Posts Tagged ‘sydney’

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane

2 Maret 2008

Pengantar :

Selama sepekan ini saya berkesempatan berkunjung ke Australia dalam rangka mengikuti Konferensi Internasional Ke-3 The MassMin 2000, yaitu konferensi pertambangan khususnya tentang metode penambangan bawah tanah untuk endapan masif. Konferensi ini diselenggarakan dari tanggal 30 Oktober hingga 2 Nopember di Brisbane, Queensland, yang kemudian pada tanggal 3 Nopember dilanjutkan dengan kunjungan ke tambang tembaga bawah tanah Northparkes, New South Wales.

Melalui milis Upnvy dan Upntby saya ingin berbagi ceritera dan pengalaman selama mengikuti konferensi ini. Semoga apa yang akan saya sampaikan ini dapat menjadi tambahan informasi dan pengetahuan terutama bagi rekan-rekan yang bergerak di dunia pertambangan.

  1. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 05:30 (14:30 WIB)
  2. Brisbane, 30 Oktober 2000 – jam 12:00 (21:00 WIB)
  3. Brisbane, 31 Oktober 2000 – jam 11:45 (20:45 WIB)
  4. Brisbane, 01 Nopember 2000 – jam 07:50 (4:50 WIB)
  5. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 07:00 (4:00 WIB)
  6. Brisbane, 02 Nopember 2000 – jam 11:30 (20:30 WIB)
  7. Parkes, 03 Nopember 2000 – jam 11:30 (19:30 WIB)
  8. Sydney, 04 Nopember 2000 – jam 11:45 (19:45 WIB)
Iklan

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (7)

2 Maret 2008

Parkes, 3 Nopember 2000 – jam 23:30 (19:30 WIB)

Sekitar jam 8:45 tadi pagi pesawat yang membawa rombongan 22 orang peserta MassMin 2000 untuk mengikuti kunjungan tambang ke tambang Northparkes di New South Wales berangkat meninggalkan Brisbane. Sekitar tengah hari saya tiba di bandara Sydney yang masih tampak baru bekas direnovasi untuk Olimpiade yll. Di Sydney saya harus menambah satu putaran jarum jam lebih cepat.

Dari Sydney disambung dengan penerbangan sekitar satu seperempat jam menuju bandara di kota kecil Parkes. Ada keterlambatan dalam penerbangan ini, sehingga akhirnya baru sekitar jam 15:00 tiba di tambang Northparkes yang terletak sekitar 27 km dari kota kecil Parkes.

***

Setelah mengisi buku tamu, beristirahat sejenak, lalu diberikan penjelasan singkat oleh Manajer Tambang, Iain Ross, tentang pencapaian tambang tembaga dan emas ini, termasuk masalah prosedur keselamatan kerja tambang, dsb., maka sekitar jam 16:00 sore kunjungan ke lapangan dimulai. Rombongan dibagi dua, separuh ke tambang terbuka dan separuhnya lagi ke tambang bawah tanah, dan selanjutnya bergantian.

Saya ikut kelompok yang ke tambang terbuka (open pit) lebih dahulu. Tambang terbukanya sementara ini memang sedang tidak beroperasi karena kelebihan stock pile (persediaan batu bijih yang sudah ditambang). Setelah mengunjungi ke dua lokasi tambang terbuka, lalu dilanjuytkan ke ore processing plant (pabrik pengolahan bijih).  Sekitar jam 17:45 sore saya baru menuju ke tambang bawah tanah yang beroperasi dengan metode block caving.

Dunia pertambangan mengenal Tambang Northparkes yang berproduksi pada tingkat 16.000 – 19.000 ton per hari, karena prestasinya yang tergolong luar biasa. Dibandingkan dengan tambang-tambang bawah tanah di dunia yang menerapkan metode penambangan yang sama, tambang ini mempunyai tingkat produktifitas yang membuat decak kagum.

Rata-rata lebih dari 70.000 ton perkaryawan bawah tanah pertahun dihasilkan tambang ini. Sementara tambang-tambang lainnya di dunia umumnya masih berada di bawah 40.000 ton. Sebagai pembanding, tambang IOZ di Freeport yang menerapkan metode penambangan yang sama masih berada di bawah 10.000 ton. Ongkos produksi tambang ini sekitar US3 per ton bijih, sementara tambang-tambang lain umumnya di atas US$4 per ton, sedangkan tambang IOZ di Freeport masih di atas US$5 per ton bijih.

(Catatan tambahan : Angka-angka tersebut adalah angka yang disajikan oleh tambang Northparkes sebagai pembanding, yang saya yakin pasti menggunakan data-data lama Freeport atau menggunakan kriteria berbeda dalam perhitungannya, karena produktivitas IOZ sekarang jauh lebih baik. Tapi tidak apalah, karena intinya adalah bahwa tambang Northparkes memang jauh lebih produktif)).-

Memasuki tambang bawah tanahnya Northparkes ini tidak seperti umumnya kalau kita masuk ke tambang bawah tanah yang sedang beroperasi. Tidak tampak kesibukan karyawan (miner) yang lalu-lalang di lorong-lorong tambang.

Baru saja kemarin saya mendengarkan presentasi tentang tele-mining dan menggagas tentang implementasinya ke depan. Hari ini saya sudah melihat satu contoh awal yang membuktikan bahwa tele-mining memang bakal tidak terhindarkan.

Operasi crusher (alat peremuk bijih) dan conveyor (alat angkut ban berjalan) di bawah tanah hanya dilakukan oleh seorang gadis manis bernama Linda. Dia hanya duduk di control room (ruang pengendali) yang menghadap ke beberapa layar monitor. Dari tempat duduknya itulah, dia mengoperasikan sistem crusher dan conveyor di seluas tambang bawah tanah.

Saat ini ada tiga buah LHD (load-haul dump, alat bergerak bawah tanah yang berfungsi untuk memuat, mengangkut, menumpah bijih hasil tambang) yang beroperasi secara manual oleh tiga orang operator yang duduk di kabinnya. Namun saya melihat bahwa di sana sudah tersedia perlengkapan tele-remote yang siap untuk mengoperasikan LHD. Kalau perlengkapan itu sudah mulai beroperasi, artinya sopir-sopir LHD tidak diperlukan lagi, diganti dengan operator yang duduk di ruang pengendali menemani Linda.

Sekian waktu mendatang, alat-alat untuk pekerjaan pemboran, peledakan, alat bantu pemecah batuan, alat angkut truck, juga akan menyusul ber-automation. Lha alat semacam itu memang di antaranya sudah ada dan sudah diuji coba, tinggal tunggu waktu kapan dibeli orang dan kapan dioperasikan.

Sekitar jam 20:00 malam saya baru meninggalkan tambang Northparkes menuju hotel di kota Parkes. Meskipun hanya sempat beberapa jam saja mengunjungi tambang ini, tapi sangat membawa kesan yang dalam akan adanya sebuah operasi tambang yang sangat effektif dan effisien. Pada gilirannya, tentu bukan tidak mungkin juga tambang-tambang di Indonesia akan mengikutinya. Sekalipun kita akan berhadapan dengan akibat sampingannya yaitu tentang sebuah industri yang sangat berorientasi padat modal tetapi tidak lagi bersifat padat karya.

***

Kota Parkes malam ini sangat sepi, saat saya tiba di hotel. Sekitar jam 21:00 malam saya sengaja berjalan kaki sekitar 1,5 km menuju pusat kota untuk mencari makan nasi di restoran Cina. Sementara kawan-kawan yang lain cukup makan di restoran hotel karena mereka tidak perlu nasi. Eh, lha kok di restoran Cina, yang kebetulan masih buka, saya ketemu dengan rekan-rekan dari Freeport yang baru besok pagi akan melakukan kunjungan ke tambang Northparkes. Ya, sama-sama kelaparan dan ingin makan nasi.

Sialnya malam ini, saya lupa mempersiapkan penyambung colokan listrik model Australia yang berkaki tiga. Colokan listrik yang saya bawa adalah model Amerika yang kedua kaki depannya tegak lurus, sedangkan model Australia kedua kaki depannya pengkor (seperti kaki kanguru, barangkali). Sementara hotel yang saya inapi tidak menyediakan fasilitas penyambung colokan listrik ini seperti halnya di Brisbane.

Terpaksa malam ini saya tidak dapat mengirimkan catatan ini tepat waktu. Ya sudah, wong baterei laptop saya juga sudah hampir habis. Besok saja di-posting-nya, kalau sudah dapat penyambung colokan listrik.

Yusuf Iskandar

Catatan Dari MassMin 2000 – Brisbane (8 – Selesai)

2 Maret 2008

Sydney, 4 Nopember 2000 – jam 23:45 (19:45 WIB)

Sekitar jam 1:00 siang saya sudah tiba di hotel di Sydney, setelah tadi pagi meninggalkan kota Parkes. Di bandara Sydney, saya dan rombongan saling besalaman dengan sesama peserta kunjungan tambang lainnya yang segera akan melanjutkan perjalanannya masing-masing. Ada yang langsung nyambung pesawat ke USA, Swedia, Finlandia atau Afrika Selatan, atau pulang ke rumahnya di Australia. Ada juga yang masih mempunyai urusan bisnis atau jalan-jalan di Sydney, seperti peserta dari Jepang, Cina, Zimbabwe, dsb.

Yang pasti, rangkaian kegiatan konferensi MassMin 2000 sudah selesai. Seperti diinformasikan oleh panitia sebelumnya saat di Brisbane, bahwa konferensi MassMin berikutnya akan diselenggarakan di Chili pada tahun 2005. Diharapkan tentunya dalam periode lima tahun mendatang akan lebih banyak topik-topik dan hasil-hasil perkembangan baru dalam dunia tambang bawah tanah khususnya yang beroperasi dengan metode caving.

Saya sendiri akan tinggal di Sydney semalam untuk hari Minggu besok baru kembali menuju New Orleans. Sementara di Sydney, saya sudah janjian dengan Mas Yusram Rantesalu yang alumni Tambang UPN angkatan 1986 yang saat ini sedang menyelesaikan program S2 di University of New South Wales mengambil bidang studi Geomekanik.

***

Akhirnya, catatan ini saya sudahi. Insya Allah, setiba di New Orleans saya akan melanjutkan perjalanan “Keliling Setengah Amerika”. Eh, sebentar. Hari Selasa, 7 Nopember 2000 nanti Amerika pemilu, antara lain untuk memilih siapa di antara George W. Bush dan Al Gore yang bulan Januari tahun depan akan menuju Gedung Putih melengser Bill Clinton. Kita lihat saja nantilah, kalau tidak capek ingin saya infokan breaking news-nya. Wassalam. (Selesai).-

Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(1).    Mendarat Di Sebuah Kota Kecil Di Australia

Pagi tadi sekitar jam 09:30 saya mendarat di kota kecil Parkes, di wilayah New South Wales, Australia. Mata masih terasa agak ngantuk. Itu karena ada beda waktu maju 3 jam dibanding waktu di Yogya. Sedangkan perjalanan itu sendiri dilakukan pada malam hari sehingga kebutuhan tidur malam di perjalanan tidak dapat terpenuhi sepenuhnya sejak berangkat dari Yogyakarta hari Minggu sore, 29 Juli 2001, kemarin.

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Parkes saya tempuh estafet dengan ganti pesawat di Denpasar dan di Sydney. Meskipun kota Parkes ini hanyalah sebuah kota kecil, namun setiap harinya ada transportasi udara yang melayani penerbangan dari Sydney ke Parkes dan sebaliknya. Paling tidak, sehari ada tiga kali penerbangan, kecuali di akhir pekan hanya ada dua kali penerbangan.

Seperti yang saya alami tadi pagi, perusahaan penerbangan Hazelton dibawah bendera Ansett Australia menerbangkan 12 orang penumpang dengan pesawat kecil berkapasitas 19 tempat duduk yang bersusun dua-dua masing-masing di kiri dan kanan lorong pesawat. Bahkan untuk masuk ke pesawat pun mesti menundukkan kepala karena atapnya yang rendah. Pesawat baling-baling jenis Metro 23 ini hanya disertai oleh dua awak penerbangnya dengan tanpa pramugari.

Dari Sydney ke Parkes yang jarak daratnya sekitar 365 km normalnya ditempuh dalam satu jam perjalanan udara, akan tetapi pagi tadi ternyata mampu ditempuh oleh pesawat kecil ini selama kurang dari satu jam. Sekitar jam 09:30 pagi saya sudah mendarat di bandara kota Parkes.

Ini adalah kunjungan saya yang kedua di kota Parkes. Bulan Nopember tahun lalu saya pernah datang ke kota ini untuk mengunjungi tambang bawah tanah Northparkes. Waktu itu saya bersama rombongan hanya sempat tinggal di Parkes semalam saja. Kali ini untuk kedua kalinya saya akan berada di kota ini selam dua minggu.

Tujuan saya kali ini juga dalam rangka melakukan kunjungan tambang ke Northparkes Mine, namun kali ini lebih spesifik dalam rangka mempelajari banyak hal tentang penerapan metode penambangan bawah tanah “Block Caving”, yang dalam terminologi birokrat sering disebut dengan studi banding.

***

Begitu tiba di Parkes, seorang pegawai perempuan tambang Northparkes sudah menjemput di bandara. Sebuah sedan Holden Commodore warna putih, entah produksi tahun kapan, sudah menunggu untuk selanjutnya akan saya gunakan sebagai sarana transportasi ke dan dari lokasi tambang Northparkes.

Pegawai perempuan itu lalu menunjukkan jalan menuju ke sebuah rumah di kota Parkes dimana saya akan menempatinya selama dua minggu. Jarak dari bandara ke kota Parkes sekitar 5 km. Setelah beristirahat sebentar, saya langsung menuju ke lokasi tambang Northparkes dengan diantar oleh pegawai perempuan itu. Jarak ke lokasi tambang sekitar 30 km.

Mula-mula saya agak kagok mengemudikan mobil di Australia yang sistem lalulintasnya berjalan di sisi kiri, sama seperti di Indonesia. Ini karena dua minggu sebelumnya saya masih mengemudi dengan sistem lalulintas di sisi kanan di Amerika. Namun ini tidak berlangsung lama, selanjutnya menjadi biasa.

***

Parkes hanyalah sebuah kota kecil yang populasinya hanya sekitar 10.000 jiwa atau jika dihitung beserta kawasan sekitarnya yang disebut dengan The Parkes Shire jumlah penduduknya hanya sekitar 15.000 jiwa.

Di perbatasan kota sebelum memasuki kota ini terpampang tulisan yang sangat jelas terbaca : “Parkes is the 50 km/h town”, tentu maksudnya adalah bahwa semua jalan-jalan di dalam kota Parkes mempunyai batas kecepatan maksimum 50 km/jam. Perkecualian hanya di kawasan sekolah yang biasanya 40 km/jam.

Para pemakai jalan pun umumnya patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Hal ini membuat mengemudi menjadi enak dan mudah sepanjang saya juga patuh pada rambu-rambu yang ada. Rasanya selama dua minggu ini saya tidak akan mengalami kesulitan untuk berkendaraan sendiri di Parkes khususnya dan Australia umumnya.

Parkes, 30 Juli 2001.
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(11).  Malam Terakhir Di Parkes

Sore hari sepulang kerja saya menyempatkan untuk mampir dulu ke sebuah tempat menarik di kota Parkes. Nama tempat itu adalah Memorial Hill, yaitu sebuah bukit di tengah kota Parkes di mana di atasnya dibangun sebuah tugu atau monumen kenangan. Kenangan bagi para pejuang Parkes yang tewas di medan tugas di Asia di tahun-tahun sekitar masa Perang Dunia.

Kota Parkes memang mempunyai topografi yang  agak berbukit-bukit, sehingga kalau kita berdiri di puncak permukaan bukit yang di atasnya berdiri tugu kenangan itu akan tampak pemandangan kota Parkes dari ketinggian. Itu sebabnya daerah puncak bukit ini disebut Outlook Memorial Hill. Sebuah tempat yang cocok buat rekreasi, terutama di saat matahari belum tinggi atau sudah agak lengser. Sebab kalau di siang bolong tentu akan terasa panas berada di areal terbuka di atas bukit.

Seperti halnya yang saya lakukan senja tadi. Matahari pas menjelang tenggelam, tampak bulatannya yang bergerak amblas bumi di horizon barat kota Parkes. Berkas cahaya merahnya nampak semakin lama semakin menghilang ditelan cakrawala. Sebenarnya pemandangan yang biasa saja, tapi jarang sekali dapat saya jumpai kalau tidak sedang berada di tempat ketinggian atau di pantai.

***

Malam ini adalah malam terakhir saya di kota Parkes. Atas saran seorang rekan, saya makan malam di sebuah restoran Italia. Begitu disuguhi roti, salad, steak, satu poci teh dan nambah, semuanya bablass. Sampai pelayannya berkomentar : “Sampeyan pasti sedang lapar sekali”. Dan jawaban saya singkat saja : “Nyet….” (memang), sambil agak nyengenges (nyengir).

Wong nyatanya memang saya sedang lapar berat. Tadi siang saya hanya berbekal sebuah apel hijau. Sedangkan makan siang yang disediakan perusahaan sudah terlanjur dikirim ke kantor tambang bawah tanah, sementara saya berada di kantor di luar tambang. Jadi ya hanya sekedar ngemil makanan kecil saja. Untungnya saat di kantor tadi perut terasa biasa-biasa saja, justru rasa lapar berat baru datang saat di restoran tadi.

Besok hari Sabtu pagi saya akan meninggalkan kota Parkes yang telah saya tinggali hampir dua minggu. Yang saya ingat sebenarnya bukan dua minggunya, melainkan dua Jum’at, karena berarti sudah dua kali Jum’at saya tidak ikut sholat Jum’atan. Lha, kemana mau Jum’atan wong di Parkes tidak ada masjid dan tidak ada komunitas muslim. Masjid terdekat tentunya di kota Sydney yang berjarak 365 km atau sekitar empat jam kendaraan darat atau satu jam lewat udara.

Sejauh ini saya belum tahu bagaimana caranya ngakalin kalau tiba saatnya sholat Jum’at tapi sedang berada di tempat yang jauh dari masjid atau komunitas muslim. Setidak-tidaknya cara ngakalin yang dibenarkan menurut syari’ah (hukum agama Islam).

Padahal menurut rencana sebelumnya saya akan berada di Parkes selama enam minggu untuk mengerjakan rencana kerja yang berskala lebih besar. Kalau benar jadi demikian apa ya saya mesti setiap 2-3 kali Jum’at terbang ke Sydney untuk sholat Jum’atan agar lepas dari tiga kali berturut-turut tidak Jum’atan. Wah, mesti ada anggaran tambahan. “Untungnya” akhirnya program enam minggu diperpendek menjaqdi dua minggu saja.

Omong-omong soal Jum’atan (dan yang sebangsa itu) memang kedengarannya kuno karena tidak ada yang pernah membicarakannya, sehingga topik semacam ini “ditinggalkan” orang. Kalau demikian, ya nyuwun sewu… (mohon maaf) biar saya bicarakan sendiri saja.

Parkes, 10 Agustus 2001
Yusuf Iskandar

Surat Dari Australia

16 Februari 2008

(12).  Makan Nasi Padang Sebelum Meninggalkan Sydney

Hari ini, Sabtu, 11 Agustus 2001, saya meninggalkan kota Parkes dengan menggunakan pesawat Hazelton jurusan Sydney. Sebelum ke bandara saya menyempatkan untuk jalan-jalan sebentar di Jalan Clarinda, Parkes. Keluar-masuk toko melihat dan mencari kalau-kalau ada yang menarik untuk dibeli.

Di toko buku “Bookcase” saya menemukan sebuah buku kecil yang berisi kumpulan humor untuk anak-anak. Judulnya “What A Laugh”, harganya A$12.95 (sekitar Rp 60.000,-). Saya pikir ini pasti cocok buat oleh-oleh anak perempuan saya yang berumur 9,5 tahun. Keluar dari toko buku saya segera meluncur ke bandara yang berjarak sekitar 5 km di luar kota Parkes.

Bandara kecil ini rupanya tidak menerapkan prosedur pengamanan yang rumit. Tidak ada security check dan juga tidak ada pemeriksaan sinar-X. Cukup dengan menukar karcis pesawat dengan boarding pass, lalu tinggal menunggu panggilan untuk naik pesawat. Sederhana, seperti naik bis atau kereta api saja. Di ruang tunggu bandara disediakan minuman kopi, teh atau air putih. Tinggal membuatnya sendiri kalau menginginkannya.

Sekitar jam 10:45, bersama 10 orang penumpang lainnya, pesawat kecil tipe Metro 23 berkapasitas 19 orang segera terbang. Pesawat ini sempat mampir berhenti 15 menit di kota Bathurst untuk narik penumpang tambahan. Akhirnya sekitar jam 12:15 siang tengah hari saya sudah berada di terminal domestik bandar udara Sydney. Untuk menuju ke terminal internasional ternyata mesti naik shuttle bus dengan biaya A$3.00. Tidak sebagaimana waktu datang dua minggu yll, di terminal internasional terdapat counter untuk penerbangan domestik sehingga mereka menyediakan angkutan gratis antar terminal.

***

Di Sydney saya harus menunggu cukup lama pesawat lanjutan untuk menyeberang ke Denpasar. Saya punya waktu hampir enam jam. Lalu mau ngapain?

Semula saya merencanakan untuk jalan-jalan ke pusat kota Sydney. Buku panduan wisata Sydney sudah saya buka-buka. Mau ke jembatan Harbour Bridge, gedung Opera House atau pelabuhan Darling Harbour, saya sudah pernah ke sana tahun lalu. Waktu itu saya ditemani oleh Mas Yusram Rantesalu, seorang alumni Jurusan Tambang yang sedang mengambil S2 di University of New South Wales (kini saya kehilangan jejaknya, beliau ada di mana). Tentang perjalanan saya ke Sydney ini malah saya belum sempat menuliskan catatan perjalanannya keburu catatan kecil saya ketlingsut (terselip).

Mau jalan-jalan ke pantai Bondi yang terkenal itu, atau ke Kings Cross tempat ngumpulnya kaum gay dan lesbian serta jenis-jenis entertainment yang sewarna dengan itu, pasti cuacanya sedang panas sekali. Dan lagi, kalau siang tengah hari begini terus apanya yang bisa dinikmati, selain keramaian berseliwerannya orang dan keluar-masuk toko saja.

Sempat saya putuskan untuk jalan-jalan ke Royal Botanic Garden yang terletak di seberang gedung Opera House, dengan harapan akan menikmati udara segar di sebuah taman di saat siang yang cukup panas. Padahal Sydney sedang musim dingin, suhu udara sekitar 22 derajat Celcius, tapi panasnya cukup menyengat di kulit.

Saya lalu menuju ke stasiun kereta api bawah tanah yang ada di bandara. Ternyata stasiunnya tutup. Tidak ada kereta yang akan lewat untuk hari itu. Entah rusak, libur, dalam perbaikan, atau entah kenapa saya tidak tahu. Lalu saya pindah ke terminal bis yang akan menuju ke kota. Eh, lha ditunggu-tunggu bis yang jurusan kota kok tidak datang-datang. Tiba-tiba saya ingat, bahwa saya belum makan siang. Lalu semakin ingat lagi bahwa di Sydney ada rumah makan Padang.

Ini dia! Saya lalu pindah menuju ke pangkalan taksi dan segera minta diantarkan ke bilangan Kensington menuju ke rumah makan “Pondok Buyung”. Serta-merta nasi putih, gulai otak, gulai nangka muda dan ikan asin segera terhidang, dan segera pula terlahap habis.

Di Sydney memang ada cukup banyak restoran Indonesia. Tapi bagi saya, yang satu ini lebih bersuasana Indoensia, mengingat untuk pesan makanan saya tinggal langsung menuju ke deretan menu yang berjajar di meja yang diatapi kaca (seperti rumah makan Padang di Indonesia), lalu tinggal tunjuk mau makan apa. “Paket standard” ala mahasiswa kost, nasi putih plus tiga macam lauk harganya A$6,50.

Rumah makan “Pondok Buyung” yang beralamat di 124 Anzac Parade, Kensington, ini saya kenal setahun yll. ketika saya sempat berkunjung ke Sydney. Pemiliknya seorang haji bernama H. Peter Syarief yang sudah belasan tahun merantau. Waktu itu sewaktu saya makan malah ditemani oleh Wak Haji Syarief yang kemudian “menuduh” saya sebagai wartawan karena sambil makan saya terus ngajak omong dan tanya ini-itu. Sayangnya siang tadi Wak haji sedang pulang istirahat di rumahnya.

Dengan makan siang di “Pondok Buyung” ini saya jadi merasa diuntungkan. Pasalnya saya sekalian bisa numpang sholat di sebuah ruangan yang berada di bagian belakang warungnya yang memang disediakan untuk itu. Hal yang sama juga saya lakukan ketika saya makan di situ tahun lalu.

***

Menjelang jam 4:00 sore saya sudah kembali berada di bandara Sydney. Bandara ini rupanya dilengkapi dengan fasilitas gratis untuk mengakses internet. Lumayan, saya lalu menyempatkan diri untuk membuka-buka email. Setelah itu saya baru check-in.

Sebentar lagi saya akan meninggalkan negeri kanguru, Australia. Ini adalah negara yang saya merasa “tidak perlu” untuk mengingat nama kalau ketemu Aussie (sebutan untuk orang Australia).

Lho? Ya, karena semua orang Australia mempunyai nama panggilan sama, yaitu “Mike”. Di manapun jangan kaget kalau Anda dipanggil “Mike”, meskipun nama Anda Bejo atau Muhammad atau Vincent atau Bonar. Atau sebaliknya, tanpa perlu tahu namanya, panggil saja dia dengan “Mike”, pasti tidak keliru. Tentu saja ini berlaku untuk suasana yang tidak formal.

Jam 06:00 sore pesawat akan tinggal landas dari bandara Sydney dan menyeberang ke Denpasar. Tiba di Denpasar menjelang tengah malam, nginap semalam, lalu selanjutnya Insya Allah hari Minggu pagi sudah tiba di Yogya berkumpul kembali dengan anak-anak dan ibunya di sana.

Akhirnya, terima kasih dan wassalam.

Sydney, 11 Agustus 2001
Yusuf Iskandar