Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘tanah grogot’

Masuk Hotel, Alas Kaki Dilepas

19 Maret 2008

Namanya hotel “Mama Rina”. Menilik namanya, jelas dapat ditebak bahwa sang pemilik hotel adalah ibunya Rina. Seseorang yang bernama Rina ini ternyata memang anak ragil dari seorang ibu yang baru saja pulang haji. Sebut saja bu haji. Di sebelah kiri bagian depan hotel terpajang tulisan ucapan sambutan selamat datang yang nadanya mengelu-elukan sang pemilik hotel yang baru datang dari tanah suci. Dikatakan terpajang karena memang tulisan itu sengaja dibuat indah dan meriah yang kalau malam berhiaskan lampu byar-pet warna-warni. Nampaknya itu adalah bagian dari tradisi penyambutan orang yang pulang haji di daerah itu.

Hotel “Mama Rina” letaknya cukup strategis di tengah kota Tanah Grogot, ibukota kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Terjemahan mudah dari strategis adalah dekat kemana-mana. Mudah dicapai. Dekat dengan satu-satunya mal di Tanah Grogot, yaitu Kandilo Plaza. Dekat bank dan ATM-nya. Dekat masjid raya yang belum lama diresmikan yang tampak begitu wah, megah, mewah dan besarnya sak hohah…, jika dibandingkan dengan kepadatan penduduknya. Dekat alun-alun dan berada di sisi barat tugu yang sedang dibangun. Dan, yang terpenting adalah dekat dengan tempat-tempat makan.

Hotel berkelas melati ini memang lebih pas disebut hotel kelas backpacker. Tarifnya tidak terlalu mahal. Setiap pagi disediakan sarapan yang di-drop langsung di depan kamar, meskipun selama seminggu saya menginap di sana menunya sama terus, nasi kuning ditambah ayam goreng dan terik tempe kering. Sajian khas sarapan pagi di hotel milik bu haji mamanya Rina. Juga ada suguhan kopi atau teh di pagi dan sore hari. Pendeknya, begitu bangun tidur lalu membuka pintu kamar, pasti ransum pagi sudah tersaji di meja depan kamar.

Agaknya hotel ini sering menjadi tempat transit atau persinggahan para pekerja lapangan, antara lain orang-orang yang sedang melakukan survey geologi. Mereka yang berangkat pagi pulang petang. Mereka yang hanya perlu tempat untuk nggeblak melepas penat dan buang hajat, tapi memenuhi syarat.

Singkat kata, untuk sekedar persinggahan atau transit jangka pendek beranggaran sedang-sedang saja, maka inilah tempat yang pas kalau kebetulan sedang berada di kota Tanah Grogot. Namun kalau sedang dalam perjalanan bersama keluarga, rasanya kurang nyaman, kecuali kepepet. Tapi memang di Tanah Grogot ini tidak banyak pilihan hotel. Para tamu instansi pemerintah pun seringkali menyinggahi tempat ini.

***

Namun jangan kaget, meski bukan masjid, bukan rumah mewah, bukan pula kediaman priyayi, begitu naik ke lantai dua hotel milik mamanya Rina ini, di ujung atas tangga terpampang tulisan : “Alas Kaki Tolong Dilepas”. Penulisannya terkesan asal-asalan, ditulis dengan spidol hitam di atas kertas warna putih tua, maksudnya tidak lagi bersih.

Meski nadanya minta tolong, tapi siapapun yang naik ke lantai dua hotel pasti merasa berkewajiban untuk memenuhi permintaan tolong dari sang pemilik hotel. Pantas saja, lantai dua hotel yang berkarpet merah itu terlihat bersih. Meski ada juga sepatu yang nyelonong ke kamar-kamar hotel, tapi setidaknya banyak tamu hotel yang melepas sepatu atau alas kakinya di ujung tangga. Patuh, memberi pertolongan kepada sang pemilik hotel, ya bu haji ibunya Rina itu tadi.

Rupanya karena hotel ini sering dijadikan persinggahan para orang-orang lapangan, yang kalau pulang dari lapangan biasanya sepatunya kotornya minta ampun, berbalut tanah dan terkadang lempung. Belum lagi baunya. Akibatnya, karpet yang mestinya berfungsi mempercantik dan memperbersih tampilan lantai dua hotel, karuan saja jadi cepat kotor dan repot membersihkannya. Maka, ya harap maklum, kalau kemudian pemilik hotel merasa perlu memasang tulisan permintaan tolong itu. Toh, tidak sulit untuk dipenuhi. Yang penting semua tamu dan penghuninya merasa nyaman.

Yogyakarta, 17 Pebruari 2007
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(4).   Mencari Batubara Di Pasir 

Memasuki wilayah Kalimantan Timur, kemudian kami agak bisa bernapas lega. Kondisi jalan Trans Kalimantan mulai bagus dan mulus. Setidak-tidaknya kondisi jalan yang berlubang-lubang tidaklah separah di wilayah selatan. Kami melewati kota kecamatan Jaro, Muara Koman, Batu Kajang hingga tiba di persimpangan jalan Trans Kalimantan di kecamatan Kuaro. Suasana kota-kota kecamatan ini nampak berbeda dengan kota-kota kecil di wilayah selatan. Di wilayah utara ini terkesan lebih enak dipandang. Sama-sama kota kecil tapi nuansa kotanya berbeda.

Terlebih Muara Koman, kota yang memiliki kontur perbukitan ini selintas sambil jalan kota ini tampak indah dan tertata rapi. Dapat dipahami karena di wilayah ini menjadi basis aktifitas industri sehingga pemerintahannya tentu lebih kaya oleh kontribusi dari industri, dibanding daerah lainnya. Industri perkayuan, perkebunan dan pertambangan memang betebaran di wilayah Kalimantan Timur.

Suasana lebih ngota lagi nampak di kota Batu Kajang dimana terdapat industri tambang batubara PT Kideco, juga sebuah perusahaan tambang batubara papan atas. Suasana kotanya lebih hidup dan ramai. Refleksi dari gairah ekonomi masyarakatnya yang tumbuh seirama dengan pertumbuhan industri di sekitarnya. Mekanisme pasar yang logis-logis saja. Di mana-mana juga begitu. Di mana ada gula, di situ ada semut. Hanya biasanya, semakin manis gulanya semakin banyak pula semut-semut nakalnya….. 

***

Tepat di pertigaan Kuaro, kami berhenti untuk makan siang. Ya, pokoknya cari warung sedapatnya, wong ini  kota kecil yang sepi. Saat itu waktu sudah menunjukkan sekitar jam 15:00 WITA. Ketemulah menu makan siang dengan daging payau, sebutan lokal untuk daging rusa yang rasanya mirip-mirip daging kambing.

Dari pertigaan Kuaro, kalau terus ke atas (utara) akan menuju arah kota Balikpapan, sedang kalau ke selatan menuju kota Tanah Grogot. Tujuan kami sore itu adalah menuju kota Tanah Grogot yang berjarak 28 km lagi dari Kuaro. Kami akan menginap di Tanah Grogot.

Akhirnya sekitar jam 5 sore kami sudah memasuki kota Tanah Grogot. Sebuah kota yang tidak terlalu padat, jalan-jalan kotanya cukup lebar dan berpenampilan bersih, sehingga enak dilihat. Tanah Grogot adalah ibukota kabupaten Pasir. Kabupaten yang letaknya paling selatan dari wilayah propinsi Kalimantan Timur dan berbatasan dengan Kalimantan Selatan. Kota-kota kecamatan yang saya lalui sejak memasuki perbatasan Kalimantan Timur adalah termasuk dalam wilayah administrasi kabupaten Pasir.

Tujuan utama perjalanan kami kali ini memang menuju ke kota ini, tepatnya ke wilayah kabupaten Pasir.  Kami akan blusukan di beberapa lokasi untuk mencari dan melihat-lihat singkapan batubara. Lokasi singkapan yang sebelumnya sudah kami ketahui posisinya dan koordinatnya. Tentu saya tidak sendiri, melainkan ditemani oleh geologist yang memang ahlinya dalam urusan singkap-menyingkap untuk melihat lebih detil apa yang ada di baliknya.

Kami sudah kangsenan (janjian) dengan orang yang akan mewakili penguasa lokasi batubara untuk bertemu di Tanah Grogot. Utusan penguasa lokasi (bukan pemilik, melainkan pemegang hak Kuasa Pertambangan) akan menemani kami menunjukkan lokasi-lokasi singkapan batubara yang sudah diketahui. Meskipun kami sudah memiliki data-data koordinatnya, adanya “saksi mata” ini akan mempermudah dan mempercepat pekerjaan, dibandingkan kalau kami mesti thunak-thunuk ngalor-ngidul mencari sendiri lokasi singkapannya. Belum lagi nanti kalau dicurigai macam-macam oleh pemilik tanahnya. Bisa runyam akibatnya. Maka adanya pendamping dari orang yang sudah mengenal dan dikenal di sana akan sangat membantu.

Prinsip mencari singkapan dan lalu mengeksplorasi potensinya, adalah juga yang saya terapkan  dalam mengelola warung mracangan “Madurejo Swalayan” yang (alhamdulillah) sekarang semakin tumbuh sehat menjelang setahun usianya. Tanpa bermaksud mengajari siapapun, yang saya lakukan hanya sekedar menemukan singkapannya lalu menangkap peluang di baliknya. Ini hanyalah salah satu jenis suplemen yang telah terbukti khasiatnya meningkatkan vitalitas usaha.  

***

Besoknya kami akan blusukan di salah satu sudut wilayah kabupaten Pasir untuk mencari batubara. Mencari batubara di Pasir, hanya mungkin ada di Kalimantan. Jangan coba-coba mencarinya di pasir kali Opak atau pasir kali Krasak, misalnya. Seuntung-untungnya, hanya akan menemukan batu yang membara di pasir Merapi ketika terjadi erupsi.

Yogyakarta, 5 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(5).   Menyantap Trekulu Bakar 

Saya sangat terkesan dengan kota Tanah Grogot. Suasana kotanya tampak bersih dan tidak tampak semrawut. Lalu lintas dalam kota sepertinya masih cukup tertib dan mudah diatur. Tidak saya jumpai adanya lampu lalu lintas di dalam kota. Barangkali karena kota ini tidak terlalu padat. Ibukota kabupaten Pasir ini hanya dihuni kurang dari 40 ribu jiwa penduduknya.

Bisa dimaklumi kalau Tanah Grogot ini bukan kota yang sibuk, sebab letaknya memang kurang strategis. Bukan kota singgahan di jalur Trans Kalimantan, bukan pula kota perdagangan. Maka kalau ada orang pergi ke kota Tanah Grogot, itu karena memang tujuannya ke sana. Bukan karena mau singgah ketika sedang menempuh perjalanan panjang. 

Selasa sore itu, setelah menempuh perjalanan panjang lebih 320 km dari kota Rantau selama hampir delapan jam, akhirnya tiba juga di Tanah Grogot. Memasuki jalan utama yang cukup lebar dan terbagi dua, kami jalan perlahan saja. Sambil mencari alamat hotel yang sebelumnya sudah kami pesan, sambil kami menikmati suasana sore Tanah Grogot. Dan memang sengaja kami keliling-keliling kota Tanah Grogot yang kami duga pasti tidak terlalu luas

Orang-orang setempat menyebut jalan utama yang terbagi dua ini dengan sebutan “jalan dua”. Mula-mula saya sempat salah tafsir saat istirahat makan siang di Kuaro, iseng-iseng menanyakan ancar-ancar alamat hotel yang kami tuju. Kebetulan saja ternyata si pemilik warung makan di Kuaro itu adalah adik dari pemilik hotel yang hendak kami inapi. Ketika disebutnya kami akan tiba di “jalan dua”, saya pikir akan ketemu dengan dua jalan yang menyimpang, atau persimpangan jalan yang kedua. Belakangan baru ngeh, ternyata yang dimaksudkan adalah jalan yang terbagi dua arah dengan pembatas jalan di tengahnya.

***

Lalu dari kejauhan tampak sebuah bangunan masjid yang sangat megah untuk ukuran kota kecil seperti Tanah Grogot. Kelihatannya bangunan masjidnya masih baru, dan masih tampak tanda-tanda kalau sedang dalam tahap pembangunan. Kemegahannya nampak mencolok dengan komposisi warna yang didominasi tekstur hijau tua dan hijau muda, serta profil keramik hingga bagian mustoko (kubah) masjidnya. Luar biasa. Sekali lagi, kekaguman (mungkin lebih tepat, keheranan) saya adalah karena bangunan megah itu ada di sebuah kota kecil yang tidak padat penduduknya.

Keterpesonan ini membuat saya terpancing untuk kemudian menyinggahi masjid yang berjudul “Nurul Falah” ini, sekalian mampir untuk sholat. Dalam hati saya merasa bersalah sebenarnya. Kenapa bukan mampir sholat dulu lalu terpesona dengan masjidnya, melainkan terpesona dengan masjidnya dulu baru mampir untuk sholat. Kalau kemudian ada yang menerjemahkan : kalau masjidnya jelek berarti tidak jadi sholat….., maka itu pasti bukan terjemahan saya…..

Tiba di gerbang depan masjid, lho…. kok semua pagarnya tertutup rapat, tidak ada jalan masuk ke masjid. Ketika sedang tolah-toleh mencari celah jalan untuk masuk, lalu datang seorang petugas Satpam yang dengan ramah memberitahu bahwa masjidnya belum jadi dan belum dapat digunakan. Pak Satpam lalu mempersilakan kami agar menuju ke sisi utara masjid kalau hendak sholat. Di sana ada masjid kecil yang rupanya pinggiran masjid lama yang difungsikan sementara masjid agungnya belum siap digunakan. Katanya, masjid agung “Nurul Falah” itu baru akan diresmikan penggunaannya sekitar akhir tahun ini. Masyarakat muslim Tanah Grogot layak bersyukur akan memiliki sebuah masjid yang sangat megah. Teriring doa semoga kemegahan masjidnya seiring dengan kemegahan kehidupan keberagamaannya.

***

Lega rasanya ketika kewajiban sholat sudah ditunaikan. Perjalanan jalan-jalan sore di kota Tanah Grogot dilanjutkan sambil menuju ke hotel. Menemukan hotelnya menjadi lebih mudah, berkat petunjuk pak Satpam masjid yang dengan senang hati mengarahkan perjalanan kami sore itu.

Tiba waktunya mencari makan malam. Hal pertama yang terlintas di pikiran adalah mencari sesuatu yang khas dan aneh untuk santap malam. Ternyata tidak mudah. Beberapa orang yang kami tanya selalu menjawab dengan balik bertanya : “Apa ya…..?”. Lha, apa…..? Orang yang lain menjawab dengan menu masakan yang umumnya sama dengan yang ada di Jawa atau tempat-tempat lain. Akhirnya, pokoknya jalan menyusuri kota mengikuti kemana kaki Panther hendak menggelinding.

Tiba di dekat mal “Kandilo Plaza”, mata kami tertuju pada warung makan “Sari Laut”. Kesitulah akhirnya kami berlabuh untuk santap malam. Menilik warungnya cukup ramai, itulah salah satu tanda bahwa warung makan itu pasti disukai banyak orang. Rupanya si empunya warung adalah orang Surabaya yang merantau ke Kalimantan, dan sejak tahun 1996 memilih Tanah Grogot sebagai tumpuan usaha warung makan yang menyediakan aneka menu ikan laut. Salah seorang saudaranya juga membuka usaha yang sama di Tanah Grogot.

Pilihan lain untuk makan malam adalah di warung-warung tenda yang betebaran di tepian sungai Kandilo. Kalau menginginkan suasana beda makan malam di pinggiran sungai, maka warung-warung tenda itu bisa menjadi pilihan.

Meski di warung “Sari Laut” yang penampilannya sangat sederhana itu ada menyajikan pilihan aneka ikan laut, saya tertarik untuk mencoba ikan trekulu bakar. Alasan saya memilih ikan trekulu adalah lebih karena nama ikan ini belum pernah saya kenal. Hingga sekarang pun saya tidak tahu ini ikan apa dan sejenis apa. Bentuknya mirip-mirip ikan bawal laut. Banyak duri-duri kecilnya. Tapi sungguh saya tidak salah pilih. Ikan ini rasanya gurih dan lezat. Karena rumusan soal makan ini hanya ada dua : enak dan hoenak sekali, maka ikan trekulu bakar saya golongkan ke dalam hoenak sekali.

Saya buktikan sendiri, ketika malam berikutnya kami mencari makan malam, maka ikan trekulu bakar kembali menjadi menu unggulan saya. Kalau ada sedikit beda dengan cara penyajian ikan bakar di Tanah Grogot adalah bahwa ubo rampe lalapan nampaknya kurang diminati lidah orang Kalimantan. Sehingga karena saya termasuk penggemar lalapan, maka saya perlu minta tambahan sambal dan lalapan.

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(6).   Pak Supar Dan Pak Guru Syarif 

Hari Rabu, 26 Juli 2006 pagi kami sudah bersiap-siap di lobi hotel. Hari itu adalah hari yang kami rencanakan untuk mencari batubara di Pasir. Beberapa lokasi sudah kami tandai di peta untuk didatangi. Kami lalu meluncur kembali ke Kuaro yang jaraknya 28 km dari Tanah Grogot. Diteruskan menuju arah kembali ke Rantau sejauh kira-kira 7 km. Dari titik itu kami menyimpang ke arah selatan memasuki kawasan semak yang sudah terbuka oleh bekas adanya aktifitas penambangan setahun sebelumnya. Cukup lama kami berpanas-panas ngublek-ublek singkapan batubara yang ada di sana.

Dalam perjalanan kembali ke Kuaro, kami berhenti di dekat sebuah sungai kecil. Sungai Muru namanya, desanya pun bernama desa Muru. Tujuan kami adalah mensurvei singkapan yang muncul di salah satu dinding sungai kecil itu. Sengaja kami memilih tempat berhenti di dekat sebuah kios dimana di seberang-menyeberang jalannya ada sekelompok warga yang tinggal di sana. Kebetulan si pemilik kios juga menyediakan es batu, maka menenggak minuman dingin di tengah suasana kepanasan dan dahaga, serasa mak nyes rasanya….. 

Perhatian saya tertuju pada sebuah rumah di seberang kios yang nampak ada kesibukan sedang menumpuk-numpuk barang rongsokan. Dari rumah itu pula terdengar suara kaset musik ndang-ndut yang disetel keras-keras. Lho, kok orangnya ngomong bahasa Jawa….. Tahulah saya, di situ tinggal Pak Supar dan keluarganya beserta teman-teman kerjanya. Pak Supar ini rupanya asli orang Sleman yang sejak tahun 1992 sudah merantau ke Kalimantan Timur. Bukan sebagai transmigran, namun lebih karena mengadu nasib bekerja mengikuti kontraktor demi kontraktor. Hingga akhirnya terdampar di desa Muru sejak sembilan tahun yang lalu karena beristrikan orang sana.

Berkebun adalah sambilannya. Itupun sekedar memanfaatkan lahan kosong di seputaran tempat tinggalnya. Pekerjaan utamanya adalah pemulung, tepatnya bosnya pemulung. Pak Supar setiap hari asyik menumpuk-numpuk dan memilah-milah barang-brang plastik, kardus, botol, dsb. Kalau tumpukan hasil pulungan sudah banyak, segera diangkut ke Banjarmasin dan disana sudah ada pembelinya. Di tempat yang adoh lor adoh kidul itu rupanya Pak Supar bisa menyambung hidup dengan layak, bahkan lebih layak dibanding warga lain di desanya.

Pak Supar tentu tidak tiba-tiba menekuni profesinya itu. Melainkan karena pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa di manapun selalu ada peluang yang bisa digarap demi tingkat kelayakan hidup yang lebih baik. Itulah kira-kira jawabannya (seandainya Pak Supar bisa mengatakannya) kalau ditanya kenapa tidak menjadi petani atau pekebun kelapa sawit atau pekerjaan “tradisonal” lainnya seperti yang dikerjakan oleh umumnya warga desa di sekiarnya.

***

Dalam perjalanan kembali ke Tanah Grogot dari Kuaro, kami menyimpang ke arah selatan. Di sana ada beberapa titik singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan untuk di-ublek-ublek. Tepatnya menuju desa Bekoso, termasuk wilayah kecamatan Pasir Belengkong. Lokasi desa ini kira-kira 18 km di selatan Tanah Grogot. Setelah terlebih dahulu kami sowan ke rumah Pak Kepala Desa, kemudian diantar oleh seseorang yang akan membantu menunjukkan lokasi singkapan.

Berbeda dengan sebelumnya, di desa Bekoso ini lokasi singkapan batubaranya tersembunyi di balik semak belukar, sehingga perlu bantuan orang lokal untuk membuka dan melakukan perintisan jalan. Demikian halnya ketika berpindah lokasi, kami ditemani oleh seorang pekebun kelapa sawit bernama Pak Syarif. Pak Syarif ini yang mengantarkan kami menemukan singkapan yang lokasinya agak masuk ke dalam hutan. Beberapa singkapan lainnya tentu akan sulit kami temukan sendiri kalau bukan karena bantuan Pak Syarif yang penduduk asli desa Bekoso. Sebab untuk mencapainya mesti berjalan kaki tiga kilometeran menyusuri punggungan bukit melewati kebun kelapa sawit dan menuruni lembah sungai kecil yang tertutup rapat semak belukar.

Pak Syarif adalah seorang guru sekolah dasar. Setiap hari bersepeda motor pergi dan pulang mengajar murid-muridnya. Namun Pak Syarif lebih suka disebut sebagai pekebun ketimbang sebagai guru. Itulah pilihan hidupnya. Di tengah kesibukannya mengajar setiap hari, Pak Syarif juga disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua kelompok tani kelapa sawit. Sulit untuk menerka-nerka mana di antara kedua tugas kerjanya yang menjadi pekerjaan pokoknya dan mana yang pekerjaan sambilannya. Namun yang pasti, Pak Syarif selalu tekun mengajar setiap hari, dan pada saat yang sama juga membimbing dan mengajar anggota kelompoknya dalam berkebun kelapa sawit.

Dengan sangat fasih pak guru Syarif ini bercerita tentang seluk dan beluknya bertani sawit, tentang hitung-hitungan ekonomi hasilnya, dan tentang bagaimana masyarakat desanya sangat tertolong dengan menjadi petani plasma kebun sawit. Program petani plasma ini baru setahun terakhir digalakkan oleh sebuah perusahaan perkebunan sawit, PTP Nusantara XIII. Hasil dari berkebun sawit yang dijalaninya bersama warga sekitarnya sangat membantu kehidupan masyarakat pekebun, begitu tuturnya. Keahliannya sebagai guru dan keahliannya menguasai ilmu persawitan, tentu menjadi aset tersendiri bagi para tetangganya yang tergabung dalam kelompok tani sawit di bawah pimpinan pak guru Syarif.

Apapun pekerjaannya, kalau ditekuni dengan sungguh-sungguh kiranya juga akan memberi hasil yang baik pula. Barangkali begitu jawabannya (seandainya Pak Syarif bisa mengatakannya) kalau ditanya apakah berkebun sawit bisa diandalkan untuk menghidupi keluarganya. Kalau kemudian pak guru Syarif juga suka dimintai bantuan oleh para pencari batubara, maka itu hanyalah kegiatan selingan.

*** 

Hari sudah gelap saat kami kembali ke Tanah Grogot. Hari itu memang habis-habisan. Kami kelewat bersemangat untuk mendatangi semua lokasi singkapan batubara yang memang sudah kami rencanakan sebelumnya. Hingga lupa waktu. Kendala pencapaian lokasi yang kami bayangkan sebelumnya, menjadi lebih mudah diatasi berkat bantuan pak guru Syarif dan seorang lainnya. Dengan demikian, tuntas sudah agenda survei kami hanya dalam waktu sehari dur….., yang melelahkan itu.   

Namun kondisi jalan pulang ke Tanah Grogot melewati kawasan perkebunan sawit PTP Nusantara XIII ternyata sama melelahkannya. Kondisi jalannya sungguh minta ampun buruknya. Nyaris tidak ada sisa jalan agak bagus yang dapat dipilih. Dan Panther pun bak tertatih-tatih dan meloncat-loncat di antara lubang-lubang jalan yang lebih tepat disebut sungai kering. Begitu kok ya tega-teganya truk-truk pengangkut buah sawit bermuatan munjung, menempuhnya setiap hari. Uh…..!  

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

16 Maret 2008

(7).   Apalah Artinya Sebuah Nama

Alkisah, pada awal abad ke 16, tepatnya pada tahun 1516 Masehi berdirilah kerajaan Sadurengas yang kemudian dinamakan Kesultanan Pasir. Kerajaan ini pertama kali dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Putri Di Dalam Petung (kalau di Inggris barangkali akan dipanggil Lady Di). Wilayah kekuasaan kerajaan Sadurengas ini meliputi wilayah kabupaten Pasir yang ada sekarang, ditambah dengan kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian propinsi Kalimantan Selatan.

Pada tahun 1523, sang Putri Di menikah dengan seorang pimpinan ekspedisi agama Islam dari Kesultanan Demak bernama Abu Mansyur Indra Jaya. Pasangan ini memperoleh empat orang anak, yang kemudian berturut-turut akan menurunkan pewarisnya memimpin Kesultaan Pasir. Begitu turun-temurun hingga selama tiga abad Kesultanan Pasir dipimpin oleh anak-cucu-buyut-canggah-canggahnya-canggah-dst dari pasangan Putri Di dan Abu Mansyur. Hingga sampai pada periode tahun 1900 – 1906 dimana Pangeran Mangku Jaya Kesuma yang menjabat sebagai sultan terakhir Kesultanan Pasir.

Entah bagaimana proses transisinya, menurut catatan sejarah, setelah masa pemerintahan kesultanan terakhir itu kemudian berubah menjadi masa perjuangan rakyat Pasir melawan kolonial Belanda. Hingga tahun 1959 wilayah Pasir berstatus sebagai sebuah kawedanan dalam wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Dan tahun 1959 itulah yang dianggap sebagai tahun berdirinya kabupaten Pasir.

Rupanya masyarakat Pasir tidak menginginkan menjadi bagian dari wilayah propinsi Kalimantan Selatan. Baru pada tahun 1961 kabupaten Pasir bergabung dengan propinsi Kalimantan Timur, setelah melalui perjuangan panjang para tokoh masyarakat Pasir sejak tahun 1950. Melalui resolusi demi resolusi, tuntutan demi tuntutan, desakan demi desakan dan segala macamnya kepada pemerintah pusat, hingga akhirnya dapat kembali bergabung dengan Kalimantan Timur, dari sebelumnya menjadi bagian dari wilayah kabupaten Kota Baru, Kalimanan Selatan.

***

Menilik catatan sejarah kabupaten Pasir, memang rada-rada unik. Karena itulah maka saya tertarik membacanya. Rupanya masih ada darah Demak di dalam darah anak keturunan kesultanan Pasir. Pantas kalau kedua kabupaten itu mestinya menjalin kerjasama sebagai kota kembar (sister city). 

Kalau biasanya propinsi yang berebut kabupaten, maka Pasir telah berjuang sendiri memekarkan dirinya dari kawedanan menjadi kabupaten dan pindah propinsi, dan akhirnya berhasil. Maka masyarakat Pasir layak bangga dengan eksistensi ke-Pasir-annya.

Kini masih ada obsesi lain sedang diperjungkan oleh para tokoh masyarakat Pasir, yang langsung dipelopori oleh bupatinya sendiri. Obsesi untuk mengubah, mengganti dan mengembalikan penulisan dan pelafalan kata “pasir” menjadi “paser” sesuai nama penduduk asli (etnis) daerah ini. Salah kaprah penulisan dan pelafalan “paser” menjadi “pasir”, menurut anekdot bermula karena kesulitan etnis tertentu dalam menyebut fonem “e”, dan lebih akrab dengan fonem “i”.

Apalah artinya sebuah nama, begitu kira-kira kita akan memandangnya. Namun tidak demikian dengan para tokoh di kabupaten Pasir. Perubahan nama Kabupaten Pasir menjadi Kabupaten Paser dan ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser, tetap perlu diperjuangkan, karena akan mendorong semangat membangun Kabupaten Pasir untuk lebih maju dari sekarang, begitu cita-citanya.

Setiap perubahan tentu ada yang pro dan ada yang kontra. Ada yang ingin tetap menjadi Pasir dan ada yang ingin berubah menjadi Paser. Agaknya sikap bupati Pasir yang sekarang, H.M. Ridwan Suwidi, cukup bijaksana dan layak dicontoh oleh siapapun yang suka pada perubahan. “Lahirkan kesepakatan yang damai, jika terjadi cekcok akibat tak searah pandang cukup sampai hari ini, karena apalah arti sebuah nama, tetapi dengan nama akan melahirkan cahaya mutiara-mutiara menuju masa depan yang lebih maju”, begitu katanya.

Mencermati perkembangan terakhir dunia perpolitikan kabupaten Pasir, ada yang menarik dengan sikap demokratisasi yang sedang berkembang. Tidak serta-merta wakil rakyat bersidang lalu voting dan ketuk palu. Kuisioner pun disebarkan ke segenap penjuru. Hasil sementara menunjukkan lebih banyak warga masyarakat yang setuju perubahan nama dari kabupaten Pasir menjadi Paser, namun lebih banyak yang tidak setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Tidak cukup dengan kuisioner. Jajak pendapat SMS pun dibuka bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya, bak acara polling-polling-an di televisi. Hasil sementaranya menunjukkan bahwa 75% pengirim SMS setuju perubahan nama kabupaten Pasir menjadi kabupaten Paser, sementara hanya 25% pengirim SMS yang setuju perubahan nama ibukota Tanah Grogot menjadi Tana Paser.

Singkat cerita, tidak perlu ada chaos, tidak perlu gontok-gontokan, tidak perlu timpuk-timpukan atau ngotot-ngototan untuk membuat sebuah perubahan. Apapun hasilnya, Pasir dan Tanah (juga batubara dan air sungai Kandilo) tetap akan ada disana. Hidup Pasir…..! Hidup Paser…..!

Yogyakarta, 8 Agustus 2006
Yusuf Iskandar

Menyusuri Trans Kalimantan Banjarmasin – Samarinda

15 Maret 2008

(8).   Antara “Pasir” Dan “Paser”

Hari Kamis pagi, 27 Juli 2006, kami sudah berkemas-kemas hendak meninggalkan hotel. Waktu sudah menunjukkan menjelang jam 11:00 siang WITA ketika akhirnya kami meninggalkan kota Tanah Grogot dan kembali ke Kuaro. Sesampai di persimpangan kota Kuaro, kami mengambil jalan ke utara menuju arah kota Penajam dan Balikpapan. Pada papan penunjuk arah yang sempat saya baca, tertulis jarak ke kota Penajam 114 km dan ke kota Banjarmasin 362 km.

Kembali kami menyusuri jalan Trans Kalimantan dan terus ke arah utara. Belum lama melaju, Panther perlu minum. Untung minumnya solar sehingga tidak perlu ngantri lama-lama. Sementara di bagian pompa premium terjadi antrian panjang. Sampai-sampai pak polisi perlu berjaga-jaga di seputaran SPBU agar semua berjalan lancar. Kalimantan Timur memang lumbungnya minyak, tapi kelangkaan BBM nyaris terjadi di setiap pompa bensin sejak dari Banjarbaru, Kalsel. Akibat kelangkaan BBM pula kota Tanah Grogot yang baru saja kami tinggalkan harus mengatur giliran pemadaman lisrik sehingga di beberapa bagian kota kalau malam jadi gelap bin gulita.

***

Saya baru ingat, jalan Trans Kalimantan ini mempunyai banyak sebutan nama jalan, malah terkadang tidak ada namanya. Pada penggal jalan dari Banjarmasin hingga perbatasan Kalsel-Kaltim, jalan ini bernama Jalan Ahmad Yani. Bahkan sampai Kuaro ke arah Penajam pun orang masih menyebutnya sebagai Jalan Ahmad Yani. Makanya mesti hati-hati kalau mencari alamat di seputaran Kalsel hingga perbatasan Kaltim. Dengan hanya menyebut Jalan Ahmad Yani saja, tanpa menunjuk kilometer berapa atau wilayah mana, bisa-bisa harus menyusuri jalan sepanjang lebih 400 km. Inilah barangkali jalan terpanjang di Indonesia yang hanya memiliki satu nama jalan.

Apalah artinya sebuah nama? Wow…, penting sekali. Setidak-tidaknya bagi anggota Dewan yang terhormat di Kalsel. Buktinya dalam sebuah sidang di DPRD Kalsel pernah dipermasalahkan, kenapa nama Jenderal Sudirman di Banjarmasin hanya dipakai untuk nama jalan protokol yang panjangnya hanya 500 meteran, sementara nama Ahmad Yani dipakai untuk jalan yang panjangnya ratusan kilometer. Padahal Jenderal Sudirman yang Panglima Besar TNI dipandang “lebih berjasa” ketimbang Ahmad Yani. Nampaknya memberi nama jalan pun bagi sebagian orang tidak boleh sembarangan, meski tanpa bubur merah bubur putih. Nyata tapi aneh!

Semakin ke ujung utara jalan Trans Kalimantan, semakin jarang disebut Jalan Ahmad Yani. Karena kesulitan menyebut namanya, maka di beberapa daerah jalan ini disebut Jalan Propinsi, ada juga yang menyebutnya Jalan Negara, malah beberapa kota menggunakan penamaan Jalan Raya…., lalu diikuti nama kota itu.

***

Semakin ke utara perjalanan semakin tidak membosankan. Melewati kecamatan Long Ikis, Long Kali, Babulu, Waru, dan seterusnya. Pemandangan di rute utara ini lebih bervariasi dan menarik ketimbang rute sebelah selatan. Hamparan perkebunan kelapa sawit tampak di beberapa lokasi. Meskipun kondisi jalan termasuk bagus namun bergelombang di sana-sini. Kelihatannya mulus, tapi mesti hati-hati mengontrol kecepatan, sebab tiba-tiba kendaraan bisa njumbul-njumbul….., seperti meloncat-loncat akibat kondisi jalan yang bergelombang.

Sampai kemudian di kota Petung sebelum akhirnya tiba di pelabuhan penyeberangan di Penajam. Jalur jalan antara Petung – Penajam dapat dibilang sangat bagus dan mulus. Sepertinya inilah penggal jalan terbaik yang kami lalui sejak dari Banjarbaru di Kalsel. Suasana jalan pun semakin ramai. Tidak lagi suasana desa yang jauh dari mana-mana, namun sudah memasuki sebuah kawasan yang lebih padat penduduknya dan lebih sibuk dengan aktifitas ekonomi.

Menjelang memasuki kota Penajam, kami sempatkan untuk beristirahat barang sejam, sambil mengisi perut makan siang. Cuaca memang terasa begitu panas. Penajam adalah ibukota Kabupaten Penajam Paser Utara. Ini adalah kabupaten yang baru seumur jagung usianya, ibarat bayi masih lumah-lumah….. Dulunya masuk wilayah kabupaten Pasir. Tapi para tokoh masyarakatnya rupanya berkehendak lain. Kehendak yang sumbut (sebanding) dengan kekayaan alamnya. Hingga akhirnya pada tahun 2002 resmi memisahkan diri dari Pasir menjadi Penajam Paser Utara. Kata “Pasir” sudah diganti dengan “Paser”, merujuk pada nama penduduk asli suku Paser.

Namun tetap saja, lidah kebanyakan orang (apalagi pendatang dari Jawa) mensalah-lafalkan huruf “e” dengan “i”, sehingga jadi “Pasir”. Padahal mestinya huruf “e” dilafalkan seperti menyebut nama kota “Anyer”, bukan “Anyir”, bisa lain lagi maksudnya. (Bagi yang paham bahasa Jawa, penjelasannya adalah bahwa huruf “e”-nya “di-pepet”. Tapi bisa semangkin membingunkan kalau di belakangnya ditambah kata “sepeda”….. Ya pokoknya begitulah…..).

Sebagai kabupaten baru, penduduknya belum padat. Total penduduknya hanya sekitar 120 ribuan jiwa, sekitar setengahnya ngumpul di ibukota Penajam, selebihnya menyebar. Berbeda dengan daerah-daerah lain yang biasanya memiliki semboyan yang muluk dan heboh, Penajam Paser Utara memiliki semboyan yang sangat sederhana. Dalam bahasa Paser disebut “Benuo Taka” yang artinya Daerah Kita, atau istilah gaulnya : Kampung Kita Sendiri…..

Walaupun terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya, namun tetap merupakan satu kesatuan ikatan kekeluargaan. Begitu kira-kira idealisme yang dibanggakannya. Seakan memahami bahwa kelak akan semakin banyak kaum pendatang ke wilayah ini yang numpang mencari hidup dari kekayaan alamnya. (Meski agaknya perlu hati-hati juga. Pepatah ada gula ada semut masih berlaku. Semakin manis gulanya, semakin banyak pula semut-semut nakal dan noakal…….).    

Yogyakarta, 9 Agustus 2006
Yusuf Iskandar


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.