Posts Tagged ‘swalayan’

Ada Maling Di Tokoku

30 Juni 2011

Pengantar:

Seseorang tak di kenal gagal melakukan upaya percobaan pencurian di toko saya “Madurejo Swalayan”, Prambanan, Sleman, Yogya Istimewa, pada tanggal 2 Juni 2011 dini hari. Cerita itu saya tulis di Facebook pada tanggal 2-4 Juni 2011 dalam beberapa penggalan cerita status. Berikut ini rangkaian ceritanya.

***

(1)

Menjelang jam 3 dini hari di libur Kenaikan Isa Almasih, seseorang melompati pagar setinggi 3 m menggunakan tangga dari kebun belakang rumah tetangga toko Madurejo. Kemudian menuju bangunan di belakang toko, tolah-toleh sana-sini, mengintip ruang kantor, memeriksa pintu dan jendela, lalu naik ke lantai 2. Sekitar lima menit kemudian turun dari lantai 2.

Agaknya tadi melakukan slow motion, mengendap-endap, mengintip si penunggu toko yang tidur di lantai atas.

(2)

Seseorang yang agaknya ingat kalau sedang tanggal muda itu kemudian berjalan perlahan meninggalkan bangunan toko menuju ke bagian belakang. Mungkin memeriksa gudang di belakang yang kondisinya sedang kosong. Sekitar lima menit kemudian kembali lagi.

Aha.., dia kini mengenakan topi yang dipakai terbalik, bagian depan topinya menghadap ke belakang. Entah mengapa dia meloncati lubang jendela teras kantor, padahal ada ruang terbuka yang lebih mudah. Rupanya kini membawa obeng.

(3)

Dua jendela kantor dicoba dicongkel tapi gagal. Pintunya juga tidak bisa dibuka. Lalu mencoba membuka pintu belakang toko, juga gagal.

Merasa kurang nyaman, seseorang berjaket hijau dengan topi terbalik itu lalu kembali menuju tangga ke lantai atas. Barangkali ingin memastikan si penunggu toko masih terlelap. Dengan menggunakan senternya dia pun melompati barang-barang yang masih tergeletak di ujung bawah tangga, lalu mengendapendap naik.

(4)

Pada saat yang sama, si penunggu toko yang tidak lama sebelumnya baru kembali dari toilet di lantai bawah mendengar ada suara mencurigakan di bawah. Dia pun lalu waspada memasang pendengarannya tajam-tajam. Dia lalu memutuskan untuk memeriksanya. Dia bergerak keluar kamarnya, berjalan mengendap-endap menuju ke tangga. Pelan-pelan dilongokkan kepalanya mengintip ke bawah dari ujung atas tangga.

(5)

Waaa.., betapa kagetnya ketika dalam keremangan dilihat ada seseorang yang juga sedang mengendap-endap naik. Orang itu pun tak kalah kagetnya ketika tahu aksinya dipergoki.

Seperti adegan “Tom & Jerry”, seseorang tak di kenal itu langsung bubar jalan, turun dengan panik melompati tumpukan barang, lari sipat kuping (kencang) ke arah belakang, menembus kegelapan, menuju pojok halaman dimana ada bak sampah. Agaknya dia tahu ada posisi bagus untuk lompat pagar.

(6)

Sesaat kemudian si penunggu toko menyusul sambil teriak-teriak sekenanya. Namun dia memutuskan balik lagi mengambil senter dan membangunkan temannya. Dia khawatir kalau orang tak dikenal itu membawa senjata tajam dan berbuat nekad.

Tentu saja dia kehilangan banyak waktu. Orang tak dikenal itu sudah hilang ditelan malam. Sementara si penunggu toko memeriksa sekeliling halaman. Ketemu dengan pak tani yang sedang mengalirkan air di sawah yang tentu saja tidak ngeh.

(7)

Semua adegan di teras kantor dan belakang toko itu terekam oleh kamera CCTV toko “Madurejo Swalayan”. Sore tadi saya buat copy-nya untuk dilaporkan ke pak polisi Polsek Prambanan, tentang adanya percobaan pencurian. Walau tidak terlihat detil, tapi prejengan (profil wajah) dan postur tubuhnya cukup mudah dikenali.

Segenap pegawai pun saya kumpulkan untuk briefing tentang langkah antisipasi yang harus dilakukan, karena orang itu pasti akan kembali…

(8)

Orang itu pasti penasaran, maka dia akan belajar lebih baik untuk mengulangi. Entah kapan dan dengan cara apa.

Maka langkah antisipasi yang utama tentu saja meningkatkan kewaspadaan di semua bidang. Setelah itu, ada langkah pencegahan secara fisik dan non-fisik (kalau disebut metafisik asosiasinya jadi lain). Secara fisik adalah memperbaiki sistem pengamanan. Secara non-fisik adalah ndongo (berdoa) memohon perlindungan Tuhan sekaligus berserah menitipkan kepada-Nya.

(9)

Menyadari bahwa selalu saja ada hal-hal yang dapat terjadi di luar kontrol manusia, maka itulah perlunya langkah non-fisik. Sehebat-hebatnya upaya pengamanan, selalu ada celah yang dapat ditembus. Maka ndongo (berdoa) adalah upaya untuk menambal celah itu dan biar Tuhan yang melakukannya.

Kalau memang Tuhan mengijinkan celah itu ditembus orang jahat, maka pasti Dia sudah menyediakan kompensasinya. Maka dalam berbisnis pun sebaiknya melibatkan Dia serta semua system-Nya…

(10)

Tentang maling yang misinya gagal itu rupanya saat kabur meninggalkan sepasang sandal jepit warna hijau. Kutanya pada penunggu tokoku: “Mau dibuang atau dipakai?”.

“Saya pakai saja, pak”, jawabnya.

Yo wis… Kalau tidak, mau kubakar sambil kubaca-bacain (baca koran yang untuk membakar maksudnya). “Ben kobong silite…”, kataku.

Siapa tahu bisa membuat (maaf) duburnya terbakar. Bisa meloncat-loncat seperti jaran (kuda). Bisakah? Ya siapa tahu saja bisa…

(11)

Haha… ‘Boss’ saya dan penunggu toko tertawa ngakak mendengar gurauanku. Padahal saya mengatakannya sambil serius. Tentu saja saya tidak berharap itu terjadi. Si maling sudah berbaik hati “terpaksa” menyedekahkan sandalnya, masak mau dibalas dengan yang lebih buruk. Sementara tidak ada sedikitpun kerugian diderita, kecuali rasa jengkel diperdaya begundal iseng.

Perburuan sedang dilakukan. Mudah-mudahan berhasil agar cerita ini ada lanjutannya.

(12)

Pak polisi sudah mendatangi TKP. Kami pun membantu dengan memberikan info yang diperlukan. Kalau nantinya bisa dilacak, diburu dan ketahuan siapa pelakunya, lalu apa? Ya tidak ada apa-apa…

Tidak ada angan-angan untuk menghakimi sendiri (saya takut jadi hakim), melainkan hanya ingin mengingatkan agar jangan coba-coba mengulangi perbuatan nakalnya (mengingatkan tapi mengancam). Lebih dari semua itu, pencegahan dan kewaspadaan tetap harus diutamakan.

(13)

Ketika ngobrol-ngobrol dengan tetangga toko tentang insiden pencurian itu, seseorang bercerita bahwa di Yogya banyak toko-toko yang “dipagari”. Saya jelaskan bahwa toko saya pun sudah dipagar keliling setinggi 3 m. Itu yang kelihatan. Kalau yang tidak kelihatan sudah saya mintakan Tuhan untuk memagari dan saya pasrah bongkokan (total) kepada-Nya.

Maka kalau suatu saat Tuhan kok mengijinkan ada begundal iseng menerobos pagar bikinan-Nya. Ya monggo… Saya pun bisa tidur nyenyak.

(Note: Seorang teman menyarankan agar dipasang sensor gerak untuk mendeteksi gerakan orang tak diundang di saat yang tidak wajar. Tapi saya pikir-pikir, jangan-jangan nanti sistem keamanan toko saya lebih canggih ketimbang bank…hehe)

Yogyakarta, 2-4 Juni 2011
Yusuf Iskandar

Iklan

In Memorium Pak De HMS — Sustainable Business

15 November 2009

SoehartoInnalillahi wa inna ilaihiroji’un…

Bapak Pembangunan itu telah tiada tadi siang, Minggu, 27 Januari 2008, jam 13:10 WIB. Semoga arwahnya diterima di sisi-Nya sesuai dengan amal ibadahnya (dan, biar Allah swt. sendiri yang memberi rapor atas amal ibadahnya itu).

Terlepas dari masalah hukum yang dihadapi oleh Haji Muhammad Soeharto (HMS) selama dekade menjelang akhir hayatnya, ada hikmah positif yang saya petik dari beliau di awal kepemimpinannya.

Tangan besinya telah menjaga, mengawal dan mensukseskan “teori” yang diyakini keampuhannya sejak awal memimpin negeri ini, yaitu Trilogi Pembangunan. Bahkan telah mematahkan teori ekonomi pembangunan yang hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, thok. Sedangkan, Pak De HMS meraciknya menjadi Trilogi Pembangunan yang diawali dengan Stabilitas, baru Pertumbuhan, dan akhirnya Pemerataan. Lengkapnya :

  • Stabilitas Nasional yang dinamis
  • Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
  • Pemerataan Pembangunan dan hasil-hasilnya.

“Teori” Trilogi Pembangunan itu lalu diimplementasikan melalui program Pembangunan Jangka Panjang (PJP) selama lima kali Pelita (5 x 5 tahun = 25 tahun). Barangkali karena beliau khawatir PJP tidak tercapai sesuai impian mulianya, maka Pak De HMS “merasa perlu” untuk mengawal dan memimpin sendiri menjadi pimpronya. Untuk itu, maka beliau “terpaksa” harus menjadi presiden minimal untuk waktu 25 tahun ke depan, sejak dicanangkannya Pelita Pertama pada tanggal 1 April 1969.

Namun sayang, di tengah perjalanan banyak anggota keluarga besar timnya yang terlena sehingga banyak yang terpeleset dan keenakan dalam terpelesetnya. Terus dan terus, berurat berakar. Jama’ah yang terpeleset pun semakin tahun semakin banyak. Akhirnya menjadi “salah kaprah” secara berjama’ah pula, hingga sepertinya menjadi kebenaran kolektif. Dan, Pak De HMS terperosok bak ketua Paguyuban.

Namun tidak dipungkiri, bahwa “teori” Trilogi Pembangnannya terbukti sukses dikawal hingga babak terakhir, sampai akhirnya Pak De HMS lengser keprabon.

***

Obsesinya untuk mensejahterakan rakyatnya dengan cara mengawalnya sendiri pelaksanaan PJP, terbukti berhasil (sekali lagi, terlepas dari aneka ria dakwaan, sangkaan, tuduhan, terkait KKN). Barangkali tanpa disadari oleh beliau, bahwa sejak awal kuartal pertama tahun 1969, hanya obsesi itulah yang ada dalam benak dan pikiran Pak De HMS. Dan, itu barangkali dapat digambarkan sebagai mulai bekerjanya “law of attraction” (hukum tarik-menarik) yang terpancar dari pikiran beliau. Hingga akhirnya berhasil diwujudkan pada 25 tahun kemudian.

Sekali lagi, namun sayang, pancaran pikiran positif atas obsesi Pak De HMS, pada babak-babak akhir kepemimpinannya terkontaminasi oleh pikiran positif (juga) akan virus kenikmatan dan keenakan menduduki kursi goyang ketua “Paguyuban Indonesia”. Maka, “law of attraction” pun bekerja untuk kedua pikiran positif yang (disadari atau tidak, direncana atau tidak) terpancar bersamaan dalam pikiran Pak De HMS.

Dalam pikiran Pak De HMS, bahwa skenario sustainable development atau pembangunan berkelanjutan selama PJP harus sukses dan sukses, Pelita demi Pelita, meski untuk itu beliau harus tersandung-sandung mengendalikan sendiri wadya bolo timnya dan ketidakpuasan stakeholder lainnya. Tidak boleh ada yang mbalelo. Kalau ada yang merintangi pun akan digebugnya. Pokoknya pembangunan berkelanjutan harus sukses..ses..ses..ses…

Jadi, lalu apa urusannya?

Sebagai pengelola warung ritel ndeso, “Madurejo Swalayan”, pantas rasanya kalau saya mengambil inspirasi dari semangat tanpa menyerah (meski tidak harus dengan tangan besi yang seakan-akan menghalalkan segala cara), tentang bagaimana mengurus warung seperti mengurus negara (dan, jangan sebaliknya).

Sustainable business harus dijaga kinerjanya, jangan hanya bulita demi bulita (business lima tahun), melainkan obsesikan bahwa bisnis itu akan berlangsung lima kali bulita, syukur lebih. Pancarkan pikiran positif dan obsesi sustainable business sebagai pancingan bekerjanya “law of attraction” untuk 25 tahun ke depan.

Menciptakan stabilitas kinerja toko di tahun-tahun awal. Meningkatkan pertumbuhan bisnisnya setinggi mungkin. Hingga kelak dapat melakukan pemerataan bisnis dan hasil-hasilnya. Kalaupun harus berjama’ah, maka itu adalah dalam rangka berbagi sukses dan kebaikan dalam bingkai hubungan antar manusia (mu’amalah) seperti yang digariskan oleh Sang Pemilik Alam Semesta.

Bisnis tidak selalu berarti usaha jual-beli, melainkan bisnis untuk urusan apa saja. Tidak sekedar “do it”, melainkan “plan it” sebaik-baiknya. Lalu pancarkan pikiran-pikiran positif akan pencapaiannya dalam jangka panjang.

Tidak mudah memang, tapi tidak berarti tidak bisa. Insya Allah. God speed…..!

Yogyakarta, 27 Januari 2008
Yusuf Iskandar