Posts Tagged ‘tiket’

Jadi Pulang Kapan?

8 Juli 2010

Kemarin sore ibunya tanya, anak lanang kirim SMS nggak? Jadi pulang kapan?. Diam-diam lalu kukirim SMS pendek: “So?“.
Sejam kemudian dibalas: “Sekarang di stasiun Senen..”.
Take care…”, balasku.

Sengaja tidak kuberitahukan ibunya, tidak juga kudoakan agar dapat tiket…, karena saya ingin tahu apa yang terjadi dengan usaha dan doanya sendiri sebagai “pencapaiannya” selama tiga hari tertunda. Tiba-tiba tadi pagi kirim SMS: “Dah sampe Purwokerto..”. Great..walhamdulillah.

Yogyakarta, 1 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Tuhan Menyertai Setiap Mimpi

17 Maret 2010

Membaca catatan perjalananku berkeliling Amerika, ada pembaca bertanya, bagaimana caranya untuk bisa kesana. Dalam hati sebenarnya ingin menjawab: “Belilah tiket pesawatnya dan uruslah visanya”. Entoch begitu, yang kemudian saya katakan adalah, jangan pikirkan bagaimana caranya, tapi yakini bahwa suatu saat akan kesana (+ doa tentu saja). Mimpi? Saya sudah membuktikan bahwa Tuhan menyertai setiap mimpi, semntara kita sering berprasangka terhadap-Nya…

Yogyakarta, 15 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Ketika Harus Naik Pesawat ”Pokoke Mabur”

4 Mei 2008

Maunya terbang ke Jakarta dari Jogja naik burung Garuda, namun apa daya terkadang harga tiket yang tersisa melonjak tinggi sekali. Seperti tadi pagi, harga tiket burung besi Garuda hampir empat kali lipat harga tiket murah-meriah-resah-gelisah dari maskapai “Pokoke Mabur” yang cuma Rp 229.000,-. Selisih yang hampir 900 ribu rupiah tentu sangat cukup untuk mandi pakai 60 liter minyak goreng yang juga lagi melonjak harganya.

Namanya juga pokoke mabur (yang penting terbang), maka jangan heran kalau awaknya pun pokoke mramugari (pakai huruf depan ‘m’, yang artinya yang penting menjalankan tugas sebagai pramugari).

Baru saja pesawat atret mundur hendak siap-siap menuju landasan, peragaan busana emergency segera dimulai. Seorang pramugari bertugas di bagian tengah kabin dan seorang pramugara di ujung depan kabin. Seorang lagi hanya kedengaran suaranya sebab bertugas membacakan tatacara penggunaan piranti emergency dalam dua bahasa.

Paras cantik tidak menjamin identik dengan cara membaca yang cantik pula alias enak didengarkan. Ya, karena pokoke (yang penting) dibacakan, itu tadi. Soal cara membaca ini, kalau dipikir-pikir (meskipun tidak usah dipikir sebenarnya juga sudah ketahuan) hanya beda sedikit saja dengan cara membacanya keponakan saya yang belum tamat SD.

Asal dilarak… diseret saja membacanya agar cepat selesai. Tidak jelas mana koma mana titik. Tidak jelas urut-urutannya, seperti kepulauan Indonesia yang sambung-menyambung menjadi satu minus Sipadan dan Ligitan. Termasuk tidak ada jeda mana yang bahasa Indonesia mana yang coro Londo. Pendeknya, buru-buru seperti kebelet mau ke belakang…..

Akibatnya, antara bacaan naskah dan peragaannya nyaris seperti balapan, dulu-duluan selesai. Jangankan penumpangnya, pramugari yang memeragakan pun sebenarnya bingung mengikuti urut-urutan tatacara yang sedang dibacakan. Ketika penggunaan masker oksigen masih dibacakan dalam bahasa Inggrisnya, tapi sang peraga sudah mengangkat tinggi-tinggi kartu petunjuk keselamatan.

Maka ketika penggunaan kartu petunjuk keselamatan dalam bahasa Inggris belum selesai dibacakan, pramugara yang di depan sudah balik kanan menuju kabin depan dan pramugari yang di tengah langsung kabur duluan ke kabin belakang. Jadi benar, memang sedang kebelet ke belakang….. (bagian belakang pesawat maksudnya).

Entah karena telanjur terbiasa begitu atau memang saking tidak menariknya “acara” peragaan itu, maka penumpang pun seperti tidak ada yang memerdulikannya. Penumpang nampak asyik dengan jalan pikiran masing-masing. Ibarat sebuah acara pementasan, maka ini adalah pementasan yang gagal.

Belum lama pesawat take-off dan lampu tanda kenakan sabuk pengaman belum dipadamkan, tiba-tiba penumpang yang duduk tepat di sebelah kiri saya berdiri hendak ke WC. Tentu saja langsung diberi kode oleh pramugari agar duduk kembali. Barulah saya tahu rupanya penumpang di sebelah saya itu sejak awal tadi tidak mengenakan sabuk pengaman dan tidak ketahuan.

***

Malamnya saya kembali ke Jogja naik pesawat “Pokoke Mabur” lainnya. Rasanya sudah belasan kali saya ikut penerbangan terakhir ke Jogja dengan pesawat ini dan belum pernah sekali pun mabur (terbang) tepat waktu. Saking seringnya, sehingga kalau “hanya” terlambat satu jam sudah tidak perlu dihalo-halo lagi. Semua pihak sepertinya sudah sama-sama maklum. Mestinya sekalian saja secara resmi jadwalnya dimundurkan satu jam. Wong sudah terbukti sering sekali begitu.

Tiba saatnya boarding, rupanya hanya pintu depan pesawat Boeing 737-900ER yang dipasangi tangga, sedangkan pintu belakang tidak digunakan. Karuan saja dua ratusan penumpang tumplek-blek bergerombol di depan tangga menunggu giliran naik satu-persatu. Jarang-jarang saya mengalami kejadian seperti ini.

Ada seorang penumpang yang rupanya cukup kritis menanyakan kepada seorang awak kabin, kenapa pintu belakang tidak dibuka. Lalu dijawab bahwa tidak ada tangganya. Penumpang itu rupanya belum puas dan masih ingin memastikan bahwa tidak dibukanya bukan karena macet.

Pertanyaan yang sangat logis. Sebab masih lebih baik pintu tidak dibuka karena tidak ada tangga (meskipun sebenarnya aneh bin ajaib), daripada tidak dibuka karena pintunya macet atau rusak.

***

Meski pesawat jenis Boeing 737-900ER itu tergolong pesawat baru, tapi ketika roda-rodanya menjejak bumi bandara Adisutjipto, tak urung mak jegluk…. Menghentak cukup keras sehingga mengagetkan sebagian besar penumpangnya.

Maka, kalau terpaksa menggunakan jasa maskapai “Pokoke Mabur”, perlu memperbanyak doa untuk mengendalikan rasa resah-gelisah di atas tiket murah-meriah, agar pokoke tekan nggone (yang penting sampai tujuan dengan selamat). Jangan sampai pesawatnya mabur ….. tinggi sekali dan tidak kembali lagi….. (diucapkan dengan logat Banyumasan).-

Yogyakarta, 5 Maret 2008
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(11).   Jika Check-In Di Cengkareng Pada Saat-saat Terakhir

Saya merasa bersyukur karena akhirnya tiba di Jakarta masih cukup pagi, sekitar jam 09:30 WIB, Selasa, 15 Pebruari 2000. Ini berarti, kekhawatiran saya akan kemalaman di Jakarta, hingga perlu meng-email juragan milisi Upnvy pada Sabtu malam sebelumnya, tidak terjadi. Keluar dari Terminal E Cengkareng, langsung berjalan terburu-buru menuju Terminal F, setelah melalui pemeriksaan imigrasi tentunya.

Beberapa tawaran taksi liar saya jawab dengan kata-kata : “mboten” (tidak), dengan senyum kemenangan. Saya tidak perduli apakah mereka ngerti bahasa Jawa atau tidak. Eh, lha kok malah kemudian ada sopir taksi yang nyahut : “Monggo, kalih kulo mawon, Pak” (Mari sama saya saja, Pak). Ya tetap “mboten” jawaban saya.

Tiba di terminal F, saya langsung cari tiket penerbangan tercepat menuju Semarang. “Sudah full booked”, kata gadis di balik kaca loket penjualan tiket. “Cadangan”, jawab saya singkat. Dalam hati saya berkata, jika perlu akan saya mainkan lagi lakon emergency untuk kesekian kalinya.

Penumpang cadangan biasanya baru akan dilayani 30 menit menjelang jam keberangkatan pesawat. Saya tahu itu, tapi saya tidak ingin kehilangan momentum. Saya tongkrongin di depan counter cadangan (biasanya kalau tidak meja no. 24, ya no. 25, saya hapal karena saking seringnya menjadi penumpang cadangan Garuda atau Merpati, sekian tahun yang lalu).

Ternyata saya tidak perlu menunggu hingga 30 menit menjelang jam keberangkatan, saya sudah dipanggil oleh petugas tiket cadangan. Entah karena memang ada kursi kosong, atau barangkali mbak petugasnya risih karena saya tongkrongin di depan mejanya sambil bolak-balik pura-pura tanya tentang status seat saya.

Saat check-in itu, saya tanyakan bagaimana mengenai barang bawaan saya, apakah tidak terlambat kalau tas saya dibagasikan. Dengan sangat meyakinkan saya dipersilahkan untuk membagasikannya. Terus terang, sebenarnya dalam hati saya ragu-ragu dengan jawabannya. Apakah tidak sebaiknya saya tenteng ke dalam kabin saja, pikir saya. Tapi sudahlah, toh pengalaman di Tokyo dan di Singapura sebelumnya tidak ada masalah. Maka saya pun kemudian dapat terbang ke Semarang dengan penerbangan pertama Garuda.

Sekitar jam 11 pagi, saya sudah menginjakkan kaki di bandara Ahmad Yani Semarang. Selangkah lagi saya akan tiba di kampung saya di Kendal. Saya menunggu untuk ambil bagasi. Satu-satu penumpang mulai keluar bandara sambil membawa bagasinya masing-masing. Hingga orang terakhir pergi, lha tas saya mannnnnaaa……? Saya datangi petugas yang ngurus bagasi, lalu dihalo-halo dengan handy-talky-nya ke pesawat. Ya memang bagasi sudah habis.

Ternyata rasa khawatir saya terhadap jawaban petugas check-in Garuda saat di Cengkareng sebenarnya beralasan. Ironisnya, entah kenapa justru terhadap ucapan bangsa saya sendiri saya merasa tidak yakin. Pertanyaan ini sulit saya jawab. Faktanya memang demikian.

Apa mau dikata, saya terima selembar kertas sebagai tanda bukti bahwa bagasi saya belum saya terima. Dijanjikan bagasi tersebut akan dibawa oleh penerbangan Garuna sore harinya, karena memang masih tertinggal (atau ditinggal?) di Jakarta. Masih ada tapinya, kalau tidak ya dengan pesawat Garuda esoknya, dan saya diminta untuk cek-cek via tilpun ke bandara Semarang. Wah, “puuuancen” (memang)……

Perjalanan menuju Kendal sekitar 45 menit saya lanjutkan dengan taksi. Baru esok harinya terpaksa saya mampir lagi ke bandara Ahmad Yani Semarang untuk mengambil bagasi saya. Masih untung, tas saya utuh tidak tampak ada tanda-tanda bekas dijahilin.- (Bersambung).

Yusuf Iskandar