Posts Tagged ‘tasikmalaya’

Ramadhan Dan Goyang Jabar

3 September 2009

Gempa 7,3 SR melanda Jabar, berpusat di laut selatan baratdaya Tasikmalaya, Jawa Barat. Sementara data melaporkan ada sekian puluh jiwa melayang, sekian ratus manusia terluka, sekian ribu rumah rusak parah, dan tak terhitung jumlahnya yang resah wal-gelisah terantuk musibah.

Pikiran saya melayang teringat gempa Jogja 5,9 SR, 27 Mei 2006, ketika di pagi hari tiba-tiba bumi Jogja bergoyang patah-patah selama 57 detik. Padahal pantasnya kalau Jogja itu goyangnya lemah gemulai bak tari Bedoyo, bukannya patah-patah seperti di Jabar yang kemudian menyebakan rumah-rumah rubuh mak breg….., dan sekian ribu manusia pun berpulang ke haribaan Sang Maha Penggoyang.

Siapapun mafhum bahwa gempa itu pasti akan terjadi tanpa aba-aba. Musibah itu akan tetap melanda bumi Jabar dan kawasan sekitarnya, karena memang demikian kepastian yang telah ditulis di dalam buku besarnya Sang Pemilik Bumi. Bukan peristiwa kebetulan, melainkan skenario yang sudah terencanakan dengan manis dan indah. Hanya manusia saja yang seringkali kurang pandai membaca tanda-tanda kebesaran Sang Maha Pemilik Rencana.

Seandainya manusia ini mempunyai kemampuan untuk terbang ke langit tingkat tujuh yang berjuta tahun jaraknya dan kemudian menyaksikan bagaimana sistem tata surya ini bermanuver, niscaya akan paham bahwa bagi Tuhan, bumi ini bak sebutir pasir terbawa angin muter-muter. Maka tahulah bahwa bumi Jabar hanyalah bagian kecil saja dari butir pasir itu, apalagi manusia-manusianya yang pethenthang-pethentheng tidak paham juga kalau keberadaannya nyaris tak terdefinisikan.

Apa artinya? Untuk mengacak-acak bumi Jabar, bagi Tuhan adalah semudah menghembuskan asap rokok Marlboro merah yang diarahkan ke kerumunan pasir, tinggal clik….. seperti menggesekkan ibu jari dan jari tengah…. Lalu berantakanlah bumi Jabar dan manusia-manusianya, Ada yang mati, ada yang hilang, ada yang cedera, dan ada yang menangis, ketakutan, stress, bingung, menggerutu. Tapi ada juga yang ikhlas dan hatinya semeleh, pasrah dan nerimo…., bahwa ini adalah sebuah kepastian. Siap atau tidak siap, sudah kaya atau masih miskin, sudah dilantik jadi anggota Dewan atau masih berperkara, sebodo teuing….. bumi Jabar akan tetap digoyang.

Kalau sedemikian mudahnya Tuhan mengoyang bumi Jabar dan manusia-manusianya. Maka akan sedemikian mudah pula Tuhan menatanya kembali. Bahkan sama mudahnya dengan mengabulkan apapun permintaan manusia-manusia yang barusan dijungkir-balikkan. Tapi coba kita ingat-ingat, kapan terakhir kali kita berdoa mengajukan permohonan dengan penuh kesadaran dan penghambaan kepada Sang Khalik? Padahal itu adalah perintah-Nya dan sekaligus disertai dengan janji-Nya yang pasti bakal dipenuhi. Anehnya, sudah disuruh minta, kemudian dijanjikan bakal dipenuhi, enggak mau juga… Tidak cukup sampai di situ. Bulan mega-bonus pun ditawarkan-Nya. Gratis tanpa modal. Itu pun masih disisipi dengan sebuah malam yang nilainya lebih dari seribu bulan.

Maka penghuni bumi Jabar dan sekitarnya sepertinya pantas bersyukur. Mereka yang kemudian meninggal dunia setelah digoyang patah-patah sedang mereka dalam keadaan berpuasa dengan ikhlas dan khusyuk karena iman dan semata mengharap ridho-Nya (imaanan wah-tisaaban), sepertinya mereka telah menutup episode hidupnya dengan happy ending (khusnul khotimah). Sungguh sebuah anugerah.

Puasa yang ikhlas adalah puasa yang dikerjakan bukan karena enggak enak sama tetangga atau teman kerja sebelah meja. Puasa yang ikhlas adalah puasa yang targetnya seperti diperintahkan-Nya agar la’allakum tattaquun… agar kalian bertakwa. Maka tidak siapapun dapat menilai kualitas ibadah puasa seseorang, karena puasa itu memang diperuntukkan hanya bagi Tuhan dan tidak siapapun bisa turut campur.

Mereka yang kemudian selamat jiwanya sedang mereka ikhlas menerima musibah dan tetap bersyukur, maka mereka sesungguhnya sedang berada sangat dekat di sisi Tuhannya. Doanya sangat dekat dengan kunci terkabulkannya. Ya, doanya mereka yang sedang berpuasa, doanya mereka yang teraniaya oleh musibah, doanya mereka yang sabar dan khusyuk.

(Memang diperlukan skill yang terlatih untuk bisa bersyukur di tengah musibah…, sebuah keterampilan yang tidak begitu saja akan dimiliki seseorang. Benar-benar tidak mudah, belum lagi kalau wartawan televisi memfasilitasi untuk muring-muring di depan kamera ketika bantuan terlambat).

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang penuh keberkahan bagi masyarakat Jabar dan sekitarnya. Goyang Jabar adalah pertanda kecintaan Tuhan kepada manusia yang dipilihnya. Tinggal manusianya dipersilakan untuk memilih : Mau?.

Yogyakarta, 3 September 2009 (13 Ramadhan 1430H)
Yusuf Iskandar