Posts Tagged ‘times square’

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(15).    New York, New York

Hari Kamis pagi, tanggal 6 Juli 2000, matahari sudah agak tinggi sebelum kami meninggalkan hotel untuk mulai mengarungi belantara kota New York. Melihat keluar dari jendela hotel di lantai 9, yang tampak malah dinding-dinding gedung tinggi. Cahaya matahari hanya menyelusup di celah-celahnya. Rupanya kami sedang berada di sebuah sudut kecil  dari belantara kota New York, tepatnya di wilayah Manhattan. Inilah belantara kota yang banyak ditumbuhi oleh gedung-gedung tinggi.

Sekitar jam 9:30 pagi kami keluar dari hotel, mulai dengan berjalan kaki menyusuri jalan 55th Street, lalu masuk ke jalan 7th Avenue menuju ke Times Square. Mengikuti saran dari banyak orang agar lebih leluasa menyusuri kota New York, maka kami memilih untuk tidak menggunakan kendaraan sendiri. Tadi malam setiba di hotel, mobil langsung saya titipkan ke tempat penitipan mobil yang sudah menjadi bagian dari layanan hotel, meskipun perlu membayar biaya parkir tambahan.

Tidak sebagaimana hotel-hotel di tempat lain, di Manhattan hotel hanya merupakan sebuah bangunan yang tumbuh ke atas tanpa menyisakan ruang yang cukup leluasa di sekitarnya, hingga terkesan berhimpit-himpitan dengan bangunan di sekitarnya. Karena itu hotel tidak menyediakan halaman parkir. Selain itu jika saya nekad menyusuri mengendarai kendaraan sendiri juga akan menyulitkan. Selain karena padat dan semrawutnya lalu lintas, juga menemukan tempat parkir adalah bukan hal yang mudah, khususnya di wilayah Manhattan. Belum lagi kekhawatiran akan dijahilin orang.

Mempertimbangkan hal tersebut, maka menitipkan kendaraan selama kami berada di kota New York dirasa akan lebih aman dan nyaman, serta lebih effisien dalam hal penghematan waktu. Mengemudikan kendaraan dengan menyusuri semrawutnya jalan-jalan kota New York tentu perlu energi tersendiri, dan pasti akan lebih menyita waktu serta tidak fleksibel untuk kesana-kemari.

Oleh karena itu berjalan kaki adalah pilihan yang saya anggap paling tepat untuk menikmati kota New York, lengkap dengan arsitektur bangunan kota maupun kehidupan masyarakatnya. Selanjutnya saya akan menggunakan jasa wisata kota (city tour), meskipun untuk itu perlu dianggarkan biaya yang cukup mahal. Kalaupun tidak ingin menggunakan jasa ini, menggunakan taksi juga bukan hal yang sulit. Selain itu, jasa angkutan kereta bawah tanah (subway) juga dapat menjadi pilihan.

***

New York City (selanjutnya saya sebut dengan kota New York saja) terletak di sebuah semenanjung kecil di ujung tenggara dari wilayah negara bagian yang juga bernama New York. Kota New York sendiri sebenarnya terdiri dari lima wilayah kecil atau semacam Kecamatan (yang disebut borough) yang nama-namanya sudah sering kita dengar, yaitu Manhattan, Brooklyn, Queens, the Bronx dan Staten Island.

Manhattan adalah salah satunya yang paling dikenal orang. Jika orang-orang New York (yang disebut New Yorker) menyebut the city, maka yang dimaksudkan adalah wilayah Manhattan, bukan keempat wilayah lainnya. Wilayah Manhattan ini sendiri sebenarnya terpisah dari daratan di sekitarnya oleh adanya tiga sungai, yaitu sungai Hudson yang paling lebar berada di sebelah barat, sungai East di sebelah timur dan sungai Harlem membelah di sisi utara.

Sistem jalan-jalan di New York sebenarnya tidak rumit. Membentang arah utara-selatan adalah jalan-jalan utama mulai First Avenue di sebelah timur hingga Tenth Avenue di sebelah barat, dengan Fifth Avenue membelah di tengah-tengahnya membagi wilayah timur dan barat. Membentang arah timur-barat tegak lurus memotong kesepuluh Avenue tersebut adalah puluhan bahkan ratusan jalan penghubung yang antara lain dinamai jalan 1st, 2nd, 3rd, 4th, 5th Street, dst. mulai dari sebelah selatan hingga entah Street ke berapa ratus di sebelah utara. Umumnya jalan-jalan tersebut merupakan jalur satu arah.

Di tengah-tengah Manhattan ini terdapat sebuah taman kota yang sangat luas yang bernama Central Park. Jika disebut downtown di wilayah Manhattan, maka tidak dengan sendirinya yang dimaksudkan adalah pusat kota, melainkan adalah wilayah bagian selatan Manhattan atau mudahnya dari Central Park ke arah selatan. Sedangkan uptown adalah wilayah dari Central Park ke utara. 

Uniknya, ada sebuah jalan yang sangat terkenal yang membelah diagonal dari sisi tenggara menuju ke barat laut, yaitu jalan Broadway. Menurut sejarahnya jalan Broadway ini merupakan bekas rute perlintasan suku Indian. Tempat di mana jalan Broadway ini memotong Avenue, maka terbentuklah daerah-daerah yang dikenal dengan nama square atau circle.

Sebagai contoh, tempat dimana Broadway memotong Fourth Avenue di sebelah selatan disebut dengan Union Square. Lalu yang memotong Fifth Avenue di sebelah utaranya disebut Madison Square, yang memotong Sixth Avenue disebut Herald Square, yang memotong Seventh Avenue disebut Times Square, dan yang memotong Eight Avenue disebut Columbus Circle. Madison Square dan Times Square adalah yang paling dikenal orang.

***

Berjalan kaki menyusuri kota New York dari Seventh Avenue hingga Times Square, kami langsung berada di tengah-tengah kepadatan lalu lintas kendaraan maupun pejalan kaki. Menyatu dengan para pejalan kaki bergelombol di ujung perempatan jalan, lalu berbondong-bondong menyeberang saat kendaraan berhenti. Demikian seterusnya berpindah dari satu perempatan menuju ke perempatan jalan berikutnya.

Jarak antara tiap-tiap perempatan atau blok tidak terlalu jauh. Sepanjang jalan itu pula bangunan-bangunan tinggi menjulang ke angkasa dengan dominasi pemandangan pertokoan yang didekorasi secara sangat atraktif, paling tidak dengan tampilan yang berbeda dibandingkan dengan umumnya pertokoan di kota lain.

Taksi-taksi yang berwarna khas kuning (karena itu disebut dengan yellow cab) bertebaran di sepanjang jalan-jalan kota New York. Dari ketinggian puncak gedung Empire State, tampak gerombolan taksi kuning ini layaknya sedang ada arak-arakan kampanye Golkar. Rasanya benar kalau orang mengatakan ada jutaan taksi berseliweran di New York setiap saat. Seperti yang sering tampak dalam film-film layar lebar dengan setting kota New York dan taksi kuningnya. Memudahkan bagi siapa saja yang ingin menggunakan jasanya.

Meskipun demikian, pemerintah kota New York mengingatkan agar para calon penumpang taksi memperhatikan tulisan tentang hak-hak penumpang terhadap taksi sebagaimana yang selalu terpasang di setiap taksi. Ini adalah kata lain untuk memperingatkan bahwa terkadang ada sopir taksi yang suka nakal terhadap penumpang yang belum biasa bertaksi di New York. Sesuai ketentuan pemerintah kota New York, bahwa setiap penumpang taksi berhak untuk minta diantarkan kemanapun tujuannya di kota New York, tidak tergantung jarak dan lokasi tujuan. Karena itu jangan biarkan sopir taksi yang mendikte penumpang tentang arah dan tujuannya.

Alternatif sarana angkutan lainnya adalah kereta bawah tanah. Di berbagai sudut kota banyak dijumpai tangga menurun yang menuju ke stasiun kereta bawah tanah. Kereta bawah tanah di New York, yang disebut subway merupakan salah satu kereta bawah tanah tertua di dunia setelah yang ada di London, Inggris. Meskipun dahulu jalur kereta bawah tanah New York ini pernah terkenal karena tidak aman, tetapi kini pemerintah setempat meyakinkan bahwa angka kriminalitas di jalur subway ini sangat menurun. Meskipun tentu saja tetap diperlukan kewaspadaan.

Jalur-jalur subway yang panjang totalnya mencapai 237 mil (sekitar 380 km) menjangkau wilayah yang sangat luas dan memang terkesan rumit. Namun tanda-tanda petunjuk di setiap stasiun sebenarnya mudah untuk diikuti. Meskipun demikian, disarankan kepada calon penumpang yang belum terbiasa agar hendaknya terlebih dahulu mempersiapkan rencana perjalanan sebaik-baiknya sebelum membeli karcis. Ini dimaksudkan agar tidak bingung dan tersesat di rute-rute yang simpang siur di bawah tanah yang akhirnya malah memboroskan waktu dan biaya.

Kami sendiri memilih menggunakan jasa wisata kota yang kami anggap lebih mudah, lebih banyak kesempatan melihat pemandangan kota serta lebih aman mengingat kami pergi bersama anak-anak. Pagi ini kami akan segera memulai perjalanan menyusuri belantara hutan beton. Beberapa lokasi pilihan sudah kami rencanakan untuk dikunjungi. Pasti tidak cukup waktu kalau ingin mengunjungi semua tempat dalam waktu hanya dua hari.

***

Tak diragukan lagi, kalau dikatakan bahwa New York adalah salah satu kota paling menawan di dunia. Kota dimana perputaran roda kehidupan tidak pernah berhenti dan selalu tampil atraktif. Kota yang tidak pernah bebas dari kesibukan, dan karena itu mobilitas kota menjadi bagian persoalan tersendiri. Kota yang ternyata juga menjadi tujuan untuk mengadu peruntungan bagi kaum pendatang, termasuk pendatang (haram) dari Indonesia.

Inilah New York. Kota dengan sekitar 7,5 juta penduduknya dan berelevasi sekitar 16 m di atas permukaan air laut. Tempat dimana Frank Sinatra pernah menghayalkan ingin bangun pagi di sebuah kota yang tidak pernah tidur, dalam lagunya : “New York, New York“……………- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(21).    Suatu Malam Di Broadway

Salah satu nama jalan yang sangat terkenal di kota New York atau tepatnya Manhattan adalah jalan Broadway Avenue. Ini adalah jalan berarus lalulintas searah yang memanjang diagonal dari arah barat laut menuju tenggara wilayah Manhattan. Jalan ini menjadi terkenal karena adanya panggung-panggung teater serta menjadi pusat aktifitas seni khususnya seni teater di New York.

Ada sekurang-kurangnya 33 panggung teater bertebaran di sekitar jalan Broadway. Meskipun sebenarnya hanya dua panggung teater saja yang benar-benar berlokasi di jalan Broadway, selebihnya berada di jalan-jalan sekitarnya yang memang berada di seputaran Broadway. Tepatnya gedung-gedung teater ini berada di sekitar Times Square, dan menyebar antara jalan 41st dan 55th Street di sebelah selatan dan utaranya, serta antara Sixth dan Eighth Avenue di sebelah timur dan baratnya.

Demikian populernya tentang pementasan teater di Broadway ini, sehingga untuk lakon-lakon tertentu bisa dilakukan pementasan setiap malam untuk periode yang sangat lama, hingga berbulan-bulan. Untuk menyaksikan pertunjukan teater di Broadway memang perlu jeli untuk mendapatkan harga tiket yang murah karena setiap saat setiap gedung memberikan harga sale dengan potongan harga. Bahkan pemesanan tiket pun dapat dilakukan sejak 3 bulan hingga setahun sebelumnya.

***

Di hari Jum’at malam. 7 Juli 2000 itu, yang adalah malam terakhir kami di New York sebelum esoknya akan melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk jalan-jalan menyusuri sepenggal jalan Broadway. Broadway yang kami lihat malam itu adalah Broadway yang gemerlap dan sibuk seperti tak kenal waktu.

Pementasan teater hanyalah bagian kecil saja dari kesibukan Broadway, selebihnya adalah pertokoan, arena entertainment, termasuk pedagang kaki lima, di tengah ribuan pengunjung pejalan kaki yang entah memang berniat belanja atau sekedar berekreasi. Dan kami adalah empat orang dari ribuan pejalan kaki yang berseliweran di Broadway malam itu. 

Saya sempat berhenti sebentar di depan gedung teater yang malam itu mementaskan lakon “Miss Saigon”. Pementasan tentang lakon ini bahkan sudah saya ketahui sejak setahun yang lalu. Saya memang sangat berkeinginan untuk menyaksikan pementasan ini. Ketertarikan saya selain karena saya tertarik dengan setting dan alur cerita lakon ini, juga karena menyaksikan teater di Broadway pernah menjadi impian saya sewaktu masih sekolah dulu.

Di jaman sekolah dulu, baik sewaktu tinggal di Yogya maupun di Bandung, sewaktu sedang asyik-asyiknya menggandrungi seni teater, saya pernah berkhayal alangkah bangganya kalau pada suatu saat nanti saya sempat menikmati pementasan seni teater di Broadway, di kota New York. Sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran bahwa kesempatan itu akan datang sekian belas tahun kemudian. Bukan hanya saya, teman-teman saya yang juga pecinta seni teater juga punya khayalan yang sama.

“Kesempatan itu ada di depan mata saya, malam ini”, kata saya dalam hati. Sesaat saya pandangi poster-poster pertunjukan yang terpasang di teras depan gedung Broadway Theater. Anak saya sempat sewot : “ngapain sih ngeliatin gambar-gambar begitu”. Agaknya ada tukang karcis, atau barangkali calo penjual karcis, yang memperhatikan saya. Lalu dia menawari tiket dengan harga sale untuk saya malam itu. Dan terpaksa saya jawab dengan sopan : “No, thank you“.

Ternyata memang tidak setiap keinginan atau bahkan obsesi sekalipun, harus diwujudkan ketika kesempatannya telah tiba. Ya, seperti malam itu. Keinginan sudah menggebu-gebu, kesempatan sudah di ambang pintu, rasanya uang di saku juga masih lebih dari cukup. Tapi toh akhirnya semua bangunan ego saya harus saya rubuhkan.

Lha, bagaimana dengan anak-anak dan istri saya? Karena sudah pasti mereka tidak akan dapat menikmati apa yang akan mereka lihat di panggung teater sebagaimana saya menikmati pementasannya. Selalu saja muncul pertimbangan lain ketika kita akan berniat mewujudkan sebuah keinginan. Sangat berbeda kejadiannya dengan ketika pertama kali keinginan itu muncul, sekian tahun yang lalu. 

***

Jalan-jalan menyusuri Broadway malam itu segera saya lanjutkan bersama anak-anak dengan keluar-masuk toko, menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain. Membeli sekedar cendera mata agar suatu saat nanti mereka dapat berceritera kepada para tetangga di kampung bahwa kami pernah ke New York.

Di satu sudut jalan kami berhenti lagi. Ada seorang berkulit hitam dengan seperangkat alat musik drum sedang bermain solo. Demikian enerjiknya orang itu sehingga mengundang perhatian para pejalan kaki, setidak-tidaknya untuk berhenti menyaksikan ketrampilan solo-drummer dengan hentakan-hentakan musiknya dan pukulan-pukulan ritmisnya yang membuat beberapa orang bergoyang-goyang sendiri. Lalu diakhiri dengan tepuk tangan penonton memberi apresiasi.

Ujung-ujungnya, seorang teman dari pemain drum tersebut menawarkan CD yang berisi rekaman-rekaman musiknya. Ah, ada-ada saja kreatifitas orang untuk menjajakan dagangannya. Tapi setidak-tidaknya mereka sedang bekerja keras untuk mengais rejeki yang halal. 

Kemudian kami masuk ke sebuah toko elektronok, satu dari sekian banyak toko elektronik yang tersebar di wilayah seputar Broadway. Bagi sementara orang, wilayah Broadway ini menjadi semacam sorga bagi peminat barang-barang elektronik. Selain karena banyaknya macam dan model yang ditawarkan, juga adanya peluang untuk memperoleh harga yang agak miring bagi mereka yang paham harga-harga barang elektronik dan tentunya lincah dalam urusan tawar-menawar. Termasuk di antaranya berbagai jenis perangkat tata suara, komputer, kamera, games, dsb.

Sekali kita menanyakan tentang suatu barang, maka akan dengan lihai para penjual itu merayu dan mempromosikannya, tentu dengan maksud agar kita terpengaruh membeli barangnya. Untungnya, semua itu mereka lakukan dengan tetap menghargai posisi kita sebagai konsumen, tidak dengan cara yang kasar. Setidak-tidaknya, demikian yang sempat saya alami.

Menyusuri jalan Broadway di New York di saat malam hari, kami merasakan suasana yang cukup aman. Ini dikarenakan hampir di setiap sudut-sudut kota dan pertokoan banyak kami jumpai para petugas keamanan. Terlihat kesan seperti di film-film layar lebar dimana para anggota NYPD (New York Police Department) yang banyak dijumpai di mana-mana, sepertinya siap setiap saat memburu penjahat. Agaknya ini memang menjadi bagian dari layanan pemerintah daerah New York untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi ribuan wisatawan yang setiap menit bertebaran di seputar kota New York.

Lama-lama rupanya anak-anak kecapekan berjalan kaki keluar-masuk toko. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel. Sebelum sampai di hotel, kebetulan melewati restoran Cina. Maka seperti biasa, menu yang “mengandung” nasi putih pun tidak kami lewatkan. Hanya saja malam itu kami tidak makan di restoran, melainkan pesan for to go atau minta dibungkus untuk dibawa ke hotel saja.

Anak-anak sudah benar-benar ingin beristirahat. Berbeda dengan bapaknya, setiba di hotel lalu minta ijin untuk kembali turun ke Broadway sendirian. Mengulangi lagi menyusuri Broadway dan jalan-jalan di sekitarnya, karena tiba-tiba ingat persediaan rokok Marlboro-nya habis. 

Suatu malam di Broadway, akan menjadi catatan kenangan tersendiri. Di sana sebuah impian pernah dikorbankan untuk tidak jadi menyaksikan pementasan teater Broadway. Sekalipun sudah di depan mata untuk dapat mewujudkannya, namun toh terpaksa harus dilupakan demi kepentingan lain yang lebih masuk akal dan tidak egois.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar