Posts Tagged ‘trans kalimantan’

Menyusuri Trans Kalimantan Balikpapan – Tanjung Redeb

28 Maret 2008

Pengantar :

Berhubung tidak kebagian tiket pesawat Balikpapan – Tanjung Redeb, maka akhirnya saya dan 4 orang teman nekat menempuh perjalanan darat menyusuri jalan Trans Kalimantan atau juga disebut dengan jalan poros Balikpapan – Tanjung Redeb. Perjalanan ini adalah dalam rangka kunjungan ke lokasi tambang batubara di wilayah Kabupaten Berau, Kaltim, dari tanggal 4 sampai 7 Januari 2008. Berikut adalah catatan perjalanan saya, dan masih ada beberapa catatan kuliner yang saya tulis terpisah. Sekedar ingin berbagi cerita.  

(1).   20 Jam Melintasi Jalan Poros Balikpapan – Tanjung Redeb
(2).   Pesona Wisata Yang Luar Biasa Ada Di Berau
(3).   Tidak Ada Becak Di Tanjung Redeb
(4).   Ketika Gadis Jawa Tertipu Di Teluk Bayur
(5).   Penumpang Kepagian

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 24 Juli sampai 29 Juli 2006, saya melakukan perjalanan darat menyusuri jalan lintas Trans Kalimantan dari Banjarmasin (Kalsel) menuju Samarinda (Kaltim). Ini adalah perjalanan traveling dalam rangka urusan pekerjaan sambil jalan-jalan. Berikut ini adalah catatan perjalanan saya.

(1).   Pergi Ke Rantau
(2).   Sarapan Ketupat Haruan 
(3).   Pergi Ke Atas 
(4).   Mencari Batubara Di Pasir 
(5).   Menyantap Trekulu Bakar 
(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif
(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama
(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”
(9).   Menyeberang Ke Balikpapan
(10). Di Tepinya Sungai Mahakam
(11). Nggado Ikan Puyu Goreng Garing
(12). Kutai, Koetai, Kho Thai atau Quetairy
(13). Tenggarong Di Waktu Sore
(14). Rebutan Bukit Soeharto
(15). Tragedi Pembantaian Massal Di Kota Minyak
(16). Kenapa Disebut Balikpapan?

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”

Hari Kamis pagi, 27 Juli 2006, kami sudah berkemas-kemas hendak meninggalkan hotel. Waktu sudah menunjukkan menjelang jam 11:00 siang WITA ketika akhirnya kami meninggalkan kota Tanah Grogot dan kembali ke Kuaro. Sesampai di persimpangan kota Kuaro, kami mengambil jalan ke utara menuju arah kota Penajam dan Balikpapan. Pada papan penunjuk arah yang sempat saya baca, tertulis jarak ke kota Penajam 114 km dan ke kota Banjarmasin 362 km.

Kembali kami menyusuri jalan Trans Kalimantan dan terus ke arah utara. Belum lama melaju, Panther perlu minum. Untung minumnya solar sehingga tidak perlu ngantri lama-lama. Sementara di bagian pompa premium terjadi antrian panjang. Sampai-sampai pak polisi perlu berjaga-jaga di seputaran SPBU agar semua berjalan lancar. Kalimantan Timur memang lumbungnya minyak, tapi kelangkaan BBM nyaris terjadi di setiap pompa bensin sejak dari Banjarbaru, Kalsel. Akibat kelangkaan BBM pula kota Tanah Grogot yang baru saja kami tinggalkan harus mengatur giliran pemadaman lisrik sehingga di beberapa bagian kota kalau malam jadi gelap bin gulita.

***

Saya baru ingat, jalan Trans Kalimantan ini mempunyai banyak sebutan nama jalan, malah terkadang tidak ada namanya. Pada penggal jalan dari Banjarmasin hingga perbatasan Kalsel-Kaltim, jalan ini bernama Jalan Ahmad Yani. Bahkan sampai Kuaro ke arah Penajam pun orang masih menyebutnya sebagai Jalan Ahmad Yani. Makanya mesti hati-hati kalau mencari alamat di seputaran Kalsel hingga perbatasan Kaltim. Dengan hanya menyebut Jalan Ahmad Yani saja, tanpa menunjuk kilometer berapa atau wilayah mana, bisa-bisa harus menyusuri jalan sepanjang lebih 400 km. Inilah barangkali jalan terpanjang di Indonesia yang hanya memiliki satu nama jalan.

Apalah artinya sebuah nama? Wow…, penting sekali. Setidak-tidaknya bagi anggota Dewan yang terhormat di Kalsel. Buktinya dalam sebuah sidang di DPRD Kalsel pernah dipermasalahkan, kenapa nama Jenderal Sudirman di Banjarmasin hanya dipakai untuk nama jalan protokol yang panjangnya hanya 500 meteran, sementara nama Ahmad Yani dipakai untuk jalan yang panjangnya ratusan kilometer. Padahal Jenderal Sudirman yang Panglima Besar TNI dipandang “lebih berjasa” ketimbang Ahmad Yani. Nampaknya memberi nama jalan pun bagi sebagian orang tidak boleh sembarangan, meski tanpa bubur merah bubur putih. Nyata tapi aneh!

Semakin ke ujung utara jalan Trans Kalimantan, semakin jarang disebut Jalan Ahmad Yani. Karena kesulitan menyebut namanya, maka di beberapa daerah jalan ini disebut Jalan Propinsi, ada juga yang menyebutnya Jalan Negara, malah beberapa kota menggunakan penamaan Jalan Raya…., lalu diikuti nama kota itu.

***

Semakin ke utara perjalanan semakin tidak membosankan. Melewati kecamatan Long Ikis, Long Kali, Babulu, Waru, dan seterusnya. Pemandangan di rute utara ini lebih bervariasi dan menarik ketimbang rute sebelah selatan. Hamparan perkebunan kelapa sawit tampak di beberapa lokasi. Meskipun kondisi jalan termasuk bagus namun bergelombang di sana-sini. Kelihatannya mulus, tapi mesti hati-hati mengontrol kecepatan, sebab tiba-tiba kendaraan bisa njumbul-njumbul….., seperti meloncat-loncat akibat kondisi jalan yang bergelombang.

Sampai kemudian di kota Petung sebelum akhirnya tiba di pelabuhan penyeberangan di Penajam. Jalur jalan antara Petung – Penajam dapat dibilang sangat bagus dan mulus. Sepertinya inilah penggal jalan terbaik yang kami lalui sejak dari Banjarbaru di Kalsel. Suasana jalan pun semakin ramai. Tidak lagi suasana desa yang jauh dari mana-mana, namun sudah memasuki sebuah kawasan yang lebih padat penduduknya dan lebih sibuk dengan aktifitas ekonomi.

Menjelang memasuki kota Penajam, kami sempatkan untuk beristirahat barang sejam, sambil mengisi perut makan siang. Cuaca memang terasa begitu panas. Penajam adalah ibukota Kabupaten Penajam Paser Utara. Ini adalah kabupaten yang baru seumur jagung usianya, ibarat bayi masih lumah-lumah….. Dulunya masuk wilayah kabupaten Pasir. Tapi para tokoh masyarakatnya rupanya berkehendak lain. Kehendak yang sumbut (sebanding) dengan kekayaan alamnya. Hingga akhirnya pada tahun 2002 resmi memisahkan diri dari Pasir menjadi Penajam Paser Utara. Kata “Pasir” sudah diganti dengan “Paser”, merujuk pada nama penduduk asli suku Paser.

Namun tetap saja, lidah kebanyakan orang (apalagi pendatang dari Jawa) mensalah-lafalkan huruf “e” dengan “i”, sehingga jadi “Pasir”. Padahal mestinya huruf “e” dilafalkan seperti menyebut nama kota “Anyer”, bukan “Anyir”, bisa lain lagi maksudnya. (Bagi yang paham bahasa Jawa, penjelasannya adalah bahwa huruf “e”-nya “di-pepet”. Tapi bisa semangkin membingunkan kalau di belakangnya ditambah kata “sepeda”….. Ya pokoknya begitulah…..).

Sebagai kabupaten baru, penduduknya belum padat. Total penduduknya hanya sekitar 120 ribuan jiwa, sekitar setengahnya ngumpul di ibukota Penajam, selebihnya menyebar. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang biasanya memiliki semboyan yang muluk dan heboh, Penajam Paser Utara memiliki semboyan yang sangat sederhana. Dalam bahasa Paser disebut “Benuo Taka” yang artinya Daerah Kita, atau istilah gaulnya : Kampung Kita Sendiri…..

Walaupun terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya, namun tetap merupakan satu kesatuan ikatan kekeluargaan. Begitu kira-kira idealisme yang dibanggakannya. Seakan memahami bahwa kelak akan semakin banyak kaum pendatang ke wilayah ini yang numpang mencari hidup dari kekayaan alamnya. (Meski agaknya perlu hati-hati juga. Pepatah ada gula ada semut masih berlaku. Semakin manis gulanya, semakin banyak pula semut-semut nakal dan noakal…….).    

Yogyakarta, 9 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda 9

15 Maret 2008

(9).   Menyeberang Ke Balikpapan

Di pelabuhan penyeberangan kota Penajam inilah jalan Trans Kalimantan penggal selatan, atau Jalan Ahmad Yani, atau Jalan Propinsi, atau Jalan Negara, atau Jalan Raya Penajam seolah-olah berujung, yaitu di pelabuhan penyeberangan menuju kota Balikpapan. Selanjutnya dari Balikpapan akan disambung lagi dengan jalan Trans Kalimantan penggal utara sampai terus ke atas entah dimana ujungnya (mudah-mudahan kelak saya akan mempunyai kesempatan untuk melihat ujungnya).

Tiba di pelabuhan penyeberangan, rupanya kami adalah kendaraan pertama yang masuk sejak kapal fery terakhir berangkat. Kami harus membayar biaya penyeberangan Rp 103.000,- untuk satu kendaraan, berapapun isi penumpangnya. Untungnya tidak perlu menunggu terlalu lama. Segera kami diaba-aba untuk masuk ke kapal fery yang akan menyeberangkan kami dari Penajam menuju Kariangau di pinggiran Balikpapan. Kapal fery itu katanya selalu penuh. Pada siang itu saya lihat setidaknya ada sekiar 10 kendaraan segala macam jenis turut menyeberang, masih ditambah puluhan sepeda motor. Kapalnya memang tidak terlalu besar, tidak sebesar kapal fery penyeberangan antara Jawa – Sumatera atau Jawa – Bali.

Angkutan penyeberangan ini termasuk sangat vital sebab inilah cara tercepat untuk menuju Balikpapan dan sebaliknya, termasuk semua aktifitas ekonomi akan menggunakan sarana ini. Kegiatan penyeberangan ini beroperasi 24 jam, karena itu tidak perlu khawatir jam berapapun kita tiba di pelabuhan Penajam. Jika tidak membawa kendaraan sendiri, ada alternatif untuk menyeberang dengan menggunakan speed boat. Waktu tempuh untuk menyeberang dengan speed boat tentu lebih cepat dibanding fery, dengan ongkos per kepala yang lebih mahal.

Hanya perlu waktu satu jam untuk menyeberang, hingga akhirnya saya mendarat di sisi barat daya kota Balikpapan. Satu jam seperti tidak terasa. Sebab sambil beristirahat, bisa sambil menikmati pemandangan alam laut, pelabuhan dan pulau-pulau di sekitarnya. Bisa dipahami, karena ini adalah suasana baru setelah sekian hari melihat daratan yang membosankan.

Namun satu jam bisa jadi menjengkelkan kalau itu adalah perjalanan kembali dari cuti bagi para pekerja pendatang yang besoknya harus bekerja kembali menanti periode cuti berikutnya. Uh, apa boleh buat….     

***

Memasuki kota Balikpapan saya hanya sempat melewati pinggirannya saja, sebab perjalanan akan terus dilanjutkan menuju ke Samarinda. Saya jadi ingat, di kota ini tinggal cukup banyak teman-teman saya. Setidak-tidaknya kota ini sering diceritakan sebagai kota transit bagi banyak pekerja tambang, minyak dan geologi untuk cuti pulang kampung atau kembali ke tempat kerja. Tapi menyadari bahwa saya hanya akan numpang lewat saja di Balikpapan, beberapa teman hanya sempat saya halo-halo, numpang lewat. Mudah-mudahan lain kesempatan punya waktu lebih longgar untuk mengeksplorasi kota ini, yang kabarnya termasuk kota yang biaya hidupnya tergolong ngudubilah tingginya.

Perjalanan menuju kota Samarinda masih sekitar 115 km lagi. Hari sudah sore saat meninggalkan kota Balikpapan. Lalu lintas ke luar kota cukup padat. Juga jalan ini melintasi kawasan penduduk yang tampaknya juga padat. Kendaraan pun sepertinya semua melaju dengan kecepatan tinggi, melintasi jalur Balikpapan – Samarinda yang sangat bagus dan mulus kondisi jalannya. Sebagus berbagai jenis kendaraan yang melintasinya. Barulah ketika melewati sekitar kilometer 12 kondisi jalan mulai tampak kurang padat dan mulai memasuki kawasan yang kurang penduduknya. Pemandangan tampak lebih hijau dan banyak pepohonan.

Senja menjelang, perjalanan memasuki kawasan hutan Bukit Soeharto. Meski sudah rada-rada gelap, namun terkesan bahwa ini adalah tempat yang indah, teduh dengan udara menyegarkan di kala siang. Setidak-tidaknya bisa mengimbangi kota Balikpapan yang panas, padat dan berpolusi. Lokasi Bukit Soeharto pun tidak terlalu jauh dicapai dari Balikpapan, barangkali hanya sekitar 45 menit naik kendaraan agak ngebut.

Perjalanan terus kami lanjutkan menuju ke kota Samarinda, karena sudah kami jadwalkan malam itu untuk menginap di sana. Beberapa teman kuliah yang sejak lepas bangku kuliah dulu tidak pernah ketemu sudah hola-halo saja, kepingin reuni kecil-kecilan. Ya maklum wong sudah 20 tahunan tidak ketemu. Padahal dulu belajarnya sama-sama (itu juga enggak ngerti-ngerti juga). Padahal dulu tinggal sekamar berdua di Patehan Lor, demi menghemat biaya kost.

Yogyakarta, 10 Agustus 2006
Yusuf Iskandar