Posts Tagged ‘teater’

Teriakan Seorang Bapak Kepada Anak Gadisnya

5 Agustus 2010

Lagi enak-enaknya DDS (duk-dudduk sorre…) di depan toko, aku dikejutkan dengan teriakan seorang bapak kepada gadis kecil yang sedang naik motor. “Hey… Mulih, sinau! Mulih, sinau! (Pulang, belajar!)”, teriaknya lantang. Si anak senyum saja.

Ada tiga opsi muncul di pikiranku: Si anak memang bandel nggak pernah belajar, si bapak begitu peduli dengan sekolah si anak, atau mereka memang keluarga seniman teater yang di rumah biasa berlatih sambil bengok-bengok (teriak-teriak).

Yogyakarta, 29 Juli 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Takziah Kepada Seorang Teman Lama

12 Februari 2010

Takziah ke Purbalingga kemarin. Seorang teman SMA (lebih 30 tahun yll), kemarin meninggal karena komplikasi (ini sebutan penyakit campursari yang dokter pun bingung menentukan faktor dominannya). Kepada istrinya yang dulu teman bermain teater, saya berpesan: “Ini musibah, dan kamu harus yakin ini pasti yang terbaik bagi suamimu & keluargamu. Lanjutkan ibadahnya, bersama anak-amakmu…” (mudah-mudahan istrinya tidak menganggap saya sedang membaca puisi…)

(Selamat jalan sahabatku, Achmad Budiono. Semoga engkau selalu ada dalam damai di tempat terbaik di haribaan Allah swt. Amin)

Yogyakarta, 12 Pebruari 2010
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(21).    Suatu Malam Di Broadway

Salah satu nama jalan yang sangat terkenal di kota New York atau tepatnya Manhattan adalah jalan Broadway Avenue. Ini adalah jalan berarus lalulintas searah yang memanjang diagonal dari arah barat laut menuju tenggara wilayah Manhattan. Jalan ini menjadi terkenal karena adanya panggung-panggung teater serta menjadi pusat aktifitas seni khususnya seni teater di New York.

Ada sekurang-kurangnya 33 panggung teater bertebaran di sekitar jalan Broadway. Meskipun sebenarnya hanya dua panggung teater saja yang benar-benar berlokasi di jalan Broadway, selebihnya berada di jalan-jalan sekitarnya yang memang berada di seputaran Broadway. Tepatnya gedung-gedung teater ini berada di sekitar Times Square, dan menyebar antara jalan 41st dan 55th Street di sebelah selatan dan utaranya, serta antara Sixth dan Eighth Avenue di sebelah timur dan baratnya.

Demikian populernya tentang pementasan teater di Broadway ini, sehingga untuk lakon-lakon tertentu bisa dilakukan pementasan setiap malam untuk periode yang sangat lama, hingga berbulan-bulan. Untuk menyaksikan pertunjukan teater di Broadway memang perlu jeli untuk mendapatkan harga tiket yang murah karena setiap saat setiap gedung memberikan harga sale dengan potongan harga. Bahkan pemesanan tiket pun dapat dilakukan sejak 3 bulan hingga setahun sebelumnya.

***

Di hari Jum’at malam. 7 Juli 2000 itu, yang adalah malam terakhir kami di New York sebelum esoknya akan melanjutkan perjalanan, kami sempatkan untuk jalan-jalan menyusuri sepenggal jalan Broadway. Broadway yang kami lihat malam itu adalah Broadway yang gemerlap dan sibuk seperti tak kenal waktu.

Pementasan teater hanyalah bagian kecil saja dari kesibukan Broadway, selebihnya adalah pertokoan, arena entertainment, termasuk pedagang kaki lima, di tengah ribuan pengunjung pejalan kaki yang entah memang berniat belanja atau sekedar berekreasi. Dan kami adalah empat orang dari ribuan pejalan kaki yang berseliweran di Broadway malam itu. 

Saya sempat berhenti sebentar di depan gedung teater yang malam itu mementaskan lakon “Miss Saigon”. Pementasan tentang lakon ini bahkan sudah saya ketahui sejak setahun yang lalu. Saya memang sangat berkeinginan untuk menyaksikan pementasan ini. Ketertarikan saya selain karena saya tertarik dengan setting dan alur cerita lakon ini, juga karena menyaksikan teater di Broadway pernah menjadi impian saya sewaktu masih sekolah dulu.

Di jaman sekolah dulu, baik sewaktu tinggal di Yogya maupun di Bandung, sewaktu sedang asyik-asyiknya menggandrungi seni teater, saya pernah berkhayal alangkah bangganya kalau pada suatu saat nanti saya sempat menikmati pementasan seni teater di Broadway, di kota New York. Sedikitpun tidak pernah terlintas di pikiran bahwa kesempatan itu akan datang sekian belas tahun kemudian. Bukan hanya saya, teman-teman saya yang juga pecinta seni teater juga punya khayalan yang sama.

“Kesempatan itu ada di depan mata saya, malam ini”, kata saya dalam hati. Sesaat saya pandangi poster-poster pertunjukan yang terpasang di teras depan gedung Broadway Theater. Anak saya sempat sewot : “ngapain sih ngeliatin gambar-gambar begitu”. Agaknya ada tukang karcis, atau barangkali calo penjual karcis, yang memperhatikan saya. Lalu dia menawari tiket dengan harga sale untuk saya malam itu. Dan terpaksa saya jawab dengan sopan : “No, thank you“.

Ternyata memang tidak setiap keinginan atau bahkan obsesi sekalipun, harus diwujudkan ketika kesempatannya telah tiba. Ya, seperti malam itu. Keinginan sudah menggebu-gebu, kesempatan sudah di ambang pintu, rasanya uang di saku juga masih lebih dari cukup. Tapi toh akhirnya semua bangunan ego saya harus saya rubuhkan.

Lha, bagaimana dengan anak-anak dan istri saya? Karena sudah pasti mereka tidak akan dapat menikmati apa yang akan mereka lihat di panggung teater sebagaimana saya menikmati pementasannya. Selalu saja muncul pertimbangan lain ketika kita akan berniat mewujudkan sebuah keinginan. Sangat berbeda kejadiannya dengan ketika pertama kali keinginan itu muncul, sekian tahun yang lalu. 

***

Jalan-jalan menyusuri Broadway malam itu segera saya lanjutkan bersama anak-anak dengan keluar-masuk toko, menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain. Membeli sekedar cendera mata agar suatu saat nanti mereka dapat berceritera kepada para tetangga di kampung bahwa kami pernah ke New York.

Di satu sudut jalan kami berhenti lagi. Ada seorang berkulit hitam dengan seperangkat alat musik drum sedang bermain solo. Demikian enerjiknya orang itu sehingga mengundang perhatian para pejalan kaki, setidak-tidaknya untuk berhenti menyaksikan ketrampilan solo-drummer dengan hentakan-hentakan musiknya dan pukulan-pukulan ritmisnya yang membuat beberapa orang bergoyang-goyang sendiri. Lalu diakhiri dengan tepuk tangan penonton memberi apresiasi.

Ujung-ujungnya, seorang teman dari pemain drum tersebut menawarkan CD yang berisi rekaman-rekaman musiknya. Ah, ada-ada saja kreatifitas orang untuk menjajakan dagangannya. Tapi setidak-tidaknya mereka sedang bekerja keras untuk mengais rejeki yang halal. 

Kemudian kami masuk ke sebuah toko elektronok, satu dari sekian banyak toko elektronik yang tersebar di wilayah seputar Broadway. Bagi sementara orang, wilayah Broadway ini menjadi semacam sorga bagi peminat barang-barang elektronik. Selain karena banyaknya macam dan model yang ditawarkan, juga adanya peluang untuk memperoleh harga yang agak miring bagi mereka yang paham harga-harga barang elektronik dan tentunya lincah dalam urusan tawar-menawar. Termasuk di antaranya berbagai jenis perangkat tata suara, komputer, kamera, games, dsb.

Sekali kita menanyakan tentang suatu barang, maka akan dengan lihai para penjual itu merayu dan mempromosikannya, tentu dengan maksud agar kita terpengaruh membeli barangnya. Untungnya, semua itu mereka lakukan dengan tetap menghargai posisi kita sebagai konsumen, tidak dengan cara yang kasar. Setidak-tidaknya, demikian yang sempat saya alami.

Menyusuri jalan Broadway di New York di saat malam hari, kami merasakan suasana yang cukup aman. Ini dikarenakan hampir di setiap sudut-sudut kota dan pertokoan banyak kami jumpai para petugas keamanan. Terlihat kesan seperti di film-film layar lebar dimana para anggota NYPD (New York Police Department) yang banyak dijumpai di mana-mana, sepertinya siap setiap saat memburu penjahat. Agaknya ini memang menjadi bagian dari layanan pemerintah daerah New York untuk menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi ribuan wisatawan yang setiap menit bertebaran di seputar kota New York.

Lama-lama rupanya anak-anak kecapekan berjalan kaki keluar-masuk toko. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk kembali saja ke hotel. Sebelum sampai di hotel, kebetulan melewati restoran Cina. Maka seperti biasa, menu yang “mengandung” nasi putih pun tidak kami lewatkan. Hanya saja malam itu kami tidak makan di restoran, melainkan pesan for to go atau minta dibungkus untuk dibawa ke hotel saja.

Anak-anak sudah benar-benar ingin beristirahat. Berbeda dengan bapaknya, setiba di hotel lalu minta ijin untuk kembali turun ke Broadway sendirian. Mengulangi lagi menyusuri Broadway dan jalan-jalan di sekitarnya, karena tiba-tiba ingat persediaan rokok Marlboro-nya habis. 

Suatu malam di Broadway, akan menjadi catatan kenangan tersendiri. Di sana sebuah impian pernah dikorbankan untuk tidak jadi menyaksikan pementasan teater Broadway. Sekalipun sudah di depan mata untuk dapat mewujudkannya, namun toh terpaksa harus dilupakan demi kepentingan lain yang lebih masuk akal dan tidak egois.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar