Posts Tagged ‘tahu’

Jadah Tahu – Tempe Bacem

23 September 2010

Jadah ketan, tahu dan tempe bacem, dimakan bersama, diseling nyeplus cengek (cabe rawit). Wauw…!

Yogyakarta, 19 September 2010
Yusuf Iskandar

Tempe Dan Tahu Bacem

22 April 2010

Yang paling saya sukai saat ibunya anak-anak nggak ada kesibukan adalah menjadi kreatif. Seperti kali ini, membuat tempe dan tahu bacem. Bayangkan… (bayangkan saja), pagi-pagi menyantap tempe dan tahu bacem lalu nyeplus cengek (cabe rawit) yang dipetik dari halaman rumah (yang ini hasil kreatifitas bapaknya anak-anak, tentu), ditemani secangkir kopi tradisional Shang Hai asli dari Cianjur. Wuahhh.., tak terlukiskan dengan kata-kata, kecuali kalimat di atas…

Yogyakarta, 21 April 2010
Yusuf Iskandar

Istirahat Makan Siang Di Kampoeng Kopi Banaran

19 Mei 2008

Banaran_1

Menempuh perjalanan Yogyakarta – Semarang atau Solo – Semarang atau sebaliknya, adakalanya menjadi membosankan, terutama bagi mereka yang sudah sering midar-mider di jalur itu dengan kendaraan pribadi. Kalau istirahat bisa dianggap sebagai obatnya, maka ada pilihan untuk mencoba beristirahat di Kampoeng Kopi Banaran.

Kampoeng Kopi Banaran adalah sebuah area tempat makan di pinggiur jalan yang bernuansa alam bebas. Kawasan yang juga menyebut dirinya Wisata Agro ini terletak di Jl. Raya Bawen – Solo km 1,5 tidak jauh dari pertigaan terminal Bawen ke arah selatan pada jalur yang menuju kota Salatiga dan Solo, Jateng. Lokasinya persis berada di tikungan jalan, sehingga pengunjung dari arah utara perlu ekstra hati-hati untuk masuk ke lokasi yang berada di sisi barat jalan ini.

Sejenak menyeruput kopi tubruk yang mak thengngng… sensasinya, bisa mengubah suasana batin para sopir menjadi lebih segar. Bagi mereka yang tidak biasa minum kopi hitam, masih banyak pilihan minuman panas atau dingin turunan dari kopi dan teh, atau minuman es-esan. Menu unggulannya memang kopi, sesuai namanya. Barangkali memang gagasan utamanya adalah menyediakan tempat pemberhentian atau peristirahatan yang menyenangkan bagi mereka yang sedang capek menempuh perjalanan berkendaraan.

Kalau kemudian sruputan kopi tubruk dirasa belum cukup (dan biasanya memang begitu…), ada tersedia banyak pilihan menu makan. Makanannya disajikan secara khas di atas wadah piring terbuat dari anyaman bambu yang di-lambari dengan daun pisang. Aneka masakan ayam kampung adalah lauk utamanya. Rasa masakannya tergolong enak dengan racikan bumbunya pas banget di lidah orang kebanyakan. Harga yang harus dibayar pun tergolong wajar.

Selain masakan ayam kampungnya yang pokoknya enak banget, jangan lupa untuk juga mencicipi tahu goreng bandungan plus sambalnya. Tahu khas dari daerah Bandungan, Ambarawa ini gigitannya terasa kenyal dan gurih dan hoenak tenan….., tapi tidak memberi efek kenyang. Serasa tidak akan cukup kalau hanya mencocol satu, dua, tiga, empat atau lima potong tahu gorengnya. Membeli yang belum dimasak untuk dibawa pulang pun bisa.

Sambil menikmati makan siang, alunan irama musik keroncong dan campursari yang dibawakan oleh sekelompok pemusik seolah-olah mengiringi irama yang sama di perut pengunjungnya. Sambil menunggu nasi di tembolok turun ke usus halus sebelum tubuh beranjak melanjutkan perjalanan, sambil kepala lenggut-lenggut seperti sapi kekenyangan mengikuti alunan musik keroncong sederhana. Nglaras benar……

***   

Banaran_2

Keunggulan lain lain dari Kampoeng Kopi Banaran ini selain masakannya yang enak dan lokasinya yang mudah dicapai, adalah bahwa kawasan ini cocok untuk dijadikan obyek tujuan wisata. Resto atau kafe ini menempati sebagian kecil dari kawasan perkebunan kopi seluas lebih 400 hektar milik PT Perkebunan Nusantara IX. Meski sebenarnya sudah sejak enam tahun lalu di kawasan ini sudah berdiri warung kopi Banaran, namun pengembangan secara lebih professional sebagai kawasan wisata agro mula dibuka sejak diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2005.

Tentu wisata agro perkopian adalah utamanya. Dan, kini di kawasan ini juga telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas taman bermain, kegiatan outbound, sarana olah raga, camping ground, kebun buah, dsb. Lokasinya yang berada pada ketinggian lebih 400 meter di atas permukaan laut cukup memberi hawa segar di lingkungan perbukitan yang berpemandangan menarik. Sehingga kalaupun hanya ingin sekedar beristirahat, maka lokasi ini cocok untuk disinggahi bersama keluarga.

Bisnis warung kopi pinggir jalan yang bernuansa elite dan kini lebih populer dengan sebutan kafe, agaknya memang lagi nge-trend. Kampoeng Kopi Banaran juga menangkap peluang itu. Maka dalam skala kawasan yang lebih kecil, warung kopi Banaran juga membuka cabangnya di daerah kecamatan Mungkid, yaitu di penggal jalan naik-turun perbukitan di antara Magelang – Ambarawa. Lokasinya yang berada di pinggir jalan tidak terlalu sulit untuk ditemukan.

Salah satu kebiasaan saya kalau menjumpai produk kopi yang khas di daerah yang kebetulan sempat saya kunjungi adalah ingin menikmati lebih puas di rumah. Karena itu sekotak kopi robusta Banaran seberat 250 gram saya cangking untuk dibawa pulang (mbayar, tentu saja…..). Sekedar agar ketika di rumah bisa lebih puas menikmati rasa kopinya yang mantap alami….., seperti yang tertulis di bungkusnya.

Yogyakarta, 19 Mei 2008
Yusuf Iskandar

Suatu Pagi Di Pasar Sentul

9 April 2008

Usai sholat subuh, anak laki-laki saya yang berumur 6,5 tahun ikut bangun. Sekitar jam 05:15 pagi, saya ajak dia untuk jalan-jalan pagi ke pasar Sentul, Yogya, yang jaraknya tidak terlalu jauh. Jalanan masih terlihat sepi. Berdua anak saya, kami dapat jalan melenggang santai di bawah udara pagi yang segar dan belum terganggu kesibukan dan kebisingan lalulintas kota Yogya.

Tidak terlalu lama kami sampai di pasar Sentul yang pagi itu tampak sudah ramai dan sibuk. Halaman depan pasar yang normalnya adalah halaman parkir, pagi itu sudah penuh sesak dengan para pedagang yang menggelar dagangannya berjajar tidak rapi, menyisakan sekedar lorong sempit tempat orang-orang berjalan menyusuri sela-sela gelaran dagangan.

Kebisingan khas pasar tradisional mewarnai suasana pasar Sentul. Riuh rendah suara pedagang dan pembeli yang sedang melakukan transaksi, bunyi pisau yang beradu dengan landasan kayu dari pedagang ayam yang sedang memotong-motong daging ayam, dan gemuruh bunyi mesin pemarut kelapa.

Saya dan anak laki-laki saya lalu menerobos masuk ke dalam pasar dan turut berdesak-desakan di antara lalu-lalang pedagang dan pembeli yang umumnya kaum ibu dan para kuli pasar yang menggotong barang dagangan.

Tujuan kami pagi itu adalah mencari penjual gudangan atau urap, salah satu jenis makanan kesukaan saya. Setelah lebih dua tahun tinggal di New Orleans, maka ada semacam rasa kangen ingin menikmati jenis masakan tradisional ini. Meskipun bisa membuatnya sendiri di rumah, tapi tak bisa disangkal bahwa gudangan atau urap bikinan si mbok penjual urap pasar Sentul ternyata mampu memberikan taste berbeda.   

Tidak mudah menemukan lokasi si mbok penjual urap ini. Ya, maklum wong sudah lama tidak masuk pasar. Setelah berjalan putar-putar kesana-kemari beberapa kali, akhirnya terpaksa tanya kepada seorang pedagang tahu. Si mbok penjual tahu menjawab dengan sangat sopan menjelaskan bahwa pedagang urap belum datang. “Dipun entosi kemawon sekedap malih, Pak” (ditunggu saja sebentar lagi, Pak), jelasnya.

Sambil menunggu kedatangan si mbok penjual urap, saya ajak anak saya untuk mencari pedagang tempe bungkus kesukaan saya. Saat jalan berdesak-desakan ini anak saya sempat melapor : “Kaki saya diinjak orang, Pak”, katanya ringan sambil agak meringis. Ya, inilah pasar. Setelah menyodorkan uang Rp 1.000,- untuk 12 buah tempe bungkus, kami lalu kembali menuju ke lokasi penjual urap. Rencananya, sore harinya saya ingin menikmati hangatnya tempe goreng Yogya sambil minum kopi.

*** 

Rupanya si mbok penjual urap baru saja selesai menggelar dagangannya. Langsung saya memesan lima bungkus urap. Dengan cekatan si mbok membuka selembar sobekan kertas koran, lalu dilapis dengan sesobek kecil daun pisang di atasnya. Tangannya menjumput (mengambil dengan ujung-ujung jari) nasi putih, lalu dijumputnya serba sedikit daun ubi, daun pepaya, daun kencur, kecambah, bijih mlandingan, daun bayam, dsb., lalu ditambahkan bumbu parutan kelapa, dan akhirnya sepotong tempe besengek (jenis masakan berbahan tempe atau tahu).

Harga per bungkus nasi urap yang dua tahun yll. masih berkisar Rp 150,- atau Rp 200,-, kini sudah naik menjadi Rp 500,- Agaknya semua pihak sudah maklum dengan harga ini. Para pembeli pun terkadang tanpa perlu banyak ngomong untuk memperoleh sebungkus nasi urap. Cukup dengan menyodorkan selembar uang limaratusan, lalu tinggal menyebut tahu atau tempe, setelah dibungkuskan lalu ngeloyor pergi.

Saya suka menyebut peristiwa semacam ini dengan mekanisme pasar tradisional, yang tentu berbeda maknanya dengan istilah mekanisme pasar seperti yang sering disebut di koran atau televisi.

Mekanisme pasar tradisional yang tumbuh dari perhitungan ekonomi yang sederhana saja. Karena harga bahan mentahnya naik maka harga jualnya juga naik dan pembeli pun mafhum dengan harga yang disesuaikan itu. Demikian seterusnya, tanpa perlu pusing-pusing menghitung yang rumit-rumit tentang margin keuntungan guna break even.

Juga tidak perlu pusing-pusing tentang siapa presiden negerinya atau wakil presiden atau menteri kabinet atau pejabat ini dan itu, dimana hari-hari ini televisi sedang menyiarkan agenda Sidang Istimewa MPR. Lha, wong presiden dan para pejabat itu juga tidak pernah pusing-pusing memperhitungkan mekanisme pasar ala si mbok penjual urap ini.  

Nyatanya toh dengan cara yang demikian itu si penjual tetap meraih keuntungan yang barangkali tidak seberapa asal masih layak guna mencukupi kebutuhan hidup  keluarganya. Si pembeli pun ikhlas membayarkan uangnya guna memenuhi kebutuhan sarapan paginya. Dan salah satu di antara pembeli pagi itu adalah saya dan anak saya.

***

Tiba di rumah dari pasar Sentul pagi itu, kelima bungkus nasi urap langsung ludes. Kenikmatan sarapan pagi yang saya rasa luar biasa yang sudah lama tidak saya rasakan. Dalam hati saya sangat berterima kasih kepada si mbok penjual urap atau mbok-mbok lainnya di pasar. Pagi itu saya temukan sebuah kenikmatan sarapan pagi yang sangat saya syukuri.

Bukan saja lantaran taste dari nasi urap dan tempe besengek bikinan si mbok, melainkan juga lantaran untuk memperolehnya saya bersama anak saya harus berdesak-desakan di tengah hiruk-pikuknya pasar Sentul. Sungguh pengalaman berbeda yang menyenangkan khususnya bagi anak laki-laki saya.

Menyenangkan? Ketika selesai sarapan saya bertanya kepada anak saya :

Le, bagaimana kalau besok pagi jalan-jalan lagi ke pasar Sentul” (terkadang saya menyapa anak saya dengan Le, sapaan akrab ala desa di Jawa).

Jawab anak saya : “No, too crowded…..”, dengan logat bahasa Inggrisnya yang lebih baik dari saya. Tapi jawaban anak saya rupanya masih berlanjut : “…..tapi saya senang jalan-jalan ke pasar….”-

Yogyakarta, 26 Juli 2001
Yusuf Iskandar