Posts Tagged ‘tilpun’

Tilpun Tipu-tipu

23 Januari 2010

Baru saja seseorang mengaku dari Telkomsel (HP 081219867695) dengan bahasa santun dan meyakinkan meminta saya untuk menghubungi no. 021-sekian-sekian-sekian…. Tak biarin aja, mau saya tunggu tilpun baliknya, lalu mau saya “ceramahin“…

(NB : Tilpun tsb saya terima sekitar pukul 9:00 WIB tadi pagi)

Yogyakarta, 23 Januari 2010
Yusuf Iskandar

Untung Saya Lupa Mengaktifkan Kartu Kredit

15 November 2009

Lagi enak-enak teklak-tekluk setengah mengantuk naik taksi menuju bandara Cengkareng, tiba-tiba HP berbunyi. Setelah diangkat, nun di seberang sana seseorang dengan ramah memperkenalkan diri sebagai Bp Jonathan Entah Siapa…, Manajer Kartu Kredit Master dan Visa.

Pertanyaan pertama : “Apakah kartu bapak masih aktif?” Setelah saya jawab “Ya”, lalu dilanjutkan dengan pertanyaan kedua : “Kartu bapak Master atau Visa?”. Setelah saya jawab “Visa”, lalu beliau bapak Manajer itu melanjutkan dengan promosi yang “pokoknya wah tenan…”.

Sejauh itu tutur katanya masih sopan dan ramah. Dia pun dapat menyebut dengan benar alamat penagihan kartu saya. Saya jadi larut dalam pembicaraan dan mendengarkan penjelasannya. Irama pembicaraannya semakin cepat, seperti tidak memberi kesempatan kepada yang diajak bicara untuk menyela.

Inti promosinya : saya terpilih di antara seratus orang pemegang kartu yang mendapatkan voucher hotel gratis, tiket pesawat gratis untuk 2 orang, aneka ria diskon, masih ada tiket pesawat tambahan. Setiap tahun jatah itu akan diberikan. Berlaku sampai lima tahun. Tidak akan hangus meski setahun belum sempat digunakan. Dan seterusnya, dst, dst……

Mulailah kesadaran saya berangsur normal setelah tadi terkantuk-kantuk. Juga mulailah feeling saya merasakan ada yang tidak beres.

Pertama, masak promosi seperti itu dilakukan oleh seorang Manajer? Bukankah biasanya oleh staf Customer Service atau Bagian Promosi?.
Kedua, masak dia tidak tahu jenis kartu saya?
Ketiga, masak dia tidak tahu kartu saya masih aktif atau tidak?

Sempat juga ditanyakan pertanyaan selanjutnya : “Berapa batas kredit kartu bapak?”. Sejenak saya berpikir, lalu kemudian saya jawab asal-asalan saja : “Kalau tidak salah…., sekian-sekian……”. Dengan cepat sang Manajer menyahut dengan begitu meyakinkan : “Ya betul, pak!”. Lha padahal jawaban saya tadi ngawur, batas kredit saya yang sebenarnya tidak seperti yang saya katakan. Maka kini saya semakin pasti, bahwa ini adalah acara tilpun-tilpunan ngawur-ngawuran……

Karena saya ingin tahu kelanjutan kisahnya, maka saya ikuti saja pembicaraannya, tapi tetap dengan kewaspadaan tinggi jangan sampai terjebak kena tipu.

Setelah sekira lima menit dia bicara fasilitas-fasilitas yang dijanjikan sangat “wah” tadi, ujung-ujungnya dia mengatakan (bukan minta persetujuan) bahwa saya akan dikenakan biaya sebesar tiga juta sekian rupiah untuk sekali saja, bisa dicicil 12 bulan tanpa bunga.

Kontan, saya bicara setengah teriak di sela-sela pembicaraan cepatnya yang seperti susah disela tadi. Intinya saya minta agar tidak dilanjutkan dan saya tidak berminat ikut program itu. Lalu saya tegaskan bahwa saya tidak pernah memberi konfirmasi persetujuan tentang pengenaan biaya yang dimaksud.

Barulah sang Manajer keluar “aslinya”, membalas teriakan saya dengan nada kasar dan marah (wong saya yang punya kartu kok dia yang marah…) : “Tidak bisa, pak!. Biaya sudah dibebankan ke kartu bapak. Sekarang semua voucher sedang dikirim ke alamat bapak. Kalau bapak menolak, kiriman akan mengambang di jalan” (dalam hati saya…. emangnya jalan rumah saya banjir……).

Dengan cepat pula saya bicara keras : “Pokoknya saya tidak pernah menyetujui!”. Masih juga dibalas : “Tidak bisa, biaya sudah dibebankan ke kartu bapak!”.

Saya lanjutkan : “Ini tidak benar dan saya akan complaint……”. Sang Manajer pun menukas : “Silakan saja…….”. Lalu tilpun di seberang sana ditutup.

***

Satu episode komunikasi menjengkelkan baru saja saya lewati. Sebelum ini memang beberapa kali saya ditilpun untuk diberi penawaran ini dan itu melalui faslitas kartu kredit. Biasanya ketika saya tolak dengan halus, mereka pun bisa menerima. Tapi kali ini kok lain, malah cenderung dengan pemaksaan.

Saya merasa tidak nyaman juga jadinya. Lalu saya coba menghubungi bagian Customer Service penerbit kartu kredit saya, dengan maksud saya hendak mengkonfirmasi tentang omongan sang Manajer tadi dan menyampaikan complaint atas “gangguan” yang baru saya alami. Mesin penjawab otomatis di seberang sana menjawab bahwa kartu kredit saya belum diaktifkan.

Barulah saya ingat, sejak saya ganti kartu karena kartu yang lama ketlingsut entah hilang kemana, rupanya saya lupa belum mengaktifkannya. Maka, jangankan sang Manajer, saya pun tidak bisa menggunakan kartu itu, wong statusnya tidak aktif.

Rupanya ada untungnya juga lupa mengaktifkan kartu kredit. Dan sekarang saya malah jadi mikir, apakah masih perlu saya aktifkan kalau data saya ternyata bisa berada di tangan orang lain.

Oh ya, nomor tilpun sang Manajer tadi adalah 021-31936428 (barangkali saja ada yang berminat menerima tawarannya…… hik..hik..hik..)

Yogyakarta, 21 Pebruari 2008
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(4).   Jika Ingin Menilpun Dari Pesawat

Sepanjang perjalanan terbang menyeberangi Samudra Pasifik yang 16 jam itu saya tidak bisa tidur dengan enak. Setiap saat pikiran saya melayang ke rumah saya di Kendal, membayangkan persiapan pemakaman ibu saya yang dijadwalkan hari Senin pagi jam 10:00 WIB. Hampir setiap jam otak saya bermatematika : kira-kira di Kendal sedang jam berapa. Hitungan matematika menjadi mudah lantaran di layar monitor yang ada di pesawat selalu ditayangkan petunjuk waktu saat itu (saat posisi pesawat berada, saat di Dallas dan saat di Tokyo). Sehingga saya tinggal menambahkan beda waktu antara tempat-tempat tersebut dengan WIB.

Di tengah-tengah Samudra Pasifik (lagi-lagi saya lihat posisi pesawat di layar monitor), pada saat yang saya perkirakan di Kendal sudah menunjukkan hari Senin jam 09:00 pagi, saya berniat menilpun bapak saya dari pesawat. Saya hanya ingin memastikan bahwa persiapan pemakaman ibu saya berlangsung lancar dan sudah benar tata caranya sebagai mayat seorang muslim. Meskipun sebenarnya di dalam hati saya sudah yakin akan hal itu, tetapi ada dorongan kuat untuk berbicara langsung dengan bapak dan adik-adik saya di Kendal.

Saya tatap terus gagang tilpun di depan saya. Saya buka berkali-kali majalah di kantong kursi pesawat yang memuat petunjuk cara penggunaan tilpun di pesawat. Lagi-lagi sambil saya bermatematika : kira-kira berapa biayanya. Kartu kredit saya siapkan. Tata cara penggunaan tilpun saya baca berulang-ulang hingga saya yakin hapal di luar kepala (seolah-olah sudah terbiasa menggunakannya).

Saya pahami benar bahwa biaya tilpun dari atas Samudra Pasifik adalah US$ 10.00 per menit. Artinya kalau saya bicara 10 menit, saya akan kena tagihan dari kartu kredit minimal US$ 100.00 plus pajak.

Maka, gagang tilpun segera saya angkat, saya gesekkan kartu kredit, lalu saya ikuti instruksi di layar kecil di gagang tilpun sesuai dengan prosedur yang sudah saya hapal, dan ternyata memang langsung ….. kring, di Kendal sana (saya sedemikian percaya diri, bahwa seandainya penumpang di sebelah saya memperhatikan tingkah saya, pasti dia akan berpikir bahwa saya tidak ndeso. Wong sudah saya hapalkan tata caranya).

Pembicaraan dengan bapak dan adik saya ternyata lebih singkat dari yang saya rencanakan sebelumnya. Bukan mau irit, tapi lebih karena tidak tahu lagi apa yang mau diomongkan banyak-banyak. Yang paling pokok, saya sudah dapat kepastian bahwa jenazah almarhum ibu saya sudah diperlakukan sebagaimana mestinya mayat seorang muslim, dan sesaat lagi siap diberangkatkan ke pemakaman (saat itu sudah menjelang jam 10:00 pagi di Kendal). Mak plong ….., rasanya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar