Posts Tagged ‘terima kasih’

Hadiah Terindah Di Hari Ibu

23 Desember 2009

Hadiah terindah bagi ‘boss’ saya di Hari Ibu : mobil yang baru dibelinya tak srempetke tembok rumah tetangga… Uuugh, siap-siap tidak menerima ‘tanda terima kasih’ terindah. Berharap hal ini dapat diselesaikan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya…

(‘boss’ = istri tercinta)

Yogyakarta, 22 Desember 2009
Yusuf Iskandar

Keramahtamahan Amerika

28 Februari 2008

Sekali waktu saya mencoba menghitung berapa banyak kata “terima kasih” dan “maaf” yang saya ucapkan per hari, mulai saat bangun tidur pagi hari hingga menjelang tidur malam hari. Hasilnya? Rata-rata tidak lebih dari 10 kali. Malah seringkali hitungan angkanya di bawah 10 untuk ucapan “terima kasih” dan di bawah 5 untuk ucapan “maaf”.

Ketika pertanyaan yang sama saya bandingkan dengan ketika saya tinggal di Indonesia, ternyata hasil hitungan angkanya lebih kecil lagi. Artinya, lingkungan di Amerika memang menuntut saya (atau siapapun juga) untuk lebih membiasakan diri mengucapkan kedua kata itu.

Saya justru kaget sendiri, ketika lingkupnya saya persempit di lingkungan keluarga saya sendiri. Ternyata kedua kata itu menjadi barang langka, nyaris jarang terdengar diucapkan. Kalau demikian, lalu timbul pertanyaan di hati saya : Apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah berbuat salah sehingga antar anggotanya tidak perlu saling mengucapkan kata maaf?. Ataukah keluarga saya termasuk keluarga yang tidak bisa berterima kasih antar sesama anggota keluarganya?

***

Dalam keseharian saya di Amerika, sering saya jumpai seseorang mengucapkan kata “terima kasih” ketika dia hampir ketinggalan hendak naik lift dan orang-orang yang lebih dahulu ada di dalam dengan suka rela kembali membuka pintu lift mempersilahkannya masuk.

Seorang lainnya berterimakasih ketika diberi jalan menyusuri lorong-lorong rak atau almari di dalam pertokoan. Seorang ibu berterimakasih kepada anaknya yang mengambilkan sebuah barang belanjaannya yang jatuh dari kereta belanja. Hampir setiap orang merasa perlu berterimakasih ketika ditanyakan tentang kabarnya.

Atau, seseorang mengucapkan kata “maaf” ketika usai membuka pintu masuk ke sebuah ruangan, dia lupa ketika melepaskan daun pintu begitu saja dan tidak memudahkan jalan bagi orang lain di belakangnya yang juga hendak masuk ke ruangan yang sama.

Seseorang meminta maaf ketika tanpa disadarinya dia berdiri menghalangi jalan orang lain. Seorang ibu meminta maaf kepada anaknya ketika barang belanjaannya secara tidak sengaja menyenggol kepala anaknya, padahal bukan salah sang ibu.

Itu semua sedikit contoh yang saya jumpai dalam keseharian saya di Amerika, untuk sekedar membandingkannya dengan yang biasa saya jumpai di Indonesia, dimana kejadian-kejadian semacam itu nampaknya dianggap sebagai hal yang lumrah-lumrah saja yang memang sewajarnya terjadi. Tanpa perlu basa-basi dengan kata-kata “terima kasih” atau “maaf”.

Sekedar contoh sebaliknya (yang kedengaran ekstrim, tapi nyata), ketika ada seorang anak tanpa sengaja menabrak emak-nya yang sedang asyik tawar-menawar dengan bakul kain di pasar. Apa kata emak-nya?. “Ooo…..matane ora
ndelok-ndelokke..
.” (matanya tidak lihat-lihat). Padahal emak-nya yang keasyikan sehingga berdiri menghalangi jalan orang lain.

Atau, orang tua yang menyuruh anaknya menutup pintu. Setelah pintu ditutup, ya sudah. Tanpa perlu kata-kata terima kasih. Layaknya menjadi satu segmen kehidupan yang memang semestinya orang tua menyuruh anaknya dan sudah sepatutnya sang anak patuh.

***

Maka ketika saya ingat lagi pertanyaan yang muncul dalam hati saya tadi, apakah keluarga saya ini termasuk keluarga yang tidak pernah salah atau keluarga yang tidak pernah berterima kasih, saya merasa “agak” lega dan terhibur. Sebab ketika pertanyaan yang sama saya coba proyeksikan kepada keluarga lain tetangga-tetangga saya di Indonesia, ternyata sebenarnya saya berada pada “level” yang sama dengan kebanyakan keluarga di Indonesia.

Hah? Ternyata saya tidak sendirian. Apakah memang demikian senyatanya? Kedengarannya subyektif. Atau, jangan-jangan saya hanya mencari pembenaran atas kesalahan kolektif bersama lebih 200 juta keluarga tetangga saya?

Kejadian-kejadian di atas hanyalah sepotong cermin yang saya temukan di tengah kultur Amerika. Cermin yang nyaris tidak pernah memantulkan bayangan sisi baik budaya Amerika ke desa saya di katulistiwa sana.

Herannya, justru budaya-budaya yang tidak cocok malahan dibawa masuk (bukan cuma dipantulkan) untuk ditiru dan diterapkan. Lebih celaka lagi, ternyata kita lebih permisif terhadap budaya-budaya yang (sebenarnya) tidak cocok itu.

***

Budaya berbasa-basi (katakanlah itu demikian, atau taruhlah dilakukan dengan tanpa ketulusan) untuk mengucapkan kata “terima kasih” atau “maaf”, bagaimanapun juga adalah satu sisi positif dari keramahtamahan Amerika yang pantas untuk dijadikan bahan introspeksi kolektif di antara kita. Padahal Amerika tidak pernah meng-claim dirinya sebagai bangsa yang ramah, (maaf) tidak sebagaimana kita. Apalagi sampai mem-penataran-kannya atau malah menjadikannya sebagai mata pelajaran di sekolah.

Bukannya keramahtamahan itu tidak penting, melainkan anak-anak bangsa kita kurang melihat contoh perilaku keramahtamahan yang ditunjukkan oleh para orang tua mereka. Keramahtamahan dalam perspektif yang tidak sempit, tidak picik, tidak lemah, tidak buta, tidak tiran dan tidak sak geleme dhewe (semaunya sendiri), yang oleh orang Islam disebut sebagai akhlaqul karimah (budi pekerti luhur atau tingkah laku terpuji). Dan, termasuk dalam akhlaqul karimah adalah dengan ketulusan mengucapkan kata-kata “terima kasih” dan “maaf”.

Bahkan disebutkan bahwa orang yang meminta maaf terlebih dahulu (entah dia salah atau benar) mempunyai derajat yang lebih mulia ketimbang orang yang dimintai maaf. Indah sekali suratan itu, kalau saja dapat diwujudkan dalam keseharian kita. Mudah-mudahan.-

New Orleans, 19 Mei 2001
Yusuf Iskandar

Dimanakah Keramahtamahan Itu?

26 Desember 2007

Suatu sore di sebuah restoran di Terminal A bandara Cengkareng. Seorang bule membeli sekaleng minuman ringan. Setelah dibayar lalu duduk dan siap menarik tuas pembukanya. Namun tiba-tiba diurungkan. Sang bule berdiri dan kembali ke kasir tempat dimana dia membayar dan menerima sekaleng minuman tadi, lalu bercakap dengan pelayan yang berdiri di sebelah kasir.

Sang bule menunjuk-nunjuk tuas dan bagian tutup kaleng minuman yang dibawanya. Entah apa yang dikatakannya, tapi dari mimiknya terlihat dia komplain atas sekaleng minuman itu. Sang pelayan yang menerima komplain terlihat mencermati dengan seksama bagian kaleng yang ditunjuk-tunjuk sang bule.

Sekian detik kemudian, sang pelayan hanya berkomentar pendek : “Oh…!”, nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule, lalu ngeloyor berbalik tanpa permisi sambil membawa kaleng yang dipermasalahkan sang bule.

Tidak lama kemudian sang pelayan kembali menemui sang bule dengan membawa sekaleng minuman. Disodorkannya sekaleng minuman sebagai pengganti yang tadi. Juga nyaris tanpa ekspresi, tanpa menatap wajah sang bule dan tanpa sepatah katapun diucapkannya. Agaknya, sang bule puas dengan penggantian kaleng minuman yang dibelinya, dan kemudian berjalan menuju tempat duduknya semula.

***

Saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya telah terjadi. Namun mencermati adegan pantomim satu babak itu saya bisa menangkap bahwa ada yang tidak beres dengan sekaleng minuman yang dibeli sang bule, lalu komplain dan minta ganti.

Tinggal membekas di pikiran saya, bagaimana mungkin kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tanpa basa-basi sepatah dua patah kata, tanpa ekspresi penyesalan atau keramahtamahan. Lebih mengherankan lagi, tanpa senyum secuilpun, apalagi sepotong. Semakin parah lagi, tanpa kata-kata maaf atau terima kasih. Semakin saya tidak habis pikir, kasir yang berdiri di samping sang pelayan pun cuek-bebek seperti tidak pernah terjadi apa-apa di sampingnya, padahal dia tidak sedang melayani siapapun.

Dimanakah keramahtamahan itu?

Taruhlah sang pelayan tidak paham omongan coro londo yang sedang diucapkan oleh sang bule, tapi setidaknya pasti pahamlah kalau sang bule sedang komplain. Kalau ada komplain pasti karena ada sesuatu yang dianggap tidak seharusnya. Tidak terpikirkah untuk sedikit berbasa-basi minta maaf, lalu mengucapkan terima kasih sesudahnya. Toh sang pelayan ini seorang gadis. Sejelek-jeleknya paras gadis Indonesia ini rasanya masihlah terlihat manis kalau tersenyum, apalagi kalau mau agak dimanis-maniskan sedikit. Lain halnya kalau pelayannya merangkap satpam berkumis tebal, itu pun masih manis juga kalau tersenyum.

Kelihatannya kejadian seperti ini bukan kali ini saja terjadi. Di banyak tempat, di banyak waktu yang berbeda, konon kabarnya kejadian semacam ini banyak dijumpai. Pelit kata “maaf”, pelit kata “terima kasih”, pelit senyum. Padahal kejadian semacam itu bukanlah sebuah kesalahan yang teramat fatal, bukan juga peristiwa memalukan. Tapi karena solusinya tidak manis (dan tidak ramah), maka kesan yang dibawa pulang oleh sang bule bisa jadi adalah kenangan tidak manis yang akhirnya meninggalkan kesan tidak menyenangkan pula.

Memang kita tidak boleh menggeneralisir bahwa seperti itulah keramahtamahan yang kita miliki. Tapi kejadian itu setidaknya bisa menjadi cermin. Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, malu rasanya jika ingat keramahtamahan yang saya temukan pada keseharian bangsa lain, di negara lain, tapi pasti bukan di Republik Mimpi.

Karena nila setitik, jangan-jangan rusak susu se-genthong. Pupuslah harapan untuk layak dipertahankannya predikat bangsa yang ramah. Apalagi kalau bagi sang bule hari itu adalah hari terakhirnya di Indonesia. Maka kesan terakhir itulah yang akan terus dikenang oleh sang bule, entah wisatawan, entah pelaku bisnis, entah pekerja ilegal.

Sekilas kejadian yang barangkali tidak berarti apa-apa. Tapi entah kenapa kok begitu melekat di ingatan saya. Barangkali saya terlalu khawatir, kalau ada yang tanya : “Dimanakah keramahtamahan itu?”. Maka terpaksa saya harus menjawab : “Tertinggal di buku bacaan wajib Sekolah Dasar…..”, yang wajib dibeli dengan harga wajib mahal pula. Sementara itu tidak wajib dibaca, tidak wajib diamalkan, apalagi wajib diberi teladan…..

Yogyakarta, 28 Mei 2007
Yusuf Iskandar