Posts Tagged ‘soronalan’

Catatan Harian Untuk Merapi (14)

28 Desember 2010

(115). Tak Sesederhana Mengirim Bantuan

Status Merapi masih AWAS. Radius Kawasan Rawan Bencana (KRB) diturunkan/dikurangi. Sebagian pengungsi pun berangsur pulang ke kampung halaman. Lalu setelah itu apa…? Kalau sekedar mengganti rumah dan infrastruktur yang rusak itu mudah. Tapi mengembalikan nafas kehidupan ekonomi? Tak sesederhana mengirim bantuan kepada pengungsi melalui posko-posko…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(116). Isi Perut Harus Tetap Dipenuhi

Mereka yang sebagian besar petani, peternak dan buruh lepas, butuh waktu panjang untuk menemukan kembali kehidupannya, memulihkan roda ekonominya, setelah semua hancur tak bersisa. Bahkan untuk sekedar memulai!

Tanah harus diolah dari nol, pohon yang masih hidup perlu waktu untuk diguna, bibit dan pupuk tak terbeli, pakan ternak harus dicari… Sementara hasil dinanti, isi perut harus dicari tapi nggak janji, tak seperti perut Merapi yang tak pernah ingkar janji…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(117). Sampai Kapan Menunggunya?

Sekitar 50 KK warga dusun Soronalan, Sawangan, Magelang, kini tak berkutik setelah diusik abu panas Merapi (5/11). Menunggu…, itu yang dapat mereka lakukan sementara ini. Ya, menunggu bantuan. Ya, menunggu saat aman untuk memulai bekerja. Bertani, beternak, berkerajinan, entah apa lagi… Tapi sampai kapan menunggunya? Dan apa masih ada yang diharapkan untuk ditunggu?

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(118). Mengirm Bantuan Ke Dusun Soronalan Magelang

Menyusuri jalan desa yang menanjak dan menurun selebar cukup satu mobil, membelah ladang-ladang yang rusak oleh abu vulkanik dan pemukiman penduduk, akhirnya sampai ke dusun Soronalan, Sawangan, Magelang.

Menilik lokasinya, pantas saja kalau tak tersentuh bantuan. Seorang relawan mandiri yang perduli dengan nasib tetangga-tetangganya yang hanya makan keladi dan singkong, pontang-panting mencari bantuan. Ke sanalah saya dkk. siang ini mengirim bantuan logistik.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(119). Ada Kebahagiaan Di Wajah Anak-anak Itu

Wajah anak-anak itu begitu ceria, begitu juga ibu-ibunya. Bersama kaum bapaknya berkumpul menyambut bantuan yang “tidak seberapa” yang untuk pertama kali datang ke dusun mereka.

Bekal kue dan makanan ringan yang kami bawa masih tersisa cukup banyak. Dan ketika dibagikan…, mereka, anak-anak dan ibunya, berebut sambil tertawa canda. Mereka menyalami kami. Masya Allah… Tak pernah terbayang menyaksikan kebahagiaan seperti itu…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(120). Kerja Keras Seorang Relawan Mandiri

Dari dusun Soronalan kami menuju dusun Babadan. Jaraknya sekitar 4 km. Jumlah penduduknya sekitar 185 KK, kondisinya tidak jauh beda dengan Soronalan. Kegiatan ekonomi lumpuh, belum ada yang dapat dikerjakan masyarakat. Beruntung di dusun ini ada seorang relawan mandiri yang gesit dan lincah, biasa disapa pak Inggo yang adalah seorang guru. Berkat kerja kerasnya, kemudian bantuan dari luar menjangkau. Malah bisa dibagi ke dusun-dusun lain yang senasib, “seret” bantuan…

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(121). Mereka Yang Mencari Kelebihan Bantuan

Di Babadan ketemu kepala dusun Ngaglik yang sedang mencari bantuan. Kelincahan pak Inggo rupanya berhasil mendatangkan bantuan yang selama ini jarang mampir ke lokasi-lokasi yang “tidak populer”, apalagi susah dicapai. Karena itu dusun Babadan menjadi tujuan dusun-dusun lain untuk mencari kelebihan bantuan.

Seperti dusun Ngaglik yang lokasinya sekitar 1 km di atas Soronalan. Sayangnya saya baru tahu itu setelah meninggalkan Soronalan, mestinya tadi bisa sekalian diampiri.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

(122). Dana Saweran Tertunda Penyalurannya

Dana saweran dari teman-teman di Jakarta dan Surabaya yang saya terima kemarin, semula tadi pagi mau saya belanjakan logistik untuk dikirim ke dusun Soronalan. Tapi rupanya teman-teman pensiunan Freeport sudah lebih dulu siap dengan logistik dan minta ditemani menyalurkannya, maka saya arahkan ke Soronalan. Sedangkan dana yang saya terima kemarin saya tunda penyalurannya dan akan saya tujukan untuk dusun Ngaglik, yang kondisinya sama seperti dusun Soronalan.

(Yogyakarta, 24 Nopember 2010)

——-

Iklan

Catatan Harian Untuk Merapi (15)

28 Desember 2010

(123). Mencari Daun Pisang Untuk Sapi

Sore mendung di dusun Babadan, Magelang, seorang ibu berjalan letih menggendong daun pisang dengan selendang lusuhnya.

Kutanya: “Untuk apa bu?”.
Dijawab: “Ngge nedo sapi..(untuk makan sapi)”.

Ya, sapi2-sapi tetap harus makan, sedang rumput tak lagi hijau setelah didera abu vulkanik panas. Ketela dan hati batang pisang adalah alternatifnya. Tapi sungguh itu bukan pilihan…, bagi si ibu harus mencari daun pisang, tak juga bagi para sapi yang terpaksa memakannya.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(124). Ikan Wader RM “Purnama” Muntilan

Sore pulang dari Sawangan, teringat belum makan siang. RM “Purnama” di Muntilan, menjadi tujuan. Ini jenis warung pojok yang dulu suka jadi ampiran sopir-sopir truk pasir, tapi kini menjadi jujukan penggemar kuliner. Ikan wader, terkenalnya. Dengan tagline: “Spesial mangut lele, ikan tawar”.

Wow…taste ndeso-nya khas skali. Yang harus dilakukan: Datang, pesan (pilih sendiri), dilayani, dihitung, duduk, makan, mbayar.. (Jangan lupa yang terakhir!).

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(125). Genset Untuk Mushola

Pulang dari Sawangan kemarin, ngirim 3 genset untuk 3 mushola berbeda (amanah dari Himpunan Masyarakat Muslim di Papua). Salah satunya diterimakan melalui seorang teman di dusun Pancoh, desa Girikerto, kecamatan Turi, Sleman, yang berada di radius 12 km selatan Merapi.

Masyarakat sudah pada pulang dari pengungsian. Banyak kebun salak pondoh di sana, tapi sebagian rusak, buahnya jadi abu-abu tersaput abu Merapi. Ternak sebagian mati karena tak terurus selama ditinggal mengungsi.

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(126). Tak Lagi Cantik Alami

Bagi sebagian masyarakat yang kebun salaknya tidak terlalu rusak (kalau yang rusak nggak ada lagi yang dapat diceritakan…), harga salaknya bisa jatuh, karena buahnya kotor oleh abu Merapi yang melekat di kulitnya.

“Mengapa demikian?”.

Jawabnya: “Buah salaknya tidak cantik lagi..”.

Jawaban bernada canda ini ada benarnya, karena buah salak harus dicuci dulu sebelum dijual. Itu berarti bersih dan cantiknya buah salak tidak lagi alami. Hmm…, yang cantik alami memang lebih mahal…

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(127). Awas Kolesterol

Teman yang tinggal di Girikerto itu selain punya kebun salak juga ternak burung puyuh. Selama ditinggal mengungsi setengah puyuhnya yang jumlahnya ribuan itu mati, tidak terurus pakannya. Sedang sisanya yang masih hidup pada stress tidak mau bertelur. Kasus ternak mati tidak terurus ini terjadi di banyak lokasi.

Meski begitu toh teman saya itu masih nyangoni kami dengan sekotak salak dan telur puyuh. Mengingat telur puyuh, maka statusku jadi seperti Merapi, AWAS kolesterol..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(128). Merapi Tenang Tapi Waspada Harus

Hari ini, sebulan sudah sejak letusan pertama Merapi (26/10). Malam ini, memasuki minggu keempat sejak letusan besar Jumat dini hari (5/11). Merapi tenang tiga hari ini dibanding hari-hari sebelumnya. Berharap Mbah Merapi pun sedang khusyuk bersujud kepada Sang Penciptanya menyambut malam hari raya Jum’at. Kemudian teruslah beristirahat panjang dalam kedamaian dan ketenangan…

Walau begitu, warga Jogja dan seputaran Merapi tetap harus WASPADA dan jangan lengah..!

(Yogyakarta, 25 Nopember 2010)

——-

(129). Disambut Di Dusun Ngaglik, Sawangan

Warga dusun Ngaglik, desa Soronalan, kecamatan Sawangan, Magelang, yang hanya 25 KK, siang tadi nampak begitu antusias menyambut kedatanganku. Para bapak-ibunya menyalamiku. Aku jadi rada kikuk. Sebagian lalu ikut nimbrung saat aku ngobrol dengan Kepala Dusun, setelah menurunkan bantuan yang “tidak seberapa” itu.

Rupanya itulah pertama kali ada bantuan masuk ke dusunnya yang memang tidak mudah dicapai, sejak letusan besar Merapi 3 minggu yll.

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(130). Sekedar Penyambung Hidup

Saweran yang kuterima tiga hari yll akhirnya kusalurkan ke dusun Ngaglik, dari rencana semula ke dusun Soronalan. Ngaglik berada sekitar 1 km lebih jauh dan lebih atas dari Soronalan. Kondisi masyarakat di kedua pedusunan itu sama-sama lumpuh akibat letusan merapi.

Beras, mie instan, kecap dan sarden, yang kukirim tadi siang, hanya sekedar penyambung hidup… (Trims untuk pak Probo Jatmiko, bu Nuning dan seseorang yang tidak mau disebut namanya).

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(131). Tak Ada Lagi Kelapa Dideres

Mata pencaharian utama warga Ngaglik adalah penderes nira dari pohon kelapa untuk dibuat gula jawa dan pembuat keranjang bambu untuk wadah sayur. Kini pohon kelapa rusak oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang dapat dideres. Perlu waktu berbulan-bulan menunggu agar pohon kelapa dapat dideres kembali.

Begitu pun, tanaman sayuran hancur juga oleh abu Merapi. Tak ada lagi yang membutuhkan keranjang. Sedang memulai bertani bukanlah pekerjaan mudah. Lalu harus ngapain…?

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

(132). Sebuah Kearifan Yang Begitu Indah

Ketika abu Merapi berhamburan, semua tanaman hancur, ternak mati, masyarakat kehilangan pencaharian dan penghasilan, beras tak terbeli, bantuan tak kunjung tiba…

Ada warga yang masih punya simpanan padi, jagung, singkong. Maka saling berbagilah mereka, senasib-sepenanggungan, guyub rukun tanpa hitungan laba-rugi, mangan ora mangan kumpul… Sebuah kearifan yang tak pantas disebandingkan dengan hiruk-pikuk di Jakarta tentang aneka kepentingan…

(Yogyakarta, 26 Nopember 2010)

——-

Catatan Harian Untuk Merapi (16)

28 Desember 2010

(133). Kepala Dusun Itu Seorang Wanita

Ada yang istimewa dengan dusun Ngaglik. Saat bertemu pak Parman yang sedang cari bantuan ke dusun tetangga, beliau ditemani istrinya yang cantik berkerudung warna cerah. Relawan “ndeso” itu membawa istrinya untuk urusan yang lebih perlu kegesitan seorang pria.

Ketika kemarin pak Parman saya panggil pak Kadus (Kepala Dusun), pak Parman berkata: “Yang Kepala Dusun sebenarnya istri saya pak”. Aha.., dan bu Parman adalah satu-satunya Kadus wanita di kawasan itu.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(134). Disuguh Singkong Rebus

Saat ngobrol-ngobrol tentang makan, saya disuguh bu Parman dengan teh panas dan singkong rebus. “Ya ini yang kami makan pak”, kata pak Parman ramah. Barangkali mereka memang sudah “terlatih” dengan keterbatasan hidup seperti saat ini, tapi tidak dengan ‘rasa’ kita.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan singkong, yang berkarbohidrat tinggi. Hanya saja, mereka makan singkong karena tidak punya pilihan. Sedang kita di tempat lain, makan singkong karena punya banyak pilihan untuk dimakan…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(135). Jum’atan Di Soronalan

Untuk sholat Jum’at, kemarin saya harus turun ke dusun Soronalan sekitar 1 km di bawah Ngaglik. Sengaja saya minta dibonceng sepeda motor. Kebiasaan masyarakat saat jalan menurun, matikan mesin dan motor pun njumbul-njumbul melewati jalan berbatu.

Masjid “Al-Huda” itu terisi sekitar 30 jamaah. Seseorang membisiki saya: “Kami perlu genset untuk masjid pak”.

Bersyukur, petang harinya saya bisa kirim SMS: “Genset sudah di Muntilan, tolong diambil” (Trims untuk HMM Papua).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(136). Serah Terima Bantuan Di Gubug makan “Mang Engking”

Pulang dari Ngaglik kemarin sore, ditunggu teman-teman di Gubug Makan “Mang Engking”, Jl. Soragan/Jl. Godean Jogja (pionir restoran spesial menu udang galah. Halah, udangnya ittuuu…).

Ada acara serah terima bantuan dari keluarga besar PT Freeport Indonesia melalui program “Freeport Peduli” untuk korban Merapi yang dipercayakan penyalurannya kepada Paguyuban mantan karyawan yang ada di Jogja. Wah, bakal kluyuran maneh ki… (siap-siap kluyuran lageee...).

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(137). Pilpen Conggambul

Tengah hari, hujan lebat merata seantero Jogja. Nyopiri “boss” ke toko sambil nyetel RRI Jogja. Acaranya, “Pilpen-conggambul-tupon-tugu”. Woppo kuwi…? “Pilihan pendengar, keroncong, langgam, stambul”; dengan kata kunci: “satu pohon satu lagu”.

Elok tenan..! Masyarakat lereng Merapi akan menyukainya. Biar gunungnya lebih sejuk, seperti pantun seorang pendengarnya: Tuku terong simpen ning lemari es, lagu keroncong pancen mak nyesss…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(138). Status Awas Ex Pengungsi

Radius kawasan bahaya Merapi diturunkan sehingga sebagian pengungsi pun pulang ke rumah masing-masing. Selama di posko-posko pengungsian, hidupnya terjamin. Setelah pulang? Bantuan yang menumpuk itu ya ditinggal di posko-posko (entah siapa yang ngurus dan mau dikemanakan). Tinggal pengungsi dheleg-dheleg di kampungnya. Siapa yang perduli?

Pertanian hancur, ekonomi mandek, tidak ada penghasilan. Dan, ada ribuan ex pengungsi yang statusnya AWAS…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(139). Week-End Ke Jogja Mengirim Bantuan

Minggu lalu seorang sahabat week-end ke Jogja pingin menyalurkan bantuan. Bahkan bantuan diantar di tengah malam ke sebuah lokasi di Sawangan, Magelang. Sayang saya tidak bisa menemaninya. Ternyata sekarang mengirim lagi bantuan untuk perlengkapan sekolah. Bahkan bertanya lokasi mana lagi yang mendesak dibantu.

Uuuh.., senang sekali mendengar semangatnya, lebih senang lagi saya sempat memfasilitasi. Semoga Tuhan melimpahkan berkah untuk semuanya.

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-

(140). “Datanglah Ke Jogja”

Pekan-pekan ini, logistik adalah kebutuhan mendesak bagi sebagian besar korban Merapi, terutama mereka yang baru kembali dari pengungsian dan non-pengungsi tapi terkena dampak langsung. Hari ini saya identifikasi ada empat lokasi terpisah yang layak untuk dibantu dan akan menjadi sasaran saya berikutnya.

Ingin saya ajak kepada siapa saja: “Datanglah ke Jogja, lalu kunjungi korban Merapi…”.

Sebuah perjalanan indah dan inspiratif akan Anda kenang sepanjang hayat…

(Yogyakarta, 27 Nopember 2010)

——-