Posts Tagged ‘tailing’

Belajar Dari Kemelut Di Depan Gawangnya Freeport (I)

15 November 2009

( 1 )

Sebenarnya saya juga tidak habis pikir, kenapa sekelompok orang desa yang dilarang gresek (mengais-ngais) emas di saluran pembuangan tailing (limbah tambang) di tambang Freeport di pegunungan Papua sana, kok gedung Plaza 89 Kuningan yang ditimpuki batu oleh sekelompok calon pemimpin bangsa berpendidikan tinggi di Jakarta? Lebih tidak mudeng (paham) lagi, yang di desa sana kemudian menuntut penambahan porsi pembagian dana yang 1% dari pendapatan Freeport, tapi yang di Jakarta menuntut penutupan tambang.

Andaikan saya adalah pemilik Freeport, rasanya su pecah kitorang pu kepala ….. (sudah pecah kami punya kepala) karena kelewat pening mengurai benang kusut. Bagaimana tidak? Dari hanya satu soal tidak boleh mendulang tailing, lalu beranak-pinak jadi belasan soal yang harus dicarikan solusinya sak deg sak nyet (saat ini juga). Dari hanya soal bisnis lokal menyangkut segram-dua gram emas bagi masyarakat setempat, menjadi skala bisnis milyaran dollar bagi masyarakat dunia, menyangkut isu lingkungan, isu HAM, isu politik tentang PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat), isu “konspirasi” antar bangsa, isu penutupan tambang, sampai ke isu NKRI. Sak jane ki piye …..(sebenarnya bagaimana sih)?

Sebagai seorang mantan professional tukang insinyur tambang yang sekarang nyambi jadi CEO bisnis mracangan ritel di pinggiran Jogja, wajar kalau saya turut gundah dan gulana. Namun bagaimanapun juga saya harus berpikir jernih….., agar bisa tetap berpikir professional dan proporsional. Saya menerjemahan kata professional ini dengan mudah saja, yaitu mereka yang berpikir dan bertindak berlandaskan SOP (Standard Operating Procedure) atau tata kerja yang benar di bidang masing-masing. Karena itu mereka yang berpikir dan bertindak tidak atas dasar SOP yang semestinya (seumpama berdasarkan rumor, katanya, kabarnya, tampaknya, bajunya, warnanya, baunya, dsb.), di mata saya tak ubahnya seperti acara infotainment atau infomezzo.

Cilakak duabelas-nya, kalau yang berpikir dan bertindak tidak sesuai SOP itu ternyata seorang penjabat (pakai sisipan”n”), tokoh atau orang yang keminter, maka meroketlah dia menjadi seorang bintang infotainment baru. Kalau hanya untuk sekedar bahan guyonan atau plesetan, daripada bengong, okelah…….., saya juga suka dengan infomezzo untuk bekal haha-hihi….. mengusir sentress (pakai sisipan”n”). Tapi kalau kemudian dilempar ke tengah forum publik yang diliput media? Kalau dikatakan tidak professional….., nanti tersinggung. Tapi kalau mau dibilang professional….., kok bau-baunya ngawur……….

Itulah hal pertama yang membuat saya turut belasungkawa dan menyedihi diri sendiri. Sebab akhir-akhir ini saya banyak mendengar dan membaca komentar para tokoh dan pakar terkait dengan kemelut di depan gawangnya Freeport. Sebagian di antaranya kedengaran professional dan proporsional. Namun sebagian yang lain pathing pecothot….. (kata lain untuk tidak professional).

Lho, mereka juga para ahli. Iya…! Tapi, ibarat seorang ahli tinju yang mengulas soal teknik-teknik menjahit baju (akan lain soalnya kalau ahli tinju ini pernah ikut kursus menjahit misalnya). Atau, ahli bikin bakso berformalin membahas tentang bagaimana seharusnya mengatasi penyakit flu burung (akan lain soalnya kalau si tukang bakso ini pernah jadi petugas lapangan penyuluh kesehatan misalnya). Ya bolah-boleh saja….. wong ini negeri demokrasi, yang (sebaiknya) tidak boleh dan tidak etis adalah kalau njuk menyalahkan bahkan malah mengadili pihak lain.

Alangkah indahnya kalau sebelum menjatuhkan vonis terlebih dahulu mempelajari berkas perkaranya dengan cermat, teliti, adil dan tidak emosional. Bila perlu observasi lapangan dengan membawa koco-benggolo (suryakanta), sehingga tahu persis seluknya dan beluknya dan bukan hanya kabarnya dan kabarinya.

Jangan-jangan mereka yang beringas di Plaza 89 Kuningan dan bahkan di Jayapura itu adalah generasi muda Papua yang belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri (melainkan mata kepala orang lain yang rentan terhadap praktek manipulasi dan provokasi) operasi penambangan Freeport dan (apalagi) memahami bagaimana Freeport akhirnya menginvestasikan uang milyaran dollar di Papua dan terus bertambah, sejak 40 tahun yang lalu.

Lha kalau investor kelas kakap seperti Freeport sudah mulai merasa tidak man-nyamman, bagaimana dengan investor-investor besar lainnya? Apalagi yang kelas teri? Lalu muncul dua kepentingan :

Pertama, kepentingan karena khawatir kalau-kalau calon investor kakap lainnya pada lari nggembring membatalkan rencana penanaman modalnya dan Kedua, kepentingan karena khawatir kalau-kalau masyarakat lokal menjadi pihak yang selalu terkalahkan. Padahal mestinya kedua belah pihak bisa di-guyub-rukun-kan untuk hidup berdampingan dalam kerangka simbiose mutualisme untuk kesejahteraan bersama.

Adalah fakta bahwa ada yang perlu dibenahi dalam pengelolaan penambangan Freeport sebagai sebuah sistem (bukan sub-sistem) bisnis. Tapi adalah opini emosional kalau kemudian ditemukan adanya masalah kok lalu tambangnya ditutup saja. Janganlah seperti man-paman petani di kampung saya yang membakar sawahnya gara-gara judeg (kehabisan akal) karena sawahnya diganggu tikus. Atau, man-paman Bush yang membakar Afghanistan karena dikira tikusnya ngumpet di sana.

***

Hal kedua yang membuat saya sangat prihatin adalah bahwa saya haqqun-yakil potensi konflik atau kemelut di depan gawangnya Freeport sekarang ini mestinya sudah teridentifikasi sejak lebih 35 tahun yang lalu. Tapi seperti pernah saya singgung sebelumnya, jangan-jangan…………

“sang pimpro gagal mengidentifikasi masalah yang dihadapi oleh stakeholders proyeknya, atau sebenarnya tahu permasalahannya tetapi gagal menempatkannya dalam prioritas problem solving and decision making. …….Pada waktu itu, barangkali memang para stakeholders itu senyam-senyum dan oka-oke saja karena segenap kepentingannya tidak (atau belum) terganggu, fasilitas hidupnya terpenuhi dan tampaknya aman-aman saja ….. Tapi ketika jaman berganti dan permasalahan yang terpendam itu kemudian meledak karena ketemu pemantik, tinggal sang pimpro dan rombongan shareholders-nya kebakaran jenggot”.

Sebagai seorang sopir yang baru saja bermanuver banting setir atau alih profesi, saya melihat agaknya cerita tentang Freeport ini adalah cerita rakyat tradisional tentang sopir-sopir besar yang mengabaikan penumpang-penumpang kecilnya. Masa-masa 35 tahun yang lalu, penumpang-penumpang kecil ini sepertinya tidak terlihat oleh sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio adalah penguasa dan pengusaha. Kalaupun terlihat, ya hanya nylempit di antara bagasi-bagasi besar penumpang lainnya. Sehingga tampak benar-benar keciiiiiil….. sekali, malah masih pada ber-pornoaksi telanjang, enggak pakai baju, ingusan. Akibatnya, menurut ngelmu manajemen resiko……. cincai-lah itu, adalah faktor threats (ancaman) yang dapat dieliminasi pada saat itu juga, tanpa perlu berpikir panjang, apalagi melalui polling SMS……

Namun agaknya ada yang terlupakan. Jaman telah berganti, sopir-sopir cadangan juga bermunculan, penumpang pun berganti generasi. Masa 35 tahun adalah masa yang sangat cukup bagi penumpang-penumpang kecil yang dahulu ingusan dan telanjang untuk berbenah, berdandan dan mematut-matut diri. Sementara sopir-sopir itu tetap saja menganggap mereka seperti 35 tahun yang lalu. Menganggap bahwa senyam-senyum, oka-oke dan manggut-manggutnya mereka sekarang adalah sama dengan lebih 35 tahun yang lalu.

Maka jadilah bom waktu yang tinggal menunggu pemicu. Maka begitu ketemu pemicu, bukan masalah bomnya yang meledak. Kalau hanya bomnya….. kecil lah itu. Melainkan multiple effect kerusakannya ternyata merambat kemana-mana, menjadi pemicu atas timbunan daftar panjang ganjalan yang sudah terendap dan terakumulasi selama periode berbenah diri, sampai ke urusan yang tidak masuk akal sekalipun.

Tahulah saya sekarang, kenapa urusan tidak boleh mendulang emas di saluran pembuangan limbah tailing di puncak pegunungan nun jauh di sana bisa menyublim di ujung dunia lainnya menjadi keberingasan menuntut tambang ditutup. Rupanya timbunan permasalahan penumpang-penumpang yang dulu dianggap kecil itu memang sambung-menyambung menjadi satu, seperti nyanyian ….. Dari Mimika Sampai Jakarta ….. yang berjajar pulau-pulau, dan itulah Indonesia…..

( 2 )

Freeport riwayatmu kini……. Apakah kejadian akhir-akhir ini akan dipandang sebagai hanyalah sebutir kerikil yang nyisip di antara jari kaki ataukah sebongkah gunung es? Tidak ada bedanya. Toh periode lebih 35 tahun sudah terlewati dan nampaknya tidak terlalu sulit untuk diatasi. Barangkali periode 35 tahun ke depan pun bisa diatasi sebagaimana periode 35 tahun yang lalu. Mudah-mudahan jaman tidak berubah. Tapi ….., siapa yang bisa menggaransi? Maka disitulah baru muncul bedanya…….

Bumi Papua sedang dilanda angkara……. Sialnya kok ya di sana ada Prifot (demikian orang awam suka menyebut perusahaan tambang raksasa ini. Membolak-balik pengucapan huruf “f” dan hurup “p” memang lebih mudah dan lebih enak didengar, seperti menyebut pilem, prei, paham, pilsapat, parmasi, palsapah, dan sebaliknya juga fagi-fagi fergi ke fasar lufa fakai celana fendek karena kefefet kefingin fifis…….).

Konplik demi konplik mewarnai romantika bisnis milyaran dollar. Kemelut demi kemelut merundung di depan gawangnya Freeport. Padahal mestinya ada yang bisa dilakukan untuk menghindari blunder dengan cara yang arif dan bijaksana. Mundur selangkah untuk maju sekian langkah. Kalau mau ……….. (Ijinkan saya menirukan kata “Atasan” saya Yang (Maha) Satu : ….. Tidak ada kesulitan melainkan di baliknya ada kemudahan — QS. 94:5-6).

Ibarat sopir-sopir kendaraan besar yang ex-officio pengusaha dan penguasa ini dan itu, yang terlena lebih 35 tahun. Sopir yang satu lebih suka status quo….. (Habis enak sih…..!). Sopir yang satu memilih menjadi seperti paman petani atau paman Bush. Sementara sopir-sopir lainnya sudah terbangun dari terlenanya, tapi ketika mencoba bermanuver banting setir kepalanya nyampluk (membentur) kaca spion sehingga hanya bisa melihat dari sisi yang berbalikan (sayangnya tidak setiap kaca spion tertulis peringatan seperti di luar negeri : “objects in mirror are closer than they appear”) .

Kalau saya……., kalau saya ini lho….., lebih baik terlena 35 tahun tapi ada yang membangunkan. Perkara siapa yang membangunkan ya mestinya bukan soal benar. Kata orang sonoan dikit : perhatikan “what”-nya dan bukan “who”-nya. Menyitir pesan Kanjeng Nabi Muhammad saw. : (simaklah) apa yang dikatakan dan bukan siapa yang mengatakannya ….. (bahasa londo-Arabnya : maa-qoola walaa man-qoola).

Kini threats (ancaman) sudah di depan hidung dan mata. Bukan sekedar mendulang tailing, bukan sekedar soal lingkungan, bukan sekedar praktek HAM. Itu isu yang sudah usang, sudah mataun-taun (bertahun-tahun) diungkat-ungkit-ungkat. Melainkan lebih serius lagi soal nyanyian Dari Sabang Sampai Merauke…… yang sedang diublek-ublek oleh penumpang-penumpang kecil yang 35 tahun yang lalu masih telanjang dan ingusan….., karena di jaman itu belum ada kompor minyak masuk pedalaman Papua, sehingga tidak ada yang ngomporin……

***

Berhubung saya yang hanya sopir kendaraan kecil yang ex-officio CEO “Madurejo Swalayan”, sebuah bisnis ritel ndeso, ini selalu optimis dan terkadang kelewat percaya diri, maka saya keukeuh untuk mengatakan bahwa di balik setiap threats (ancaman) pasti ada opportunities (peluang). Dan peluang itu tidak akan pernah habis digali dan tidak akan pernah selesai digarap.

Merubah ancaman menjadi peluang memang bukan pekerjaan seperti membalik telapak tangan (kalau telapak kaki memang rada sulit). Perlu perjuangan panjang dan melelahkan. Perlu kerja keras semua pihak. Dan lebih berat lagi adalah perlu good will dan hati legowo dari para sopir untuk melakukan banting setir secara terencana, terukur, terarah dan tidak emosional.

Pendeknya, matahari harus dibangunkan…..!. (Ben tambah nggegirisi……!). Kalau perlu jangan biarkan dia selalu tenggelam di horizon barat, melainkan tenggelamkan dia di ufuk timur. Paradigma community development harus dirombak-mbak…..! Tidak ada tawar-menawar…..! Paradigma lho, bukan paraturan (peraturan atau kebijakan). Kalo paraturan mah suke-suke nyang bikin aje….

Suka tidak suka, saya tetap mengatakan, jangan biarkan stakeholders selalu berarti obyek, melainkan subyek. Setidak-tidaknya ajari mereka agar berkompeten menjadi subyek. Kalau paradigma tidak berubah, maka action plan-nya pasti akan tambal sulam saja, gali lubang tutup lubang. Nampaknya, “ngelmu gaib” pun harus diyakinkan. Dan yang paling penting, bahwa peluang itu sebenarnya ada di depan mata.

***

Sesungguhnya ini bukan hanya monopoli sopir-sopir kendaraan besar seperti Freeport. Freeport saja yang sedang ketiban apes, duluan diobok-obok. Meskipun sesungguhnya ada fakta lain yang tidak bisa saya ceritakan di sini. Bahkan oleh para antropolog pun tidak pernah disinggung-singgung adanya satu faktor sosio-kultural-antropologis (embuh panganan opo iki……) yang terkait dengan etos kerja.

Tapi baiklah, hal itu dikesampingkan saja. Masih banyak sopir-sopir kendaraan besar berpangkat penguasa dan pengusaha di tempat-tempat lain yang seprana-seprene (sengaja) terlena dan enggan dibangunkan. Dan agaknya perlu mulai mawas diri dan belajar dari apa yang sedang dirundung oleh Freeport. Tidak ada buruknya kalau mau belajar dari kemelut di depan gawangnya Freeport, mumpung belum kedarung (telanjur) menjadi blunder.

Omong-omong soal menggarap peluang, rasanya kok tidak ada kata terlambat. Sopir-sopir boleh udzur, boleh meninggal duluan (kalau menginginkan), boleh malas mikir, boleh over-sek (saya suka terjemahan baru ini, untuk menyebut : usia lebih seketan, lebih limapuluhan), tapi kernet dan penumpang kecilnya pasti semakin pintar dan cerdas. Lha, mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana menggali, menangkap dan menggarap peluang-peluang yang ada. Agar hubungan sesrawungan (silaturahmi) antara segenap anasir stakeholders dan shareholders tampak lebih manis, mesra dan profitable.

Tapi perlu pengorbanan dan biaya tidak sedikit? Lha iya….., sudah dibilangin …….., mbok kernet-kernet dan penumpang-penumpang kecil itu disuruh memikirkan bagaimana memasukkan biaya-biaya dan peluang-peluang itu sekaligus ke dalam analisis bisnis yang diperbaharui. Mencari tambahan kernet-kernet yang lebih terampil dan trengginas (lincah) juga bukan hal yang tabu. Jer basuki mawa bea…….. Kalau kepingin hidup aman, nyaman, damai, tenteram, sejahtera, gemah ripah loh jonawi tata tentrem kerta raharja, keuntungan dan kekayaannya terus melimpah dan menggunung, ya jelas perlu pengorbanan dan biaya.

Tidak lain agar anak-cucu sopir-sopir yang sudah over-sek itu tetap bisa menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke dengan penuh semangat, langkah tegap, kepala tegak dengan rona kebanggaan di wajahnya, entah berambut lurus atau keriting, entah berkulit sawo bosok, kuning langsat atau gelap gulita …….

Madurejo, Sleman — 5 Maret 2006
Yusuf Iskandar

Iklan

Kandang Itu Kini Berubah Jadi Cantik

29 Juli 2008

(Terminal Baru Bandara Mozes Kilangin, Timika, Papua)

Dalam perjalanan dari Jayapura menuju Jakarta hari Rabu, 23 Juli 2008 yang lalu, burung Garuda yang saya tumpangi transit di Timika dan Denpasar. Saat transit di bandara Timika selama 30 menit, pramugari mengumumkan bahwa penumpang diberi pilihan untuk tetap menunggu di pesawat atau boleh juga kalau mau turun ke ruang tunggu.

Mulanya saya agak ragu hendak turun. Sebab segera terlintas di benak saya kondisi ruang tunggu di terminal keberangkatan bandara Timika yang oleh sebagian teman yang pernah transit di sana diolok-olok seperti kandang (terjemahannya, mana ada kandang yang menyenangkan….). Dan memang seperti itulah kesan dalam ingatan saya sejak terakhir saya ada di sana sekitar tiga setengah tahun yang lalu.

Namun seperti kebiasaan saya, selalu berharap siapa tahu ada yang berbeda atau ada pengalaman baru yang barangkali dapat mengungkit ide atau inspirasi. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut turun dari pesawat menuju ke terminal ruang tunggu keberangkatan.   

Sebelum memasuki bangunan terminal, mulailah ada yang saya rasakan agak beda, kok saya disuruh masuk ke ruang kedatangan. Padahal seingat saya terminal keberangkatan termasuk bagi penumpang transit berada di bangunan terpisah sekitar 250 meter dari terminal kedatangan. Dalam keraguan lalu saya tanyakan kepada mbak security alias satpam perempuan bandara : “Untuk yang transit dimana?”. Dijawabnya : “Masuk saja, pak”.

Begitu masuk ruang kedatangan, barulah saya lihat tampilan ruang kedatangan yang kini terlihat bagus, bersih, tertata rapi, dan pokoknya jauh berbeda dengan ruang kedatangan bandara Timika yang saya kenal sebelum ini. Penumpang transit kemudian diarahkan ke pintu keluar lalu masuk lagi ke ruang tunggu keberangkatan di sebelahnya.

Saat di luar depan bandara inilah saya baru tahu bahwa bandara ini sudah direnovasi. Semakin surprise ketika tiba di dalam ruang tunggu. Semua tampak baru, lantai dan dindingnya terlihat bersih, bangku-bangku tertata rapi, tata ruang dan dekorasinya terkesan indah, suasananya sejuk ber-AC, berhiaskan aneka informasi tentang kegiatan tambang PT Freeport Indonesia (mudah ditebak, pasti perusahaan tambang inilah yang mbangun) dengan display yang apik dan menarik.

Lalu saya masuk ke toiletnya, tercium bau harum (dalam arti sebenarnya) dan terlihat bersih bak toilet hotel berbintang. Saya pun dibuat kagum. Bukan kagum kepada bandara barunya, melainkan kagum kepada diri sendiri kenapa baru sekarang saya mengalaminya…. (bukan sepuluh tahun atau sebelum sepuluh tahun yang lalu, misalnya).

Sangking penasarannya, saya pun bertanya bodoh kepada seorang petugas yang ada disana : “Bandaranya baru, ya pak?”. Dengan bangga bapak petugas itu pun menjawab : “Iya pak, baru diresmikan Menteri Perhubungan beberapa hari yang lalu”.

Ooo…, pantesan….. Masih bau SIRSAT….. SIRSAT yang saya maksud bukanlah nama buah melainkan kependekan dari pasir sisa tambang, padanan bahasa Indonesia untuk pasir tailing yang berupa pasir atau material halus yang dihasilkan dari kegiatan penambangan.

Terminal baru bandara Mozes Kilangin, Timika (ibukota kabupaten Mimika), memang baru saja diresmikan pada tanggal 18 Juli 2008 oleh Menteri Perhubungan. Hal yang membanggakan, bahwa rupanya konstruksi bangunan bandara itu terbuat dari hasil pemanfaatan pasir sisa tambang (SIRSAT) yang memang jumlahnya melimpah ruah nyaris tak terhingga.   

Kalau boleh disebut bahwa prestasi pemanfaatan limbah SIRSAT ini sebagai sebuah kesuksesan, maka semestinya pemerintah dan masyarakat kabupaten Mimika pada umumnya akan bisa memanfaatkannya bagi kemudahan kegiatan pembangunan mereka, baik untuk keperluan pemerintah, kemasyarakatan maupun individual. Lha wong jumlahnya enggak bakal habis dipakai hingga tujuh turunan….. Tentu saja mesti ada aturan main yang benar.

***

Bandara Timika pertama kali dibangun tahun 1970 sebagai bandara perintis, terutama untuk menunjang operasi penambangan PT Freeport Indonesia. Lalu pada awal tahun 1990-an bandara ini diperbesar, diperlebar dan diperpanjang, hingga kini memiliki panjang landas pacu 2930 m. Tahun 2002 secara resmi nama bandara Mozes Kilangin mulai digunakan.   

Keberadaan sebuah bandara bagi sebagian besar kota kabupaten di kawasan Papua adalah sebuah pintu gerbang bagi kemudahan transportasi ke dan dari wilayah lain, apalagi lintas pulau dan negara. Ketertinggalan dan keterbatasan sarana transportasi darat antar wilayah di Papua ini agaknya mendesak untuk diatasi secepatnya, kalau tidak ingin begita-begitu saja perkembangan ekonominya. Perlu orang-orang yang berwawasan ke depan untuk membangunkan raksasa yang seprana-seprene dibiarkan tidur tidak bangun-bangun.  

Kini masyarakat kabupaten Mimika dan sekitarnya boleh bangga memiliki terminal baru bandara berkelas internasional dengan segala kelengkapan fasilitasnya yang jauh lebih baik dibanding sebelum tanggal 18 Juli yang lalu. Begitu pun bu Maria Kilangin boleh tersenyum bangga nama almarhum suaminya diabadikan sebagai nama bandara Timika yang kini tampil lebih cantik, nyaman dan “layak”.

(Sebenarnya dalam hati saya kepingin bertanya : kira-kira sampai kapankah kebersihan, kecantikan dan kerapiannya itu akan mampu bertahan? Tapi, enggak jadilah…. Nanti dikira berprasangka buruk dan sinis…..).

Singkat kata, berada di terminal bandara Mozes Kilangin kini…., benar-benar serasa sedang berada di terminal bandara……. (Lho, memang sebelumnya tidak? Ya serasa berada di dalam kandang, itu tadi……).

Yogyakarta, 27 Juli 2008
Yusuf Iskandar

Matoa (1)

21 Maret 2008

Matoa adalah nama buah. Bentuknya lonjong, bulat agak memanjang, seperti buah kelengkeng, seukuran telur burung puyuh besar dan ada juga yang lebih besar lagi sedikit. Warna kulit buahnya, kalau masih muda berwarna kuning kehijauan, ada juga yang menyebut hijau-kekuningan dan kalau sudah matang berubah menjadi coklat kemerahan.

Rasa buahnya “ramai”, dan susah didefinisikan. Coba saja tanya kepada yang pernah memakannya, maka ada yang bilang rasanya masin, seperti antara rasa buah leci dan buah rambutan. Ada juga yang merasakannya sangat manis seperti buah kelengkeng. Ada yang bilang manis legit. Ada lagi yang merasakan aromanya seperti antara buah kelengkeng dan durian. Pendeknya, buah matoa berasa enak, kata mereka yang suka.

Selama ini orang mengenal buah matoa berasal dari Papua, padahal sebenarnya pohon matoa tumbuh juga di Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa pada ketinggian hingga sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut. Selain di Indonesia pohon matoa juga tumbuh di Malaysia, tentunya juga di Papua New Guinea (belahan timurnya Papua), serta di daerah tropis Australia.

Di Papua sendiri pohon matoa sebenarnya tumbuh secara liar di hutan-hutan. Ini adalah sejenis tumbuhan rambutan, atau dalam ilmu biologi disebut berasal dari keluarga rambutan-rambutanan (Sapindaceae). Sedangkan jenisnya dalam bahasa latin disebut pometia pinnata.

Di Papua New Guinea, buah matoa dikenal dengan sebutan taun. Sedangkan di daerah-daerah lainnya, sebutannya juga bermacam-macam, antara lain : ganggo, jagir, jampania, kasai, kase, kungkil, lamusi, lanteneng, lengsar, mutoa, pakam, sapen, tawan, tawang dan wusel. Artinya, buah ini sebenarnya juga dijumpai di daerah-daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, meskipun orang lebih mengenai buah matoa ini berasal dari Papua, namun jangan heran kalau di sebuah shopping center di Yogya Anda akan menjumpai buah matoa dari Temanggung.

Buah matoa yang dijumpai di Jawa atau tempat-tempat lain, pada umumnya tidak sebagai hasil budidaya, melainkan sekedar hasil sampingan dari tanaman hias yang tumbuh di halaman-halaman yang cukup luas, atau bahkan hasil dari pohon matoa yang tumbuh liar. Di Papua, pohon matoa yang semula tumbuh liar kini menjadi semakin naik gengsinya. Apalagi semenjak presiden Megawati mencanangkan penanaman berbagai jenis pohon asli Indonesia seperti cempaka Aceh, meranti Kalimantan dan matoa Papua sebagai pohon lestari, di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, pada awal Maret yll.

Dalam rangka program penghijauan nasional itulah, maka Menteri Negara Lingkungan Hidup, Nabiel Makarim dan Gubernur Papua JP Solossa, pada Maret yll. mengawali penanaman 1000 pohon matoa di Kabupaten Mimika.

***

Hari Sabtu, 7 Juni 2003 akhir pekan lalu, Departemen Lingkungan (Environmental) PT Freeport Indonesia melanjutkan gerakan penanaman 1000 pohon matoa. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kegiatan rekreasi yang melibatkan segenap jajaran management, karyawan dan keluarganya, diselingi dengan acara-acara lomba dan hiburan bagi anak-anak. Maka, 1000 pohon matoa pun segera selesai ditanam beramai-ramai. Penanaman dilakukan di lahan bekas penimbunan tailing (pasir buangan) sisa hasil pengolahan tembaga, di tepi selatan sungai Aijkwa, atau di sisi utara kota Timika.

Dari pohon matoa, selain diambil buahnya, batang kayunya juga sangat bermanfaat dan bernilai ekonomis. Tinggi pohonnya dapat mencapai 40-50 meter dengan ukuran diameter batangnya dapat mencapai 1 meter hingga 1.8 meter. Batang kayu pohon matoa termasuk keras tetapi mudah dikerjakan. Banyak dimanfaatkan sebagai papan, bahan lantai, bahan bangunan, perabot rumah tangga, dsb. yang ternyata tampilan kayunya juga cukup indah.

Maka, dapat dimaklumi kalau umumnya masyarakat Papua akan dengan bangga menyebut buah matoa sebagai buah khasnya propinsi Papua. Pohon ini berbunga sepanjang tahun, maka pohon matoa pun dapat dikatakan berbuah hampir sepanjang waktu. Oleh karena itu, buah matoa relatif mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional di Papua.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau ada yang menawarkan matoa yang ukurannya sangat besar dan menjadi makanan kesukaan butho (raksasa), maka itu pasti matoahari….. ..)

Tembagapura, 9 Juni 2003
Yusuf Iskandar