Posts Tagged ‘tucson’

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(2).   Kaktus Raksasa Di Gurun Sonoran

Berkendaraan ke arah selatan sejauh 117 mil (sekitar 187 km) dari kota Phoenix, saya akan mencapai kota Tucson. Namun sebelum tiba di Tucson, saya berbelok ke arah barat menuju ke Taman Nasional Saguaro (baca : Sahuaro). Saguaro adalah nama sejenis tanaman kaktus raksasa yang hanya hidup di bagian selatan Arizona, tenggara California dan utara Mexico. Ini adalah jenis tanaman kaktus yang bisa mencapai tinggi 9 – 12 meter, dan sedikit di antaranya bisa lebih dari 15 meter. Batangnya (kita sering salah kaprah menyebutnya sebagai batang) bisa seukuran batang pohon pisang kepok. Kaktus ini mampu hidup hingga lebih 200 tahun.

Demi melindungi kerusakan monumen alam yang hanya ada di daerah itu, tahun 1933 kaktus-kaktus raksasa tersebut, beserta dengan jenis kaktus lainnya, tanaman-tanaman gurun, serta binatang-binatang yang hidup di lingkungan itu, dilindungi melalui pengelolaan Taman Nasional Saguaro. Wilayah gurun tempat tumbuhnya kaktus-kaktus raksasa ini disebut dengan gurun Sonoran. Ini adalah salah satu daerah paling panas dan kering di daratan Amerika utara. Karena itu hanya jenis tumbuh-tumbuhan dan binatang tertentu saja yang sanggup bertahan hidup (survive) di lingkungan ini.

Di daratan Amerika utara dikenal ada empat macam gurun, yaitu Great Basin, Mojave, Chihuahuan dan Sonoran. Taman Nasional Saguaro sendiri yang mencakupi wilayah gurun Sonoran ini terbagi menjadi dua, yaitu Saguaro Timur dan Barat yang masing-masing terpisah sejauh 48 km dengan kota Tucson berada di antaranya.

***

Hari Sabtu, 5 Agustus 2000, sekitar tengah hari saya tiba di lokasi Taman Nasional Saguaro Barat. Memang udara siang hari di musim panas seperti bulan Agustus ini terasa panas sekali. Di sepanjang jalan sekitar tempat ini, pemandangan alamnya didominasi dengan bukit-bukit kering dan kaktus-kaktus raksasa.

Setelah berhenti sejenak di ruang pusat pengunjung (visitor center) guna memperoleh berbagai informasi serta peta lokasi, saya melanjutkan perjalanan untuk masuk lebih jauh ke Taman Nasional Saguaro, dengan  mengelilingi rute wisata yang disebut “Scenic Bajada Loop Drive” sepanjang kira-kira 15 km. Di ruang pusat pengunjung ini seharusnya saya membayar biaya masuk US$4. Namun karena saya memiliki kartu keanggotaan Taman Nasional Amerika, maka saya tidak perlu membayar. Sebagai pemegang kartu National Parks Pass, saya dan keluarga bebas keluar masuk di sejumlah 379 taman nasional yang ada di Amerika selama setahun.

Untuk memiliki kartu National Parks Pass ini saya membayar US$50 dan berlaku satu tahun. Bagi saya ini lebih menguntungkan mengingat kesukaan saya untuk mengunjungi taman-taman nasional, dibanding kalau saya mesti setiap kali membayar sejumlah uang setiap akan masuk ke Taman Nasional. Alasan “idealis” lainnya adalah dengan membayar sekaligus untuk setahun, maka saya telah memberi kontribusi lebih kepada organisasi pengelola taman-taman nasional Amerika yang disebut National Park Foundation (NPF).

NPF ini adalah sebuah organisasi, semacam LSM, yang mengelola sejumlah taman-taman nasional di seluruh Amerika. Organisasi ini merupakan partner bagi lembaga resmi pemerintah National Park Sevice, dan berorientasi non-profit. Sumber dana mereka yang utama berasal dari sumbangan para donatur dan biaya uang masuk di hampir setiap taman nasional (karena ada juga taman nasional yang bebas uang masuk).

Dari uang masuk yang mereka kumpulkan, 80%-nya digunakan langsung untuk mengelola program-program utama taman nasional. Melihat bahwa dari taman-taman nasional yang pernah saya kunjungi secara fisik tampak tertangani dengan sangat baik, pasti mereka telah menerapkan sistem management yang bagus pula.

Ada dua hal yang saya pandang menarik : Pertama, bahwa siapapun mereka, untuk terlibat dalam lembaga ini tentu diperlukan rasa memiliki dan rasa peduli yang sangat tinggi terhadap kekayaan alam negerinya. Kedua, kepuasan dan kenyamanan para pengunjung untuk berwisata dan sekaligus memperoleh pengalaman dan pengetahuan baru melalui cara-cara yang sangat informatif dan edukatif tetap mereka utamakan, dan bahkan mereka sangat peduli kalau ada pengunjung anak-anak yang suka tanya ini-itu.

Terus terang, sebagai orang yang datang jauh-jauh dari negara yang sedang berkembang terkadang saya merasa iri, bagaimana mereka “mau-maunya” terlibat dalam urusan yang secara kasat mata tidak menjanjikan imbalan yang menggiurkan.

Perlu juga rasanya saya catat, bahwa banyak di antara para petugas itu adalah orang-orang tua (kira-kira orang yang sudah usia pensiun) yang mengisi waktu tuanya dengan menjadi sukarelawan di lembaga-lembaga atau organisasi-organisasi swadaya masyarakat, ya antara lain semacam NPF ini. NPF juga menerima para remaja yang ingin magang atau menjadi sukarelawan, juga para professional dari berbagai bidang termasuk dokter, pengacara, insinyur, dsb.

Bahkan mereka juga menerima anak-anak yang ingin mengisi waktu liburan mereka dengan berkegiatan di taman-taman nasional yang tentunya jenis kegiatannya disesuaikan dengan usia mereka. Pendeknya siapa saja yang berminat bergabung akan sangat dihargai. Adanya kebanggaan bagi setiap orang untuk bisa terlibat dalam kegiatan LSM semacam inilah yang menurut logika berpikir saya lalu menimbulkan pertanyaan : “Kenapa kita belum bisa?”.

***

Setelah menenggak setengah botol air mineral yang saya bawa untuk sekedar menawarkan haus di saat terik panas tengah hari, saya masuk ke rute jalur wisata “Scenic Bajada Loop Drive”. Beberapa ratus meter pertama jalanan cukup bagus karena beraspal, setelah itu saya melewati jalan tanah yang tentu saja berdebu. Berkendaraan dengan kecepatan sekitar 25-30 km/jam saya menyusuri perbukitan yang tampak kering dan tandus yang di sana-sini terhampar berbagai tanaman gurun, terutama kaktus saguaro dan jenis-jenis kaktus lainnya yang lebih kecil.

Di lokasi gurun Sonoran ini dikenal ada lebih dari 50 jenis kaktus-kaktus kecil dan pendek (meskipun di antaranya juga berbatang besar). Kaktus-kaktus raksasa saguaro yang sudah berusia ratusan tahun biasanya sudah tumbuh bercabang dua, tiga, empat atau terkadang banyak, sehingga dari kejauhan tampak seperti batang senjata trisula yang ditegakkan ke atas. Di gurun ini juga hidup binatang-binatang yang mampu menyesuaikan diri dan bertahan di lingkungan gurun, di antaranya jenis-jenis tikus, ular, tupai, kura-kura, javelinas (sejenis celeng), dsb.

Di antara kaktus-kaktus itu ada yang berlubang-lubang menjadi tempat persembunyian burung-burung kecil seperti : woodpecker, warblers, western kingbirds, burung hantu, dsb. Sekali waktu tampak berbunga dan muncul buah di ujungnya. Buah-buah kaktus ini oleh penduduk asli Amerika dulu (suku Indian) dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuat minuman.

Usai mengelilingi bukit kecil yang diberi nama puncak Apache, akhirnya saya menyelesaikan rute mengelilingi sebagian kecil saja dari areal hutan kaktus raksasa. Bagi mereka yang mempunyai hobi hiking, juga tersedia rute untuk berjalan kaki masuk lebih jauh lagi ke areal Taman Nasional Saguaro. Tentu ada peraturan khusus yang harus mereka taati demi menjaga kelestarian flora dan fauna yang khas hanya ada di taman nasional ini.

Apakah ada yang nekad di saat musim panas seperti ini? Ternyata ada juga mereka yang mengisi liburan musim panas dengan hiking ke gurun Sonoran ini. Pasti mereka sudah sangat siap fisik, mental dan bekal, kalau mengingat bahwa suhu udara saat siang hari sangat panas dan kering, dan tanpa ada pohon pelindung di seluas taman nasional, kecuali kalau sekedar berlindung di balik kaktus.

Sekitar dua jam saya berada di daerah ini, lalu keluar dari areal taman nasional dan melaju ke arah selatan menuju kota Tucson.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Iklan

Musim Panas Di Arizona

2 Februari 2008

(3).   Dunia Kecil Biosphere 2

Siang itu, masih di hari Sabtu, 5 Agustus 2000, saya memasuki kota Tucson. Hanya melewatinya, dan terus menuju ke luar kota melalui State Road (SR) 77, Jalan Oracle. Ternyata saya masih mengenali jalan ini, sejak pertama kali pernah melewatinya pada tahun 1996 dan yang kedua tahun 1998. Itu karena di jalan ini ada Tucson Mall, tempat yang saya anggap paling strategis dan praktis untuk sekedar jalan-jalan sore dan belanja oleh-oleh atau titipan kawan-kawan dari Indonesia. Setelah melaju sejauh sekitar 48 km ke arah timur laut, saya tiba di kompleks Biosphere 2 Center. Ini memang obyek yang sudah lama saya angankan karena ada sesuatu yang menarik di sana. 

Sekitar awal tahun 90-an saya pernah membaca tulisan di sebuah majalah di Indonesia (saya lupa apa nama majalahnya). Dalam tulisan itu diceriterakan tentang adanya sebuah dunia tiruan yang digunakan sebagai media eksperimen kehidupan, di mana ada delapan orang (4 pria dan 4 wanita) masuk ke dalam dunia kecil tiruan itu yang terisolasi terhadap dunia luar. Mereka tinggal dan menjalankan kegiatan hidup seperti biasa selama dua tahun di dalam “kurungan” rumah kaca. Segala macam sistem kehidupan di dalam dunia tiruan itu direkayasa sedemikian rupa sehingga sama dengan dunia nyata di luarnya.

Belakangan baru saya ketahui peristiwa itu terjadi pada tanggal 26 September 1991 hingga 26 September 1993. Selang enam bulan kemudian, tim kedua yang terdiri dari 7 orang (5 pria dan 2 wanita) masuk “kurungan kaca” dan berada di dalamnya selama enam setengah bulan. Para anggota tim yang disebut biospherian itu berasal dari negara Inggris, Jerman, Meksiko, Belgia, Australia, Nepal dan Amerika sendiri. Misi dari kedua tim itu dinilai sukses menyelesaikan berbagai eksperimen tentang sistem kehidupan di dunia nyata melalui media dunia kecil tiruan.

Ketika di tahun 1996, saat pertama kali saya melewati jalan Oracle ini dan melihat tulisan Biosphere 2, saya langsung ingat pada artikel yang pernah saya baca di sebuah majalah enam tahun sebelumnya, yang waktu itu saya tidak terlalu memperhatikan di daerah mana proyek Biosphere ini berada. Maklum, waktu itu masih susah untuk membayangkan nama-nama tempat atau negara bagian yang ada di Amerika. Sayangnya pada tahun 1996 itu dan juga tahun 1998 saya tidak punya cukup kesempatan untuk mengunjunginya. Baru kali inilah saya benar-benar menyempatkan untuk menyaksikannya sendiri.

***

Di dalam dunia tiruan yang terbuat dari struktur kaca, baja dan beton itu dibangun ada lima bioma : hutan musim hujan, samudra, savana, gurun dan rawa-rawa. Habitat manusia, hewan yang umumnya jenis serangga dan monyet, serta berbagai macam tumbuh-tumbuhan, kesemuanya dirancang dan dibangun menyerupai keadaan sebenarnya.

Semua sistem di dalam Biosphere 2 ini bergantung kepada tenaga listrik. Ada sebuah generator gas alam besar di Pusat Energi yang menghasilkan listrik untuk menggerakkan semua sistem dunia tiruan itu. Pusat Energi juga menghasilkan air panas dan dingin yang akan dibutuhkan untuk pemanasan dan pendinginan Biosphere 2 sesuai dengan kebutuhan. Ada dua buah kubah di luar “kurungan kaca” ini yang berfungsi sebagai paru-paru dunia kecil, dimana tekanan, temperatur dan volume udara dikontrol dan dihubungkan dengan Biosphere 2 melalui saluran bawah tanah.

Proses daur ulang air dan sampah, semuanya dilakukan sebagaimana yang dilakukan orang di dunia nyata. Proses sirkulasi untuk mensuplai udara bersih, proses  kondensasi untuk mensuplai air minum, pengaturan cuaca, dsb. dikontrol dan disesuaikan dengan kebutuhan dari kelima bioma serta habitatnya. Tetapi di dalam Biosphere 2 ini hanya ada daerah beriklim tropis dan subtropis, serta tentunya tidak ada tiupan angin kencang.

Dunia kecil ini dibuat tidak lain adalah untuk mempelajari bagaimana bumi berkerja dan bagaimana manusia berinteraksi dengan sistem bumi. Melalui dunia kecil tiruan ini diharapkan akan dapat dipelajari mengenai kehidupan yang berada di dalam lingkungan yang dikendalikan oleh manusia sendiri. Pada gilirannya hal ini tentu akan memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Biosphere 1, ya bumi tempat kita nunut hidup ini.

Sebenarnya ada juga proyek sejenis Biosphere 2 ini di tempat lain, yaitu Bios 3 di daerah terpencil Siberia, Rusia, dan Biosphere “J” yang saat ini sedang dalam tahap konstruksi di Jepang utara.

Biosphere 2 adalah laboratorium kehidupan terbesar di dunia yang dibangun sejak tahun 1987 dengan biaya sekitar US$200. Menutupi areal seluas 1.27 ha dan bervolume 204.000 m3. Sejak 1 Januari 1996, setelah Columbia University bergabung dengan Biosphere 2 membentuk Biosphere 2 Center, Inc., sarana ini menjadi salah satu kampusnya yang bergengsi dan mulai dibuka untuk dapat dikunjungi masyarakat umum.

Fasilitas pendidikan, penelitian dan pengembangan pun mulai lebih komplit, termasuk asrama mahasiswa. Juga sudah tersedia hotel, restoran dan gedung konferensi. Sungguh menjadi tempat menimba ilmu yang sangat menantang. Hanya saja, di musim panas daerah ini memang menjadi bersuhu udara sangat panas sebagaimana daerah-daerah lain di Arizona, sementara belum banyak tanaman pelindung di sekitarnya.

Ada yang menarik ketika berjalan-jalan mengelilingi berbagai sarana yang ada di kompleks Biosphere 2 Center, salah satunya adalah Laboratorium Peraga (Demonstration Laboratories) yaitu tempat diperagakannya berbagai ekosistem seperti hutan musim hujan, gurun dan ekosistem lainnya. Saat berjalan-jalan di dalam ekosistem yang menirukan kehidupan di daerah tropis, serasa saya sedang berada di tengah hutan di Indonesia lengkap dengan bunyi serangga sesungguhnya, tanaman liar yang tumbuh silang-menyilang, pepohonan besar dan udara yang lembab. Pohon pepaya kampung yang sedang berbuah, pisang, pohon aren dan lamtoro gung juga ada di sini.

Saya terpaksa hanya bisa menelan air liur sewaktu menjumpai tanaman daun kemangi yang kalau saya remas memunculkan bau yang khas menggugah selera makan. Ini memang jenis lalapan kesukaan saya. Dalam hati saya berandai-andai : “Kalau saja saya membawa bekal sambal terasi, wuah ……!”.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar