Posts Tagged ‘tongseng’

Sate Kambing Babadan Jogja

25 Agustus 2010

Lebih 30 tahun pak Tupan menggeluti kambing, yang dijadikan sate dan tongseng, yang dagingnya terasa empuk dan lembut, yang berbumbu sambal kecap dengan banyak taburan merica.

Warungnya yang tanpa judul itu dikenal orang sebagai “Sate Babadan” karena lokasinya tepat di perbatasan dusun Babadan, Maguwoharjo, dari arah kota Jogja. Ke sanalah sore tadi saya dan teman-teman bukber alias buka bersama (setidak-tidaknya, bersama penikmat sate lainnya).

(Ancar-ancar lokasi : Ring Road utara-timur, pas di tikungan Makro belok ke utara ke arah pasar Stan dan stadion Sleman tapi terus naik ke utara, di sisi kiri jalan akan terlihat tulisan batas Dusun Babadan dan warung satenya tepat ada di sisi kanan jalan).

Yogyakarta, 20 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Tengkleng Kepala Ayam

5 Maret 2010

Tengkleng (sejenis tongseng) kepala ayam, citarasanya beda.

(Saya temukan di sebuah warung kecil di kawasan Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Selain tengkleng, juga tersedia ayam rica-rica dan ikan bakar)

Yogyakarta, 4 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Sate Kambing “Pak Bejo”

27 Desember 2009

Sahabat kecilku ngajak makan di luar malam ini. Cari yang mudah dan dekat rumah saja. Pilihan jatuh ke sate kambing dan tongseng kepala kambing “Pak Bejo” Perempatan Warungboto, Jogja… Inilah nikmatnya kalau dokter tidak punya alasan untuk melarang makan ini-itu (karena memang tidak pernah ke dokter, jadi gimana mau melarang…)…. Rasanya sate dan tongsengnya sendiri sangat standard dengan harga lebih mahal…

Yogyakarta, 27 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Kambing Muda “Pujaing”

16 April 2008

Eh, lha ternyata masih ada pilihan tempat makan lainnya, kali ini di sisi tenggara Yogyakarta, bagi Anda yang bosan dengan suasana restoran. Jika Anda sedang dalam perjalanan dari Yogya menuju Piyungan atau Wonosari, atau sebaliknya sedang menuju Yogya dari arah Wonosari, maka ada pilihan tempat makan pinggir jalan yag dapat dipertimbangkan.

Namanya “Pujaing”, kependekan dari Pusat Jajan Pasar Paing, karena letaknya persis di depan pasar Paing, Tegalsari, Jalan Wonosari Km 8,5. Kalau dari arah Yogya letaknya di sisi kanan jalan, sekitar 1,5 km sebelum Taman Rekreasi Kid’s Fun.

Bagi yang belum pernah tahu Kid’s Fun, ini adalah taman bermain untuk anak-anak. Konon pemiliknya adalah mantan KSAD, HS. Subagyo (entah benar, entah tidak). Saya tidak ingin cerita lebih jauh tentang Kid’s Fun karena memang tidak ada yang istimewa tentang tempat bermain ini. Tempat ini sebenarnya pernah menjadi pilihan para orang tua di Yogya untuk menggiring anak-anaknya berekreasi dengan aneka sarana hiburan dan bermain. Namun belakangan agak turun pamornya. Maklum untuk ukuran Yogya, untuk bermain di tempat ini diperlukan biaya yang tergolong mahal bagi masyarakat umum Yogya.

Kembali ke “Pujaing” tadi, ngomongin soal makan terasa lebih nyem-nyem…… Meskipun disebut oleh pemiliknya sebagai pusat jajan, jangan dibayangkan seperti yang ada di kota-kota besar. “Pujaing” ini hanya sekedar warung di pinggir jalan yang ukurannya agak lebar, yang di sana tersedia beberapa pilihan makanan yang digelar bersama-sama di satu warung. Jadi suasananya ya suasana makan di warung pinggir jalan. Sederhana saja.

Yang khas, jenis makanan yang disediakan punya nama yang luar biasa, maksudnya di luar kebiasaan. Misalnya ada baskom (yang ini jelas bukan sejenis wadah yang terbuat dari alumunium), tapi entah rumusan tata bahasa dari mana hingga baskom ini ternyata singkatan dari bakso kumis. Tapi dijamin kalau Anda pesan bakso ini tidak akan dicampur dengan kumis penjualnya. Barangkali sekedar julukan bagi penjualnya, Pak Kumis.

Ada lagi, mie pitik. Ya, benar-benar disebut pitik (bahasa Jawa yang artinya ayam). Lalu ada soto babat, es teler, sate atau tongseng kempol kambing muda. Lagi-lagi, dipilih sebutan kempol (bahasa Jawa yang artinya paha). Dengan menyebut kempol memang terkesan lebih mantap ketimbang menyebut paha.

Bagi mereka yang suka mengembik alias penggemar daging kambing muda, barangkali mampir ke “Pujaing” tidak ada salahnya dicoba. Ihwal kambing muda ini memang susah dibuktikan, mudah-mudahan benar. Lha, wong umur seseorang di KTP yang ada fotonya saja mudah dimanipulasi, apalagi kambing yang tidak pernah punya KTP dan tidak terlihat prejengan-nya (profil wajahnya).

Jika sudah memilih jenis makanannya, maka tinggal pesan atau jika ingin lebih puas dapat juga langsung mendatangi counter (baca : gerobak) masing-masing.

Soal rasa, menurut lidah saya bisa ber-rating “enak” saja. Namun kalau memperhatikan cukup banyaknya pengunjung yang mampir ke warung “Pujaing” ini, nampaknya bagi lidah orang lain bisa tergolong “enak banget”. Jika penilaian ini benar, memang pas sekali dengan motto yang disandang warung ini, yang berbunyi : “Dijamin uenak tenan” (saya tulis sesuai tulisan aslinya).

Selebihnya, terserah Anda. Paling tidak, “Pujaing” ini dapat menjadi pilihan makan siang yang tidak mengecewakan. Nyatanya anak saya sampai menghabiskan dua baskom, maksudnya dua mangkok baksonya.

Siapa tahu Anda kesasar ke jalan Wonosari……… Monggo, kalau mau mampir di warung “Pujaing” sambil mengingat-ingat jalan pulang.

Yusuf Iskandar
Tembagapura, 24 Juli 2004.

Sate Kambing “Ibu Laminah” Gombong

7 April 2008

Menempuh jalur lintas selatan dari arah Yogyakarta menuju ke kota-kota di sebelah baratnya terkadang membosankan. Hari Sabtu yang lalu saya mencoba menggunakan jalan alternatif, yaitu jalan yang membentang sejajar di sebelah selatannya jalur utama lintas selatan dari Yogyakarta menuju kecamatan Buntu, yaitu perempatan yang menuju Cilacap, Purwokerto dan propinsi Jawa Barat. Ini adalah jalan alternatif yang sedang dikembangkan ke arah timur sebagai jalan alternatif di pinggir selatan, dekat laut, menghubungkan dengan wilayah selatan Bantul, Gunung Kidul, hingga ke Pacitan.

Kondisi jalan ini sekarang jauh lebih baik dan lebih lebar. Dulunya hanya jalan kecil atau tepatnya jalan lintas pedesaan. Kini kondisi jalannya ada yang sudah beraspal halus dan ada yang masih kasar, tapi tidak banyak berlubang-lubang sehingga bisa melaju kencang, karena bentangan jalannya relatif lurus dan sepi. Melintasi kawasan persawahan, tegalan dan menerobos pedesaan. Tidak banyak berpapasan dengan kendaraan atau sepeda motor, kebanyakan orang desa yang bersepeda dan pada jam-jam tertentu banyak anak-anak berangkat atau pulang sekolah. Bagi orang-orang yang sudah tahu, melintasi jalan ini akan sangat menghemat waktu.

Dari arah Yogyakarta, saya masuk ke jalur jalan ini setelah melewati kota Wates, tepatnya pada persimpangan jalan yang menuju ke pantai Congot. Setelah itu tinggal mengikuti papan petunjuk arah terus melaju ke arah barat. Jika menginginkan kembali ke jalur utama lintas selatan, maka pada beberapa persimpangan akan terdapat tanda dimana bisa menuju kota-kota Purworejo, Kebumen, Karanganyar, Gombong, dsb. Hanya saja, di sepanjang jalan alternatif selatannya lintas selatan ini tidak akan dijumpai SPBU dan tidak banyak warung makan.

Oleh karena itu ketika tiba di wilayah Gombong, saya menyempal ke utara menuju jalur utama di kota Gombong. Tujuannya ya mencari warung makan. Kalau tengki kendaraan sudah dipenuhi BBM sejak berangkat dari Yogyakarta, tapi tengki pengemudi dan penumpangnya sudah mulai memainkan musik klenengan alias minta diganjal.

Tapi kemana enaknya? Kata-kata “enaknya” ini dalam arti yang sebenarnya, yaitu makan yang enak. Sedang saya merasa belum familiar dengan kota ini.

Atas rekomendasi teman, sampailah saya di warung makan “Ibu Laminah”. Menilik namanya, jelas pemilik warung makan ini adalah seorang perempuan. Maka di sanalah aku berdiri…… (tentu saja setelah keluar dari mobil), lalu masuk ke sebuah warung di pinggir jalan. Suguhan menu utamanya adalah sate, gule dan tongseng kambing. Bagi sebagian orang yang sudah over sek (lebih seketan, lebih lima puluhan umurnya) memang terkadang perlu agak hati-hati dengan menu perkambingan.

***

Namanya juga warung, tampilan luarnya memang tidak terlalu bagus dan tidak pula terlalu menarik. Sangat sederhana, entah kenapa tidak direnovasi menjadi lebih bagus dan permanen. Tidak seperti resto-resto masa kini yang sedang menjamur. Nyaris biasa-biasa saja tak beda dengan warung-warung makan pinggir jalan lainnya. Lokasinya berada di sisi utara jalan raya utama kota kecamatan Gombong, kabupaten Kebumen. Persisnya di Jl. Yos Sudarso, di seberang depannya Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gombong, agak ke timur sedikit.

Meskipun sepintas seperti warung makan murahan di pinggir jalan raya, tapi rasa satenya, boo……… Saya kategorikan di atas rata-rata. Sate kambingnya disajikan dengan bumbu sambal kecap dan irisan bawang merah. Daging satenya uuuempuk tenan …..(diucapkan sambil kedua ujung jari jempol dan telunjuk seperti sedang memencet irisan daging, lalu gerak-gerakkan sedikit naik-turun…..), dan tidak berkecenderungan nylilit atau nyangkut di gigi (kecuali yang memang giginya sudah aus parah).

Seporsinya berisi sepuluh tusuk daging kambing dengan irisan agak kecil. Belum lagi tongsengnya, wow…… Pas benar bumbunya ibu Laminah ini. Bukan hanya mak nyusss..., tapi mak nyoouusss..…..karena keceplus cabe rawit yang ada di tongseng…..

Warung makan “Ibu Laminah” ini sudah beroperasi sejak tahun 1980. Selama ini pula sudah memiliki penggemarnya sendiri, khususnya mereka yang tinggal di Gombong, Kebumen dan sekitarnya, termasuk para dokter terbang Rumah Sakit PKU di seberangnya. Pelanggan dari luar kota hanya mereka yang sudah tahu dan kebetulan sedang dalam perjalanan melewati kota Gombong.

Menilik bahwa sehari rata-rata menghabiskan seekor kambing, tentu sebuah prestasi dagang yang cukup lumayan untuk ukuran warung kecil di pinggir jalan. Prestasi tertingginya dicapai waktu musim lebaran, sehari bisa mengorbankan tiga ekor kambing.

Kiranya bagi mereka yang sedang dalam perjalanan di jalur lintas selatan dan kebetulan tiba di Gombong pas lapar dan perlu mengisi tengki dua belas jari, serta menyukai menu kambing-kambingan, maka warung makan “Ibu Laminah” adalah salah satu pilihan yang layak dipertimbangkan. Setidak-tidaknya, kalau suatu saat saya melintas di kota Gombong lagi, saya berniat untuk menyinggahi “Ibu Laminah”, lengkap dengan sate dan tongsengnya.

Yogyakarta, 30 Nopember 2006
Yusuf Iskandar