Posts Tagged ‘trekulu’

Berkunjung Ke Desa Binai Di Kabupaten Bulungan (1)

7 Januari 2011

(1). Dalam Dhuhaku Kubermohon

Dalam dhuhaku pagi ini di bandara Adisutjipto, kutambahkan permohonanku agar Mbah Merapi baik-baik saja, dan agar mengganti hujan abu dengan hujan beras bagi mereka yang sedang tak berdaya di lereng-lerengnya…

Kutinggalkan sebagian dari mereka sejenak… Perjalanan Jogja – Balikpapan – Tarakan – Tanjungselor, insya Allah segera kujalani…

(Yogyakarta, 1 Desember 2010)

——-

 

(2). Terlambat Take Off Di Adisutjipto

Pesawat pagi dari Adisutjipto Jogja terlambat take off, biasa… karena bersamaan dengan kesibukan siswa AAU yang sedang berlatih. Transit di Sepinggan Balikpapan numpang lewat sebentar saja, nggak sempat duduk (apalagi tiduran), langsung terbang lagi. Lewat tengah hari akhirnya Lion JT 670 mendarat mak jedug…!, di bandara Juwata Tarakan. Perjalanan masih dilanjutkan naik speed boat menyeberang pulau ke Tanjungselor, kabupaten Bulungan (Kaltim).

(Balikpapan, 1 Desember 2010)

——-

(3). Ikan Putih Bakar di RM “Turi” Tarakan

Mulanya mau makan siang di RM Kepiting Kenari, tapi sayang siang tadi sudah habis. Lalu pindah ke RM Ikan Bakar “Turi”, Jl. Yos Sudarso, Tarakan, Kaltim. Menu pilihannya ikan putih (trekulu) bakar dan udang goreng, dilengkapi sayur asam, lalapan dengan aneka macam-macam sambal. Hanya saja sayur lalapannya semua matang, kecuali mentimun dan daun kemangi… Tapi itu tidak penting, yang penting…, hmmm….berkeringat.!

(Tarakan, 1 Desember 2010)

——-

(4). Kepanasan Di Pelabuhan Penyeberangan Tarakan

Pelabuhan penyeberangan Tarakan, Kaltim, siang menjelang sore itu terasa panas. Tidak ada tempat menunggu yang layak bagi penumpang kapal penyeberangan. Tampak seperti ada bekas bongkaran bangunan ruang tunggu tapi tidak tampak ada aktifitas pembangunan kembali. Mudah-mudahan belum.

(Tarakan, 1 Desember 2010)

——-

(5). Tiba Di Tanjung Selor

Senja di pelabuhan Tanjung Selor, Bulungan, Kaltim, pemandangan terlihat teduh dan indah. Di saat seperti itu, speed boat yang membawa penumpang menyeberang dari Tarakan ke Tanjung Selor tiba. Speed boat yang dimuati sekitar 35 orang tanpa dilengkapi alat pelampung. Uuugh…!

(Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

(6). Masuk Hotel Lalu Nggeblak

Menjelang maghrib speed boat dari Tarakan merapat ke pelabuhan Tanjungselor, maka malam ini nginap dulu. Besok melanjutkan perjalanan ke lokasi survey batubara. Begitu masuk hotel, langsung menunaikan ritual utama, nggeblak.., merebahkan badan! Regangkan otot-otot, sedikit melamun dan leyehan, asal tidak kebablasan tidur walau nguantuk

Ya Allah, geblak-kan aku ke tempat nggeblak yang mberkahi (Robbi anzilni munzalan mubarrokan).

(Tanjung Selor, 1 Desember 2010)

——-

(7). Menu Ikan Di Mana-mana

Seperti umumnya daerah tepian pantai, di Tanjungselor, kabupaten Bulungan (Kaltim), menu ikan adalah makanan favorit. tidak banyak pilihan untuk menu non-ikan. Makan malam tadi kami mampir ke Warung “Etam” di wilayah tepian pantai (Jl. Sudirman, kalau nggak salah).

Pilih sendiri ikannya. Lalu, patin bakar, patin sayur asam, kakap asam manis, udang goreng, segera siap disajikan. Ikan-ikan yang masih segar itu memang memberi taste beda saat disantap…

(Tanjung Selor, 2 Desember 2010)

——-

Pilih Trekulu Atau Bandeng Bakar Di Warung Padaidi

5 Juni 2008

PadaidiKali ini saya ingin mencari warung makan murah-meriah di Balikpapan, budgeted food barangkali istilah Londo-nya. Rumah makan yang harganya cocok bagi mereka yang beranggaran pas-pasan, tanpa mengorbankan kepuasan dan kenikmatannya. Di Balikpapan memang banyak pilihan makan ikan-ikanan, mulai yang kelas menengah ke atas hingga atas sekali, sampai yang kelas menengah ke bawah hingga bawah sekali.

Lalu meluncurlah ke warung makan Padaidi. Kalau boleh ini saya kelompokkan ke dalam kelas menengah ke bawah, dari sisi harganya. Lokasinya tidak jauh dari bandara Sepinggan, Balikpapan. Begitu keluar dari bandara langsung belok kanan, masih di Jalan Marsma Iswahyudi, mengikuti jalan alternatif yang menuju ke Samboja atau Muara Jawa. Tidak jauh dari bandara setelah melewati jembatan, warung Padaidi ada di sisi kanan jalan. Dari luar memang kurang telihat jelas keberadaan warung yang lebarnya hanya empat meteran ini. Kurang tampak tampilan warungnya karena tertutup oleh spanduk lebar berwarna hijau toscha pudar.  

Apa yang menarik dengan menu makan di warung ini? Pada spanduknya tertulis “sedia ikan bakar dan ayam bakar”. Namun cobalah untuk memesan menu ikan bakarnya dan pilihlah antara ikan trekulu bakar atau bandeng bakar. Inilah menu unggulannya.

Ikan bakar yang disediakan biasanya sudah dipotong-potong. Satu porsi bandeng atau trekulu bakar hanya berupa sepotong ikan yang berukuran sedang. Kira-kira setiap ekornya dipotong menjadi empat, satu bagian kepala, dua bagian badan dan satu bagian ekor. Dagingnya yang tebal dan padat, cukup untuk dihabiskan bersama sepiring nasi putih, secawan sambal dan lalapannya yang terdiri dari kol, mentimun dan kacang panjang. Nasinya disediakan dalam wadah tersendiri, sehingga bisa bebas kalau mau nambah.

Agak istimewanya, setiap porsi disertai dengan kuah sop kaldu ikan yang hanya berisi sedikit potongan kecil wortel, kentang dan daun bawang. Itupun hanya sepertiga mangkuk isinya. Sekedar membantu membangkitkan selera makan, memperlancar masuknya makanan menuju tembolok dan (sudah barang tentu) sedap benar rasa kaldu ikannya. Sambalnya yang tidak terlalu pedas juga enak dan membuat ingin terus mencocolnya.

Potongan-potongan ikan itu dibakar menggunakan bara api. Tingkat kematangannya bisa merata dan tidak sampai menimbulkan bagian-bagian kulit ikan yang kelewat gosong. Akibatnya tingkat keempukan daging ikannya juga merata. Pas untuk dicuwil pakai tangan, pas untuk dicocolkan sambalnya yang berwarna jingga dan sedap itu, dan pas untuk dikunyah 33 kali, kalau sabar…..

Meski hanya sebuah warung kecil, tapi bila tiba jam makan siang seringkali calon pemakan harus rela antri untuk dilayani. Sesuai kelasnya, kebanyakan pelanggannya adalah pegawai atau karyawan perusahaan yang banyak tersebar di sepanjang jalur alternatif Balikpapan – Samboja. Banyak juga yang pesan untuk dibungkus dibawa pulang, atau untuk makan siang di kantor.

“Padaidi”, nama warung ini, dalam bahasa Bugis berarti “bersama kita”. Siapa saja boleh meneruskan kata itu dengan apa saja, termasuk “bersama kita bisa” atau “bersama kita makan ikan” (saya lebih suka yang kedua…). Tapi Padaidi juga adalah nama sebuah kota kecil di Sulawesi Tenggara. Bisa jadi pemiliknya berasal dari sana.

Jam buka warung ini biasanya pagi, tapi jam tutupnya ternyata tidak tentu. Begitu persediaan ikan habis, ya tutup. Dan biasanya kalau cuaca lagi cerah, menjelang sore sudah habis. Seperti pengalaman saya ketika hendak mampir untuk kedua kalinya di waktu sore, ternyata sudah tutup. Entah kenapa pemilik warung yang orang asli Bugis, sudah enam tahun ini tidak berniat untuk menambah stok sehingga bisa buka sampai malam. Barangkali memang sesederhana itulah “strategi” bisnisnya.

Yogyakarta, 5 Juni 2008
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar