Posts Tagged ‘tennessee’

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (4)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 19:45 CST (8 Nopember 2000 – 08:45 WIB)

Hingga saat ini persaingan semakin ketat. Al Gore kini unggul tipis dengan 145 suara dari 12 negara bagian dan George Bush 130 suara juga dari 11 negara bagian. Masih cukup panjang jalan menuju angka kemenangan 270 suara hingga tengah malam nanti (tengah hari Rabu WIB), dan masih banyak kemungkinan dapat terjadi.

Kejar mengejar jumlah suara ini tentu mengingatkan kita pada Sidang Umum MPR yang lalu, ketika Gus Dur dan Megawati saling susul-menyusul dalam penghitungan perolehan suara. Hanya bedanya di sini tidak ada penggembira yang hobinya ngamuk (dulu, baru alasan dicari belakangan).

George Bush tadi siang mencoblos di kota Austin, negara bagian Texas, dimana dia saat ini menjabat sebagai Gubernur dan ternyata dia memang memenangi perolehan suara di kampungnya sendiri. Sementara Al Gore mencoblos di Tennessee, negara bagian di mana dia berasal, tepatnya di kota Elmwood yang hingga kini belum selesai penghitungan suaranya.

Kita tunggu perkembangan selanjutnya, karena setiap jam hingga tengah malam nanti beberapa negara bagian secara bertahap dari timur ke barat akan menutup TPS-nya dan menghitung jumlah perolehan suaranya.

Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (5)

2 November 2008

New Orleans, 7 Nopember 2000 – 21:30 CST (8 Nopember 2000 – 10:30 WIB)

Al Gore yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Presiden ternyata justru kalah di Tennessee, negara bagian dari mana dia berasal. CNN melaporkan, setelah 39 negara bagian telah menutup TPS dan menghitung suaranya, kini giliran George Bush melejit dengan meraih 217 suara dari 24 negara bagian meninggalkan Al Gore yang masih meraih 172 suara dari 15 negara bagian.

Masih 11 negara bagian lagi yang belum menyelesaikan pemilu dan penghitungan suaranya hingga malam ini. Bush perlu 53 suara lagi untuk mencapai angka kemenangan 270. Akan tetapi Al Gore punya kartu truf dengan keyakinannya untuk menang di negara bagian California yang mempunyai 54 jatah suara, ditambah dengan keyakinannya untuk juga meraih kemenangan di beberapa negara bagian di pantai barat lainnya.

Al Gore dan pasangannya Joe Lieberman serta George Bush dan pasangannya Dick Cheney, saat ini tentu sedang deg-degan dan semakin tegang mengamati perkembangan perolehan suara dari setiap negara bagian yang mulai menghitung hasil pemilu sejak seharian tadi.

Melihat kejar-kejaran angka yang demikian ini, para pemilih di wilayah pantai barat seperti negara bagian California, Oregon dan Washington, serta Alaska dan Hawaii yang baru akan menutup TPS-nya sekitar satu jam lagi tentunya sudah mulai membuat hitungan-hitungan “politis”. Para pemilih di wilayah barat Amerika ini yang seharian sibuk di kantor atau di ladang dan baru saat menjelang penutupan sempat pergi ke TPS-TPS tentu sudah melihat hasil perhitungan suara dari wilayah timur Amerika.

Kepada siapa suara mereka akan diberikan? Kemungkinan pertama mereka akan terus menggunakan hak pilihnya untuk memperkuat posisi jago mereka. Akan tetapi bukan tidak mungkin mereka berubah pikiran jika jago mereka sudah jelas kalah, mereka memilih untuk tidak memilih saja dan pulang ke rumah.

Cara berpikir sederhana ini memang hal yang lumrah saja. Ya seperti yang saya kemukakan sebelumnya, banyak juga masyarakat Amerika ini yang tidak terlalu menganggap penting tentang pemilihan presidennya. Buktinya? Diramalkan hanya 50% saja dari masyarakat yang mempunyai hak pilih akan menggunakan haknya tahun ini.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari Pemilu Amerika 2000 : George Bush atau Al Gore? (8)

2 November 2008

New Orleans, 8 Nopember 2000 – 13:00 CST (9 Nopember 2000 – 02:00 WIB)

Ooops….., ternyata pacuan presiden Amerika belum usai. George Bush ternyata “belum” menjadi presiden terpilih. Pagi tadi saya baru tahu ada kejadian menarik dalam pemilihan presiden Amerika kali ini.

Lewat tengah malam tadi, ketika saya lihat CNN melaporkan bahwa Bush berhasil menang di Florida, saya pikir presiden baru Amerika sudah terpilih. TV dan komputer pun lalu saya matikan, dan pergi tidur. Hingga tadi pagi ketika berangkat ke kantor saya masih beranggapan hasil tadi malam sudah final. Rupanya setiba di kantor, saya menjumpai berita menarik bahwa akan dilakukan penghitungan ulang atas jumlah pengumpulan suara di negara bagian Florida. Ini berarti, baik Bush maupun Gore hingga saat ini sama-sama belum mencapai angka ajaib 270 suara (electoral vote) untuk meraih kemenangan.

Padahal dini hari tadi Gore sudah telanjur menilpun Bush untuk mengucapkan selamat dan sudah siap-siap menjumpai pemilihnya di kota Nashville, Tennessee, guna menyampaikan sepatah dua patah kata atas kekalahannya. Gore pun sudah siap menerima kekalahannya dan akan mendukung pemerintahan Bush.

Hasil perhitungan akhir dari 49 negara bagian termasuk dari ibukota Washington DC yang sudah diselesaikan penghitungan suaranya hingga dini hari tadi, George Bush memperoleh 246 suara dari 29 negara bagian dan Al Gore mengumpulkan 260 suara dari 20 negara bagian. Penambahan 11 suara bagi Gore diperoleh dari kemenangannya di negara bagian Wisconsin. Dengan demikian, masih tersisa 2 negara bagian yang belum menyelesaikan perhitungan akhirnya, yaitu Oregon dengan 7 suara dan Florida (yang dilakukan penghitungan ulang) dengan 25 suara.

Dari posisi terakhir pengumpulan suara ini tampaknya suara dari Florida akan menjadi kunci kemenangan baik bagi Bush maupun Gore. Sedangkan suara dari Oregon yang hanya 7 suara, tidak lagi menjadi penentu kemenangan. Selain juga kelihatannya akan perlu waktu untuk mencapai hasil perhitungan akhir di Oregon mengingat sistem pemilihannya dilakukan lewat pos.

Kejadian ini agaknya cukup menarik perhatian bagi masyarakat Amerika sendiri yang biasanya cenderung tidak urus dengan pemilihan presidennya. Baru pertama kali ini dilakukan penghitungan ulang atas perolehan suara di suatu negara bagian di saat-saat yang menentukan. Justru hal ini terjadi di Florida yang secara geografis terletak di pantai timur Amerika yang berarti penutupan TPS-nya sebenarnya sudah dilakukan lebih awal dibandingkan dengan negara bagian lain yang berada di wilayah tengah maupun pantai barat.

Kenapa demikian? Sepanjang yang saya ketahui, saya tidak menjumpai adanya aturan tentang penghitungan ulang ini. Saya hanya mereka-reka, barangkali karena jatah suara (electoral vote) dari Florida menjadi kunci kemenangan bagi kedua kandidat presiden, sedangkan selisih pengumpulan kartu suara (popular vote) antara keduanya sangat tipis, maka diperlukan akurasi dalam perhitungannya hingga tuntas. Tambahan lagi bahwa ternyata tidak semua kabupaten (county) di Florida sudah menggunakan sistem komputerisasi, masih ada juga beberapa daerah yang penghitungannya dilakukan secara manual.

Menurut Panitia Pemilu, dikatakan bahwa di Florida jika margin pengumpulan kartu suara antara kedua kandidat utama sangat tipis atau kurang dari 1%, maka otomatis akan dilakukan penghitungan ulang. Memang dari data terakhir tadi pagi, margin pengumpulan kartu suara antara Bush dan Gore hanya berbeda 1.785 suara untuk keunggulan Bush. Saya tidak tahu alasannya kenapa tadi malam CNN buru-buru menyimpulkan angka yang belum resmi dikeluarkan oleh Panitia ini sebagai angka kemenangan bagi Bush. Akibatnya menjadi fatal karena informasi dari media ini dengan cepat terkonsumsi oleh masyarakat seluruh dunia, terlepas dari apakah nantinya benar-benar Bush yang akan menang di Florida.

Melihat perkembangan penghitungan suara di Florida, maka para pengamat memperkirakan bahwa posisi suara dari pemilih yang tidak hadir (absentee ballots) akan menjadi sangat penting. Ini adalah kartu suara yang antara lain berasal dari pemilih di luar Florida atau di luar negeri, seperti halnya para pekerja dan petugas militer yang sudah terdaftar di Florida sehingga suara mereka dikirimkan melalui surat. Biasanya suara-suara ini tidak banyak berpengaruh di dalam penghitungan akhir suara secara keseluruhan. Tetapi kali ini menjadi sangat berarti karena Florida akan menjadi penentu siapa presiden Amerika yang akan terpilih, sedangkan selisih jumlah suara antara kedua kandidat utama yang sudah dihitung hingga saat ini sangat tipis.

Direncanakan paling lambat hari Kamis sore besok (Jum’at pagi WIB) hasil perhitungan resminya sudah dapat diketahui. Demi menjaga kenetralannya, maka proses penghitungan ulang ini sendiri akan disaksikan oleh berbagai pihak sebagai komisi pengawas, termasuk para pejabat, perwakilan media massa dan perwakilan baik dari kubu George Bush maupun Al Gore.

Tampaknya masa deg-degan bagi kedua kubu Bush maupun Gore beserta pendukungnya masih harus berlanjut hingga hari-hari ini. Masyarakat Amerika juga jadi penasaran dengan belum diketahuinya siapa presiden baru mereka, meskipun pemilu sudah usai. Segenap mata sedang tertuju ke Florida, the Sunshine State yang pantai timurnya banyak dikunjungi wisatawan untuk mandi matahari, terutama di pantai Miami dan Keystone.

Sebagai penonton, saya sangat menikmati kejadian langka ini. Jadi, kalau ada yang berminat dengan kejadian ini, ya mari sama-sama kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh negeri besar ini untuk memilih presiden barunya.

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(4).     Jalan Merayap Di Cherokee

Minggu pagi, 2 Juli 2000, menjelang jam 10:00 kami baru meninggalkan kota Atlanta menuju ke arah timur laut mengikuti jalan Interstate 85. Sekitar satu setengah jam kemudian kami melintas danau Richard B. Russell yang merupakan perbatasan antara negara bagian Georgia dan South Carolina. Melanjutkan setengah jam kemudian kami tiba di kota Greenville. Di kota ini kami keluar dari Interstate 85, lalu pindah ke Highway 25 yang menuju ke arah utara.

Tidak ada obyek menarik yang kami rencanakan untuk dikunjungi di jalur utara South Carolina yang mempunyai nama julukan “Palmetto State” dan ibukotanya ada di Columbia. Kami terus saja melanjutkan perjalanan ke utara hingga memasuki wilayah negara bagian North Carolina. Beberapa kilometer di utara daerah perbataasan ini kami bertemu dengan jalan Interstate 26 yang menuju kota Asheville.

Di kota Asheville kami berpindah ke jalan Interstate 40 menuju ke arah barat lalu keluar di kota kecil Waynesville untuk istirahat makan siang. Seperti dijumpai di banyak lokasi di sepanjang perjalanan, makan siang yang paling praktis adalah model makan cepat saji. McDonald adalah satu di antaranya. Anak-anak pun menyukainya karena di sana ada happy meals atau kid meals yang biasanya disertai iming-iming mainan anak-anak. Makananpun bisa dimakan sambil jalan, tanpa perlu berhenti terlalu lama.

Dari Waynesville perjalanan kami lanjutkan menuju ke rute yang akan melintasi pegunungan Great Smoky. Rute yang membelah Taman Nasional Great Smoky Mountain ini memang salah satu tujuan kami. Taman Nasional Great Smoky Mountain berada tepat di perbatasan wilayah antara negara bagian North Carolina dan Tennessee, membentang seluas lebih 210.000 ha pada ketinggian hingga lebih 2.000 m di atas permukaan laut.

Pegunungan di Taman Nasional ini mempunyai enam belas puncaknya yang berketinggian di atas 1.800 m. Seperti tersirat di balik namanya, Great Smoky Mountain, barangkali karena di rute puncak pegunungan ini seringkali terlihat adanya awan yang menyerupai asap seakan-akan menggantung di langit biru di atas puncak-puncak pegunungan.

Taman Nasional yang resminya berdiri tahun 1934 guna melindungi sisa-sisa hutan di bagian selatan Appalachian Trail ini merupakan Taman Nasional yang paling banyak dikunjungi wisatawan di Amerika. Rata-rata dikunjungi oleh sekitar 10 juta wisatawan setiap tahunnya. Bahkan pada tahun 1999 yll. telah tercatat dikunjungi lebih dari 21 juta wisatawan. Sebuah angka kunjungan yang luar biasa, untuk ukuran Amerika sekalipun. Bulan paling padat adalah selama musim liburan antara Juni hingga Agustus, dan di bulan Oktober dimana daun-daun mulai berubah warna di musim gugur.

Jalur Appalacian Trail adalah jalan setapak yang membentang di gigir pegunungan dan memotong lembah sepanjang 3.480 km dari ujung timur laut daratan Amerika di negara bagian Maine hingga ke selatan di daerah Georgia.

Jalur ini dikelola oleh sekitar 32 kelompok pecinta alam setempat di bawah organisasi yang disebut Appalachian Trail Conference guna pemeliharaan dan perlindungannya, bekerjasama dengan lembaga pemerintah National Park Service (NPS). Penggal-penggal jalur jalan setapak ini banyak menjadi pilihan para penggemar olah raga lintas alam (hiking), bahkan termasuk para tuna netra dan penderita cacat kaki yang melintas menggunakan kruk (tongkat berjalan).

*** 

Jalan utama yang melintas di pegunungan ini disebut Newfound Gap Road (jalan US 441) membentang antara kota Cherokee di sisi tenggara dan Gatlinburg di sisi barat laut sepanjang sekitar 53 km. Di kota kecil Cherokee yang berada di kaki sebelah tenggara pegunungan ini ada areal konservasi suku Indian Cherokee. Karena itu kota kecil ini menjadi salah satu obyek kunjungan para wisatawan.

Rupanya rute jalan yang melalui wilayah ini luput dari perhitungan saya sebelumnya, yaitu bahwa di saat hari libur ternyata rute ini sangat ramai dan arus lalulintasnya padat. Akibatnya kendaraan hanya dapat berjalan merayap ketika tiba di Cherokee. Kami jadi kehilangan cukup banyak waktu untuk melewati kota terakhir sebelum saya meninggalkan negara bagian North Carolina yang mempunyai nama julukan sebagai “Tar Heel State” dengan ibukotanya Raleigh.

Daripada sekedar mengikuti arus lalulintas yang merayap perlahan, kami lalu memutuskan untuk berhenti di kota ini. Turut mengambil bagian di tengah keramaian. Sampai di pertigaan jalan yang akan membelok menuju pegunungan Great Smoky, di sisi utaranya ada sungai yang tidak terlalu lebar tapi jernih airnya.

Di tengah suhu udara siang musim panas yang cukup menyengat, sungai ini dimanfaatkan oleh banyak wisatawan untuk ciblon (mandi dan berendam di sungai) beramai-ramai. Karena lokasinya yang tepat di pinggir jalan, maka tentunya ini menjadi bagian tontonan tersendiri. Kejadian yang sebenarnya biasa saja, tapi menjadi tidak biasa karena adanya di tengah keramaian.

Salah satu tempat yang terkenal di area Reservasi Indian Cherokee seluas lebih 22.000 ha ini adalah Museum Indian Cherokee dan Perkampungan Indian Oconaluftee. Di perkampungan Indian ini direkonstruksi kehidupan masyarakat Cherokee tahun 1750-an. Selama berabad-abad, wilayah reservasi ini ternyata telah menjadi wilayah hunian suku Indian Cherokee yang saat ini paling tidak masih ada sekitar 11.000 warganya.

Kini umumnya mereka hidup dari hasil industri pariwisata. Tampak sekali kalau kita menyusuri di sepanjang jalan dan pertokoan, mereka suku Indian yang berkulit kemerah-merahan ini berseliweran, berdagang cendera mata, beraksi dengan pakaian tradisionalnya dan aktifitas-aktifitas seni lainnya. 

***

Layaknya rute jalan di daerah pegunungan, tentu banyak berupa kelokan, tanjakan dan turunan di tengah areal hutan. Namun yang menjadikan rute jalan ini enak dilewati adalah karena pepohonan yang tumbuh di kiri-kanan di beberapa penggal jalan, batang dan ranting di bagian atasnya menyatu. Membuat penggal jalan ini seperti sebuah lorong yang ditutup oleh atap warna hijau. Cahaya matahari pun menerobos di antara celah-celah batang dan dedaunan.

Saat kami tiba di bagian puncak pegunungan, cuaca berubah menjadi mendung dan hujan kecil mengguyur hingga saat kami menuruni pegunungan. Rute jalan dua lajur dua arah ini tampaknya memang menjadi pilihan para wisatawan yang ingin menikmati alam pegunungan. Terlihat dari cukup ramainya kendaraan yang datang dari kedua arah. Bukan saja karena di kaki pegunungan sebelah tenggara ada kota Cherokee, tetapi juga di kaki sebelah barat laut ada beberapa kota wisata seperti Gatlinburg, McCookville, Pigeon Forge, Dollywood dan Pine Grove.

Kota-kota di sisi barat laut pegunungan Great Smoky ini berada di wilayah negara bagian Tennessee yang mempunyai nama julukan “Volunteer State” dengan ibukotanya di Nashville. Tennessee, siang itu menjadi negara bagian ketujuh yang saya lintasi setelah pagi harinya melintasi South Carolina dan North Carolina.

Melewati kota-kota ini membuat kami semakin ketinggalan jarak dan waktu tempuh, karena di beberapa kota kecil yang sangat ramai wisatawan ini lagi-lagi kami mesti berjalan merayap. Tak terhindarkan, selain karena melewati rute ini memang sudah kami rencanakan sebelumnya, tetapi juga karena saya tidak melihat ada rute alternatif di sekitarnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(5).     Pejalan Kaki Yang Dimanjakan Di Gatlinburg

Gatlinburg menjadi kota pertama yang saya temui setelah menuruni pegunungan Great Smoky, satu diantara beberapa kota pariwisata di sisi barat laut pegunungan Great Smoky. Kota yang terletak pada elevasi sekitar 400 m di atas permukaan laut ini sebenarnya hanya berpopulasi sekitar 3.400 jiwa. Tetapi kota ini populer sebagai kota cendera mata yang hampir setiap harinya dipadati oleh wisatawan, lebih-lebih dalam liburan musim panas seperti ini. Entah bagaimana kota kecil ini bisa sedemikian menjadi pilihan tempat tujuan wisata.

Ada yang menarik ketika tiba di kota kecil Gatlinburg, yang menjelang sore hari Minggu, 2 Juli 2000 itu masih sangat padat dan ramai wisatawan. Jalan utama yang membelah kota wisata ini cukup dikendalikan dengan rambu lalulintas yang memperingatkan tentang batas kecepatan maksimum 25 mil/jam (sekitar 40 km/jam). Para pengendara yang sewaktu berada di rute pegunungan tadi sama-sama melaju kencang, tiba di kota ini serta-merta mengurangi kecepatan. Tanpa perlu dilambai-lambai oleh tangannya Pak Polisi, apalagi patungnya.

Kalau ditanya kenapa mereka bisa demikian patuh kepada aturan yang ada? Saya tidak tahu persis jawabannya. Saya hanya bisa menduga-duga, kemungkinan karena tradisi lebih mudah diatur (baca : disiplin) memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat mereka. Atau, kemungkinan lain karena mereka takut kepada disiplin penegakan aturan yang ketat. Artinya, sekali mereka melanggar aturan maka sangsi yang tidak ringan akan dikenakan kepada mereka dengan konsekuen. Kalaupun ini benar, maka ini adalah ketakutan yang edukatif.

Saya mencoba bercermin diri : Bagaimana dengan kita? Siapa takut……? Kelihatannya kita memang lebih berani. Berani bukan karena tidak takut, melainkan karena kita punya “kebiasaan” suka memperjual-belikan rasa takut. Sehingga tidak tampak lagi beda antara patuh dan tidak patuh, disiplin dan tidak disiplin. Ah, bisa jadi cermin yang saya gunakan keliru.

Setiap beberapa puluh meter di jalan utama kota Gatlinburg ini ada tempat penyeberangan jalan (zebra cross), yang di atas aspalnya ditulis dengan tulisan besar warna putih yang berbunyi “Dahulukan Pejalan Kaki”. Maka jika terlihat ada pejalan kaki yang turun dari trotoar hendak menyeberang, tidak ada alasan lain bagi setiap pengendara kendaraan yang datang dari kedua arah selain berhenti memberi kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang.

Menjadi pejalan kaki di Gatlinburg memang benar-benar dimanjakan dengan rasa aman. Untuk menjadi pejalan kaki di kota ini nampaknya tidak diperlukan ketrampilan menyeberang jalan. Kontradiktif (tanpa bermaksud membandingkan) dengan cerita kawan-kawan saya yang tinggal di Jakarta, dimana ilmu menyeberang jalan menjadi wajib dipelajari oleh kaum pendatang untuk bisa hidup selamat di Jakarta. Alih-alih mau turun dari trotoar, lha wong masih di atas trotoar saja sudah merasa tidak aman. Berebut jalan dengan para pemain tong setan yang karena tidak punya tong lalu pindah ke trotoar.

***

Setelah melewati beberapa kota wisata yang membuat kami tidak bisa melaju cepat, akhirnya kami ketemu lagi dengan jalan Interstate 40 yang menuju ke arah timur dan lalu berpindah ke Interstate 81 menuju ke arah timur laut. Di jalan bebas hambatan ini saya memberanikan diri memacu kendaraan dengan mencuri kecepatan di atas batas maksimum, agar bisa memperkecil ketertinggalan jarak dan waktu tempuh. Sebelum tiba di perbatasan dengan negara bagian Virginia, kami berbelok ke Highway 23 yang menuju ke kota Kingsport.

Kota Kingsport terletak menjelang perbatasan antara negara bagian Tennessee dan Virginia. Hari sudah mulai gelap saat saya tiba di kota ini, dan perjalanan ke arah utara dari kota ini hanya akan melalui kota-kota kecil. Ketika berhenti sebentar untuk mengisi BBM, saya minta persetujuan terutama kepada anak-anak bahwa perjalanan akan dilanjutkan sampai agak malam dan menginap dimanapun nanti kalau ketemu kota pertama yang sekiranya enak untuk diinapi. Ini karena mengingat bahwa kami semakin tertinggal dari jarak tempuh yang seharusnya bisa dicapai akibat beberapa kali jalan merayap ketika melewati jalur padat yang kurang saya perhitungkan sebelumnya.

Melaju dalam gelap di rute jalan yang relatif sepi, awalnya memang cukup mengasyikkan. Di sebelah menyebelah jalan di dataran agak tinggi tampak pemandangan kerlap-kerlip lampu-lampu rumah yang antara satu rumah dan lainnya saling berjauhan di keremangan senja hari. Sepi sekali memang. Tetapi semakin malam menjadi semakin membosankan karena tidak ada lagi pemandangan yang bisa dinikmati di wilayah paling ujung barat dari negara bagian Virginia. Negara bagian Virginia ini mempunyai nama julukan sebagai “The Old Dominion State” dengan kota Richmond sebagai ibukotanya.

Akhirnya kami tiba di kota kecil Jenkins yang berada di perbatasan antara negara bagian Virginia dan Kentucky. Dari kota ini perjalanan masih kami lanjutkan, karena melihat suasana kota yang menurut feeling kurang enak untuk disinggahi. Sekitar sejam kemudian kami lalu tiba di kota Pikeville, yang berada di wilayah negara bagian Kentucky. Kentucky adalah negara bagian kesembilan yang saya lintasi hingga hari kedua perjalanan kami, setelah sebelumnya melintasi Virginia. Negara bagian Kentucky mempunyai nama julukan “Bluegrass State” dengan ibukotanya di kota Frankfort.

Sejak dari kota Kingsport hingga Pikeville rute jalan yang kami lalui relatif mudah karena hanya mengikuti sepanjang rute Highway 23, sehingga tidak perlu bolak-balik melihat peta. Saat tiba di kota Pikeville ini waktu sudah menunjukkan lebih jam 10:00 malam. Kami lalu mencari hotel untuk menginap di pinggiran kota kecil ini setelah lebih dahulu mampir ke McDonald di downtown, sekedar mengisi perut.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar