Posts Tagged ‘street mall’

Suatu Malam Di Malioboro

3 April 2009

img_0810_r1Keluar dari toko buku Gramedia Malioboro Mall Yogyakarta, saya bergabung dengan seorang teman yang sebelumnya sudah menunggu di depan Mall. Teman saya ini baru pertama kali datang ke Yogyakarta dan minta ditemani untuk jalan-jalan malam di Malioboro sambil mencari-cari sebarang pesanan seorang temannya. Sebagai orang Jogja, saya sendiri sebenarnya sudah sangat lama tidak pernah menikmati jalan-jalan malam di kawasan Malioboro.

Bagi saya, atau barangkali juga kebanyakan orang Jogja, sengaja menghabiskan waktu malam dengan menyusuri penggal Jl. Malioboro adalah bukan pilihan menyenangkan. Kalau bukan karena keperluan yang mengharuskan pergi ke toko yang ada di kawasan Malioboro, ada acara khusus di sana, atau menemani orang yang baru pertama kali datang ke Jogja, rasanya lebih baik pergi ke kawasan jalan yang lain di Jogja. Meski tidak dipungkiri sebagian orang justru menyukai tempat ini.

Kawasan ini serasa terlalu padat menyesakkan dan kurang lagi nyaman untuk dinikmati sebagai obyek wisata jalan-jalan bersama keluarga, kecuali di bagian ujung selatan seputaran Gedung Agung dan benteng Vredenburg saja yang terasa masih nyaman untuk menghela napas agak panjang. Selebihnya perlu agak ngos-ngosan untuk melaluinya. Jangan sekali-sekali jalan meleng, sebab puluhan andong dan kudanya, ratusan becak dan tukangnya, atau ribuan pejalan kaki dan teman-temannya, belum lagi pedagang kali lima di sepanjang trotoar pertokoan dan sepeda motor yang keluar-masuk tempat parkir, siap menyerempet atau menginjak kaki sesama pejalan kaki tanpa perlu mencari tahu siapa yang salah. Idenya Malioboro adalah kawasan street mall, tapi salah bentuk. 

***

Sekitar pukul 20:30 WIB kami kembali sampai di teras Malioboro Mall setelah berjalan kaki ke arah selatan Malioboro, baik di sisi barat maupun timur jalan. Teman saya mengajak makan lesehan. Saya sarankan bukan di Jl. Malioboro-nya sebab kawasan ini terlalu crowded, nanti jadi kurang nyaman untuk menikmati santap malam sambil duduk lesehan. Kami putuskan untuk mencari warung lesehan di Jl. Perwakilan, sebuah penggal jalan di sebelah utara Malioboro Mall, relatif tidak terlalu hiruk bin pikuk.

Masih berjalan santai di teras Mall, di tengah keramaian pejalan kaki, seorang pemuda tampan berbusana rapi, berkaos hitam dan bercelana warna gelap, menghampiri dari sebelah kanan saya. Lalu katanya :
 
“Mau pijat pak?”. Saya hanya menoleh acuh tak acuh. Sang pemuda lalu menambahkan : “Yang mijat cewek pak….”.

Ah, tergoda juga saya. Tergoda untuk tanya lebih lanjut, maksudnya.
“Cantik, enggak?”, tanya saya iseng, masih sambil jalan perlahan.

“Wah, dijamin pak”, jawab sang pemuda itu meyakinkan. Saya tidak tahu, ini dijamin tidak luntur atau luntur tidak dijamin. Namun akhirnya saya berkata : “Enggaklah, mas. Terima kasih”.

Eh, rupanya sang pemuda masih ngotot juga. Setengah memaksa dia menyodorkan dua buah kartu nama agar saya terima (mungkin karena dilihatnya saya berjalan berdua teman saya), sambil katanya : “Barangkali nanti bapak membutuhkan…”. Dan kedua kartu nama itu pun lalu saya masukkan ke saku baju, karena saya tahu teman saya pasti tidak tertarik dengan kartu nama itu.

Sesampai di warung lesehan, sambil menunggu pesanan gudeg, ayam dan burung dara goreng plus lalapannya disajikan, saya lihat kembali karta nama yang tadi saya selipkan di saku baju saya.

Selembar kertas kecil seukuran kartu nama (lha, namanya juga kartu nama…) dengan desain sangat sederhana. Berwarna dasar hitam, bertuliskan “Pijat Panggilan”, di bagian bawahnya ada tulisan warna kuning “Hub. : 085 sekian-sekian-sekian… INDRA/ENY/MITA” (ditulis dengan huruf kapitas menyolok).

Sejenak saya menelan ludah….. Bukan, bukan karena membaca nama tiga diva yang ada di kartu nama itu, melainkan karena asap burung dara goreng dan petai goreng yang masih mengepul sudah tersaji di depan hidung lengkap dengan lalapan dan sambalnya. Kartu nama itu lalu saya masukkan kembali ke saku baju.

Sesampai di rumah, kartu nama tadi saya selipkan di buku tipis “Innovative Leadership” karya Dennis Stauffer yang tadi saya beli di Gramedia, lalu bukunya saya masukkan ke dalam tas ransel kebanggaan saya. Saya perlu ekstra hati-hati menyimpan buku ini. Jangan sampai perang dunia ketiga pecah di dalam rumah. Cukup gempa bumi 5,9 Skala Richter yang telah memporak-porandakan separuh isi lemari kaca dan beberapa keramik, tiga tahun yll.

Kini, diam-diam buku itu saya buka dan saya lihat kembali kartu nama hitam bertulisan nama tiga diva pebisnis panggilan dari Malioboro. Usai menulis kisah ini, kartu nama itu saya sobhek-sobhek… (diucapkan sambil menirukan mulut Thukul Arwana) hingga kecil-kecil lalu saya buang di tempat sampah paling bawah. Agar kalau ada pembaca yang ingin tahu no HP yang tertulis di kartu itu jangan menghubungi saya, melainkan jalan-jalan saja sendiri ke Malioboro sana….. 

Yogyakarta, 3 April 2009
Yusuf Iskandar

Seputar Adelaide

23 Februari 2008

(4). Kawasan Wisata Kota Rundle Mall

Dari alun-alun Victoria kami mengalihkan tujuan ke Rundle Mall. Tidak terlalu jauh jaraknya, hanya sekitar 500 meter di sebelah utara alun-alun Victoria. Rundle Mall adalah kompleks pertokoan yang terletak di sepanjang jalan Rundle, sebuah kompleks pertokoan yang biasa disebut dengan street mall, yang pertama ada di Australia. Ada ratusan toko di sepanjang jalan sepanjang 400 meter, menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan belanja wisatawan.

Nama Rundle diabadikan dari nama seorang tokoh swasta perusahaan South Australia Company yang hidup antara tahun 1791 – 1864, tahun-tahun awal terbentuknya komunitas kota Adelaide. Rundle Mall resminya didirikan tahun 1976, dari sebelumnya sebuah kompleks pertokoan padat pengunjung di sepanjang jalan Rundle.

Lokasi Rundle Mall ini berdekatan dengan banyak obyek wisata lainnya, diantaranya berbagai museum, galeri seni, tempat-tempat rekreasi, termasuk perguruan tinggi. Sehingga menjadikan kawasan ini menjadi kawasan wisata kota yang cukup menarik. Pemerintah daerah pun kemudian menyediakan berbagai kemudahan, termasuk adanya sarana transportasi keliling yang dapat dinikmati secara gratis.

Ada bis wisata yang disebut City Loop dan Bee Line, yang dapat dinaiki para wisatawan dengan gratis untuk berpindah atau mengunjungi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Adanya Visitor Information Centre tentunya juga sangat membantu bagi siapa saja yang ingin mengenal seluk-beluk kawasan wisata kota ini. Pokoknya, pengunjung benar-benar dimanjakan, tinggal megukur kesiapan bekal uang saku yang mau dibelanjakan saja.

Tapi, sekali lagi sayang……., seperti halnya di Central Market, di Rundle Mall pun masih sore banyak toko yang sudah pada tutup. Rupanya hari itu jam buka pertokoan di Rundle Mall hanya sampai jam 5:30 sore. Hanya pada hari Jum’at toko-toko biasanya buka sampai malam. Beruntung, sore itu masih ada toko-toko yang buka, sehingga masih tampak kesibukan di sana-sini. Lebih-lebih, warung cepat saji banyak yang masih melayani pembeli. Tidak kecewalah jadinya kami berjalan-jalan sore di Rundle Mall. Masih bisa keluar-masuk toko yang masih buka.

Setelah agak capek dan hari pun menjelang senja, kami berhenti di sebuah warung fast food. Biasa, makanan model cepat saji ini memang paling diminati anak-anak. Ada dua warung fast food yang letaknya berhadapan di Rundle Mall. Lha repotnya….., anak saya yang gede maunya ke KFC, anak yang kecil milih MacD. Terpaksalah mampir di kedua warung itu. Mau saos? Kalau di negeri sendiri, bahkan di Amerika, penjualnya akan dengan suka hati memberi kita se-krawuk saos (segenggam sachet kecil isi saos), di sini mesti dihitung dulu dan dikalkulasikan ke total harga makanannya. Pelit? Tidak juga, tapi memang begitu kebiasaannya. Lalu kami pun menikmatinya sambil duduk-duduk santai di depan kedua warung fast food, di tengah jalan Rundle. Seperti yang juga dilakukan oleh anak-anak penggemar KFC dan MacD lainnya di situ.

Sore musim panas, tapi angin bertiup cukup kuat dengan membawa udara sejuk, mungkin karena Adelaide terletak di kawasan yang tidak jauh dari pantai. Hawa segar menyelimuti, hari pun semakin gelap, lalu kami tinggalkan Rundle Mall untuk kembali ke hotel.

***

Malam pun tiba, di luar turun hujan dan angin bertiup sangat kencang hingga bunyi gemuruhnya sampai terdengar dari lantai empat kamar hotel. Menyibak jendela kamar, tampak pucuk-pucuk pohon berayun-ayun tertiup kencangnya angin malam musim panas. Daun-daun tampak beterbangan. Suara gemuruhnya agak menakutkan karena jarang-jarang mengalami kejadian yang seperti ini di musim panas. Terbersit pertanyaan dalam hati, apakah fenomena alam seperti ini memang sudah biasa.

Cilaka….., persediaan rokok saya ternyata habis. Jam sudah menunjukkan lewat jam 9 malam. Terpaksa keluar dari hotel, mencari toko yang masih buka. Nekat berjalan cepat menerobos hembusan angin kencang dan hujan gerimis, akhirnya saya sampai di sebuah toko buku. Kenekatan yang sesungguhnya bukan semata-mata didorong oleh rasa “ketagihan” akan lintingan tembakau yang dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin (sepenggal kalimat yang dihafal anak saya dan sering diucapkan ketika saya merokok). Melainkan lebih terdorong karena ingin memperoleh pengalaman berbeda di negeri orang, yang belum tentu akan sempat terulang.

Beruntung, ternyata toko itu buka 24 jam dan berada tidak jauh dari hotel. Sambil membeli rokok, sambil membuka-buka koran, sambil sedikit ngobrol dengan penjaga toko yang ternyata orang Irak yang sudah lama tinggal di Adelaide. Rupanya cuaca yang seperti malam itu memang sudah biasa. Ngobrol pun jadi berkepanjangan. Sampai akhirnya saya pamit kembali ke hotel dan berangkat tidur.

Yusuf Iskandar 

Sekali Menginjak Gas, Delapan Negara Bagian Terlampaui

4 Februari 2008

(13).   Numpang Lewat Di Nebraska

Sabtu, 29 April 2000, jam 12:00 siang saya baru meninggalkan 16th Street Mall Denver untuk selanjutnya melaju ke timur melalui jalan bebas hambatan Interstate-76. Ini memang perubahan rute secara mendadak. Semula saya akan langsung ke utara melalui Interstate-25 menuju kota Cheyenne, ibukota negara bagian Wyoming. Namun mempertimbangkan masih punya cukup waktu menuju Rock Springs dimana sebagian rute akan melalui jalan bebas hambatan, saya memutuskan untuk memutar ke arah timur terlebih dahulu. Memutar jalan guna memenuhi ambisi untuk menambah jumlah negara bagian yang akan saya lewati.

Tiba di kota kecil Fort Morgan saya keluar dari Interstate-76 lalu menuju ke arah utara melalui jalan kecil beraspal. Ini adalah jalan terpendek yang saya perkirakan akan menembus kota Kimball di pojok barat daya negara bagian Nebraska. Di kota Kimball ini saya akan ketemu dengan jalan Interstate-80 yang selanjutnya akan saya lalui lurus ke barat menuju Rock Springs. Di Interstate-80 saya akan bisa memacu kendaraan untuk tidak kemalaman tiba di Rock Springs.

***

Keputusan mendadak saya untuk merubah rute dengan memutar melewati Nebraska ini memang keputusan sepihak, dengan tanpa merundingkannya terlebih dahulu dengan istri dan anak-anak. Akibatnya begitu istri saya melihat peta dan tahu rutenya berubah, langsung protes dan saya dinesoni (dimarahi). Sebenarnya dia hanya khawatir kalau nanti kemalaman saat memasuki kota Rock Springs dimana kami merencanakan untuk bermalam. Merasa salah, “yo wis aku meneng wae…” (ya sudah saya diam saja). Meskipun sebenarnya saya punya pertimbangan dan perhitungan tersendiri (yang nantinya terbukti membuat istri saya lega).

Pertama, jarak dari Kimball ke Rock Spring yang sekitar 320 mil (sekitar 512 km), saya berspekulasi melalui jalan Interstate akan bisa saya tempuh dalam waktu 4 jam dengan kecepatan rata-rata 80 mil/jam (sekitar 130 km/jam). Kalau saya tiba di Kimball jam 3:00 sore, artinya sekitar jam 7:00 malam akan tiba di Rock Springs, hari masih cukup terang dan saat itu matahari belum tenggelam.

Kedua, ya alasan keinginan ambisius itu tadi. Meskipun hanya sebentar, kami akan sempat “pernah” merasakan berada di wilayah negara bagian Nebraska, meskipun hanya di bagian pojoknya saja. Apa yang menarik dengan Nebraska, kok sampai dibela-belain mengulur waktu perjalanan? Justru karena tidak banyak yang menarik dari wilayah ini makanya saya menyempatkan untuk numpang lewat.

Setahu saya negara bagian Nebraska ini tidak terlalu terkenal, tidak sebagaimana California, Florida, Texas, Washington atau New York, setidak-tidaknya bagi sebagian orang luar Amerika. Jarang sekali orang yang sengaja datang ke Nebraska, karena memang kurang populer di sektor pariwisata, pendidikan, industri dan pemerintahan.

Dengan kami “pernah” melewati daerah itu, kami akan bisa cerita kepada orang bahwa kami pernah berada di Nebraska, meskipun hanya untuk numpang lewat saja (sebenarnya lebih tepat kalau saya sebut, maaf, numpang kencing saja). Lha wong nyatanya demikian. Belum jam 3:00 sore sudah tiba di kota Kimball. Agar perjalanan berikutnya bisa melaju, saya sengaja berhenti di pompa bensin untuk kencing, ya terpaksa sekalian beli bensin biar tidak sungkan dengan tukang bensinnya. Memang sudah umumnya tempat orang jual bensin di Amerika, berlokasi di pojok-pojok perempatan jalan, membuka toko dan mempunyai toilet.    

Eh, kok ndilalah….. (kebetulan) di toko tukang bensin itu ada dijual cendera mata dari Nebraska, ada gelas dan piring hias yang ada tulisannya “Nebraska”. Mendadak sontak istri saya bersemangat melihat, memilih dan lalu membelinya, Memang cendera mata semacam itulah yang sangat dicari dan disukainya. Cukup berhenti 15 menit, lalu kami melanjutkan perjalanan lurus ke arah barat.

Ketika dalam perjalanan meninggalkan kota Kimball, saya nyeletuk bercanda kepada istri saya : “Ya….meskipun hanya numpang kencing, tapi kita pernah ke Nebraska, buktinya kita punya piring hias dari Nebraska….”.  Istri saya tertawa. Diapun lega ketika saya beritahu hitung-hitungan saya bahwa sekitar jam 7:00 malam kita akan sampai di Rock Springs.

Hitung-hitungan spekulasi saya ternyata agak meleset. Begitu memasuki wilayah negara bagian Wyoming, hujan deras turun hingga berlangsung selama hampir setengah dari perjalanan saya. Akibatnya saya harus mengurangi kecepatan laju kendaraan. Saya sempat was-was juga kalau sampai kemalaman tiba di Rock Springs. Bukan soal kemalamannya, melainkan khawatir kalau protes istri saya siangnya tadi menjadi terbukti.

Akhirnya baru sekitar jam 19:30 kami memasuki kota Rock Springs, terlambat sedikit dari yang saya perkirakan sebelumnya, dan hari memang masih terang. Mencari hotel murahpun tidak susah. Rock Springs adalah kota kecil berpenduduk hanya sekitar 25.000 jiwa berlokasi pada ketinggian sekitar 1.911 m di atas permukaan laut. Di bulan April, suhu udara masih cukup dingin, sehingga malam itu berada di luar tanpa mengenakan jaket rasanya tidak tahan berlama-lama. Sebagaimana kota-kota kecil lainnya di wilayah Sweetwater County, ini adalah kota tambang.

***

Sore itu juga kami mencari makan malam lebih dahulu sebelum istirahat di kamar hotel. Tidak jauh dari hotel, tepat di jalan keluar dari Interstate-80 kami ketemu rumah makan Cina. Memang ini yang dicari, karena pasti akan ketemu nasi. Rupanya itu restoran langganannya para sopir. Pantesan yang parkir di luar jarang mobil kecil, melainkan truck-truck trailer yang membawa kontainer-kontainer raksasa.

Anak-anak saya sempat terbengong melihat yang makan di restoran itu umumnya laki-laki berbadan gempal, bertato di kedua lengannya, berambut awut-awutan dan di antaranya brewokan. Ya, sekedar gumun (heran) saja dengan pemandangan yang tidak biasanya.

Yang mengherankan saya justru pelayanan di restoran itu. Untuk ukuran restoran dengan kapasitas tempat duduk sekitar 40 orang, hanya dilayani oleh seorang perempuan saja. Dia yang mencatat pesanan, dia yang mengantarkan pesanan, dia yang menjadi kasir, dia juga yang membereskan meja saat orang sudah selesai makan. Tidak terkesan grusa-grusu (cepat tapi ceroboh), dan semua itu berlangsung dengan rapi dan lancar. Pelayanannya juga cukup memuaskan. Lho, kok bisa?

Inilah, satu lagi ilmu management sederhana yang saya dapatkan. Terlepas dari soal isu mempersempit lapangan kerja, tapi ada sistem kerja yang sangat praktis, berdayaguna (effisien) dan berhasilguna (effektif). Dan sistem kerja itu terbukti berfungsi, meskipun barangkali si pelayan restoran tadi tidak pernah pusing-pusing memikirkan soal management restorannya.- (Bersambung)

Yusuf Iskandar