Posts Tagged ‘tele mining’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (6)

2 Maret 2008

Brisbane, 2 Nopember 2000 – jam 23:30 (20:30 WIB)

Seharian tadi rangkaian acara hari terakhir konferensi MassMin 2000 diisi dengan Workshop dan Diskusi Panel. Jumlah pesertanya tinggal kira-kira setengah dari hari-hari sebelumnya, karena memang sudah banyak peserta yang pulang meninggalkan arena konferensi dan tidak mengikuti acara diskusi panel. Peserta pameran juga sudah pada bubar.

Makalah-makalah yang dibahas seharian tadi cukup menarik, sehingga banyak peserta yang bertahan hingga selesai. Padahal selesainya agak molor hingga 45 menit, karena waktu yang disediakan untuk diskusi panel ternyata memang kurang panjang. Apa boleh buat, diskusi tetap harus diakhiri.

Agenda Workshop yang mengisi setengah hari pertama diisi dengan paparan beberapa tema yang terutama berkaitan dengan studi rock mechanic dalam kaitannya dengan penerapan sistem penambangan metoda caving. Di antaranya di tambang tembaga Philex di Philiphina, tambang tembaga Tongkuangyu di China, tambang tembaga El Teniente di Chili, tambang tembaga dan emas Freeport di Indonesia dan tambang tembaga dan emas Northparkes di Australia. Kajian tentang mekanika batuan ini memang mendominasi berbagai topik pembahasan selama konferensi karena mekanika batuan adalah parameter utama dalam penerapan metode caving endapan bijih massif.

Selepas istirahat makan siang, lalu memasuki forum diskusi panel yang mengetengahkan tiga topik berbeda, yaitu : “Cave Predictability”, “Equipment Selection and Future Technology” dan “Cave Planning and Construction”. Topik kedua tentang teknologi baru dalam operasi penambangan termasuk salah satu yang cukup menarik. Meskipun makalah yang disajikan oleh perusahaan alat-alat tambang Sandvik Tamrock selaku sponsor utama konferensi ini agak berbau promosi dagang, namun tetap saja ada hal-hal yang menarik untuk dikaji.

Presentasi dari Sandvik Tamrock yang dibawakan sendiri oleh Presidennya ini antara lain diisi dengan pengenalan alat-alat tambang, bawah tanah khususnya, yang berteknologi baru. Penggunaan alat-alat baru ini pada gilirannya akan merubah operasi suatu tambang dapat dilakukan dengan tele-mining, yaitu operasi penambangan yang dilakukan dari jarak jauh. Diperlihatkan melalui tayangan video bagaimana operasi pemboran, pengisian bahan peledak dan peledakan bawah tanah dapat dilakukan hanya oleh seorang operator yang duduk di depan layar monitor di ruang kontrol. Demikian halnya operasi pengerukan, pengangkutan dan penumpahan hasil peledakan dengan menggunakan alat LHD, termasuk operasi pengangkutan dengan truck.

Bagi mereka yang sempat hadir di forum Minexpo 2000 di Las Vegas awal Oktober yll. Tentunya akan dapat berceritera lebih lengkap tentang peralatan tambang berteknologi tinggi dan tele-mining. Namun secara umum dapat dibayangkan ilustrasi seperti ini :

Seorang wanita cantik berpenampilan bak sekretaris di Jl. Sudirman – Jakarta, masuk ruangan kaca ber-AC, duduk manis di kursi yang empuk menghadap layar monitor, tangan dan jemarinya yang berkutek menggerak-gerakkan stick dan sesekali memencet tombol, sambil terus menatap layar monitor memainkan gambar alat bor, alat muat dan alat angkut. Pada saat yang sama alat-alat tambang yang sebenarnya sedang bergerak dan berjalan sendiri layaknya sebuah mainan mengeruk bongkahan bijih, memuat ke atas truck, mengangkut ke mulut crusher dan menumpahkan isinya.

Lalu pada kemana para underground miner yang memakai pakaian kerja tambang lengkap dengan lampu di topinya dan membawa self rescuer, mengoperasikan alat bor, alat muat, alat angkut, pagi masuk tambang sore baru keluar atau sebaliknya? Ya digantikan oleh wanita cantik itu.

Agaknya ilustrasi di atas (bukan tidak munkin) tidak lama lagi bakal menjadi kenyataan, demikian yang sempat saya lihat dari tayangan video promosi alat-alat berteknologi tinggi untuk operasi tele-mining. Sudah barang tentu tidak semua jenis pekerjaan di tambang bawah tanah akan dapat di-tele-mining-kan. Barangkali pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kejadian seperti ilustrasi di atas bukanlah hanya sebuah khayalan.

Apakah cocok diterapkan di setiap tambang, termasuk Indonesia? Itu soal lain. Mestinya akan ada peraturan yang mengaturnya. Kalau tidak, lha njuk mau dikemanakan tenaga kerja tambang yang ada saat ini, terutama yang ada di perusahaan-perusahaan besar yang dari segi investasi dan sumber dananya tidak mengalami masalah. Yang ingin saya katakan sebenarnya adalah bahwa harus ada pihak-pihak yang sudah mulai memikirkan untuk mengantisipasi hal-hal semacam itu, yang jelas bukan hil yang mustahal. Siapa ? Ya, embuh….. Asal jangan terlambat start saja dengan peserta lomba lari dalam rangka menyambut globalisasi.

***

Meskipun agenda konferensi sudah berakhir tadi sore, namun masih ada satu rangkaian kegiatan yang akan diselenggarakan besok tanggal 3 Nopember 2000 yaitu kunjungan tambang. Tambang yang akan dikunjungi adalah tambang tembaga Northparkes yang berada di wilayah kota Parkes di negara bagian New South Wales, Australia. Tambang Northparkes ini dikenal sebagai tambang yang mempunyai produktivitas paling tingi sedunia.

Malam ini saya mau mengepak barang karena besok pagi akan bergabung dengan rombongan yang akan menuju ke tambang Northparkes. Direncanakan perjalanan akan ditempuh dari Brisbane naik pesawat ke selatan menuju Sydney, lalu disambung dengan penerbangan lagi kira-kira satu jam dari Sydney ke arah barat menuju kota Parkes.

Yusuf Iskandar

Iklan

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar