Posts Tagged ‘tambang pasir’

Catatan Harian Untuk Merapi (12)

28 Desember 2010

(102). Tambang Pasir Di Tengah Kota

Berkah Merapi… Pasir yang terendap dari gelontoran lahar dingin di sepanjang kali Code yang membelah Yogyakarta, ternyata menjadi berkah tersediri bagi masyarakat yang tinggal di lembah Code. Lihatlah antrian truk yang memanjang menunggu giliran untuk diisi pasir. Dan itu terjadi di tengah kota Jogja.

Ya benar, tambang pasir di tengah kota, di sepanjang aliran kali Code. Mudah-mudahan mereka tidak lupa bahwa banjir lahar dingin masih berstatus AWAS..!

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(103). Berkah Lahar Dingin Merapi

Mau menambang pasir tanpa ijin tapi diijinkan? Malah difasilitasi pemerintah? Maka tambanglah pasir kali Code.

Berkah bagi masyarakat karena nilai ekonomisnya. Pemerintah pun berkepentingan untuk menormalisasi kedalaman sungai yang dangkal total karena endapan lahar dingin. Sebab jika tidak, maka fungsi sungai akan hilang, lalu siap-siap saja mbludak di musim penghujan. Semua pihak kini jadi berkepentingan atas penambangan pasir kali Code.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(104). Purnama Terakhir

Malam ini
purnama keduabelas
purnama terakhir di penghujung tahun 1431H
purnama yang tersaput abu vulkanik
sebentar mengantar sisa waktu
lalu tahun berganti…

Betapa anugerah tak terjumlah telah kita raih dan nikmati
keindahan pun telah terasakan
Tapi juga kesalahan kita lakukan
di antara kebaikan yang tak seimbang jumlahnya…

Masih mampukah kita jalani purnama selanjutnya
dengan cara yang benar
dengan segenap cinta dalam kesadaran penghambaan kepadaNya

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(105). Tak Tersentuh Karena Tersembunyi

Matahari tepat di cakrawala barat, masih menyisakan semburat merahnya. Aku tiba di dusun Babadan, desa Butuh, kecamatan Sawangan, Magelang. Lokasinya sekitar 10 km timurlaut dari Blabak, Jl. Raya Jogja-Magelang, menuju arah Ketep lalu belok ke utara ke kaki gunung Merbabu.

Kesanalah petang tadi aku membawa tiga karung beras titipan seorang teman di Bandung bagi korban Merapi non-pengungsi yang tak tersentuh bantuan karena tersembunyi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(106). Mereka Tak Berdaya

Dusun Babadan terletak di baratlaut Merapi pada radius sekitar 12 km, dikelilingi hutan sengon. Ketika letusan besar Merapi terjadi (5/11), warganya terisolir. Pohon-pohon patah menghalangi jalan. Di dalam rumah takut kalau rumahnya roboh oleh abu dan pasir vulkanik. Mereka pun berkumpul di tanah terbuka di bawah guyuran abu panas Merapi dengan perlindungan seadanya. Tangis histeris wanita dan anak-anak nyaris hilang ditelan gemuruh Merapi yang menggetarkan bumi.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(107). Posko Mandiri Untuk Korban Merapi Non-Pengungsi

Masyarakat dusun Babadan dan dusun-dusun tetangganya tidak mengungsi. Makanya mereka tidak punya gelar pengungsi. Di sinilah dilema. Karena bukan pengungsi maka lalu “tidak perlu” dibantu. Padahal sama-sama korban Merapi.

Tengoklah, semua bantuan berlabel “pengungsi”. Bahkan di posko-posko sampai berlimpah. Sedang mereka yang non-pengungsi? Jatah pemerintah sangat terbatas, minta ke posko prosedurnya belit-belit. Akhirnya mereka menggalang posko mandiri.

(Yogyakarta, 22 Nopember 2010)

——-

(108). Warga Soronalan Butuh Bantuan Segera

Baru saja dapat kontak dari posko mandiri di desa Soronalan, Sawangan, Magelang. Ada 50 KK di kaki gunung Merbabu yang butuh bantuan mendesak. Sejak letusan besar Merapi (5/11) belum pernah ada bantuan dan warganya makan seadanya (keladi, ketela, dkk). Beras yang saya kirim ke dusun tetangganya tadi malam akhirnya dialihkan ke sana. Cukup untuk 1 kg per KK.

Tuhan…, pliiis…turunkan berasMu yang masih ada di langit (fissama-i fa-anzilhu)…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

(109). Berharap Hujan Beras

Mereka bukan pengungsi (makanya tidak ada bantuan), tapi penduduk setempat yang menderita akibat letusan Merapi. Mereka buruh tani, sedang semua ladang hancur. Sebagai penderes kelapa, pohon kelapa rusak. Sebagai pengrajin keranjang, tidak ada yang beli. Sebagai peternak, tidak ada pakan, sedang singkong harus berebut dengan pemiliknya. Pohon pisang rusak oleh abu. Sayur dan tanaman bumbu musnah. Untuk bertahan hidup? Berharap hujan abu berganti hujan beras…

(Yogyakarta, 23 Nopember 2010)

——-

Iklan

Melihat-lihat Tambang Pasir Di Klaten

11 Juni 2009

Sejak siang hingga sore tadi jalan-jalan berkeliling melihat-lihat tambang dan bekas tambang pasir di daerah kecamatan Kemalang, kabupaten Klaten. Tepatnya di seputaran obyek wisata Deles, di kaki timur gunung Merapi. Ada pemandangan menarik kawasan timur kaki gunung Merapi di satu sisi, dan ada pemandangan tidak menarik bekas galian tambang pasir yang tidak tertangani (tidak dilakukan reklamasi) dengan baik.

Tambangnya sendiri sebenarnya merupakan kegiatan penggalian mineral industri yang umum dilakukan di kawasan potensial endapan pasir yang hasil galian pasirnya banyak dibutuhkan oleh berbagai sektor pembangunan. Namun terkadang sistem penambangannya tidak ditangani dengan sebagaimana mestinya sehingga terlihat acak-acakan. Biasanya hal itu banyak dilakukan oleh para penambang liar. Menjadi tugas berat bagi pemerintah untuk mengawasi dan mengelola sistem penambangan yang dapat berakibat pada kurang terkendalinya aktifitas penambangan yang cenderung merusak lingkungan. Padahal pada beberapa lokasi yang sistem penambangannya ditangani dengan baik hingga tahap rekamasinya, lahan bekas tambang itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung sektor pertanian agar lebih produktif.

Para professional yang bergelut di sektor penambangan dituntut untuk berperan serta menata sistem penambangan yang demikian itu.

Yogyakarta, 11 Juni 2009
Yusuf Iskandar

IMG_2647_r

Salah satu aktifitas penambangan pasir

Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

Bekas tambang sedang dilakukan reklamasi

Bekas tambang yang sudah direklamasi, lalu diolah dan ditanami

Bekas tambang yang sudah direklamasi dan ditanami