Posts Tagged ‘taksi’

Jaran

7 Maret 2010

Melihat ada sepeda motor membelok dan nyaris ditabrak taksi, istriku menggerundel: “Gimana sih itu?”.
“Apanya?”, tanyaku memastikan.
“Sepeda motor itu lho”, jawab istriku.
Maka aku pun berusaha menenteramkan kegundahan istriku: “Oo, lha wong kae jaran… (Lha wong itu kuda…)”.
Istriku tambah penasaran: “Kok jaran?”.
“Lha iya, wong nggak bisa menoleh ke kiri ke kanan…”, kataku

Yogyakarta, 6 Maret 2010
Yusuf Iskandar

Membangunkan Sopir Ngantuk

15 Agustus 2008

Niat ingsun mau menuju bandara Soeta (Soekarno – Hatta) naik taksi lalu meninggal tidur sopirnya. Maka begitu nyingklak taksi, segera mengomando sopirnya : “Ke bandara, pak”, dan lalu duduk santai. Pak sopir yang kelihatan sudah cukup tua, saya taksir umurnya 60an tahun, dengan lincahnya segera masuk ke jalan tol. Siang hari jalan menuju bandara masih relatif sepi, tidak kemruyuk seperti ketika hari beranjak sore. Taksi pun melaju lancar.

Belum lama melaju di jalan tol yang masih belum gegap-gempita, saya perhatikan gerak laju taksinya kok rada mereng-mereng. Injakan gasnya memunculkan bunyi mesin yang tidak konstan. Kendaraan lebih sering berada di atas marka pembagi lajur jalan (bukannya di antara garis putih putus-putus).

Tidak biasanya sopir taksi memilih berada di lajur paling kiri dengan kecepatan sedang-sedang saja (padahal jalanan lagi sepi dan longgar). Gerak-gerik sopirnya terlihat gelisah, kaki kirinya (kaki yang kanan tidak kelihatan) sering digoyang-goyang ke kiri dan ke kanan. Tangan kirinya (tangan yang kanan juga tidak kelihatan) sebentar-sebentar menggaruk kening yang sepertinya tidak gatal dan mengusap belakang kepala yang sepertinya dari tadi tidak ada apa-apanya. Sesekali berdehem, sengaja batuk dan melenguh seperti sapi.

Tidak terlalu sulit untuk menyimpulkan bahwa pak sopir taksi sedang ngantuk berat. “Wah, bahaya, nih”, pikir saya. Terpaksa saya jadi ikut waspada memperhatikan jalanan di depan. Niat untuk tidur di taksi saya batalkan, sebab saya merasa sedang berada dalam situasi unsafe condition. Sekali saja pak sopir mak thekluk….., tersilap sedetik saja karena ngantuknya, maka bahaya mengancam keselamatan taksi dan penumpangnya. Gimana nih? Mau minta berhenti lalu ganti taksi di tengah jalan tol kok ya gimana gitu loh…..

Maka saya putuskan untuk mengajak ngobrol sopirnya. Itulah yang kemudian saya lakukan.

“Pak…”, panggil saya memecah keheningan (sebenarnya ya tidak hening, wong deru kendaraannya cukup bising). “Bapak kelihatannya capek sekali…”, kata saya.

“Iya pak, saya agak kurang tidur”, jawab pak sopir. “Kurang tidur kok agak. Ya tetap saja tidurnya kurang”, kata saya tapi dalam hati.

“Ngantuk ya pak?”, tanya saya lagi berbasa-basi memastikan, karena tujuan saya hanya untuk mengajak bicara (lha wong sudah jelas ngantuk kok ditanya juga….)

Di luar dugaan saya, pak sopirnya malah berkata jujur : “Iya pak, saya sendiri heran. Mungkin cobaan saya, ya…..”, sampai di sini saya masih belum ngerti apa maksud perkataan pak sopir. Lalu, lanjutnya : “Kalau sedang tidak narik penumpang, saya enak saja nyusup-nyusup jalan. Tapi kalau sedang membawa penumpang rasanya sering sekali ngantuk”.

“Waduh, gawat nih”, kata saya dalam hati. Lha, saat itu saya sedang jadi penumpang yang ditarik pak sopir je….. Ini kejujuran yang jelas tidak pada tempatnya. Ini adalah perilaku jujur yang tidak dianjurkan dan tidak terpuji (yang mau memuji ya siapa……). Jujur yang malah bikin takut.

Tiba-tiba saya ingat kalau di dalam saku tas ransel saya ada tersimpan permen “Davos”. Permen “Davos” adalah permen jadul (jaman dulu) yang bungkusnya berwarna biru tua dengan rasa peppermint yang tajam. Rasa pedasnya sangat nyegrak, sehingga sering membuat pengulumnya rada megap-megap. Tapi jangan heran kalau permen pedas ini masih banyak penggemarnya.

Segera saya rogoh saku ransel, saya ambil permennya, saya sobek bungkusnya, lalu saya tawarkan kepada pak sopir. Agak malu-malu tapi mau juga pak sopir menerimanya. Akhirnya saya dan pak sopir kompak mengulum permen “Davos” bersama-sama.

Entah karena kepedasan ngemut permen, entah karena kemudian saya ajak ngobrol, yang jelas kemudian pak sopir sudah tampak lebih sumringah, tidak lagi ngantuk seperti tadi. Tampaknya pak sopir sudah lupa dengan ngantuknya. (Aha… Ini dia. Tips baru untuk menghilangkan ngantuk, yaitu berusahalah untuk melupakan ngantuknya. Cuma cilakaknya, cara termudah untuk melupakan ngantuk, ya tidur….. Huh…!).

Permen pedas cap “Davos” berhasil menjadi pemecah kesuntukan yang dialami pak sopir taksi. Menit-menit berikutnya suasana berubah menjadi obrolan di dalam taksi. Obrolan yang makin asyik aja…. Apalagi kalau topiknya adalah kisah “kepahlawanan”. Maksud saya adalah kisah nostalgia pada jaman “perjuangan” episode kehidupan seseorang.

Bagi pak sopir taksi, kisah itu adalah tentang pekerjaannya sepuluh tahun yang lalu sebelum menjadi sopir taksi. Masa keemasan pak sopir ketika masih menjadi koordinator Satpam di kawasan pertokoan Mangga Dua. Dengan semangat empat-lima, pekerjaan hebatnya yang dulu itu diceritakannya dengan runtut sampai ke detil-detilnya, hingga akhirnya beliau terpaksa lengser keprabon saat terjadi kerusuhan Mei 1998. Dengan getir dituturkannya bahwa beliau akhirnya di-PHK karena saat terjadi kerusuhan rupanya banyak anak buahnya yang terbukti turut menjadi aktivis. Maksudnya, turut aktif menjarah toko-toko yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya.  

***

Ada dua pelajaran tidak terlalu penting tapi nyata. Pertama, tentang membangunkan sopir ngantuk. Kedua, tentang “menjinakkan” orang tua agar suka diajak bicara (tidak semua orang tua suka diajak cerita-cerita, lho…..)..

Untuk yang pertama, siapkanlah permen pedas. Semakin pedas semakin baik, asal bukan permen rasa sambal…. Untuk yang kedua, menggiring pembicaraan ke arah kisah “kepahlawanan”, “perjuangan”, “semangat empat-lima”, atau pokoknya yang sejenis itulah…..

Maka bagi kawan-kawan muda yang sedang mencari calon mertua, ada baiknya melakukan orientasi medan dan studi referensi tentang kisah “kepahlawanan” dari kandidat mertua. Hanya satu hal sebaiknya jangan dilakukan, yaitu ketika tahu sang kandidat mertua sudah ngantuk, janganlah lalu disuruh ngemut permen pedas…..

Yogyakarta, 15 Agustus 2008
Yusuf Iskandar

Keliling Setengah Amerika

7 Februari 2008

(18).   Di Puncak Gedung Pencakar Langit

Hari ini adalah hari Jum’at, 7 Juli 2000, merupakan hari ketiga kami di New York. Sekitar jam 10:00 pagi kami baru meninggalkan hotel, menghirup udara Manhattan di saat matahari sudah agak tinggi. Kami langsung berjalan kaki menuju ke tempat pemberhentian bis wisata yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari hotel. Rencana semula kami ingin mengunjungi dua buah gedung pencakar langit, yaitu Empire State Building dan World Trade Center (WTC) Building dengan menara kembarnya.

Namun mempertimbangkan agar saya tidak kehilangan sholat Jum’at tengah hari nanti, maka hanya salah satu gedung saja yang akan sempat kami kunjungi. Pertanyaan selanjutnya adalah : Gedung pencakar langit mana yang sebaiknya dikunjungi? Keduanya menjulang tinggi, Empire State yang berlokasi di jalan 34th Street tingginya mencapai 381 m dan terdiri dari 102 lantai, sedangkan WTC yang berlokasi di jalan West Street tingginya mencapai 411 m dan terdiri dari 110 lantai. Empire State Building pernah menjadi gedung tertinggi di dunia hingga tahun 1977 ketika posisinya digantikan oleh WTC Building.

Mengingat bahwa gedung WTC banyak dijumpai di mana-mana dan menimbang bahwa gedung Empire State lebih terkenal namanya, maka kami memutuskan untuk mengunjungi gedung pencakar langit Empire State yang namanya juga dipakai sebagai nama julukan negara bagian New York.

Sekitar jam 11:15 siang kami tiba di lantai dasar gedung Empire State yang ternyata merupakan kompleks pertokoan. Di luar dugaan saya sebelumnya, untuk naik ke lift ternyata sudah banyak orang yang antri. Sekitar 30 menit kemudian barulah lift yang kami naiki meluncur ke puncak gedung, menuju ke lantai paling atas yang boleh dikunjungi yaitu lantai 86, tepat di bawah bangunan menaranya.

Dari lantai 86 ini ada beberapa pintu yang menuju ke teras luar yaitu sebuah tempat terbuka yang lebarnya kira-kira 1.5 m mengelilingi puncak gedung yang berbentuk bujur sangkar. Saya pikir, inilah tempat di udara terbuka New York yang paling dekat dengan matahari. Angin pun bertiup spoi-spoi kering dan agak kencang. Kami lalu berjalan memutari teras yang di sekelilingnya dipasang pagar pengaman berupa pagar jeruji setinggi 3 meter.

Memandang jauh ke depan dari tempat ini kami dapat melihat hamparan luas New York City dan sungai-sungainya. Memandang ke arah bawah tampak jalan-jalan kota yang silang-menyilang timur-barat dan utara-selatan di sela-sela bangunan-bangunan tinggi. Sekumpulan taksi-taksi New York yang berwarna kuning dan berseliweran di sepanjang jalanan nampak seperti sedang ada kampanye Golkar. Kerumunan pejalan kaki dan penyeberang jalan yang memadati sekitar perempatan jalan nampak bergerak beriringan seperti semut ketika lampu tanda menyeberang menyala.

Empire State Building yang dirancang dengan motif art deco selesai dibangun tahun 1931 pada saat Amerika sedang mengalami depresi ekonomi. Entah kenapa gedung ini dibangun pada saat yang tidak tepat. Akibatnya, pengelola gedung ini kemudian mengalami kesulitan untuk memasarkannya, kesulitan mencari penghuni yang mau menyewanya.

Meskipun pembangunannya sendiri hanya memakan waktu dua tahun, namun setelah itu hingga belasan tahun banyak ruangan yang kosong tak berpenghuni. Karena itu sempat para New Yorker (sebutan untuk orang-orang New York) menyebut gedung ini dengan memelesetkannya menjadi “Empty State Building”. Namun untungnya kepopuleran menara observasi yang berada di lantai 102 gedung ini akhirnya berhasil menyelamatkannya dari kebangkrutan. Bahkan kini setiap tahunnya dikunjungi oleh tidak kurang dari 3,5 juta wisatawan dari seluruh dunia.

Gedung tinggi ini pernah beberapa kali dihantam petir. Bahkan pada tahun 1945 sempat disenggol oleh pesawat tempur B-45 tepat di lantai 79, hingga mengakibatkan 14 orang meninggal dunia dan mengakibatkan kerusakan senilai lebih US$ 1 juta.

Inilah gedung pencakar langit yang menjadi salah satu kebanggaan masyarakat kota New York. Gedung yang kalau ditimbang memiliki berat 60.000 ton ini dilengkapi dengan elevator berkecepatan tinggi, sehingga untuk menuju ke puncak bangunan cukup diperlukan waktu sekitar satu menit lebih sedikit.

***

Setelah puas “berkelana” di angkasa New York, kami lalu menuju ke lift untuk turun setelah sebelumnya sempat mampir ke toko cendera mata yang ada di lantai yang sama. Kali ini tidak terlalu lama mengantri. Tiba di luar gedung segera menuju ke tempat pemberhentian bis. Kali ini juga tidak terlalu panjang mengantri, tapi justru lama menunggu bisnya tidak datang-datang. Dari sini kami langsung menuju ke gedung PBB yang berlokasi di jalan First Avenue dengan niat ingin sholat Jum’at di sana, dan rasanya belum terlambat.

Sebenarnya di New York ini ada masjid Indonesia yang dikelola oleh masyarakat Indonesia yang ada di sana. Saya memang belum tahu ada di mana, dan rasanya akan dapat saya temukan kalau mau mencarinya meskipun untuk itu perlu waktu. Akan tetapi saya memang mempunyai rencana berbeda, yaitu ingin menikmati sholat Jum’at di gedung PBB. Sebuah gedung tempat bertemunya para duta negara-negara di dunia. Dari informasi yang saya miliki, di gedung PBB ada masjid. “Masak sih, mau numpang sholat tidak boleh”, pikir saya.

Itulah sebabnya maka siang itu saya langsung melanjutkan perjalanan dari gedung Empire State menuju ke gedung markas besar PBB dan berhenti tepat di depan pintu gerbangnya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar