Posts Tagged ‘telaga punggur’

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(1).  Menuju Kota Gurindam

Kebiasaan lama. Begitu masuk hotel langsung nggeblak di tempat tidur, ngolet ngiwo-nengen (menggeliat ke kiri ke kanan), meregang otot. Setelah agak enakan sedikit, baru bangun lagi. Seharusnya acara nggeblak itu berlangsung sekitar jam 12 siang, sehingga setelah itu punya waktu longgar setengah hari untuk melakukan aktifitas lain yang sudah direncanakan. Namun apa daya, Pak Adam telat lagi (Adam Air, maksudnya) sehingga baru sekitar jam 5 sore saya bisa melampiaskan kebiasaan nggeblak di hotel.

Menurut jadwalnya, Pak Adam  berangkat dari Jogja jam 6:30 pagi menuju Jakarta. Kemudian akan disambung Pak Adam lainnya menuju Batam. Karena terlambat take-off di Yogya, lalu terlambat lagi di Jakarta, walhasil terlambat pula mendarat di bandara Hang Nadim, Batam.

Keluar dari bandara Hang Nadim langsung nyingklak taksi menuju pelabuhan penyeberangan Telaga Punggur. Taksi bandara Batam lumayan bagus-bagus. Beroperasi tanpa argo-argoan, tanpa tawar-menawar, pokoknya dari bandara ke Telaga Punggur ongkosnya sekitar Rp 60.000,- atau Rp 65.000,-  untuk waktu tempuh sekitar setengah jam. Wong cuma melalui dua belokan saja. Dari bandara belok kiri lalu ke kiri lagi dan belok kanan lalu ke kanan lagi sudah sampai. Jalannya pun bagus dan lancar.

Dari pelabuhan Punggur (begitu orang menyebut singkatnya), lalu menyeberang naik feri ke pulau Bintan. Tepatnya menuju kota Tanjung Pinang, yang sementara ini disebut sebagai ibukota propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Saya baca di koran lokal Kepri Pos, DPRD tingkat I propinsi Kepri telah memilih kota Dompak Darat menjadi calon ibukota propinsi Kepri, melalui proses pemilihan yang katanya kontroversial.

Sarana angkutan penyeberangan Punggur – Tanjung Pinang pp. ini beroperasi setiap setengah jam dari jam 7:30 pagi hingga jam 8 malam bolak-balik. Jadi memang agak fleksibel pilihan jadwalnya. Tinggal pilih menggunakan feri yang berukuran agak besar atau sejenis speed boat yang berukuran agak kecil. Kami memilih feri besar “Baruna” dengan pertimbangan jalannya lebih mantap dan tidak banyak goyangan saat jalan cepat diterpa gelombang, tidak seperti halnya kalau naik speed boat yang berukuran lebih kecil. Beli tiket ferinya juga fleksibel, bisa milih sekali jalan Rp 35.000,- per orang atau sekaligus tiket pergi-pulang Rp 60.000,- berlaku untuk jam dan hari kapan saja dalam periode satu bulan.

Begitu memasuki pelataran di depan loket-loket penjual tiket di Punggur, langsung disambut dengan teriakan para penjual tiket, bukan calo. Mereka berteriak-teriak dari dalam loket sambil menawarkan tiket masing-masing jasa angkutan penyeberangan. Ramai dan berisik sekali, seperti ramainya Tempat Pelelangan Ikan. Lucunya, mereka berteriak-teriak sambil menyebutkan harganya, sambil melambai-lambaikan tangannya, sambil kepala-kepalanya (karena banyak) menyembul keluar dari lubang tiket. Seperti jam dinding yang ada burungnya lalu kepalanya nongol keluar kalau pas loncengnya berbunyi.

Karena sejak semula sudah diberitahu sebaiknya menggunakan jasa penyeberangan yang mana dan beli tiket di loket yang sebelah mana, maka ya teriakan-teriakan itu tidak perlu dihiraukan. Langsung saja menuju loket feri “Baruna” dan membeli tiket untuk perjalanan pergi-pulang sekaligus.

Akhirnya tiba di Tanjung Pinang setelah menempuh sekitar satu jam perjalanan laut. Perjalanan laut ini menyusuri selat-selat kecil di antara ratusan pulau-pulau kecil yang tersebar menjadi satu gugusan kepulauan dalam wilayah administratif propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Tampak sebuah papan nama besar bertuliskan “Welcome to Port of Sri Bintan Pura” terpampang di dermaga penyeberangan penumpang Tanjung Pinang. Agaknya pulau ini memang menjadi salah satu tempat tujuan wisata turis mancanegara, sebagai tujuan tambahan bagi mereka yang ke Singapura yang memang tidak terlalu jauh jaraknya.

Para wisatawan asing itu umumnya melancong ke pulau Bintan untuk bersantai, beristirahat di kawasan pantai tropis. Maka bukan kota Tanjung Pinang yang terletak di sisi selatan pulau Bintan yang menjadi tujuan mereka, melainkan beberapa kawasan pantai utara yang terkenal dengan keindahan pantainya yang masih alami seperti kawasan pantai Trikora dan pantai Lagoi, juga yang terkenal dengan kawasan Bintan Resort dimana banyak berdiri hotel-hotel mewah dan lapangan golf bertaraf internasional.

***

Hari sudah sore saat saya menginjakkan kaki di daratan pulau Bintan, dengan Tanjung Pinang sebagai kota terbesarnya yang dihuni oleh kurang dari 200 ribuan jiwa. Masyarakat Tanjung Pinang bangga menyebut kotanya sebagai Kota Gurindam, merujuk pada sejarah seorang tokoh sastra abad 18, Raja Ali Haji yang kesohor dengan karya sastranya Gurindam Duabelas. Terakhir pak Raja Ali Haji ini telah dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Kota Tanjung Pinang ini agak unik. Bukan karena kecantikan kotanya, melainkan karena membuat saya kesulitan untuk melakukan orientasi medan dengan cepat. Kotanya berbukit-bukit, jalan-jalan kotanya mlungker-mlungker (tidak lurus), persimpangan jalannya miring-miring, sehingga saya selalu kehilangan arah untuk menunjuk dengan tepat arah mata angin. Hanya pada belahan kota yang berada di dekat-dekat laut mengesankan sebagai sebuah kota kuno Melayu, yang sesungguhnya sangat menarik seandainya ditata dengan baik, mumpung belum padat penduduknya. Namun sayang pertumbuhan dan perkembangan kawasan kota selebihnya terkesan semrawut dan dikhawatirkan cenderung menuju kekumuhan.

Keunikan lainnya, di mana-mana banyak dibangun ruko dan kompleks pertokoan, yang kini banyak terhenti karena menunggu suplai listrik yang memang angat terbatas. Sementara populasi Tanjung Pinang ini tidak terlalu padat. Lha, njuk siapa yang mau beli aneka properti bisnis itu. Rasanya pas kalau kota ini juga dijuluki “Kota Ruko”, sangking banyaknya ruko bertebaran dibangun di mana-mana dan semuanya sekarang dalam keadaan kosong atau tidak ada aktifitas. Seorang kawan yang warga Tanjung Pinang pun merasakan keheranannya dengan perilaku pebisnis properti ini. 

Setelah turun dari feri langsung saja meninggalkan pelabuhan dan bahkan keluar meninggalkan kota Tanjung Pinang menuju ke pinggiran kota arah timur. Akhirnya berhenti mencari penginapan di sebuah hotel di kawasan Batu 9 (istilah lain untuk kilometer 9), tidak jauh dari kawasan bisnis Bintan Center. Ya lalu nggeblak di tempat tidur hotel itu tadi…..

Tanjung Pinang, Kepri – 10 April 2006
Yusuf Iskandar 

Menjelajah Kota Gurindam Di Pulau Bintan

11 Maret 2008

(8).  Semalam Di Batam

Ini sebutan semalam versi saya yang orang Jawa, maksudnya saya menginap satu malam di Batam. Sebab kalau versinya orang Melayu Riau, semalam maksudnya adalah hari kemarin. Ya, kami memang sengaja menyempatkan untuk menginap satu malam di mBatam sebelum kembali ke Jogja. Hitung-hitung sekedar refreshing setelah muter-muter di Bintan.

Siang kemarin telah kami tinggalkan pulau Bintan dengan bauksitnya dan Tanjung Pinang dengan kopi O-nya yang mbludak….. Di pelabuhan feri kami tidak repor-repot lagi membeli tiket penyeberangan, karena  tiket pergi-pulang feri “Baruna” yang kami beli di Punggur saat berangkatya masih berlaku untuk perjalanan kembali dari Tanjung Pinang, ke Telaga Punggur lagi.

Setiba di Batam sebenarnya kami belum tahu hendak kemana. Yang kami tahu hanya ada tempat yang terkenal dengan nama Nagoya. Ya itu saja pedomannya. Maka naik taksi dari Telaga Punggur pun cukup dengan meminta tolong pak sopirnya agar dicarikan hotel murah di sekitar Nagoya. Kata “murah” yang menjadi kata kuncinya. Itulah bedanya dengan dulu sewaktu masih jadi orang gajian di sebuah kumpeni kelas antarbangsa.

Dulu kalau plesir semuanya sudah di-set lengkap sejak sebelum berangkat, termasuk hotel yang berbintang-bintang. Sehingga ketika meletakkan pantat di taksi pun bisa sambil dehem-dehem….., sambil rada nggleleng menyebut nama hotelnya. Sedangkan kini harus memposisikan diri bak seorang petualang kehabisan bekal. Meskipun ada yang mbayarin, namun toh mesti tanggap ing sasmito bahwa itu bukan privilege melainkan sekedar sarana. Toh fungsi hotel sebenarnya hanya untuk nggeblak (merbahkan tubuh) dan buang hajat saja…..  Akhirnya kami temukan sebuah hotel yang agak murah, kelas backpacker naik sedikit, di bilangan wilayah pinggiran Nagoya.

Acara pertama di Batam adalah jalan-jalan sore, menemukan kedai kopi di salah satu sudut perempatan jalan. Lalu ngopi sepuasnya sambil ngobrol ngalor-ngidul. Menikmati pemandangan lalu lintas kota Batam yang semrawut, lebih-lebih di perempatan jalan yang tanpa lampu lalu lintas. Menikmati berseliwerannya aneka merek dan jenis mobil yang tidak pernah ditemui di tempat lain di Indonesia.

Tentu saja saya tahu, bahwa pemandangan kesemrawutan yang saya potret sore itu adalah bukan mewakili  keseluruhan lalu lintas di pulau Batam. Sebab di belahan lain pulau ini, terutama di luar kota, saya justru menikmati rapi dan bagusnya pengaturan lalu lintas, penataan rambu jalan dan tata ruang jalan, yang menyerupai di negara maju. Menempuh perjalanan dari Telaga Punggur ke bandara atau ke kawasan kota, rasanya seperti sedang melaju di sebuah highway di Amerika. Sayang, kerapian dan kebagusan ini tidak konsisten saat memasuki kawasan bisnis dan pemukiman.

***

Batam diidentikkan sebagai halaman belakang Singapura. Di sini ada lebih dari 500 perusahaan asing telah menanamkan investasinya, yang berarti terbukanya banyak lapangan kerja. Pulau seluas 400 km2 itupun dikembangkan dan ditata sedemikian rupa agar siap mengimbangi kemajuan bisnis dan investasi yang datang dari tanah seberang. Namun sepintas nampaknya kesiapan penataan ruang dan wilayahnya baru sempat menyentuh sektor-sektor yang terkait langsung dengan kemajuan industri saja.

Bisa jadi penglihatan saya yang hanya semalam ini salah. Namun ketika saya berkesempatan mengunjungi rumah seseorang di sebuah kompleks perumahan, agaknya dugaan saya agak-agak benar. Pertumbuhan penduduknya jauh lebih cepat dari tata ruang yang direncanakan. Akibatnya ibarat kebanyakan menuang kopi O dalam cangkir kecil, ya mbludak kemana-mana tanpa sempat direncana.

Keberadaan industri di Batam telah menarik minat pendatang dan pencari kerja, berduyun-duyun memasuki pulau Batam untuk mengadu untung tanpa bekal keahlian yang memadai. Karena mbludak, maka tingkat pengangguran menjadi cukup tinggi dibanding tempat-tempat lain di Indonesia. Sementara pada saat yang sama Batam dibanggakan sebagai kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi.

Memang pertumbuhan penduduknya luar biasa. Tahun 1995 penduduk Batam masih sekitar 196 ribu jiwa, tapi tahun 2002 sudah mencapai lebih 560 ribu jiwa. Sekarang? Suk-sukan ora karu-karuan (berdesakan tidak karuan) di pusat keramaian…… Terhimpun dalam cluster-cluster di tengah hamparan luas tanah gersang yang mengandung banyak macam mineral tambang, karena memang tidak sembarangan boleh membuka lahan untuk pemukiman.

Keadaan ini membuat ingatan saya terbang ke ujung timur, ke kota Timika di Papua. Kejadiannya sungguh mirip dengan Batam. Tidak ada yang pernah menyangka bahwa pertumbuhan kota Timika akan sedemikian pesatnya sebagai dampak dari beroperasinya perusahaan tambang raksasa Freeport di lokasi dalam radius kurang dari 100 km. Akibatnya pihak pemerintah setempat jadi “telmi”, mangsudnya, benar-benar terlambat untuk memikirkan. Belum sempat selesai memikirkan bagaimana sebaiknya menata ruang dan wilayah kota Timika secara integratif. Eeee….., enggak tahunya pertumbuhan penduduknya lebih cepat luar biasa. Jadinya, ya mbludak ….., penduduk yang bertambah-tambah itu menempel di mana-mana jadi sulit dikendalikan.

Ibarat tanaman, tumbuh sak thukule, asal tumbuh di mana saja. Padahal dulu sempat terpikir untuk membuat penataan kota agar menjadi lebih baik, sehat dan indah. Tapi ya terlambat, keburu para petualang pencari kerja berdatangan dari mana-mana. Ibarat mengambil KPR tipe 36 di atas lahan 100 m2. Belum seperempat cicilan dipenuhi, tahu-tahu sudah mbegogok (nongkrong) rumah tingkat di atas lahan 100 m2 penuh-nuh, tanpa sisa sedikitpun bahkan untuk sekedar menaruh pot bunga. Akhirnya, pak Camat pun bengong-terbengong melongo…..

***

Sambil jalan-jalan menyusuri pertokoan, saya sempatkan membeli koran Jakarta. Maklum beberapa hari ini rada ketinggalan informasi nasional. Kata seorang pelayan toko yang agaknya pendatang dari Jawa, mengatakan bahwa kalau soal makan maka Batam adalah tempatnya. Jadi tidak perlu khawatir soal makan apa atau dimana. Pernyataan ini tidak salah, namun agaknya ada yang kurang.

Tidak dipungkiri, Batam sudah menjadi pilihan tempat hiburan bagi masyarakat Singapura, juga Malaysia. Soal makan sebenarnya hanya aktifitas sampingan saja. Wong namanya orang hidup ya pasti butuh makan. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa yang sebenarnya menjadi tujuan utama turis akhir-pekanan dari Singapura dan Malaysia (ngngng….. rasanya dari Indonesia juga…..) adalah main golf, berjudi dan “esek-esek”. Yang terakhir inilah yang kemudian mendominasi bisnis hiburan di Batam. Dampaknya meluber ke pulau tetangga dekatnya, yaitu pulau Bintan dan Karimun. Maka sangat beralasan kalau masyarakat penduduk asli ketiga pulau itu yang umumnya adalah masyarakat yang taat dalam beragama, semakin hari semakin risau melihat “kemajuan” jaman yang tidak terelakkan.

Tidak di Batam, tidak di Bintan, tidak terkecuali di pulau Karimun. Seorang teman yang tinggal di Karimun mengeluh bahwa keluarganya terpaksa menjual rumahnya yang ada di kota yang sudah turun-temurun ditinggali, lalu terpaksa pindah. Pasalnya rumah keluarga besarnya yang ada di kota Tanjung Balai, Karimun, itu kini sudah dikepung dengan fasilitas entertainment (ini adalah kata lain untuk bisnis bernuansa “esek-esek”). Akhirnya keluarga teman tersebut merasa risih dan mengalah pindah ke luar kota.

***

Berbekal semangat ingin melihat suasana beda di tempat yang baru pertama kali saya datangi. Maka satu malam di Batam pun tidak ingin saya lewatkan begitu saja dengan nglekerrr….. (tidur nyenyak). Satu-satunya hiburan yang cocok adalah makan. Di Batam banyak pilihan tempat makan, seperti kata penjual koran tadi. Akhirnya kami memilih untuk makan malam di “Nagoya Food Court”. Kelihatannya ini tempat yang representatif untuk menggapai suasana berbeda, di kesempatan yang hanya semalam.

“Nagoya Food Court” adalah arena terbuka sangat luas yang dikelilingi oleh kedai-kedai yang menawarkan aneka menu masakan. Mirip-mirip pujasera yang ada di Tanjung Pinang, bedanya “Nagoya Food Court” ini bangunannya lebih permanen, tertata rapi, bersih dan enak dikunjungi. Ideal juga bagi yang membawa keluarga karena tersedia juga arena bermain untuk anak-anak. Selain itu, di bagian tengah arena makan-memakan ini terpasang layar tancap. Menu utamanya memang ikan-ikanan (sea food), tapi lebih banyak variasi jenis masakannya, termasuk kalau menginginkan masakan ala Jawa.

Memasuki tempat ini, lalu tolah-toleh mencari tempat kosong di antara pengunjung yang cukup ramai. Begitu duduk langsung dikerubuti oleh para SPG yang mengenakan pakaian seragam masing-masing sambil menawarkan produk bir segala macam merek. Karena kami memesan teh obeng, akhirnya mereka bubar jalan. Tinggal pelayan biasa yang menawarkan menu masakan biasa.

Sampai selesai makan, kami masih merasa betah ngobrol sampai malam. Suasananya memang tidak membosankan, hingga kami pun dapat benar-benar menikmati malam di Batam dalam suasana santai. Agaknya inilah suasana berbeda yang dapat saya peroleh dalam masa yang hanya semalam. Saya memang tidak punya banyak kesempatan untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang Batam. Mudah-mudahan masih ada kesempatan berikutnya. Insya Allah.

“Sampun nggih, pareng ……”

Batam, Kepri – 14 April 2006
Yusuf Iskandar