Posts Tagged ‘telogorejo’

Semua Pasti Kembali Kepada-Nya

22 Oktober 2008

Beberapa waktu terakhir ini saya agak jauh dari internet. Itu karena lagi sibuk mengurusi bapak saya yang sedang kritis sakitnya hingga akhirnya berpulang ke hadirat Illahi, Tuhan Seru Sekalian Alam Raya, pada hari Minggu Kliwon, 19 Oktober 2008, jam 12:00 WIB di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, dalam usia 75 tahun. Jenazah dimakamkan pada hari itu juga jam 16:30 WIB di Kendal (Jawa Tengah).

Innalillahi wa-inna ilaihi roji’un.
Sesungguhnya semua itu berasal dari Allah, dan (akhirnya) semua pasti akan kembali kepada-Nya jua.

Kendal, 22 Oktober 2008
Yusuf Iskandar

Iklan

Berlebaran Di Rumah Sakit

7 Oktober 2008

Puji Tuhan wal-hamdulillah, pada tanggal 1 Syawal 1429 H ini bapak saya masih sakit dan dirawat di rumah sakit di Semarang. Maka kami, anak-anak beserta keluarga dan ekor-ekornya pun berkumpul berlebaran di rumah sakit. Bagi ketiga adik perempuan saya yang tinggalnya di Kendal, cukup mudah untuk mencapai Semarang karena hanya berjarak sekitar 30 km dari Semarang. Sedang bagi saya, usai sholat Ied dan silaturrahim sebentar di Yogya, lalu nunggang kijang meloncati jarak 120 km menuju Semarang melawan arus mudik.

Jadilah kami sekeluarga berlebaran di sebuah kamar di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Ritual silaturahim dan sungkeman lebaran kali ini terasa lain dari biasanya. Tanpa kue, tanpa suguhan, tanpa lontong opor ayam sambal goreng petai, tanpa bersimpuh, tanpa sungkeman. Lha, wong bapak terbaring di tempat tidur. Tinggal emosi tak terucapkan tertahan di dalam hati dan perasaan masing-masing. 

Bagi keluarga kami, lebaran kali ini terasa tidak biasa (sebenarnya ingin saya sebut luar biasa, tapi khawatir kedengaran seperti sugesti motivator yang bisa bermakna sebaliknya). Lebaran kali ini terasa begitu indah. Ini juga gaya bahasa hiperbolis-puitis. Lha, mana ada wong lebaran di rumah sakit, kok indah….. Barangkali lebih tepat saya sebut saja dengan suasana yang lebih khidmat.  Jauh dari senyum kemenangan setelah sebulan berpuasa. Atau kegembiraan karena mengenakan pakaian baru. Atau kepuasan karena pagi-pagi sudah nyeruput kopi.

***

Bapak saya masuk (lebih tepat, dimasukkan oleh dokter) ke rumah sakit sejak malam pertama pada sepuluh hari kedua bulan Ramadhan (ini ungkapan matematika hitung-hitungan hari Ramadhan, yang maksudnya adalah hari ke sebelas bulan Ramadhan). Gara-garanya sepele. Dua hari sebelumnya bapak saya (usia 75 tahun) terkena serangan jantung. Saat tengah malam tiba-tiba tubuh lunglai, keringat dingin mengucur dari sekujur tubuh seperti tiada henti, beberapa bagian tubuh terasa nyeri.

Sialnya, tak seorangpun ngeh bahwa itu adalah serangan jantung. Dianggapnya wess-ewess-ewess masuk angin biasa. Maka serta-merta tubuhnya di-blonyoh (dibasahi) dengan minyak tawon biar hangat, sambil agak dipijit-pijit. Ajaibnya, dalam beberapa jam (belakangan baru diketahui bahwa itu adalah beberapa jam masa kritis) sakit yang diderita bapak saya pun mereda dan merasa sudah bablasss angine…. Setelah itu semua berjalan kembali normal seperti biasa. Sampai saat itu pun belum ada yang tahu bahwa bapak saya baru saja mengalami serangan jantung yang sebenarnya “mematikan”.

Baru pada malam kedua setelah serangan jantung itu bapak saya dibawa ke dokter langganannya oleh salah seorang adik saya. Setelah periksa sana periksa sini, dokternya yang terkejut. Rupanya dokter punya ilmu yang bisa mendeteksi bahwa ada yang tidak beres pada jantung bapak saya. Hanya dengan kalimat pendek “saya tidak mau mengambil resiko”, lalu bapak saya diminta segera masuk rumah sakit malam itu juga. Gantian bapak dan adik saya yang terkejut. Lha wong sejak berangkat dari rumah ketawa-ketiwi kok tiba-tiba dimasukkan rumah sakit. Perawat jaga di ICU juga bingung tanya mana orangnya yang sakit, wong semua yang hadir di situ tampak gagah dan sehat.

Selanjutnya, hari-hari Ramadhan dilalui bapak saya di ruang ICU, lengkap dengan selang oksigen, selang infus dan kabel pating tlalang menempel di dada dan ujung jari. Kami pun bergantian menunggui di rumah sakit. Saya juga terpaksa melakukan traveling Yogya-Semarang beberapa kali selama Ramadhan hingga datang Idul Fitri.

Sekali lagi, syukur alhamdulillah, kalau pada Hari Fitri kemarin bapak saya masih sakit dan kami bisa berlebaran di rumah sakit.

Barangkali saya tergolong anak durhaka, wong bapaknya dirawat di rumah sakit kok malah bersyukur. Itu kalau pembandingnya adalah saat bapak saya sehat. Akan tetapi kali ini pembanding saya adalah ucapan dokter beberapa hari sebelumnya. Kala itu dokter mengatakan, kira-kira begini bunyinya : “Upaya medis yang dilakukan sudah maksimum, tinggal pihak keluarga berdoa dan siap dengan hal yang terburuk”. Maka, bagaimana saya tidak bersyukur kalau akhirnya kami bisa berlebaran juga, meski di rumah sakit.

Kita memang suka menggunakan filosofi hidup perbandingan. Dan tanpa kita sadari ilmu perbandingan itu seringkali menjebak kita dalam suasana hati yang destruktif, yang menggiring kita menjadi lupa bersyukur. Itu karena pembanding yang kita gunakan seringkali atas pertimbangan nafsu dan bukan nurani.

Betapa kita sering merasa manjadi orang termiskin sedunia, karena pembandingnya adalah yang lebih kaya. Merasa menjadi orang bodoh karena pembandingnya yang lebih pintar. Merasa menjadi paling sial dan sengsara karena pembandingnya yang lebih bahagia. Merasa menjadi orang gagal karena pembandingnya yang lebih berhasil. Pendeknya, kita sering merasa menjadi orang yang paling karunya…. perlu dimesakke.… dikasihani….., karena pembandingnya adalah yang lebih baik dari kita.

Jarang sekali kita sedikit saja introspeksi, memilih pembanding pada orang-orang yang lebih miskin, lebih bodoh, lebih sial, lebih sengsara, lebih gagal atau lebih kasihan daripada kita. Barulah nanti akan terlihat bahwa betapa kita selama ini lupa bersyukur (ya, selama ini, karena memang telah cukup lama kita lupa bersyukur).

***

Meski hanya sebentar, setidak-tidaknya berlebaran di rumah sakit telah menyadarkan kami sekeluarga akan artinya sehat. Idul Fitri 1429 H kali ini telah menjadi hari lebaran yang berbeda, yang terpaksa diindah-indahkan tapi tetap khidmat.

Hari menjelang sore ketika kemudian satu keluarga demi satu keluarga meninggalkan rumah sakit, kembali ke rumahnya, melanjutkan makan lontong opor ayam sambal goreng petai. Tinggal bapak saya terbaring lemah di balai-balai rumah sakit, kali ini sudah berkurang kabel-kabel yang menempel di tubuhnya….. Kami anak-anaknya, kembali bergantian menunggui setiap malam…..            

Yogyakarta, 3 Oktober 2008 (3 Syawal 1429 H)
Yusuf Iskandar

Dari New Orleans Ke Kendal

4 Februari 2008

(1).   Jika Mendadak Harus Pulang Kampung

Hari itu, Jum’at, 11 Pebruari 2000. saya harus memutuskan untuk segera pulang kampung karena ibu saya dalam kondisi kritis dan sudah masuk ICU di Rumah Sakit Telogorejo Semarang. Sejak tiga hari sebelumnya ketika pertama kali menerima kabar dari kampung bahwa ibu saya masuk Rumah Sakit, saya memang sudah mulai berhitung untuk pulang ke tanah air. Tapi kapan ?

Ternyata memilih hari adalah keputusan yang tidak mudah. Barangkali karena saya punya pengalaman yang tidak menguntungkan, yaitu saat menanti kelahiran anak pertama saya. Tahun 1991, saat saya masih bertugas di sebuah tambang emas bawah tanah di pedalaman Bengkulu Utara, dimana komunikasi ke luar job-site masih jadi kendala. Saya berangkat cuti sekitar dua hari sebelum hari H yang diperkirakan dokter anak saya akan lahir.

Harap-harap cemas menyertai hari-hari cuti saya di Yogya. Lewat satu minggu cuti belum ada tanda-tanda bayi akan lahir. Hingga hari kesepuluh, masih juga belum. Hari ke-11, 12, 13, terlewati masih juga belum ada tanda-tanda istri akan melahirkan. Dalam hati saya sempat ngedumel : “doktere ngapusi” (dokternya bohong). Apa boleh buat, jatah cuti dua minggu habis, maka terpaksa pulang ke job-site tinggal membawa rasa cemas saja, rasa harapnya sudah saya titipkan istri saya di Yogya. Sebenarnya bisa saja memperpanjang cuti, tapi masalahnya harus jelas sampai kapan memperpanjangnya. Dan ini yang susah.

Hari kedua setiba di job-site, saya terima tilgram bahwa istri saya sudah melahirkan dengan selamat. Akhirnya, ya cuti lagi, tapi tidak menangi (sempat melihat atau mengalami) detik-detik kemerdekaan jabang bayi anak pertama saya. Pengalaman inilah yang membuat saya sulit untuk memutuskan kapan harus pulang menjenguk ibu yang sedang ada di Rumah Sakit. Meskipun akhirnya, hari Jum’at itu saya putuskan untuk secepatnya harus pulang.

Kemudian ternyata tidak mudah untuk memperoleh tiket penerbangan dari New Orleans menuju Semarang, sebelum nantinya saya sambung dengan taksi ke Kendal. Kesulitan memperoleh tiket ini disebabkan oleh dua alasan : mendadak dan di akhir pekan. Saya dan keluarga sempat bimbang, antara saya pulang sendirian atau bersama semua keluarga. Keputusan akhirnya, saya pulang sendirian. Bukan soal biayanya, melainkan karena pertimbangan cuti pamit dari kantor yang hanya dua minggu padahal perjalanan cukup jauh, juga lantaran anak-anak sedang enjoy dengan sekolahnya.

Anak saya yang kelas 3 SD kelihatan gelo (menyesal) untuk meninggalkan sekolah sewaktu mau saya ajak pulang ke kampung. Selain itu juga lebih sulit mendapatkan tiket untuk empat orang dalam keadaan mendadak. Dengan akhirnya saya berangkat sendirian, ternyata nantinya ini akan memudahkan perjalanan saya untuk ber-manouver lebih bebas guna mencari alternatif penerbangan yang lebih cepat dalam situasi emergency seperti ini.

Agaknya, di Amerika sarana transportasi udara sudah menjadi kebutuhan, layaknya kereta api atau bis malam di Jawa. Bukan lagi kemewahan untuk mendapatkan privilege. Jika harus membeli tiket pesawat mendadak, maka selain sulit untuk membuat pilihan-pilihan, juga mesti siap dengan harga tiket yang lebih tinggi.

Dalam situasi tidak mendadak, peluang untuk memperoleh harga tiket murah sangat dimungkinkan, bahkan bisa kurang dari seperempatnya. Demikian halnya di saat akhir pekan (biasanya hari Jum’at hingga Minggu) adalah saat padat penumpang yang akan liburan ke luar kota atau pulang ke daerah asalnya bagi para pekerja pendatang dari lain kota.

Untungnya soal harga tiket ini sudah tidak menjadi perhitungan saya, karena perjalanan saya dibiayai oleh kantor. Meskipun demikian toh saya tidak berhasil memperoleh tiket untuk hari Sabtu besoknya.

Berkat bantuan sekretaris kantor yang berbaik hati menguruskan tiket (meskipun saat itu dia sedang berakhir pekan), saya bisa berangkat hari Minggunya. Pemesanan tiket melalui layanan 24 jam tiket elektronik (e-ticket) melalui media internet, memudahkan saya untuk hari Minggunya tinggal datang saja langsung ke bandara. Dengan menunjukkan kartu identitas, maka tiket kertas (paper ticket) bisa dikeluarkan.

Rutenya adalah hari Minggu pagi berangkat dari New Orleans ke Dallas-Ft.Worth, langsung sambung ke Tokyo dan akan tiba di Tokyo hari Senin sore. Menginap semalam di Tokyo, untuk Selasa besoknya menuju Jakarta, dan dijadwalkan tiba di Jakarta sudah menjelang malam. Saat itu saya tidak terlalu memusingkan tentang rencana perjalanan tersebut. Bisa berangkat hari Minggu saja sudah senang rasanya.

Itu sebabnya, kemudian saya belakangan khawatir apa kira-kira masih bias nyambung ke Semarang malam itu juga untuk selanjutnya menuju ke Kendal. Jika tidak, artinya saya baru akan tiba di rumah hari Rabunya. Tanpa pikir panjang saya langsung menghubungi juragan milisi Upnvy*), siapa tahu beliau bisa membantu memberi info, karena saat itu saya sudah telanjur unsubscribe.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar

__________

*) milisi Upnvy : sebutan untuk mailing list alumni UPN “Veteran” Yogyakarta, serta para simpatisan.