Posts Tagged ‘tembaga’

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(3).  Mbelah Duren Di Waung Pak Leman

Sejak saya datang menjelang maghrib, Pak Leman yang nama lengkapnya Soleman (konon kalau di Jerman ejaannya menjadi Lehmann…..), tak habis-habisnya bercerita tentang pengalaman hidupnya menjadi pekerja tambang. Mengaku sebagai penduduk asli dusun Siring, sejak tahun 1983 Pak Leman dan keluarganya menempati sepetak rumah merangkap warung di pinggir jalan tambang. Jalan kampung yang biasa dilalui truk-truk pengangkut batubara. Di warung kecil-kecilan itu pula Bu Leman berjualan kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat sekitarnya.

Hari-hari ini musim durian sudah menjelang tiba. Pak Leman pun nyambi jualan durian, seperti sudah bertahun-tahun dilakoninya. Musim durian di Bengkulu memang baru awal-awalnya. Karena pohon durian milik Pak Leman belum mulai menghasilkan, maka Pak Leman kulakan durian dari tetangganya yang mempunyai pohon durian di hutan yang sudah mulai matang.

Saat petang mulai meremang itulah, dalam perjalanan pulang ke kota Bengkulu dari sebuah lokasi tambang, kami berhenti sejenak di warung Pak Leman itu. Ya buat apa lagi kalau bukan mau menikmati buah durian. Kebetulan pas ada tetangga Pak Leman yang baru keluar dari hutan membawa durian. Meski untuk itu tetangga Pak Leman itu rela berjalan kaki berkilo-kilometer memikul beberapa butir durian dari kebunnya untuk dijual.

Acara tunggal petang itu adalah mbelah duren….. Mula-mula jenis durian biasa, cukup manis dan enak rasanya. Lalu Pak Leman menyodorkan jenis durian tembaga. Dagingnya agak lembek, berwarna kekuningan, tapi rasanya …..boo……, huenak tenan….. Belum pernah saya temukan durian jenis ini di Jawa.

Di Sumangtrah memang terkenal kalau yang namanya durian tembaga itu tiada yang melawan rasanya. Bagi orang yang sudah lama tinggal di Sumatera barangkali tidak asing lagi dengan jenis durian ini. Tapi bagi mereka yang belum pernah mencicipi durian ini, sepertinya perlu dicatat di buku agenda untuk suatu saat nanti mencobanya. Selain karena kekuatan rasa dan aromanya, terutama sensasi kliyeng-kliyeng di kepala kalau kebanyakan (namanya juga kebanyakan…..).

Entah kenapa durian yang dagingnya berwarna kekuning-kuningan ini disebut durian tembaga. Saya tidak paham muasal-asalnya kenapa bukan durian kuningan atau durian emas, disebutnya.

Selain durian biasa dan durian tembaga, masih ada satu jenis durian lagi yang saya coba petang itu, yaitu durian roti. Dagingnya kesat dan berwarna keputih-putihan (sengaja kata ‘putih’ saya tulis berulang). Ketika dimakan terasa taste seperti roti tawar. Barangkali itu, makanya disebut durian roti. Kalau umumnya orang bikin roti rasa durian, maka ini durian rasa roti. Memang tidak semanis durian tembaga, tapi tetap saja hoenak tenan……  Tidak ada salahnya juga, suatu saat nanti diagendakan untuk dicoba, bagi yang kepingin.

Sambil menikmati durian, sambil menyeruput kopi Bengkulu yang katanya hasil olahan dari kebun Pak Leman sendiri. Masih sambil mendengarkan cerita-cerita seru pengalaman hidup Pak Leman…. tan soyo dalu tan soyo gayeng….. , dan semakin malam semakin berbau mistis.

Ketika akhirnya kami berpamitan, tidak lupa Pak Leman memberi tips. Kalau habis makan durian, ambil sebilah kulitnya, tuangkan sedikit air putih ke ceruk kulitnya, lalu diminum. Katanya selain dapat menetralisir baunya, juga dapat menetralisir hal-hal yang tidak diinginkan yang mungkin berkecamuk di dalam perut. Khusus untuk durian tembaga, ada tips tambahan. Jangan buru-buru minum air es karena akan berakibat perut kembung. Dan jangan dulu minum bir atau minuman beralkohol, kecuali bagi yang memang merencanakan untuk teler……..

***

Malam seperti semakin menuju larut, padahal sebenarnya belum. Itu karena kampung di sekitarnya sudah sepi bin senyap. Sesekali sopir truk angkutan batubara lewat menyapa Pak Leman. Langit pun tampak bersih dengan bulan sabit menggantung di dinding timur. Pak Leman pun semakin sulit dipenggal cerita-ceritanya.

Warung Pak Leman menjadi satu-satunya tempat yang masih terlihat terang-benderang, sementara rumah-rumah tetangganya sudah pada tutup, dengan kerlip lampu-lampu kecil di sana-sini, khas suasana desa. Waktu maghrib sudah lama terlewati. Saya memilih untuk memanfaatkan “fasilitas” untuk men-jamak (menggabung) sholat maghrib dengan isya, sebagai seorang musafir yang sedang lapar duren di kawasan ladang batubara……

Akhirnya, Pak Leman hanya minta duriannya dihargai Rp 5.000,- sebutirnya, sedangkan kopinya gratis. Sebagai sapaan selamat datang, katanya. Padahal dua hari sebelumnya kami membeli durian di kota Bengkulu harganya Rp 12.500,- per butir. Katanya kalau lagi musim-musimnya durian, harga sebutir durian hanya sekitar dua-tiga rebuan per butir. Eee…, lha kok di jalan Kusuma Negara Jogja tetap saja dua puluh lima ribuan per butir, tidak perduli lagi musim apa……

Bengkulu, 30 Juni 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

Pengantar :

Selama periode tanggal 30 Juli sampai 11 Agustus 2001 saya berkesempatan berada di sebuah kota kecil di negara bagian New South Wales, Australia. Nama kotanya Parkes. Perjalanan ini adalah dalam rangka melakukan kunjungan dan studi lapangan di tambang tembaga bawah tanah Northparkes. Beberapa surat saya tulis, namun berhubung kesulitan mengakses internet dari kota ini di awal-awal kedatangan saya, maka surat ini terlambat saya kirimkan.

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia
(2).    Tambang Northparkes
(3).    Terserang Flu Dan Pilek
(4).    Mengakses Internet Di Perpustakaan Umum
(5).    Menuju Ke Canberra
(6).    Tiga Jam Di Canberra
(7).    Melintasi Jalur Segitiga Parkes – Dubbo – Orange
(8).    Tambang Northparkes Menuju Mine Automation
(9).    Perusahaan Tambang Tanpa Buruh
(10).  Membaca Koran Dan Memburu Kanguru
(11).  Malam Terakhir Di Parkes
(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney