Posts Tagged ‘sumatera’

Banjir Bandang

7 Oktober 2009

Banjir Bandang di Tanggamus, Lampung…..

Belum reda petaka gempa
banjir dan longsor datang menjelma
kian lengkap bencana mendera
satu-dua korban tiada bukan berarti lantas dilupa
sungguh berat beban Sumatera
menunaikan langkah demi langkah di alam fana
menjadi cermin bagi siapa hamba
menyempurnakan cita menuju tanah sorga….

Yogyakarta, 6 Oktober 2009
Yusuf Iskandar

Iklan

Matoa (2)

23 Maret 2008

Di Papua sendiri, buah matoa ini tidak dijumpai di semua wilayah. Ada daerah-daerah tertentu dimana buah matoa banyak dijumpai, sementara di daerah yang lain rada susah menemukannya. Buah matoa dari Jayapura lebih dikenal orang daripada yang berasal dari kota-kota lain di Papua. Katanya, rasanya lebih enak dan daging buahnya lebih tebal. Sedangkan buah matoa dari daerah lain, buahnya kurang bagus.

Cerita ini tidak jauh berbeda dengan tanaman matoa yang tumbuh di daerah Jawa. Adakalanya tanaman ini bisa berbuah, namun banyak juga yang tumbuh saja terus dan enggak muncul-muncul buahnya. Orang bilang tanahnya beda. Ya memang beda, wong yang satu tanah Papua yang lainnya tanah Jawa.

Kulit buah matoa ini tergolong tipis dan mudah terkelupas. Oleh karena itu, penanganannya memang rada susah, apalagi kalau masih ditangani, misalnya cara pengepakan (packing), yang masih tradisional. Sekali kulitnya terluka, biasanya menjadi tidak tahan lama, kecuali langsung disimpan di lemari es.

Sebelumnya saya mengira tanaman matoa ini berbuah sepanjang tahun. Rupanya ada seorang teman yang memberitahu, bahwa meskipun matoa berbunga sepanjang tahun, namun matoa ini ternyata termasuk tanaman yang berbuah musiman dan biasanya pada akhir tahun. Sama halnya ada musim buah rambutan, duku, durian dsb. Itu kalau di Papua. Entah kalau tanaman matoa yang tumbuh di tempat lain.

Seperti halnya tanaman matoa yang sudah lama ditanam di lingkungan PT Caltex Pacific Indonesia atau di Minas, Rumbai, di daratan Sumatera. Barangkali karena Pak Johand Dimalouw sebagai pelopor penanamnya adalah seorang yang asli berasal dari Papua maka tanaman matoa ini dipilih untuk ditanam sebagai tanaman penghijauan di sana. Siapa tahu bisa tumbuh dan berbuah sepanjang tahun, sehingga kelak ada matoa Sumatera atau paling tidak matoa Rumbai.

***

Seorang rekan bercerita tentang buah matoa, begini penggalan ceritanya :

Matoa adalah jenis buah tropis yang berasal dari tanaman kehutanan yang umumnya tumbuh liar di hutan-hutan dataran rendah di daerah Papua dan Kalimantan. Kayu dari batang pohon matoa bernilai ekonomis tinggi, termasuk golongan kayu kelas 2, sehingga tidak jarang menjadi obyek illegal logging oleh orang-orang Jakarta.

Musim buah matoa terjadi sekali setahun, biasanya pada akhir tahun. Jadi kalau mau ambil cuti, pada bulan November saja ke Jayapura.

Buah matoa bentuknya lonjong, sedangkan bagian buah yang dimakan adalah daging buah berwarna putih seperti rambutan, letaknya menyelimuti biji berwarna coklat kehitaman, ditutup oleh lapisan kulit luar yang agak keras. Buah matoa rasanya manis dengan aroma seperti durian, kadangkala ada dijual di shopping center dengan harga yang lumayan mahal. Bagi yang belum pernah merasakan buah matoa maka cukup membayangkan saja, bahwa matoa adalah kelengkengnya orang Papua, sedangkan kelengkeng adalah matoanya orang Jawa……..

Rupanya bagi sebagian orang di Papua, buah matoa ini juga dapat membangkitkan kisah kenangan tersendiri. Seorang rekan bernostalgia dengan kisahnya, begini :

Jaman aku SD ketika Mendikbud-nya Daoed Joesoef, lagu matoa cukup terkenal pada tahun 1970-an di kalangan anak-anak di Papua (bahkan mungkin masih dinyanyikan di sekolah-sekolah hingga sekarang). Potongan syair lagu tsb. begini :

Buah matoa enak dimakan
Marilah kawan coba rasakan
Dimana terdapat buah matoa
Banyak terdapat di Irian Jaya

Pendeknya jika ada kesempatan, tidak ada ruginya sekali waktu mencoba mencicipi rasanya buah matoa Papua ini. Apalagi, kalau kebetulan sempat singgah di Jayapura.

(Namun sebaiknya hati-hati : Kalau melafalkan kata buah matoa hendaknya yang jelas, salah-salah nanti kedengaran seperti sedang mengucapkan kata buah maitua, yaitu dialek Manado yang sering dipergunakan dalam bahasa pergaulan di Indonesia timur, yang berarti istri…..)

Tembagapura, 10 Juni 2003
Yusuf Iskandar

Berkunjung Ke Bumi Raflesia

7 Maret 2008

(2).  Ladang Emas Hitam Di Taba Penanjung

Di tengah teriknya siang, kami (saya dan beberapa teman) pergi meninggalkan kota Bengkulu menuju ke arah timur. Mengikuti jalan raya yang menuju kota Curup dan Lubuklinggau. Kira-kira tiba di kilometer 20, di desa Taba Lagan lalu nyempal membelok menuju arah tenggara. Masih melalui jalan aspal beberapa kilometer sampai ke desa Lagan Bungin, lalu disambung dengan jalan desa. Lebih tepat disebut jalan tambang yang berupa tanah dan batu yang dipadatkan di tengah perkampungan. Disebut jalan tambang, karena jalan yang cukup lebar untuk dua buah truk bersimpangan ini sebenarnya dibuat sebagai sarana pengangkutan hasil tambang batubara dari lokasi penambangan menuju pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu.

Perjalanan masih dilanjutkan menyusuri jalan tambang hingga sejauh kira-kira 18 km menuju ke arah perbukitan. Lha wong namanya jalan perbukitan, ya tentu saja naik-turun dan belak-belok membelah kawasan pinggiran hutan yang tampak sudah terbuka dirambah orang dan di sana-sini masih dijumpai kawasan rumah-rumah penduduk. Rumah penduduk yang tampak sangat sederhana, sekedar berbentuk rumah panggung dari bahan kayu. Akhirnya sampai ke lokasi dimana banyak diusahakan penambangan batubara, terkadang suka disebut dengan si emas hitam. Di siang yang terik dan berdebu itu akhirnya saya tiba di ladang emas hitam di pinggiran sebelah barat Bukit Barisan, tepatnya di daerah Taba Penanjung, Bengkulu.

Batubara atau si emas hitam ini memang banyak diketemukan di Sumatera. Di sepanjang lereng barat dan timur Bukit Barisan yang membentang selatan-utara membelah pulau Sumatera, banyak memiliki potensi cadangan endapan batubara. Kecamatan Taba Penanjung hanyalah satu dari sekian banyak daerah di Sumatera yang kaya akan batubara. Di sana ada banyak perusahaan tambang yang kini terus menggali batubara untuk diangkut keluar pulau, baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri mupun luar negeri, tergantung kecocokan spesifikasinya antara persediaan dan permintaan.

Untuk sekedar menyebut contoh, kalau kita ingat pelajaran Ilmu Bumi sewaktu sekolah dulu. Pak guru akan bertanya : “Batubara banyak dihasilkan di…..?”. Pak guru pun menjawab sendiri : “Ombilin”, karena murid-muridnya susah mengingat nama tempat yang berada di propinsi Sumatera Barat itu. Sejarah panjang tentang industri tambang batubara di Indonesia memang tidak bisa lepas dari nama itu.

Potensi batubara di Sumatera memang sangat besar, tidak kalah dari yang ada di Kalimantan yang akhir-akhir ini lebih populer namanya sebagai penghasil batubara. Namun karena ketersediaan sarana pengangkutan di Sumatera umumnya sangat terbatas, sehingga para investor masih pikir-pikir kalau mau mengusahakan penambangan batubara di Sumatera. Hitung-hitungan njelimet mesti dilakukan dengan teliti menyangkut pengangkutan batubara dari lokasinya yang jauh di pedalaman menuju pelabuhan terdekat yang mempunyai fasilitas pengisian ke tongkang atau kapal.

Di Sumatera Selatan sarana pengangkutannya menggunakan sepur Babaranjang (batubara rangkaian panjang). Sedang di lokasi lain umumnya masih memanfaatkan sarana jalan darat sebagai jalan angkut. Tentu saja kapasitas produksinya tidak bisa maksimal karena terkait dengan pertimbangan kepadatan lalulintas umum akibat truk pengangkut batubara yang midar-mider melalui jalan umum. Sementara di Kalimantan meskipun sarana jalan umum masih terbatas, tetapi lebih diuntungkan dengan banyaknya sungai-sungai yang layak dimanfaatkan sebagai sarana pengangkutan.

***

Rasanya belum lama saya mendengar tentang agenda besar pemerintah untuk menjadikan batubara sebagai sumber energi alternatif. Maksudnya alternatif selain minyak. Sejak jamannya bapak presiden HMS hingga pak SBY, semangat untuk memasyarakatkan batubara (atau boleh juga kalau mau dipelesetkan menjadi membatukan dan membarakan masyarakat) sepertinya gebu-menggebu. Harap maklum, potensi cadangan batubara di bumi Indonesia ini memang tergolong buesar. Selama ini belum didayagunakan secara optimal.

Istilah briket batubara digaung-gaungkan sampai ke pelosok desa, bahkan sampai ke masyarakat yang tidak tahu apa itu batubara. Pelaku bisnis pun serta-merta berlomba menangkap peluang. Tapi kini, entah kenapa semangat itu sepertinya memudar. Briket batubara dan anglonya telanjur diproduksi. Tapi semua orang keburu lupa hal-ihwal batubara, dan akhirnya kembali mencari kayu bakar dan mengantri minyak tanah meski harganya selangit.

Kalau soal polusi, tentu bukan monopoli batubara. Minyak dan gas pun menimbulkan polusi yang membahayakan kesehatan manusia. Malah bisa menyebabkan kematian ketika terhirup hidung…….., kalau menghirupnya seperti kucing ngembus-embus ikan asin. Asal penanganan dan pengelolaannya benar menurut kaidah ilmu dan teknologi, tentunya dampak apapun akan dapat direduksi atau dikendalikan.

Sejauh ini baru sektor industri besar yang banyak memanfaatkan sumber alam ini, belum memasyarakat ke sektor rumah tangga. Perlu “aba-aba” pemerintah lagi……. Kalau ternyata “aba-aba” itu tidak pernah muncul lagi, ladang emas hitam akan tetap dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri.

***

Salah satu dapurnya perusahaan tambang yang sempat saya kunjungi ternyata memanfaatkan batubara untuk memasak. Tentu bukan karena “aba-aba” yang pernah digembar dan digemborkan pemerintah, melainkan karena disana batubara pating tlecek (berserakan) tidak dimanfaatkan. Lha wong namanya juga lokasi tambang batubara…..

Apa keunggulan benda ini? Antara lain, lebih panas sehingga waktu untuk memasaknya lebih cepat, dan akibatnya ya tentu lebih hemat. Kalaupun untuk memperoleh batubaranya harus membeli, maka harganya masih relatif lebih murah dibandingkan dengan harga minyak dan gas untuk digunakan dengan tujuan yang sama. Lha kalau demikian, kenapa pemerintah setengah hati mengkampanyekan penggunaan batubara sebagai sumber energi alternatif? Wah, yo embuh……..

Bengkulu, 28 Juni 2006
Yusuf Iskandar