Posts Tagged ‘stasiun tugu’

Naik Bis Trans Jogja

26 Desember 2010

Pulang dari stasiun Tugu Jogja saya mencoba moda angkutan lain. Berjalan kaki sedikit dari stasiun ke halte bis Trans Jogja. Tinggal bilang mau kemana lalu akan diberitahu no. bisnya, termasuk kalau nanti harus ganti bis, dimana dan no. berapa. Sangat mudah wal-murah. Cukup Rp 3000,-

So, kalau Anda sedang tidak punya kerjaan dan bingung mau apa, pergilah ke halte Trans Jogja lalu naiklah. Jangan turun-turun atau keluar dari halte, jelajahi semua rute, sengantuknya!

Yogyakarta, 21 Nopember 2010
Yusuf Iskandar

Malam Di Stasiun Tugu

11 Juni 2010

Suasana malam di stasiun Tugu, Jogja, membawa kenangan ke jaman “sekolah nggak rampung-rampung” lebih 25 tahun yll. Belajar di kost-kostan kok nggak masuk-masuk, pindah ke stasiun ternyata lebih cepat masuk… camilannya, maksudnya. Namanya juga di stasiun! Setumpuk buku beralih fungsi jadi bantal untuk tidur, berharap ujian esok dapat wangsit.

Maka ketika menyelamati jalan, eh menyelamat-jalani seseorang di stasiun, terusik kenangan tak terlupakan, dulu, kini dan yang akan datang..

Yogyakarta, 6 Juni 2010
Yusuf Iskandar

Di Stasiun Tugu

2 Desember 2009

Di stasiun Tugu Jogja, menunggu KA Gajayana yang akan membawaku ke Jakarta malam ini. Hoping an exciting journey will be… (And a beautiful girl besides? Wooo… Tuman!).

(Semula mau ke Jakarta berangkat Minggu sore atau Senin pagi, tapi ternyata semua tiket pesawat sudah fully booked. Lalu mencoba cari tiket kereta api, juga semua agen sudah kehabisan tiket. Entah bagaimana caranya saya tidak tahu, ternyata ada seorang teman yang bisa membantu mencarikan tiket kereta api)

Yogyakarta, 29 Nopember 2009
Yusuf Iskandar

Bandeng Tambak Kropok, Pilihan Menu Bandeng Bebas Duri

1 Februari 2009

img_0804_rIkan bandeng memang memiliki citarasa berbeda dibanding ikan lainnya. Namun untuk menikmatinya acapkali nyali si calon pemakan sudah ciut kalau ingat duri bandeng kelewat banyak termasuk duri-duri kecil yang seakan tersusun rapi menyelimuti sekujur tubuh ikan bandeng.

Makan bandeng presto atau yang juga dikenal sebagai bandeng berduri lunak adalah salah satu solusi menikmati bandeng tanpa takut terganggu duri. Namun pada bandeng presto yang dimasak pada temperatur tinggi itu duri-durinya masih tetap melekat di dalam dagingnya, hanya saja durinya menjadi lunak atau empuk ketika digigit atau dikunyah.

Pilihan lain untuk menikmati bandeng adalah makan bandeng tanpa duri. Duri-durinya benar-benar dihilangkan sehingga dijamin si pemakan bandeng akan terbebas dari tertelan duri. Sungguh sebuah pengalaman yang menyesakkan, saat enak-enaknya makan ikan tiba-tiba durinya tertelan dan tersangkut di tenggorokan. Selezat apapun masakan yang disajikan, segera buyar selera kenikmatannya.

Peristiwa tertelan duri ikan, oleh orang Jawa disebut ke-lek-an ri, yang lebih berkesan dramatis ketimbang menyebut tertelan duri. Kalau orang Jawa mengatakan ke-lek-an ri, seolah menggambarkan telah terjadi sebuah tragedi yang sukar dilukiskan penderitaannya. Herannya, kebanyakan peristiwa ini dialami oleh anak-anak. Entah karena tenggorokan anak kecil masih berlubang sempit atau karena anak kecil biasanya belum mampu mengamalkan prosedur yang aman untuk makan ikan berduri.

Ingat masa kecil ketika mengalami ke-lek-an ri (tertelan duri)? Sedang enak-enaknya muluk (menjumput) nasi putih hangat yang di-ciprat-i kecap manis, tiba-tiba mak sek……, nafas serasa terhenti, dada sesak, gigi meringis menahan rasa sakit, mata agak melotot tertahan (karena malu dilihat orang) tapi titik air mata tak bisa ditahan juga, ketika sebatang duri kecil tertelan dan nyangkut di tenggorokan. Ugh…..! Diminumi banyak-banyak hanya membuat perut kembung saja, karena air minum hanya permisi lewat di tenggorokan.

Orang tua kita biasanya lalu menganjurkan : “Nge-lek sego…, nge-lek sego…!” (menelan nasi). Kita pun disuruh makan nasi tapi tidak dikunyah dulu melainkan langsung ditelan saja. Tujuannya agar gerombolan butir nasi tadi rame-rame mendorong duri yang nyangkut di tenggorokan seperti para demonstran yang mendorong-dorong pintu pagar gedung DPR, sehingga duri akan terdorong masuk ke perut. Perkara di dalam perut kemudian duri nusuk-nusuk lagi ya itu urusan nanti.

Cilakanya, menelan nasi tanpa dikunyah adalah bukan pekerjaan mudah. Perlu energi ekstra untuk mampu melakukannya. Belum lagi kalau setelah rombongan nasi ditelan beberapa kali ternyata pertahanan duri di tenggorokan tak kunjung roboh juga. Akibatnya perut pun lalu merasa sudah kenyang sebelum makan. Ya, makan nasi putih thok itu tadi….

(Weleh…., lha saya ini mau cerita ikan bandeng bebas duri kok malah tentang keloloden ri…, tertelan duri).

***

img_0803_rDi kota Yogyakarta, salah satu pilihan menikmati ikan bandeng tanpa duri ada di Gama Candi Resto yang berlokasi di penghujung selatan Jl. P.Mangkubumi. Tepatnya di depan seberang timur stasiun Tugu, pas di pojokan jalan yang membelok ke kiri yang di pojokan jalannya terdapat tugu jam kota yang salah satu jamnya tanpa jarum (heran juga sama Pemkot Jogja ini, lha wong jam tanpa jarum kok ya nekat dipasang di tengah kota…..).

Menempati sebagian ruangan di sisi sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi, restoran Gama Candi menyandang judul menu nasi uduk dan ikan bakar. Lokasinya memang sangat strategis, memandang ke arah selatan dari teras smoking-area resto ini terlihat bangunan hotel Garuda, kepadatan ujung utara Jl. Malioboro dan rangkaian kereta api (kalau pas ada kereta lewat, tentu saja)

Bandeng tanpa duri yang disebut sebagai bandeng tambak kropok adalah salah satu menu unggulannya. Selain bandeng, juga tersedia cumi-cumi, kerang, kepiting, udang, ikan jepang (shisamo), tahu goreng, sayuran, trancam (bukan terancam dengan sisipan huruf ‘e‘), ca baby buncis (yang ini hoenak tenan….), ca taoge ikan asin dan aneka sayuran lainnya serta jus. Ada pilihan nasi biasa dan nasi uduk.   

Bandeng tambak kropok (sampai sekarang saya juga tidak tahu kenapa disebut demikian), daging bandengnya memang benar-benar tak mengandung duri (entah siapa pula yang tekun nduduti…, mencabuti duri-duri kecil ikan bandeng ini hingga begitu bersih). Ikan bandeng ini disajikan di atas piring oval putih sebagai bandeng bakar atau goreng yang sudah dibumbui gurih dipadu dengan guyuran sambal kecap manis bercampur irisan cabe dan bawang merah mentah. Dipotong dengan pisau di atas piringnya, lalu disendok atau atau digarpu atau bisa juga di-usek-usek dengan tangan ke sambal kecapnya, lalu dikunyah bebas saja tanpa khawatir ada duri yang nyisip, sebelum akhirnya ditelan.

Sebaiknya dimakan saat dalam kondisi masih agak panas dan jangan lupa dengan sambal kecapnya. Bumbunya terasa seperti kurang merasuk ke dagingnya, karena itu cocolan ke sambal kecap akan membantu mengantarkan si pemakan pada kesimpulan : “hoenakeee….”.. Meski suka akan bandeng, sebaiknya jangan tinggalkan untuk menikmati menu cumi-cumi, tahu goreng dan ca baby buncisnya.

Suasana tata ruang resto yang dirancang demikian rapi dan enak ditempati, dipadu dengan pelayanan yang bagus dan ramah, lalu akhirnya dibayar dengan harga yang sangat wajar, membuat penikmat masakan ikan-ikanan kiranya cukup merasa puas. Seporsi bandeng tambak kropok harganya Rp 35.000,- cukup untuk 2-3 orang yang tidak sedang kemaruk baru sembuh dari sakit.  

Gama Candi Resto di Yogyakarta yang sudah berdiri setahunan terakhir ini masih seduluran dengan resto yang sama yang lebih dahulu ada di Semarang dan hingga kini masih diminati penggemarnya. Karena itu ada pilihan makan bandeng bebas duri ketika sedang berada di Yogya atau Semarang.   

Yogyakarta, 1 Pebruari 2009
Yusuf Iskandar

img_0816_r

img_0815_r

Jam Berapa Sekarang?

30 Desember 2008
Jam berapa sekarang? Mana jarumnya...?

Jam berapa sekarang? Mana jarumnya...?

Jam digital memang tanpa jarum, namun jam yang tidak ada jarumnya belum tentu digital. Sebuah tugu jam di seberang stasiun kereta api Tugu, Yogyakarta, pada  salah satu jamnya yang menghadap ke sisi timur ternyata tidak ada jarumnya (lihat foto di atas).

Waduh…., jam berapa sekarang? Mana jarumnya…?

Akhirnya, legalah saya kemudian ketika saya melihat bahwa rupanya djarum-nya berada di sisi kiri tugu yang menghadap ke utara (lihat foto di bawah).

Yogyakarta, 30 Desember 2008
Yusuf Iskandar

NB : Mohon maaf foto-fotonya diambil dengan kamera digital pada jarak agak jauh saat malam hari.-

Wow... ternyata "djarum"-nya berada di sisi sebelahnya
Wow… ternyata “djarum”-nya berada di sisi sebelahnya