasa harap-harap cemas menunggu datangnya kemuliaan dan ampunan dari Sang Pemilik Malam.

Pada malam itu lalulintas di angkasa sangat padat dan penuh sesak oleh para malaikat yang sibuk naik-turun menggendong kemuliaan kemana-mana untuk dibagi-bagikan gratis kepada setiap hamba yang bersungguh-sungguh dengan ibadah Ramadhannya. Saking padatnya angkasa raya oleh milyaran malaikat dengan kesibukannya, sehingga…

malam yang cerah menjadi temaram dan syahdu…
udara tidak terlalu dingin tidak terlalu hangat
tapi badan merinding tanpa sebab…
suasana terasa hening seolah semua isi bumi sedang bersujud
sambil menitikkan air mata penuh penghambaan….
dan  angin pun berhembus halus memberdirikan helai-helai bulu kuduk
ketika menyapunya dengan belaian lembut….
Subhanallah!

***

Cara beribadah para pekerja borongan itu tidak beda dengan mereka yang menjadikan lebaran sebagai tujuan. Apapun akan dilakukan untuk memanfaatkan momen lebaran sebagai momen memperoleh pengakuan atas sukses yang telah diraih, yang diwujudkan dalam perlambang-perlambang yang tampak di mata. Meski untuk itu mereka berkorban apa saja yang terkadang menjadi tidak rasional. Karena lebaran yang menjadi tujuannya, maka lebaran itulah yang kemudian akan diperolehnya. Bukan kemenangan, bukan kebahagiaan…

Mestinya lebaran adalah sebuah hasil, tujuannya adalah sempurnanya ibadah Ramadhan, prosesnya adalah penghambaan yang ikhlas selama Ramadhan siang dan malam semata-mata karena mengharap keridhoan-Nya. Dalam konteks beribadah, tujuan dan proses (cara mencapainya) adalah sama pentingnya. Adalah tidak benar kalau untuk tujuan beramal lalu diupayakan dengan merampok atau korupsi. Juga tidak betul kalau melakukan sholat, puasa atau sedekah tetapi tujuannya agar disanjung orang lain. Meski antara tujuan dan proses itu hanya diri sendiri dan Tuhan yang tahu.

Jika tujuan dan prosesnya ditunaikan dengan landasan la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa), maka Insya Allah hasil yang diraih akan datang dengan sendirinya, yaitu kemenangan dan kebahagiaan yang tak terukur nilainya di hari fitri nanti. Tak juga dapat disebandingkan dengan mobil atau sepeda motor baru meski kreditan berplat nomor B, pakaian dan perhiasan gemerlap hasil gesekan kartu kredit, lembar uang baru yang dibagi-bagikan kepada anak-anak tetangga, dan aneka perlambang yang semacam itu.

Dan, sang Hasil ini sekarang sedang gelisah merindukan ingin segera berjumpa dengan orang-orang yang tujuan dan proses ibadah Ramadhanya karena imaanan wahtisaban (karena iman dan berharap ridho-Nya). Semoga dalam Ramadhan kali ini (enggak tahu kalau Ramadhan tahun lalu atau tahun depan), kita semua termasuk ke dalam gerombolannya orang-orang yang sedang dirindukan oleh sang Hasil itu. Amin..

Tembagapura, 11 September 2009 (21 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar

Jadi Penerjun Tidak Boleh Merokok

7 April 2009

Duduk lesehan berdua anak lelaki saya (Noval) di depan televisi menjelang maghrib. Saluran TV One sedang menyiarkan diskusi tentang tragedi jatuhnya pesawat Fokker-27 milik TNI AU di hanggar pangkalan udara Husein Sastranegara kemarin siang. Di sela-sela dialog, ditayangkan rekaman kegiatan prajurit TNI AU, di antaranya ada terjun payung. Anak saya tampak serius memperhatikan adegan terjun payung massal oleh Paskhas TNI AU.

Tiba-tiba Noval bertanya : “Pak…, bapak berani enggak terjun payung?”. Saya diam sesaat mecoba menerka-nerka kemana arah pertanyaan anak saya yang satu ini yang seringkali tak terduga.

“Kalau sekarang ya enggak berani”, jawab saya kemudian.  Rupanya jawaban itu tidak memuaskan Noval. Dengan nada mengejek dia melanjutkan : “Wah, bapak kan hobby petualangan, suka dengan tantangan, masak enggak berani ikut terjun payung…”.

Siwalan!“, kata saya dalam hati. Jelas saya tidak terima diejek anak saya begitu. Lalu saya mencoba menjelaskan dengan sabar : “Ya, seberani-beraninya orang, sebelum melakukan kegiatan apapun, apalagi yang beresiko tinggi, harus melakukan pelatihan terlebih dahulu. Tidak boleh begitu saja ikut ini, ikut itu…”, jawab saya.

Noval masih belum puas dengan jawaban saya. Dia pun melanjutkan : “Seandainya bapak ikut latihan dulu, apa bapak berani melakukan terjun payung?”. Waduh, modar aku…! Mendidih juga darah setengah tua saya.

“Berani saja!”, jawab saya tidak mau kalah. “Tapi di usia bapak sekarang, ya jelas bapak tidak bisa”. Jawaban ini membuat Noval jadi penasaran.

“Memang kenapa?”, tanyanya ingin tahu.
“Pertama, karena kondisi fisik bapak sudah menurun. Berbeda halnya kalau sejak muda kondisi fisiknya memang terlatih untuk kegiatan terjun payung. Kedua, bapak seorang perokok”, jawab saya.

“Ooo, seorang penerjun tidak boleh merokok ya…”, kata Noval seakan-akan memahami (meski saya tahu sebenarnya dia belum paham).
Lha, iyalah“, jawab saya merasa menang.
“Tapi kenapa ya, pak”. Eh, masih ngeyel juga dia.
Asal-asalan saja saya menjawab : “Ya, karena susah….. Begitu meloncat terjun dari pesawat terus menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke langit. Pasti akan merepotkan sekali…”.
“Aaaaaaaah…..”, teriak Noval, bersamaan dengan kumandang adzan magrib dari masjid dekat rumah.

Yogyakarta, 7 April 2009
Yusuf Iskandar