Posts Tagged ‘stasiun’

Cerita Tentang Penjaga Mushola Stasiun Bandung

10 Agustus 2010

(1)

Sudah 18 tahun ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji atau honor, melainkan hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kepingin sekali naik haji. Setiap tahun mengatakan: “Insya Allah tahun depan ke tanah suci”.

Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkan. Tapi doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan Bapak benar-benar berangkat ke tanah suci…”.

Yogyakarta, 2 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(2)

Awalnya hanya ingin sharing pengalaman “3 jam bersama sang penjaga mushola” di stasiun Bandung. Pak Syahroni, penjaga mushola itu ingin sekali naik haji, tapi satu-satunya sumber penghasilan adalah kotak infak.

Saya lalu menjelma menjadi “tukang kompor”. Saya yakinkan: “Insya Allah, niat Bapak akan terwujud. Jangan berhenti berdoa”. Respon rekan-rekan sungguh membuat saya merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (Lihat status saya sebelumnya).

***

(3)

Masih tentang impian pak Syahroni (18 tahun menjadi penjaga, muadzin dan imam mushola stasiun Bandung) untuk naik haji, sedang penghasilannya hanya dari kotak infak. Saya tidak pernah berencana membantu kecuali dengan doa, tidak juga pernah berniat menggalang dana apalagi jadi Panitia.

Tapi membaca respon para sahabat, saya jadi bergairah seperti ketika malam Jum’at tiba (untuk lebih banyak tadarus, maksudnya) dan adrenalin saya meningkat seperti ketika mendaki gunung. (Lihat 2 status saya sebelumnya)

***

(4)

Siang tadi saya bicara via telpun dengan pak Syahroni. Terdengar dari bicaranya beliau terkejut, dengan terbata-bata mengucap syukur dan  hatur nuhun. Segera akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, sehingga siapapun yang berniat sedekah untuk pak Syahroni, tinggal transfer ke rekening tsb. (boleh juga via saya).

Ini akan menjadi bukti kesungguhan seorang hamba untuk memenuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yang menggenapi (Lihat 3 status saya sebelumnya).

Yogyakarta, 3 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

(5)

Perlu diketahui bahwa pak Syahroni ini bukan apa-apa saya. Tetangga bukan, famili apalagi, teman juga baru kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan dan ketulusan niatnya untuk pergi haji benar-benar menginspirasi saya.

Kalau ada yang tanya kenapa mau repot-repot membantunya? Saya tidak tahu. Semua terjadi begitu saja tanpa pernah saya rencana. Barangkali itulah jalan rejeki bagi pak Syahroni.. Min khoitsu laa yahtasiib (dari sumber yang tak terduga). (Lihat 4 status saya sebelumnya).

***

(6)

Terima kasih untuk para sahabat yang tergerak berniat membantu pak Syahroni, penjaga mushola stasiun Bandung, untuk mewujudkan impiannya menunaikan ibadah haji (lihat 5 status saya sebelumnya). Insya Allah saya akan memfasilitasi –

Alhamdulillah, sudah ada 9 orang yang mengkonfirmasi untuk bersedekah (DS, ESSC, EH, WDSY, AP, EPJ, FW, YAAR, BW). Sebelum membuka Tabungan Haji, saya bersedia menampung dulu. Info lebih lanjut via Inbox. Siapa mnyusul?

Yogyakarta, 4 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

Iklan

Pulangnya Mundur

8 Juli 2010

Anak lanang yang sudah kalah ikut kompetisi free style di Jakarta, hari Minggu kirim kabar: “Pulangnya mundur karena kereta penuh”. Hari Senin kirim kabar lagi: “Pulangnya mundur karena tidak dapat tiket kereta”. Eh, hari Selasa kirim SMS lagi: “Pulangnya mundur lagi karena dapat tiket kereta tapi berdiri”. Akhirnya kujawab: “Kayaknya besok juga nggak dapat tiket, deh…(mungkin keretanya libur)”. Dijawabnya cepat: “Besok mau ke stasiun pagi…”.

Yogyakarta, 29 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Di Stasiun

11 Juni 2010

Di stasiun
aku dengar lagu kesayanganku…

Begitu nyanyian alm. Farid Harja (versiku sore ini). Dan lagu yang kudengar itu adalah “Yogyakarta” oleh KLA Project di layar monitor stasiun.

Entah kenapa akhir-akhir ini saya suka dapat misi khusus menyelamati jalan, eh menyelamat-jalani orang-orang yang pergi naik sepur dari stasiun Tugu, Jogja. Meski harus nunggu lama, tapi selalu ada harapan ‘masih ada kereta yang akan lewat’, seolah berkata: “never give up…”

Yogyakarta, 10 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Aviophobia

4 Mei 2008

Terpaksa kemarin malam saya kembali ke Yogyakarta dari Jakarta dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya sudah belasan tahun, saya lupa persisnya, tapi pasti lebih sepuluh tahunan saya tidak pernah menggunakan jasa persepuran ini. Terakhir saya naik sepur antara Jogja-Jakarta sewaktu saya hanya mengenal dua jenis sepur, kalau tidak Senja Utama, ya Fajar Utama. Setelah itu, setelah dikenal sepur jenis Argo-argoan, saya belum pernah menaikinya hingga hari Jum’at yang lalu.

Bagi pelaku pengguna sepur njum’at-ngahad (Jum’at-Minggu) yang biasa menempuh perjalanan ulang-alik mingguan Jogja-Jakarta atau Jogja-Surabaya v.v. (vulang-vergi), barangkali pengalaman naik kereta api malam adalah hal yang sangat biasa. Tapi bagi saya malam itu seperti orang ndeso yang baru pertama kali naik kereta api, kelas eksekutif lagi. 

Naik kereta api malam itu sebenarnya di luar rencana saya. Sewaktu berangkat kami bertiga, seorang  teman memilih berangkat naik kereta api, seorang lainnya bersama saya naik pesawat. Seorang teman kembali ke Jogja sehari lebih awal, maka tinggal saya dan seorang teman lain kembali ke Jogja menyusul belakangan. Inilah masalahnya, ternyata teman saya ini takut naik pesawat, sehingga kembali ke Jogja lagi dengan menggunakan jasa kereta api. Rasanya kurang lucu, kalau pergi dengan seorang teman seperjalanan kok kembalinya yang satu naik kereta yang lain naik pesawat. Selain itu, kami bisa kehilangan kesempatan untuk mendiskusikan banyak hal setelah melalui padatnya acara di Jakarta, lebih tepat sebenarnya saya sebut padatnya lalulintas kota Jakarta (tobat tenan urip ning Jakarta, biso tuwek ning ndalan …..).

Ndeso Tenan…

Jadilah naik kereta Argolawu jurusan Jakarta-Solo, turun di Jogja. Sepertinya asing memasuki statsimun Gambir setelah sekian belas tahun tidak pernah saya masuki. Hal yang membanggakan, sekarang terkesan lebih tertib dan rapi, dibanding sekian tahun yang lalu (entah kalau dibanding bulan lalu). Demikian halnya statsimun Tugu juga sudah banyak berubah dan lebih enak dilihat.

Tapi ada sedikit “ganjalan” di  Gambir, saya jadi kesulitan untuk melampiaskan keinginan untuk udut. Dimana-mana dipasang tanda dilarang merokok, lengkap dengan tulisan Perda DKI. Bahkan di peron tempat tunggu kereta pun tempat udut-nya mesti mojok jauh. Tapi sejujurnya, ini “ganjalan” yang membuat saya senang dan bangga. Ternyata bisa juga masyarakat diajak patuh untuk menjaga lingkungan udara yang sudah kurang bersih ini. Meski masih terlihat ada orang yang curi-curi menebar asap.

Teman saya membisiki, kalau mau udut nanti saja di dalam kereta. Lho? Ternyata yang dimaksud adalah ketika kereta sudah berjalan, kita bisa keluar gerbong lalu ngudut di bordes, di sambungan gerbong, atau di luar pintu gerbong. Good idea! Setidak-tidaknya tidak mengganggu orang lain. “Tips” itupun saya turuti. Puas menghisap dan menebar asap beracun di bordes, saya hendak kembali ke tempat duduk. Eh, lha kok pintu kereta tidak mau dibuka. Digeser sedikit, kembali nutup lagi. Digeser lagi, kembali nutup lagi. Feeling mulai bekerja, pasti ada yang salah. Iseng-iseng saya tunyuk saja tombol nyenil kecil warna hijau. Berhasil, berhasil,  ……, pintu gerbong pun membuka dengan sendirinya.

Setelah di dalam gerbong, saya berniat baik menutup lagi pintunya agar penumpang lain yang duduk di dekat pintu tidak kanginan. Digeser kok berat, tidak mau nutup. Digeser lagi, tetap berat tidak juga mau nutup. Akhirnya saya cuekin aja, terbuka ya biarin, pikir saya. Baru beberapa langkah menuju tempat duduk, eee… malah pintunya nutup sendiri….. Tobil anak kadal……! Wah, jan ndeso tenan aku iki….. (Semoga saja tidak ada penumpang lain yang sempat memperhatikan tingkah saya).

Sebelum memutuskan untuk naik kereta ke Jogya, teman saya mewanti-wanti. Katanya di dalam gerbong kereta eksekutif biasanya suhu udaranya sangat dingin, makanya biasanya orang-orang sudah persiapan membawa jaket atau baju hangat. Karena sejak semula saya memang tidak merencanakan naik kereta, maka ya tidak persiapan membawa jaket. Teman saya memberi saran, sebaiknya nanti pakai bajunya rangkap-rangkap agar tidak kedinginan, meskipun di kereta akan dipinjami selimut.

Nasihat yang baik saya pikir, saya pun akhirnya mengenakan baju rangkap tiga. Dua kaos plus kemeja, yang sudah kategori baju kotor, pun dikenakan lagi dan difungsikan sebagai baju hangat. Rupanya air condition di gerbong kereta api memang hanya mengenal dua tombol, kalau tidak dingin ya mati. Jadi, pilihannya ya kedinginan atau kepanasan. Ya sudah, wong memang kompromi antara “air” dan “condition”-nya sudah begitu. Yang jelas baju rangkap tiga yang saya kenakan cukup membantu untuk tidak kedinginan di dalam gerbong selama perjalanan. Terbukti dua-tiga jam setelah kereta meninggalkan Gambir, saya sudah terlelap, tahu-tahu menjelang jam 5 pagi sudah ada yang berteriak : “Jogja….. Jogja……”  

Takut Terbang

Tentang teman yang takut naik pesawat, sehingga memilih naik sepur Jogja-Jakarta v.v. (vulang-vergi). Dulunya katanya tidak begitu. Midar-mider naik pesawat biasa saja, sampai suatu ketika sedang tugas ke lapangan naik chopper, rupanya chopper-nya muntir-muntir mau jatuh tidak jadi. Sejak itulah teman saya ini trauma naik pesawat. Orang yang takut naik pesawat seperti ini biasa disebut orang itu menderita flight phobia. Ada juga yang menyebutnya aviophobia, aviatophobia atau aerophobia. Maksud kesemua istilah itu sama, yaitu takut terbang atau takut naik pesawat.

Trauma semacam ini, takut terbang, diam-diam banyak juga sebenarnya orang yang mengalaminya. Penyebabnya bisa macam-macam, salah satunya ya seperti pengalaman teman saya itu tadi. Menurut catatan di Amerika, satu dari delapan orang memilih bepergian menggunakan sarana angkutan darat dan menghindari bepergian dengan angkutan udara. Untuk beberapa alasan, ternyata di antara penyebab dasarnya adalah takut naik pesawat atau menderita trauma flight phobia atau aviophobia itu. Untungnya, bepergian menggunakan angkutan darat atau melakukan perjalanan (traveling) lewat darat di Amerika adalah sesuatu yang sangat  mudah dan menyenangkan. Mau pakai jalintim-teng-bar-ut-sel (jalan lintas timur-tengah-barat-utara-selatan), tidak perlu khawatir ngantri semalaman untuk melewati jalan yang menyungai. Lha kalau kita mau ngotot menghindari naik pesawat, apalagi ke luar Jawa, sebaiknya dipertimbangkan masak-masak.

Lebih dari sekedar masalah kesehatan atau keselamatan, ketakutan semacam ini merupakan perilaku “aneh” yang menyebabkan seseorang bisa dengan tiba-tiba saja terserang panik yang luar biasa saat naik pesawat terbang. Jangan kaget kalau saat Anda naik pesawat tiba-tiba Anda dipeluk erat-erat oleh penumpang di sebelah Anda yang kebetulan mengidap trauma aviophobia. Mendingan kalau dia seorang wanita yang sejak semula membuat Anda klisikan, lha kalau seorang nenek ngemut susur? Itulah sebabnya mereka yang menderita trauma flight phobia atau aviophobia daripada tiba-tiba merasa panik yang tak biasa, mendingan menghindari naik pesawat.

Ketika teman saya yang naga-naganya menderita flight phobia itu hendak merencanakan perjalanan pergi ke suatu pulau yang berarti harus menyeberang lautan, sementara dia merasa deg-deg pyur tidak karuan sejak tiga hari tiga malam sebelum berangkat kalau mesti naik pesawat, maka harus ada jalan keluarnya. Seorang teman lain memberi “nasehat” alternatif : naik kendaraan darat kemudian disambung naik kapal, atau……. nyeberang lautan naik genthong saja…….    

Yogyakarta – 18 Maret 2006
Yusuf Iskandar  

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(7).   Salah Masuk Gerbong Kereta Di Stasiun Le Gare Du Nord

Hari Senin, 16 Juli 2001, adalah hari yang kami jadwalkan untuk melanjutkan perjalanan menuju kota Amsterdam dengan menggunakan kereta api. Namun kami belum melakukan pemesanan tiket kereta, padahal dari buku-buku wisata selalu disarankan untuk melakukan pemesanan tiket jauh hari sebelumnya. Setelah cari-cari informasi, maka kemudian saya menilpun bagian reservasi kereta api yang untungnya menyediakan sambungan khusus untuk komunikasi berbahasa Inggris.

Jauh dari yang saya bayangkan, ternyata pemesanan tiket kereta dapat dilakukan dengan sangat mudah dan praktis. Cukup dengan menyebutkan kartu kredit sebagai jaminan, lalu saya diberi nomor kode pemesanan. Tinggal nanti menyelesaikan pembayaran saat tiba di loket stasiun dengan menunjukkan kode pemesanan yang telah diberikan via tilpun. Harga tiketnya pun relatif cukup murah. Untuk gerbong kelas dua harganya 503 Fr (sekitar US$ 72) untuk dewasa dan 126 Fr (sekitar US$ 18) untuk anak-anak di bawah 12 tahun.

Setelah selesai dengan pemesanan tiket kereta untuk perjalanan nanti sore, kami memanfaatkan waktu pagi hari dengan jalan-jalan ke Galeries Lafayette karena ibunya anak-anak berniat hendak berbelanja sesuatu. Mempertimbangkan masih cukup waktu, kami pun meluncur menggunakan taksi.

***

Saat kami meninggalkan hotel di Paris siang harinya dan hendak menuju ke stasiun Le Gare du Nord, sebenarnya kami sempat agak bingung bagaimana harus naik kereta api dengan membawa barang-barang bawaan yang cukup banyak dan berat. Bayangan saya adalah repotnya naik kereta Yogya – Jakarta dengan membawa banyak barang bawaan.

Rupanya kekhawatiran saya terpupus begitu kami turun dari taksi dan semuanya berlangsung begitu mudah. Setidak-tidaknya kami dapat menanganinya sendiri dengan tanpa bantuan porter stasiun. Cukup dengan menyewa kereta dorong (trolly) dua buah dengan harga sewa 12 Fr (sekitar US$ 1,50) sebuahnya, lalu bersama-sama istri dan anak-anak bergotong-royong mendorong barang bawaan masuk menuju ke dalam stasiun.

Di dalam stasiun, sementara istri dan anak-anak menunggui barang bawaan, saya mencari loket karcis (billet). Di loket saya tinggal menunjukkan catatan tentang nomor kode reservasi kereta Thalys yang menuju ke Amsterdam yang tiketnya sudah saya pesan pagi harinya via tilpun dari hotel.

Sekitar 15 menit sebelum jam keberangkatan kereta, di papan petunjuk jadwal kereta yang terpampang besar dan sangat jelas (perlu agak teliti saja mengingat di sana terpampang banyak jadwal kereta api) baru diinformasikan tentang kereta atau sepur nomor berapa yang menuju ke Amsterdam. Barulah kami dan para penumpang lainnya berbondong-bondong menuju ke peron dari nomor sepur (spoor) yang dimaksud.

Rupanya saya kurang teliti melihat nomor gerbong kereta yang tertulis di karcis. Dengan meyakinkan saya bawa segenap rombongan beserta barang-barang bawaan masuk menuju ke gerbong nomor 17. Usai menyusun barang-barang di tempat bagasi yang ada di ujung gerbong, kami lalu menuju ke kursi tempat duduk. Pekerjaan ini sungguh bikin berkeringat mengingat cukup beratnya tas-tas kami. Setelah tolah-toleh, akhirnya ketemu nomor tempat duduk kami. Tapi kok hanya ada dua nomor kursi, padahal kami pesan empat nomor.

Setelah sekian menit kami kebingungan mencari nomor kursi yang “hilang”, barulah saya ingat untuk memeriksa kembali tiket yang saya beli. Wow…, ternyata kami masuk di gerbong yang salah. Seharusnya kami masuk ke gerbong nomor 15. Terlanjur  sudah menaikkan barang-barang yang cukup berat. Sementara di luar sudah terdengar halo-halo bahwa kereta segera akan diberangkatkan yang berarti pintu-pintu otomatis gerbong kereta segera akan ditutup.

Dalam ketergesa-gesaan, saya instruksikan segenap rombongan untuk segera keluar dari gerbong nomor 17 dan bersama-sama lari menuju ke gerbong nomor 15. Sementara biarkan dulu empat buah tas yang cukup berat tetap berada di gerbong 17. Agak ngos-ngosan sambil sedikit cengengesan, akhirnya kami duduk di kursi yang benar sesuai bunyi karcisnya. Soal bagasi, biarlah saya percayakan kepada kereta api.

***

Tepat (dan benar-benar tepat) pukul 16:55 sore, pintu-pintu otomatis gerbong kereta api listrik Thalys meninggalkan stasiun Gare du Nord, Paris, meluncur ke arah utara menuju ke Amsterdam. Menurut jadwal, kereta ini akan tiba di Amsterdam pada pukul 21:07 malam, atau hanya sekitar 4 jam perjalanan. Saya sebut malam karena menyesuaikan dengan sebutan untuk waktu yang sama di Indonesia. Meskipun sebenarnya masih awal dari sore kalau mengingat lokasi Amsterdam yang lebih ke utara dari kota Paris. Jika di Paris matahari baru tenggelam di atas jam 10 malam, maka di Amsterdam pasti lebih malam lagi matahari baru akan terbenam.

Sekitar satu setengah jam meninggalkan Paris, kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, berarti kami sudah meninggalkan negara Perancis dan masuk ke Belgia. Saat kereta berhenti di stasiun Brussel Zeud, saya menyempatkan keluar dari kereta dan menuju ke gerbong nomor 17 untuk memeriksa bagasi saya. Ternyata masih aman di sana.

Setengah jam kemudian kereta berhenti lagi di Antwerpen – Berchem yang merupakan stasiun perlintasan bagi penumpang yang akan berpindah jurusan selain ke Amsterdam. Untuk kedua kalinya ketika kereta berhenti di stasiun Antwerpen – Berchem, saya sekali lagi mengintip bagasi saya, dan memang masih terlihat aman di sana. Akhirnya saya putuskan untuk tidak lagi perlu menengok-nengok. Mudah-mudahan aman sampai kami tiba di stasiun Centraal Amsterdam, doa saya.-

Yusuf Iskandar

Perjalanan Pulang Kampung

6 Maret 2008

(8).   Tiba Di Stasiun Amsterdam Centraal

Waktu sudah menunjukkan lewat jam 21:00 dibawah cuaca yang masih sangat cerah ketika akhirnya kami tiba di stasiun Amsterdam Centraal. Di negeri Belanda soal komunikasi masih lebih enak. Setidaknya setiap orang yang saya temui ternyata paham bahasa Inggris, termasuk sopir taksi, porter stasiun, juga pegawai toko dan restoran. Demikian ketika naik taksi dari stasiun menuju hotel, pak sopirnya cukup mengenal tentang Indonesia. Malah dia cerita tentang Gus Dur yang dulu sebelum jadi presiden sering singgah ke Amsterdam.

Pak Sopir pun membawa kami agak berkeliling melewati beberapa tempat terkenal sambil menyisipkan sedikit penjelasan kepada kami, layaknya pemandu wisata saja. Termasuk ketika kami lewat di depan istana Royal Palace sebagai simbol kebesaran kerajaan Belanda dimana ratu Beatrix biasanya menyelenggarakan acara-acara kenegaraan.

Untuk maksud berbelanja, maka pusat perbelanjaan Magna Plaza agaknya dapat menjadi salah satu pilihan, setidak-tidaknya bentuk dan konstruksi bangunan tua pusat perbelanjaan ini memang menarik untuk dikunjungi. Seperti halnya di kota Paris, di Amsterdam juga masih banyak dijumpai bangunan-bangunan berkonstruksi tinggi dan berarsitektur kuno yang masih berfungsi serta terawat dengan baik.    

Ketika tiba di kawasan Red Light District, pak sopir membenarkan ini memang tempat yang sangat terkenal sebagai kawasan entertainment. Tapi buru-buru pak sopir taksi menambahkan : “….. tapi tidak untuk keluarga”. Ya, saya tahu itu. Entah kenapa satu kawasan di pusat kota Amsterdam ini begitu terkenal. Keberadaannya sama terkenalnya dengan obyek-obyek wisata lainnya di Amsterdam.

Saya memang tidak berniat mengeksplorasi lebih jauh kawasan ini. Namun dapat saya ilustrasikan bahwa kawasan lampu merah ini kira-kira sama dengan Bourbon Street di New Orleans atau The Strip di Las Vegas atau Pat Pong di Bangkok yang semuanya memang sengaja dijual sebagai komoditi pariwisata. Di Jakarta malah tidak ada yang dapat disebut karena entertainment jenis ini termasuk komoditi yang resminya tidak halal untuk dijual. Atau jangan-jangan susah disebut karena saking banyak dan menyebarnya lokasi semacam itu yang keberadaannya sembunyi-sembunyi?    

Sekitar pukul 22:00 kami tiba di hotel. Matahari sedang beranjak tenggelam dan masih menyisakan cahaya merahnya. Beruntung cuaca Amsterdam senja itu cukup cerah.  Setiba di hotel dan setelah sedikit berbenah, kami langsung keluar dari hotel dan lalu mencari restoran untuk makan malam. Menurut sopir taksi yang membawa kami dari stasiun Amsterdam Centraal, di Amsterdam dan sekitarnya ini ternyata ada sangat banyak restoran Indonesia.

Dari daftar restoran di Amsterdam yang dimiliki oleh pak sopir taksi, ada puluhan restoran masakan Indonesia. Pak sopir taksi pun lalu merekomendasi sebuah restoran Indonesia lengkap dengan alamatnya yang menurutnya cukup terkenal. Namanya restoran “Raden Mas”. Ke restoran itulah malam itu kami menikmati santap malam atau mungkin lebih tepat disebut santap larut malam. Restoran di Amsterdam saat musim panas ini buka hingga jam 23:00. Menu sate dan nasi putih lalu menjadi pilihan kami, mengingat sejak beberapa hari terakhir ini tidak ketemu nasi.

***

Memperhatikan lalu lintas di Amsterdam nampaknya tidak terlalu sibuk dan padat, tidak sebagaimana di Paris. Hanya saja yang barangkali agak merepotkan bagi mereka yang memilih mengemudikan kendaraan sendiri dalam menjelajahi kota Amsterdam atau Belanda pada umumnya adalah perlunya waspada terhadap banyaknya jalur tram atau kereta api listrik yang menjadi satu dengan jalur kendaraan.

Kereta api memang menjadi sarana transportasi umum yang sangat populer di Belanda, bahkan juga untuk sarana berwisata. Seperti halnya di Paris, informasi tentang jalur-jalur kereta api serta tata cara penggunaannya terutama bagi pendatang baru di Amsterdam juga sangat mudah diperoleh. Jika mempunyai waktu yang agak longgar, berwisata dengan kereta api akan sangat menghemat biaya, tetapi pasti pergerakannya tidak secepat mobil.

Di Amsterdam banyak dijumpai adanya kanal-kanal atau sungai-sungai buatan yang berada paralel mengeliling setengah lingkaran kota Amsterdam yang memang terletak di ujung teluk. Sarana transportasi sungai atau kanal pun dapat menjadi pilihan untuk berwisata mengelilingi kota Amsterdam.    

Hanya ada satu hal yang membuat saya agak kesulitan untuk cepat mengenali wilayah Amsterdam sekalipun sudah berpedoman pada peta, yaitu susahnya mengingat nama-nama tempat atau jalan yang tentunya tertulis dalam ejaan bahasa Belanda. Kata-kata bahasa Belanda ternyata lebih sulit saya ingat dibanding kata-kata bahasa Perancis. Meskipun di beberapa tempat sesekali saya temukan nama-nama yang sama dengan bahasa Indonesia, seperti misalnya kata kantor, halte, stanplat (standplaats), dsb. yang memang telah menjadi kata serapan dalam kosakata bahasa Indonesia.- 

Yusuf Iskandar