Posts Tagged ‘Times Picayune’

Pak Gubernur Akan Mogok Bersama Para Guru

12 November 2008

Di Jakarta – 18 April 2000, unjuk rasa besar-besaran para guru yang berdatangan ke pusat pemerintahan untuk menuntut kenaikan gaji dan perbaikan nasib. Para wakil rakyat (DPR) dan para pejabat Depdikbud pada intinya mendukung keluhan para bapak dan ibu guru itu. Bahkan Presiden Gus Dur juga menjanjikan akan memperhatikan dan memperbaiki nasib para guru yang kini merasa “tersinggung” disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Di New Orleans – 19 April 2000, beberapa kelas sekolah negeri meliburkan muridnya. Ada apa gerangan? Rupanya para gurunya berbondong-bondong menuju Baton Rouge (ibukota negara bagian Louisiana) guna berunjuk rasa besar-besaran menghadap Gubernur menuntut kenaikan upah.

Apakah mereka sudah semayanan (janjian) hingga peristiwa unjuk rasa itu terjadi berturut-turut di tempat berbeda? Tentu tidak……! Tapi pasti mereka telah sama-sama merasakan bahwa nasib mereka perlu perbaikan.

Hingga kemarin saya masih menganggap kedua peristiwa itu adalah kejadian yang biasa-biasa saja. Ada pihak yang merasa kurang diperhatikan. Lalu karena mengeluh dengan cara yang baik dan enak tidak mempan, ya ditempuhlah cara yang tidak baik dan tidak enak. Itu saja.

Baru ketika saya membaca koran lokal “The Times-Picayune” hari ini, saya merasakan ada hal yang aneh. Di Jakarta, Presiden Gus Dur (yang adalah orang upahan, kata Emha Ainun Nadjib) telah mengabulkan tuntutan para guru, meskipun tentu saja belum memuaskan. Di Louisiana, sudah sebulan ini belum ada tanda-tanda akan dipenuhinya tuntutan para guru. Sampai-sampai keluar tekad Pak Gubernur Mike Foster yang kira-kira jawa-nya berkata demikian : “Kalau DPRD tidak melakukan apa-apa, dan Anda (para guru) merasa harus mogok, maka saya akan ada di sana bersama Anda”. Lho…, Pak Gubernur akan ikut mogok bersama para guru ?

Kejadian itu terasa aneh bagi saya (yang sudah terbiasa hidup dalam berdemokrasi Pancasila). Trias politika murni agaknya memang diterapkan di Amerika. Jika perlu eksekutif akan bertarung dengan legislatif atau yudikatif (tidak ada konspirasi tilpun-tilpunan). Ya, seperti tekadnya Pak Gubernur itu. Ternyata Pak Gubernur memang ngiras-ngirus (sekaligus) sedang berupaya untuk menggolkan usulan menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui usulan kenaikan pajak usaha yang hingga kini belum juga disetujui pihak legislatif. Sebagian dari penambahan pemasukan dari pajak itu rencananya akan dialokasikan untuk menaikkan gaji guru.

Perasaan aneh saya semakin menjadi-jadi, ketika saya mencoba menganalogikan (meskipun ini analogi yang tidak tepat), peristiwa di Louisiana dengan di Jakarta. Seandainya, Pak Presiden Gus Dur ikut berunjuk rasa bersama para guru di gedung DPR/MPR ……-

New Orleans, 18 Mei 2000
Yusuf Iskandar

Info Korupsi

12 November 2008

Seorang teman di Indonesia mengirimi saya majalah Tempo layak baca. Ada sebuah artikel yang menarik perhatian saya, berjudul : “Koruptor Mati, Hiduplah Korupsi”, yang diturunkan dalam edisi 13-19 Maret 2000 yang lalu. Pertama, karena di jaman reformasi ini ternyata kasus-kasus beraroma korupsi yang dulu sepertinya tertutup-tutupi, sekarang ini menjadi lebih transparan dan terbuka untuk umum (meskipun ujung-ujungnya ya balik tertutup lagi). Kedua, semakin mudah terbukanya kasus-kasus korupsi itu, semakin terbuka pula demikian mudahnya untuk tertutup lagi. Ketiga, kelihatannya sudah tidak perlu lagi bisik-bisik untuk menuding kasus korupsi, lha wong memang sudah jelas-jelas terjadi (setidak-tidaknya demikian menurut berita media massa).

Ada cerita lain dengan apa yang saya jumpai di sini, setidak-tidaknya di New Orleans. Sejak setahun terakhir ini, entah sudah berapa puluh kali saya jumpai iklan berhadiah di harian “The Times-Picayune”, yang menjanjikan hadiah sampai US$ 100,000 (kira-kira senilai dengan Rp 750 juta) jika Anda punya info tentang perbuatan ilegal, antara lain korupsi, atau perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah.  Iklan dua kolom itu dipasang oleh The Metropolitan Crime Commission (MCC), yaitu sebuah kelompok LSM yang sangat gencar mengkampanyekan tentang kehidupan pemerintahan yang bersih.

Menurut informasinya, selama lima dekade terakhir ini sebenarnya MCC seperti tidak punya gigi, tidak punya popularitas, dan dianggap enggak ada apa-apanya. Namun tahun-tahun terakhir ini telah berkembang menjadi institusi di luar pemerintahan yang menanjak popularitasnya, cukup bikin kesal (baca : disegani) oleh terutama kalangan hakim dan sheriff, karena memang banyak menyisir polah tingkah dunia peradilan dan kepolisian. Tidak mengherankan kalau keberadaan MCC sempat mengundang cemoohan dari kedua kalangan itu. Keadaan ini mengingatkan saya dengan apa yang sedang menjadi isu hangat di Indonesia, yang juga kedua kalangan itulah yang kini sedang gerah karena sering menjadi sorotan.

Tentang info yang berhadiah besar ini, kalau Anda punya informasi apapun yang ingin disampaikan (tentang tindakan ilegal dan tidak etis), maka Anda tinggal angkat tilpun ke nomor tertentu yang disebut dengan “Watch Dog Corruption Hotline” dan sangat dijamin kerahasiaannya. Setelah itu, info itu akan dikaji lebih jauh oleh MCC, eh siapa tahu, layak untuk diberi imbalan yang sangat menggiurkan untuk hanya sebuah info.

Di bagian akhir dari iklan itu tertulis sebuah ajakan yang sangat menarik : bergabunglah dengan kami untuk menciptakan agar komunitas kita menjadi sebuah tempat yang nyaman untuk hidup, bekerja dan membina keluarga. Sebuah ajakan yang sangat membangkitkan simpati dan menjadi idaman masyarakat manapun.

Sesungguhnya bukan soal tawaran imbalannya yang menarik perhatian saya, melainkan di balik itu ada mencerminkan betapa perbuatan ilegal dan tidak etis di kalangan pemerintahan, setidaknya di New Orleans, sedemikian menjadi kepedulian umum dalam sistem bermasyarakatnya. (Atau justru sebaliknya, makanya dipasang iklan?. Entahlah). Namun yang patut digaris-bawahi, saya menangkap kesan bahwa hal itu bukan sekedar pemanis wacana politik masyarakatnya.

Dalam hati saya berkhayal : kalau saja itu terjadi di sebuah kumpulan kampung nun jauh di katulistiwa sana yang bernama (saya bangga menyebutnya) Indonesia. Rasanya kita masih boleh berharap banyak kelak di kemudian hari, dengan langkah-langkah yang sudah, sedang dan akan terus dilakukan antara lain oleh Indonesian Corruption Watch. Dan juga mudah-mudahan oleh anak-anak bangsa lainnya yang tidak terbutakan hatinya.

New Orleans, 9 April 2000.-
Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (9)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 22:30 CST (9 Nopember 2000 – 11:30 WIB)

Program acara di saluran TV CNN hingga malam ini masih dipenuhi dengan berita hasil pemilu kemarin, terutama berkaitan dengan penghitungan ulang kartu suara di negara bagian Florida, lengkap dengan segala macam ulasan, komentar, tanggapan, dsb. Hal yang sama juga mengisi halaman-halaman surat kabar. Rupanya bukan hanya saya sebagai orang luar yang menikmati drama mendebarkan tanpa akhir (meminjam istilah harian USA Today) pacuan presiden tadi malam, bagi publik Amerika pun peristiwa ini cukup menarik untuk dinikmati.

Peristiwa pengumpulan suara yang berlangsung sangat ketat dalam pemilihan presiden kali ini yang bahkan hingga kini belum diketahui hasil akhirnya, kelihatannya memang belum pernah terjadi. Masih perlu waktu untuk menyudahinya, dengan sementara menghasilkan score 260 – 246 untuk keunggulan Al Gore. Menurut catatan harian The Times Picayune, peristiwa yang hampir sama terjadi tahun 1916 dimana Woodrow Wilson mengungguli Charles E. Hughes dengan 277 – 254. Kemudian tahun 1976 ketika Jimmy Carter menang melawan Gerald Ford dengan nilai 297 – 240. Selebihnya pengumpulan angka biasanya diakhiri dengan kemenangan telak (berselisih cukup besar).

Hal yang menarik dari persaingan ketat antara Bush dan Gore kali ini adalah perlu dilakukannya penghitungan ulang jumlah kartu suara di Florida yang justru terjadi saat jatah suara Florida akan menjadi kunci kemenangan bagi para kandidat presiden tersebut. Mengenai hal ini saya sempat penasaran, kenapa mesti dihitung ulang. Setelah tanya sana-sini dan mencari-cari referensi, akhirnya saya menemukan jawaban bahwa ternyata negara bagian Florida memang mempunyai aturan tersendiri mengenai penghitungan hasil akhir pemilu.

Di Florida, penghitungan ulang hasil pemilu akan otomatis dilakukan jika terjadi selisih kartu suara (popular vote) di bawah setengah persen (dalam catatan saya sebelumnya saya tulis satu persen). Seperti yang terjadi tadi malam, dimana Bush mengumpulkan 2.909.135 suara (49%) dan Gore mengumpulkan 2.907.351 suara (49%) dan berselisih hanya 1.784 suara, maka penghitungan ulang suara pun perlu dilakukan secara lebih lengkap dan teliti.

Hal semacam ini tidak terjadi di negara bagian yang lain karena memang tidak memberlakukan aturan yang demikian. Contohnya di negara bagian Wisconsin, selisih suara Bush dan Gore sebenarnya juga kurang dari setengah persen, tapi toh tidak perlu dilakukan penghitungan ulang. Rupanya meskipun ini urusan yang berskala nasional dan demi kepentingan nasional, pemerintah federal Amerika harus tunduk kepada aturan yang berlaku di pemerintah negara bagian Florida.

Hingga malam ini, menurut CNN, penghitungan ulang baru berhasil diselesaikan di 19 kabupaten (county) dari 67 kabupaten yang ada di Florida. Masih akan perlu waktu untuk menyelesaikan keseluruhan penghitungan ulang, belum lagi kalau harus ditambah dengan menghitung kartu suara yang diposkan dari luar negeri. Sementara ini tercatat jumlah suara Bush menjadi 2.909.465 sedangkan suara Gore menjadi 2.907.722. Panitia memperkirakan penghitungan ulang akan selesai hari Kamis sore (Jum’at pagi WIB).

Entah apa yang bakal terjadi besok sore. Akankah penyelesaian penghitungan ulang diperpanjang waktunya, mengingat masih banyak suara dari luar negeri yang mungkin terlambat diterima panitia dan tentunya juga perlu diperhitungkan. Menurut catatan dalam pemilihan presiden tahun 1996 ada sekitar 2.300 suara dari luar negeri. Saya tidak tahu, aturan berbeda apalagi yang akan diberlakukan. Kalau benar demikian, tentu akan semakin mendebarkan menunggu hasilnya, terutama bagi kedua kandidat presiden dan pendukungnya.

Bagi saya yang bukan pengamat politik, saya menikmati tayangan peristiwa kejar-kejaran pengumpulan suara tadi malam lebih sebagai hiburan drama yang mengasyikkan. Dan kelihatannya memang kemasan acara semacam itu yang disajikan CNN. Barangkali karena saking bergairahnya ingin memberikan suguhan acara dan surprise bagi penontonnya, sampai-sampai CNN kebablasan dengan membuat proyeksi atas hasil hitungan sementara di Florida dengan menyebut Bush sebagai pemenangnya.

Belakangan ternyata keliru, setidak-tidaknya angka yang diumumkan CNN bukanlah angka resmi yang dikeluarkan oleh panitia pemilu Florida. Ketika tadi siang iseng-iseng saya tanyakan kepada rekan Amerika saya : “Kok media seperti CNN bisa ceroboh begitu?”. Jawabnya ringan saja : “That’s American Press”

Yusuf Iskandar